• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PROSES PENYERAHAN JAMINAN SEBAGAI PELUNASAN

C. Macam-Macam Jaminan Kredit

Jaminan dapat dibedakan menjadi dua yaitu jaminan umum dan jaminan khusus. Dalam Pasal 1131 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) mencerminkan suatu jaminan umum, sedangkan Pasal 1132 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) disamping sebagai kelanjutan dan penyempurnaan Pasal 1131 yang menegaskan persamaan kedudukan para kreditor, juga memungkinkan diadakannya suatu jaminan khusus apabila diantara kreditor ada alasan-alasan yang sah untuk didahulukan dan hal ini dapat terjadi karena ketentuan Undang-Undang maupun karena diperjanjikan.55

1. Jaminan Umum

Dalam Pasal 1131 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) yang menyatakan bahwa “Segala kebendaan si berhutang, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada dikemudian hari, menjadi tanggungan untuk segala perikatan perseorangan”. Sedangkan dalam Pasal 1132 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyatakan bahwa “Kebendaan tersebut menjadi jaminan bersama-sama bagi semua orang yang

mengutangkan padanya, pendapatan penjualan benda-benda itu dibagi-bagi menurut keseimbangan, yaitu menurut besar kecilnya piutang masing-masing kecuali apabila diantara para berpiutang itu ada alasan-alasan yang sah untuk didahulukan”.

Dari isi Pasal tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa jaminan umum adalah jaminan yang diberikan bagi kepentingan semua kreditor dan menyangkut semua harta kekayaan debitor. Hal ini berarti benda jaminan tidak diperuntukkan bagi kreditor tertentu dan dari hasil penjualannya dibagi diantara para kreditor seimbang dengan piutang-piutang masing-masing, karena jaminan umum menyangkut seluruh harta benda debitor maka ketentuan Pasal 1131 KUH Perdata dapat menimbulkan dua kemungkinan yaitu pertama adalah kebendaan tersebut sudah cukup memberikan jaminan kepada kreditor jika kekayaan debitor paling sedikit (minimal) sama ataupun melebihi jumlah hutang-hutangnya artinya hasil bersih penjualan harta kekayaan debitor dapat menutupi atau memenuhi seluruh hutang-hutangnya, sehingga semua kreditor akan menerima pelunasan piutang masing-masing karena pada prinsipnya semua kekayaan debitor dapat dijadikan pelunasan hutang.

Kemungkinan kedua adalah, harta benda debitor tidak cukup memberikan jaminan kepada kreditor dalam hal nilai kekayaan debitor itu kurang dari jumlah hutang-hutangnya atau bila pasivanya melebihi aktivanya. Hal ini dapat terjadi mungkin karena harta kekayaannya menjadi berkurang nilainya atau apabila harta kekayaan debitor dijual kepada pihak ketiga sementara hutang-hutangnya belum dibayar lunas atau dapat juga terjadi ada lebih dari seorang kreditor melaksanakan

eksekusi, sementara nilai kekayaan debitor hanya cukup untuk menutupi satu piutang kreditor. Jika hanya ada satu kreditor saja, maka ia dapat melaksanakan eksekusi atas kekayaan debitor secara bertahap sampai piutangnya terlunasi semuanya atau sampai harta benda debitor habis terjual.

Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa jaminan umum mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

a. Para kreditor mempunyai kedudukan yang sama atau seimbang, artinya tidak ada yang lebih didahulukan dalam pemenuhan piutangnya dan disebut sebagai kreditor yang konkuren.

b. Ditinjau dari sudut haknya, para kreditor konkuren mempunyai hak yang bersifat perorangan, yaitu hak yang hanya dapat dipertahankan terhadap orang tertentu.

c. Jaminan umum timbul karena undang-undang, artinya antara para pihak tidak diperjanjikan terlebih dahulu. Dengan demikian para kreditor konkuren secara bersama-sama memperoleh jaminan umum berdasarkan undang-undang. 2. Jaminan Khusus

Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan yang ada pada jaminan umum, Undang-Undang memungkinkan diadakannya jaminan khusus. Hal ini tersirat dari Pasal 1132 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) yang berbunyi “Kebendaan tersebut menjadi jaminan bersama-sama bagi orang yang mengutangkan padanya, pendapatan penjualan benda-benda itu dibagi-bagi menurut keseimbangan,

yaitu menurut besar kecilnya piutang masing-masing kecuali apabila di antara para piutang itu ada alasan-alasan yang sah didahulukan”. Dengan demikian Pasal 1132 mempunyai sifat mengatur/ mengisi/ melengkapi (aanvullendrecht) karena para pihak diberi kesempatan untuk membuat perjanjian yang menyimpang. Dengan kata lain ada kreditor yang diberikan kedudukan yang lebih didahulukan dalam pelunasan hutangnya dibanding kreditor-kreditor lainnya. Kemudian Pasal 1133 Kitab Undang- Undang Hukum Perdata memberikan pernyataan yang lebih tegas lagi yaitu “Hak untuk didahulukan diantara orang-orang berpiutang terbit dari hak istimewa, dari gadai, dan dari hipotik”.

