• Tidak ada hasil yang ditemukan

Isu Strategis RUEN dan RUED

Dalam dokumen DIREKTORAT SUMBER DAYA ENERGI MINERAL DA (Halaman 41-45)

BAB 4 KESELARASAN KEN, RUEN DAN RUED

4.2. Isu Strategis RUEN dan RUED

4.2.1 Isu Terkait Penyusunan RUEN Dan RUED A. Mekanisme Penyusunan RUEN

Hingga saat ini, peraturan yang menetapkan KEN belum dapat diterbitkan. Belum terbitnya peraturan KEN ini, secara operasional menjadi hambatan dalam penyusunan RUEN dan RUED mengingat RUEN dan RUED merupakan penjabaran operasional KEN yang akan dilakukan oleh pemerintah dan pemerintah daerah.

Penyusunan RUEN dan RUED merupakan amanat UU 30/2007. Hal ini merupakan sebuah kebijakan baru yang belum pernah dilakukan oleh pemerintah dan pemerintah daerah. Untuk itu, diperlukan kejelasan mengenai bagaimana mekanisme dan rumusan RUEN dan RUED harus dilakukan. Sayangnya, amanat UU 30/2007 untuk menerbitkan Perpres tentang penyusunan RUEN sampai saat ini pun belum ada. Padahal dari segi waktu, penerbitan Perpres dan sosialisasi ini tidak harus menunggu KEN selesai sehingga dapat segera disosialisasikan terutama ke daerah.

Saat ini belum ada RUED yang telah ditetapkan sebagaimana amanat Pasal 18 UU 30/2007. Namun demikian, ada pemerintah daerah yang telah memulai penyusunan RUED- nya. Tentu saja ini akan menimbulkan permasalahan apabila RUED yang telah disusun tidak sejalan dengan KEN dan RUEN yang ditetapkan kemudian. Contoh pemerintah daerah yang telah dan akan menyusun RUED adalah:

a. Pemerintah Kabupaten Luwu Timur melalui Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral telah menggelar kegiatan ekspose laporan pembuatan dokumen RUED Tahun 2011yang

37

berlangsung di Ruang Rapat Pimpinan Kantor Bupati Luwu Timur tanggal 16 Oktober 2011 dengan menghadirkan narasumber dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Energi dan Ketenagalistrikan Universitas Hasanuddin, Salama Manjang.

b. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada awal tahun 2012 telah mengumumkan rencana pengadaan penyusunan RUED senilai Rp 200 juta.

B. Kapasitas Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia

Rumusan materi RUEN tentu saja harus sejalan dengan KEN. Sama halnya dengan RUED yang juga harus sejalan dengan KEN dan RUEN. Hal ini diperlukan agar tercapai sinergi antara KEN, RUEN, dan RUED.

Rumusan materi RUED mencakup antara lain penyusunan database energi-ekonomi (profil energi daerah) dan model energi, mengkaji pola pemakaian energi saat ini, memperkirakan pemakaian energi masa depan, mengkaji potensi sumber daya energi daerah, menyusunan skenario supply-demand energi, mengkaji biaya dan dampak sosio-ekonomi dan lingkungan dari berbagai skenario supply-demand energi dan menyusun strategi pengembangan energi daerah.

Untuk menyusun RUED, maka pemerintah daerah perlu memiliki kemampuan yang cukup termasuk pada aspek metodologi dan asumsi-asumsi yang digunakan dalam memproyeksikan kebutuhan dan pasokan energinya. Untuk menyusun RUED yang realistis dan berwawasan berkelanjutan maka pemerintah daerah perlu memiliki pengertian yang memadai mengenai KEN dan RUEN.

Penyusunan RUED juga digunakan sebagai dasar untuk menyusun RUEN. Namun perlu diperhatikan bahwa regional balance sheet tidak akan dapat tergambar secara akurat karena pemenuhan energi daerah sering kali dipenuhi dari daerah lain (tidak bisa menggambarkan suatu daerah secara tertutup). Prediksi atau proyeksi energy demand daerah

harus menggunakan tools proyeksi energi yang ‘seragam’ secara nasional sehingga proyeksi

energi tiap daerah angkanya dapat kompatible dan dapat diadopsi atau dikutip secara nasional.

Dalam proses penyusunan RUED, beberapa daerah tidak terlalu memerlukan rencana umum energi dikarenakan daerah teresebut merupakan daerah strategis yang penyediaan

38

energinya harus mencukupi permintaan energi. Daerah-daerah yang dianggap strategis ini antara lain Bali, DKI Jakarta, dan Surabaya. Dampak yang akan muncul di daerah-daerah strategis tersebut adalah kurangnya dorongan untuk memberikan insentif bagi pengembangan energi daerah terutama energi terbarukan.

