KOMPLIKASI DAN RESIKO PERAWATAN ORTODONTI SERTA CARA PENANGGULANGANNYA
3.5 Jaringan periodontal
Komplikasi lainnya dapat terjadi selama perawatan ortodonti yakni inflamasi jaringan periodontal yang ditandai dengan adanya pembengkakan, resesi gingiva dan pendarahan gingiva. Inflamasi jaringan periodontal terjadi diantaranya gingivitis dan periodontitis. Pesawat ortodonti akan menyebabkan retensi plak meningkat yang akan memicu timbulnya penyakit periodontal.1,21,22
Salah satu komponen pesawat ortodonti yang menyebabkan penyakit periodontal adalah arch wire yang bersifat korosif, terutama yang mengandung copper (tembaga). Hal ini dapat menyebabkan terjadinya sitotoksik atau keracunan sel. Selain itu, sifat korosif tersebut dapat menyebabkan penyakit periodontal seperti gingivitis.
Arch wire yang terbuat dari bahan nikel lebih tahan terfadap korosi dibandingkan
dengan yang terbuat dari stainless steel atau cobalt. Dalmau LB dkk melaporkan bahwa kandungan nikel dapat menyebabkan alergi dermatitis dan prevalensinya sekitar 20-30%.18
Arch wire ligation juga merupakan komponen pesawat cekat yang dapat
menimbulkan penyakit periodontal karena merupakan tempat perlekatan bakteri. Ricardo Alves de Souza dkk dan Turkkahraman H dkk meneliti mengenai evaluasi kondisi periodontal dan mikrobiologi pada dua jenis arch wire ligation yakni
elastomeric ring dan stainless steel. Dari hasil kedua penelitian tersebut disimpulkan
bahwa arch wire ligation dari elastomeric ring menunjukkan skor plak dan perdarahan yang lebih tinggi daripada yang terbuat dari stainless steel.18
Adanya pembengkakan gingiva (hyperplasia) dapat menganggu posisi bracket di gigi. Prosedur perawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi hyperplasia gingiva adalah skeling dan penyerutan akar, pemberian antibiotik dan gingivektomi.
Gingivektomi adalah prosedur pembedahan gingiva untuk mengembalikan bentuk dan kontur gingiva yang normal.13 Pemasangan atau pelepasan band dapat menimbulkan efek yang merugikan pada pasien. Pemasangan band pada daerah subgingiva lebih berisiko menyebabkan penyakit periodontal. Jika tidak hati-hati, pemasangan atau pelepasan band dapat menyebabkan inflamasi gingiva ataupun bakterimia. Lucas dkk menyatakan bahwa beberapa prosedur perawatan ortodonti dihubungkan dengan terjadinya bakterimia.17
Selain hyperplasia gingiva, gingivitis sering terjadi pada pasien yang disebabkan oleh plak bakteri (Gambar 12). Timbulnya plak bakteri dipengaruhi beberapa faktor diantaranya oral hygiene yang buruk, stress dan merokok. Jika gingivitis dipengaruhi oleh faktor stress, maka gingivitis dapat dirawat dengan mengurangi stress tersebut, sedangkan gingivitis dipengaruhi oleh merokok, tindakan penghentian merokok adalah cara yang tepat. Adanya gingivitis selama perawatan ortodonti dapat dirawat dengan mengkonsumsi antibiotik, seperti golongan penicillin 500 mg 4 kali sehari selama tujuh hari atau metronidazole 500 mg dua kali sehari selama tujuh hari.21
Gambar 12: Pembengkakan gingiva pada pasien ortodonti24
Jika resesi gingiva terjadi selama perawatan ortodonti, maka terlebih dahulu
13) Terapi resesi gingiva yang dipilih antara lain bedah mukogingiva, seperti lateral
sliding flaps, coronally positioned flaps dan connective tissue grafts, yang dapat menutupi
akar yang tersingkap sekitar 65 % - 98 %.22
Gambar 13: Resesi gingiva yang terjadi pada pasien ortodonti.1,24
Laserasi pada gingiva dan mukosa oral dapat terlihat seperti ulserasi atau hiperplasia (Gambar 14). Laserasi tersebut biasanya terjadi selama perawatan atau diantara sesi kunjungan yang disebabkan oleh arch wire, bracket, dan band ,dan khusunya jika wire yang terpasang tidak diregangkan dengan baik sehingga mengenai bibir. Aktivitas otot pipi dan lidah yang berlebihan dapat memicu terjadinya trauma. Pemakaian dental wax, pemakaian pipa karet dan memotong ujung arch wire yang tajam dapat mengurangi terjadinya trauma dan rasa tidak nyaman. 1
