• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jaminan Kesehatan

Dalam dokumen PROFIL KESEHATAN INDONESIA TAHUN 2019 (Halaman 122-0)

BAB IV PEMBIAYAAN KESEHATAN

C. BELANJA KESEHATAN DAN JAMINAN KESEHATAN

2. Jaminan Kesehatan

Pada tahun 2019, pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Indonesia telah memasuki tahun keenam. Harus diakui bahwa reformasi pembiayaan kesehatan dan pelayanan kesehatan ini telah banyak memberi manfaat kepada berbagai komponen yang terlibat di dalamnya, terutama masyarakat sebagai penerima manfaat. Hal ini sesuai dengan tujuan diselenggarakannya Program JKN, yakni mendekatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dan memberikan perlindungan finansial, seperti pada kasus penyakit katastropis yang membutuhkan biaya yang sangat tinggi.

7,3 6,9 7,2 7,6 6,7 7,7 7,7 6,1

16,3 17,4 19,4 19,8 17,8 20,1 23,8 25,5

5,5 6,1 6,7 8,1 13,8

2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017

Skema Pemerintah Pusat Skema Pemerintah Daerah

Skema Asuransi Kesehatan Sosial Skema Perusahaan

Triliun rupiah Proporsi

88 Profil Kesehatan Indonesia 2019 | Bab IV. PEMBIAYAAN KESEHATAN

Akan tetapi, sebagaimana pengalaman berbagai negara yang telah mencapai Jaminan Semesta (Universal Health Coverage/ UHC), pelaksanaan JKN di Indonesia pada masa awal juga menghadapi berbagai tantangan. Tantangan tersebut antara lain adalah adaptasi peserta dan pemberi pelayanan terhadap sistem baru, keseimbangan sisi suplai pemberi pelayanan kesehatan, adaptasi terhadap strukturisasi pelayanan kesehatan berjenjang, penyesuaian pengelolaan program publik oleh Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS-Kesehatan), dan kesinambungan finansial dari program JKN. Beberapa isu yang sering mengemuka antara lain adalah ketidakakuratan sasaran kelompok PBI, peningkatan cakupan kepesertaan kelompok Pekerja Buka Penerima Upah (PBPU) yang mempunyai risiko kesehatan yang besar tetapi dengan kesinambungan pembayaran iuran kepesertaan yang rendah, luasnya cakupan manfaat dibandingkan dengan besaran iuran, pertanyaan tentang besaran tarif INA-CBG untuk RS swasta, dan pentingnya penguatan pelayanan kesehatan primer serta isu mengenai fraud/kecurangan.

GAMBAR 4.9

PERKEMBANGAN CAKUPAN KEPESERTAAN JAMINAN KESEHATAN NASIONAL (JKN) KARTU INDONESIA SEHAT (KIS) TAHUN 2014-2019

Sumber: Pusat Pembiayaan dan JaminanKesehatan, Kemenkes RI, 2020

Sejak awal diluncurkan program JKN-KIS pada tahun 2014, cakupan kepesertaan program terus meningkat. Pada Tahun 2019, proporsi kepesertaan terbanyak berasal dari segmen PBI (APBN) sebesar 43,06%. Akan tetapi, pertumbuhan peserta paling signifikan dari tahun ke tahun terjadi pada segmen non-PBI. Sampai dengan akhir tahun 2019, jumlah cakupan kepesertaan JKN/KIS sudah mencapai 224,1 juta jiwa.

