• Tidak ada hasil yang ditemukan

Transformasi di Bali

Bali merupakan pulau kecil dengan luas wilayah 5.632,86 km2, terbagi atas delapan kabupaten dan satu kota1. Kondisi geografisnya sangat mendukung berkembangnya kegiatan pertanian, sektor yang menjadi basis awal pengembangan ekonomi sekaligus menjadi inti budaya kehidupan masyarakat Bali. Produksi dan reproduksi kultural serta religius terbangun dalam sistem sosial, terlekat erat dalam makna dan simbol-simbol pertanian.

Menurut sejarah, Bali mendapat pengaruh besar dari kerajaan Majapahit yang sempat mengembangkan wilayah kekuasaannya selama satu kurun waktu di era raja-raja. Masuknya pengaruh kerajaan-kerajaan Islam kemudian hariberhasil meruntuhkan kerajaan Majapahit dan mengambil alih kekuasaan hampir di semua bidang. Meski demikian regim kekuasaan ini tidak memberi perubahan berarti pada kehidupan sosial budaya masyarakat. Pada tahun 1597, Cornelis de Houtman, orang Eropah pertama yang menemukan Pulau Bali sekaligus menjadi sumber informasi utama tentang keberadaan pulau ini bagi pemerintahan Belanda. Pendudukan Belanda kemudian dilakukan lewat organisasi perdagangan VOC dengan ekspansi jajahan yang berusaha menguasai Bali. Upaya penguasaan Belanda mendapat perlawanan sengit dari masyarakat Bali yang memiliki ikatan lokal-etnis kuat dengan “harga diri” yang tinggi. Sikap ini terakumulasi menjadi kekuatan pertahanan kolektif yang dikenal dengan istilah “perang sampai mati” atau “perang puputan”2. Keperkasaan dan tekad pantang menyerah menyebabkan pengaruh para penjajah tidak memberi perubahan berarti pada sendi-sendi kehidupan sosial budaya masyarakat Bali. Hal ini bisa dilihat dari kebudayaan dan agama yang dianut sampai hari ini sangat didominasi pengaruh Hindu.

Budaya masyarakat Bali masa raja-raja mengalami perubahan sangat lambat dalam pengaruh perkembangan masa-masa setelahnya, sehingga sampai masa kini masih banyak ditemukan puri-puri yang dihuni oleh keluarga keturunan raja pada masing-masing wilayah. Sekalipun secara evolutif mengalami pemudaran, kerajaan Tabanan, kerajaan Kerambitan dan raja-raja pada wilayah-wilayah yang menjadi kekuatan pemerintahan pada masanya, hingga saat ini tetap memiliki pengaruh di masyarakat. Sampai era pemerintahan Orde Baru, pusat-pusat kekuasaan masa lalu dibiarkan hidup, dengan peran dan pengaruh yang cenderung melemah. Fungsi keberadaannya diarahkan pada aspek sosial budaya dan “alat” pemersatu publik ditingkatan wilayah yang terbatas. Pemerintah Tabanan melakukan sinergi pada bekas-bekas pusat kekuasaan masa lalu ini dengan mengatur pertemuan-pertemuan penting berdialog dengan masyarakat di puri, tempat yang dinilai mempunyai kekuatan pemersatu dan ruang keleluasaan menyampaikan pendapat untuk memperoleh hasil musyawarah yang adil.

      

1

Delapan kabupaten meliputi Buleleng, Jembrana, Tabanan, Badung, Gianyar, Bangli, Klungkung, dan Karangasem dan satu kota yaitu Denpasar. Seluruhnya memiliki wilayah yang dikembangkan sebagai tujuan wisata.

2

Perang puputan terjadi dua kali yaitu saat perlawanan terhadap politik adu domba Belanda tahun 1840-an dan pengusiran Belanda tahun 1940-an yang dikenal dengan Perang Puputan Margarana pimpinan I Gusti Ngurah Rai. Perang puputan adalah perang sampai mati untuk mempertahankan prinsip, daerah, identitas dan kehidupan orang Bali.

