• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jakarta, 20 Agustus 2003, 11:35:54 PM

Dalam dokumen Jangan Main-main dengan Kelaminmu.pdf (Halaman 90-98)

TING!

Ting!

Pintu elevator terbuka. Ia masuk dan langsung memencet sebuah tombol. Elevator segera meluncur ke bawah. Suara ting secara otomatis berbunyi di setiap pergantian lantai. Suara ting yang begitu akrab di pendengarannya selama lima tahun ini. Suara ting yang sering membuat perasaannya nyeri. Tapi, selalu akan ada suara ting yang bisa membuat perasaannya hangat dan bergetar, seperti saat ini.

Ting!

Masih kurang lima lantai harus dilewati. Berarti ia akan mendengar lima kali suara ting lagi. Karena ia tidak sedang beruntung kali ini. Ada lima orang lain bersamanya dalam elevator, dan masing-masing mereka memencet tombol berbeda. Berarti ia terpaksa harus berhenti pada tiap lantai menunggu mereka keluar satu persatu sebelum ia mencapai lantai yang dituju. Tapi ia akan sabar menunggu. Apalah artinya menunggu lima ting dibanding penantiannya selama hampir separuh hari. Ya, sudah dua belas jam ia berada di hotel ini dan entah sudah

berapa ting yang ia dengar. Entah sudah berapa laki- laki ditemuinya dalam kamar. Entah sudah berapa orang bersamanya dalam satu elevator. Orang-orang dengan pandangan menyelidik, curiga, dan menghina. Namun kadang ada juga orang-orang yang memandang dengan tatapan mata seolah paham benar apa yang sedang ia rasakan. Sebenarnya ia tidak terlalu suka dengan pandangan mata seperti itu. Ia tidak suka setiap kali bibir mereka mengulum senyum, seperti senyum di bibir seorang perempuan muda di depannya, walaupun perempuan muda itu tidak tersenyum. Mulutnya sedang mengunyah permen karet. Tapi ia merasa perempuan muda bertubuh ramping, berambut hitam panjang, berpakaian serta ketat, dengan rias wajah tebal itu tersenyum kepadanya. Ia tak suka melihat senyum getirnya tersungging di bibir perempuan muda itu. Ia tak suka melihat penampilan dirinya sendiri pada perempuan muda itu.

Ting!

Astaga, masih sempat-sempatnya perempuan muda itu mengerling ke arahnya sebelum keluar dari elevator. Bahkan masih ada senyum di bibirnya yang dipoles gincu merah menyala. Padahal, perempuan muda itu tidak mengerling, juga tidak tersenyum. Perempuan muda itu memejamkan mata sejenak dan bibirnya bergerak-gerak seperti sedang melantunkan doa, sama seperti yang kerap dilakukannya sebelum

keluar elevator. Lantas, kenapa pula ia masih merasa perempuan muda itu tersenyum dan mengerling padanya? Ia segera mengalihkan pikirannya dari senyum perempuan muda yang mengganggunya itu. Ia ingin kembali kepada debaran di dadanya menunggu empat ting. Ia sudah terbiasa tak berpikir. Ia tak mau berpikir. jika ia berpikir, ia tak ingin hampir tiap hari menghabiskan waktu berpindah dari satu kamar ke kamar dalam hotel seperti ini. jika ia berpikir, tak mungkin ia menyangkal penampilan dirinya sendiri. jika ia berpikir... ah... apakah hidup selalu bisa terjawab dengan berpikir? Ia memang tak mau berpikir, bahkan ia tak ingin merasa. Tak ada ruang baginya untuk berpikir dan merasa, terlebih- lebih di saat-saat dalam elevator bersama orang lain yang tak dikenal. Sebab jika perasaannya dibiarkan, pastilah ia sudah lari keluar elevator sekarang. Ia tak tahan melihat gerak-gerik pasangan suami istri di dalam elevator yang kelihatannya akan menghadiri acara pernikahan sebab mereka berdua sama-sama mengenakan pakaian resmi. Wanitanya mengenakan gaun hitam dengan kalung mutiara putih dipadu mutiara hitam. Entah apakah karena kalung itu, atau sepasang anting berlian yang menjuntai di telinganya, yang membuat urat-urat lehernya keluar seperti menyandang beban berat ketika wanita itu berbisik di telinga suaminya, sesaat setelah menatap ke arah dirinya. Suami wanita itu kelihatan tidak antusias, dan karena itulah si istri terlihat jengkel. Entah jengkel sebab si suami tak mendengarkan dengan antusias,