38,285,8juta

11,125,7juta (7.10%) 15,471,0juta (9.00%)

20,3juta (10,8%)

29,904,0juta (14.37%) 38,842,5juta (17.33%) 86,443,2juta

2014 2015 2016 2017 2018 2019

Non PBI PBI (APBD) PBI (APBN) 171,9 Juta

187,9 Juta 156,7 Juta

133,4 Juta

208,1 Juta 224,1 Juta

Profil Kesehatan Indonesia 2019 | Bab IV. PEMBIAYAAN KESEHATAN 89

GAMBAR 4.10

PERKEMBANGAN PESERTA PENERIMA BANTUAN IURAN (PBI) JAMINAN KESEHATAN TAHUN 2014-2019

Sumber: Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan, Kemenkes RI, 2020

Pada Tahun 2019, Menteri Sosial menetapkan fakir miskin dan orang tidak mampu berdasarkan basis data terpadu sebanyak 96,8 juta jiwa berdasarkan Surat Keputusan Menteri Sosial Nomor 1/HUK/2019. Penetapan ini termasuk bayi dari PBI Jaminan Kesehatan yang dilahirkan pada tahun 2019.

Sejak pertengahan tahun 2018, Menteri Sosial menetapkan hasil verifikasi dan validasi perubahan data PBI Jaminan Kesehatan setiap bulannya. Hal ini dilakukan sesuai dengan Peraturan Menteri Sosial Nomor 5 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 76 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2012 tentang Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan.

GAMBAR 4.11

ALOKASI DAN REALISASI PENERIMA BANTUAN IURAN JAMINAN KESEHATAN TAHUN 2014-2019

Sumber: Pusat Pembiayaan dan JaminanKesehatan, Kemenkes RI, 2020

19,9 20,4 25,0 25,5 25,5

2014 2015 2016 2017 2018 2019

%

Trilyun

Alokasi Realisasi %

86,4 88,23 92,4 92,4 92,4 96,8

86,4 87,88 91,13 92,32 92,1 96,5

0

2014 2015 2016 2017 2018 2019

Target Peserta Capaian Peserta

90 Profil Kesehatan Indonesia 2019 | Bab IV. PEMBIAYAAN KESEHATAN

Alokasi anggaran untuk iuran peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) disesuaikan dengan regulasi yang ada. Telah terjadi perubahan besaran iuran peserta PBI dari tahun 2014 sampai dengan 2019 sehingga alokasi anggaran untuk iuran PBI telah mengalami peningkatan. Untuk tahun 2014-2015, besaran iuran sebesar Rp 19.225 sesuai dengan Peraturan Presiden nomor 111 tahun 2013 tentang perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan. Pada tahun 2016, besaran iuran mengalami kenaikan menjadi Rp 23.000 sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 19 tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden nomor 12 tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan. Pada tahun 2018, terbit Peraturan Presiden Nomor 82 tentang Jaminan Kesehatan yang memutuskan iuran PBI masih sebesar Rp 23.000. Kemudian, pada tahun 2019, besaran iuran PBI kembali mengalami kenaikan menjadi Rp 42.000 sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 75 tahun 2019 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 82 tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan .

Realisasi pembayaran iuran PBI Jaminan Kesehatan pada tahun 2014 sebesar 19,93 trilyun atau 100% dari alokasi yang dianggarkan. Pada tahun 2015, realisasi menjadi 97,69%

mengalami penurunan, namun kembali meningkat pada tahun 2016, 2017, 2018, dan 2019.

Pada tahun 2019, realisasi pembayaran iuran PBI Jaminan Kesehatan mencapai 99,61% dari alokasi yang dianggarkan.

SAMA DENGAN BPJS TAHUN 2019

Sumber: Pusat Pembiayaan dan JaminanKesehatan, Kemenkes RI, 2020

Perkembangan fasilitas kesehatan (faskes) yang bekerjasama untuk FKTP terjadi peningkatan dari sebanyak 18.437 faskes pada tahun 2014 menjadi 23.430 faskes pada tahun 2019. Jenis FKTP terbanyak adalah Puskesmas sebesar 10.050 atau 42,89%, kemudian Klinik Pratama sebesar 6.766 atau 28,88% dari FKTP yang ada. Pada tahun 2019 Apotek sudah tidak menjadi bagian FKTP lagi, akan tetapi merupakan fasilitas penunjang. Data dan informasi lebih rinci mengenai fasilitas kesehatan tingkat pertama yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan pada tahun 2019 yang disajikan pada Lampiran 19.a.