Keluarga kerajaan berperan sebagai mediator penting yang secara informal masih diakui sebagai penguasa lama setempat. Legitimasi masyarakat terlihat dengan masih adanya petani yang mengantar upeti atau saren taun pada saat panen, suatu kewajiban atau pajak yang diwajibkan raja dimasa pemerintahannya.

Pada masa raja-raja, sumberdaya lahan, dan air adalah milik raja dan petani diberi hak untuk mengelolanya dengan kewajiban-kewajiban tertentu yang jelas. Petani hanyalah penggarap atau penyewa. Bahkan pada kerajaan-kerajaan tertentu, petani adalah pekerja wajib bagi rajanya. Hingga saat ini beberapa puri masih dihuni oleh keluarga keturunan raja yang mendapat gabah “saren taun” dari petani sekitar atau memiliki hubungan yang masih dekat dengan keluarga raja. Puri-puri ini banyak dibuka untuk menyambut tamu wisata domestik maupun mancanegara, sekaligus memperkenalkan kehidupan dan perkembangan raja-raja yang dahulu diakui, dihormati dan berkuasa di wilayah Bali. Kehidupan puri menyimpan banyak penjelas tentang kehidupan sosial, budaya, ekonomi, hingga kekastaan yang berlaku pada masyarakat Bali. Simbol-simbol kekuasaan, kejayaan, interaksi, kelompok-kelompok sosial atau lapisan sosial, serta hubungan-hubungan yang terjalin dalam memperkuat sistem nilai yang berlaku menjadi penciri etnis Bali serta posisinya dalam aspek-aspek penting hingga masa kini.

Pasca kemerdekaan, perkembangan sosial-ekonomi- budaya masyarakat Bali relatif stabil. Sumber pendapatan sebagian besar bersumber dari sektor pertanian, baik tanaman pangan, perkebunan, maupun peternakan. Kabupaten Tabanan dengan persawahan yang luas sejak masa raja-raja menjadi andalan sektor pangan karena mampu mencukupi kebutuhan sendiri, dan rata-rata memiliki simpanan padi sebagai penjamin keamanan pangan keluarga. Sampai awal era orde baru, Bali bahkan menjadi salah satu daerah andalan untuk pangan beras dan peternakan sapi. Kelembagaan tradisional petani bersinergi dengan rekayasa pembangunan yang diimplementasikan pemerintah berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi Bali.

Awal dekade 90-an terjadi perubahan yang sangat signifikan dalam sumber pencaharian utama masyarakat Bali, dari 70 persen penduduk yang hidup dari sektor pertanian pada tahun 1989 menjadi tinggal 41,5 persen pada tahun 1995 (Wiguna dan Surata, 2008). Komoditas utama yang dihasilkan adalah tanaman pangan, perkebunan, hortikultura, hingga peternakan. Perubahan cepat dalam kurun waktu enam tahun terjadi karena adanya perubahan arah kebijakan pembangunan setempat yang berkomitmen membangun sektor pariwisata sebagai sektor andalan pertumbuhan ekonomi Bali. Sektor ini secara cepat membuka kesempatan dan lapangan kerja baru, peluang berusaha baru yang menjadi faktor penarik kuat bagi penduduk untuk melakukan transformasi pekerjaan dan usaha.

Pertumbuhan ekonomi dengan leading sektor pertanian dinilai relatif lambat, sehingga terjadi perubahan struktur pendapatan yang mendasar dari sektor primer pertanian kearah sektor jasa. Perubahan ini berpengaruh besar pada posisi dan peran serta Bali dalam perkembangan global. Perkembangan pedesaan mengalami lompatan-lompatan yang tidak hanya memberi efek resonansi pada bidang perekonomian, melainkan menukik tajam pada adopsi teknologi, sistem komunikasi, hingga menyentuh ruang sosial budaya dan keagamaan. Orientasi usahatani dan usaha-usaha sektor lain bergerak dari subsistensi menjadi lebih komersial mengikuti perkembangan pasar. Penyamaran batas-batas desa-kota

