Memahami Hubungan antara Investasi dan GDP
Galih Adhidarma dan Denni Purbasari FEB UGM Peneliti Macroeconomic Dashboard
Sumber: Estimasi Tim Macroeconomic Dashboard, diolah menggunakan Hodrick-Prescott Filter (2015)
Gambar 44: Pola Siklikal Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Pertumbuhan Belanja Pemerintah
infrastruktur publik dapat membantu mengurangi kelesuan ekonomi, selain mendorong efisiensi perekonomian secara menyeluruh.
Exercise ini masih sederhana dan menyediakan ruang untuk diperbaiki. Exercise ekonometri yang dilakukan selama periode data triwulan 1 tahun 2000 hingga triwulan 1 tahun 2015 menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif terhadap belanja pemerintah dan signifikan secara statistik pada satu periode sebelumnya. Konsekuensinya, kebijakan fiskal yang diambil menjadi tidak countercyclical. Namun, hasil dari exercise ini masih berupa indikasi, karena belanja pemerintah yang digunakan belum termasuk belanja modal oleh pemerintah. Dengan masuknya belanja modal pemerintah, hasil exercise bisa jadi akan berubah.
Daftar Pustaka
Blomstrom, Magnus, Robert E. Lipsey, dan Mario Zejan. 1993. Is Fixed Investment the Key to Economic Growth? NBER Working Paper Series.
Katrakilidis, C dan P Tsaliki. 2009. Further Evidence On The Causal Relationship Between Government Spending and Economic Growth: The Case of Greece, 1958-2004. Acta Oeconomica. Vol 59. No.1 pp.57-58. Akademiai Kiado
Lindauer, David L. dan Ann D. Velenchik. 1992. Government Spending in Developing Countries: Trends, Causes, and Consequences. The World Bank Research Observer Vol 7 no.1 pp 59-78. Oxford University Press.
Munnel, Alicia H, 1992. Infrastructure Investment and Economic Growth. The Journal of Economic Perspective. Vol.6 No.4. pp 189-198. American Economic Association.
Dampak Globalisasi terhadap Pertumbuhan, Kemiskinan, dan Ketimpangan
Nadia Syahraniah dan Denni Purbasari Mahasiswa dan Dosen Ilmu Ekonomi FEB UGM
Bangalore adalah Silicon Valley versi India. Ia adalah tempat berbagai perusahaan teknologi berkarya. Salah satu perusahaan di Bangalore adalah Infosys Technologies Limited. Infosys menjajakan aneka jasa untuk perusahaan multinasional Amerika dan Eropa, mulai dari perawatan komputer hingga menjawab telepon pelanggan perusahaan-perusahaan tersebut dari seluruh dunia. Sama seperti Infosys, Mphasis juga melakukan hal yang sama. Mphasis, adalah perusahaan akunting yang di-outsource oleh perusahaan-perusahaan akuntan publik di Amerika. Infosys dan Mphasis pada dasarnya sama: mereka mengerjakan pekerjaan operan dari perusahaan Amerika Serikat. Oleh Friedman (2006), fenomena ini disebut globalisasi. Globalisasi membuat lalu lintas sumber daya antar negara menjadi hal yang lumrah dan kemajuan teknologi membuat alokasi sumber daya lebih efisien. Berpindahnya produksi komoditas labor-intensive dari negara maju ke negara berkembang pada beberapa dekade terakhir mendukung pendapat Friedman. Perpindahan produksi ini secara tidak langsung meningkatkan perekonomian negara berkembang. Karena, perpindahan produksi berarti kenaikan lapangan pekerjaan yang tersedia dan juga naiknya pendapatan nasional. Perpindahan produksi juga seringkali membawa serta pengetahuan dari negara maju ke negara berkembang—yang selanjutnya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan produktivitasnya. Produktivitas yang meningkat membuat pertumbuhan ekonomi meningkat.
Ditambah dengan keuntungan spesialisasi yang didasarkan atas keunggulan komparatif, globalisasi diyakini mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi—sehingga kita dapat menduga bahwa dampak globalisasi terhadap pertumbuhan ekonomi adalah positif. Dan karena pertumbuhan ekonomi umumnya mengurangi kemiskinan, maka kita juga dapat menduga dampak globalisasi terhadap kemiskinan adalah negatif. Namun, teori perdagangan pada umumnya mengatakan bahwa gains from trade umumnya tidak didistribusikan merata di antara kelompok masyarakat. Teori specific factor dan teori Heckscher-Ohlin misalnya, mengatakan bahwa pemilik faktor produksi yang secara spesifik atau secara intensif digunakan di sektor yang
berkompetisi dengan produk impor akan merugi. Intinya, perdagangan merugikan sekelompok masyarakat tertentu dan menguntungkan kelompok masyarakat lainnya. Dari sini, sepertinya kita menduga bahwa globalisasi akan meningkatkan ketimpangan pendapatan.
