• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.5 Jadwal Penulisan Penelitian

Jadwal pelaksanaan penulisan studi pustaka dilakukan pada awal Bulan April hingga Bulan Juli, dengan jenjang waktu tersebut penulis dapat memperoleh jawaban dengan menganalisa data yang telah diperoleh dengan mengandalkan nalar penulis dalam menghubungkan fakta dan informasi yang ada.

BAB IV

PEMBAHASAN 4.1 Otonomi Daerah

Kata kunci dari otonomi daerah adalah “kewenangan”, seberapa besarkah kewenangan yang dimiliki oleh daerah didalam menginisiatifkan kebijaksanaan, mengimplementasikannya dan memobilisasi dukungan sumber daya untuk kepentingan implementasi. Dengan kewenangan maka daerah akan menjadi kreatif untuk menciptakan kelebihan dan insentif kegiatan ekonomi dan pembangunan daerah. Inti pelaksanaan otonomi daerah adalah terdapatnya keleluasaan pemerintah daerah untuk menyelenggarakan pemerintahan sendiri atas dasar prakarsa, kreativitas dan peran serta aktif masyarakat dalam rangka mengembangkan dan memajukan daerahnya, masyarakat tidak saja dapat menentukan nasibnya sendiri melalui pemberdayaan masyarakat melainkan yang utama adalah berupaya untuk memperbaiki nasibnya sendiri. Otonomi daerah lebih cenderung berada dalam aspek politik-kekuasaan negara.

Dalam waktu yang cukup lama, sejak Orde Baru Pemerintahan Indonesia dengan cukup yakin menerapkan menjadikan paradigma pembangunan sebagai landasan nilai yang menjadi acuan dari semua kebijakan pemerintahan. Karena itu, pemerintahan mengambil peran sebagai agen utama dari pembangunan nasional. Syaukani, Gaffar, dan Rasyid (2005) menjelaskan bahwa tujuan tersebut tidak lain dari akselerasi pembangunan.

Peran pemerintah yang terlalu menonjolkan pembangunan mengharuskan adanya suatu sistem perencanaan yang terpusat, kendali pemerintahan dan

terpusat juga mengharuskan adanya penyeragaman sistem organisasi pemerintahan daerah dan manajemen yang dikembangkan di daerah tuJuannya agar hasilnya mudah diukur, dikendalikan, diawasi, dan di evaluasi.

Dengan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 maka selayaknya meninggalkan paradigma pembangunan tersebut sebagai acuan kerja pemerintahan demi mengembalikan harga diri rakyat dan demi membangun kembali citra pemerintahan sebagai pelayan yang adil maka menggunakan paradigma pelayanan dan pemberdayaan yang dipriorotaskan kepada masyarakat dalam pengembangan daerah. Perubahan paradigma tersebut dianggap sebagi suatu gerakan kembali ke karakter pemerintahan yang hakiki.

Syaukani, Gaffar, dan Rasyid (2005) Visi dan konsep otonomi daerah dan desentralisasi Tahun 1999 memiliki tujuan utama dari kebijakan-kebijakan yang akan membebaskan pemerintah pusat dari beban-beban yang tidak perlu dalam menangani urusan domestik sehingga pusat berkesempatan untuk mempelajari, memahami, meresppon berbagai kecenderungan global dan mengambil manfaatnya. Pemerintah pusat dapat lebih berkonsentrasi pada perumusan kebijakan makro nasional yang bersifat strategis. Dengan desentralisasi dan otonomi dalam kewenangan pusat ke daerah maka daerah akan mengalami proses pemberdayaan yang signifikan.

IDEA (2000) menjelaskan bahwa desentralisasi dalam alam demokrasi menjadi penting ketika kekuasaan pusat menyadari semakin sulit untuk mengendalikan sebuah negara secara penuh dan efektif ataupun dipandang terlalu mencampuri urusan-urusan lokal.

Hendratno (2009) menjelaskan bahwa dengan berlakunya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 maka sebagian kewenangan pemerintah pusat didistribusikan kepada daerah, pemerintah dan masyarakat di daerah dipersilahkan untuk mengurus rumahtangganya sendiri secara bertanggungjawab. Pemerintah tidak lagi mempatronase apalagi mendominasi daerah namun daerah tetap tunduk kepada pusat sesuai dengan ketentuan Undang-undang yang berlaku, peran pemerintah pusat dalam konteks desentralisasi adalah melakukan supervisi, memantau, mengawasi, dan mengevaluasi pelaksanaan otonomi daerah.