mengembangbiakkan monetisasi masyarakat pedesaan, melunturkan sistem pertukaran dan hubungan-hubungan sosial tradisional yang ketat menjadi lebih longgar dan kontraktual. Kontribusi lapangan usaha dalam PDRB periode 2005-2009 mengalami perubahan signifikan, misalnya untuk tanamam bahan makanan turun dari 22.33 menjadi 18.80, sementara untuk perdagangan, hotel dan restoran meningkat dari 22.56 menjadi 23.07.

Berdasarkan potensi alam, budaya, dan sumberdaya manusia Bali, pemerintah pusat dan daerah mencapai kesepakatan untuk menjadikan Bali sebagai salah satu tujuan wisata dunia dan terbesar di Asia. Sekalipun pengembangan wisata sudah dimulai sejak masa kolonial, era Orde Baru merupakan tonggak penting lahirnya komitmen pemerintah pusat maupun daerah yang direalisasikan dengan membangun sektor pariwisata secara massal, dimana semua program dan kegiatan diarahkan untuk mendukung dan memudahkan pengembangan pariwisata, termasuk regulasi maupun perizinan. Pemerintah pusat dengan pemerintahan yang sentralistik memberikan dukungan kebijakan, anggaran, maupun penciptaan iklim investasi yang kondusif yang sifatnya mempercepat perkembangan sektor pariwisata. Melajunya sektor pariwisata membawa dampak yang meluas baik dari sisi pembangunan fisik bangunan, transportasi, perekonomian, alih fungsi lahan, ketenagakerjaan, hingga pemanfaatan sumberdaya alam. Transformasi tenaga kerja dengan laju urbanisasi yang tinggi merupakan salah satu dampak berkembangnya pariwisata yang berkaitan langsung dengan sektor pertanian. Tenaga kerja muda merespon peluang kerja yang terbuka dikawasan pengembangan pariwisata dan meninggalkan sektor pertanian yang dinilai lambat dan kurang menjanjikan pendapatan yang tinggi.

Komitmen pemerintah setempat dilaksanakan secara konsisten dengan membangun ekonomi Bali melalui Tiga Pilar yang meliputi pariwisata sebagai pilar pertama, pertanian dalam arti luas sebagai pilar kedua dan investasi UMKM sebagai pilar ketiga. Pilar kedua dan ketiga ditujukan sepenuhnya untuk mendukung pilar pertama. Hal ini memuat pengertian bahwa sektor pariwisata merupakan sektor utama yang diharapkan memberi kontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi setempat dan sektor pertanian yang menjadi tumpuan sebagian besar masyarakat pedesaan Bali bukan merupakan program prioritas dalam pemerintahan daerah.

Pembangunan sarana dan prasarana pendukung pariwisata merupakan konsekuensi pilihan yang membutuhkan prioritas dalam pembangunan fisik pelabuhan, bandar udara, jalan, hotel, restoran, arena permainan, pentas dan pasar seni. Sarana pendukung ini membutuhkan sumberdaya hutan, tambang, lahan, maupun air yang sangat besar. Pariwisata dinilai sektor yang sesuai dengan potensi alam, budaya, dan karakter masyarakat Bali yang ramah dan santun. Secara ekonomi, sektor ini memberikan pertumbuhan yang lebih besar dibanding sektor lainnya termasuk sektor pertanian. Laju pembangunan pariwisata berdampak pada harga lahan, namun berbanding terbalik dengan land rent pertanian. Realitas nilai sumberdaya ini merupakan sebab akibat yang memposisikan daya tarik sektor pertanian menjadi berkurang.

