• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. PENYAJIAN DATA

A. Penggunaan Jargon pada even SIEM dan SIPA

1. Jargon sama dengan nama even

Jargon SIPA 2009 dan SIPA 2010 adalah juga nama acara even.

Penggunaan jargon yang sekaligus digunakan sebagai nama acara SIPA muncul

pada korpus 4.1.4 dan korpus 4.2.1 seperti yang nampak pada gambar dibawah

ini:

Gambar 5.1.

Nama acara sekaligus jargon SIPA 2009

Gambar 5.2.

Nama acara sekaligus jargon SIPA 2010

Korpus 1.4 dan korpus 2.1. merupakan nama acara yang sekaligus

digunakan oleh panitia penyelenggara sebagai jargon sebuah even. Nama acara,

yakni Solo International Performing Arts atau disingkat dengan nama “SIPA”, digunakan secara bersama-sama sebagai nama acara even dan jargon acara

commit to user

SIPA sebagai sebuah even, pertama kali diselenggarakan pada tahun 2009.

SIPA 2009 merupakan SIPA yang pertama kali digelar pada masa pemerintahan

Walikota Solo, Joko Widodo atau akrab disapa dengan nama Jokowi. Menurut

pengakuan panitia penyelenggara dan Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Solo,

even ini dilaksanakan mengacu pada visi Kota Solo yang termaktub di dalam

Peraturan Daerah Kota Surakarta No.2 tahun 2007. Visi Kota Solo sebagaimana

dinyatakan dalam Perda tersebut adalah mewujudkan Solo sebagai Kota Budaya

yang didasarkan pada potensi perdagangan, jasa, pendidikan, pariwisata dan

olahraga. Visi Kota Solo ini kemudian dikemas kembali dalam periode kedua

pemerintahan Jokowi dengan menyatakan bahwa Pemerintah Kota Solo pada

kurun waktu 2010-2015 hendak meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan

kemajuan kota berdasarkan semangat Solo sebagai Kota Budaya.

Penyelenggaraan even SIPA diharapkan dapat memenuhi visi Kota Solo tersebut.

Kata “SIPA” selain digunakan sebagai nama acara, ia juga digunakan sebagai sebuah jargon. Jargon dalam konsep periklanan, umumnya dikembangkan

untuk mengiklankan sebuah produk atau jasa. Dewasa ini, ada beragam jargon

yang dikembangkan oleh pengiklan. Jargon-jargon ini bahkan seringnya

digunakan oleh masyarakat kita dalam percakapan mereka sehari-hari. Beberapa

jargon yang terkenal untuk mengiklankan sebuah produk misalkan adalah jargon

“Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda”. Jargon ini merupakan jargon iklan sebuah produk parfum terkenal di Indonesia. Jargon

tersebut bukan merupakan nama produk parfum yang ditawarkan. Jargon dalam

commit to user

tertentu yakni dalam situasi sedang menawarkan sebuah parfum kepada calon

konsumen dan atau kepada pelanggan. Contoh lain dari jargon yang digunakan

dalam sebuah penawaran jasa adalah jargon iklan layanan jasa telekomunikasi

ternama di Indonesia. Dalam iklannya, bintang iklan berkata “Aku enggak punya

pulsa…”. Jargon untuk menawarkan jasa layanan telekomunikasi inipun bukan

merupakan nama instansi penyedia layanan jasa. Jargon dalam iklan ini

dipergunakan sebagai pengingat bagi khalayak untuk menggunakan jasa layanan

telekomunikasi tersebut ketika sedang tidak memiliki pulsa untuk berkomunikasi.

Kedua contoh diatas merupakan contoh penggunaan jargon pada sebuah

produk atau jasa yang diiklankan. Bagi sebuah penyelenggaraan festival,

umumnya jargon yang digunakan adalah nama acara festival itu sendiri. Hal ini

seperti terlihat pada penyelenggaraan acara Jogja Asian Film Festival 2011. Jogja

Asian Film Festival menggunakan nama acara sebagai jargon, sedangkan tema

yang dipilih berubah-ubah setiap tahun disesuaikan dengan dinamika sosial,

budaya, politik yang berkembang pada setiap tahunnya.

