• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN

H. Jadwal Penelitian

Tabel 3.2

Jadwal Penulisan Skripsi

2013 2014

No. Kegiatan Okto Nov Des Jan Feb Mar Apr

1. Prapenelitian/Survei Awal X

2. Pengajuan Judul X

3. Validasi Judul X

4. Persetujuan Proposal, BAB I dan rancangan instrument penelitian

X

5. Uji Coba Instrumen dan Persetujuan BAB II, BAB III

X

6. Penelitian X

7. Pengolahan Data Penelitian dan Draft BAB IV dan V

X X

8. Sidang Skripsi X

106 Agung Maulana, 2014

A. KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian dan analisis data, maka penulis dalam tahapan ini akan memaparkan beberapa kesimpulan yang didasarkan kepada rumusan masalah yang telah ditentukan. Adapun kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Faktor-faktor penyebab terjadinya konflik sosial di Desa Pegagan Lor diantaranya: 1) perjudian, 2) mengkonsumsi minuman keras, 3) rendahnya kesejahteraan dan tingkat pendidikan masyarakat, 4) iklim yang panas karena berada di jalur Pantai Utara atau pantura sehingga membentuk karakter masyarakat yang keras, arogan dan cepat emosi, dan 5) penyelenggaraan hiburan dangdut atau tarlingan yang tidak tertib. Konflik yang terjadi dalam masyarakat Desa Pegagan Lor diantaranya pertengkaran, perkelahian perorangan, perkelahian kelompok, dan tawuran warga antar desa.

2. Keterampilan-keterampilan tokoh masyarakat dalam menyelesaikan konflik sosial di Desa Pegagan Lor diantaranya dengan cara: 1) pendekatan persuasif, yaitu pendekatan yang mengutamakan perundingan dan musyawarah, 2) mediasi dilakukan ketika kedua pihak sepakat mencari nasehat dari pihak ketiga yang dipandang memiliki pengetahuan dan keahlian yang mendalam tentang subjek yang dipertentangkan. 3) arbitasi, dimana kedua belah pihak sepakat untuk mendapat keputusan akhir yang bersifat legal dari arbiter sebagai jalan keluar konflik. 4) Pendekatan koersif atau secara paksa, hal ini dilakukan jika pihak yang bertikai susah untuk didamaikan, dan 5) Tokoh masyarakat juga pernah menyelesaikan konflik di Desa Pegagan Lor dengan cara unik, dimana kedua belah pihak diberi air minum dari makam Sunan Gunung Jati, dan siapa yang berani minum air tersebut berarti pihak tersebut merasa tidak bersalah, karena menurut tokoh masyarakat, jika air tersebut diminum kepada orang yang salah

Agung Maulana, 2014

akan mengalami sakit perut yang parah. Hal ini dilakukan apabila kedua belah pihak yang bertikai tidak mengakui kesalahannya masing-masing.

3. Kendala-kendala yang dihadapi tokoh masyarakat dalam menyelesaikan konflik di desa Pegagan lor, diantaranya: 1) tidak adanya keterbukaan dari masing-masing pihak terhadap penyebab terjadinya konflik, 2) pihak yang bertikai mengakui akan kebenarannya masing-masing dan menganggap kelompok lain yang salah, 3) terdapat dendam yang belum terbalaskan akibat konflik yang pernah terjadi sebelumnya, 4) masih kurangnya komunikasi yang baik antar pihak yang bertikai, 5) kesalahpahaman diantara kedua pihak yang bertikai karena adanya perbedaan pendapat, 6) ketidakpuasan diantara kedua pihak yang bertikai dalam menerima suatu kesepakatan, sehingga perundingan yang dilakukan sangat alot dan menghabiskan waktu yang panjang, 7) susahnya dalam mengambil keputusan, karena ada saja pihak yang merasa kurang puas atas keputusan yang dilakukan tokoh masyarakat, serta 8) adanya oknum-oknum tertentu yang tidak menginginkan perdamaian itu terjadi.

