TAKBIRAT AL-IHRAM
Aku mulai kitab ini dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Pengasih kepada hamba-Nya. Segala puji bagi Allah swt, Tuhan seru sekalian alam. Rahmat Allah selamanya bagi penghulu kita Nabi Muhammad saw, keluarga dan sahabatnya. Salah seorang hamba Allah bernama Muhammad Zain putera dari al-faqih Jalaluddin yang berasal dari Aceh dan bermazhab Syafi’i (semoga Allah mengampuninya dan kedua orang tuanya), berkata: “Setelah aku melihat beberapa orang yang berbeda pendapat mengenai niat pada takbiratul ihram, maka aku bermaksud dan berusaha menulis satu kitab kecil untuk menjelaskan hal tersebut yang dinamakan dengan Kasyf
al-Kiram.
Aku memohon kepada Allah swt agar menjadikan penulis kitab ini ikhlas bagi zat-Nya yang mulia dengan karunia-Nya. Aku juga memohon agar Allah swt memeliharaku, yang membaca dan yang mendengar kitab ini dari syaitan yang terkutuk. Allah swt Maha Pengasih, Penyayang lagi Pemurah. Tidak ada yang terpelihara dari kesalahan melainkan dengan adanya pemeliharaan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. Dan tidak ada upaya untuk berbuat baik melainkan dengan taufik Allah swt.
Nabi saw bersabda: “Innamal a’malu binniyyat wa
innama likullim ri’im ma nawa” (semua perbuatan itu dengan
niat dan bagi setiap orang sesuai dengan apa yang diniatkannya).1 Arti niat secara lughah yaitu qashdu. Menurut syara’, niat adalah suatu keadaan beserta dengan perbuatan
1Syarat niat ada empat. Pertama, niat di dalam hati; kedua, jatah niat ada pada delapan huruf yaitu Allahu akbar; ketiga, niat tidak berubah; keempat, membedakan ada’a dengan qadha’a.
selain pada puasa dan tempatnya di hati. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi saw: “al-taqwa ha huna” (takut itu di sini) dengan mengisyaratkan tangan beliau ke dadanya tiga kali. Ikhlas yang lazim bagi niat tempatnya di hati. Demikian kesepakatan mayoritas ulama, sebagian lain berpendapat bahwa tempat niat pada otak, namun ini pendapat yang lemah.
Imam Syafi’i mengatakan bahwa niat ada pada 70 bab. Ibnu Hajar dalam Syarah Arbain mengatakan bahwa jika sanggup mencari pembahasan tentang niat, maka akan diperoleh lebih dari jumlah yang telah disebutkan oleh Imam Syafi’I tersebut. Hal ini disebabkan, karena niat termasuk dalam semua aspek ibadah, semua lafaz kinayah seperti seseorang berkata pada isterinya: “Pulanglah pada keluargamu”, kurban, nazar, kifarat, perang fi sabilillah, menjelaskan ilmu, menghukum orang yang bersengketa, dalam hal yang biasa seperti makan dan minum agar mampu beribadah, taat, jima’ karena mengamalkan sunah, memelihara diri dari zina atau karena menginginkan keturunan. Oleh sebab itu, Imam Syafi’i dan mayoritas ulama mengatakan bahwa niat seperti ilmu. Imam Baihaqi mengatakan bahwa usaha seorang hamba Allah swt adakalanya dengan hati, lidah dan adakalanya dengan anggota badan. Niat yang lebih afdhal adalah dari lidah dan anggota badan, karena keduanya mengikuti niat sehingga sah.
Binasa, berpahala, atau berdosa suatu amalan tergantung pada niatnya apakah karena riya atau tidak. Ada pekerjaan yang dilakukan hanya karena riya semata-mata seperti pekerjaan hanya untuk dunia, maka itu haram dan tidak ada pahala. Terkadang ada pekerjaan yang bercampur dengan riya, maka tidak haram tetapi tidak diberi pahala, karena yang di tuntut pada semua pekerjaan adalah ikhlas kepada Allah swt bukan karena dunia atau lainnya.
