BAB IV ANALISIS TERHADAP PUTUSAN NOMOR
B. Izin Poligami Atas Dorongan Istri Ditinjau Dalam Perspekif Maslahâh
Pengadilan memberikan ketentuan yang sangat ketat untuk suami yang ingin beristri lebih dari seorang, pertimbangan pengadilanpun tidak hanya masalah materi yang dinilai cukup untuk beristri lebih dari seorang melainkan menerapkan kebijakan untuk menjaga hak dan kewajiban suami dan istri, lebih khusus lagi menjaga perasaan istri yang kebanyakan serba pasrah dari apa yang sedang dihadapi.12 Menurut Sri W. Rahmawati dalam jurnalnya mengatakan pengambilan keputusan seorang istri dalam hal dipoligami sering kali tidak berdasarkan hati nuraninya, melainkan pertimbangan faktor eksternal yang mempengaruhi istri dalam mengambil
11 A. Mukti Arto, Praktek Perkara Perdata Pada Pengadilan Agama, h., 241-243.
12 Atik Wartini, Poligami: Dari Fiqh Hingga Perundang-undangan, Hunafa: Jurnal Studia Islamika, Vol. 10, 2, Desember (2013) : h., 241.
66
keputusan menerima dipoligami.13 Untuk meminimalisir terjadinya dampak negatif yang timbul dari poligami, maka hakim membutuhkan izin dari istri sebagaimana yang terdapat pada pasal 5 ayat 1 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan jo pasal 41 huruf b Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan jo Pasal 58 Kompilasi Hukum Islam.
Menurut Zulfan Efendi, dalam perspektif fikih klasik, tidak ada syarat dan ketentuan adaya izin dari istri untuk suami yang ingin berpoligami, namun dalam perkembangan kontemporer banyak ulama mewacanakan perlunya adanya izin dari istri sebagai salah satu dari persyaratan poligami.14
Persyaratan mendapatkan izin dari istri atau istri-istri supaya tetap terciptanya rumah tangga yang tenang, damai dan penuh kasih sayang serta tidak ada penyalahgunaan dalam praktik poligami. Adanya putusan pengadilan merupakan upaya ijtihad yang harus berdasarkan pada kemaslahâtan, apalagi dalam pernikahan memuat maqasid al-syari’ah. Sedangkan dalam hal poligami, setiap hakim perlu mengambil kebijakan dalam pertimbangan izin dari istri, karena pada kenyataannya tidak sedikit suami yang sewenang-wenang melakukan poligami dengan menyalahgunakan kebolehan poligami.15
Perlunya izin istri didasarkan pada prinsip keseimbangan hak dan kedudukan suami istri, dan didasarkan pada prinsip bahwa hal tersebut memang dikehendaki oleh para pihak (suami-istri) yang bersangkuta, dalam hal ini dari perspektif maslahâh di dalamnya terkandung maslahâh al-daruriyah yaitu harus dijadikan sebagai perkara utama dalam memeriksa izin tersebut.16 Menurut al-syatibi sebagaimana yang dikutip oleh Agung
13 Sri W. Rahmawati, Pengambilan Keputusan Seorang Istri Dalam Penikahan Poligami,
Jurnal Psikologi Ulayat, Vol. 1, 2, Februari (2013): h., 170-173.
14 Zulfan Efendi, Izin Poligami Dari Istri dalam Perspektif Mashlahah Mursalah, Perada, Vol. 1, 1, Juni (2018): h., 76.
15 Zulfan Efendi, Izin Poligami Dari Istri dalam Perspektif Mashlahah Mursalah, Perada, Vol. 1, 1, Juni (2018): h., 83.
16 Zulfan Efendi, Izin Poligami Dari Istri dalam Perspektif Mashlahah Mursalah, Perada, Vol. 1, 1, Juni (2018): h., 83.
67
Kurniawan dan Hamsah Hudafi dalam jurnal mengatakan maslahâh al-daruriyah adalah kebutuhan yang harus ada dan ketiadaannya akan menghancurkan kehidupan secara total.17 Suami yang ingin berpoligami harus mendapat izin dari istri secara tertulis dan lisan, hal ini bertujuan menjaga hak-hak istri agar tidak tertindas dan terzalimi dengan memanfaatkan kebolehan poligami.