Jaminan Khusus dapat dibedakan menjadi dua yaitu jaminan perorangan dan jaminan kebendaan. Jaminan perorangan dapat dilakukan melalui perjanjian penanggungan misalnya borgtocht, garansi dan lain sebagainya sedangkan jaminan kebendaan dapat dilakukan melalui gadai, fidusia, hipotik, dan lain sebagainya. Jaminan Perorangan adalah suatu perjanjian antara seorang berpiutang atau kreditor dengan seorang ketiga yang menjamin dipenuhinya kewajiban-kewajiban si berhutang atau debitor.

Adapun ciri-ciri dari jaminan perorangan antara lain: a. Mempunyai hubungan langsung dengan orang tertentu. b. Hanya dapat dipertahankan terhadap debitor tertentu.

c. Seluruh harta kekayaan debitor menjadi jaminan pelunasan hutang misalnya

d. Menimbulkan hak perseorangan yang mengandung asas kesamaan atau keseimbangan (konkuren) artinya tidak membedakan mana piutang yang terjadi lebih dahulu dan mana piutang yang terjadi kemudian. Dengan demikian tidak mengindahkan urutan terjadinya karena semua kreditor mempunyai kedudukan yang sama terhadap harta kekayaan debitor.

e. Jika suatu saat terjadi kepailitan, maka hasil penjualan dari benda-benda jaminan dibagi di antara para kreditor seimbang dengan besarnya piutang masing-masing.

D. Syarat-syarat dan Manfaat Benda Jaminan Kredit

Pada prinsipnya tidak semua benda jaminan dapat dijaminkan pada lembaga perbankan dan lembaga keuangan non bank, namun benda yang dapat dijaminkan adalah benda-benda yang memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat benda jaminan yang baik adalah:56

1. Dapat secara mudah membantu perolehan kredit itu oleh pihak yang memerlukannya.

2. Tidak melemahkan potensi (kekuatan) si pencari kredit untuk melakukan atau meneruskan usahanya.

3. Memberikan kepastian kepada si kreditor, dalam arti bahwa barang jaminan setiap waktu bersedia untuk dieksekusi, bila perlu dapat mudah diuangkan untuk melunasi hutangnya si penerima (pengambil) kredit.

Jaminan mempunyai kedudukan dan manfaat yng sangat penting dalam menunjang pembangunan ekonomi. Karena keberadaan lembaga ini dapat memberikan manfaat bagi kreditor dan debitor. Manfaat bagi kreditor adalah:

a. Terwujudnya keamanan terhadap transaksi dagang yang tutup. b. Memberikan kepastian hukum bagi kreditor.

Bagi debitor dengan adanya benda jaminan dapat memperoleh fasilitas kredit dari bank dan tidak khawatir dalam mengembangkan usahanya. Keamanan modal adalah dimaksudkan bahwa kredit atau modal yang diserahkan oleh kreditor kepada debitor tidak merasa takut atau khawatir tidak dikembalikannya modal tersebut. Memberikan kepastian hukum adalah memberikan kepastian bagi pihak kreditor dan debitor.

Kepastian bagi kreditor adalah kepastian untuk menerima pengembalian pokok kredit dan bunga dari debitor, sedangkan bagi debitor adalah kepastian untuk mengembalikan pokok kredit dan bunga yang ditentukan. Di samping itu, bagi debitor adalah adanya kepastian dalam berusaha, karena dengan modalnya yang dimilikinya dapat mengembangkan bisnisnya lebih lanjut. Apabila debitor tidak mampu dalam mengembalikan pokok kredit dan bunga, maka debitor tersebut

dianggap wanprestasi dan dikategorikan sebagai kredit bermasalah sehingga kreditur dapat melakukan eksekusi terhadap benda jaminan.

