BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR
2. Investasi
a. Pengertian Investasi
Investasi secara umum diartikan sebagai keputusan mengeluarkan dana pada saat sekarang untuk membeli aktiva riil (tanah, bangunan, kendaraan) atau aktiva keuangan (saham, obligasi, dan lain-lain) dengan tujuan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar dimasa yang akan datang. Kebijakan investasi sebagai salah satu kebijakan di bidang keuangan pada dasarnya adalah kebijakan mengenai pengalokasian dana atau modal yang ada, kedalam beberapa bentuk investasi yang akan mendatangkan keuntungan dimasa yang akan datang. Tujuan melakukan kebijakan investasi pada perusahaan adalah untuk memaksimalkan keuntungan. Karena itulah, kebijakan kebijakan investasi harus
dipertimbangkan secara teliti dan matang, agar keuntungan yang dicapai dapat maksimal. Usulan investasi tidak selalu datang dari bagian keuangan, namun dapat pula datang dari bagian pemasaran, produksi, dan lain-lain.
Pengertian investasi menurut Horne (1993:106) adalah: “Kegiatan yang dilangsungkan yang memanfaatkan pengeluaran kas pada waktu sekarang ini dengan tujuan untuk menghasilkan laba yang diharapkan dimasa yang akan datang”. Menurut Djamin (1993:16) investasi adalah: “Pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan oleh investor (baik pemerintah maupun swasta) untuk pengambilan barang atau jasa yang diperlukan dalam suatu proyek”.
Memperhatikan beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa investasi adalah pengeluaran untuk mengadakan barang modal dan pada saat sekarang dengan tujuan utnuk menghasilkan keluaran barang atau jasa dapat diperoleh manfaat yang lebih besar dimasa yang akan datang.
b. Bentuk Investasi
Menurut Indriyo (1992:133) suatu permasalahan melakukan investasi terhadap aktiva tetap dalam beberapa bentuk seperti:
1. Penggantian aktiva tetap
Penggantian aktiva tetap disini diantaranya dapat berupa penggantian mesin-mesin produksi, alat transportasi dan pengangkutan, serta perluasan gedung.
2. Ekspansi dan Perluasan
Melakukan investasi dengan cara perluasan usaha diantaranya melalui penambahan kapasitas.
3. Diversifikasi produk
Melakukan investasi melalui modifikasi produk, baik kemasan produk, maupun komposisi produk.
4. Eksplorasi
Melakukan investasi dengan cara ekplorasi, baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam.
5. Penelitian dan pengembangan
Agar tidak tertinggal dalam hal teknologi, maka dilakukan penelitian dan pengembangan atas produk teknologi produksi.
6. Dalam bentuk lainnya, diantaranya pengendalian polusi dan pemadam kebakaran.
c. Kriteria Penilaian Investasi
Menurut Suad (1996:133) pengaturan investasi modal yang efektif perlu memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut:
a. Adanya usulan investasi.
b. Estimasi arus kas dan usulan investasi tersebut. c. Evaluasi arus kas tersebut.
d. Memilih proyek-proyek yang sesuai dengan kriteria.
e. Monitoring dan penilaian terus menerus terhadap proyek investasi setelah investasi dilaksanakan.
Dalam menilai menguntungkan atau tidaknya suatu investasi yang akan dipakai untuk pengambilan keputusan investasi, ada beberapa kriteria yang digunakan. Menurut Indriyo (1992:136) pada dasarnya kriteria penilaian investasi dapat digolongkan menjadi dua (2) golongan yaitu: a. Kriteria investasi yang mendasarkan pada konsep keuntungan atau
income adalah Average Rate of Return/Accounting Rate of Return (ARR) atau tingkat hasil pengembalian rata-rata. ARR menunjukkan keuntungan netto sesudah pajak dihitung dari average investment atau initial investment.
b. Kriteria investasi yang mendasarkan pada konsep cash flow (arus kas) dapat dirinci:
1. Konsep cas flow yang tidak memperhatikan nilai waktu uang atau faktor diskonto (non discounted cash flow) yaitu metode Payback Period.
2. Konsep cash flow yang memperhatikan nilai waktu uang atau faktor diskonto (discounted cash flow) antara lain:
1. Nilai bersih sekarang / Net Present Value (NPV). 2. Indeks keuntungan / Profitability Index (PI)
3. Tingkat hasil pengembalian internal / Internal Rate Of Return (IRR)
Menurut Indriyo (1992:137) kriteria investasi, average rate of return (ARR), Payback period (PP), Net Present Value (NPV), Profitability Index (PI), internal rate of return (IRR). Adapun penjelasannya sebagai berikut:
a. Average Rate of Return (ARR)
Average rate of return disebut juga accounting rate of return atau accounting return to investment adalah penilaian investasi yang berusaha menunjukkan rasio/perbandingan antara keuntungan netto tahunan terhadap nilai investasi yang diperlukan untuk memperoleh laba tersebut, baik diperhitungkan dengan nilai awal investasi (initial investment) atau rata-rata investasi (average investement). Average rate of return atas dasar investasi awal dapat diperhitungkan dengan rumus:
awal investasi nilai tahunan netto Keuntungan ARR =
Atau atas dasar rata-rata investasi:
2 investasi nilai tahunan netto Keuntungan ARR =
Pengambilan keputusan diterima atau tidaknya investasi yang direncanakan berdasarkan ARR ini adalah dibandingkan dengan target ARR atau minimum ARR yang ditetapkan masing-maisng dengan dasar nilai investasi awal dan rata-rata investasi.