Adapun, pemeriksaan izin istri di depan persidangan termasuk kebutuhan hajiyat.18 Maslahâh al-hajiyat menurut al-Syatibi sebagaimana yang dikutip Agung Kurniawan dan Hamsah Hudafi dalam jurnalnya mengatakan bahwa hajiyat merupakan kebutuhan dimana bila tidak terwujudkan tidak sampai mengancam keselamatannya, namun akan mengalami kesulitan.19 Dalam hal pemeriksaan izin istri, apabila istri tidak hadir secara langsung atau melalui kuasanya, hakim akan kesulitan dalam menilai pemeriksaan perkara poligami kecuali istri tidak dapat dimintai izinnya sebagaimana yang terdapat dalam pasal 5 ayat 2 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan disebutkan izin istri tidak diperlukan bagi seorang suami apabila istri/istri-istrinya tidak mungkin diminta persetujuannya dan tidak dapat menjadi pihak dalam perjanjian, atau apabila tidak ada kabar dari istrinya selama sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun, atau karena sebab-sebab lainnya yang perlu mendapat penilaian Hakim Pengadilan. Meskipun begitu, suami yang ingin berpoligami harus membuktikan di persidangan dan hakim akan menilai sejauh mana kebenaran bukti tersebut, agar tidak terjadinya penyelewenangan dan melindungi hak-hak istri.
Menurut Prof. Dr. Hj. Khuzaemah Tahido Yanggo, MA. mengatakan wajib meminta izin kepada istri apabila suami ingin berpoligami. Prof. Dr. Hj. Khuzaemah Tahido Yanggo, MA. menegaskan bahwa
17 Agung Kurniawan dan Hamsah Hudafi, Konsep Maqashid Syariah Imam Asy-Syatibi
Dalam Kitab Al-Muwafaqat, Al-Mabsût, Vol. 15, 1, Maret (2021): h., 35.
18 Zulfan Efendi, Izin Poligami Dari Istri dalam Perspektif Mashlahah Mursalah, Perada, Vol. 1, 1, Juni (2018): h., 83-84.
19 Agung Kurniawan dan Hamsah Hudafi, Konsep Maqashid Syariah Imam Asy-Syatibi
68
“Sebagai aturan diberitahu, istri izinkan atau tidak nanti pengadilan yang menentukan. Karena alasan yang saya katakan sebelumnya nanti harus diteliti dahulu dan ada saksinya benar atau tidak suami meminta seperti itu. Suami yang ingin berpoligami wajib mendapat izin dari istri, di dalam Q.s. Al-Nisâ’(4) : 19
)١٩: )٤( ءاسنلا( ِفو ُرْعَمْلٱِب انُهو ُرِشاَع َو
Artinya : “Dan bergaulah dengan mereka secara patut,”Bergaulah dengan cara yang patut, cara yang baik dengan para istri. Cara yang baik dengan meminta baik-baik. Bahkan ada istri menawarkan suaminya menikah lagi. Etika dalam perkawinan pada ayat itu wajib kamu bergaullah dengan istri secara patut.”20
Selain harus mendapatkan izin dari istri untuk seorang suami ingin berpoligami, Prof. Dr. Hj. Khuzaemah Tahido Yanggo, MA. melanjutkan dengan suami harus berlaku adil, adil di sini adalah adil secara lahiriah sedangkan untuk adil hati tidak dituntut. Prof. Dr. Hj. Khuzaemah Tahido Yanggo, MA. menegaskan bahwa
“ … Para ulama mensyaratkan berpoligami harus adil, bagaimana orang bisa berlaku adil kalau dia tidak mampu. Itu saja syaratnya, akan tetapi mampu yang dimaksud ini adalah lahiriah seperti memberi nafkah, pakaian, dan tempat tinggal. Adapun adil hati itu tidak di tuntut karena Nabi Saw. sendiri mengatakan “ Ya Allah, ini adalah pembagianku Hâdzâ Qasmî tapi saya tidak bisa mengatur hati saya” maksudnya sewaktu-waktu cenderung kepada salah satu istri. Jadi adil bukan dalam cinta dengan demikian di dalam Q.s. Al-Nisâ’(4) : 129
ْمُتْص َرَح ْوَل َو ِء اَسِ نلٱ َنْيَب ۟اوُلِدْعَت نَأ ۟ا وُعيِطَتْسَت نَل َو
ۖ
ا(
( ءاسنل
٤
: )
١٢٩
)
Artinya : “Dan kamu tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian,”
Karena itu dilanjutkan firman Allah
)١٢٩: )٤( ءاسنلا( ۚ ِةَقالَعُمْلٱَك اَهو ُرَذَتَف ِلْيَمْلٱ الُك ۟اوُليِمَت َلََف
Artinya :” karena itu janganlah kamu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung”Walaupun hatinya cinta kepada salah satu istri tapi jangan dicampakkan atau
ditinggalkan istri yang lainnya.”21
Izin istri terkait poligami merupakan maslahâh al-daruriyah dan pemeriksaan izin istri di depan persidangan merupakan maslahâh al-hajiyah, maka suami yang ingin berpoligami haruslah memenuhi salah satu syarat
20 Khuzaemah T. Yanggo, Guru Besar Fakultas Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Interview Pribadi Melalui Telepon, Kota Tangerang, 16 Maret 2021.