Namun sesungguhnya globalisasi bukanlah sekedar urusan ekonomi atau perdagangan. Globalisasi memiliki wajah lain. Orang Indonesia bisa mengetahui apa yang terjadi di Korea Selatan, Tiongkok, dan Jepang pada saat ini juga. Budaya pop Korea dan Jepang dengan gampang tersaji melalui TV kabel dan internet; begitu juga dengan saluran radio internasional dapat kita dengarkan secara streaming. McDonald's dan Ikea juga bisa dijumpai di banyak negara. Tak hanya itu. Globalisasi juga membuat hubungan antar negara menjadi kebutuhan sehingga semakin banyak negara-negara memiliki perwakilan diplomatik di seluruh dunia. Konjunkturforschungsstelle (KOF) Swiss Economic Institute menyusun indeks globalisasi dari 23 variabel ekonomi, sosial, dan politik. Indeks globalisasi KOF ini memiliki skala 1 hingga 100, dimana semakin tinggi skalanya menunjukkan tingkat globalisasi yang semakin tinggi pula. Indeks globalisasi umum ini disusun dari indeks globlisasi ekonomi, indeks globalisasi sosial, dan indeks globalisasi politik, yang masing-masing memiliki bobot 36, 38 dan 26 persen.
Dari studi yang dilakukan oleh Syahraniah (2015) dengan sampel 9 negara ASEAN+3, yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam, Kamboja, Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan pada periode 1980 hingga 2009 dengan OLS panel 5 tahunan, tidak menemukan bukti bahwa globalisasi umum dan globalisasi sosial berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Hanya globalisasi ekonomilah yang berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi.
Bagaimana dengan dampak globalisasi terhadap kemiskinan? Seperti telah diduga dalam hipotesis di muka, karena globalisasi berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi
berdampak negatif terhadap kemiskinan, maka dapat diduga bahwa globalisasi berdampak negatif terhadap kemiskinan. Studi Syahraniah (2015) menemukan bukti bahwa globalisasi secara umum dan globalisasi ekonomi menurunkan kemiskinan—namun tidak demikian halnya dengan globalisasi sosial.
Terkait ketimpangan pendapatan, studi Syahraniah (2015) menemukan bukti bahwa globalisasi secara umum, globalisasi ekonomi, dan globalisasi sosial semuanya memperburuk ketimpangan pendapatan. Globalisasi ekonomi berpengaruh lebih kuat terhadap ketimpangan pendapatan daripada globalisasi sosial. Dari hasil ini, pemerintah perlu melakukan kebijakan redistribusi pendapatan melalui pajak dan subsidi serta memperkuat belanja sosial untuk meningkatkan keterampilan khususnya bagi masyarakat yang bekerja di sektor yang berkompetisi dengan impor untuk mengurangi dampak negatif globalisasi terhadap beberapa kelompok masyarakat.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, kesimpulannya jelas. Negara-negara berkembang mestinya mendorong globalisasi ekonomi, dengan memperlancar perdagangan dan investasi antar negara serta mengurangi hambatan perdagangan. Namun, jangan berharap globalisasi equalize masyarakat di dalam suatu negara. The world is flat seperti kata Friedman itu adalah kesimpulan antar negara. Sedangkan di dalam suatu negara sendiri, it is uneven—persis seperti kata teori.
Daftar Pustaka:
Friedman, Thomas L. (2006). The World is Flat: A Brief History of the Twenty-First Century (2ⁿ ed.). New York: Farrar, Straus, and Giroux.
Kaunder, Björn, and Niklas Potrafke. (2015). Globalization and Social Justice in OECD Countries. Review of World Economics, 151, 353-376.