Akibat dari penerapan pendekatan terpusat tersebut semakin kuatnya ketergantungan daerah kepada pemerintah pusat, hal inilah menjadi akar dari hubungan pusat-daerah bersifat patronase yang kemudian mematikan kemampuan prakarsa dan daya kreativitas pemerintah dan masyarakat daerah. Beban-beban pemerintah pusat yang terus memberat serta semakin kompleksnya masalah yang dihadapi telah menyulitkan dalam membuat kebijakan-kebijakan yang secara tepat merespon dinamika dan tantangan yang dihadapi sehingga pada masa Orde Baru banyak masalah yang terjadi didaerah tidak tertangani secara baik karena keterbatasan kewenangan pemerintah.

Untuk waktu yang cukup lama, pemerintah pusat telah menggunakan terlalu banyak energi untuk mengurus masalah-masalah domestik yang sebenarnya bisa diurus oleh pemerintah daerah. Akibatnya, pemerintah pusat tidak punya cukup waktu dan energi untuk mempelajari kcenderungan-kecenderungan global. Inilah harga mahal yang harus diabayar negeri ini. Maka sebagai bangsa yang berupaya untuk cerdas maka sudah seharusnya kita harus berani mengubah pola hubungan

yang menjadi bersifat kemitraan dan desentralistik dan itulah yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999.

Peraturan Pilkada (2005) menjelaskan bahwa otonomi Daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Secara umum otonomi daerah diartikan sebagai hak atau kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerah menurut hak yang dilimpahkan oleh pemerintah pusat kepada daerah dengan ketundukan daerah terhadap pusat. Menurut Wayong dalam Hendratno (2009), otonomi daerah adalah kebebasan untuk memelihara dan memajukan kepentingan khusus daerah dengan kemampuan keuangan sendiri, menentukan hukum sendiri dan berpemerintahan sendiri. Sementara menurut Syariff Saleh dalam Hendratno (2009) menjelaskan bahwa otonomi daerah adalah sebagai hak untuk mengatur dan memerintah daerah sendiri atas inisiatif dan kemauan sendiri dimana hak tersebut diperoleh dari pemerintah pusat.

Hendratno (2009) menjelaskan bahwa asas otonomi daerah merupakan salah satu contoh yang diterapkan dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, namun terdapat perbedaan diantara keduanya. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 menerapkan asas otonomi yang memberikan kewenangan yang luas kepada daerah untuk menyelenggarakan otonomi di daerah sedangkan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 menerapkan asas otonomi yang memberikan kewenangan yang seluas-luasnya kepada daerah.

Otonomi daerah yang telah berlaku pada daerah sehingga daerah daerah layak disebut sebagai daerah otonom. Peaturan Pilkada (2005) menjelaskan bahwa

Daerah Otonom selanjutnya disebut daerah adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tujuan kebijakan otonomi daerah sesungguhnya adalah memberikan keleluasaan yang lebih luas kepada masyarakat dalam membangun daerahnya dibawah koordinasi dan fasilitas pemerintah daerah, pada tataran pengaplikasiannya tujuan otonomi daerah adalah mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Pemahaman otonomi daerah sebagai daerah yang otonom bukan sebatas penyerahan kewenangan dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah tetapi yang sesungguhnya adalah dari Pemerintah kepada masyarakat. Posisi pemerintah adalah pemegang kewenangan subsidiaritas yang hanya membantu memfasilitasi memberi subsidi dan menciptakan iklim yang kondusif bagi berperannya masyarakat dalam proses pemerintahan dan pembangunan daerah.