21 Khuzaemah T. Yanggo, Guru Besar Fakultas Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Interview Pribadi Melalui Telepon, Kota Tangerang, 16 Maret 2021.
69
yaitu adanya izin dari istri atau istri-istrinya. Menurut KH. Edi Junaedi Nawawi bahwa syarat izin dari istri dalam poligami merupakan wajib dan harus dipenuhi. KH. Edi Junaedi Nawawi menegaskan bahwa
“syarat istri harus mengetahui dan mendapatkan izin dari istri merupakan syarat sesuai kaidah fikih
َأِب الَِّإ مِتَت َلَّ ُةايِع ْو ُرُفْلا َو ُةايِل ْوُصُلأْا ُماَكْحَلأا
َرْم
: ِنْي
ُو
ُش ُد ْوُج
ْوُر
ِتْنا َو اَهِناَك ْرَأ َو اَهِط
اَهِعِنا َوَم ُءاَف
Artinya : “Hukum-hukum syar’i, baik perkara pokok maupun cabang tidak akan sempurna kecuali dua hal : terpenuhinya syarat dan rukunnya serta tidak ada penghalang keabsahannya.”
Syarat itu hukumnya wajib, syarat berpoligami harus disetujui oleh istri. Istri harus mengetahui selama berumah tangga bahwa suami berlaku adil. Suami yang ingin berpoligami harus mendapat izin dari istri dam suami juga harus berlaku adil.”22
Korelasi izin istri dan maslahâh, sebagai berikut:
1. Mencegah terjadinya perceraian, dengan adanya izin istri pernikahan dengan istri kedua tidak menimbulkan perselisihan diantara keduanya yang hanya akan mengakibatkan kehancuran dalam berumah tangga, hal ini sesuai dengan kaidah fiqhiyyah yang ditulis oleh Suyuthi dan al-Nadwi sebagaimana yang dikutip oleh Ahmad Sudirman Abbas dalam bukunya23
ُِلا َزُيِ ُر َراضلا
ِ
Artinya : “Bahaya itu harus dihilangkan”.
2. Bergaul dengan istri secara patut, dalam hal ini secara patut berarti suami yang ingin berpoligami harus mendapat izin dari istri, suami yang berpoliga tanpa adanya izin dari istri maka dianggap tidak berbuat baik kepada istri sebagaimana yang dipaparkan di atas oleh Prof. Dr. Hj. Khuzaemah T. Yanggo, M.A.
3. Menjamin hak-hak perempuan, salah satu persyaratan suami ingin berpoligami harus ada izin istri agar hak-hak istri tidak terzalimi oleh
22 Edi Junaedi Nawawi, Ketua Umum Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia Kota Tangerang, Interview Pribadi, Kota Tangerang, 22 Maret 2021.
23 Ahmad Sudirman Abbas, Qawa’id Fiqhiyyah, (Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya, 2004), h., 125.
70
suami dan kesetaraan antara hak suami dan hak istri, tidak mendeskriminasi salah satu pihak.
Pada putusan Nomor 1164/Pdt.G/2013/PA.JS Pemohon mengajukan poligami dikarenakan Termohon tidak mampu memberikan jaminan khususnya jaminan batin/hubungan biologis, sehingga Pemohon atas kesepakatan dan seizin termohon mau menikah lagi atau poligami. Termohon menyetujui dan tidak keberatan Pemohon menikah lagi serta mengakui dalil yang diajukan Pemohon. Pada putusan ini, melalui pertimbangan hukum pada putusan yang tertuang apabila permohonan poligami Pemohon ditolak, maka mafsadat yang dimunculkan kedepan ditakutkan akan lebih besar dibandingkan maslahâh, Pemohon merasa khawatir akan melakukan perbuatan yang dilarang oleh norma agama apabila pemohon tidak melakukan poligami. Majelis Hakim memutus perkara Nomor 1164/Pdt.G/2013/PA.JS yaitu mengabulkan permintaan pemohon dengan memberi izin kepada Pemohon untuk menikah lagi dengan pertimbangan istri mengakui dalil yang diajukan suami dan menyetujui suami menikah lagi serta suami memenuhi syarat lain yang ditetapkan. Putusan hakim telah sesuai dengan kemaslahâtan melihat bahwa suami mampu untuk berpoligami dan adanya persetujuan dari istri, serta menghilangkan dharar (bahaya) yang akan muncul dikemudian hari apabila tidak permohonan pemohon ditolak, sesuai dengan kaidah fiqhiyyah
ُِلا َزُيِ ُر َراضلا
ِ
Artinya : “Bahaya itu harus dihilangkan”.24
24 Ahmad Sudirman Abbas, Qawa’id Fiqhiyyah, (Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya, 2004), h., 125.
71
BAB V