http://www.gregladen.com
Sains merupakan tubuh pengetahuan (body of knowledge). Dari pengertian ini muncul penemuan ilmiah yang dikelompokkan secara sistematis. Sains juga dapat berupa produk. Produk yang dimaksud adalah fakta-fakta, prinsip-prinsip, model-model, hukum-hukum alam, dll. Sains juga dapat berarti suatu metoda khusus untuk memecahkan masalah, atau biasa disebut sains sebagai proses. Sains sebagai proses dapat berupa metoda ilmiah yang merupakan hal yang sangat menentukan pembuk-tian suatu kebenaran yang objektif.
Sains sebagai proses yang dilakukan melalu metoda ilmiah ini, terbukti ampuh memecahkan masalah ilmiah sehingga membuat sains terus berkembang dan merevisi berbagai pengetahuan yang sudah ada. Selain itu sains juga bisa berarti suatu penemuan baru atau hal baru yang dapat menghasilkan suatu produk. Produk tersebut biasa disebut dengan teknologi. Teknologi merupakan suatu sifat nyata dari aplikasi sains, suatu konsekwensi logis dari sains yang mempunyai kekuatan untuk melakukan sesuatu.
Sumbangan konsep dan ide dalam sains terbukti telah banyak mengubah pandangan manusia terhadap alam sekitarnya. Contoh-contoh sumbangan konsep dan ide sains diantaranya: 1. . . “Teori Relativitas Einstein”, yang telah mengubah pandangan orang secara drastis akan sifat kepastian waktu serta sifat massa yang dianggap tetap; 2. “Pengamatan bintang-bintang oleh Edwin Hubble melalui teleskop di gunung Wilson” pada tahun 1920-an misalnya, , , , , yang telah membawa beberapa implikasi seperti adanya galaksi lain selain Bimasakti dan adanya penciptaan alam semesta secara ilmiah dengan makin populernya teori ledakan besar ( ( ( (Big Bang); 3. “Teori Grafitasi ( Newton”, yang dapat membuktikan bahwa planet berputar pada porosnya dan bergerak mengelilingi matahari pada lintasan tertentu...
Dari ketiga contoh di atas kadang manusia lupa, siapa yang menciptakan ruang, masa dan waktu yang disampaikan Einstein tersebut? Siapa yang menciptakan bintang dan benda-benda langit lainnya yang diamati Hubble? Dan siapakan yang menciptakan grafitasi dengan bumi planet lainnya yang diamati Newton? Melupakan yang causal itulah yang membuat orang sekuler! Jadi untuk menghindari sekulerisme tersebut dalam sains diperlukan suatu bimbingan, yang berupa agama diantaranya Islam.
Islamisasi Sains Islamisasi Sains Islamisasi Sains Islamisasi Sains Islamisasi Sains
“““““Islamisasi sains” ” ” ” ” tidak hanya berarti menyisipkan ayat-ayat suci Al-Quran yang sesuai dengan konsep tertentu dalam sains tetapi terfokus pada bagaimana Islam sebagai pondamen nilai yang mengikat sains (value bound ). Bisa juga diartikan bagaimana pemahaman sains dapat meningkatkan kadar iman dan takwa terhadap Sang Khâliq. Jadi penulis membuat istilah Islamisasi Sains ke dalam dua katagori: “Islam to Sains” dan “Sains to Islam”.
Dasar pemikiran tersebut berangkat dari lima ayat dalam Surat Al-Alaq: “bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan; menciptakan manusia dari segumpal darah; bacalah! dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah yang mengajarkan dengan pena; mengajar manusia
hal-hal yang belum diketahuinya,” (Q. S. Al-‘Alaq:1-5) . . . . Lima ayat ini . bukan sekadar perintah untuk membaca ayat quraniyah (firman-firman Tuhan). Terkandung di dalamnya dorongan untuk membaca ayat-ayat kauniyah (alam semesta). Manusia pun dianugerahi kemampuan analisis untuk mengurai rahasia di balik semua fenomena alam. Kompilasi pengetahuan itu kemudian didokumentasi dan disebarkan melalui tulisan yang disimbolkan dengan pena. Pembacaan ayat-ayat kauniyah ini akhirnya melahirkan sains. Ada astronomi, fisika, kimia, biologi, geologi, dan sebagainya.
