• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Perlunya Modal Sosial yang dimiliki SMA Negeri 12 Semarang

2. Jaringan sosial yang dimiliki SMA Negeri 12 Semarang

SMA Negeri 12 Semarang merupakan sebuah lembaga atau organisasi formal, tentunya memiliki jaringan sosial di dalamnya. Unsur yang membentuk jaringan sosial di SMA Negeri 12 Semarang diantaranya, partisipasi, solidaritas dan kerjasama. Partisipasi antar individu untuk mengembangkan SMA Negeri 12 Semarang sangat diperlukan. Partisipasi dapat menghasilkan pemberdayaan, di

mana setiap orang berhak menyatakan pendapat dan usul untuk kemajuan sebuah lembaga.

Partisipasi dari warga sekolah maupun warga sekitar untuk mengembangkan SMA Negeri 12 Semarang berjalan sangat harmonis. Warga sekolah maupun warga masyarakat sekitar sering terlibat dalam berbagai kegiatan, baik kegiatan sekolah maupun kegiatan di lingkungan warga sekitar. Kegiatan di lingkungan masyarakat yang melibatkan warga sekolah secara langsung misalnya kegiatan kerja bakti membersihkan lingkungan bersama masyarakat. Kegiatan sekolah yang melibatkan masyarakat diantaranya, bakti sosial membagikan sembako kepada warga yang kurang mampu, pembagian daging kurban maupun zakat fitrah kepada masyarakat sekitar. Pada ulang tahun yang ke-25 tahun 2010, SMA Negeri 12 Semarang mengadakan pementasan wayang kulit dan terbuka untuk masyarakat sekitar, selain berpartisipasi menjadi penonton, masyarakat juga ada ikut berpartisipasi dalam kepanitiaan. Partisipasi masyarakat sekitar SMA Negeri 12 Semarang juga terjadi ketika sekolah mengadakan jalan sehat, antara masyarakat dengan warga sekolah berbaur menjadi satu dalam kebersamaan.

….partisipasi masyarakat dengan SMA Negeri 12 Semarang jika saya amati cenderung wajar-wajar saja, dalam arti masyarakat tidak masuk terlalu jauh ke dalam, karena sekolah merupakan lembaga formal.., namun saya sangat merespon dengan positif bentuk partisipasi masyarakat sekitar, ketika sekolah mengadakan suatu kegiatan. Misalnaya pada saat sekolah merayakan ulang tahun, sekolah mengadakan jalan sehat, dan ini terbuka untuk masyarakat sekitar..saya melihat masyarakat sangat antusias sekali mengikuti., pada saat kegiatan lain juga antusias masyarakat juga sangat tinggi untuk berpartisipasi langsung, mislanya dalam acara bakti sosial, idhul qurban, maupun pada saat zakat fitrah…

(Titi Priyatiningsih, 51thn, Kepala SMA N 12 Semarang, wawancara tanggal 17/10/12)

Partisipasi masyarakat tidak hanya terjadi dalam hal kegiatan semata, namun dalam hal lain pun masyarakat sangat proaktif, misalnya ada siswa yang membolos diluar jam pelajaran, jika hal ini diketahui oleh masyarakat sekitar, maka segera dilaporkan ke pihak sekolah.

..…hubungan yang terjalin antara masyarakat sekitar dengan sekolah sangat kuat,.mas. ini bisa dilihat ketika sekolah mengadakan suatu kegiatan, didalamnya terkadang kita melibatkan masyarakat, begitu pula ketika di masyarakat mengadakan kegiatan, kita ambil bagian dalam kegiatan tersebut….masyarakatpun proaktif dalam pembinaan siswa, misalnya menegur siswa yang ketahuan membolos pada saat jam pelajaran, bahkan tak jarang yang melaporkan ke pihak sekolah…

(Sugeng, 46 thn, Staf TU wawancara pada tanggal 24/09/12). Partisipasi memegang peranan yang cukup penting dalam jaringan sosial, karena kerjasama yang terdapat dalam suatu lembaga dapat terjadi karena adanya partisipasi antar individu.