Selain itu, lemahnya hubungan antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota menyebabkan banyak kebijakan antar pemerintah tidak terkomunikasikan dengan baik. Pemerintah Daerah sering tidak dilibatkan dalam proyek- proyek nasional yang berlokasi di daerah, seperti proyek-proyek pertambangan migas dan pusat pembangkit tenaga listrik skala besar, sehingga proses penyusunan RUED kurang dapat dilakukan secara akurat. Hal ini juga disebabkan belum terlaksananya Forum Energi Daerah di setiap provinsi.

Permasalahan lainnya adalah ketidaktegasan pemerintah untuk menjalankan aturan insentif dan disinsentif terhadap penyelesaian RUED, sehingga meskipun telah diamanatkan di undang-undang tetapi belum dilaksanakan oleh pemerintah daerah. Perlu ada upaya khusus sebagaimana yang dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dengan mengumumkan bahwa daerah-daerah yang belum memiliki Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) tidak akan mendapatkan kucuran Dana Alokasi Khusus Infrastruktur tahun 2013. Hal ini secara tidak langsung akan memacu daerah-daerah yang belum menyelesaikan penyusunan RTRW untuk segera menyelesaikan RTRW-nya.

Penyusunan RUED juga terhambat oleh kurangnya informasi mengenai mekanisme bagaimana penyusunan RUED itu sendiri. Selain itu, kurangnya pendampingan untuk melakukan proses proyeksi permintaan dan penyediaan energi di setiap daerah dan kurangnya data untuk melakukan proyeksi juga menjadi salah satu faktor penghambat penyusunan RUED.

4.2.2 Isu Terkait Substansi RUEN

Untuk membentuk RUEN perlu memperhatikan Rencana Umum Ketenegakalistrikan Nasional (RUKN), Rencana Umum Migas, dan Rencana umum energi lainnya. Secara substansi rencana-rencana tersebut masih belum ideal. Sebagai contoh RUKN disusun dengan asumsi bahwa semua energi yang diperlukan tersedia seperti gas, batubara dan sebagainya. Namun dalam kenyataan di lapangan, justru energi-energi itu sulit diperoleh

39

dengan dinamisnya permintaan pasar terhadap energi baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Sementara Draft Rencana Umum Migas sempat disusun pada tahun 2006 namun sampai saat ini Rencana Umum Migas tidak kunjung diterbitkan. Bahkan dalam UU no. 30 tahun 2007 tentang Energi, peranan rencana umum migas ini justru dilemahkan peranannya dengan hanya menjabarkan RUEN ke RUKN. Padahal sejak dari dulu sektor migas justru menjadi sektor energi yang memiliki peranan dominan terutama dalam sektor transportasi dan industri.

Selain isu di atas, karakteristik logistik pasokan energi bisa bersifat distributed atau integrated (centralized, regionalized) sehingga perlu diperjelas dalam RUEN dan RUED karena wilayah administratif (Prov./Kab.) tidak sama dengan wilayah logistik suplai energi. Jika tidak sistem logistik energi yang terfragmentasi dan tidak efisien, kecuali sistem logistik yang bisa stand alone/distributed terutama sumber energi terbarukan seperti mikro hidro, biogas, surya, angin dan biofuels.

Tantangan lainnya adalah menselaraskan hasil penghitungan model energi RUEN dengan sasaran KEN. Berdasakan hasil simulasi sementara dari model energi RUEN dari Pusdatin terdapat perbedaan mencolok diantaranya :

a. Kapasitas pembangkit pada tahun 2025 mencapai 122,53 GW sementara target KEN pada tahun 2025 adalah 115 GW.

b. Kebutuhan listrik per kapita di tahun 2025 mencapai 1487,8 Kwh per kapita. Target KEN 2500 Kwh per kapita.

c. Target penyediaan energi primer KEN di tahun 2025 sebesar 400 MTOE dengan bauran terdiri dari : minyak 25 persen, gas 20 persen, batubara 30 persen dan EBT 25 persen. Sementara hasil simulasi sementara draft RUEN penyediaan energi primer di tahun 2025 sebesar 621,6 MTOE dengan bauran terdiri dari minyak 40 persen, gas 14 persen, batubara 27 persen, dan EBT 19 persen.

Hal ini disebabkan asumsi skenario yang digunakan Pusdatin berbeda dengan yang digunakan DEN. Selain itu asumsi tahun dasar DEN adalah 2008 sementara asumsi tahun dasar yang digunakan RUEN adalah 2011. Berdasarkan hal ini perlu segera ditetapkan KEN agar kerelevanan data sebagai dasar pengambilan kebijakan tidak menjadi kadaluarsa

40

Dalam dokumen DIREKTORAT SUMBER DAYA ENERGI MINERAL DA (Halaman 41-45)

Dokumen terkait