Tema Jogja Asian Film Festival 2011 misalnya, mengambil tema

“Multitude”. Tema ini diangkat sebagai bentuk penghormatan para sineas

terhadap masyarakat dan komunitas dengan segala jenis bentuk masyarakat dan

komunitas tersebut. Tema yang dikembangkan oleh panitia ini juga sebagai sarana

pembacaan sosiologi film dalam beragam dimensi serta sebagai bentuk kritik

terhadap lembaga formal film yang dianggap tidak mampu menjalankan misinya

commit to user

menggunakan nama acaranya sekaligus sebagai jargon dari penyelenggaraan even

tersebut.

Cannes Film Festival (CFF) di Perancis merupakan contoh lain dari even

yang menggunakan nama festival sekaligus sebagai jargon acaranya. CFF

merupakan referensi yang dirujuk oleh ketua penyelenggara SIPA untuk

menciptakan dan mengelola even SIPA.

Gambar 5.3. Message Engineering even SIPA Diunduh dari www.festival-cannes.fr

CFF tidak memiliki jargon dalam setiap penyelenggaraannya. CFF

menggunakan tema dalam setiap penyelenggaraan acaranya untuk menunjang

jargonnya agar diingat oleh khalayak. CFF menjadi inspirasi bagi

penyelenggaraan SIPA oleh karena CFF merupakan even festival film lokal di

commit to user

seluruh dunia. Perjalanan CFF sampai sedemikian popular melewati proses yang

panjang.

Cannes Film Festival dimulai di akhir tahun 1930-an dan terus

berkembang hingga abad 21. Festival Film Cannes merupakan salah satu even

yang paling berpengaruh di dunia perfilman internasional. Popularitas Cannes

Film Festival menurut DiMare (2011:913) lebih dari sekadar pertunjukan artistik,

namun festival ini merupakan wadah kerjasama internasional dan bahkan sebagai

tempat dimana sirkulasi jutaan dollar berlangsung dan peningkatan karir dan

debut artis terjadi pada festival ini.

Berlokasi di Mediterania, Kota Cannes memiliki sejarah yang panjang

sebagai tempat pertemuan internasional. Pada abad 19, Kota Cannes menjadi

tempat favorit sebagai tempat tujuan liburan para aristokrat Inggris. Mereka pergi

ke lokasi ini karena cuaca di Inggris pada masa-masa liburan mereka dianggap

kurang menyenangkan. Dengan kehadiran para tamu elit ini, mulailah

bermunculan hotel-hotel bintang lima, vila-vila yang mewah dan spa-spa

kesehatan di sekitar kota tersebut.

Pemilihan lokasi di kota Cannes dianggap sebagai lokasi yang tepat bagi

penyelenggaraan festival film internasional karena penyelenggara festival ingin

menciptakan kerjasama global sebagai respon atas berkembangnya ancaman

facisme kala itu. Hasilnya kemudian adalah Festival Film Cannes pertama kali

diselenggarakan. Festival Film Cannes atau Le Festival International de Cannes

ini terlaksana atas usaha yang dilakukan oleh Menteri Pendidikan Nasional

commit to user

CFF pertama kali diselenggarakan pada bulan September 1939 dengan

Louis Lumiere sebagai presiden festival. Selama Perang Dunia II, festival ini

ditunda, dan kemudian dilaksanakan kembali pada tahun 1946. Secara khusus,

masa-masa setelah perang ini menjadikan CFF memfokuskan tujuannya pada

kerjasama internasional. Sebagai festival yang pertama kali dilaksanakan setelah

masa perang, festival ini kemudian dilaksanakan untuk membangun kembali

hubungan internasional. Sutradara film Italia menyebutnya sebagai “the international language of film”. Meskipun sebenarnya festival ini bertujuan untuk mengembangkan hubungan bilateral, namun CFF membuka dirinya untuk

pendaftaran film dari berbagai belahan dunia. Tidak mengejutkan jika kemudian

pembuat-pembuat film dari Perancis, Italia, dan Amerika Serikat mendaftarkan

film-film mereka. Dengan kehadiran mereka, penyelenggara festival kembali

menekankan bahwa festival ini merupakan sebuah wadah selebrasi dunia

perfilman di seluruh dunia. Kemudian berdatanganlah para pembuat filam dari

Meksiko, India, Jepang dan Mesir. CFF terus berlangsung hingga saat ini dan

menghasilkan penghargaan-penghargaan bergengsi yang diperebutkan oleh

seluruh pembuat film dan artis di seluruh dunia.

