• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendahuluan

Seiring dengan semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap daging, pemeliharaan itik jantan lokal sebagai penghasil daging merupakan salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Meskipun saat ini terdapat berbagai upaya untuk memperkenalkan daging itik melalui pengembangan itik-itik yang berpotensi sebagai penghasil daging, seperti itik-itik peking, mandalung atau serati (Setioko 2003; Suparyanto 2005) namun ketersediaan DOD itik peking yang terbatas, harus di impor dan membutuhkan biaya yang besar sementara serati masih sangat sulit diperoleh karena tingkat daya tetasnya yang rendah saat dalam proses penetasan. Itik lokal seperti Mojosari dan Alabio yang disilangkan menghasilkan itik MA yang dikembangkan di Balai Penelitian Ternak Ciawi berpotensi besar sebagai penghasil daging khususnya untuk itik jantan, dengan rataan bobot badan umur delapan minggu dapat mencapai 1.3 kg, namun dalam hal penyediaan DOD masih sangat terbatas karena fasilitas pendukung sangat kurang (Prasetyo et al. 2005).

Kecenderungan permintaan produk itik terutama daging itik semakin meningkat, hal ini diduga karena masyarakat sudah mulai tertarik dan beralih ke daging itik lokal yang rasanya relatif lebih gurih seperti ayam kampung. Pada pusat-pusat budi daya itik seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Kalimantan Selatan pada umumnya produksi daging itik belum kontinyu sesuai permintaan pasar. Produksi daging itik terutama berasal dari hasil pembesaran pada saat produksi DOD betina meningkat dan juga dari itik betina afkir.

Itik Alabio asal Kalimatan Selatan dan itik Cihateup asal Jawa Barat, memiliki postur tubuh yang besar sesuai dengan salah satu ciri itik penghasil daging, namun dari segi potongan karkas bagian dada dan paha itik Cihateup lebih besar masing-masing sebesar 31.42% dan 28.15% dari itik Alabio yaitu sebesar 25.67% dan 21.33%. Kedua itik ini dapat dibedakan dari warna bulu, shank, paruh

maupun dari bentuk postur tubuh. Itik Cihateup memiliki postur tubuh yang hampir tegak pada saat berdiri atau berjalan, memiliki paruh dan shank yang hitam berbeda dengan itik Alabio yang postur tubuhnya agak datar, dengan warna paruh dan shank yang kuning.

Penerapan teknologi untuk memperbaiki penampilan itik lokal dalam hal produksi daging, baik melalui perbaikan manajemen dan pakan sudah sering dilakukan, sementara melalui seleksi dan persilangan masih jarang dilakukan terhadap itik-itik lokal kita, karena membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang cukup mahal. Sebenarnya perbaikan genetik merupakan suatu tindakan yang relatif lebih efektif karena akan memberi dampak yang lebih parmanen dibandingkan dengan perbaikan manajemen atau perbaikan pakan. Noor (2008) menjelaskan bahwa crossbreeding merupakan bentuk silang luar. Silang luar berpengaruh dalam meningkatkan proporsi gen-gen yang heterozigot dan menurunkan proporsi gen yang homozigot. Laju peningkatan heterozigositas akibat silang luar tergantung pada perbedaan genetik dari tetuanya. Makin jauh hubungan kekerabatannya antara kedua ternak tersebut, maka makin sedikit kesamaan gen-gennya dan makin besar pula tingkat heterozigositasnya. Oleh sebab itu umumnya crossbreeding menghasilkan peningkatan derajat heterozigositas lebih cepat dibandingkan dengan persilangan lainnya. Persilangan ini pada dasarnya adalah menggabungkan sifat-sifat baik dan memanfaatkan sejauh mungkin efek heterosis atau hybrid vigor yang timbul pada F1. Itik hibrida yang diperoleh dari hasil persilangan, diharapkan memiliki performa yang lebih baik dalam produksi karkas dan daging diatas rata-rata tetua murninya. Program persilangan dalam penelitian ini tujuan utamanya adalah untuk menghasilkan itik-itik silangan yang siap untuk dipotong atau dijual yang lebih dikenal dengan persilangan terminal.