Penyelenggaraan otonomi daerah lebih didominasi oleh pemerintah daerah yang seharusnya peranan lebih besar di pegang oleh masyarakat, keterlibatan masyarakat seolah-olah sudah terwakili oleh keberadaan DPRD sebagai legislatif daerah, hal ini sering menyebabkab penyimpangan yang pada dasarnya dipriorotaskan untuk membiayai kebutuhan mendasar masyarakat. Lemahnya koreksi masyarakat terhadap kinerja pemerintah merupakan gejala yang umum dalam pelaksanaan otonomi daerah. Dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Pasal 1 Angka 6 menyebutkan “Daerah otonom yang selanjutnya disebut Daerah, adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah

berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Visi otonomi daerah dibagi dalam 3 ruang lingkup utama yaitu politik, ekonomi, dan sosial budaya. Dalam Bidang Politik, otonomi adalah buah dari kebijakan desentralisasi dan demokratisasi maka harus dipahami sebagai sebuah proses untuk membuka ruang bagi lahirnya kepala pemerintahan daerah sehingga memungkinkan berlangsungnya penyelenggaraan pemerintahan yang responsif terhadap kepentingan masyarakat luas. Dalam bidang Ekonomi, menjamin lancarnya kebijakan ekonomi sehingga pemerintah daerah dapat mengembangkan kebijakan lokal untuk mengoptimalkan pendayagunaan potensi ekonomi di daerah. Dalam Bidang Sosial Budaya, otonomi daerah harus dikelola sebaik mungkin untuk menciptakan dan memelihara harmoni sosial sebagai masyarakat yang majemuk, memelihara nilai-nilai lokal dengan mengikis sifat-sifat primordialisme dalam Syaukani, Gaffar, dan Rasyid (2005)

Konsep Otonomi Daerah dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 adalah penyerahan sebanyak mungkin kewenangan pemerintahan dalam hubungan daerah kepada pusat kecuali keuangan dan moneter, politik luar negeri, peradilan, pertahanan, keagamaan serta kebijakan yang bersifat strategis-nasional.

Pembatasan otonomi dengan adanya ruang yang tersedia bagi pemerintah pusat untuk melakukan operasi di provinsi, sehingga menjadikan alasan bahwa Gubernur Provinsi selain berstatus sebagai kepala daerah otonom juga sebagai Wakil Pemerintah Pusat yang terdapat di daerah. Karena sistem otonomi yang tidak bertingkat (tidak ada hubungan hierarki antara Pemerintah Provinsi dengan

Kabupaten/Kota) maka hubungan Provinsi dengan Kabupaten/Kota bersifat koordinatif, pembinaan dan pengawasan. Sebagai Wakil Pemerintah Pusat, Gubernur mengkoordinasikan tugas-tugas pemerintah antar kabupaten dan kota dalam wilayahnya. Gubernur juga melakukan supervisi terhadap pemerintah Kabupaten/Kota atas pelaksanaan berbagai kebijakan pemerintah pusat serta bertanggungjawab menyelenggarakan pemerintahan berdasarkan otonomi daerah di wilayahnya dalam Syaukani, Gaffar, dan Rasyid (2005)

Penyelenggaraan otonomi daerah dilaksanakan berdasarkan prinsip dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Oleh karena demokrasi merupakan sistem yang bertumpu pada kedaulatan rakyat yang dalam kacamata otonomi dengan pemberian kewenangan yang seluas-luasnya kepada daerah untuk mengatur dan mengurus rumahtangganya masing-masing dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sejatinya perbedaan Otonomi Daerah menurut Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, adalah terdapat pada ketentuan umum dalam kedua Undang-undang tersebut. Ketentuan umum Undang-undang Nomor 22Tahun 1999 Huruf h dan i, menyebutkan: h) Otonomi Daerah adalah kewenangan Daerah Otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarakan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. i) Daerah Otonom selanjutnya disebut daerah adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selanjutnya Ketentuan Umum

Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Pasal 5 dan 6, menyebutkan: Ayat 5 “Otonomi Daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan”. Ayat 6 “Daerah Otonom selanjutnya disebut daerah adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pengaruh pemberian kewenangan yang seluas-luasnya melahirkan perbedaan tafsir terhadap prinsip otonomi itu sendiri, terjadi pemahaman yang tidak tepat oleh daerah mengenai prinsip otonomi yang luas dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 dan prinsip otonomi yang seluas-luasnya diatur dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 oleh daerah. Kecenderungan bahwa daerah menerjemahkan dan mengekspresikan prinsip otonomi yang seluas-luasnya sebagai kebebasan yang sebesar-besarnya untuk mengatur wilayah dan rumahtangganya sendiri. Pemahaman yang tidak tepat terhadap prinsip daerah otonomi tidak terlepas dari terjadinya perbedaan tafsir terhadap prinsip otonomi yang seluas-luasnya, pemerintah daerah khususnya menerjemahkan dan mengekspresikan prinsip otonomi yang seluas-luasnya sebagai kebebasan yang sebesar-besarnya untuk mengatur wilayah dan rumahtangganya sendiri yang menyebabkan penyelenggaraan desentralisasi hanya berfokus untuk kepentingan Pemerintah Daerah dan tidak mengena langsung kepada masyarakat.