Penyelenggaraan even SIPA apabila dilkaitkan dengan penyelenggaraan

CFF di Perancis merupakan sebuah bentuk message engineering. Konsep message

engineering mengacu kepada konsep yang dikemukakan oleh Purwasito (2003)

bahwa sebuah bentuk even atau produk-produk budaya lain yang sifatnya

material, digerakkan oleh akal, pikiran dan rasa dari manusia. Pemikiran

commit to user

budaya merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia. Dengan demikian, peneliti

menyatakan bahwa even SIPA merupakan message packaging yang

kemunculannya didasari dari message engineering si pencipta lewat rasa dan

karsanya.

Dalam konteks penyelenggaraan SIPA yang ingin menyamakan posisinya

dengan penyelenggaraan CFF di mata dunia, bisa saja terjadi dan bisa juga tidak

terjadi. Peneliti beragumentasi bahwa kemungkinan SIPA sejajar dengan CFF

oleh karena saat ini kerjasama global dan atau kerjasama internasional sekarang

ini sedang berkembang dengan pesat. Perkembangan kerjasama internasional

dipicu dengan kemajuan teknologi dan komunikasi di seluruh dunia. Dunia saat

ini tidak dibatasi oleh ruang, waktu dan wilayah geografis. Batas-batas ini telah

diatasi dengan kehadiran teknologi komunikasi seperti televisi, radio, dan yang

baru berkembang saat ini, yakni internet. Dengan keberadaan teknologi

komunikasi ini, maka kerjsama internasional sangat mungkin terjadi, bahkan

melalui penyelenggaraan sebuah even semacam SIPA.

Disisi lain, penyelenggaraan SIPA yang dicita-citakan seperti

penyelenggaraan CFF di Perancis tidak dapat terlaksana karena situasi dan kondisi

yang berbeda dari pelaksanaan kedua even. CFF lahir di Perancis sebagai tempat

wisata aristokrat Inggris yang kemudian berkembang bukan hanya sebagai sebuah

wadah penyelenggaraan festival film. Dibalik penyelenggaraan CFF ini lebih

kental aroma muatan-muatan politik diantara negara-negara peserta festival. Hal

ini berarti bahwa ada keterlibatan dan kepentingan dari pemerintah kota dan dan

commit to user

pemberi dana stimulan, namun memikirkan bentuk-bentuk kerjasama bilateral,

multilateral dan bahkan kerjasama internasional dan juga kepentingan politik

diantara para delegasi dari masing-masing negara peserta festival.

SIPA sendiri merupakan even lokal yang mengangkat seni tari sebagai

bentuk pertunjukkannya. SIPA dilaksanakan di Kota Solo yang saat ini tengah

mencitrakan dirinya sebagai Kota Budaya. Kota Solo hingga sekarang belum

menjadi pilihan utama bagi penduduk di kota lain bahkan di negara lain sebagai

tempat wisata dan tempat untuk menghabiskan masa-masa liburan mereka. Kota

Solo masih terus berbenah dan mencari bentuknya untuk menjadi pilihan utama

untuk dikunjungi masyarakat luas. Kondisi ini pula yang dalam pandangan

peneliti, belum mampu membuat SIPA untuk menjadi pilihan favorit masyarakat

untuk dinikmati.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan SIPA adalah

perlunya keterlibatan pemerintah kota dan bahkan keterlibatan negara untuk

menjadikan even ini bukan sekadar even yang harus terlaksana, namun sebagai

sarana yang betul-betul dijadikan wadah kerjasama antar kota dan antar negara.

Para delegasi yang terlibat sebagai peserta membawa misi kerjasama negara

masing-masing selain membawa misi pribadi. Kerjasama hingga di level

kenegaraan ini yang nampaknya sulit dilaksanakan jika tidak ada kesamaan

kepentingan antara penyelenggara dan pemerintah kota maupun negara. Kendala

lain adalah bahwa even-even yang dilaksanakan masih bersifat sporadis di

masing-masing wilayah di Indonesia. Akan menjadi baik apabila even-even ini

commit to user

Apa yang dicita-citakan oleh SIPA merupakan sebuah pesan. Pesan ini

berada dalam sebuah sistem komunikasi. Sistem komunikasi merupakan memiliki

tipe-tipe wicara. Salah satunya adalah mitos. Mitos menurut Barthes (2006)

bukanlah sembarang tipe wicara. Ia membutuhkan syarat khusus agar bisa

menjadi mitos. Mitos tidak bisa menjadi sebuah objek, konsep atau ide; mitos bagi

Barthes adalah cara penandaan (signification), sebuah bentuk.

