• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jarang Ngobrol

Dalam dokumen Praktik Baik Pelibatan Keluarga (Halaman 94-98)

Keluarga Hebat Jarang Ngobrol dengan Anak

Kok bisa?

Ya, karena saya suka bingung, apa yang mesti diomongkan, saya merasa tidak tahu apa-apa, sehingga kadang merasa takut salah sebelum bicara. Karena tidak pernah sekolah, dan tidak bisa membaca, maka penge- tahuan saya tentang cara mendidik anak juga kurang sekali. Karenanya, saya tidak pernah memberi nasehat pada anak-anak saya.

Tidak bersekolah menjadi satu-satunya pilihan karena sejak kecil saya harus membantu orang tua untuk me- menuhi kebutuhan keluarga. Hingga saya berkeluarga sekarang ini, saya telah berlayar selama 30 tahun, na- mun 16 tahun lalu saya beralih profesi menjadi petani di Tomia, Sulawesi Tenggara.

Meski tidak berpendidikan, saya ingin anak-anak tidak seperti saya. Anak-anak saya harus lebih berhasil. Satu hal yang selalu saya tekankan pada anak-anak, yakni se- lalu rajin. Kapanpun, di manapun, dan dalam bergaul dengan siapapun.

Saya memberi contoh dengan selalu rajin membersihkan rumah, membantu siapapun di lingkungan tempat tinggal,

dan rajin dalam mencari nakah tanpa mengeluh. Ya, saya mendidik anak-anak lebih banyak melalui contoh. Itulah yang saya lakukan selama ini terhadap anak-anak saya.

Dengan model pendidikan melalui contoh itu, anak bungsu saya La Nane selalu berprestasi di setiap jenjang pendidikannya, sejak sekolah di SDN Inpres 2 Nggele, Maluku Utara; SMP Satu Atap di Tomia; SMA Negeri 1 Tomia; hingga di Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin.

Anak saya bisa kuliah? Betul, anak saya yang rajin bela- jar itu berhasil mendapat beasiswa dari PT. BCA Finance. Sebenarnya La Nane juga diterima tanpa tes di Universi- tas Halu Oleo, Kendari. Sayalah yang menyarankan agar La Nane memilih di Makasar saja, sebab di Kendari itu pergaulannya tidak begitu baik dibanding di Makasar.

Keluarga Hebat Jarang Ngobrol dengan Anak

Tidak berhenti di situ, bungsu saya itu juga mendapat beasiswa LPDP untuk kuliah S2 di Universitas Tohoku, Jepang sejak 2014.

Hanya La Nane yang saya lihat berminat menerus- kan jenjang pendidikannya. Ketiga kakak perempuan- nya, hanya tamat SMP dan tak berminat meneruskan sekolahnya. Saya sebagai orang tua sudah sering meng- anjurkan untuk lanjut sekolah, tapi mereka sendiri ti- dak mau dan tidak mampu.

Yang pasti, La Nane punya niat dan semangat untuk maju dan menjalani kehidupan lebih baik. Ia juga di- karuniai kemampuan akademik diatas rata-rata. Se- jak SMP, La Nane rajin belajar bahasa Inggris hanya lewat buku sehingga saat SMA, ia sudah fasih berba- hasa Inggris.

La Nane juga memiliki minat yang tinggi untuk mem- baca. Dengan uang beasiswa yang diperolehnya sejak SMA hingga perguruan tinggi, dia selalu rajin berburu buku-buku, baik buku-buku agama, buku ilmu penge- tahuan, maupun buku-buku terapan. Saya memang per- nah katakan pada si bungsu, kalau membutuhkan buku untuk dibaca, daripada pinjam ke teman atau ke per- pustakaan, mendingan beli sendiri, lebih puas.

Demi mendukung keberhasilan anak-anak, saya sangat menghargai waktu belajar mereka. Ketika jam belajar, saya

matikan TV dan  tidak pernah menyuruh mengerjakan se- suatu atau menyuruh membeli sesuatu kesana-kemari.   Menurut saya banyak anak kehilangan konsentrasi be- lajar karena TV dan kurangnya penghargaan orang tua terhadap jam belajar anak.

Di samping itu, setiap sepulang dari sekolah, istri saya selalu menanyakan nilai PR (pekerjaan rumah) dan apa yang dilakukan di sekolah.   Saya bersyukur istri bisa kompak dengan saya dalam urusan sekolah anak-anak. Ibunya benar-benar memantau hasil, atau kemajuan dari apa yang di peroleh selama di sekolah.  

Istri sayalah yang dulu berusaha agar La Nane bisa ma- suk SD walau usianya belum genap 6 tahun. Melalui ke- nalannya yang seorang guru, istri saya meminta  agar La Nane bisa tetap sekolah, walau hanya sekedar bermain saja. Akhirnya melalui ibu guru itu, kepala sekolah pun bisa menerima La Nane untuk sekolah. Dengan catatan, bukan murid asli, tapi murid pendengar.

Bu guru kenalan ibunya itu juga yang kemudian membim- bing La Nane membaca dan menulis. Hubungan kami de-

Keluarga Hebat Jarang Ngobrol dengan Anak

ngan ibu guru itu lama-lama seperti keluarga. Setiap saya pulang melaut, istri saya pasti menyisihkan ikan sebelum dijual untuk diberikan pada ibu gurunya itu.

Alhasil setelah triwulan pertama, La Nane bisa mem- baca dan menulis, bahkan mendapat juara 3. Akhirnya Kepala sekolah pun memutuskan untuk menerima saya belajar sebagaimana murid lainnya.

Saya dan istri juga memberi contoh tentang pentingnya hidup sederhana. Menabung, menjadi kebiasaan yang saya tanamkan sejak anak-anak kecil. Meski pengha-

silan saya sebagai nelayan dulu atau sekarang sebagai petani cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, namun saya mementingkan urusan anak-anak dan pen- didikannya. Rumah kami sederhana saja.

Saat La Nane kuliah di Unhas yang jauh dari Wakatobi, saya hanya mampu mengirim uang sekitar Rp.300 ribu perbulan atau setengahnya. Uang sebesar 300 ribu ru- piah adalah separoh dari rata-rata uang yang saya teri- ma tiap bulan dari bertani.

Inilah kami. Penduduk Tomia, yang untuk menjangkau lokasi rumah kami mesti menempuh perjalanan laut se- kitar 4 jam dari Ibukota Kabupaten Wakatobi di Pulau Wangi-wangi, atau 12 jam perjalanan laut dari Bau-Bau, Ibukota Kabupaten Buton. Tak ada kendaraan roda em- pat di Pulau Tomia, kendaraan roda dua juga termasuk sedikit. Sebagian penduduknya merupakan nelayan dan perantau sehingga kehidupan sehari-hari di pulau To- mia nampak sepi. Meski sepi, dan kehidupan kami ber- sahaja, namun kami punya harapan tinggi atas keberha- silan anak-anak kami.

Sebagaimana diceritakan oleh La Maeni, warga dusun O’Menara Desa Waiti Barat Kecamatan Tomia, Kabu-

paten Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Keluarga Hebat BON dari Ayah

BON

Dalam dokumen Praktik Baik Pelibatan Keluarga (Halaman 94-98)