3.6 TMJ (Temporomandibular Joint).
Menurut Paul dan Ricky Wong, TMD (Temporomandibular Disorders) merupakan penyakit yang sering terjadi pada populasi masyarakat secara umum.1 Pada literatur yang ada, hubungan antara disfungsi temporo mandibula dan perawatan ortodonti telah menjadi fokus perhatian. Berdasarkan hal tersebut, disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara TMD dengan perawatan ortodonti. Pasien yang memiliki gangguan TMD sebelum perawatan ortodonti dinasehatkan bahwa perawatan dilakukan tidak akan memperbaiki kondisi tersebut dan justru dapat memperparah gejala yang ada. Jika pasien mengalami gejala TMD selama perawatan, maka perlu dilakukan standar pendekatan pemeriksaan TMD. Perawatan konservatif harus segera dilakukan untuk mengurangi perasaan tidak nyaman, disharmoni oklusal, suara pada sendi. Bentuk standar perawatan lainnya (contoh: diet makanan lunak, latihan rahang) juga perlu untuk dilakukan.1
Luecke dkk. menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan TMD dengan perawatan ortodonti yang dapat dilihat dari :
• Tanda dan gejala TMD yang meningkat pada saat pertambahan usia dan bukan dari perawatan ortodonti.
• Pada saat perawatan ortodonti cekat dengan atau tanpa pencabutan gigi tidak meningkatkan prevalensi tanda dan gejala TMD.
• Oklusi yang stabil adalah salah satu tujuan perawatan ortodonti. Jika perawatan tidak mendapatkan oklusi yang stabil, maka perawatan ortodonti tidak menghasilkan tanda atau gejala TMD.23
Sedangkan menurut Graber.T.M dkk pada perawatan ortodonti dapat mengakibatkan TMD. Karena TMD merupakan hubungan oklusal yang tidak tepat pasca
otot-ototnya. Perawatan ortodonti menciptakan ketidakseimbangan fungsional TMJ, otot dan oklusi yang dapat menyebabkan terjadinya tanda dan gejala TMD pada beberapa pasien.25 Pencegahan yang dilakukan apabila pasien terkena TMD akibat perawatan ortodonti adalah menunda perawatan ortodonti terlebih dahulu, meriksa oklusi dan gerakan korektif gigi yang dipasangi pesawat cekat, merujuk keahli bedah ortopedik atau spesialis TMD, bila TMD yang diderita cukup parah maka pencegahannya adalah menghentikan perawatan ortodonti.25
BAB IV KESIMPULAN
Perawatan ortodonti bukan saja dapat memperbaiki dan meningkatkan estetik wajah, fungsi serta stabilitas hasil perawatan yang baik, ortodonti juga memiliki beberapa komplikasi yang dapat terjadi selama perawatan. Komplikasi-komplikasi yang terjadi selama perawatan ortodonti dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain
oral hygiene pasien dan komonen pesawat ortodonti.
Untuk mencegah terjadinya komplikasi dokter gigi juga harus memperhatikan
oral hygiene pasien dan memberitahukan kepada pasien bagaimana cara penyikatan
gigi, dental floss, penggunaan pasta gigi yang mengandung fluoride, dan penggunaan obat kumur yang dipakai untuk memelihara oral hygiene. Oral hygiene bukan saja
tanggung jawab dokter gigi tetapi pasien juga berperan dalam memelihara oral
hygiene-nya sendiri. Pengetahuan mengenai efek dan cara penggunaan pesawat ortodonti juga harus dimiliki oleh seorang dokter gigi. Hal ini bermanfaat untuk mencegah kemungkinan terjadinya komplikasi selama perawatan.
Setiap pasien ortodonti harus dilakukan pemeriksaan terhadap faktor resiko yang dapat terjadi. Mengingat banyaknya faktor resiko yang dapat menyebabkan terjadinya komplikasi selama perawatan orotodonti, dokter gigi harus mengetahui cara menanggulangi komplikasi yang dapat menggagalkan hasil perawatan. Komplikasi juga dapat ditimbulkan dari komponen-komponen pesawat ortodonti terutama pesawat ortodonti cekat terdiri dari bahan bonding, bracket, arch wire, dan ligation adalah komplikasi yang terjadi pada mahkota, pulpa, akar, dan pada tulang alveolar, jaringan periodontal, serta komplikasi pada TMJ (Temporomandibular Joint). Jika perawatan
ortodonti dilakukan dengan semestinya maka kerusakan yang parah tidak akan terjadi dan keberhasilan perawatan dapat tercapai.