Apabila target ARR minimum tidak ditetapkan, dapat dibandingkan dengan biaya penggunaan dana (cost of fund). Investasi yang diterima adalah investasi yang menghasilkan ARR lebih besar dari ARR minimum atau diatas cost of fund.
Metode ARR mempunyai beberapa kelebihan antara lain: a) Memperhatikan seluruh pendapat selama umur proyek berlangsung. b) Mudah dimengerti dan mudah perhitungannya.
Metode ARR mempunyai beberapa kelemahan antara lain: a) Perhitungan ARR tidak memperhatikan nilai waktu dari uang.
b) Menitikberatkan pada perhitungan accounting dan bukan pada cash flow dari investasi yang bersangkutan, sehingga suatu investasi yang mempunyai umur penyusutan lebih cepat akan mengakibatkan keuntungan netto yang lebih rendah dan di satu pihak meninggikan cash flow. Oleh karena itu, penyusutan bukan merupakan pengeluaran kas.
c) ARR dapat dianalisa dengan beberapa cara, sehingga diperlukan standar perbandingan yang sesuai dengan cara-cara tersebut dan kemungkinan akan terjadi kesalahan dalam memperbandingkan.
b. Payback Period
Payback period menunjukkan periode waktu yang diperoleh untuk menutup kembali uang yang diinvestasikan dengan hasil yang akan diperoleh dari investasi tersebut.
Payback period ini dimaksudkan untuk mengukur kecepatan dari suatu investasi dapat ditutup kembali dengan net cash flow dari invetasi tersebut. Apabila investasi akan dinilai dengan menggunakan kriteria penilaian payback period, maka sebelumnya ditetapkan lebih dahulu payback period maksimum atau target payback period investasi yang akan dilaksanakan.
Untuk pengambilan keputusan, diperbandingkan antara payback period maksimum yang ditetapkan dengan payback period investasi yang akan dilaksanakan. Apabila payback period yang akan dilaksanakan lebih singkat waktunya dibadingkan payback period maksimum yang diisyaratkan, maka investasi itu akan dilaksanakan, tetapi apabila panjang waktunya dibandingkan payback period maksimum yang diisyaratkan, maka investasi tersebut sebaiknya tidak dilaksanakan.
Metode payback period mempunyai beberapa kelebihan antara lain: 1) Mudah mempergunakan dan menghitungnya.
2) Sangat berguna untuk memilih proyek yang memiliki masa pengembalian modal tercepat.
3) Informasi masa pengembalian modal dapat dipakai sebagai alat produksi risiko ketidakpastian di masa yang akan datang, dimana proyek yang memiliki masa pengembalian yang lebih singkat diidentifikasi sebagai risiko masa datang yang lebih kecil, sedangkan yang memiliki masa pengembalian yang relatif lama akan memiliki resiko yang lebih besar dimasa yang akan datang.
Adapun kelemahan dalam menggunakan metode ini adalah:
1) Tidak memperhatikan time value of money atau faktor diskonto, sedangkan cash flow pada waktu yang akan datang apabila dinilai sekarang akan berbeda.
2) Lebih mementingkan pada pengembalian nilai investasi daripada aspek laba dalam waktu umur investasi, sehingga cash flow sesudah umur payback period tidak diperhatikan.
3) Tidak memperhatikan variasi besar kecilnya cash flow tiap tahun, apakah semakin meningkat, menurun atau stabil.
c. Net Present Value (NPV)
Dalam metode ini kita menggunakan faktor diskonto. Semua pengeluaran dan penerimaan (dimana saat pengeluaran serta penerimannya adalah dalam waktu yang tidak bersamaan) harus diperbandingkan dengan nilai yang sebanding dalam arti waktu.
Dalam hal ini berarti kita harus mendiskonto nilai-nilai pengeluaran dan penerimaan tersebut dalam penerimaan yang sebanding (sama), pengeluaran dilakukan pada saat permulaan, sedangkan penerimaan baru akan diperoleh pada masa yang akan datang. Oleh karena itu, jumlah estimasi penerimaan itu harus kita diskonto, kita jadikan jumlah-jumlah nilai setara (penilaian yang sebanding dari pengeluarannya).
Pada metode ini yang dihitung adalah nilai sekarang (present value) dari proceed yang diharapkan atas dasar discount rate tertentu. Kemudian
lay
InitialOut
Proceed
of
PV
NPV = −
jumlah present value dari keseluruhan proceed selama umur investasi dikurangi dengan present value dari jumlah investasi. Selisih antara present value dari keseluruhan proceed dengan present value dari pengeluaran modal disebut NPV.