18.437 19.969 20.708 21.763 22.482 23.430

2014 2015 2016 2017 2018 2019

Dokter

Profil Kesehatan Indonesia 2019 | Bab IV. PEMBIAYAAN KESEHATAN 91

DENGAN BPJS KESEHATAN TAHUN 2019

GAMBAR 4.15

PERSENTASE FASILITAS KESEHATAN RUJUKAN TINGKAT LANJUT (FKRTL)

BEKERJA SAMA DENGAN BPJS KESEHATAN TAHUN 2019

Sumber: Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan, Kemenkes RI, 2020

Tahun 2019 terdapat 903 RS Kelas C yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan atau sebesar 36,72% diikuti RS Kelas D sebanyak 591 atau sebesar 24,03%.

GAMBAR 4.16

BPJS KESEHATAN TAHUN 2019

Sumber: Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan, Kemenkes RI, 2020

Tahun 2019 terdapat 3320 Apotek (75,495) dan 1078 Optik (24,51%) yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan.

RS TNI/POLRI RS Khusus Klinik Utama

75,49%

24,51%

APOTEK OPTIK

92 Profil Kesehatan Indonesia 2019 | Bab IV. PEMBIAYAAN KESEHATAN

3. Dana Desa

Desa merupakan representasi dari kesatuan masyarakat hukum terkecil yag telah ada dan tumbuh tumbu berkembang seiring dengan sejarah kehidupan masyarakat Indonesia dan menjadi bagian yang tidak terpiterterpisahkan dari tatanan kehidupana bangsa Indonesia.

Undang-undang Desa Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa telah menempatkan desa sebagai ujung tombattombak pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Desa diberikan kewenangan dan sumber dana dana yang memadai agar dapat mengelola potensi yang dimilikinya guna meningkatkan ekonomi dan kesejahkesejahteraan rakyat. Setiap tahun Pemerintah Pusat telah menganggarkan Dana Desa yang cukup besar untuk duntuk diberikan kepada desa.

Dana Desa adalah dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang diperuntukkan bagi Desa yang ditransfer melalui Anggaran Pendapatan dan Baelanja Daerah Kab/Kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan masyar masyaakat, dan pemberdayaan masyarakat

Dana Desa terbukti telah menghasilkan sarana/prasarana yang bermanfaat bagi masyarakat, antara lain 14.957 unit PAUD, 4.004 unit Polindes, 19.485 unit sumur, 10.964 unit Posyandu dll dalam periode 2015-2016.

Adapun persentase desa yang memanfaatkan Dana Desa terdapat pada gambar dibawah ini

GAMBAR 4.18

PERSENTASE DESA YANG MEMANFAATKAN DANA DESA UNTUK KESEHATAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2019

Sumber: Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat 2020 : Kementerian Dalam Negeri, 2020 (Permendagri 72 Tahun 2019),

Profil Kesehatan Indonesia 2019 | Bab IV. PEMBIAYAAN KESEHATAN 93 Berdasarkan gambar diatas persentase desa yang memanfaatkan dana desa terbesar pada tahun2019 adalah Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Barat (100.0%). Dan secara lebih rinci bisa dilihat di lampiran 18.

***

94 Profil Kesehatan Indonesia 2019 | Bab IV. PEMBIAYAAN KESEHATAN

Profil Kesehatan Indonesia 2019 | Bab V. KESEHATAN KELUARGA 97 Pembangunan keluarga dilakukan dalam upaya untuk mewujudkan keluarga berkualitas yang hidup dalam lingkungan yang sehat. Selain lingkungan yang sehat, kondisi kesehatan dari tiap anggota keluarga sendiri juga merupakan salah satu syarat dari keluarga yang berkualitas. Keluarga berperan terhadap optimalisasi pertumbuhan, perkembangan, dan produktivitas seluruh anggotanya melalui pemenuhan kebutuhan gizi dan menjamin kesehatan anggota keluarga. Di dalam komponen keluarga, ibu dan anak merupakan kelompok rentan. Hal ini terkait dengan fase kehamilan, persalinan dan nifas pada ibu dan fase tumbuh kembang pada anak. Hal ini yang menjadi alasan pentingnya upaya kesehatan ibu dan anak menjadi salah satu prioritas pembangunan kesehatan di Indonesia.