Mari kita kaji kedua katagori tersebut ke dalam contoh berikut: teori klasik menyatakan alam ini terdiri dari empat unsur yaitu tanah, udara, api dan air. Mari kita analisa, disadari atau tidak oleh kita, isyarat itu mewarnai apa yang kita pelajari tetang alam ini; mengapa daratan dibuat dengan ketinggian yang berbeda, tentunya agar air dapat mengalir melewati sungai, sehingga memberi kehidupan pada makhluk yang dilewatinya. Demikian juga dengan tekanan dan suhu udara. Tekanan dan suhu udara dibuat berbeda-beda di setiap lapisan (atmosfer) dan di setiap tempat. Hal itu menyebabkan timbulnya angin. Dan angin dapat menimbulkan perubahan cuaca, salah satunya dapat menimbulkan hujan. Hujan dapat menyuplai air ke permukaan bumi, dimana air merupakan sumber kebutuhan utama bagi kehidupan manusia.
Marilah kita renungkan, baik fenomena alam yang terjadi disekitar kita, maupun aktivitas yang kita lakukan sehari-hari. Berapakah ketinggian gunung, kedalaman laut, tekanan udara, kelajuan angin dan banyak lagi penomena alam lainya. Demikian juga keadaan fisik dan aktivitas yang kita lakukan. Berapakah berat badan kita, tinggi badan kita, suhu badan kita, lama hidup kita di dunia, dan banyak hal lain lagi yang dapat dianalisa
http://www.dunyabulteni.net
sebagai bahan renungan kita terhadap kebesaran yang maha kuasa.
Oleh karena itu, kita “wajib” meyakini bahwa bukan manusia, hewan atau tumbuhan yang telah menciptakan benda dengan berbagai ukuran, tetapi “Allahlah” yang telah menciptakannya seperti apa yang diisyaratkan oleh Allah dalam Quran Surat Al-Qomar ayat 49, yang artinya: “Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”. Besaran-besaran yang dapat diukur itu merupakan besaran fisika atau biasa disebut dengan besaran fisis. Allah telah menciptakan ketinggian, suhu, tekanan, kelajuan, berat, waktu dan banyak lagi besaran fisika lainnya. Semuanya diciptakan Allah memiliki ukuran tertentu yang dinyatakan dalam satuan ukur. Dari salah satu contoh sains di atas, maka dari esensinya, sains sudah Islami. Hukum hukum yang digali dan dirumuskan sains seluruhnya tunduk pada hukum Allah. Pembuktian teori-teori sains pun dilandasi pencarian kebenaran, bukan pembenaran nafsu manusia. Dalam sains, kesalahan analisis dimaklumi, tetapi kebohongan adalah bencana.
Contoh lain adalah kekeliruan analisis terhadap hukum kekekalan massa dan energi. Massa tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, tetapi dapat berubah ke dalam bentuk lain. Hukum konservasi massa dan energi ini dinilai menentang “tauhid”. Padahal, hukum ini adalah hukum Allah yang dirumuskan manusia, bahwa massa dan energi tidak bisa diciptakan dari ketiadaan dan tidak bisa dimusnah-kan, alam dan manusia hanya bisa mengalihkannya menjadi wujud yang lain. Hanya Allah yang kuasa menciptakan dan memusnahkan. Bukankah itu sangat Islami?
Jadi, , , , , “Islamisasi Sains” bukan menempatkan Ayat Alquran sebagai alat analisis sains. Dalam sains, rujukan yang dipakai mesti dapat dipahami siapa pun tanpa memandang sistem nilai atau agamanya. Tidak ada “sains Islam” dan “sains non-Islam”, yang ada “saintis Muslim” dan “saintis non-Muslim”. Pada merekalah sistem nilai tidak mungkin dilepaskan. Memang tidak tampak dalam makalah ilmiahnya, tetapi sistem nilai yang
dianut seorang saintis kadang tercermin dalam tulisan populer atau semi-ilmiah. “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan”. Maka, riset saintis Muslim berangkat dari keyakinan bahwa Allah pencipta dan pemelihara alam serta hanya karena-Nya pangkal segala niat. Atas dasar itu, setiap tahapan riset yang menyingkap mata rantai rahasia alam disyukuri bukan dengan berbangga diri, melainkan dengan ungkapan: “Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini sia-sia,”(Q. S. 3:191). Uraian di atas
menunjukan Islam to sains, yaitu riset saintis muslim yang berangkat dari keyakinan bahwa Allah pencipta dan pemelihara alam semesta, dan keyakinan itu bersumber dari Al Quran dan Al Hadits.