atau jengkel sebab si suami ketahuan mencuri pandang ke belahan dadanya yang rendah. Ia merasa sudah sangat paham dengan laki-laki sejenis itu. Laki- laki yang merasa kapan saja dapat membeli segalanya dengan isi kantung mereka yang tebal. Laki-laki yang merasa kapan saja dapat membeli kenikmatan tubuh perempuan-perempuan seperti dirinya, juga perempuan muda yang lebih dulu keluar elevator tadi dengan harga relatif murah dibandingkan kekayaan mereka yang melimpah. Laki-laki yang merasa kapan saja dapat membeli istrinya sendiri. Lihatlah wanita bergaun hitam anggun dengan perhiasan lengkap nan tak kalah anggun itu hanya bisa menelan kejengkelan tanpa dapat memuntahkannya. Wanita itu, mengingatkannya pada boneka Barbie yang mengenakan baju-baju indah, ditiduri di atas ranjang dalam rumah mewah. Namun sepenuhnya menyerahkan diri ke tangan anak-anak yang memainkannya dengan pasrah. Ting!

Pasangan suami istri itu keluar elevator sekarang. Membuatnya merasa lega. Tadinya ia pikir mereka turun di lantai dasar tempat acara-acara resmi kerap diadakan dalam hotel berbintang. Mungkin mereka menjemput teman yang sama-sama menginap di hotel, atau sanak keluarga mereka yang lain. Si suami melangkah keluar lebih dulu dan wanita itu tergopoh- gopoh di belakang seraya berusaha menggamit

tangan si suami. Barbie... bisiknya lagi dalam hati sambil memegang erat tas tangan di bahunya seperti takut ada yang mencuri. Lagi-lagi perasaan hangat menyelimuti dadanya, memompa butir-butir air keluar dari sudut kelopak matanya. Tapi sepasang kelopak matanya bagaikan bendungan yang selalu siap menampung air sehingga tak akan setetes pun air meluncur keluar dari sana. Maka jika seseorang ada yang melihat matanya, matanya itu bagaikan kubangan sarat air hujan yang sesaat kemudian mengering akibat panas matahari yang melahapnya. Dan memang ada sepasang mata sedang menatapnya. Sepasang mata itu begitu jernih bagai telaga. Sepasang mata itu mengerjap-ngerjap lucu. "Tante mau nangis, ya...?" begitu suara yang keluar dari mulut sepasang mata telaga itu. "Hush...!" Suster anak bermata bak telaga segera menarik gadis kecil itu menjauh Jarinya, bersamaan dengan elevator berbunyi...

Ting!

Gadis dan susternya bergegas keluar. Gadis kecil itu melambaikan tangan dan ia balas dengan lambaian tangan yang sama. Semua orang dalam elevator itu sudah keluar sekarang. Ternyata gadis kecil tadi yang memijit tombol tiap lantai sehingga ia terpaksa berhenti pada tiap lantai selanjutnya. Ah... tapi tak apa, toh sudah tak ada siapa-siapa. Alangkah nyamannya berada dalam elevator tanpa orang lain.