Syahraniah, Nadia. (2015). Analisis Pengaruh Globalisasi terhadap Pertumbuhan Ekonomi, Ketimpangan Pendapatan, dan Tingkat Kemiskinan: Studi Kasus di Negara ASEAN+3 Periode 1980-2009. Skripsi. Tidak dipublikasikan. FEB UGM. 3. Pertumbuhan Ekonomi dan Penyaluran Kredit
Pertumbuhan Ekonomi dan Penyaluran Kredit
Traheka Erdyas Bimanatya
Peneliti Macroeconomic Dashboard FEB UGM
Seiring dengan dikeluarkannya paket kebijakan jilid I dan jilid II, beredar kabar bahwa pada pertengahan bulan Oktober ini akan dikeluarkan paket kebijakan jilid III untuk melawan perlambatan ekonomi. Fokus kebijakan pada paket kali ini berupa program-program yang dalam jangka pendek dampaknya dapat
dirasakan oleh masyarakat. Salah satu hal menarik yang diwacanakan Presiden Jokowi dalam paket kebijakan jilid III ini adalah penurunan suku bunga perbankan.
Menurut teori dampak langsung ketika suku bunga perbankan diturunkan adalah meningkatnya keinginan masyarakat untuk meminjam dana dari sektor perbankan. Buat kalangan pengusaha ini merupakan kabar baik karena biaya untuk meminjam dana (cost of fund) menjadi lebih murah. Buat perbankan hal ini dapat menjadi peluang untuk menyalurkan dana yang selama ini mengendap di lemari besi sehingga mendatangkan keuntungan. Bagi pemerintah kebijakan ini juga bisa menjadi jurus sakti untuk mengatasi perlambatan ekonomi karena memacu sektor riil lebih produktif dan ancaman PHK massal dapat teredam. Namun apa benar kebijakan ini sungguh “sakti”?
Teori di atas didasarkan pada asumsi ceteris paribus atau faktor-faktor lain selain suku bunga dianggap tetap. Dalam kondisi perlambatan ekonomi, asumsi ini kurang tepat karena banyak hal lain yang bisa menentukan keinginan seseorang untuk meminjam dana seperti misalnya prospek perekonomian ke depan. Data
menunjukkan variabel pertumbuhan PDB riil dan variabel pertumbuhan kredit riil di Indonesia memiliki pola pergerakan yang searah atau pro-cyclical. Kredit riil di sini didefinisikan sebagai jumlah kredit riil yang disalurkan untuk keperluan konsumsi, investasi, dan modal kerja. Pada gambar berikut terlihat ketika pada akhir tahun 2004 siklus pertumbuhan PDB riil mencapai puncak, variabel pertumbuhan kredit riil juga tengah mengalami boom namun baru di kuartal III-2005 mencapai puncak.
Terdapat indikasi pertumbuhan kredit riil memiliki pola lag terhadap pertumbuhan PDB riil. Hipotesis ini diperkuat oleh uji kuantitatif dengan
menggunakan metode Granger Causality (Kausalitas Granger) dan regresi Ordinary Least Square (OLS). Hasil pengujian Kausalitas Granger menunjukkan terdapat hubungan satu arah terjadi dari variabel pertumbuhan PDB riil ke variabel pertumbuhan kredit riil. Tidak diketemukan adanya hubungan sebaliknya atau dua arah antara variabel-variabel tersebut.
Selaras dengan hal itu, uji regresi OLS juga
menegaskan keberadaan pola lead-lag dalam kasus Indonesia. Variabel pertumbuhan PDB riil ternyata dapat menjelaskan 64 persen variasi nilai
pertumbuhan kredit riil pada kuartal tertentu. Pertumbuhan PDB riil pada dua kuartal sebelumnya (lag 2) memiliki hubungan yang signifikan terhadap tingkat pertumbuhan kredit riil di kuartal berlangsung.
Kenaikan satu persen pertumbuhan PDB riil di dua kuartal sebelumnya akan menaikkan pertumbuhan kredit riil yang disalurkan saat ini sebesar 5,29 persen. Demikian pula sebaliknya bila terjadi perlambatan ekonomi, pertumbuhan kredit riil juga akan ikut melambat pada dua kuartal ke depan.
Menengok bukti empiris di atas, menurunkan suku bunga perbankan boleh jadi merupakan kebijakan yang kurang tepat saat ini. Sejak tahun 2011 sampai kuartal II-2015 arah pertumbuhan ekonomi Indonesia Gambar 45: Pertumbuhan Kredit Riil dan PDB Riil
Indonesia Kuartal I-2003 – Kuartal I-2015 (persentase deviasi terhadap rata-rata)
cenderung melambat sehingga permintaan kredit hingga akhir tahun ini masih sangat mungkin terkontraksi. Selain itu kebijakan ini juga berpotensi menggerus nilai simpanan nasabah perbankan saat ancaman inflasi masih mengintai. Di bulan Juli 2015 rata-rata suku bunga simpanan berjangka di bank umum adalah 8 persen. Sedangkan tingkat inflasi umum Indonesia di bulan yang sama adalah 7,26 persen. Artinya suku bunga riil yang dinikmati oleh nasabah perbankan hanya kurang dari satu persen. Sangatlah bijak untuk mengkaji ulang gagasan ini. Bagi pemerintah ada baiknya untuk fokus
meningkatkan pengeluarannya sehingga merangsang sektor riil untuk berproduksi. Sehingga pada
akhirnya permintaan kredit akan naik tanpa harus menurunkan suku bunga perbankan.