Berdasarkan pertimbangan di atas, maka penelitian perbaikan performa dan produksi karkas itik lokal diarahkan pada kedua jenis itik lokal yakni itik Cihateup dan Alabio.Penelitian ini bertujuan, untuk mengevaluasi efek heterosis hasil persilangan timbal balik antara itik Cihateup dengan Alabio, dan menentukan jenis itik silangan yang terbaik terhadap peforma, produksi karkas dan daging. Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai bahan informasi ilmiah

untuk pengembangan itik potong ke depan sekaligus sebagai dasar pembentukan galur itik potong di Indonesia.

Materi dan Metode Penelitian

Waktu dan Tempat

Pelaksanaan penelitian selama lima bulan yakni dari mulai Oktober 2010 sampai Februari 2011. Penelitian pemeliharaan DOD (Day Old Duck) di Laboratorium Lapangan Ilmu Produksi Ternak Unggas, Departemen Ilmu Produksi dan Tenologi Peternakan, Fakultas Peternakan.

Materi Peneltian

Materi penelitian terdiri atas DOD jantan umur sehari hasil perkawinan itik AA [Alabio ♂ x Alabio ♀]; CC [Cihateup ♂ x Cihateup ♀]; dan persilangan CA [Cihateup ♂ x Alabio ♀]; AC [Alabio ♂ x Cihateup ♀] yang jumlahnya dari masing-masing jenis itik 30 ekor sehingga keseluruhan DOD yang digunakan 120 ekor. Kandang sebanyak 6 buah yang dibagi 4 petak, tiap petak berukuran 1.25 x 1.25 meter. Setiap petak kandang dilengkapi dengan brooder, lampu pijar 75 watt sebagai pemanas sekaligus penerang, tempat makan dan tempat minum. Ransum untuk itik dalam penelitian ini berupa ransum komersial ayam pedaging, sesuai umur 0 – 4 minggu (starter), kandungan protein 21-22%, ME 2920 Kkal/kg dan umur 4 - 8 minggu (finisher) kandungan protein 19-21%, ME 3020 Kkal/kg. Daging bagian paha untuk uji sensori dan analisis komposisi asam lemak. Peralatan lain yang digunakan berupa timbangan digital merk O’haus kapasitas 5 kg, selang air, ember, baki, pisau dan freezer.

Metode Penelitian

DOD hasil perkawinan dan persilangan dari masing-masing jenis itik diberi nomor pada sayap (wing band), ditimbang untuk mengetahui bobot hidup awal dan ditempatkan secara acak pada petak-petak kandang berukuran 1.25 x 1.25 m. Setiap petak kandang dilengkapi dengan brooder, alas litter dengan sekam padi dan lampu sebagai penerang yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu. Ransum komersial ayam pedaging berbentuk crumble diberikan sesuai dengan

umur itik dan diberikan 2 kali dalam sehari yakni pagi dan sore, sedangkan air minum ad libitum. Setiap minggu dilakukan penimbangan untuk mengetahui bobot hidup, pertambahan bobot hidup, jumlah ransum dan sisa ransum hingga akhir penelitian. Pemotongan itik dilakukan setelah itik berumur 8 minggu. Sebelum dipotong itik ditimbang terlebih dahulu, untuk mengetahui bobot potong. Setelah dipotong dilakukan proses pencabutan bulu, pemisahan bagian leher dan kepala, kaki dan isi jeroan dari dalam tubuh itik. Selanjutnya dilakukan penimbangan untuk mendapatkan bobot karkas dan bagian-bagian potongan karkas komersial serta melakukan deboning pada dada dan paha itik.

Perhitungan Heterosis

Heterosis digunakan untuk menggambarkan keunggulan keturunan kawin silang (F1) terhadap tetuanya. Heterosis diukur berdasarkan keunggulan rataan performa itik silangan terhadap rataan tetuanya dengan rumus menurut Noor (2008) sebagai berikut :

% Heterosis = x 100%

Nilai heterosis persilangan timbal balik antara Alabio dengan Cihateup adalah :

% Heterosis CA = x 100%

% Heterosis AC = x 100%

Prediksi pendugaan dari setiap persilangan dapat dilakukan dengan mengetahui parameter-parameter seperti direct additive effect, maternal additive effect, direct dominance effect, dan maternal dominance effect melalui program GENUP (Kinghorn 2010).