E. Proses Penyerahan Jaminan sebagai Pelunasan Kredit pada PT. Bank Danamon Indonesia Tbk. Kantor Wilayah VI Medan.

Dalam rangka penyelesaian kredit macet melalui restrukturisasi kredit, terlebih dahulu bank berupaya melakukan pembinaan terhadap debitor yang sudah mulai tidak melaksanakan kewajibannya sesuai dengan ketentuan tentang kemampuan bayar sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran 1 Surat Edaran Bank Indonesia No. 7/3/DPNP tanggal 31 Januari 2005 tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum (Bagian Lampiran).

Pembinaan dan penyelesaian kredit bermasalah dilakukan berdasarkan peraturan Bank Indonesia dan Surat Edaran Bank Indonesia tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum. Oleh karena itu PT. Bank Danamon Indonesia Tbk menyusun standard operasional tentang perkreditan dan restrukturisasi kredit. Untuk restrukturisasi kredit dimasukkan dalam Standard Operasional dan Prosedur Perkreditan dan Standard Operasional Penilaian Kualitas Aktiva PT. Bank Danamon Indonesia Tbk. di dalam standar operasional dan prosedur perkreditan bagian pembinaan dan penyelesaian kredit bermasalah ditetapkan bahwa untuk kredit yang termasuk ke dalam kolektibillitas kurang lancar, tidak lancar, diragukan dan macet menjadi tugas dan tanggung jawab bagian pembinaan dan penyelesaian kredit PT. Bank Danamon Indonesia Tbk. .

Untuk mengetahui tentang proses penyelesaian kredit macet yang dilakukan oleh PT. Bank Danamon Indonesia Tbk melalui pengambilalihan agunan, terlebih dahulu diketahui tentang unit kerja yang berwenang dan bertanggung jawab untuk melakukan penyelesaian kredit bermasalah tersebut.

Berdasarkan standard operasional dan prosedur yang dimiliki oleh PT. Bank Danamon Indonesia Tbk, pembinaan dan penyelesaian kredit dilakukan oleh tiga bagian, yaitu:

1. Unit Early Warning Officer(EWO) yang betugas untuk melakukan observasi dan evaluasi pertama sejak adanya indikasi kredit bermasalah, menentukan apakah debitor masih mempunyai kemampuan untuk mempertahankan kreditnya atau sama sekali tidak mampu lagi untuk meneruskan kreditnya (no hope).

2. Unit Rehabilitation yang bertugas untuk melakukan pembinaan dan penyelamatan kredit.

3. Unit penyelesaian kredit bermasalah/ Recovery, yang bertugas untuk menyelesaikan kredit bermasalah sampai kredit bermasalah tersebut lunas/ selesai.

Divisi Early Warning Officer (EWO) bertugas menentukan divisi yang berkompeten untuk menangani kredit bermasalah, bila masih ada kemungkinan bagi debitor untuk mempertahankan kreditnya tetap eksis, maka akan dilakukan penyelamatan kredit dengan mengalihkan penanganannya kepada unit rehabilitation

supaya dilakukan pembinaan dan penyelamatan kredit, dan apabila menurut penilaian unit EWO tidak ada lagi kemampuan bayar (no hope) maka penanganannya akan diserahkan kepada unit penyelesaian kredit bermasalah/ Recovery agar dilakukan upaya penyelesaian kredit/ pelunasan kredit.

Dari ketiga bagian ini, pembinaan dan penyelesaian kredit, unit Recovery

merupakan pemegang peranan luas dalam melakukan upaya penyelesaian kredit dan langsung berhubugan dengan debitor, lembaga peradilan, instansi Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL), instansi-instansi pemerintah yang terkait, para profesional, seperti penilai independen, notaris, Balai Lelang Swasta, dan pihak lainnya.

Secara garis besar tujuan penyelesaian kredit macet pada PT. Bank Danamon Indonesia Tbk melalui pengambilalihan jaminan debitor adalah:57

1. Untuk mengatasi kredit bermasalah pada PT. Bank Danamon Indonesia Tbk terhadap debitor yang sudah tidak memiliki prospek usaha yang performance

yang menjanjikan.

2. Untuk mempercepat dan mempermudah proses penyelesaian kredit, karena hal ini dilakukan berdasarkan kesepakatan antara bank dengan debitor.

3. Dengan semakin cepatnya penyelesaian/ pelunasan kredit macet debitor, maka dana pelunasan kredit tersebut dapat segera disalurkan kembali dalam bentuk kredit kepada masyarakat.