Dalam pelaksanaan otonomi daerah satu prinsip yang harus dipegang oleh bangsa Indonesia adalah bahwa aplikasi otonomi daerah tetap berada dalam konteks persatuan dan kesatuan nasional Indonesia. Otonomi tidak ditujukan untuk kepentingan pemisahan suatu daerah untuk bisa melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tujuan pemberian otonomi kepada daerah adalah untuk memungkinkan setiap daerah mengatur dan mengurus rumahtangganya sendiri untuk kepentingan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian jelaslah bahwa aplikasi pemerintahan dan pembangunan di daerah sekarang didasarkan pada dua sendi utama yaitu otonomi daerah dan kesatuan nasional. Otonomi daerah mencerminkan adanya kedaulatan rakyat dan kesatuan nasional mencerminkan adanya kedaulatan dalam suatu negara. Otonomi pada dasarnya adalah sebuah konsep politik yang selalu diakitkan atau disepadankan dengan pengertian kebebasan dan kemandirian.

Sesuatu akan dianggap otonomi jika menentukan nasib daerah sendiri, membuat hukum sendiri dengan maksud mengatur diri sendiri dan berjalan berdasarkan kewenangan, kekuasaan dan prakarsa sendiri. Muatan politis yang terkandung dalam istilah otonomi adalah bahwa dengan kebebasan dan kemandirian tersebut maka suatu daerah dianggap otonom bila memiliki kewenangan atau kekuasaan dalam penyelenggaraan pemerintahan terutama untuk menentukan kepentingan daerah maupun masyarakat.

Otonomi daerah seakan memberikan suasana yang baru bagi daerah karena pendelegasian wewenang yang cukup besar dari pemerintah pusat melalui desentralisasi kepada pemerintah daerah, kini pemerintah daerah telah berada digaris depan dalam melaksanakan pembangunan di daerahnya karena itu tuntutan

atas kemandirian pemerintah daerah makin tinggi. Sejalan dengan pemberian kewenangan yang luas tersebut perlu ditempuh upaya-upaya membangun kemandirian agar kesejahteraan daerah bisa terwujud.

Perbedaan tafsir undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 mengenai otonomi daerah dalam prakteknya telah diartikan berbeda oleh daerah, terjadi kecenderungan daerah menganggap dirinya memiliki kewenangan yang seluas-luasnya untuk mengatur wilayah dan rumahtangganya sendiri. Perbedaan tafsir tersebut semakin kuat manakala daerah mendistorsikan prinsip penyerahan kewenangan sisa kepada daerah sebagaimana tersirat dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, daerah cenderung menafsirkan otonomi secara baku dan menganggap bahwa semua kewenangan di luar kewenangan Pusat merupakan kewenangan daerah.

Syaukani, Gaffar, dan Rasyid (2005) menjelaskan bahwa salah satu stigmatisasi terhadap otonomi daerah adalah dengan menciptakan persepsi bahwa otonomi daerah dapat merupakan ancaman terhadap integrasi bangsa atau integrasi nasional, hal tersebut karena munculnya kecenderungan dari daerah untuk tidak mengindahkan sebuah sistem nasional yang berlaku. Sudah merupakan prinsip hukum bahwa aturan hukum yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan hukum yang lebih tinggi dalam sistem hukum nasional. Bila aturan hukum yang dikeluarkan daerah bertentangan dengan ketentuan hukum yang lebih tinggi maka pemerintah sudah seharusnya memberikan arahan kepada daerah bahwa apa yang daerah lakukan adalah keliru dan apabila daerah tidak

mengindahkan maka sudah seharusnya pemerintah memberikan sanksi dengan mengurangi subsidi kepada daerah.

