• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Tinjauan mengenai Pendidikan IPS

2.2.3 KI dan KD IPS Kelas VIII Yang Dipadukan

IPS sebagai komponen kurikulum sekolah merupakan kesempatan yang baik untuk membina afeksi, kognisi, dan psikomotor pada anak didik untuk menjadi manusia pembangunan Indonesia, dalam hal ini pengajaran IPS berkewajiban membentuk

26 tenaga kerja yang terampil dan berpendidikan.Mata pelajaran IPS pada SMP/MTs

merupakan “IPS Terpadu”. Dengan perincian sebagai berikut:

Tabel 2.1 Struktur Kurikulum SMP/MTs

Komponen Kelas dan Alokasi Waktu VII VIII IX

Kelompok A

1. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 3 3 3

2. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 3 3 3

3. Bahasa Indonesia 6 6 6

4. Matematika 5 5 5

5. Ilmu Pengetahuan Alam 5 5 5

6. Ilmu Pengetahuan Sosial 4 4 4

7. Bahasa Inggris 4 4 4

Kelompok B

1. Seni Budaya 3 3 3

2. Pendidikan Jasmani, Olahraga danKesehatan 3 3 3

3. Prakarya 2 2 2

Jumlah Alokasi waktu per minggu 38 38 38

Sumber: Depdikbud, Permendikbud No. 68 Tahun 2013

Keterangan:

a. Mata pelajaran Kelompok A adalah kelompok mata pelajaran yang kontennya

dikembangkan oleh pusat. Mata pelajaran Kelompok B yang terdiri atas mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya serta Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan adalah kelompok mata pelajaran yang kontennya dikembangkan oleh pusat dan dilengkapi dengan konten lokal yang dikembangkan oleh pemerintah daerah.

b. Jumlah alokasi waktu jam pembelajaran setiap kelas merupakan jumlah minimal

yang dapat ditambah sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Dari Tabel 2.1 maka mata Pelajaran IPS adalah mata Pelajaran IPS terpadu terdiri atas 4 jam pelajaran.

Tabel 2.2 Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran IPS Kelas VIII SMP

Kompetensi Inti Kompetensi Dasar

1. Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya.

1.1 Menghayati karunia Tuhan YME yang telah menciptakan waktu dengan segala perubahannya.

1.2 Menghayati ajaran agama dalam berfikir dan berperilaku sebagai penduduk Indonesia dengan mempertimbangkan kelembagaan sosial, budaya, ekonomi dan politik dalam masyarakat.

1.3 Menghayati karunia Tuhan YME yang telah menciptakan manusia dan lingkungannya. 2. Menghargai dan menghayati

perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya

2.1 Menunjukkan perilaku jujur, gotong royong, bertanggung jawab, toleran, dan percaya diri sebagaimana ditunjukkan oleh tokoh-tokoh sejarah pada masa lalu.

2.2 Memiliki rasa ingin tahu, terbuka dan sikap kritis terhadap permasalahan sosial sederhana.

2.3 Menunjukkan perilaku santun, peduli dan menghargai perbedaan pendapat dalam interaksi sosial dengan lingkungan dan teman sebaya

3. Memahami dan menerapkan pengetahuan (faktual, konsep- tual, dan prosedural) berdasar- kan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata.

3.1 Memahami aspek keruangan dan konekti- vitas antar ruang dan waktu dalam lingkup nasional serta perubahan dan keberlanjutan kehidupan manusia (ekonomi, sosial, budaya, pendidikan dan politik).

3.2 Mendeskripsikan perubahan masyarakat Indonesia pada masa penjajahan dan tumbuhnya semangat kebangsaan serta perubahan dalam aspek geografis, ekonomi, budaya, pendidikan dan politik

3.3 Mendiskripsikan fungsi dan peran kelembagaan sosial, budaya, ekonomi dan politik dalam masyarakat

3.4 Mendeskripsikan bentuk-bentuk dan sifat dinamika interaksi manusia dengan lingkungan alam, sosial, budaya, dan ekonomi

4. Mengolah, menyaji, dan menalar dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan

4.1 Menyajikan hasil olahan telaah tentang peninggalan kebudayaan dan fikiran masyarakat Indonesia pada masa penjajahan dan tumbuhnya semangat kebangsaan dalam

28

Kompetensi Inti Kompetensi Dasar

membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghi- tung, menggambar, dan menga- rang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori.

aspek geografis, ekonomi, budaya, pendi- dikan dan politik yang ada di lingkungan sekitarnya.

