• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jangan Terelalu Ambisius Menetapkan Target

Dalam dokumen no 11th viiinovember 2014 (Halaman 77-79)

menjadi sangat terbuka. “Pemuda juga menjadi pelaku perubahan. Tentu perubahan ke arah yang lebih baik. Dalam konteks ASEAN, pemuda Indonesia harus mampu bersaing,” harap Ketua MPR Periode 2004 – 2009 ini.

Sementara itu Abidin Fikri, Wakil Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan MPR RI, menyebutkan satu ciri khas dari pemuda adalah

kepeloporan. Pemuda adalah pelopor. Ini dibuktikan saat para pemuda menjadi pelopor pergerakan nasional melalui Sumpah Pemuda pada 1928. “Para pemuda yang memelopori kesepakatan bahwa kita berbangsa satu, bertanah air satu, dan berbahasa satu. Para pemuda merumuskan Indonesia dengan baik. Baru kemudian bangsa Indonesia terbentuk,” jelasnya.

Dalam konteks kekinian, kata Abidin Fikri, kepeloporan pemuda itu harus terus dimunculkan. “Dengan tantangan yang berbeda, kepeloporan pemuda menjadi penting,” ujarnya. Maka, jangan berbicara soal pemuda tanpa kepeloporan. “Karena itu, jika tidak memiliki sifat kepeloporan itu, pemuda harus malu,” ucapnya. ❏

BS

L

EGISLASI adalah salah satu dari tiga fungsi DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) – selain pengawasan dan anggaran – dipilih menjadi tema dialog sosialisasi Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika yang ditayangkan TVRI pada 26 November 2014, pukul 21.00 – 22.00 WIB. Dialog diselenggarakan atas kerjasama MPR dan TVRI ini mengangkat tema: Program Legislasi DPR. Narasumber Prof. Dr. Tjipta Lesmana, dan anggota MPR Fraksi Partai Golkar Firman Subagyo, SH,MH. DPR priode lalu (1999-2014) dinilai gagal memenuhi target di bidang legislasi ini, dan

banyak undang-undang produk DPR periode ini dibatalkan oleh MK (Mahkamah Agung), karena terbukti bertentangan dengan UUD NRI Tahun 1945. Baik dari segi kuantitas maupun kualitas publik sangat kecewa dengan kinerja DPR periode lalu. “Dilihat dari kualitatif, apakah targetnya terlalu ambisius, publik amat sangat kecewa karena pencapaian targetnya kedodoran, jauh dari tercapai,” ujar pengamat politik itu.

Begitu pula dari segi kualitatif, menurut penilaian Tjipta Lesmana, publik lebih kecewa lagi, triple kecewa. “Selama lima tahun masa baktinya banyak undang-undang

yang ditendang oleh MK, karena bertentangan dengan UUD,” begitu evaluasi Prof. Tjipto Lesmana terhadap kinerja DPR priode lalu mengawali dialog yang dipandu oleh Yana Indrawan dan Chyntia Sari. Dia- log ini diselingi pertanyaan-pertanyaan dan komentar jenaka dari Cepot beserta komedian Jarwo Kuwat dan kawan-kawan. Kenapa itu bisa terjadi? Menurut Tjipta Lesmana, kemungkinan Badan Legislasi (Baleg) – sebagai alat kelengkapan dewan yang mempunyai tugas mengoordinasikan penyusunan undang-undang dari masing- masing komisi – mungkin targetnya terlalu

SOSIALISASI

ambisius. Kemungkinan lain, targetnya sedang-sedang saja, tapi mungkin tenaganya kurang. Karena, “Kita ketahui bahwa anggota dewan itu sibuknya luar biasa,” kata Tjipta Lesmana. Dan, tentunya, hanya anggota DPR yang bisa menjawab.

Anggota MPR Fraksi Golkar Firma Subagyo yang periode lalu duduk di Komisi IV menjelaskan bahwa selama lima tahun menjalankan tugasnya, bidang legislasi diatur oleh UU No. 12 Tahun 2011 tentang Peraturan Pembentukan Undang-undang. Di dalam UU itu mengatur taget setiap komisi (11 komisi) setiap tahun. Satu komisi, berdasarkan UU itu, hanya membolehkan

membahas 2 (dua) undang-undang. Artinya, kalau diakumulasikan selama lima tahun (dari 11 komisi) harusnya memproduksi 110 UU.

Nah, kalau berdasarkan target yang ditetapkan oleh UU No. 12 Tahun 2011, kata Firman, maka DPR periode lalu tidak gagal, malah melebihi target. Karena DPR periode lalu mampu menyelesaikan 125 RUU menjadi UU. Persoalannya, menurut Firman, di Prolegnas (program legislasi nasional) ada yang namanya komulatif terbuka, yang memberi kesempatan RUU itu bisa masuk di tengah jalan. “Akhirnya, dari target 110 RUU berkembang menjadi 247 RUU, hampir dua kali lipat,” ungkap Firman Subagyo.