Sesuatu yang tidak masuk akal bila ada pihak yang menyatakan bahwa otonomi daerah merupakan ancaman terhadap integrasi nasional, bukankah sebaliknya yang akan terjadi bila kebijaksanaan otonomi daerah gagal dihantarkan kepada masyarakat dan bahkan kecenderungan sentralisasi yang muncul maka tidak mustahil akan menimbulkan kekecewaan masyarakat di daerah yang meluas dan pada akhirnya daerah menuntut diberlakukannya sistem pemerintahan yang federalistik dan bukan tidak mungkin muncul tuntutan untuk memisahkan dari negara kesatuan. Dalam pemerintahan, kehendak untuk memisahkan diri pada umumnya dikarenakan oleh ketidakpuasan masyarakat lokal terhadap pemerintahan nasional pada akhirnya. Kehendak untuk memisahkan diri dikarenakan pengalaman pemerintahan masa lampau yang tidak memberikan peluang yang sepantasnya bagi daerah untuk mengembangkan daerah semaksimal mungkin sesuai dengan potensi yang mereka miliki.

4.2 Desentralisasi

Tujuan dari desentralisasiadalah agar pengambilan keputusan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lokal serta terjadi distribusi kekuasaan antara pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Hendratno (2009) defenisi Desentralisasi tidak ada yang tunggal, banyak defenisi yang dikemukakan oleh para pakar mengenai desentralisasi, Menurut David K. Hart banyaknya defenisi tentang desetralisasi disebabkan karena ada beberapa disiplin ilmu dan teori yang memberikan perhatian terhadap desentralisasi.

Secara etimologis istilah desentralisasi berasal dari bahasa Latin yang berarti

“de” adalah lepas dan “centrum” adalah pusat, sehingga bisa diartikan melepaskan dari pusat. Dari sudut ketatanegaraan, yang dimaksud desentralisasi ialah penyerahan kekuasaan pemerintah dari pusat kepada daerah-daerah yang mengurus rumahtangganya sendiri, desentralisasi kenegaraan merupakan penyerahan kekuasaan untuk mengatur daerah dalam lingkungannya sebagai usaha mewujudkan asas demokrasi dalam pemerintahan negara.

Desentralisasi dan otonomi daerah merupakan simbol adanya “kepercayaan”

dari Pemerintah Pusat kepada Daerah yang dengan sendirinya mengembalikan harga diri pemerintah dan masyarakat daerah, bila dalam sistem sentralistik daerah tidak dapat berbuat banyak dalam mengatasi masalah maka dalam desentralisasi dan otonomi daerah maka daerah ditantang untuk secara kreatif menemukan solusi-solusi dari berbagai masalah yang dihadapi.

Sentralisasi adalah tahap awal kenegaraan, diperlukannya sentralisasi kekuasaan supaya kekuatan-kekuatan yang bertujuan akan meruntuhkan kesatuan yang baru dapat dicapai dengan menyingkirkan penjajah, pada saat kekuatan asing tidak ada lagi artinya negara tidak terancam lagi oleh kekuatan yang bersifat meruntuhkan kesatuan maka sentralisasi dapat ditingkatkan menjadi desentralisasi bahkan lebih jauh lagi negara tersebut dapat menerapkan desentralisasi menuju federasi. Menurut Oentarto dalam Hendratno (2009) menjelaskan bahwa proses pergeseran dari sentralisasi ke desentralisasi terjadi manakala pendapatan masyarakat telah meningkat, tingkat buta huruf berkurang serta peningkatan pendidikan akan memacu pemahaman berbangsa dan bernegara.

Menurut Amrah Muslimah dalam Hendratno (2009) menjelaskan bahwa ada 3 macam desentralisasi, yaitu

a) Desntralisasi Politik, sebagai pengakuan adanya hak mengurus kepentingan b) runahtangga sendiri pada badan-badan politik di daerah-daerah yang dipilih

oleh rakyat dalam daerah tertentu.

c) Desentralisasi Fungsional, sebagai pengakuan adanya hak pada golongan-golongan yang mengurus satu macam atau golongan-golongan kepentingan dalam masyarakat, baik serikat atau tidak pada suatu daerah tertentu.

d) Desentralisasi Kebudayaan, yang mengakui adanya hak pada golongan kecil, masyarakat untuk menyelenggarakan kebudayaannya sendiri.