Mengenai niat ada dua pembahasan, pertama cara berniat dan kedua muqaranah niat pada takbiratul ihram. Pertama, wajib menyengajakan perbuatan dan menentukan niat. Niat fardhu jika shalat fardhu, apakah fardhu ain seperti shalat lima waktu atau fardhu kifayah seperti shalat jenazah
Kitab Kasyf al-Kiram fi Bayan al-Niyah fi Takbirat al-Ihram
|47
atau lainnya seperti nazar, shalat bagi anak-anak atau shalat yang diulang. Demikian pendapat yang kuat.
Wajib menyengajakan perbuatan untuk membedakan antara ibadah dengan pekerjaan biasa dan untuk membedakan antara satu ibadah dengan ibadah lainnya seperti haji, umrah, puasa dan lainnya. Seseorang tidak cukup hanya menghadirkan niat pada hati namun lalai dari ketentuan yang dikerjakan. Maknanya adalah sesuatu yang lain selain dari niat, sehingga niat tidak diniatkan. Jika niat diniatkan, maka lazim akan tersimpan bilangan yang pasti. Demikian pendapat Syeikh Ramli dalam kitab Nihayah dan Ibnu Hajar dalam Syarah
Arbain. Sebagian ulama mengatakan bahwa niat harus
diniatkan karena harus ta’liq dengan sendirinya seperti ilmu. Ta’liq dengan sendirinya dan lainnya itu seperti kambing 40 ekor menzakatkan dirinya.
Berdasarkan pendapat yang kuat, shalat mempunyai 13 rukun. Tiga belas rukun inilah yang dimaksud dengan shalat, yang diniatkan secara keseluruhan bukan pada setiap rukun yang 13 tersebut. Maka sah ta’liq niat dengan sendirinya, demikian pendapat Ibnu Hajar dalam Tuhfah. Wajib menentukan waktu Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya’, Shubuh, jenazah atau nazar untuk membedakan antara satu waktu shalat dengan lainnya. Seperti Zhuhur dengan Ashar, Maghrib, dan waktu shalat lainnya. Demikian juga shalat sunah qabliyah dan ba’diah pada waktu Zhuhur, Maghrib dan Isya’. Pada waktu Shubuh dan Ashar tidak ditentukan sunah qabliyah karena pada waktu tersebut tidak ada shalat sunah kecuali sunah qabliyah.
Demikian juga niat qashar pada shalat qashar, imam pada imam jamaah dan makmum pada makmum jamaah. Disyaratkan pada shalat berjamaah niat disertakan pada takbiratul ihram. Imam berniat pada imam dan makmum pada makmum itu sunah bukan syarat. Jika makmum tidak berniat untuk mengikuti imam pada takbiratul ihram, namun mengikuti setiap perbuatan imam seperti ruku’, sujud dan lainnya, tidak batal shalat. Demikian juga, jika imam tidak berniat menjadi imam pada takbiratul ihram tidak batal shalat, tetapi tidak mendapat pahala berjamaah karena tidak ada niat.
Wajib meniatkan fardhiyah untuk membedakan dengan shalat sunah karena caranya sama. Tidak ada yang membedakan melainkan dengan niat fardhiyah seperti sahaja aku shalat fardhu Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya’, Shubuh, fardhu nazar atau fardhu kifayah. Ibadah yang disyaratkan niat fardhu adalah shalat. Ibadah lain tidak disyaratkan niat fardhiyah seperti haji, umrah, puasa dan zakat, demikian pendapat yang kuat. Ada sebagian ibadah karena mudharat seperti tayamum dengan niat fardhiyah.