Unsur berikutnya yang terdapat dalam jaringan sosial adalah solidaritas. Warga SMA Negeri 12 Semarang, memiliki rasa solidaritas yang tinggi diantara para anggota-anggotanya, mulai dari kepala sekolah, guru, karyawan dan bahkan siswa. Solidaritas yang terjadi di SMA Negeri 12 Semarang merupakan solidaritas mekanis. Melalui kesadaran kolektif (Collective conscience) terdapat didalamnya Solidaritas mekanis diantara para anggotanya. Warga SMA Negeri 12 Semarang memiliki pemikiran yang sama, bahwa mereka merupakan bagian dari kelompok/lembaga (SMA Negeri 12 Semarang).

Warga SMA Negeri 12 Semarang menyadari apa yang menyatukan adalah perasaan bahwa pengetahuan dan ide orang-perorang tidak akan menghasilkan manfaat yang signifikan, bercermin dari hal tersebut mereka menyatukan diri

bersama, dengan asumsi bahwa kekuatan pikiran dan ide-ide bersama akan lebih bermanfaat dan mempunyai dorongan yang lebih efektif daripada secara individual. Collective conscience merupakan argumen yang dipakai Durkheim dalam mempertegas perbedaan antara solidaritas mekanis dan solidaritas organis.

Unsur yang lain dalam jaringan sosial adalah adanya kerjasama. Kerjasama dalam sebuah kelompok organisasi atau lembaga timbul akibat adanya keinginan dari para individu untuk memajukan lembaganya. Kerjasama tidak hanya dilakukan oleh antar individu, tetapi juga bisa dilakukan oleh antar lembaga. SMA Negeri 12 Semarang menjalin kerjasama dengan beberapa lembaga untuk menunjang program pendidikan, misalnya kerjasama dengan “LPK Budiman” yang merupakan lembaga untuk pelatihan komputer, kemudian pengembangan internet sekolah, SMA Negeri 12 Semarang menjalin kerjasama dengan “Excelent”.

….dalam mengembangkan pendidikan di sekolah ini, kami mengadakan kerjasama dengan lembaga lain, misalanya kami bekerjasama dengan LPK Budiman, ini untuk pelatihan komputer, sedangkan dengan excellent kami jajaki untuk kerjasama dalam hal Informasi dan Teknologi….

(Ismail, 38 thn, guru wawancara tanggal 19/09/12 ) Kerjasama yang dilakukan oleh SMA Negeri 12 Semarang dengan lembaga pelatihan tersebut merupakan bentuk kepedulian sekolah terhadap para siswa terutama siswa yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi setelah lulus dari sekolah.

….Kerjasama dengan LPK Budiman merupakan kerjasama dalam bentuk pelatihan komputer, hal ini sangat berguna bagi para siswa setelah mereka lulus dari sekolah ini, terutama bagi mereka yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Dan ini merupakan wujud nyata kepedulian sekolah terhadap siswa yang bersekolah disini….,Kami pihak

sekolah sangat peduli dengan para siswa, karena dengan pelatihan ini, siswa akan mendapat sertifikat keterampilan komputer, yang bisa dimanfaatkan untuk melamar pekerjaan…

(Titi priyatiningsih, 51 thn. Kepala Sekolah SMA N 12 Semarang, wawancara, 17/10/12)

Kerjasama yang dilakukan oleh SMA Negeri 12 Semarang tersebut merupakan suatu usaha bersama yang dilakukan oleh anggotanya dalam mewujudkan tujuan lembaga yang termaktub dalam misi lembaga. Mengenai kerjasama yang terdapat dalam modal sosial Fukuyama menegaskan dalam konsepnya, bahwa modal sosial merupakan serangkaian nilai-nilai atau norma- norma informal yang dimiliki bersama diantara para anggota suatu kelompok yang memungkinkan terjalinnya kerjasama. Cox (1995) dalam konsepnya juga menjelaskan bahwa modal sosial sebagai suatu rangkaian proses hubungan antar manusia yang ditopang oleh jaringan, norma-norma, dan kepercayaan sosial yang memungkinkan efisien dan efektifnya koordinasi dan kerjasama untuk keuntungan dan kebajikan bersama.

