• Tidak ada hasil yang ditemukan

Islam sebagai Sistem Nilai dalam Maen Pukulan

MAEN PUKULAN PERSPEKTIF FILSAFAT KEBUDAYAAN ISLAM

B. Islam sebagai Sistem Nilai dalam Maen Pukulan

Aspek selanjutnya yang penting dibahas dalam filsafat kebudayaan adalah aspek nilai. Secara toeritis, nilai merupakan pandangan pedoman kehidupan.

Islam dan Betawi merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Islam bahkan menjadi identitas sebagai pembeda antara etnis Betawi dengan lainnya.

Hal ini dipengaruhi Islam yang dibawakan sebagai ajaran yang indah memuat budi luhur yang tinggi sekaligus tekanan bangsa lain (Portugis maupun Belanda) yang kejam. Kondisi ini menguatkan watak dan karakter Betawi yang fanatik terhadap Islam dan anti terhadap segala bentuk penjajahan maupun penindasan bernafaskan Islami.9

Berdasarkan teori Islamisasi10 di Betawi, yang paling diterima adalah Fatahillah dan Syek Quro. Secara politis, Fatahillah menjadi penentu persebaran Islam di Betawi saat terjadi pertempuran antara kerajaan Demak dengan Portogis yang diminta kerajaan Padjajaran. Kerjasama antara Padjajaran dengan Portugis untuk menghancurkan Demak diketahui oleh Raden Fatahillah. Terjadilah pertempuan dan dimenangkan oleh Fatahillah pada tahun 1527. Keberhasilannya mengubah nama Batavia menjadi Jayakarta.11 Namun, selain itu juga didukung persebaran Islam yang dibawakan oleh Syekh Quro. Dakwahnya yang lembut serta pendekatan persuasif ini

9 Susan Blackburn, Jakarta: Sejarah 400 Tahun, h. 90.

10 Islamisasi merupakan teori yang menyatakan proses masuk dan tersebarnya Islam.

11 Abdul Aziz, Islam dan Masyarakat Betawi, (Jakarta: Logos, 2002), h. 41.

74

menjadi daya tarik tersendiri sehingga etnis Betawi berbondong-bondong memeluk agama Islam.12

Hubungan antara persebaran Islam dan silat adalah terbentuknya jalinan antara perjuangan msayarakat Betawi melawan para penjajah oleh para ulama.

Peranan ulama selain menyebarkan agama juga turut melawan para penjajah.

Guna melancarkan serangannya maka setiap ulama memiliki keahlian maen pukulan.

Secara umum penerimaan masyarakat Betawi terhadap Islam dapat disimpulkan pada dua faktor; kondisi sosial dan politik serta metode dakwah yang disampaikan. Kemenangan Fatahillah merupakan aspek politik yang menjadi faktor diterimanya Islam di Betawi. Sedangkan Syekh Quro berperan secara persuasif menyebarkan Islam dengan indah sehingga diterima masyarakat Betawi. Jika disimpulkan maka dapat dipahami bahwa kehadiran Islam sekaligus menjadi jawaban atas pengharapan masyarakat Betawi yang mengalami penindasan oleh bangsa lain. Kedatangan Islam yang mudah, indah serta memberikan semangat menjadi paradigma baru mengapa Islam begitu kuat di Betawi.

Peranan Islam begitu menguat sehingga dalam setiap aspek kehidupan masyarakat Betawi selalu beriringan dengan nafas Islami. Menurut Alwi Sihab, Islam dan Betawi layaknya dua sisi mata uang. Peranan Islam sangat kuat dalam setiap aspek kehidupan masyarakat Betawi.13 Tekanan bangsa Eropa khususnya menjadi alasan etnis Betawi untuk berjuang menghadapinya.

12 Saedun Derani, “Ulama Betawi Perspektif Sejarah” dalam Jurnal at-Turats, Vol. 19 No. 2.

Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2013, h. 118.

13 Alwi Sihab, Robinhood Betawi, h. 119.

Terutama dalam kebutuhan spiritual, Betawi menemukan jalannya bersama Islam. Hal ini menjadi kekuatan baru bagi etnis Betawi untuk berjuang dan melawan segala bentuk penjajahan. Perjuangan masyarakat dikuatkan peran para ulama Betawi untuk mengawal, mendampingi hingga berjuang bersama.

Ini menjadi perekat mengapa Islam begitu lekat bagi etnis Betawi.

Implementasi nilai-nilai Islami bahkan terserap dalam maen pukulan.

Prinsip hidupnya terangkum dalam kata “ngasosi” atau ngaji, solat dan silat.

Artinya, penerimaan terhadap silat bukan serta-merta untuk membela diri, namun juga menjadi prinsip yang beriringan dengan keagamaan (solat dan ngaji). Untuk lebih jelasnya liat pernyataan Nawi berikut ini:

Basile di langgar bace Qur’am Turun ke pelataran maen pukulan

Pantun tersebut bukan sebatas kata, namun menjadi prinsip hidup yang mengangkat derajat masyarakat Betawi. Betawi sebagai daerah penghasil jagoan dan jawara namun etnis yang berbudaya, menjunjung tinggi nilai-nilai Islami.14

Kemunculan maen pukulan di Betawi memang beriringan dengan penindasan atau penjajahan, namun fakta perlawanan yang digalakkan oleh para ulama menjadi citra khas bahwa bela diri diajarkan oleh orang-orang Islam. Hal ini menjadi penegas bahwa keislaman menjadi bagian perjuangan masyarakat Betawi. Oleh karena itu Betawi tidak akan melepaskan nilai-nilai keislaman.