Brian C. Smith dalam Hendratno (2009) mengemukakan bahwa dalam sistem politik Negara Kesatuan, desentralisasi mencakup devolusi dan dekosentrasi. Devolusi adalah penyerahan wewenang untuk mengambil keputusan dalam bidang kebijaksanaan publik kepada lembaga perwakilan rakyat di tingkat lokal dengan Udang-undang. Dekosentrasi adalah pelimpahan wewenang untuk mengambil keputusan administrasi atas nama Pemerintah Pusat kepada pejabat di daerah yang bertanggungjawab dalam kebijaksanaan publik dalam wilayah yuridiksi tertentu.

Menurut Bhenyamin Hossein dan Syariff Hidayat dalam Hendratno (2009) menjelaskan bahwa ada 6 tujuan negara berkembang menerapkan desentralisasi, yaitu

1. Untuk pendidikan politik.

2. Untuk latihan kepemimpinan politik.

3. Untuk memelihara stabilitas politik.

4. Uuntuk mencegah konsentrasi kekuasaan di pusat.

5. Untuk memperkuat akuntabilitas publik, dan

6. Untuk meningkatkan kepekaan elit terhadap kebutuhan masyarakat.

Terdapat juga 4 alasan penerapan kebijakan desentralisasi, Hendratno (2009) yaitu

1. Untuk menciptakan efisiensi penyelenggaraan administrasi pemerintahan.

2. Untuk memperluas otonomi daerah.

3. Untuk beberapa kasus sebagai strategi untuk mengatasi instabilitas politik, dan

4. Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan dan untuk mempercepat proses pembangunan daerah.

Pelaksanaan asas desentralisasi akan melahirkan atau dibentuknya daerah-daerah otonom yaitu suatu kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas wilayah tertentu yang berhak, berwenang, dan berkewajiban mengatur dan mengurus rumahtangganya sendiri. Dengan demikian daerah otonom memiliki otonomi daerah yaitu hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur serta mengurus rumahtangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Meskipun desentralisasi menjadi landasan penyelenggaraan pemerintahan daerah, namun pelaksanaan desentralisasi masih mengalami kendala. Terdapat 2 kendala desentralisasi, yaitu

1. Berkaitan dengan skala besaran wilayah operasi pemerintahan daerah yang mengakibatkan penyelenggaraan pemerintah daerah menjadi

kurang efektif, utamanya dalam menangani berbagai persoalan sosial dan ekonomi, dan

2. Adanya ketidaktulusan dikalangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk mendudukkan pastisipasi masyarakat sebagai elemen penting dalam proses pengambilan keputusan.

Desentralisasi menjadi model pembagian kekuasaan secara vertikal antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, selain hal tersebut juga menjadi wujud konkret dari pelaksanaan demokrasi baik pada tataran nasional dalam konteks pembagian kekuasaan pusat dan daerah sebagai wujud demokrasi nasional maupun pada tataran daerah yang melibatkan peran serta masyarakat sebagai wujud demokrasi lokal.

Dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun1999 Huruf i menyebutkan

“Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah kepada daerah otonom dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia”

sedangkan dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Pasal 1 Angka 7 menyebutkan “desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Dengan demikian desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah kepada kesatuan masyarakat hukum untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam NKRI.

Desentralisasi yang mengarah ke sistem federal akibat kesalahan persepsi daerah mengartikan otonomi daerah memberikan pengaruh positif terhadap pelaksanaan fungsi negara. Otonomi daerah bertujuan untuk mempercepat

terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan, pelayanan, pemberdayaan dan peranserta masyarakat sehingga memungkinkan daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan untuk memberi pelayanan, peningkatan peran serta, prakarsa yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat meskipun pada kennyatannya lemahnya koreksi masyarakat terhadap kinerja pemerintah merupakan gejala yang umum terjadi dalam negara yang menerapkan desentralisasi.

Negara Republik Indonesia merupakan sebuah negara kesatuan yang menerapkan beberapa prinsip negara federal karena terdapatnya prinsip penyerahan sisa atau residu kewenangan kepada daerah dan sistem pemilihan langsung kepala daerah dan wakil kepala daerah dalam Undang-undang Nomor 22

Negara Republik Indonesia merupakan sebuah negara kesatuan yang menerapkan beberapa prinsip negara federal karena terdapatnya prinsip penyerahan sisa atau residu kewenangan kepada daerah dan sistem pemilihan langsung kepala daerah dan wakil kepala daerah dalam Undang-undang Nomor 22