Ibu dan anak merupakan anggota keluarga yang perlu mendapatkan prioritas dalam penyelenggaraan upaya kesehatan, karena ibu dan anak merupakan kelompok rentan terhadap keadaan keluarga dan sekitarnya secara umum. Sehingga penilaian terhadap status kesehatan dan kinerja upaya kesehatan ibu dan anak penting untuk dilakukan.

A. KESEHATAN IBU

Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat keberhasilan upaya kesehatan ibu. AKI adalah rasio kematian ibu selama masa kehamilan, persalinan dan nifas yang

disebabkan oleh kehamilan, persalinan, dan nifas atau pengelolaannya tetapi bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan atau insidental di setiap 100.000 kelahiran hidup.

Selain untuk menilai program kesehatan ibu, indikator ini juga mampu menilai derajat kesehatan masyarakat, karena sensitifitasnya terhadap perbaikan pelayanan kesehatan, baik dari sisi aksesibilitas maupun kualitas. Secara umum terjadi penurunan kematian ibu selama periode 1991-2015 dari 390 menjadi 305 per 100.000 kelahiran hidup. Walaupun terjadi kecenderungan penurunan angka kematian ibu, namun tidak berhasil mencapai target MDGs yang harus dicapai yaitu sebesar 102 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015. Hasil supas tahun 2015 memperlihatkan angka kematian ibu tiga kali lipat dibandingkan target MDGs. Gambaran AKI di Indonesia dari tahun 1991 hingga tahun 2015 dapat dilihat pada Gambar 5.1 berikut ini.

V. KESEHATAN KELUARGA

98 Profil Kesehatan Indonesia 2019 | Bab V. KESEHATAN KELUARGA

GAMBAR 5.1

ANGKA KEMATIAN IBU DI INDONESIA PER 100.000 KELAHIRAN HIDUP TAHUN 1991 – 2015

Sumber: BPS, SDKI 1991-2012

*AKI tahun 2015 merupakan hasil SUPAS 2015

Target penurunan AKI ditentukan melalui tiga model Annual Average Reduction Rate (ARR) atau angka penurunan rata-rata kematian ibu pertahun seperti Gambar 5.2 berikut ini. Dari ketiga model tersebut, Kementerian Kesehatan menggunakan model kedua dengan rata-rata penurunan 5,5% pertahun sebagai target kinerja. Berdasarkan model tersebut diperkirakan pada tahun 2024 AKI di Indonesia turun menjadi 183/100.000 kelahiran hidup dan di tahun 2030 turun menjadi 131 per 100.000 kelahiran hidup.

GAMBAR 5.2

TARGET PENURUNAN AKI DI INDONESIA

Sumber: Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, 2019

Jumlah kematian ibu menurut provinsi tahun 2018-2019 dapat dilihat pada Lampiran 21 dimana terdapat penurunan dari 4.226 menjadi 4.221 kematian ibu di Indonesia berdasarkan laporan. Pada tahun 2019 penyebab kematian ibu terbanyak adalah perdarahan (1.280 kasus), hipertensi dalam kehamilan (1.066 kasus), infeksi (207 kasus) rincian per provinsi dapat dilihat

1991 1997 2002 2007 2012 2015

per 100.000 kelahiran hidup

Profil Kesehatan Indonesia 2019 | Bab V. KESEHATAN KELUARGA 99 Upaya percepatan penurunan AKI dilakukan dengan menjamin agar setiap ibu mampu mengakses pelayanan kesehatan ibu yang berkualitas, seperti pelayanan kesehatan ibu hamil, pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih di fasilitas pelayanan kesehatan, perawatan pasca persalinan bagi ibu dan bayi, perawatan khusus dan rujukan jika terjadi komplikasi, dan pelayanan keluarga berencana termasuk KB pasca persalinan.