Atau dengan menggunakan formulasi sebagai berikut:
∑
−
+
=
n ti
t
1IO
)
1
(
P
NPV
Dimana:Pt = net cashflow (proceed) pada tahun ke t i = tingkat diskonto
n = lama periode invetasi
IO = Initial Outlays atau pengeluaran mula-mula
Untuk pengambilan keputusan, apabila jumlah present value keseluruhan proceed yang diharapkan lebih besar dari present value dari investasi, maka ini berarti NPV nya positif dan usulan tersebut diterima. Sebaliknya apabila jumlah present value dari keseluruhan proceed lebih kecil dari present value dari investasi, maka ini berarti bahwa NPV nya negatif dan usulan tersebut ditolak.
Metode NPV mempunyai beberapa kelebihan antara lain: a. Memperhitungkan nilai waktu uang atau arus kas.
b. Memperhitungkan arus kas selama usia ekonomis proyek. c. Memperhitungkan nilai sisa proyek.
Metode NPV mempunyai beberapa kelemahan antara lain:
a. Dalam NPV diasumsikan bahwa intermediate cash flow atau operational cash flow diinvestasikan kembali pada biaya modal ini akan membingungkan ketika hal tersebut tidak terjadi.
b. Dalam NPV diasumsikan bahwa biaya modal tetap sama selama umur investasi.
c. NPV diukur dalam satuan moneter, sehingga akan sukar untuk menentukan bila terdapat dua NPV dari investasi yang berbeda dan kita harus memilih salah satunya.
tlays Initial Ou ed PV of proc = PI
d. Profitability Index (PI)
Profitability Index adalah perbandingan present value dari net cash flow (proceed) dengan initial outlays.
Atau dengan rumus,
IO ) 1 ( P PI 1
∑
+ = n t i tDimana:
Pt = Net cashflow (proceed) pada tahun ke t i = tingkat diskonto
n = lama periode invetasi IO = Initial Outlays
Pengambilan keputusan dari kriteria Profitability Index adalah apabila Profitability Index lebih besar dari 1, maka usulan inveastasi akan diterima dan dilaksanakan. Sedangkan apabila nilai Profitability Index kurang dari 1, maka usulan investasi ditolak.
Metode Profitability Index mempunyai beberapa kelebihan antara lain:
a) Menggunakan arus kas sebagai dasar perhitungan. b) Memperhatikan nilai waktu uang.
c) Konsisten dengan tujuan perusahaan, yaitu maksimumkan kekayaan pemegang saham.
Metode Profitability Index mempunyai beberapa kelemahan antara lain:
a) PI diasumsikan biaya modal tetap selama umur investasi.
b) Dapat memberikan panduan dan pilihan yang salah pada proyek-proyek yang mutually exclusive (pilihan yang satu meniadakan pilihan yang lain) yang memilik unsur ekonomis dan skala investasi yang berbeda.
1 2 1 2 1 1 NPV NPV IR IR NPV IR IRR − − − =
e. Internal Rate of Return (IRR)
Internat Rate of Return merupakan alat untuk mengukur tingkat bunga yang diperoleh perusahaan dari investasi yang dilakukan perusahaan tersebut. Internat Rate of Return dapat dicari dengan sistem coba-coba atau trial dan error yaitu dengan mencari NPV pada tingkat diskonto yang kita sukai. Apabila tingkat diskonto yang kita pilih menghasilkan NPV positif, maka IRR yang dicari diatas tingkat diskonto tersebut, sehingga harus diambil tingkat diskonto yang lebih besar. Sebalinya NPV negatif maka IRR berada dibawah tingkat diskonto tersebut, sehingga uji coba harus dilakukan beberapa kali.
Dimana:
IRR = Internal Rate of Return yang akan dicari
IR1 = Internal Rate (tingkat bunga) untuk penetapan ke-1 IR2 = Internal Rate (tingkat bunga) untuk penetapan ke-2 NPV1 = NPV dari hasil IR1
NPV2 = NPV dari hasil IR2
Untuk pengambilan keputusan, apabila nilai IRR lebih besar dari biaya modal yang diharapkan, maka investasi diterima, sebaliknya apabila nilai IRR lebih kecil dari biaya yang diharapkan maka investasi ditolak.
Metode IRR mempunyai kelebihan antara lain: a. Memperhatikan nilai waktu dari uang.
b. Menggunakan arus kas sebagai dasar perhitungan.
c. Hasilnya dalam persentasi, sehingga pengambilan keputusan dapat membuat perkiraan bila r (discount rate) sulit diketahui.
Metode IRR mempunyai kelemahan antara lain:
a. Perhitungan lebih sulit bila tidak menggunakan komputer, karena harus dicoba-coba (trial and error).
b. Tidak membedakan proyek yang mempunyai perbedaan ukuran dan keadaan investasi.
c. Dapat menghasilkan IRR ganda atau tidak menghasilkan IRR sama sekali.