3. SMA Negeri 12 Semarang sebagai pranata sosial

Pranata sosial termasuk dalam elemen penting dari modal sosial karena berfungsi sebagai wadah terlangsungnya dari proses jaringan sosial Pranata sosial muncul akibat adanya kebutuhan masyarakat yang tidak dapat terpenuhi secara sendiri, untuk memenuhi kebutuhan tersebut, maka muncullah lembaga-lembaga masyarakat tersebut. SMA Negeri 12 Semarang merupakan sebuah lembaga yang dibentuk untuk memenuhi kebutuhan akan pendidikan. Bentuk dari pranata sosial tersebut bermacam ragam bentuknya, mulai dari yang tradisional seperti masyarakat adat, sampai pranata sosial yang bentuknya modern, seperti partai

politik, lembaga pendidikan (perguruan tinggi, sekolah), dan lain sebagainya. SMA Negeri 12 Semarang merupakan pranata sosial yang yang bentuknya modern. Jaringan sosial lebih teratur dan teroganisir dengan baik, jika ditampung dalam wadah formal seperti pranata sosial ini.

Sebagai wujud dari pranata sosial, SMA Negeri 12 Semarang memiliki seperangkat aturan-aturan, nilai-nilai maupun norma-norma beserta sanksi-sanksi. Aturan-aturan di SMA Negeri 12 Semarang tertuang dalam bentuk tata tertib yang mengikat bagi seluruh warga sekolah, baik guru, karyawan/staf Tu maupun siswa, beserta sanksi-sanksinya jika tata tertib tersebut dilanggar. Aturan-aturan yang berlaku tersebut dikuatkan agar menghasilkan hubungan timbal balik yang positif, munculnya harapan bagi kerjasama, kepercayaan, dan perilaku positif. Adapun di dalam sanksi, anak didik mentaati hukuman bagi pelanggaran dan (reward) penghargaan bagi yang mematuhi. Penghargaan yang diberikan oleh SMA Negeri 12 Semarang, biasanya diberikan saat akhir semester, sedangkan sanksi diberikan setiap saat sebagai proses pembinaan mental. Jika seorang peserta didik sudah sulit untuk dibina oleh sekolah, maka orang tua peserta didik tersebut di datangkan ke sekolah. Ancaman dikeluarkannya peserta didik dari sekolah dapat dilakukan demi menjaga moralitas yang lain.

Penghargaan atau reward yang diberikan kepada peserta didik tentu saja yang menarik, sehingga mendorong peserta didik untuk berlomba-lomba mendapatkannya. SMA Negeri 12 Semarang, memberikan penghargaan kepada peserta didik yang berprestasi, baik dalam bidang akademik maupun non akademik. Penghargaan yang diberikan tidak hanya untuk peserta didik yang

berprestasi dalam bidang-bidang tersebut saja, peserta didik yang memiliki kepribadian bagus dalam arti peserta didik selalu disiplin dan tidak melanggar tata tertib sekolah, merupakan sasaran lain SMA Negeri 12 Semarang untuk memberikan penghargaan bagi peserta didik.

….untuk menanamkan rasa disiplin bagi para siswa, kami menerapkan dengan tegas aturan-aturan yang ada di sekolah. Artinya kami akan memberikan sanksi kepada siswa yang melanggar, hal ini sudah tertulis dalam SK yang kami buat, kemudian memberikan penghargaan bagi siswa yang mematuhi aturan-aturan. Penghargaan yang diberikan oleh sekolah kepada siswa yang bermacam-macam bentuknya, mulai dari uang pembinaan, keringanan SPP, maupun pemotongan SPI…hal ini dilakukan agar menjadi contoh bagi siswa-siswa yang lain. Dan penyerahan penghargaan tersebut dilakukan pada saat upacara…..