Pada bagian berikut, gambaran upaya kesehatan ibu yang disajikan terdiri dari:

(1) pelayanan kesehatan ibu hamil, (2) pelayanan imunisasi Tetanus bagi wanita usia subur dan ibu hamil, (3) pemberian tablet tambah darah, (4) pelayanan kesehatan ibu bersalin, (5) pelayanan kesehatan ibu nifas, (6) Puskesmas melaksanakan kelas ibu hamil dan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K), (7) pelayanan kontrasepsi/KB dan (8) pemeriksaan HIV dan Hepatitis B.

1. Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil

Ibu hamil mendapat pelayanan oleh tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan.

Pelayanan ini dilakukan selama rentang usia kehamilan ibu yang jenis pelayanannya dikelompokkan sesuai usia kehamilan menjadi trimester pertama, trimester kedua, dan trimester ketiga. Pelayanan kesehatan ibu hamil yang diberikan harus memenuhi jenis pelayanan sebagai berikut.

1. Penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan.

2. Pengukuran tekanan darah.

3. Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA).

4. Pengukuran tinggi puncak rahim (fundus uteri).

5. Penentuan status imunisasi tetanus dan pemberian imunisasi tetanus sesuai status imunisasi.

6. Pemberian tablet tambah darah minimal 90 tablet selama kehamilan.

7. Penentuan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ).

8. Pelaksanaan temu wicara (pemberian komunikasi interpersonal dan konseling, termasuk KB pasca persalinan).

9. Pelayanan tes laboratorium sederhana, minimal tes hemoglobin darah (Hb), pemeriksaan protein urin dan pemeriksaan golongan darah (bila belum pernah dilakukan sebelumnya).

10. Tatalaksana kasus sesuai indikasi.

Pelayanan kesehatan ibu hamil harus memenuhi frekuensi minimal di tiap trimester, yaitu minimal satu kali pada trimester pertama (usia kehamilan 0-12 minggu), minimal satu kali pada trimester kedua (usia kehamilan 12-24 minggu), dan minimal dua kali pada trimester ketiga (usia kehamilan 24 minggu sampai menjelang persalinan). Standar waktu pelayanan tersebut dianjurkan untuk menjamin perlindungan terhadap ibu hamil dan janin berupa deteksi dini faktor risiko, pencegahan, dan penanganan dini komplikasi kehamilan.

Penilaian terhadap pelaksanaan pelayanan kesehatan ibu hamil dapat dilakukan dengan melihat cakupan K1 dan K4. Cakupan K1 adalah jumlah ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan antenatal pertama kali oleh tenaga kesehatan, dibandingkan jumlah sasaran ibu hamil di satu wilayah kerja pada kurun waktu satu tahun. Sedangkan cakupan K4 adalah jumlah ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan antenatal sesuai dengan standar paling sedikit empat kali sesuai jadwal yang dianjurkan di tiap trimester, dibandingkan jumlah sasaran ibu hamil di satu wilayah kerja pada kurun waktu satu tahun. Indikator tersebut memperlihatkan akses pelayanan kesehatan terhadap ibu hamil dan tingkat kepatuhan ibu hamil dalam memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan.

100 Profil Kesehatan Indonesia 2019 | Bab V. KESEHATAN KELUARGA

Capaian K4 tahun 2006 sampai dengan tahun 2018 disajikan pada gambar berikut ini.

GAMBAR 5.3

CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN IBU HAMIL K4 DI INDONESIA TAHUN 2006 – 2019

Sumber: Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, 2020

Selama tahun 2006 sampai tahun 2019 cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil K4 cenderung meningkat. Jika dibandingkan dengan target Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kesehatan tahun 2019 yang sebesar 80%, capaian tahun 2019 telah mencapai target yaitu sebesar 88,54%.

Gambaran capaian kunjungan ibu hamil K4 pada tahun 2019 menurut provinsi disajikan pada gambar berikut ini.