14 G.J. Nawi, Maen Pukulan, h. 18.

76

Pada konteks maen pukulan, Islam mengisi seluruh aspek pencak silat, dari pendidikan (belajar) hingga pengaplikasian maen pukulan. Silat Beksi salah satu jenis aliran maen pukulan Betawi mengadopsi budaya Cina pun disisipi ajaran-ajaran keislaman. Salah satu syaratnya adalah rasulan. Ritual rosulan atau ngerosul adalah tawasul disertai zikir, tahlil, dengan memanjatkan doa kepada Allah SWT agar dalam mempelajari beksi diberikan keridaan, kekuatan, dan kesabaran.15 Sama halnya dalam silat Cingkrik, peserta membacakan tahlil dan memanjatkan doa kepada para guru dan leluhur secara islami.

Aspek nilai dalam maen pukulan Betawi adalah nilai Islam. Silat menjadi salah satu bagian yang tak terpisahkan dari pengamalan keberagamaan. Istilah Ngasosi menunjukkan bahwa menjadi masyarakat Betawi tidak lengkap apabila hanya menguasai ilmu agama saja. Namun diwajibkan juga untuk mempelajari maen pukulan. Dengan demikian, menjadi masyarakat Betawi diharuskan mampu menguasai ilmu agama dan ilmu bela diri.

Pentingnya seseorang mempelajari maen pukulan bagi masyarakat Betawi merupakan pengamalan konkrit atas sikap religiusitasnya. Islam tidaklah mewajibkan mempelajari silat, namun secara prinsip islam mewajibkan seseorang membela diri. Ini menjadi paradigma mendasar mengapa maen pukulan menjadi wajib dipelajari oleh masyarakat Betawi.

Selain itu, budaya maen pukulan menjadi sebuah kewajiban kerap didasarkan

15 Yuzar Purnama, “Mitos Silat Beksi Betawi” dalam Jurnal Patanjala, Vol. 10. No 2. Badan Pelestarian Budaya Jawa Barat, tahun 2018, h. 390.

pada hadis yang artinya Nabi lebih mencintai muslim yang kuat daripada yang lemah. 16 Hadis ini menjadi pandangan bahwa masyarakat Betawi harus menjadi muslim yang kuat, dengan mempelajari dan menguasai maen pukulan.

Dalam penjelasan lain, ngasosi merupakan pengejawentahan hablum minallah dan hablum minan nas. Solat dan ngaji merupakan pengalaman yang berhubungan secara langsung kepada Tuhan, sedangkan silat merupakan personifikasi silaturrahmi antar sesama manusia (hablum minan nas).

Hubungan antar sesama manusia dapat dipahami dari hubungan terdekat dalam belajar silat yaitu antara guru dan murid. Dalam prakteknya, seorang belajar maen pukul berarti memasrahkan diri kepada guru dengan sepenuh hatinya.

Sehingga tahap demi tahap pembelajaran maen pukul tidak sebatas teori mempelajari gerakan atau jurus semata, namun juga meniru segala tindak-tanduk perangai gurunya yang arif. Selanjutnya, penggunaan maen pukulan tidak diperkenankan untuk kesombongan, sebaliknya, menjadi jago maen pukul harus rendah diri, menolong tanpa pamrih serta berbuat kebajikan lainnya.

Dengan kata lain, menjadi pesilat atau menguasai maen pukulan Betawi menekankan pada aspek hubungan baik antar sesama manusia.

Selanjutnya Seseorang yang dianggap mumpuni dan menguasai maen pukulan disebut dengan Jago. Istilah jago cukup sensitif demi membedakan antara jagoan dan jago. Jagoan kerap berkonotasi negatif, sedangkan jago bagi masyarakat Betawi menunjukkan orang yang mumpuni dalam maen pukulan.

Sehingga istilah yang dinisbahkan bagi orang yang ahli dalam maen pukulan

16 G.J. Nawi, Maen Pukulan, h. 19.

78

adalah jago. Seorang jago memiliki sifat luhur dan pantang melakukan tindakan buruk. Para Jago inilah yang dibanggakan oleh masyarakat Betawi sebagai simbol kearifan, alim, taat beribadah dan pelindung bagi masyarakat lainnya.17

Untuk mewujudkan cita-cita menjadi muslim yang kuat serta tujuan menjadi bermanfaat bagi orang lain dapat ditempuh dengan mempelajari dan menguasai maen pukul. Menjadi muslim yang kuat tidak akan terwujud apabila tidak menjaga keseimbangan dan kesehatan jasmani maupun rohani. Maen pukul adalah media sekaligus metode untuk mendapatkan kesehatan baik jasmani dan rohani. Setelah mendapatkan tubuh yang sehat baik jasmani maupun rohaninya, barulah seseorang dapat bermanfaat bagi pribadi maupun orang lain. Faktanya, silat memiliki aspek olahraga yang menyehatkan jasmani serta aspek spiritual dan metal yang berperan menjalin silaturrahmi dan lebih peka terhadap kondisi sosial.18