4.2 Menggunakan berbagai strategi untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan fungsi peran kelembagaan sosial, budaya, ekonomi dan politik di lingkungan masyarakat sekitar

4.3 Menyajikan hasil pengamatan tentang bentuk-bentuk dan sifat dinamika interaksi manusia dengan lingkungan alam, sosial, budaya, dan ekonomi di lingkungan masyarakat sekitar

Sumber: Depdikbud, Permendikbud No. 68 Tahun 2013.

Menurut Permendikbud No. 68 tahun 2013 Mata Pelajaran IPS di SMP merupakan pembelajaran IPS terpadu yang terdiri dari unsur mata pelajaran Sejarah, Geografi, Ekonomi, Sosiologi dan Antropologi. Masing-masing unsur tersebut tersebar dalam KI/KD sesuai dengan Standar Isi dan Standar Kompetensi Kurikulum BNSP.

Berlakunya kurikulum 2013 di sekolah menuntut perubahan paradigma dalam pendidikan dan pembelajaran khususnya pada jenjang formal (sekolah). Sesuai dengan Kurikulum 2013, bahwa model pembelajaran terpadu merupakan model implementasi kurikulum yang diaplikasikan pada semua jenjang pendidikan. Hal ini bergantung pada kecenderungan materi-materi yang memiliki potensi untuk dipadukan dalam suatu tema tertentu. Model pembelajaran ini pada hakikatnya merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik baik individu maupun kelompok aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip secara holitstic dan autentik (Depdikbud, 2013).

Pembelajaran tematik terpadu merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan beberapa aspek baik dalam intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran. Dengan adanya pemaduan itu, peserta didik akan memperoleh pengetahuan dan ketrampilan secara utuh sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi peserta didik.

Makna pembelajaran Tematik Terpadu adalah pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada peserta didik. Dikatakan bermakna pada pembelajaran Tematik Terpadu artinya, peserta didik akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan menghubungkan dengan konsep yang lain yang sudah mereka pahami. Permendikbud No. 68 tahun 2013 berisi tentang Prinsip Pengembangan Kurikulum yaitu: Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah berpedoman pada Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi serta Panduan Penyusunan Kurikulum yang dibuat oleh BSNP. Kurikulum dikembangkan menggunakan filosofi sebagai berikut.

a. Pendidikan berakar pada budaya bangsa untuk membangun kehidupan bangsa masa kini dan masa mendatang. Pandangan ini menjadikan Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan budaya bangsa Indonesia yang beragam, diarahkan untuk membangun kehidupan masa kini, dan untuk membangun dasar bagi kehidupan bangsa yang lebih baik di masa depan. Mempersiapkan peserta didik untuk kehidupan masa depan selalu menjadi kepedulian kurikulum, hal ini mengandung makna bahwa kurikulum adalah rancangan pendidikan untuk mempersiapkan kehidupan generasi muda bangsa. Dengan demikian, tugas mempersiapkan generasi muda bangsa menjadi tugas utama suatu kurikulum. Untuk mempersiapkan kehidupan masa kini dan masa depan peserta didik, Kurikulum 2013 mengembangkan pengalaman belajar yang memberikan kesempatan luas bagi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang diperlukan bagi kehidupan di masa kini dan masa depan, dan pada waktu bersamaan tetap

30 mengembangkan kemampuan mereka sebagai pewaris budaya bangsa dan orang yang peduli terhadap permasalahan masyarakat dan bangsa masa kini.

b. Peserta didik adalah pewaris budaya bangsa yang kreatif. Menurut pandangan filosofi ini, prestasi bangsa di berbagai bidang kehidupan di masa lampau adalah sesuatu yang harus termuat dalam isi kurikulum untuk dipelajari peserta didik. Proses pendidikan adalah suatu proses yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi dirinya menjadi kemampuan berpikir rasional dan kecemerlangan akademik dengan memberikan makna terhadap apa yang dilihat, didengar, dibaca, dipelajari dari warisan budaya berdasarkan makna yang ditentukan oleh lensa budayanya dan sesuai dengan tingkat kematangan psikologis serta kematangan fisik peserta didik. Selain mengembangkan kemampuan berpikir rasional dan cemerlang dalam akademik, Kurikulum 2013 memposisikan keunggulan budaya tersebut dipelajari untuk menimbulkan rasa bangga, diaplikasikan dan dimanifestasikan dalam kehidupan pribadi, dalam interaksi sosial di masyarakat sekitarnya, dan dalam kehidupan berbangsa masa kini.

c. Pendidikan ditujukan untuk mengembangkan kecerdasan intelektual dan kecemerlangan akademik melalui pendidikan disiplin ilmu. Filosofi ini menentukan bahwa isi kurikulum adalah disiplin ilmu dan pembelajaran adalah pembelajaran disiplin ilmu (essentialism). Filosofi ini mewajibkan kurikulum memiliki nama matapelajaran yang sama dengan nama disiplin ilmu, selalu bertujuan untuk mengembangkan kemampuan intelektual dan kecemerlangan akademik.