57Hasil Wawancara dengan Bp. Suran Sembiring,RecoveryManager di PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk. tanggal 10 Desember 2011.

4. Untuk mengantisipasi segala akibat yang timbul dalam waktu dekat akibat jumlah kredit macet yang mungkin saja bisa meningkat.

Dalam prakteknya, bagian penyelesaian kredit bermasalah/ Recovery PT. Bank Danamon Indonesia Tbk. melakukan penyelesaian kredit macet melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:58

1. Melakukan kordinasi dengan unit kerja terkait, yaitu unit Early Warning, unit

Rehabilitation, unit Bisnis selaku penyalur kredit, dan unit Credit Support Administration (CSA) selaku unit penanggung jawab pengarsipan dokumentasi seluruh data-data debitor. Divisi Recovery akan memperoleh data-data dan informasi debitor bermasalah dari divisi tersebut.

2. Recovery akan melakukan review dan analisa terhadap seluruh data-data debitor termasuk perjanjian kredit dan perjanjian jaminan debitor, usaha debitor, objek jaminan.

3. Dari hasil review dan analisa, maka akan dilakukan langkah-langkah penyelesaian kredit yaitu: penyelesaian secara non litigasi atau dengan cara litigasi.

4. Sebagai upaya penyelesaian kredit bermasalah yang pertama sekali dilakukan adalah upaya penyelesaiannonlitigasi; dengan cara negosiasi dan pendekatan kekeluargaan dengan debitor supaya dilakukan penyelesaian kredit tersebut secara baik-baik dan lebih cepat sehingga debitor tidak terlalu berat untuk

58Hasil Wawancara dengan Bp. Benny Nainggolan,Recovery Officerdi PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk. tanggal 11 Desember 2011.

membayar kewajibannya yaitu hutang pokok ditambah tunggakan bunga serta denda yang semakin tinggi. Dalam negosiasi yang paling sering ditawarkan kepada debitor adalah sebagai berikut:

a. Memberikan tenggang waktu kepada debitor untuk menyelesaikan kredit bermasalah/ kredit macet tersebut, biasanya satu sampai dengan tiga bulan bahkan bisa mencapai enam bulan tergantung kepada keyakinan dan pertimbangan bank sesuai alasan-alasan yang disampaikan oleh debitor, biasanya tenggang waktu yang lama apabila upaya yang diberikan bank adalah kesempatan kepada debitor untuk melakukan penjualan sendiri jaminan tersebut atauassetlainnya milik debitor.

b. Menyarankan debitor supaya mencari bantuan dana dari pihak lain seperti keluarga atau relasi bisnis.

c. Melakukan penjualan terhadap jaminan kredit atau asset lain milik debitor.

d. Memberikan tawarandiscountbunga dan denda. e. Restructuredengan cara pembayaran bertahap.

f. Menyerahkan kepemilikan jaminan kredit tersebut secara sukarela kepada bank, dengan cara:

1) Melakukan pengalihan hak kepemilikan jaminan kepada bank dengan menandatangani “Pengikatan Diri Untuk Melakukan Jual Beli” secara notariil dan dilanjutkan dengan “Akta Jual Beli di hadapan PPAT”,

dalam hal ini biasanya sebagai pembeli adalah karyawan bank yang ditunjuk oleh bank.

2) Memberikan surat kuasa jual kepada bank, dalam hal ini biasanya sebagai penerima kuasa adalah karyawan bank.

5. Apabila upaya penyelesaian kredit non litigasi gagal maka akan dilakukan upaya penyelesaian kredit macet melalui eksekusi hak tanggungan yang diproses melalui:

a. Pengadilan Negeri (Fiat Eksekusi) bila ada kehawatiran adanya gugatan dari debitor/ pemilik jaminan terhadap Bank yang berkaitan dengan kredit debitor tersebut.

b. Permohonan Lelang dilakukan langsung ke KPKNL (parate eksekusi). Proses eksekusi hak tanggungan melalui Pengadilan Negeri akan menghabiskan waktu yang lama mulai dari tahapan Aanmaning, Sita Eksekusi dan pelaksanaan lelang di samping itu biaya yang cukup mahal. Sedangkan pelaksanaan lelang berdasarkan parate eksekusi jauh lebih hemat waktu dan biaya yang relatif murah bila dibandingkan dengan fiat eksekusi.

Proses eksekusi hak tanggungan dapat merugikan bank bila prosesnya berlangsung lama, sedangkan di sisi lain PT. Bank Danamon Indonesia Tbk dalam jangka waktu yang singkat harus berusaha mengatasi jumlah kredit macet yang kemungkinan saja bisa meningkat sewaktu-waktu.