(Titi Priyatiningsih, 51 thn, Kepala SMA N 12 Semarang, wawancara tanggal, 17/10/12)

Gambar 02. Kepala Sekolah memberikan penghargaan kepada siswa (Sumber: Dok. SMA Negeri 12 Semarang)

Gambar 02 memperlihatkan kepala sekolah memberikan hadiah kepada peserta didik di depan seluruh siswa pada saat upacara. Pemberian hadiah pada saat upacara dimaksudakan agar peserta didik yang lain dapat termotivasi menjadi yang terbaik.

Aturan-aturan tersebut diberlakukan kepada setiap anggotanya supaya proses pendidikan di SMA Negeri 12 Semarang berjalan dengan baik. Seperti yang diungkapkan oleh Soekanto (2000), bahwa di dalam suatu pranata sosial supaya dapat terjalin kerjasama, maka harus ada-ada norma-norma yang mengatur. Adanya norma-norma atau aturan, agar dalam pelaksanaan berbagai kegiatan dapat berjalan sebagaimana diharapkan.

Elemen-elemen yang terdapat di dalam modal sosial tersebut menjadi kekuatan dasar dalam penguatan suatu lembaga. Tanpa jaringan-jaringan yang melekat didalamnya, modal sosial tidak bisa dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Modal sosial di SMA Negeri 12 Semarang sangat diperlukan dalam pengembangan dan kemajuan lembaga. Modal sosial memungkinkan warga/individu dalam lembaga tersebut untuk menyelesaikan masalah kolektif lebih mudah, yaitu dengan kerjasama. Modal sosial dalam hal ini dapat dicirikan dalam bentuk kerelaan individu untuk mengutamakan keputusan komunitas atau lembaga. Dampak dari kerelaan ini akan menumbuhkan interaksi kumulatif yang menghasilkan kinerja yang lebih optimal.  

Dalam lembaga pendidikan, seperti di SMA Negeri 12 Semarang, modal sosial berfungsi sebagai pelumas dalam roda aktifitas yang memungkinkan masyarakat maupun warga sekolah untuk memajukan lembaga dengan lancar.

Melalui modal sosial yang dimiliki, maka akan terwujud sikap saling percaya dan sikap saling pengertian yang mengikat antar anggota dalam suatu kelompok yang memungkinkan terciptanya kerjasama yang memberi manfaat bagi lembaga. Melalui modal sosial pula SMA Negeri 12 Semarang memiliki kemudahan dalam melakukan koneksi dan hubungan ke komunitas maupun ke lembaga lain.  

Berdasarkan penjelasan-penjelasan tersebut, konsep modal sosial yang diungkapkan oleh Hasbullah sangatlah relevan. Hasbullah (2006), mendefinisikan bahwa modal sosial merupakan segala sesuatu hal yang berkaitan dengan kerjasama dalam masyarakat atau bangsa untuk mencapai kapasitas hidup yang lebih baik, ditopang oleh nilai-nilai dan norma yang menjadi unsur-unsur utamanya seperti trust (rasa saling percaya ), ketimbalbalikan, aturan-aturan kolektif dalam suatu masyarakat atau bangsa dan sejenisnya.

C. Peran Modal Sosial Sekolah dalam Pelaksanaan Pendidikan Karakter Bangsa di SMA Negeri 12 Semarang

Pendidikan yang berkualitas sangat berperan besar dalam membentuk kualitas individu ataupun masyarakat dan bangsa secara keseluruhan. Sekolah sebagai wujud dari lembaga pendidikan formal merupakan wadah resmi pembinaan generasi muda diharapkan dapat meningkatkan peranannya dalam pembentukkan kepribadian peserta didik melalui peningkatan intensitas dan kualitas pendidikan karakter. Lembaga pendidikan, dalam hal ini SMA Negeri 12 Semarang tidak terbatas hanya memberi dan menerima ilmu, tetapi sekolah juga merupakan wadah proses terjadinya sosialisasi nilai-nilai baru seperti kejujuran,

toleransi, kebersamaan, profesional, kebebasan dan lain sebagainya. SMA Negeri 12 Semarang dengan demikian tidak hanya berhubungan dengan dimensi culutral capital, human capital, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah modal sosial. Melalui modal sosial, suatu lembaga memperoleh akses langsung terhadap jaringan atau koneksitas dengan lembaga maupun individu dengan mudah.