4. Upaya-upaya yang dilakukan oleh tokoh masyarakat dalam mengatasi kendala-kendala penyelesaian konflik di Desa Pegagan Lor terbilang cukup bervariasi, diantaranya dengan cara: 1) pendekatan persuasif, dengan cara mengadakan penyuluhan kepada warga masyarakat tentang pentingnya suasana tertib dan aman di lingkungan masyarakat, dan memberdayakan para pemuda pada acara ritual keagamaan yang membuat mereka semakin menyadari akan keberadaan diri mereka dan merasa dihargai karena dibutuhkan. 2) pendekatan preventif, dengan cara mengadakan pertandingan olahraga seperti sepak bola, tenis meja, bulu tangkis, dan bola voli untuk mempererat silaturahmi, serta lebih mengintesifkan hubungan kordinasi dengan pihak kepolisian sebagai pihak keamanan yang mengayomi masyarakat. 3) pendekatan represif, dengan cara tokoh masyarakat beserta aparat desa akan melibatkan orang tua mereka yang terlibat dalam konflik untuk membantu upaya penyelesaian konflik tersebut dengan cara kekeluargaan, dan menyerahkan semua urusan konflik kepada pihak kepolisian apabila kedua belah pihak sulit untuk didamaikan dan konflik yang terjadi menjurus kepada kekerasan yang berat dan tindakan pidana.

Agung Maulana, 2014 B. SARAN

Berdasarkan hasil penelitian ini, sebagai bahan rekomendasi dengan mempertimbangkan hasil temuan baik dilapangan maupun secara teoritis, maka beberapa hal yang dapat menjadi bahan rekomendasi atau saran adalah sebagai berikut:

1. Bagi Aparat Desa Pegagan Lor

a. Memberdayakan kembali organisasi kemasyarakatan secara optimal seperti karang taruna dan sebagainya agar potensi pengembangan masyarakat khususnya para pemuda dapat berjalan terus menerus.

b. Menjalin silaturahmi dan hubungan yang baik antar masyarakat khususnya para pemuda melalui kegiatan-kegiatan yang positif seperti olahraga, kegiatan keagamaan dan lain-lain. Hal ini dilakukan agar berkurangnya masalah-masalah sosial dan potensi terjadinya konflik.

c. Membatasi dan mengawasi penyelenggaraan hiburan tarlingan atau dangdutan untuk menjaga ketertiban dan keamananan di lingkungan masyarakat Desa Pegagan Lor.

2. Bagi tokoh masyarakat Desa Pegagan Lor

a. Mengusahakan agar tidak terjadi lagi konflik dalam kehidupan masyarakat Desa Pegagan Lor dengan cara melakukan pendekatan-pendekatan yang baik kepada masyarakat.

b. Melakukan identifikasi potensi konflik dalam kehidupan masyarakat, agar konflik tidak terjadi lagi.

3. Bagi masyarakat Desa Pegagan Lor

a. Masyarakat diharapkan dapat mengikuti kegiatan-kegiatan positif secara optimal yang sudah disediakan oleh aparat Desa Pegagan Lor, sehingga masalah-masalah sosial dapat dikurangi. Kegiatan tersebut diantaranya

Agung Maulana, 2014

seperti pelatihan keterampilan, PNPM Mandiri, dan program-program yang diadakan oleh mahasiswa KKN yang ada di Desa Pegagan Lor.

b. Meminta ijin kepada aparat desa dan polsek setempat jika mengadakan acara hiburan tarlingan atau dangdutan, agar acara tersebut dapat dipantau dan diawasi oleh aparat desa dan polsek setempat.

4. Bagi para pemuda Desa Pegagan Lor

a. Para pemuda diharapkan dapat mengikuti dan mengadakan kegiatan-kegiatan positif seperti mengaktifkan kembali karang taruna dan acara ritual keagamaan yang sekarang jarang diadakan, serta mengkikuti pelatihan-pelatihan keterampilan yang diadakan oleh aparat desa sebagai bekal untuk mencari pekerjaan dan berwiraswasta guna mengurangi pengangguran. Hal ini dilakukan dalam upaya mengurangi terjadinya potensi konflik pada masyarakat.

b. Para pemuda harus menjaga ketertertiban dan keamanan di lingkungan masyarakat Desa Pegagan Lor terutama jika ada acara hiburan tarlingan atau dangdutan.

5. Bagi para orang tua di Desa Pegagan Lor

a. Orang tua diharapkan dapat membimbing anak-anaknya untuk tidak terjerumus pada pergaulan yang salah atau tidak baik.

b. Mendukung dan mendorong anak-anaknya dalam kegiatan positif seperti olahraga, karang taruna, dewan kemakmuran masjid, ekstrakurikuler yang ada di persekolahan dan lain-lain.

c. Mengarahkan dan mendorong anak-anaknya untuk mengenyam pendidikan setinggi mungkin, karena Pemerintah Kabupaten Cirebon telah memfasilitasi masyarakat untuk dapat menyekolahkan anaknya sampai SMA secara gratis, dan beasiswa bagi yang melanjutkan ke perguruan tinggi.