GAMBAR 5.4

CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN IBU HAMIL K4 MENURUT PROVINSI TAHUN 2019

Sumber: Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, 2018 79,63

80,26 86,04

84,54 85,56

88,27 90,18

86,85 86,70

87,48 85,35 87,30

88,03 88,54

0 20 40 60 80 100

2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019

37,15 53,36 54,86 67,98 68,71 70,55 73,04 73,92 74,26 78,02 78,41 78,46 79,73 81,45 82,14 82,77 83,37 83,97 84,41 84,49 84,61 86,87 87,49 88,54 90,31 93,16 94,95 95,03 95,30 95,88 97,13 97,33 98,90 101,22 103,63

0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00

Papua Nusa Tenggara TimurNusa Tenggara BaratKalimantan SelatanKalimantan TengahSulawesi TenggaraKepulauan Bangka…Kalimantan TimurSumatera SelatanKalimantan UtaraKalimantan BaratSulawesi SelatanSulawesi TengahSumatera UtaraSumatera BaratKepulauan RiauSulawesi UtaraSulawesi BaratMaluku UtaraDI YogyakartaJawa TengahPapua BaratJawa TimurINDONESIADKI JakartaJawa BaratGorontaloBengkuluLampungMalukuBantenJambiAcehRiauBali

Target renstra 2019: 80%

Profil Kesehatan Indonesia 2019 | Bab V. KESEHATAN KELUARGA 101 Selain akses ke fasilitas pelayanan kesehatan, kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan ibu hamil adalah kualitas pelayanan yang harus ditingkatkan, di antaranya pemenuhan semua komponen pelayanan kesehatan ibu hamil harus diberikan saat kunjungan.

Dalam hal ketersediaan sarana kesehatan, hingga bulan Desember 2019, terdapat 10.134 puskesmas. Keberadaan puskesmas secara ideal harus didukung dengan aksesibilitas yang baik. Hal ini tentu saja sangat berkaitan dengan aspek geografis dan kemudahan sarana dan prasarana transportasi.

Dalam mendukung penjangkauan terhadap masyarakat di wilayah kerjanya, Puskesmas juga memiliki jaringan dengan menyediakan Puskesmas Pembantu, Puskesmas Keliling, dan Bidan di Desa. Data dan informasi lebih rinci menurut provinsi mengenai pelayanan kesehatan ibu hamil K1 dan K4 terdapat pada Lampiran 23.a.

2. Pelayanan Imunisasi Tetanus Toksoid Difteri bagi Wanita Usia Subur dan Ibu Hamil

Infeksi tetanus merupakan salah satu penyebab kematian ibu dan kematian bayi. Kematian karena infeksi tetanus ini merupakan akibat dari proses persalinan yang tidak aman/steril atau berasal dari luka yang diperoleh ibu hamil sebelum melahirkan. Sebagai upaya mengendalikan infeksi tetanus yang merupakan salah satu faktor risiko kematian ibu dan kematian bayi, maka dilaksanakan program imunisasi Tetanus Toksoid Difteri (Td) bagi Wanita Usia Subur (WUS) dan ibu hamil. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 12 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Imunisasi mengamanatkan bahwa wanita usia subur dan ibu hamil merupakan salah satu kelompok populasi yang menjadi sasaran imunisasi lanjutan. Imunisasi lanjutan merupakan ulangan imunisasi dasar untuk mempertahankan tingkat kekebalan dan untuk memperpanjang usia perlindungan.

Wanita usia subur yang menjadi sasaran imunisasi Td berada pada kelompok usia 15-39 tahun yang terdiri dari WUS hamil (ibu hamil) dan tidak hamil. Imunisasi lanjutan pada WUS salah satunya dilaksanakan pada waktu melakukan pelayanan antenatal. Imunisasi Td pada WUS diberikan sebanyak 5 dosis dengan interval tertentu, berdasarkan hasil screening mulai saat imunisasi dasar bayi, lanjutan baduta, lanjutan BIAS serta calon pengantin atau pemberian vaksin mengandung “T”

pada kegiatan imunisasi lainnya. Pemberian dapat dimulai sebelum dan atau saat hamil yang berguna bagi kekebalan seumur hidup.