Modal sosial yang dimilki SMA Negeri 2 Semarang menjadikan sekolah ini dapat dengan mudah memperoleh kerjasama maupun jaringan dengan instansi lain di dalam maupun di luar pendidikan.

…..dengan modal sosial yang dimiliki sekolah ini, kami bisa dengan mudah menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, entah itu dengan masyarakat sekitar, lembaga pelatihan, lembaga pemerintah, ataupun dengan yang lainnya…dengan berbagai kerjasama tersebut diharapkan dapat membantu dalam pengembangan sekolah ini.,khususnya dalam hal meningkatkan kualitas mutu pendidikan...

(Titi Priyatiningsih, 51 thn, Kepala Sekolah SMA N 12, 17/10/12)

Lembaga pendidikan yang dalam hal ini SMA Negeri 12 Semarang, merupakan lembaga yang memiliki kedudukan yang hierarkis. Jaringan sosial SMA Negeri 12 Semarang tidak hanya terbatas antar sesama warga di dalam SMA Negeri 12 Semarang saja, tetapi jaringan sosialnya dari tingkat satuan pendidikan hingga dinas pendidikan dan kebudayaan pusat. Secara hierarki SMA Negeri 12 Semarang sudah barang tentu menjalin kerjasama dengan instansi yang lain, misalnya dengan dinas pendidikan. Jaringan maupun kerjasama yang dilakukan SMA Negeri 12 Semarang tersebut tentunya memiliki pengaruh terhadap pelaksanaan pendidikan.

…adanya jaringan maupun kerjasama yang dilakukan oleh pihak sekolah dengan pihak lain, ini semata-mata untuk mengembangkan sekolah ini, terlebih lagi untuk meningkatkan kualitas pendidikan..,pendidikan tidak

akan berkembang tanpa ada dukungan dari berbagai pihak..disini peran modal sosial sangat diperlukan…

(Pujiono, 54 thn, Guru, wawancara tanggal, 21/09/12)

Pernyataan dari Pujiono tersebut mempertegas bahwa untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan berkarakter, perlu dukungan dari berbagai pihak. Pendidikan dapat berjalan dengan baik apabila semua elemen, baik warga sekolah, lingkungan maupun masyarakat mendukung program pendidikan yang dilaksanakan oleh sekolah. Adanya jaringan-jaringan hubungan sosial antar individu dalam modal sosial memberikan manfaat dalam konteks pengelolaan sumber daya milik bersama, yang dalam penelitian ini adalah SMA Negeri 12 Semarang. Melalui modal sosial tersebut akan mempermudah koordinasi dan kerjasama untuk keuntungan yang bersifat timbal balik, itulah yang dikatakan Putnam tentang jaringan sosial sebagai salah satu elemen dari modal sosial. Putnam (2000), menjelaskan bahwa modal sosial mengacu pada organisasi sosial dengan jaringan sosial, norma-norma, dan kepercayaan sosial yang dapat menjembatani tercapainya kerjasama dalam komunitas, sehingga terjalin kerjasama yang saling menguntungkan

Peran modal sosial dalam kaitannya dengan pendidikan karaker, diantaranya dapat dilihat dengan adanya keterlibatan semua anggota masyarakat sekolah dalam penanaman nilai-nilai karakter kepada peserta didik. Bentuk keterlibatan tersebut misalnya melalui keteladanan yang diberikan oleh para guru maupun staf tata usaha kepada peserta didik di lingkungan sekolah. Perilaku dari guru maupun staf tata usaha sehari-hari di lingkungan sekolah merupakan contoh nyata dari keteladanan yang diberikan kepada peserta didik untuk ditiru. Perilaku yang biasa

dilakukan oleh para guru maupun staf tata usaha SMA Negeri 12 Semarang dilingkungan sekolah misalnya, dengan ramah saling memberi senyum, salam dan menyapa ketika bertemu satu sama lain. Keteladanan yang diberikan kepada peserta didik secara langsung, akan memperkuat nilai-nilai karakter yang telah ditanamkan melalui pembelajaran dalam kelas. Bentuk profesionalisme dari para guru dalam kegiatan mengajar, juga merupakan bentuk modal sosial dari para guru untuk mengembangkan kegiatan pembelajaran di kelas agar lebih berkembang.

