• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I. PENDAHULUAN

B. Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

Jaminan Kesehatan adalah jaminan perlindungan kesehatan agar peserta

memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi

kebutuhan dasar kesehatan. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan

(BPJS Kesehatan) adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan

program Jaminan Kesehatan (Depkes, 2014b).

Peserta JKN terdiri dari warga negara Indonesia dan warga negara asing

yang bekerja di Indonesia paling singkat enam bulan dan anggota keluarganya.

Peserta JKN juga dibedakan menjadi peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) dan

peserta bukan Penerima Bantuan Iuran (non PBI). Peserta PBI adalah orang yang

tergolong fakir miskin dan orang tidak mampu. Peserta non PBI adalah para

12

TNI, anggota polri, pejabat negara, pegawai pemerintah non pegawai negeri,

pegawai swasta, dan lain-lain), para pekerja bukan penerima upah dan anggota

keluarganya (pekerja di luar hubungan kerja atau pekerja mandiri, dan lain-lain

pekerja bukan penerima upah), dan bukan pekerja beserta keluarganya (investor,

pemberi kerja, penerima pensiun, veteran, perintis kemerdekaan) (Depkes,

2014b).

Fasilitas kesehatan wajib menyediakan pelayanan obat, alat kesehatan, dan

bahan medis habis pakai. Pelayanan obat, alat kesehatan, dan bahan medis habis

pakai yang dibutuhkan pasien peserta JKN diberikan sesuai dengan indikasi

medis. Pelayanan obat, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai pada fasilitas

kesehatan rujukan tingkat lanjutan merupakan salah satu komponen yang

dibayarkan dalam paket INA-CBG’s. Pelayanan obat yang sudah termasuk dalam

paket INA-CBG’s dan mengacu pada Formularium Nasional, tidak dapat

ditagihkan tersendiri kepada BPJS Kesehatan serta tidak dapat dibebankan kepada

peserta. Obat yang dibutuhkan sesuai indikasi medis pada fasilitas kesehatan

rujukan tingkat lanjutan yang tidak tercantum dalam Formularium Nasional, dapat

digunakan obat lain berdasarkan persetujuan Komite Medik dan Kepala/Direktur

Rumah Sakit (Depkes RI, 2014b).

1. Tarif Indonesian–Case Based Groups (INA-CBG’s)

Penentuan tarif untuk Jaminan Kesehatan Nasional diatur dalam

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 59 tahun 2014

13

Jaminan Kesehatan. Permenkes ini mengatur standar tarif untuk Fasilitas

Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dan Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat

Lanjutan (FKRTL). Untuk FKTP, standar tarif yang berlaku adalah Tarif

Kapitasi dan Tarif Non Kapitasi. Tarif Kapitasi adalah besaran pembayaran

perbulan yang dibayar dimuka oleh BPJS Kesehatan kepada FKTP

berdasarkan jumlah peserta yang terdaftar tanpa memperhitungkan jenis dan

jumlah pelayanan kesehatan yang diberikan. Tarif Non Kapitasi adalah

besaran pembayaran klaim oleh BPJS Kesehatan kepada FKTP

berdasarkanjenis dan jumlah pelayanan kesehatan yang diberikan.Untuk

FKRTL, tarif yang berlaku adalah tarif Indonesian–Case Based Groups

(INA-CBG’s), yaitu besaran pembayaran klaim oleh BPJS Kesehatan atas

paket layanan yang didasarkan pada pengelompokan diagnosis penyakit dan

prosedur sesuai dengan pembagian regional dan kelas rumah sakit. Sebagai

contoh Tarif INA-CBG’s untuk regional 1 rumah sakit kelas B adalah sebagai

berikut:

Tabel 2.1: Contoh Tarif INA-CBG 2014 Regional 1 Rumah Sakit Kelas B Rawat Inap

Kode Deskripsi Kode INA-CBG Tarif Kelas 3

Tarif Kelas 2

Tarif Kelas 1 I-4-17-I Hipertensi ringan 3.502.000 4.202.400 4.902.800 I-4-17-II Hipertensi sedang 4.747.500 5.697.000 6.646.500 I-4-17-III Hipertensi berat 5.761.900 6.914.300 8.066.700 I-4-20-I Angina pektoris dan nyeri dada ringan 4.026.000 4.831.200 5.636.400 I-4-20-II Angina pektoris dan nyeri dada sedang 4.626.800 5.552.200 6.477.500 I-4-20-III Angina pektoris dan nyeri dada berat 6.148.200 7.377.800 8.607.400 Sumber: Permenkes Nomor 59 Tahun 2014

Pemberian obat dalam layanan JKN ditentukan pula dalam Permenkes

14

bulan sesuai indikasi medis. Obat yang menjadi bagian dari paket INA-CBG’s,

diberikan minimal 7 (tujuh) hari danbila diperlukan tambahan hari pengobatan,

obat diberikan terpisahdiluar paket INA-CBG’s dan obat yang diberikan harus

tercantum pada FormulariumNasional. Untuk penyakit Diabetes Melitus,

hipertensi, jantung, asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), epilepsi,

gangguan kesehatan jiwa kronik, stroke, dan Sistemik Lupus Eritematosus

(SLE) dan penyakit kronis lain yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan

berlaku obat program rujuk balik (Depkes RI, 2014b).

2. Formularium Nasional

Pelayanan JKN memerlukan obat-obatan yang aman, berkhasiat,

bermutu, dan terjangkau dalam jenis dan jumlah yang cukup. Untuk tujuan

tersebut, disusun suatu daftar obat dalam bentuk Formularium Nasional.

Formularium ini ditetapkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik

Indonesia Nomor 328/Menkes/SK/VIII/2013 tentang Formularium Nasional.

Formularium Nasional mengatur ketentuan obat-obatan yang digunakan

dalam JKN. Formularium Nasional merupakan daftar obat terpilih yang

dibutuhkan dan harus tersedia di fasilitas pelayanan kesehatan sebagai acuan

dalam pelaksanaan JKN. Obat yang dibutuhkan yang tidak tercantumdalam

Formularium Nasional dapat digunakan secara terbatas berdasarkan

persetujuan komite medik dan direktur rumah sakit setempat (Depkes RI,

2013a). Obat-obatan dalam Formularium Nasional dibagi menjadi 29 kelas

15

nama generik obat, sediaan, kekuatan, dan restriksi penggunaan, serta fasilitas

kesehatan yang harus menyediakannya.

3. Pengadaan Obat JKN

Proses pengadaan obat JKN dilakukan dengan sistem E-Catalogue

secara elektronik. Sistem ini diatur dalam Permenkes Nomor 48 tahun 2013

tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Obat dengan Prosedur E-Purchasing

berdasarkan E-Catalogue. Penerapan sistem ini bertujuan untuk meningkatkan

transparansi dalam proses pengadaan obat, meningkatkan persaingan yang

sehat dalam penyediaan layanan publik dan penyelenggaraan pemerintahan

yang baik, serta meningkatkan efektifitas dan efisiensi dalam pengelolaan

proses pengadaan obat.

Pengadaan obat yang tersedia dalam daftar di sistem E-Catalogue obat

dilakukan dengan prosedur E-Purchasing. E-Purchasing merupakan tata cara

pembelian barang/jasa melalui sistem E-Catalogue obat. E-Catalogue adalah

sistem informasi elektronik yang memuat daftar, jenis, spesifikasi teknis dan

harga obat dari berbagai penyedia barang/jasa tertentu.

Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk pengadaan

Purchasing. Untuk dapat melakukan pengadaan obat dengan sistem E-Purchasing, suatu instansi harus terlebih dahulu terdaftar di aplikasi Sistem

Pengadaan Secara Elektronik (SPSE) di website Layanan Pengadaan Secara

Elektonik (LPSE). Selanjutnya instansi mendapatkan login untuk melakukan

16

dengan menyiapkan undangan negosiasi, berita acara proses negosiasi,

permintaan pembelian, dan perjanjian pembelian (Depkes RI, 2013b).

Dokumen terkait