Screening status imunisasi Td harus dilakukan sebelum pemberian vaksin. Pemberian imunisasi Td tidak perlu dilakukan bila hasil screening menunjukkan wanita usia subur telah mendapatkan imunisasi Td5 yang harus dibuktikan dengan buku KIA, rekam medis, dan atau kohort.

Kelompok ibu hamil yang sudah mendapatkan Td2 sampai dengan Td5 dikatakan mendapatkan imunisasi Td2+. Gambar 5.5 memperlihatkan cakupan imunisasi Td5 pada wanita usia subur dan cakupan imunisasi Td2+ pada ibu hamil.

102 Profil Kesehatan Indonesia 2019 | Bab V. KESEHATAN KELUARGA

GAMBAR 5.5

CAKUPAN IMUNISASI Td1-Td5 PADA WANITA USIA SUBUR DI INDONESIA TAHUN 2019

Sumber: Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes RI, 2019

Pada gambar di atas diketahui cakupan imunisasi Td pada status Td1 sampai Td5 pada wanita usia subur tahun 2019 masih sangat rendah yaitu kurang dari 10% jumlah seluruh WUS.

Cakupan Td5 sebesar 8,02% dengan cakupan tertinggi di Provinsi Jawa Timur sebesar 51,61% dan terendah di Sumatera Utara sebesar 0,002%. Terdapat 4 provinsi yang belum melaporkan yaitu Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Utara.

GAMBAR 5.6

CAKUPAN IMUNISASI Td2+ PADA IBU HAMIL DI INDONESIA TAHUN 2019

Sumber: Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes RI, 2019

0,90 0,72 1,05 2,08

8,02

0 5 10 15 20

Td1 Td2 Td3 Td4 Td5

0,01

0,10 1,43 13,27 23,87 25,44 28,04 29,06 29,54 32,64 40,88 45,07 46,14 46,44 46,58 50,79 55,62 55,84 56,84 57,88 58,47 63,51 64,71 64,88 68,15 69,55 70,70 73,36 76,28 80,87 84,47 87,74 91,69 103,00 116,66

0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00 140,00

Kepulauan Bangka BelitungNusa Tenggara TimurNusa Tenggara BaratKalimantan TengahKalimantan SelatanSulawesi TenggaraKalimantan TimurSumatera SelatanKalimantan UtaraKalimantan BaratSulawesi SelatanSulawesi TengahSumatera UtaraKepulauan RiauSumatera BaratSulawesi UtaraSulawesi BaratMaluku UtaraDI YogyakartaJawa TengahPapua BaratJawa TimurINDONESIADKI JakartaJawa BaratGorontaloLampungBengkuluMalukuBantenPapuaJambiAcehRiauBali

Profil Kesehatan Indonesia 2019 | Bab V. KESEHATAN KELUARGA 103 Cakupan imunisasi Td2+ pada ibu hamil tahun 2019 sebesar 64,88%, lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun 2018 yang sebesar 51,76%, juga lebih rendah sekitar 23,66%

dibandingkan dengan cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil K4 yang sebesar 88,54%, sementara Td2+ merupakan syarat pelayanan kesehatan ibu hamil K4.

Provinsi Sulawesi Tengah, Jawa Barat, Banten, dan DI Yogyakarta memiliki capaian imunisasi Td2+ pada ibu hamil tertinggi di Indonesia. Sedangkan provinsi dengan capaian terendah yaitu Kepulauan Bangka Belitung (0,01%), Sumatera Utara (0,10%), Kalimantan Timur (1,43%), dan Papua Barat (13,27%). Informasi lebih rinci mengenai imunisasi Td pada wanita usia subur dan ibu hamil dapat dilihat pada Lampiran 24 - 25.