Sekarang bagaimana memahami “Sains to Islam”?. Marilah kita mulai dengan sebuah contoh. Apa yang ada dalam benak pikiran kita tentang api? Api adalah panas; api adalah terang atau berwarna. Api adalah panas dan panas adalah kalor serta kalor berhubungan dengan suhu/ temperature (T). Warna apa sajakah yang kita lihat dari api ? merah, kuning, hijau, biru, dll. Warna adalah gelombang dan gelombang berhubungan dengan panjang gelombang/lamda (ë). Mana yang lebih panas api merah atau api biru? Besar manakah panjang gelombang merah atau panjang gelombang biru? Hubungan antara panjang gelombang dengan suhu merupakan sebuah teori dan fakta yang biasa disebut dengan konsep. Dan konsep merupakan sains. Lalu apa yang merupakan sumber dari api ?
Mengapa api panas ? Dan siapa yang menciptakan warna?
Dari pemahaman konsep sains tersebut dapat menggiring manusia kepada keyakinan bahwa segala sesuatu ada yang menciptakan yaitu Allah SWT. Jadi “Sains to Islam” adalah suatu keyakinan terhadap Tuhan berdasarkan analisis terhadap bukti yang diciptakan-Nya. Dan analisis terhadap bukti yang diciptakaNya dapat dilakukan dengan suatu metode, yaitu metode ilmiah. Dalam tulisan ini diajukan sebuah paradigma sains alternatif. Untuk tujuan ini harus dikatakan, bahwa kata “iman” dan ragam bentuk turunannya amat banyak dibicarakan dalam al Qur’an, sehingga sesungguhnya lebih layak dipakai sebagai basis sains daripada kata “tauhid” yang sama sekali tidak dipakai dalam Al Qur’an. Bahkan jibril seolah membagi Al Qur’an ke dalam sebuah sistematika tertentu, yaitu iman, islam, ihsan, dan sâ‘ah.
Al Qur’an harus dipandang sebagai kerangka sistem aksiomatika ilmu -terutama ilmu sosial- karena tidak ada keraguan di dalamnya (la rayba fîhi), bahkan memberi penjelasan atas segala sesuatu (tibyânan li kulli shay’in). Al Quran tersusun oleh kerangka teoretik ilmu-ilmu sosial (ayat-ayat muhkamat) sedangkan lainnya merupakan penjelasan kerangka teori ilmu-ilmu sosial tersebut yang disajikan melalui perumpamaan-perumpamaan astronomi, biologi, fisika, dsb. (ayat-ayat mutahyabbihat). Jadi, perbedaan antara muhkamat dan mutashabbihat adalah perbedaan antara isi/kandungan dengan bungkus/kandang, bukan anatara ayat yang jelas dan yang tidak jelas. Sebab jika hal ini menyangkut ayat-ayat yang jelas dan tidak jelas, kedudukan Al Quran sebagai petunjuk dan pedoman hidup tidak bisa lagi dipertahankan.
Al Qur’an sendiri mengajukan definisi sains, sebagaimana dinyatakan dalam Surat Al-Rahmân. Lima ayat pertama surat Al-Rahmân memberi definisi sains alternatif, yaitu saat mendefinisikan al-bayyân sebagai rangkaian informasi dari Allah SWT. tentang astronomi, biologi, dan kehidupan sosial. Model kognitif atau metodologi sains alternatif bisa dirumuskan dengan
memperhatikan surat Yunus: 5 yang menggambarkan metodologi sains ini melalui perumpaman astronomi. Jika realisme dan naturalisme dapat diibaratkan sebagai sebuah metode gerhana bulan (moon eclipse), dan idealisme sebagai gerhana matahari (sun eclipse), maka metodologi alternatif ini adalah metode non-gerhana. Jika bulan melambangkan manusia, bumi melambangkan alam, dan matahari melambangkan Sang Pencipta, maka gerhana bulan menggambarkan penyembahan manusia atas alam semesta, sedangkan gerhana matahari menggambarkan penuhanan manusia atas dirinya sendiri.