Ada tiga hal yang diniatkan pada shalat fardhu; pertama,
qashad; kedua, ta’radh; dan ketiga, ta’yin. Jika shalat tersebut
berjamaah, maka di tambah ma’muman oleh makmum dan
imaman oleh imam. Jika shalat qashar maka tambah niat
qashar. Hal tersebut diketahui dan ditahqiq sebagaimana dalam mazhab Imam Syafi’i. Ada sebagian orang yang tidak mengerti mazhab mengatakan bahwa niat shalat fardhu cukup hanya dengan salah satu dari tiga hal di atas. Jika ada orang yang berbuat seperti itu, maka tidak sah shalatnya, demikian mazhab Imam Syafi’i.
Wajib menyengajakan perbuatan dan menentukan niat pada shalat yang berwaktu, seperti rawatib, shalat hari raya fitri, hari raya haji, sunah dhuha dan lainnya. Atau2 yang mempunyai sebab seperti shalat gerhana bulan atau matahari, dan shalat minta hujan. Atau shalat yang terkait dengan sesuatu yang lain seperti tahiyatul masjid, sunah wudhu, shalat istikharah, shalat sunah ihram, shalat masuk dan keluar suatu tempat, sunah tawaf dan lainnya. Shalat-shalat sunah tersebut seperti sunah mutlak.
Niat pada shalat yang mempunyai waktu dan sebab ada dua, qashad dan ta’yin. Adapun ta’radh tidak wajib diniatkan, demikian pendapat yang kuat. Sunah meniatkan ada’a pada shalat ada’a dan qadha’a pada qadha’a. Tidak disyaratkan ada’a pada shalat ada’a dan qadha’a pada shalat qadha’a pada shalat fardhu atau shalat sunah. Maka jika seseorang berniat sahaja
Kitab Kasyf al-Kiram fi Bayan al-Niyah fi Takbirat al-Ihram
|49
aku shalat fardhu qadha’a Allahu akbar, padahal shalat itu pada
waktunya maka sah shalatnya.3
Imam Barazi berfatwa tentang suatu hal yang sangat penting. Seseorang bertanya tentang orang yang menghabiskan waktunya di tempat yang gelap selama dua puluh tahun, hingga ia melaksanakan shalat Shubuh di luar waktu, padahal ia mengira hal itu sesuai dengan waktunya. Pertanyaannya adalah berapa shalat yang harus diqadha. Imam menjawab bahwa shalat yang diqadha satu waktu saja, yaitu yang terakhir. Shalat setiap hari harus diqadha pada hari itu juga untuk shalat yang sebelumnya, karena tidak disyaratkan niat ada’a dan qadha’a.
Qasim mengatakan bahwa cukup dengan mengqadha satu waktu shalat selama tidak menyengajakan fardhu4 pada hari tertentu. Jika ada yang menyengajakan pada hari tertentu, maka wajib mengqadha shalat selama masa yang ditinggalkan. Yaitu mengqadha’ shalat Shubuh selama masa dua puluh tahun lamanya. Hal ini sesuai dengan fatwa Imam Barazi, Ibnu Hajar dan Syeikh Ramli.
Wajib menyengajakan perbuatan pada shalat sunah mutlak atau sunah yang mempunyai sebab. Arti sunah mutlak yaitu sunah yang tidak mempunyai waktu dan sebab. Jika seseorang berkata kepada yang lain: “Shalatlah dan untukmu satu dinar”. Ia shalat dengan maksud dinar atau melihat orang yang menunggunya, lalu ia shalat dengan maksud jangan sampai orang itu menunggu, maka sah shalatnya dan tidak berhak dinar yang dijanjikan. Jika kemudian ia berniat dengan lafaz Insya Allah seperti Allahu Akbar. Insya Allah yang dilihat, jika maksudnya berkah maka sah shalat. Jika shalatnya batal dengan kehendak Allah swt maka tidak sah niatnya.
Pembahasan kedua, wajib muqaranah niat dari permulaan takbir hingga selesai. Artinya niat tetap dimulai dari