Ketidaktertarikan pemerintah terhadap sektor pertanian diindikasikan oleh berbagai realita pemerintah dalam merencanakan dan menyusun anggaran pembangunan. Porsi pendanaan untuk pembangunan pertanian semakin kecil,

banyak prasaranapertanian seperti jaringan irigasi yang rusak dan tidak terperbaiki.Minat generasi muda terhadap pertanian makin berkurang bahkan hilang karena pertanian dianggap pekerjaan kasar, kotor, tidak menjanjikan, bahkan menghasilkan pendapatan yang lebih rendah dibanding bekerja di sektor lain.

Pertanian sebagai basis kebudayaan mengalami pelunturan dan tidak berhasil diwariskan antar generasi. Daya tarik sektor ini sebagai pekerjaan maupun usaha dipandang kurang prospektif. Angkatan kerja usia muda sektor pertanian terus menurun tajam, fenomena aging yang kuat, bahkan menularkan virus hingga ke dunia akademik. Dekade terakhir terjadi penurunan tajam jumlah mahasiswa di Fakultas Pertanian Universitas Udayana yang sempat terancam tutup. Persoalan serius dampak kebijakan ini memunculkan aksi para akademisi bekerjasama dengan pemerintah setempat berupa pemberian rangsangan beasiswa penuh kepada setiap lulusan sekolah lanjutanatas yang masuk kuliah di Fakultas Pertanian dan bersedia kembali ke desanya untuk membangun pertanian.

Tabanan: Basis Pertanian Pangan Bali

Secara geografis Tabanan terletak diantara 080-14’ 30” – 080 30’ 07” LS dan 1140 54’52” – 1150 12’57” BT. Luas wilayah 83.933 hektar atau sekitar 14,89 persen dari luas daratan seluruh provinsi Bali. Batas-batas wilayah administratifnya meliputi : di sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Jembrana, sebelah Barat Laut ke Utara berbatasan dengan Kabupaten Buleleng, sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Badung serta sebelah Selatan langsung menghadap ke Samudera Hindia.

Secara administratif Tabanan terbagi menjadi 10 (sepuluh) kecamatan dengan 132 desa dinas, 344 desa Pakraman dan 794 banjar (Tabel 2). Di daerah pedesaan, hampir seluruh penduduknya adalah etnis asli Bali, sedang di perkotaan penduduknya lebih heterogen dengan kehadiran berbagai etnis lain seperti Jawa, Madura, Sunda, Batak, Palembang, dan Padang. Sekitar 90-an persen penduduk Tabanan beragama Hindu-Bali, sisanya menganut agama lain seperti Islam, Kristen, dan Budha.

Homogenitas penduduk pedesaan yang memiliki mata pencaharian dominan bertani memberi warna tersendiri dalam sistem komunikasi, interaksi sosial, hubungan atau relasi sosial, maupun struktur sosial yang terbangun. Dalam masyarakat Bali terdapat sistem pengkastaan yang konon lahir dari pengelompokan profesi yang disederhanakan. Kelompok profesi kaum cendikiawan dan kaum teologis, pemuka agama, dikelompokkan sebagai kasta brahmana. Kelompok profesi hulubalang, militer, atau kelompok andalan pada sektor pertahanan disebut sebagai kelompok kasta ksatria. Kelompok profesi pedagang dan pengusaha disebut sebagai kasta siwa. Terakhir kelompok profesi pertanian dan sejenisnya yang dimasukkan dalam kasta sudra. Pengkastaan dapat dipandang sebagai bentuk struktur sosial yang berlaku dan mewarnai dalam interaksi dan hubungan sosial kemasyarakatan. Kasta seseorang menunjukkan stratanya dalam sistem sosial yang membentuk pola sikap dan prilakunya terhadap kelompok kasta lain. Simbol kasta lekat juga pada pemberian nama seorang anak etnis Bali, yang berarti memberi tanda terbuka atas asal-usul kekastaannya dan mengatur sikap dan tindakannya dalam menghadapi orang lain.