Salah satu alternatif penyelesaian kredit bermasalah pada PT.Bank Danamon Indonesia, Tbk. adalah dengan cara mengambil alih jaminan kredit dengan cara:

1. Bank Membeli barang jaminan tersebut melalui pelelangan Umum

2. Bank menerima penyerahan secara sukarela dari debitor/ pemilik jaminan. Pengambilalihan kepemilikan jaminan yang dimaksud disini adalah sebagai penyelesaian kredit dengan menyerahkan jaminan kepada bank, upaya ini dilakukan apabila debitor gagal untuk menyelesaikan kredit bermasalah tersebut sesuai dengan tenggang waktu yang telah diberikan oleh bank. Adapun pengambil alihan jaminan kredit tersebut dilakukan oleh bank sebagai salah satu cara untuk mempercepat penyelesaian kredit bermasalah dalam rangka untuk melakukan percepatan penurunan kredit bermasalah (Non Performing Loan). Namun tidaklah semua kredit bermasalah/ kredit macet dilakukan penyelesaiannya dengan cara mengambil alih jaminan, namun pihak bank melakukan dengan cara yang sangat terbatas dan cukup selektif, biasanya dapat dilakukan dengan beberapa alasan seperti: debitor sudah berupaya secara maksimal untuk melakukan penjualan sendiri jaminan dan mencari sumber dana namun tidak berhasil.

Proses tahapan pelunasan kredit dengan menyerahkan jaminan pada PT.Bank Danamon Indonesia Tbk. adalah sebagai berikut:

1. Bank dari unit Recovery mengadakan pertemuan dengan debitor untuk mendiskusikan upaya pelunasan hutang debitor tersebut dengan cara penyelesaian kredit debitor dengan cara menyerahkan hak kepemilikan objek

jaminan kepada bank. rencana penyelesaian kredit dengan menyerahkan jaminan tersebut harus terlebih dahulu disepakati hal-hal sebagai berikut: a. Jumlah hutang yang harus diselesaikan/ dilunasi oleh debitor.

b. Besarnya nilai ambil alih jaminan/ agunan kredit tersebut.

c. Cara yang dilakukan untuk penyerahan hak kepemilikan jaminan tersebut kepada bank.

d. Biaya-biaya yang akan timbul seperti honorarium notaris, pajak, roya, biaya balik nama, PBB tertunggak.

2. Apabila dari hasil pertemuan tersebut dihasilkan kesepakatan pelunasan kredit dengan cara menyerahkan hak kepemilikannya kepada bank, maka unit

Recovery akan meminta persetujuan kepada divisi Recovery PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk. kantor pusat di Jakarta, dan setelah mendapat persetujuan maka bank akan menerbitkan surat persetujuan (offering letter) kepada debitor yang isi surat persetujuan tersebut sesuai dengan syarat-syarat yang telah diputuskan oleh divisiRecoveryPT.Bank Danamon Indonesia,Tbk. kantor pusat di Jakarta.

3. Setelah debitor menyetujui offering letter tersebut maka akan ditetapkan hari dan tanggal dilakukannya penandatanganan perjanjian dalam bentuk akta-

akta notaris59, adapun perjanjian yang dibuat antara debitor dengan bank adalah sebagai berikut:

a. Akta Perjanjian Penyelesaian Hutang Dengan Penyerahan Jaminan, yang berisi sebagai berikut:

1) Pengakuan debitor tentang jumlah hutang debitor sampai dengan tanggal ditandatanganinya akta perjanjian penyelesaian hutang dengan penyerahan jaminan tersebut.

2) Rincian Jaminan kredit debitor

3) Pengakuan debitor bahwa tidak sanggup lagi untuk melakukan pembayaran kredit kepada bank sebagaimana mestinya sesuai dengan ketentuan dan persyataran dalam akta perjanjian kredit.

4) Jumlah hutang yang harus diselesaikan.

5) Nilai/ harga objek jaminan yang diserahkan oleh debitor/ pemilik jaminan kepada bank.

b. Akta Perjanjian Pengikatan Untuk Melakukan Jual Beli.