Tabel 12 Perhitungan pendugaan parameter pada crossbreeding

Jenis perkawinan Ad1 Ad2 Am1 Am2 Dd Dm

Bangsa 1 1 0 1 0 0 0 Bangsa 2 0 1 0 1 0 0 F1 (1x2) 1/2 ½ 0 1 1 0 F1 (2x1) 1/2 ½ 1 0 1 0 Backcross 1x(12) 3/4 ¼ ½ 1/2 ½ 1 Backcross 2x(21) 1/4 ¾ ½ 1/2 1,2 1 Sintetik seimbang (1,2) ½ ½ ½ ½ ½ ½ Sintetik optimum (1,2) 0.63 0.37 0.63 0.37 0.47 0.47 Rotasi (1,2) ½ ½ ½ ½ 0.67 0.67

Ad1: Direct additive effect 1; Ad2: Direct additive effect 2; Am1: Maternal additive effect 1; Am2 : Maternal additive effect 2; Dd: Direct dominance effect ; Dm : Maternal dominance effect

Direct dominance effect (Dd) sama dengan heterosis yakni selisih antara rataan persilangan dengan rataan kelompok murninya atau dengan rumus :

Dd = rataan performa persilangan – rataan performa kelompok murni. Maternal dominance effect (Dm) yakni setengah dari Direct dominance effect (Dd) atau dengan rumus :

Dm = ½ Dd

Direct aditive effect (Ad) sama dengan selisih antara performa bangsa dengan nilai Maternal aditive effect (Am) bangsa tersebut atau dengan rumus :

Ad = performa kelompok murni –Am

Maternal additive effect (Am) sama dengan perbedaan maternal yaitu selisih antara rataan persilangan resiprokolnya atau dengan rumus :

Am = (performa persilangan AC – performa persilangan CA)/2

Rancangan Statistik

Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 6 ulangan. Adapun perlakuannya adalah empat jenis itik yaitu Cihateup x Cihateup (CC), Alabio x Alabio (AA) dan persilangan Cihateup x Alabio (CA), Alabio x Cihateup (AC). Penelitian ini akan menggunakan DOD hasil keturunan pertama (F1), yang merupakan final stock.

Model dari rancangan ini adalah sebagai berikut :

Keterangan :

Yij = nilai pengamatan perlakuan ke-i dan ulangan ke-j µ = rataan umum

αi = pengaruh perlakuan ke- i

εij = pengaruh acak pada perlakuan ke-i ulangan ke-j

Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan menggunakan Analysis of variance (Anova), jika perlakuan berbeda nyata dilanjutkan dengan uji Duncan (Steel dan Torrie 1993).

Peubah

Peubah yang diukur dan diamati dalam penelitian ini sebagai berikut :

a. Bobot hidup awal (BHo) : Penimbangan bobot badan awal DOD dilakukan pada hari ketiga setelah telur menetas.

b. Bobot hidup akhir (BHt) : Penimbangan bobot badan akhir dilakukan pada akhir penelitian yakni pada umur delapan minggu

c. Pertambahan bobot hidup (PBH) : Pertambahan bobot badan dihitung dengan cara mengurangi bobot badan akhir dengan bobot badan awal pengamatan pada periode tertentu.

d. Konsumsi ransum: Konsumsi ransum setiap minggu diperoleh dengan cara menghitung selisih jumlah ransum yang diberikan selama satu hari dengan sisa ransum yang ada dalam tempat makanan pada hari yang sama dan membaginya dengan jumlah itik yang ada, kemudian jumlah ransum harian tersebut dijumlahkan sampai satu minggu. Konsumsi ransum kumulatif (selama penelitian) dihitung dengan cara menjumlahkan rataan konsumsi setiap minggunya.

e. Konversi ransum: Konversi ransum dihitung dengan cara membagi jumlah ransum yang dikonsumsi selama delapan minggu dengan pertambahan bobot badan pada periode tersebut.

f. Bobot potong : Diperoleh dengan menimbang bobot badan itik sesaat sebelum dipotong.

g. Karkas : Diperoleh dengan menimbang bobot itik yang telah dipotong, dan sudah dibersihkan dari bulu, kepala, kaki dan isi jeroan.

h. Potongan komersial karkas : Diperoleh dengan cara menimbang bagian dada, paha, sayap, punggung dan pinggu.

i. Persentase daging dan tulang : Dihitung berdasarkan persentase daging (dada dan paha) terhadap tulang (dada dan paha).