d. Pendidikan untuk membangun kehidupan masa kini dan masa depan yang lebih baik dari masa lalu dengan berbagai kemampuan intelektual, kemampuan berkomunikasi, sikap sosial, kepedulian, dan berpartisipasi untuk membangun kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik (experimentalism and social

reconstructivism). Dengan filosofi ini, Kurikulum 2013 bermaksud untuk

mengembangkan potensi peserta didik menjadi kemampuan dalam berpikir reflektif bagi penyelesaian masalah sosial di masyarakat, dan untuk membangun kehidupan masyarakat demokratis yang lebih baik.

IPS merupakan perwujudan dari satu pendekatan interdisipliner dari pelajaran ilmu- ilmu sosial. Ia merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial antara lain: Sosiologi, Antropologi Budaya, Sejarah, Psikologi Sosial, Geografi, Ekonomi, Politik, dan Ekologi. IPS berusaha mengintegrasikan materi dari berbagai ilmu sosial dengan menampilkan permasalahan sehari-hari masyarakat di sekitarnya. IPS merupakan aspek penting dari ilmu-ilmu sosial yang dipilih dan diadaptasikan untuk digunakan dalam pengajaran di sekolah.

LKS IPS model tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tematik. Pendekatan ini pengembangannya dimulai dari menentukan tema. Dalam merancang pembelajaran tematik maka ditetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan dipadukan. Guru harus memahami betul kandungan isi dari masing-masing standar kompetensi dan kompetensi dasar sebelum dilakukan pemaduan. Penetapan tema dapat dilakukan dengan melihat kemungkinan standar kompetensi dan kompetensi dasar dapat dipersatukan.

Model-model desain sistem pembelajaran dapat diterapkan dalam berbagai jenjang dan satuan pendidikan. Desain sistem pembelajaran dapat diaplikasikan baik pada level kegiatan pembelajaran harian (micro), kegiatan perancangan mata kuliah (messo) dan perancangan dan pengembangan sistem pendidikan (macro).

Sembilan kondisi pembelajaran menurut Gagne dalam Herpratiwi (2009: 15) adalah sebagai berikut.

1. Mendapatkan perhatian (gaining atention).

2. Menginformasikan siswa mengenai tujuan yang akan dicapai (inform leaner of objective).

3. Stimulus kemampuan dasar siswa untuk persiapan belajar (stimulate recall of prerequisite learning).

4. Penyajian materi baru (present new material).

5. Menyediakan materi baru (provide guidance). 6. Memunculkan tindakan (elicit performance).

32 7. siap memberikan umpan balik langsung terhadap hasil yang baik (provide

feedback about correctness).

8. Menilai hasil belajar yang ditunjukkan (assess performance)

9. Meningkatkan proses penyimpanan memori dan mengingat (echance retention and recall).

Pembelajaran interaktif menekankan pada diskusi dan sharing di antara peserta didik. Diskusi dan sharing memberi kesempatan peserta didik untuk bereaksi terhadap gagasan, pengalaman, pendekatan dan pengetahuan guru atau temannya dan untuk membangun cara alternatif untuk berfikir dan merasakan.

Kelebihan strategi ini antara lain: (1) peserta didik dapat belajar dari temannya dan guru untuk membangun keterampilan sosial dan kemampuan-kemampuan, (2) mengorganisasikan pemikiran dan membangun argumen yang rasional. Strategi pembelajaran interaktif memungkinkan untuk menjangkau kelompok-kelompok dan metode-metode interaktif. Kekurangan dari strategi ini sangat bergantung pada kecakapan guru dalam menyusun dan mengembangkan dinamika kelompok.

Pembelajaran empirik berorientasi pada kegiatan induktif, berpusat pada peserta didik, dan berbasis aktivitas. Refleksi pribadi tentang pengalaman dan formulasi perencanaan menuju penerapan pada konteks yang lain merupakan faktor kritis dalam pembelajaran empirik yang efektif. Kelebihan dari strategi ini antara lain: (1) meningkatkan partisipasi peserta didik, (2) meningkatkan sifat kritis peserta didik, (3) meningkatkan analisis peserta didik, dapat menerapkan pembelajaran pada situasi yang lain. Sedangkan kekurangan dari strategi ini adalah penekanan hanya pada proses bukan pada hasil, keamanan siswa, biaya yang mahal, dan memerlukan waktu yang panjang.

Dokumen terkait