Pemberlakuan kasta yang bersifat turun temurun menyebabkan perubahan profesi selanjutnya tidak mampu merubah kasta seseorang. Satu-satunya yang berpeluang menjadikan seseorang berubah kelompok atau kasta adalah perkawinan. Sistem paternalistik yang kuat menetapkan seorang isteri bisa mengalami perubahan kasta mengikuti kasta suaminya. Perkembangan pendidikan dan latihan, teknologi dan sistem informasi, terbukanya berbagai peluang dan kesempatan bagi mereka yang berfikir dan bersikap maju, memunculkan diversifikasi jabatan dan pekerjaan yang bisa diisi oleh setiap orang yang kompeten. Lintas profesi dalam lintas kasta menembus batas-batas definisi sejarah pengkastaan. Transisi ini menggelisahkan sebagian masyarakat yang terlahir dari kasta yang dipandang komunitasnya “lebih rendah” namun duduk dalam posisi atau pekerjaan yang stratanya lebih tinggi dari bawahannya yang berasal dari kelompok kasta yang dianggap “lebih tinggi”. Kegelisahan yang sama terjadi jika seorang yang berasal dari kasta yang dianggap “lebih tinggi” tetapi menduduki jabatan atau profesi tang lebih rendah dari seseorang yang berasal dari kasta yang dianggap “lebih rendah. Realitanya, banyak anggota masyarakat yang berasal dari kasta sudra menduduki jabatan penting dan memiliki bawahan atau staf pendukung dari kelompok kasta lainnya.

Mentaati realitas sejarah menempatkan profesi petani masuk dalam kelompok kasta Sudra. Operasionalisasi praktek kehidupan dalam komunitasnya, petani atau masyarakat pedesaan didukung oleh piranti dasar yang membentuk kelompoknya menduduki status dan peran tertentu yang dibutuhkan dalam masyarakat. Homogenitas kasta masyarakat tani, dimana anggota masyarakatnya kemudian berkembang dan mampu melaksanakan tugas-tugas yang dipatrikan sebagai tugas dari kasta lain, akhirnya mencairkan kebekuan dan kestatisan sistem kasta. Salah satu bentuk nyata yang menguatkan “kekacauan” sistem pengkastaan adalah kehadiran pandita atau tokoh adat dan agama yang mengkhususkan diri melayani kelompok petani. Seremonial keagamaan, pastoral konseling, penjiwaan sumber-sumber agraria air seperti “pentirtaan” sehingga air berfungsi menjiwai dan menjadi sumber kehidupan bagi semua penggunaannya, baik untuk diminum, pertumbuhan tanaman, atau sebagai obat, dilakukan oleh pendeta yang berasal dari kasta sudra3. Kedudukan dan statusnya sebagai pendeta dengan gelar khusus yang berbeda dengan pendeta kasta lain. Khusus untuk pendeta kaum sudra disebut sebagai Mpu.

Tata pemukiman masyarakat Bali sangat khas dengan adanya bangunan pura, balai bengong, balai dukacita, dan balai sukacita yang berada di kawasan pemukiman keluarga. Pemukiman yang paling umum berbentuk koloni, dimana satu keluarga besar tinggal dalam satu kompleks dengan bangunan pura dan balai tersebut di atas merupakan milk bersama. Pura juga terdapat pada setiap banjar, pada setiap subak, hingga pada setiap desa adat. Salah satu syarat mutlak desa adat pakraman memiliki pura yang di kenal dengan penciri pura Tri Khayangan meliputi (1) Pura Desa, manifestasi dari pemeliharaan, berlambang api (Brahma); (2) Pura Pusa, manifestasi kesejahteraan, berlambang air (Wisnu); dan (3) Pura

      

3

Berdasarkan wawancara, pendeta yang bergelar Mpu Darma Tanaya berasal dari seorang petani transmigran dengan pendidikan dasar, namun “terpanggil” dan mendapat “pengwahyuan” agar melayani sebagai pendeta bagi kaum petani di Bali. Perannya dalam dunia pertanian diantaranya pengupacaraan air menjadi tirta amerta yang akan dibawa oleh masyarakat sebagai sumber memulai kegiatan yang menggunakan tirta sebagai pusat kegiatan usaha. Air sebagai tirta amerta berfungsi menghilangkan penyakit, pembersih hama tanaman, zat tumbuh dan penyubur tumbuhan.