Ukuran-ukuran Tubuh

a. Panjang paruh (cm), jarak antara pangkal maxilla sampai ujung maxilla, diukur dengan jangka sorong.

b. Lebar paruh (cm), diukur dari pinggir paruh bagian luar sebelah kiri dan kanan, dengan menggunakan jangka sorong.

c. Tinggi kepala (cm), diukur pada bagian kepala yang paling tinggi dengan menggunakan jangka sorong.

d. Panjang kepala (cm), diukur dari pangkal paruh hingga kepala bagian belakang, menggunakan jangka sorong.

e. Panjang leher (cm), diukur dari tulang first cervical vetebrae sampai dengan last cervical vetebrae menggunakan pita ukur.

f. Panjang tibia (cm), yaitu dari persendian pangkal tulang atas tulang tibia sampai dengan persendian bawah tulang tibia, diukur dengan menggunakan pita ukur.

g. Panjang femur (cm), diukur dari pangkal tulang femur sampai ujung tulang femur pada persendian tulang lutut (patella) dengan pita ukur.

h. Panjang sternum (cm), diukur sepanjang tulang sternum dengan pita ukur. i. Panjang punggung (cm), diukur dari tulang last cervical vertebra hingga

pangkal tulang ekor (vertebra caudales) menggunakan pita ukur.

j. Panjang sayap (cm), merupakan jarak antara pangkal tulang humerus sampai tulang phalangens, diukur dengan menggunakan pita ukur.

k. Panjang jari ketiga (cm), diukur dari pangkal sampai ujung jari ketiga menggunakan jangka sorong.

Gambar 9 (a) petak kandang pemeliharaan; (b) pembesaran itik ; (c) penimbangan itik umur delapan minggu dan (d) tempat proses pemotongan itik

Gambar 8 (a) penimbangan DOD untuk mengetahui bobot awal dan (b) kandang indukan (brooder) untuk pemeliharaan DOD sampai umur 3 minggu

(a) (b)

(a) (b)

Hasil dan Pembahasan

Penampilan Itik Penelitian

Itik yang digunakan dalam penelitian memiliki penampilan warna berbeda, yang mencirikan ciri khas itik-itik tersebut. Falconer dan Meckay (1996) menyebutkan bahwa ragam genetik dan ragam lingkungan bersama-sama membentuk ragam fenotip yang menyebabkan adanya perbedaan penampilan individu. Penampilan itik umur 1 hari dan umur potong 8 minggu dapat dilihat pada penjelasan dibawah ini.

Gambar Keterangan

A Itik Alabio jantan dan betina umur 1 hari

Ciri-ciri Jantan dan betina memiliki paruh dan kaki berwarna kuning pucat, leher, dada, perut berwarna kuning, bulu sayap dan punggung warna coklat kelam, serat memiliki garis mata seperti alis.

B Itik Alabio jantan umur potong 8 minggu

Ciri-ciri Paruh dan kaki berwarna kuning cerah; memiliki warna bulu abu kehitaman dengan totol coklat dibagian punggung; ujung sayap, ekor, dan kepala sedikit kehitam-hitaman, dan memiliki pola garis mata seperti alis.

Gambar Keterangan

C Itik Cihateup jantan dan betina umur 1 hari

Ciri-ciri Paruh dan kaki berwarna hitam, memiliki warna bulu coklat kelam D Itik Cihateup jantan umur potong 8 minggu

Ciri-ciri Paruh dan kaki berwarna hitam, memiliki warna bulu coklat kehitaman, bahkan bulu disekitar kepala mengarah kehitaman.

b a

Gambar Keterangan

E Itik persilangan AC jantan dan betina umur 1 hari

Ciri-ciri Jantan dan betina memiliki paruh dan kaki berwarna hitam seperti Cihateup tetapi memiliki warna bulu dan garis mata hitam menyerupai alis seperti Alabio.

F Itik persilangan AC jantan umur potong 8 minggu

Ciri-ciri Paruh berwarna hitam keabuan, kaki berwarna kuning kehitaman, memiliki garis mata menyerupai alis mata, dibagian bawah leher berwarna putih. Bulu punggung berwarna coklat kelam dengan totol-totol hitam, bagian ujung ekor hitam, dan ujung sayap hijau kebiruan.

Gambar Keterangan

G Itik persilangan CA jantan dan betina umur 1 hari

Ciri-ciri Paruh dan kaki berwarna hitam kelam seperti Cihateup tetapi memiliki warna bulu dan garis mata hitam menyerupai alis seperti Alabio, jantan bulu lebih hitam, betina agak coklat cerah.