Mitos sebagai sebuah bentuk, pada dasarnya tidak diekspresikan pada

waktu yang bersamaan. Beberapa objek menjadi wicara mitis untuk sementara

waktu, lalu sirna, yang lain menggeser tempatnya dan memperoleh status sebagai

mitos. Mitos, oleh karena itu, tidak hanya dibatasi pada wicara lisan saja. Ia bisa

terdiri dari berbagai bentuk tulisan atau representasi; bukan hanya dalam bentuk

wacana tertulis, namun juga berbentuk fotografi, sinema, reportase, olahraga,

pertunjukan, publikasi, yang kesemuanya bisa berfungsi sebagai pendukung

wicara mitis.

Pendukung wacana mitis SIPA ini kemudian dapat peneliti ajukan adalah

berupa korpus yang ada di Bab IV. Berbagai macam bentuk publikasi, seperti

poster dan katalog merupakan wacana pendukung mitis SIPA. SIPA sendiri

sebagai bentuk pertunjukan adalah bentuk wacana pendukung mitos dari

pemerekan atau branding Kota Solo sebagai Kota Budaya. Tanda-tanda ini

kemudian saling terhubung dan membentuk sistem semiologis.

Berkaitan dengan pembacaan mitos ini, terkadang kita kesulitan untuk

menbaca mitos yang melekat pada bentuk mitos itu sendiri. Hal ini terjadi karena

commit to user

secara teoritis: kita sedang berhadapan dengan suatu citra yang diberikan pada

suatu penandaan yang khas pula. Wicara mitis menurut Barthes (2006) terbentuk

oleh bahan-bahan yang telah dibuat sedemikian rupa agar cocok untuk

komunikasi. Hal ini disebabkan karena semua bahan mitos, entah itu yang

berwujud gambar atau tulisan, mengandaikan sebuah kesadaran akan penandaan,

sehingga seseorang bisa berpikir tentang bahan-bahan tersebut sembari ia

mengabaikan substansinya.

Substansi ini menurut Barthes, bukannya tidak penting. Sebab kadangkala

gambar lebih banyak „berbicara‟ daripada tulisan, ia memaksakan maknanya hanya dengan sekali snetak, tanpa mesti melewati analisis. Namun perbedaan ini

tidak lagi prinsipil. Gamabr-gambar bisa jadi tulisan sejauh mereka bermakna.

Cannes Film Festival (CFF) sebagaimana yang dirujuk oleh SIPA

merupakan sebuah mitos borjuasi. Sebagaimana yang telah peneliti sampaikan

sebelumnya bahwa Cannes merupakan sebuah kota yang awalnya digunakan

sebagai tempat wisata para aristrokrat Inggris. Kota ini kemudian menjadi tujuan

wisata kaum aristrokrat Inggris. Berbagai macam hiburan akhirnya berkembang di

kota ini termasuk salah satunya adalah hiburan menonton film diiringi dengan

perkembangan politik dunia pada masa itu, Cannes berkembang sampai sekarang

seperti yang telah kita lihat saat ini.

Apapun kejadian, kompromi, konsesi dan petualangan politisnya, apa pun

perubahan teknis, ekonomis atau bahkan perubahan sosial yang disebabkan oleh

sejarah, Barthes mengklaim bahwa masyarakat yang ada di dalamnya masih

commit to user

kaum borjuis Inggris ke kota ini. Sehingga peneliti sependapat dengan Barthes

bahwa dalam perkembangan CFF ini kental dengan nuansa borjuas. Tidak

terkecuali dengan SIPA yang merujuk CFF sebagai intertekstualitasnya, peneliti

mengajukan argumentasi bahwa SIPA ini pun mengacu pada mitos borjuis.