Pelaksanaan pendidikan karakter bangsa memerlukan wadah maupun sarana, sebagai pranata sosial, SMA Negeri 12 Semarang sangat mendukung untuk berlangsungnya pendidikan karakter bangsa. Melalui pranata sosial, pelaksanaan pendidikan karakter bangsa dapat berjalan sebagaimana mestinya. Jaringan sosial yang dimiliki oleh SMA Negeri 12 Semarang, memungkinkan terjalinnya kerja sama dengan lembaga lain bahkan dengan lembaga di luar pendidikan. SMA Negeri 12 Semarang menjalin kerja sama dengan Exellent untuk meningkatkan pengetahuan internet peserta didik. Pengetahuan internet dirasa perlu bagi peserta didik untuk menyongsong dunia global.

SMA Negeri 12 Semarang mengembangkan 18 nilai-nilai karakter dalam rangka lebih memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah, Nilai-nilai karakter yang dikembangkan oleh SMA Negeri 12 Semarang, antara lain yaitu (1) religius, (2) jujur, (3) toleransi, (4) disiplin, (5) kerja keras, (6) kreatif, (7) mandiri, (8) demokratis, (9) rasa ingin tahu, (10) semangat kebangsaan, (11) cinta tanah air, (12) menghargai prestasi, (13) bersahabat/komunikatif, (14) cinta damai,

(15) gemar membaca, (16) peduli lingkungan, (17) peduli sosial, dan (18) tanggung jawab. Dengan nilai-nilai tersebut diharapkan para peserta didik dapat merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pengembangan nilai-nilai dalam pendidikan karakter bangsa melalui budaya sekolah tidak hanya terbatas pada proses kegiatan pembelajaran, tetapi mencakup semua kegiatan yang dilakukan semua elemen warga sekolah, baik yang dilakukan oleh kepala sekolah, guru, karyawan, maupun peserta didik. Budaya sekolah yang dimaksud disini adalah suasana kehidupan sekolah dimana semua warga sekolah dapat saling berinteraksi dengan baik. Interakasi yang terjadi meliputi antara peserta didik dengan peserta didik yang lain, kepala sekolah dengan guru, guru dengan guru, guru dengan peserta didik, guru dengan karyawan, dan karyawan dengan peserta didik.

Adanya suasana kehidupan sekolah yang terjalin harmonis antar warga sekolah, merupakan modal sosial tersendiri yang dimiliki sekolah. Melalui modal sosial tersebut, maka pelaksanaan pendidikan karakter bangsa di SMA Negeri 12 Semarang dapat berjalan dengan lancar dan tidak mengalami kendala yang berarti. Pendidikan karakter pada intinya adalah suatu pembiasaan tingkah laku positif yang dilakukan oleh seseorang, khususnya peserta didik.

….pendidikan karakter bangsa merupakan suatu kegiatan mendidik, membiasakan tingkah laku yang dinilai positif, yang dilakukan oleh peserta didik agar senantiasa tertanam jiwa karakter yang baik..,dan ini tidak hanya dilakukan di lingkungan sekolah saja, melainkan dapat diiplementasikan dalam kehidupan sehari-hari…

(Titi Priyatiningsih, 51 thn, Kepala Sekolah SMA N 12 Semarang, wawancara tanggal,17/10/12)

Tanggungjawab pendidikan karakter bangsa yang dilaksanakan di SMA Negeri 12 Semarang, tidak hanya di bebankan oleh kepala sekolah atau pun guru semata, tetapi semua komponen warga sekolah ikut bertanggungjawab, hanya saja secara srtuktural semua kegiatan yang berada di lingkup satuan pendidikan (sekolah) berada di bawah tanggungjawab kepala sekolah. Program pendidkan karakter bangsa harus melibatkan siswa secara aktif dalam semua kegiatan keseharian di sekolah. Melalui kegiatan keseharian di sekolah, akan terlihat perilaku yang tercermin dari para peserta didik, sehingga para guru, maupun karyawan/staf TU dapat memberi teladan yang baik sesuai nilai-nilai karakter yang dikembangkan oleh sekolah.