H Itik persilangan CA jantan umur potong 8 minggu

Ciri-ciri Paruh berwarna hitam keabuan, kaki berwarna kuning kehitaman, memiliki garis mata, menyerupai alis mata, dibagian bawah leher berwarna putih. Bulu punggung berwarna coklat kelam dengan totol-totol hitam, bagian ujung ekor hitam, dan ujung sayap hijau kebiruan.

Karakteristik Ukuran Tubuh Itik Penelitian

Penampilan seekor ternak termasuk itik sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan genotip serta interaksi antar keduanya. Selain warna bulu, beberapa ukuran tubuh yang di miliki itik lokal dapat merupakan ciri khas dari itik tersebut, seperti ukuran panjang leher, panjang sayap, panjang badan, panjang dada (sternum), panjang paha (femur), dan panjang betis (tibia). Penampilan

e f

ukuran tubuh sangat menentukan besar kecilnya ternak (Noor 2008; Falconer dan Mackay 1996). Ukuran-ukuran tubuh dapat dijadikan parameter dalam pertumbuhan. Tabel 13 memperlihatkan ukuran tubuh itik Alabio dan itik Cihateup yang digunakan sebagai tetua murni dalam penelitian.

Tabel 13 Rataan ukuran tubuh itik Alabio dan Cihateup umur 12 bulan

Ukuran tubuh Alabio Cihateup Jantan (n:10) Betina (n:40) Jantan (n:10) Betina (n:40) x ± sd x ± sd x ± sd x ± sd ---(cm)--- Panjang paruh 6.59±0.29 6.04±0.25 6.79±0.31 6.45±0.30 Lebar paruh 2.82±0.07 2.69±0.10 3.03±0.12 2.84±0.14 Tinggi kepala 4.27±0.38 4.08±0.23 4.23±0.33 4.05±0.11 Panjang kepala 5.86±0.20 5.43±0.34 6.72±0.19 6.18±0.19 Panjang leher 20.10±0.88 18.75±0.95 24.36±1.33 20.93±0.91 Panjang sayap 27.40±1.17 22.45±1.36 28.87±1.04 26.83±1.30 Panjang punggung 24.65±1.29 21.23±1.17 24.09±0.46 23.65±1.37 Panjang sternum 12.90±0.70 11.28±0.63 12.32±1.47 11.15±0.39 Panjang femur 6.90±0.32 6.25±0.57 7.26±0.50 6.45±0.53 Panjang tibia 10.50±0.47 9.93±0.68 12.32±0.38 11.14±0.51 Panjang tarsometatarsus 5.95±0.37 5.76±0.45 5.97±0.39 5.81±0.41 Panjang jari ketiga 6.03±0.23 5.80±0.37 6.83±0.35 6.52±0.42

Berdasarkan Tabel 13 di atas secara deskriptif, dapat dijelaskan bahwa Ukuran tubuh yang membedakan itik Cihateup dengan itik Alabio antara lain adalah panjang leher, panjang sayap, panjang femur dan panjang tibia. Ukuran ini pada itik Cihateup jantan dan betina lebih panjang dari itik Alabio jantan dan betina. Sementara ukuran panjang punggung pada itik Cihateup betina lebih panjang dari itik Alabio betina. Perbedaan ukuran tubuh tersebut membuat penampilan itik Cihateup lebih panjang dari itik Alabio. Selanjutnya yang membedakan itik Alabio dengan itik Cihateup adalah ukuran panjang sternum. Panjang tulang sternum itik Alabio lebih panjang dari itik Cihateup. Sementara ukuran punggung itik Alabio jantan lebih panjang dibandingkan itik Cihateup jantan.

Bagian-bagian ukuran tubuh yang membedakan kedua itik tersebut, dapat dipastikan karena pengaruh lingkungan dimana itik-itik ini hidup. Ukuran panjang paha, sayap dan leher yang menjadi khas itik Cihateup karena itik ini dikenal sebagai itik gunung. Itik Alabio memiliki ukuran tulang sternum yang lebih

panjang, hal ini karena kebiasaan hidup itik ini lebih banyak pada daerah perairan, dan suka berenang.