3. Pemberian Tablet Tambah Darah pada Ibu Hamil

Anemia pada ibu hamil dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur, kematian ibu dan anak, serta penyakit infeksi. Anemia defisiensi besi pada ibu dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin/bayi saat kehamilan maupun setelahnya. Hasil Riskesdas 2018 menyatakan bahwa di Indonesia sebesar 48,9% ibu hamil mengalami anemia. Sebanyak 84,6% anemia pada ibu hamil terjadi pada kelompok umur 15-24 tahun. Untuk mencegah anemia setiap ibu hamil diharapkan mendapatkan tablet tambah darah (TTD) minimal 90 tablet selama kehamilan.

Cakupan pemberian TTD pada ibu hamil di Indonesia tahun 2019 adalah 64,0%. Angka ini belum mencapai target Renstra tahun 2019 yaitu 98%. Provinsi dengan cakupan tertinggi pemberian TTD pada ibu hamil adalah Sulawesi Utara (100,1%), sedangkan provinsi dengan cakupan terendah adalah Sulawesi Selatan (1,7%). Terdapat satu provinsi yang sudah melampaui target Renstra tahun 2019 dan satu Provinsi tidak melaporkan data cakupan pemberian tablet tambah darah pada ibu hamil (Papua Barat). Cakupan pemberian TTD pada ibu hamil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 27.a.

104 Profil Kesehatan Indonesia 2019 | Bab V. KESEHATAN KELUARGA

GAMBAR 5.7

CAKUPAN PEMBERIAN TABLET TAMBAH DARAH (TTD) PADA IBU HAMIL MENURUT PROVINSI TAHUN 2019

Sumber: Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI 2020

4. Pelayanan Kesehatan Ibu Bersalin

Selain pada masa kehamilan, upaya lain yang dilakukan untuk menurunkan kematian ibu dan kematian bayi yaitu dengan mendorong agar setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih yaitu dokter spesialis kebidanan dan kandungan (SpOG), dokter umum, dan bidan, dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan. Keberhasilan program ini diukur melalui indikator persentase persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan.

Dalam rangka menjamin ibu bersalin mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar, sejak tahun 2015 setiap ibu bersalin diharapkan melakukan persalinan dengan ditolong oleh tenaga kesehatan yang kompeten di fasilitas pelayanan kesehatan. Oleh sebab itu, Rencana Strategis Kementerian Kesehatan tahun 2015-2019 menetapkan persalinan ditolong tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan (PF) sebagai salah satu indikator upaya kesehatan keluarga, menggantikan indikator pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan (PN).

Gambar 5.8 menyajikan cakupan persalinan ditolong tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan di 34 provinsi di Indonesia tahun 2019.

1,7 6,5 8,2 8,8 18,3 23,7 48,7 53,4 56,7 59,9 60,2 61,3 64,0 65,0 65,6 66,6 77,0 77,6 79,6 80,5 81,8 83,0 84,4 87,2 87,7 88,8 89,3 89,7 90,7 92,0 92,6 94,5 95,4 100,1

0,0 20,0 40,0 60,0 80,0 100,0 120,0

Sulawesi Selatan Kalimantan TengahKalimantan TimurSumatera UtaraMaluku UtaraJawa TengahJawa TimurDKI JakartaPapuaAceh Nusa Tenggara TimurKalimantan SelatanSulawesi TenggaraKalimantan UtaraSulawesi TengahSumatera BaratSulawesi BaratDI YogyakartaGorontaloBengkuluMalukuRiau Kepulauan Bangka BelitungNusa Tenggara BaratSumatera SelatanKalimantan BaratKepulauan RiauSulawesi UtaraINDONESIAJawa BaratLampungBantenJambiBali

Target

Renstra Tahun 2019: 98%

Profil Kesehatan Indonesia 2019 | Bab V. KESEHATAN KELUARGA 105

GAMBAR 5.8

CAKUPAN PERSALINAN DI FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2019

Sumber : Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, 2020

Pada tahun 2019 terdapat 90,95% persalinan yang ditolong tenaga kesehatan. Sementara

Pada tahun 2019 terdapat 90,95% persalinan yang ditolong tenaga kesehatan. Sementara

Dalam dokumen PROFIL KESEHATAN INDONESIA TAHUN 2019 (Halaman 122-0)

Dokumen terkait