Mitos borjuis kini tampak tak terlihat jejaknya. Hal ini dalam pandangan

Barthes merujuk pada tahun 1789 di Perancis, dimana beberapa tipe borjuasi telah

silih berganti duduk di tampuk kekuasaan-namun ia tetap memiliki status yang

sama. Barthes menyebutnya dengan rezim kepemilikan, sebuah aturan, sebuah

ideologi-tetap berada pada level yang lebih dalam. Kini fenomena tersebut

memiliki persoalan penamaan rezim. Berdasarkan fakta ekonomi, borjuasi

dinamai tanpa mengalami sejumlah kesulitan untuk mengakui dirinya sendiri.

Sebagai fakta ideologis, ia benar-benar sirna. Borjuasi telah menghapus namanya

manakala ia beranjak dari realitas menuju representasi, dari manusia yang

ekonomis menuju manusia mental. Ia mencapai kesepakatan dengan fakta, tetapi

tidak berkompromi dalam soal nilai.

Perubahan penyebutan dari realitas ekonomis menuju realitas mental ini

tidak serta merta dapat dengan mudah kita abaikan. Peneliti sependapat dengan

Barthes bahwa sebenarnya secara politis, kebocoran makna kata „borjuis‟ disebabkan oleh gagasan tentang bangsa. Ia merupakan gagasan yang amat

progresif, yang telah menggeser aristokrasi. Saat ini borjuasi menyatu kedalam

bangsa, kendati ia harus mengecualikan beberapa ideologi yang berseberangan,

dalam hal ini yang dimaksud adalah ideologi Komunis.sinkritisme terencana ini

commit to user

dibangunnya, yang semuanya berada pada level menengah, oleh karena itu

terwujudlah kelas „yang tak berbentuk‟. Namun penggunaan terus-menerus kata

bangsa telah gagal mende-politisasinya secara mendalam; substrata politis ada di

sana, begitu dekat ke permukaan dan beberapa kesempatan menjadikannya

muncul secara tiba-tiba.

Secara politis, selain usaha-usaha universalistiknya lewat kosakata,

borjuasi pada akhirnya menyerang jantung perlawanan yang adalah merupakan

partai revolusioner. Namun partai revolusioner ini hanya bisa membentuk

kekayaan politis: dalam budaya borjuis taka da budaya proletarian ataupun

moralitas proletarian, juga tidak ada seni proletarian. Secara ideologis, semua

yang bukan borjuis diwajibkan meminjam konsep-konsep dari borjuasi. Dengan

demikian, ideologi borjuis bisa menyebar ke semua aspek sembari menanggalkan

namanya tanpa resiko, dalam konteks ini tidak seorang pun bisa melemparkan

nama borjuis agar kembali kepadanya. Ia bisa memasukkan teater, seni dan

manusia tanpa perlawanan berdasarkan analogi abadi mereka. Dengan kata lain, ia

dapat mengangkat dirinya secara leluasa. Kegagalan dari nama „borjuis‟ disini benar-benar lengkap.

Bukti lain yang dapat peneliti ajukan tentang adanya mitologi borjuasi

adalah lewat pencantuman nama even SIEM dan SIPA itu sendiri. Baik SIEM

maupun SIPA merupakan even yang dikemas dalam bentuk festival.

Festival dalam KBBI masuk dalam kategori kata benda yang berarti hari

commit to user

pesta rakyat; perlombaan. Sementara itu, Falassi (1987) dalam bukunya “Time Out of Time : Essay on The Festival” menyatakan bahwa :

Festival is an event, a social phenomenon, encountered in virtually all human cultures. (Festival adalah suatu peristiwa atau kejadian penting, suatu fenomena sosial yang pada hakikatnya dijumpai dalam semua kebudayaan manusia).

Dari pernyataan Falassi ini dan KBBI, dapat peneliti simpulkan bahwa

sebuah penyelenggaraan festival merupakan sebuah penanda dari peristiwa

penting; peristiwa yang bersejarah dalam sebuah budaya manusia.

Jika Falassi meyatakan festival sebagai simbol dari peristiwa penting di

masyarakat, maka Picard (2006) melihatnya dari sisi yang berbeda. Picard melihat

festival sebagai “celebratory events” atau peristiwa perayaan. Peristiwa perayaan ini bukan sekadar merayakan sebuah acara, namun ia memandangnya sebagai

pengalaman wisata modern (Picard, 2006:1). Pandangan ini, didasarkannya pada

ketersejarahan dari festival itu sendiri. Bagi Picard, festival-festival, prosesi-

prosesi karnaval, kontes-kontes telah memberikan titik pemaknaan koneksivitas

dan tontonan kepada para pengunjung.