Pertumbuhan

Performa pertumbuhan dari keempat janis itik AA, CC, AC dan itik CA disajikan pada Tabel 14 dimulai dari periode awal pemeliharaan dengan mengetahui bobot hidup awal (BHo), bobot hidup akhir (BHt) dan pertambahan bobot hidup kumulatif (PBH).

Tabel 14 Rataan bobot hidup awal (BHo), bobot hidup akhir (BHt) dan pertambahan bobot hidup (PBH) itik AA, CC, AC dan itik CA umur 8 minggu Peubah1 Jenis Itik2 AA (n:30) CC (n:30) AC (n:30) CA (n:30) x ± sd3 x ± sd x ± sd x ± sd BHo (g/e) 50.30a ± 2.94 41.10c ± 2.81 50.23a ± 3.01 45.63b± 1.08 BHt (g/e) 1340.37b ± 20.92 1343.13b±44.33 1350.33b± 38.28 1436.43a± 47.43 PBH (g/e) 1290.07b± 21.47 1302.03b± 42.89 1300.10b± 41.03 1390.97a± 47.03

1 BHo : bobot hidup awal, BHt : Bobot hidup akhir, PBH : Pertambahan bobot hidup

2

Jenis itik AA [Alabio ♂ x Alabio ♀]; CC [Cihateup ♂ x Cihateup ♀]; dan persilangan CA [Cihateup ♂ x Alabio ♀]; AC [Alabio ♂ x Cihateup ♀].

a-c

Superskrip huruf yang berbeda dalam baris yang sama menyatakan perbedaan yang nyata (P<0.05)

3

sd : Standar deviasi

Tabel 14 menunjukkan bahwa rataan bobot hidup awal (BHo) itik AA dan AC tidak berbeda, dibandingkan itik CC dan itik CA. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa bobot hidup awal itik AA dan itik AC lebih besar (P<0.05) dari jenis itik CA dan CC sementara itik CA lebih besar (P<0.05) dari jenis itik CC. Perbedaan bobot awal (BHo) dalam penelitian ini disebabkan oleh bobot telur tetas diantara keempat jenis itik ini, dimana bobot telur tetas itik AA adalah 63.22g, itik CC adalah 59.76g, itik persilangan AC adalah 63.28g dan itik CA adalah 63.06g.

Bobot hidup akhir (BHt) yang dicapai oleh itik CA (1436.43g) lebih besar (P<0.05) dibandingkan dengan jenis itik AC (1350.33g), itik CC (1343.13 g) dan itik AA (1340.37g). Pada penelitian ini dapat dilihat bahwa bobot hidup awal tidak berpengaruh terhadap bobot hidup akhir pada itik CA yang memiliki bobot hidup

akhir lebih tinggi. Itik AA dan AC yang memiliki bobot hidup awal tinggi. tetapi bobot hidup akhirnya rendah. Hal ini sesuai dengan pendapat Muliana et al. (2001) menjelaskan bahwa bobot tetas/bobot hidup awal ternyata tidak berpengaruh terhadap bobot potong/ bobot hidup akhir pada umur 6, 8, 10 dan 12 minggu. Hal ini disebabkan karena bobot tetas sangat dipengaruhi oleh besar telur dan perkembangan embrio, sedangkan kemampuan pertumbuhan ditentukan oleh gen-gen penentu bobot badan, jenis kelamin dan umur.

Grafik bobot hidup (BH) keempat jenis itik selama delapan minggu disajikan pada Gambar 10.

Gambar 10 Grafik bobot hidup (BH) itik AA, CC, CA dan itik AC

Pada Tabel 14 di atas memperlihatkan pula pertambahan bobot hidup (PBH) yang diperoleh itik CA (1390.97g) lebih tinggi (P<0.05) dibandingkan dengan tiga jenis itik lainya yakni AA (1290.07g), CC (1302.03g) dan itik AC (1300.10g). Hal ini menunjukkan bahwa persilangan jenis itik CA lebih memperlihatkan efek heterosis yang cukup tinggi pada performa pertumbuhan dengan betina Alabio (maternal) yang lebih kuat, dibandingkan dengan AC yang betinaanya Cihateup.