Penuhanan diri sendiri yang sering dilakukan oleh para pemimpin agama gadungan digambarkan Qur’an melalui upaya-upaya kadzdzaba, yaitu “yaktubûna al-kitâba bi aydîhim, thumma yaqûlûna hâdzâ min ‘indillâh, liyashtaruu bihî thamanan qalîlan”. Sementara penuhanan pada alam dilakukan oleh para saintis melalui proses-proses “pencurian” ilmu (tawallay), dengan mengatakan penemuanku daripada mengatakan “sunnatullah”. Perlukah Islamisasi Sains?
Perlukah Islamisasi Sains?Perlukah Islamisasi Sains? Perlukah Islamisasi Sains?Perlukah Islamisasi Sains?
Untuk menjawaban pertanyaan diatas, kita kaji lima ayat Al-Quran berikut: bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan; menciptakan manusia dari segumpal darah; bacalah, dan Tuhanmu yang Maha Pemurah yang mengajarkan dengan pena; Mengajar manusia hal-hal yang belum diketahuinya (Q. S. Al-‘Alaq:1-5) . Lima ayat ini bukan sekadar perintah untuk membaca ayat quraniyah. Terkandung di dalamnya dorongan untuk membaca ayat-ayat kauniyah. Manusia pun dianugerahi kemampuan analisis untuk mengurai rahasia di balik semua fenomena alam. Kompilasi pengetahuan itu kemudian didokumentasi dan disebarkan melalui tulisan yang disimbolkan dengan pena. Pembacaan ayat-ayat kauniyah ini akhirnya melahirkan sains. Ada astronomi, fisika, kimia, biologi, geologi, dan sebagainya.
Maka dari esensinya, sains sudah Islami, hukum-hukum yang digali dan dirumuskan sains seluruhnya tunduk pada hukum Allah. Pembuktian teori-teori sains pun dilandasi pencarian kebenaran, bukan pembenaran
nafsu manusia. Dalam sains, kesalahan analisis dimaklumi, tetapi kebohongan adalah bencana. Al Faruqi menetapkan lima sasaran dari rencana kerja “Islamisasi Sains atau Ilmu”, yaitu: menguasai disiplin-disiplin modern, menguasai khazanah Islam, menentukan relevansi Islam yang spesifik pada setiap bidang ilmu pengetahuan modern, mencari cara-cara untuk melakukan sintesa kreatif antara khazanah Islam dengan Khazanah ilmu pengetahuan modern, dan mengarahkan pemikiran Islam ke lintasan-lintasan yang mengarah pada pemenuhan pola rancangan Allah.
Hukum konservasi massa dan energi yang secara keliru sering disebut sebagai hukum kekekalan massa dan energi sering dikira bertentangan dengan prinsip tauhîd. Padahal itu hukum Allah yang dirumuskan manusia, bahwa massa dan energi tidak bisa diciptakan dari ketiadaan dan tidak bisa dimusnahkan. Alam hanya bisa mengalihkannya menjadi wujud yang lain. Hanya Allah yang kuasa menciptakan dan memusnahkan. Bukankah itu sangat Islami?
Demikian juga tetap Islami sains yang menghasilkan teknologi kloning, rekayasa biologi yang memungkinkan binatang atau manusia memperoleh keturunan yang benar-benar identik dengan sumber gennya. “Teori evolusi” dalam konteks tinjauan aslinya dalam sains juga Islami bila didukung bukti saintifik. Semua prosesnya mengikuti sunnatullah, yang tanpa kekuasaan Allah semuanya tak mungkin terwujud.