Sumber: BPS, Bank Indonesia dan CEIC (diolah, 2015)
Tabel 7: Hasil Regresi OLS (HAC standard errors and covariance)
I. GAMA Leading Economic Indicator (GAMA LEI)
Leading Economic Indicator merupakan salah satu model early warning system untuk memprediksi
arah pergerakan ekonomi satu kuartal ke depan. GAMA LEI mampu menghasilkan perkiraan siklus
perekonomian (PDB) Indonesia dengan akurat pada beberapa edisi sebelumnya. GAMA LEI berhasil memprediksi perlambatan ekonomi yang terjadi dari kuartal I tahun 2014 hingga kuartal II tahun 2015. GAMA LEI juga masih memprediksikan kinerja perekonomian Indonesia yang menunjukkan perlambatan pada kuartal III tahun 2015. Hal tersebut disebabkan adanya penurunan kinerja pada beberapa indikator kunci perekonomian Indonesia yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi menurun dibandingkan kuartal sebelumnya.
GAMA LEI dihasilkan dengan mengurai komponen penyusun data runtun waktu variabel makro sehingga dihasilkan komponen siklus yang dapat digunakan untuk memprediksikan arah pergerakan
ekonomi satu kuartal ke depan. Kinerja variabel makro seperti tingkat ekspor, investasi, penjualan mobil,
konsumsi semen, penyaluran kredit, dan lain sebagainya menjadi beberapa variabel kandidat yang diuji karena memiliki pengaruh cukup signifikan pada kondisi perekonomian Indonesia. Pada akhirnya, GAMA LEI merupakan variabel komposit yang disusun oleh beberapa indikator yang telah melewati uji statistik yang ketat. Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa beberapa indikator ekonomi makro lainnya dapat berubah dengan cepat dalam beberapa waktu ke depan
Hasil prediksi GAMA LEI pada edisi ini menghasilkan adanya kecenderungan penurunan siklus perekonomian (PDB)
Indonesia. Seperti yang ditunjukkan pada Gambar
46, GAMA LEI pada kuartal II tahun 2015 menunjukan arah pergerakan yang menurun. Pergerakan GAMA LEI yang menurun tersebut menjelaskan prediksi penurunan siklus
perekonomian (PDB) Indonesia pada kuartal III tahun 2015. Kondisi tersebut dapat dianalisis lebih lanjut menggunakan siklus dari indikator yang menyusunnya yaitu (1) realisasi investasi dalam dan luar negeri, (2) konsumsi semen, (3) pemberian kredit, (4) jumlah wisatawan yang datang, (5) harga bahan bakar minyak, dan (6) kapitalisasi pasar saham BEI.
Prediksi perlambatan ekonomi ini diakibatkan karena kinerja konsumsi rumah tangga yang masih rendah, demikian pula pada transaksi investasi yang juga belum terlihat mengalami peningkatan. Pelemahan investasi sejalan dengan implementasi proyek infrastruktur pemerintah yang belum secepat perkiraan serta perilaku menunggu atau wait and see investor swasta. Di sisi perdagangan, meskipun impor mengalami penurunan, aktivitas ekspor tidak mengalami peningkatan. Faktanya, kendati neraca perdagangan membukukan surplus USD 1,5 miliar secara kumulatif pada Juli 2015, nilai ekspor turun 19 persen secara year-on-year. Hal ini tidak hanya disebabkan oleh pelemahan permintaan dan penurunan harga komoditas seperti karet, kelapa sawit, dan kopi tetapi juga akibat dari berbagai tekanan ekonomi internasional, termasuk devaluasi nilai mata uang reminbi yang mengakibatkan daya saing produk manufaktur Indonesia menurun relatif terhadap produk Tiongkok.
Sumber: Tim Macroeconomic Dashboard (2015)
Gambar 46: GAMA Leading Economic Indicator GAMA LEI memprediksikan kecenderungan penurunan siklus perekonomian Indonesia yang masih berlanjut