Dalem (merajapati), manifestasi peleburan (Siwa). Masing-masing pura memiliki mangku sendiri-sendiri sebagai pelaksana/petugas dalam upacara. Tiap pura menjadi tempat pelaksanaan upacara yang berbeda pula. Masing-masing pura mengadakan upacara besar minimal dua kali setahun dengan perayaan berupa odalan/pesta bersama. Kepatuhan masyarakat melaksanakan upacara dan ketakutan melakukan pelanggaran merupakan manifestasi dari hukum karmapala yang diyakini berlaku pasti dalam masyarakat Hindu.

Wilayah Tabanan membentang disebelah Utara hingga ke Barat Laut kota Denpasar. Topografi membujur dari Utara berupa dataran tinggi pegunungan Batukaru dengan ketinggian puncak mencapai 2.276 meter hingga ke Selatan berupa pantai yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia.

Bentangan ini menggambarkan aliran air yang terkait erat dengan lahir dan berkembangnya sistem pengairan subak sebagai organisasi petani yang menjadi penggerak utama pertanian. Sebagai human pool resources, air yang bersumber dari bagian Utara memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan perkembangan pertanian di wilayah Selatan.

Hidrologi yang sangat beragam, memiliki sumberdaya air yang kaya dibanding wilayah kabupaten lainnya. Sebaran sungai membentuk suatu daerah aliran sungai meliputi DAS Tukad Yeh Empas, DAS Tukad Yeh Ho, DAS Yeh Matan, DAS Yeh Otan, dan DAS Tukad Balian (lihat gambar 5), serta sungai besar lainnya yang bersumber dari Kabupaten Tabanan, mengairi sebagian besar wilayah kabupaten lain, seperti Tukad Yeh Sungi dan Tukad Yeh Abe yang banyak mengairi petanian di Kabupaten Badung. Sebagian persawahan Tabanan mendapat suplai air dari Danau Tamblingan dan Buyan yang berada di Kabupaten Buleleng.

Tabanan, salah satu kabupaten dengan ekonomi berbasis pertanian. Luas wilayah petanian sawah mencapai 22.435 ha (BPS, 2011) atau 27,44 persen dari luas total sawah di provinsi Bali. Tabanan merupakan kabupaten yang memiliki lahan sawah terluas. Sumber air irigasi sebagian besar berasal dari air sungai, namun di beberapa tempat terdapat sumber air dari mata air. Pada era Orde Baru, di aliran sungai Yeh Ho turut dilaksanakan pembangunan irigasi besar-besaran oleh pemerintah. Tujuan utamanya untuk mendukung usaha peningkatan produksi beras nasional. Namun demikian sebagian besar irigasi yang ada merupakan bangunan masyarakat yang dipermanenkan oleh pemerintah. Artinya, pencarian sumber air, pengaliran air, dan pengaturan saluran sudah diinisiasi oleh masyarakat dan diteruskan oleh pemerintah. Pembangunan irigasi oleh pemerintah sifatnya meneruskan atau meningkatkan kekuatan irigasi yang sudah ada.