Firman Subagyo pada masa bakti 2014- 2019 dipercaya menduduki jabatan Ketua Baleg menegaskan, kasus seperti ini tidak boleh berulang lagi. Mengingat tunggakan RUU priode sebelumnya cukup banyak,

Firman Subagyo berencana untuk mengundang komisi-komisi terkait, DPD RI, dan pihak pemerintah guna membahas RUU sisa atau prolegnas lalu. Di forum itu, jelas Firman Subagyo, akan dibahas apakah RUU sisa itu mau dilanjutkan atau tidak. “Kalau mau dilanjutkan apa urgensinya. Soalnya, banyak UU yang tumpang tindih. Ini akan kita perbaiki dalam masa jabatan lima tahun mendatang,”katanya.

Mendengar penjelasan politisi Partai Golkar mengenai kumulatif terbuka, Profesor Tjipta Lesmana menyatakan, kaget. “Saya baru tahu sekarang ada yang namanya kumulatif terbuka,” ujar Tjipta Lesmana. Ia

mengibaratkan bis metromini tiba-tiba berhenti di tengah jalan, karena ada penumpang mau naik. Target RUU yang akan dibahas sudah ada sekian, lalu tiba- tiba di tengah-tengah “ditodong” masuk lagi RUU baru. Kenapa bisa masuk lagi? “Itu 200% pasti ada sponsornya,” tegas Tjipta Lesmana.

Tapi Firman Subagyo menampik dugaan adanya sponsor. Menurut Firman, kumulatif terbuka itu ada mekanisme dan aturannya. Diperbolehkan, karena ada kepentingan mendesak, katakanlah dalam rangka menghadapi APEC misalnya. Tapi,”Kalau untuk memenuhi keinginan konglomerat supaya kepentingannya terakomodir, itu tidak boleh,” tandas Firman Subagyo. Lebih lanjut, ia menjelaskan, dalam penyusunan RUU menggunakan yang namanya jaring asmara alias jaring aspirasi masyarakat.

Studi banding

Masalah studi banding yang dilakukan DPR dalam penyusunan suatu undang- undang juga menjadi bahan pergunjingan di masyarakat. Pertanyaannya, apa studi band- ing itu memang penting? Profesor Tjipta Lesmana berpendapat, tergantung bidangnya. “Ada bidang yang studi bandingnya cukup ke Gunung Kidul saja,” ujar Tjipta Lesmana. Ia mengkritik DPR waktu mau bikin UU tentang Kepramukaan sampai perlu studi banding ke Afrika Selatan. “Mau ngapain, mau jalan-jalan melulu,” katanya.

Begitu juga pada waktu DPR menggarap UU tentang Etika. “Masa mau membat UU Etika perlu jauh-jauh ke Yunani. Kalau masalah Etika, Idonesia paling kaya di dunia,” ucap Tjipta Lesmana. Menanggapi hal itu, Firman menegaskan, inilah yang akan kita evaluasi lima tahun ke depan. Studi banding dilaksanakan ke suatu negara karena betul- betul dibutuhkan untuk penyelesaian sebuah undang-undang. “Di dalam undang-undang itu ada perencanaan. Dari perencanaan itu ada kebutuhan yang harus dicari,” katanya. Firman lalu menceritakan ketika Komisi IV DPR RI periode lalu melakukan studi band- ing mengenai aspek lingkungan hutan konservasi ke Kalifornia. Ternyata, yang namanya hutan konservasi yang ada di Amerika Serikat itu bisa mendatangkan devisa negara yang sangat luar biasa. Hutan konservasi di sana dikelola sedemikian rupa. Tapi, di Indonesia ternyata yang namanya hutan konservasi itu malah terlantar di mana- mana. “Di sinilah perlunya sinergitas antara swasta dan pemerintah,” ujar Firman.

Itulah sebagian persoalan yang agaknya masih akan mewarnai lembaga negara yang bernama DPR periode sekarang. Namun demikian masyarakat masih menaruh harapan pada DPR ke depan. Seperti kata Tjipta Lesmana, harapan masyarakat terhadap wakil rakyat ini supaya bekerja lebih keras lagi, jangan mbolos melulu, jangan menghilang entah kemana. Tegasnya, “Kerja serius, laksanakan ketiga fungsi yang diamanahkan sebaik mungkin, terutama fungsi legislasi,” harap Tjipta Lesmana.

Artinya, waktu membahas sebuah RUU harus:Pertama, konten RUU betul-betul dibutuhkan oleh bangsa dan negara. Kemudian dibahas secara serius, supaya nanti hasilnya bagus, tidak begitu muncul

Dialog RRI Pro 3

Dalam dokumen no 11th viiinovember 2014 (Halaman 77-79)

Dokumen terkait