Tapi baru saja pintu elevator hendak menutup, sepasang tangan kekar menahannya. Gemerisik suara walkie talkie membuat hatinya menciut. Security melangkah masuk ke dalam. Ia paling merasa tak nyaman berada di dekat security hotel. Cara mereka memandang begitu merendahkan. Cara mereka bertanya mengandung curiga. "Mau ke lantai berapa, Mbak?" Benar saja. Mereka selalu menanyakan pertanyaan yang sama. Tidakkah mereka punya mata kalau tombol lantai yang sedang ia tuju sudah menyala? Dan memanggilnya dengan Mbak, itu sungguh keterlaluan. Seharusnya—bagaimanapun penampilannya saat ini– security itu memanggilnya Ibu. Tapi ia tak mau ambil peduli pada sapaan dan pertanyaan konyol membosankan itu. Ia menjawabnya hanya dengan anggukan ke arah tombol yang menyala. Lagipula tak ada alasan baginya untuk merasa takut. jika ingin mengikuti, silakan saja. Ia akan menuju sebuah tempat di mana surganya berada. Ia akan menuju sebuah tempat di mana segala pertanyaan, segala kebimbangan tak lagi ada. Ya, ia akan menuju sebuah tempat di mana debaran hatinya mengarah ke sana, membuat suara ting bagai lagu sebelum tidur yang disenandungkan ibunya semasa ia kecil. Mengantarkannya ke alam mimpi, ke alam penuh warna-warni.

Ting!

security itu meninggalkannya. Suara walkie talkie berhenti sesaat setelah pintu elevator tertutup. Kini ia benar-benar sendiri. Kini tinggal satu ting lagi. Suara ting yang begitu akrab di pendengarannya selama lima tahun ini. Suara ting yang sering membuat perasaannya nyeri. Tapi, selalu akan ada suara ting yang bisa membuat perasaannya hangat dan bergetar, seperti saat ini. Suara ting ini begitu lain dengan suara ting yang kelak akan mengantarkannya ke pelukan laki-laki yang sedang siap menunggu untuk meniduri. Laki-laki dengan perut tambun. Laki- laki dengan luapan birahi. Laki-laki yang kehilangan keharmonisan dengan para istri. Laki-laki yang hanya akan ia temui sekali dua kali. Laki-laki yang mendengus di atas tubuhnya seperti babi. Laki-laki yang tergeletak di atas ranjang ketika ia sibuk mencuci diri di kamar mandi. Laki-laki yang sering tidak memberi uang persenan setelah menyenggamainya bertubi-tubi. Laki-laki yang bahkan tak melirik kepadanya ketika ia pergi. Laki- laki yang tak ada beda dengan laki-laki yang dulu meninggalkannya pergi setelah menghamili. Ah... betapa ia begitu mengharapkan suara ting lain ini segera berbunyi. Betapa ia begitu mengharapkan pintu elevator segera membuka dan ia dapat berlari keluar dari sana. Betapa ia tak lagi mampu menahan debaran di hatinya. Betapa ia....

Akhirnya ting yang ditunggu tiba juga. Tapi ia tak berlari keluar seperti yang direncanakannya. Ia berjalan wajar melewati beberapa orang di sepanjang koridor itu. Makin dipegangnya erat-erat tas tangan yang melingkar di bahunya seperti takut ada yang mencuri. Barbie... bisiknya dalam hati. Mulai terasa keletihan di sekujur tubuhnya dan luka mencabik- cabik dadanya. Maka, ia melangkahkan kakinya lekas-lekas sekarang. Ia butuh segera mencapai tern- pat di mana lukanya dapat terbasuh. Ia butuh segera mencapai tempat di mana tangis tertahannya dapat berganti dengan tawa. Ia ingin sesegera mungkin mencuci tubuhnya yang penuh dosa. Ia ingin sesegera mungkin bermain di taman bunga, bermain, bermain, tanpa perlu berpikir, bermain, tanpa perlu bertanya, bermain, berbahagia. Ia menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu. Rasa baru dan debar kembali mengguncang dadanya. Di pijitnya tombol di depan pintu itu...

Ting... tong... !

Pintu terbuka. Satu suara menyergap kerinduannya. Menghalau kebimbangannya. Menyapa cintanya.

"Mama...."

Dalam dokumen Jangan Main-main dengan Kelaminmu.pdf (Halaman 90-98)