Konsep festival tidak banyak berbeda bila dikaitkan dengan karnaval.

Perbedaan diantara kedua konsep tersebut terletak pada bentuk kegiatannya.

Festival mengacu kepada aktivitas yang dilaksanakan pada suatu hari di satu

lokasi, sedangkan karnaval mengacu pada jenis kegiatan berupa pawai atau arak-

commit to user

tempat lain. Sekalipun berbeda dalam bentuk kegiatannya, festival dan karnaval

memiliki kesamaan konsep. Kesamaan diantara kedua kegiatan itu adalah baik

festival maupun karnaval merupakan acara yang sama-sama mengusung ide

tentang perayaan terhadap sesuatu hal.

Berbicara mengenai karnaval, Bakhtin (dalam Fiske, 2011:93)

menyampaikan teorinya tentang karnaval untuk menjelaskan perbedaan-

perbedaan antara kehidupan yang dikemukakan oleh tatanan sosial yang

didisiplinkan dan kepuasan-kepuasan yang direpresikan milik kaum subordinat.

Berbagai keberlebihan fisik dalam dunia menurut Rabelais yang dikembangkan

oleh Bakhtin dan ofensivitas hal-hal tersebut terhadap tatanan mapan mengikuti

unsur-unsur karnaval masa pertengahan: kedua hal tersebut menaruh perhatian

terhadap kepuasan ragawi ketika menentang moralitas, disiplin dan kendali sosial.

Karnaval, bagi Bakhtin, dicirikan dengan gelak tawa, oleh keberlebihan

(terutama keberlebihan tubuh dan fungsi-fungsi ragawi), oleh cita rasa yang buruk

dan ofensivitas, dan oleh degradasi. Momen dan gaya Rabelaisan disebabkan oleh

tabrakan dua bahasa – bahasa tinggi dan tervalidasi pembelajaran klasik yang dikeramatkan dalam kekuasaan politik dan religious, dan bahasa rendah dan

sehari-hari rakyat. Karnaval merupakan hasil dari tabrakan dua bahasa ini dan

merupakan testamen terhadap kekuasaan „bahasa rendah‟ untuk mendesakkan hak-haknya atas suatu tempat dalam budaya. Karnaval, lanjut Fiske,

mengkonstruksikan “dunia dan kehidupan kedua yang terletak di luar otoritas”, dunia tanpa strata atau hierarki sosial.

Karnaval mengelu-elukan pembebasan sementara dari kebenaran yang berlaku dari tatanan mapan; hal tersebut menandai penangguhan semua

commit to user

peringkat hierarkis, privilese, norma dan larangan (Bakhtin dalam Fiske, 2011:93).

Konsep yang disampaikan oleh Bakhtin ini dapat kita ketahui kemudian

adalah fungsinya yang membebaskan, memungkinkan kebebasan kreatif yang

bermain-main,

menyakralkan kebebasan kreatif..membebaskan dari sudut pandang yang berlaku tentang dunia, dari pelbagai konvensi dan kebenaran yang mapan, dari pelbagai klise, dari semua yang menjemukan dan diterima secara universal (Bakhtin dalam Fiske, 2011:93).

Lebih lanjut Fiske menyampaikan bahwa dalam carnival, kehidupan hanya

tunduk pada „hukum-hukum kebebasannya sendiri‟. Karnaval adalah berlebih-

lebihan dalam berolahraga, ruang untuk kebebasan dan kendali yang ditawarkan

oleh permainan-permainan tersebut bahkan dibuka secara lebih lanjut oleh

melemahnya aturan-aturan yang berisi hal tersebut. Layaknya olahraga, karnaval

diikat oleh aturan-aturan tertentu yang memberinya pola, namun karnaval

membalikkan aturan-aturan tersebut dan membangun dunia yang terbalik, dunia

yang distrukturkan menurut logika „terbalik‟ yang menghasilkan „parodi terhadap kehidupan di luar karnival‟.

Karnaval dimaknai dengan perhatiannya yang sepenuhnya pada tubuh,

bukan tubuh individu, tetapi terhadap „prinsip tubuh‟, materialitas kehidupan yang mendasari dan mendahului individualitas, spiritualitas, ideologi dan masyarakat.

commit to user

Dokumen terkait