Merupakan salah satu kunci keberhasilan program pendidikan di sekolah adalah adanya keteladanan dari para pendidik dan tenaga kependidikan. Keteladanan semua warga sekolah dalam pelaksanaan pendidikan karakter bangsa di SMA Negeri 12 Semarang dalam hal ini sangat diperlukan. Keteladanan tersebut diantaranya dapat diwujudkan dengan perawatan, pemanfaatan, pemeliharaan sarana dan prasarana serta lingkungan sekolah.

Penanaman nilai-nilai karakter dapat awali dari lingkungan keluarga yang merupakan lembaga terkecil dalam masyarakat. Nilai-nilai karakter yang berasal dari lingkungan sekolah yang terintegrasi dalam setiap mata pelajaran kemudian diperkuat kembali di lingkungan keluarga. Sebagai orang tua misalnya, mengajarkan serta membiasakan kebiasaan-kebiasaan yang baik dirumah, memberi contoh perilaku-perilaku yang terpuji misalnya dengan mengingatkan ketika anak lupa berdo’a sebelum melakukan aktifitas (nilai religius), tidak

berbohong (nilai jujur), tepat waktu dalam segala hal (nilai disiplin), dan lain sebagainya.

….keluarga merupakan tempat pendidikan pertama dan utama bagi seseorang. Pendidikan dalam keluarga sangat berperan dalam mengembangkan karakter. Peran orang tua dalam membentuk karakter anak misalnya dengan cara mengajarkan cara berbahasa dalam pergaulan sehari-hari, melakukan pembiasaan-pembiasaan yang baik, misalnya menghargai hasil karya anak, walaupun bagaimana pun bentuknya, tidak berbohong, dan sebagainya..,disini keluarga dapat berperan sebagai fondasi dasar untuk memulai langkah-langkah dalam ikut mengembangkan pendidikan karakter….

(Titi Priyatiningsih, 51 thn, Kepala Sekolah SMA N 12 Semarang, wawancara tanggal,17/10/12)

Peran dari masyarakat sekitar untuk ikut membangun pendidikan karakter bangsa pada peserta didik pun tidak boleh diabaikan begitu saja. Nilai-nilai karakter yang diperoleh peserta tidak hanya dari dalam kelas, melainkan berasal dari lingkungan luar sekolah. Masyarakat merupakan wahana pembinaan dan pengembangan karakter melalui keteladanan tokoh masyarakat, sehingga nilai- nilai karakter dapat diinternalisasi menjadi perilaku dan budaya dalam kehidupan sehari-hari.

Bentuk dukungan dari berbagai pihak dalam pengembangan pendidikan karakter bangsa di SMA Negeri 12 Semarang, merupakan wujud nyata dari adanya modal sosial yang dimiliki. Dukungan tersebut sebagai akibat dari adanya jaringan atau pun hubungan yang terjalin dengan masyarakat yang memunculkan sikap saling percaya diantara mereka. Tanpa adanya modal sosial tersebut, pendidikan karakter bangsa yang selama ini diidam-idamkan akan membentuk karakter serta kepribadian bagi peserta didik, tidak akan berjalan dengan baik,

sesuai yang diharapkan. Artinya, keadaan ini sama dengan apa yang di ungkapkan oleh Putnam dalam konsepnya tentang modal sosial.

Putnam menjelaskan bahwa modal sosial mengacu pada hubungan antara individu-individu, jaringan sosial, norma-norma timbal balik dan kepercayaan yang muncul dari mereka. Peran modal sosial sangat diperlukan dalam pengembangan suatu lembaga untuk mendapatkan jaringan sosial yang tersebar di

Dokumen terkait