Agung Maulana, 2014

a. Guru Pendidikan Kewarganegaraan diharapkan dapat mengajarkan kepada anak didiknya tentang pendidikan resolusi konflik atau pentingnya bagaimana menyelesaikan konflik secara damai dan jujur seperti yang ada pada kecakapan warga negara (civic skill), serta disesuaikan dengan jenjang pendidikan dan perkembangan pola pikir peserta didik

7. Bagi Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan

a. Memberikan tambahan karya ilmiah yang ada di jurusan dan bisa menjadi referensi bagi mahasiswa yang lain dalam melakukan penelitian ilmiah. b. Memberikan sumbangan pemikiran kepada civitas akademika jurusan

Pendidikan Kewarganegaraan terhadap cara menyelesaikan konflik dengan cara jujur dan damai yang dapat dikaji dari mata kuliah ilmu politik dan ilmu kewarganegaraan terutama pada komponen kecakapan warga negara (civic skill).

8. Bagi peneliti berikutnya

Bagi peneliti selanjutnya yang akan meneliti tentang konflik sosial, mengingat tujuan penelitian ini adalah upaya menyelesaikan dan mengelola konflik secara damai dan jujur seperti yang ada pada kecakapan warga negara (civic skill) diharapkan dapat menggali lagi tentang resolusi konflik, selanjutnya bisa menemukan penelitian yang berhubungan dengan konflik sosial yang dikaitkan dengan variabel hasil penelitian yang lebih mendukung kembali.

Agung Maulana, 2014

Kajian Terhadap Keterampilan Tokoh-Tokoh Dalam Menyelesaikan Konflik Masyarakat Desa

Sumber Buku

Arifin, Zaenal. (2010). Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Azis Arnicun, dan Hartono, H. (1999). Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Bumi Aksara Basrowi dan Suwandi. (2008). Memahami Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rineka

Cipta.

Budimansyah Dasim, dan Suryadi, K. (2008). PKN dan Masyarakat Multikultural. Bandung: Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan Danial, Endang. (2009). Metode Penulisan Karya Ilmiah. Bandung: Lab.

Pendidikan Kewarganegaraan UPI

Handoko, Hani, T. (1986). Manajemen. Yogyakarta: BPFE

Kartono, Kartini. (1982). Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Miles, Matthew & Huberman, A. Michael. (1992). Analisis Data Kualitatif. Jakarta: UI-Press

Moleong, Lexy J.(2005). Metode Penelitian Skripsi dan Tesis. Bandung: Angkasa. Nasution, S. (1996). Metode Penelitian Nanuralistik Kualitatif. Bandung : Transito.

Ningrat, Handoyo, dan Soewarno. (1980). Pengantar Ilmu Studi Administrasi dan Manajemen. Jakarta: CV. Haji Masagung

Pangritno, Siswo, dan Suprihadi S. (1987). Pokok-Pokok Sosiologi Desa. Jakarta: Ghalia

Pickering, Peg. (2006). Kiat Menangani Konflik. Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama

Agung Maulana, 2014

Rivai Veithzal, dan Mulyadi, D. (2009) Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi.

Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Rohiat. (2007). Kecerdasan Emosional Kepemipinan Kepala Sekolah. Bandung: PT Refika Aditama

Siagian, P. (2010). Teori dan Praktek Kepemimpinan. Jakarta: Rineka Cipta. Soekanto Soerjono. (1990). Sosiologi Sebagai Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo

Persada

Sopiah, (2008). Perilaku Organisasional. Yogyakarta: CV Andi Offset

Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Research and Development. Bandung: Alfabeta

Surbakti, Ramlan. (1999). Memahami Ilmu Politik. Jakarta: PT Gramedia Widisarana Indonesia

Susan, Novri. (2009). Sosiologi Konflik dan Isu-Isu Kontemporer. Jakarta: kencana prenada media group

Syafrudin, dan Alimi Yasir. (1999). Belajar “Civic Education” dari Amerika.

Yogyakarta: LKIS

Winardi. (2007). Manajemen Konflik. Bandung: CV. Mandar Maju.

Zainuddin dan Masyhuri. (2008). Metodologi Penelitian (Pendekatan Praktis dan Aplikatif). Bandung: PT Refika Aditama.

Sumber Ketetapan

Dokumen terkait