Gambar 11 memperlihatkan grafik pertambahan bobot hidup (PBH) maksimum keempat jenis itik yang merupakan titik infleksi atau puncak tertinggi. Titik infleksi secara berturut-turut pada jenis itik AA, CC dan itik CA dicapai pada minggu ketiga, sedangkan pada itik AC titik infleksi terjadi minggu keempat. Dapat dijelaskan bahwa jenis itik AA, CC dan itik CA antara umur

0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600 1 2 3 4 5 6 7 8 Bo b o t h id u p (g ) Umur minggu ke CC AC AA CA

(1 hari – 3 minggu) dan itik AC (1 hari – 4 minggu) terjadi laju pertumbuhan akselerasi atau peningkatan kecepatan pertumbuhan, setelah itu sampai dengan umur 8 minggu mengalami pertumbuhan deselerasi atau penurunan kecepatan pertumbuhan. Titik infleksi dari masing-masing jenis itik berfungsi untuk mengetahui puncak pertumbuhan tertinggi dan diharapkan nantinya dalam pemberian ransum dapat diberikan sebelum tercapainya titik infleksi, sehingga itik benar-banar dapat memanfaatkan gizi yang ada untuk pertumbuhan yang optimal.

Gambar 11 Grafik pertambahan bobot hidup (PBH) itik AA, CC, AC dan itik CA

Konsumsi dan Konversi Ransum

Konsumsi ransum kumulatif merupakan banyaknya ransum yang dikonsumsi tiap ekor itik selama pemeliharaan. Rataan konsumsi ransum kumulatif dan konversi ransum dari keempat jenis itik AA, CC, AC dan itik CA di sajikan pada Tabel 15.

Tabel 15 Rataan konsumsi ransum kumulatif dan konversi ransum itik AA, CC, AC dan itik CA umur 8 minggu

Peubah Jenis Itik1 AA (n:30) CC (n:30) AC (n:30) CA (n:30) x ± sd2 x ± sd x ± sd x ± sd Konsumsi Ransum Kumulatif (g/e) 3597.57 ab ± 88.81 3677.14a ±58.45 3446.67c ±102.33 3523.93bc ±83.08 Konversi Ransum 2.79ab 2.83a 2.66cb 2.54c 1

Jenis itik AA [Alabio ♂ x Alabio ♀]; CC [Cihateup ♂ x Cihateup ♀]; dan persilangan CA [Cihateup ♂ x Alabio ♀]; AC [Alabio ♂ x Cihateup ♀].

a-c

Superskrip huruf dalam satu baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada (P<0.05)

2 sd : Standar deviasi 0 50 100 150 200 250 300 1 2 3 4 5 6 7 8 P ertam b ah an b o b o t h id u p (g ) Umur minggu ke AC CC AA CA

Berdasarkan Tabel 15 dapat dijelaskan bahwa konsumsi ransum kumulatif tertinggi pada itik CC (3677.14g) dan terendah pada itik AC (3446.67g). Secara statistik menunjukkan bahwa konsumsi ransum itik CC (3677.14 g) tidak berbeda dengan itik AA, tetapi lebih tinggi (P<0.05) dari itik CA dan itik AC. Namun konsumsi itik AA sendiri, tidak berbeda dengan itik CA, tetapi berbeda nyata (P<0.05) dengan itik AC, sementara konsumsi ransum itik CA dan itik AC tidak berbeda (P>0.05). Jika diperhatikan dengan cermat konsumsi ransum kumulatif itik persilangan AC dan itik CA lebih sedikit (3446.57g/ekor dan 3523.93g/ekor), namun memberi pengaruh yang nyata terhadap bobot hidup akhir yang lebih tinggi (1350.33g/ekor dan 1436.43g/ekor) jika dibandingkan dengan tetua murni itik AA dan itik CC. Dapat dikemukakan bahwa itik AC dan itik CA lebih efisien dalam mengubah ransum menjadi daging. Hal ini sejalan dengan pendapat Prasetyo et al. (2005) bahwa dengan adanya perbaikan manajemen pemeliharaan, misalnya saja penetapan kebutuhan gizi itik pejantan, bentuk ransum, dan manajeman frekuensi pemberian ransum dan bentuk tempat pakan, dapat meningkatkan bobot badan itik yang dicapai lebih tinggi.

Konversi ransum merupakan perbandingan antara jumlah ransum yang dikonsumsi dengan pertambahan bobot hidup akhir. Pada Tabel 15 memperlihatkan bahwa konversi ransum keempat jenis itik AA, CC, AC dan itik CA dengan konversi ransum terendah dimiliki pada itik CA (2.54) diikuti itik AC

Dokumen terkait