Dana selan saat diant kepe peter sema berki musi bulan 27,44 sebag menc usaha kelem yang jangk menu leadi Sumber ai au Beratan njutnya ban ini, di Tab taranya te ntingan, ba rnakan, atau akin menur isar antara im hujan ter n April sam Dari sek 4 persen di gai sentra p cukupi, sta atani untuk mbagaan tra g adaptif da ka panjang unjukkan k ing sektor p Gambar S ir penting y n. Beratan yak dimanf banan suda elah diday aik untuk ke u industri pa run (Bappe 2.155-3.29 rjadi pada b mpai Oktobe kitar 14,53 iantaranya t pangan bera atus sebaga k menghas adisional pe alam meno daerah Tab komitmen p pembanguna 4. Peta Wil Sumber: Bapped yang posisin n menjadi faatkan seba ah ditemuka yagunakan eperluan air ariwisata ya da Tabanan 92 mm den bulan Novem r. persen lah terdapat di as provinsi B i sentra pan ilkan produ engairan sub opang pemb banan adal pemerintah an ekonomi layah Kabu da Kabupaten T nya di wilay sumber ai agai sumbe an sejumlah dengan baku, air m ang telah m an, 2012). ngan iklim mber sampa han di Bali Tabanan. P Bali. Selain ngan ditent uksi panga bak terbukti bangunan p lah Tabana daerah me masyaraka upaten Taba Tabanan, 2012 yah adminis ir beberapa er pengairan h 118 mat pemanfaata minum dala menyebabkan Curah huj hujan trop ai Mei dan i yang mer Posisi ini m n ketersedia tukan oleh p an. Etos ke i merupakan pertanian. an Sejahtera engedepank at. nan stratif Taban a sungai k n oleh subak a air tanah an untuk m kemasan n jumlah ca jan tahunan pis bermusi musim kem rupakan lah menempatka aan lahan da petani seba erja petani n sel inti m Misi pem a Berbasis kan pertania anan adalah kecil yang k. Hingga h, yang 82 berbagai n (AMDK), adangan air n rata-rata im dimana marau pada han sawah, an Tabanan an air yang agai pelaku i Bali dan modal sosial mbangunan Pertanian an sebagai

Tabel 1. Keragaan Wilayah Kabupaten Tabanan

No Kecamatan Desa

Dinas

Desa Pakraman

Banjar Luas Wilayah (Ha) 1. Selemadeg 10 36 57 5.205 2. Kerambitan 15 28 90 4.239 3. Tabanan 12 12 82 5.140 4. Kediri 15 22 98 5.360 5. Marga 15 28 69 4.479 6. Baturiti 12 53 64 9.917 7. Penebel 18 72 129 14.198 8. Pupuan 14 24 63 17.902 9. Selemadeg Barat 11 37 71 12.015 10 Selemadeg Timur 10 32 71 5.478 Jumlah 132 344 794 83.933

Sumber : Bappeda Kabupaten Tabanan, 2012

Selain sawah terdapat lahan perkebunan yang luasnya mencapai 22,597 ha dengan komoditas utama kelapa dan kopi. Pemerintah daerah Tabanan pernah berusaha mengembangkan kopi sebagai komoditas unggulan daerah dan membangun satu perusahaan perkebunan kopi milik daerah. Melalui kebijakan Peraturan Bupati Tabanan Nomor 30 tahun 2008 tentang Pembentukan Badan Pengelola Teknis Operasional Kebun Kopi Pemerintah Kabupaten Tabanan di Kecamatan Pupuan, lahan milik pemerintah diijinkan untuk digarap masyarakat dengan sistem nandu , suatu sistem bagi hasil 1: 1 antara petani penggarap dan badan pengelola dalam jangka waktu penggarapan yang ditentukan waktunya. Setengah dari bagian pengelola menjadi pemasukan ke kas daerah (PAD). Pembagian keuntungan juga dibagikan kepada desa adat yang mewilayahi lahan. Perusahaan daerah ini akhirnya bubar karena merugi dan pengelola tidak mampu meneruskan kegiatan.

PAD Tabanan sebagian besar disumbang oleh sektor pertanian. Meski demikian, prioritas pemerintah Tabanan menjadikan sektor pertanian menjadi sektor andalan perlu dikaji ulang. Orientasi pembangunan, skala prioritas pembangunan jangka menengah maupun jangka pendek, pengalokasian biaya pembangunan, tidak menunjukkan kemauan yang mendudukkan sektor ini sebagai sektor andalan. Dukungan sumberdaya alam dan manusia tidak diikuti kemauan yang kuat dari pemerintah. Sebagian besar dana pembangunan pertanian masih

Dokumen terkait