Dilakukan antara debitor dengan Bank, dalam hal ini pihak bank akan menunjuk karyawannya untuk menandatangani akta perjanjian pengikatan untuk melakukan jual beli tersebut, adapun dasar karyawan tersebut untuk

59 Sebelum dilakukan penandatanganan perjanjian pelunasan kredit dengan penyerahan jaminan dan penandatanganan perjanjian pengikatan jual beli, bank terlebih dahulu akan melakukan check bersih terhadap jaminan tersebut di Badan Pertanahan Nasional setempat untuk memastikan sertifikat jaminan tersebut terdaftar di BPN dan terbebas dari silang sengketa serta masalah lainnya.

bertindak adalah adanya surat penunjukan yang diterbitkan oleh bank kepada karyawan tersebut, yang isinya:

1) Karyawan tersebut ditunjuk untuk membeli barang agunan milik debitor.

2) Harga jual beli telah ditetapkan.

3) Bahwa uang pembelian asset dan/ atau biaya lainnya yang telah dan akan dikeluarkan di kemudian hari adalah uang milik Bank Danamon sepenuhnya, dengan demikian asset tersebut adalah milik Bank Danamon.

4) Segala hasil/ keuntungan yang diperoleh maupun segala kerugian- kerugian yang timbul dari dan selama namanya dipinjam tersebut menjadi hak dan resiko pada PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk. baik untuk saat ini atau di kemudian hari.

5) Karyawan tersebut tidak akan mempersulit dan wajib membantu bank sepenuhnya di dalam melaksanakan penjualan asset tersebut di kemudian hari.

6) Bank membebaskan karyawan tersebut dan ahli warisnya dari segala tuntutan, gugatan dari pihak manapun, kelak di kemudian hari.

7) Segala biaya-biaya yang timbul sehubungan dengan jual beli tersebut akan ditanggung oleh bank termasuk biaya-biaya pasca pembelian tersebut.

Sebagai bukti bahwa asset yang diambil alih dari debitor tersebut adalah milik Bank Danamon adalah surat penunjukan yang diterbitkan oleh Bank Danamon kepada karyawan sebagaimana yang telah diuraikan di atas dan adanya kewajiban dari karyawan yang ditunjuk tersebut untuk membuat surat pernyataan yang isinya sebagai berikut:

1) Bahwa tanah berikut dengan segala sesuatu yang terdapat di atasnya, baik yang sekarang ada ataupun yang di kemudian hari akan ada/ dibangun di atasnya, yang menurut sifatnya atau menurut peraturan hukum (undang-undang) dianggap sebagai benda-benda tetap, berikut semua turutan tanah tersebut, sebagaimana dimaksud dengan tanah dan/ atau bangunan adalah sepenuhnya dibeli/ diperoleh dengan uang dari PT Bank Danamon Indonesia Tbk. yang berkedudukan di Jakarta dan karenanya sepenuhnya merupakan/ menjadi milik bank (asset

bank).

2) Karyawan yang ditunjuk tidak akan mempersulit dan wajib membantu Bank sepenuhnya di dalam melaksanakan penjualanassetbank.

3) Apabila saat ini atau dikemudian hari terhadap surat-surat/ dokumen- dokumen termasuk dipinjamnya asli sertipikat tanah, maka hal-hal yang terkait denganassetbank seperti IMB (jika ada) dan SPPT PBB, akan dikembalikan kepada Bank.

4) Karyawan tidak bertanggung jawab secara pribadi atau keluarga/ ahli warisnya jikalau untuk saat ini atau di kemudian hari atau sebelum/ setelah dilakukan ambil alih ternyata ada kewajiban yang tertunggak belum diselesaikan kepada negara atau instansi/ kantor yang dinyatakan berwenang untuk melakukan/ menerima penagihan/ pembayaran seperti terhadap tagihan listrik, PAM, telephone, internet , iuran keamanan/ kebersihan, asuransi kebakaran, Pajak Bumi dan Bangunan, Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), dan pajak-pajak atau biaya-biaya lainnya.

5) Jika untuk saat ini atau di kemudian hari ternyata karyawan lalai atau sekurang-kurangnya tidak melaporkan atas asset bank ke dalam atau bagian dari pelaporan SPT Pajak Tahunan, terlepas daripada ketidaktahuan atau ketidakpahamannya atau keluarganya atau ahli warisnya menjadi beban tanggung jawabnya.

6) Karyawan atau keluarganya tidak akan melakukan gugatan/ tuntutan kepada Bank sehubungan dengan pembelian jaminan debitor tersebut. 7) Karyawan tersebut atau keluarganya atau ahli warisnya tidak akan

melakukan tuntutan dan ganti rugi atau kompensasi apapun juga

Dokumen terkait