Ide Islamisasi Sains Mendesak ? Ide Islamisasi Sains Mendesak ? Ide Islamisasi Sains Mendesak ? Ide Islamisasi Sains Mendesak ? Ide Islamisasi Sains Mendesak ?
Untuk menjawab pertanyaan di atas, ungkapan di bawah ini mungkin bias membantu menemukan jawabannya. Sebab ilmu yang rusak, adalah sumber dari kerusakan, dari ilmu yang rusak, lahir pula ilmuwan atau saintis yang rusak, bahkan ulama yang rusak, padahal tujuan ilmu mengantarkan manusia tidak syirik, melahirkan kebahagiaan dan peradaban yang maju. Coba renungkan juga ungkapan Imam Al-Ghazali dalam Ihyâ’ ‘Ulûmuddîn: “Rakyat yang rusak gara-gara penguasa/pemimpin yang rusak, dan penguasa rusak gara-gara
ulama yang rusak, dan ulama rusak terjangkit penyakit “hubbu al-dunyâ” (Cinta Dunia).).).).). Penutup Penutup Penutup Penutup Penutup
Dalam rangka keluar dari krisis manusia modern sebagai krisis ilmu ini, ummat Islam perlu bekerja keras untuk membangun kerangka paradigmatik sains alternatif, dengan ciri pokok sebagai berikut: 1. Menjadikan Al Qur’an sebagai sebuah sistem aksiomatika sains sosial (sunnaturrasûl); 2. Sains alam (ayat-ayat mutashabbihât) menyediakan data-data penjelasan bagi sains sosial (ayat-ayat muhkamât) –sosiologi, ekonomi, politik, sejarah. Sains sosial berada dalam hirarki ilmu yang lebih tinggi daripada sains alam; 3. Ilmu dikembangkan dengan model kognitif atau metodologi non-gerhana, sebut saja metode “ibda’ bismillah wa akhkhirha bil hamdulillah di mana Allah swt sebagai wakil, manusia sebagai mutawakkil, dan alam sebagai ladang pengabdian manusia pada Allah swt yang senantiasa dilakukan “dengan asma Allah, dan diakhiri dengan alhamdulillah.
Terlepas dari perdebatan tentang perlu tidaknya Islamisasi Sains atau bagi yang mengganggap perlu kemudian juga berdebat tentang pengertian dan metode Islamisasi tersebut, adalah sungguh menarik kita melihat perkembangan pemikiran tersebut. Tradisi berfikir ilmiah, realistis sekaligus idealis, namun tidak ‘jauh’jauh’ dari wahyu ini tentu saja perlu untuk menjadi contoh bagi perkembangan intelektualitas ummat selanjutnya. Gambaran tokoh-tokoh di atas yang dalam kurun dua dasawarsa telah menyumbangkan sebuah ‘pentas’ perdebatan yang tak jarang meninggalkan dokumen otektik berupa buku, makalah atau dokumentasi lainnya kemudian mungkin meninggalkan sebuah pertanyaan. Mungkinkah upaya ini masih banyak dibaca oleh generasi selanjutnya? Apakah upaya yang menghabiskan waktu, tenaga dan fikiran itu bisa menjadi dasar untuk bangkitnya ilmuan Islam selanjutnya?
M.Ihsan Dacholfany M.Ihsan DacholfanyM.Ihsan Dacholfany M.Ihsan Dacholfany
M.Ihsan Dacholfany, M.Ed.,, M.Ed.,, M.Ed.,, M.Ed.,, M.Ed., Sekretaris PPI UKM 2001-2002 dan Mahasiswa S3 UNINUS Bandung
Setelah hidup dengan prinsip ini Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangie meninggalkan bangsa ini untuk selamanya pada usia 59 tahun (1890-1949). Sebelumnya, dari tempat pembuangannya di Serui, Papua Barat, Sam Ratulangi diterbangkan tentara Sekutu ke Yogyakarta pada tanggal 5 April 1948. Setahun kemudian pada tanggal 30 Juni 1949 ia wafat di Jakarta karena kesehatannya memburuk . Jenasah Sam Ratulangi dibawa ke Manado dengn kapal laut, kemudian di makamkan di Tondano, Minahasa (2 Agustus 1949).