• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PROFIL INSTANSI PEMERINTAH KOTA MEDAN

D. JaringanKegiatan

Adapun jaringan kegiatan pada Pemerintahan Kota Medan, yaitu dinas-dinas di kota medan yang merupakan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), yang akan memberikan laporan keuangannya kepada BPKD Kota Medan untuk dikonsolidasi dan diberikan kepada Kepala Daerah sebagai Laporan Pertanggungjawaban.

E. Kinerja Terkini

Kinerja terkini yang dilakukan pada Kantor Walikota Medan, yaitu Pendampingan Penatausahaan Keuangan SKPD di Lingkungan Pemerintah Kota

Medan untuk meningkatkan kualitas penatausahaan keuangan SKPD tahun anggaran 2016 dengan menggunakan aplikasi SIMDA (Sistem Informasi Daerah).

F. Rencana Kegiatan

Rencana program dan kegiatan di Kantor Walikota Medan dirumuskan berdasarkan program dan kegiatan bidang-bidang pelaksana. Adapun Rencana Kegiatan pada Kantor Walikota Medan, yaitu:

1. Program pelayanan administrasi perkantoran.

2. Program peningkatan sarana dan prasarana aparatur.

3. Program peningkatan disiplin aparatur.

4. Program peningkatan kapasitas sumber daya aparatur.

5. Program peningkatan pengembangan sistem pelaporan capaian kinerja dan keuangan.

6. Program peningkatan dan pengembangan pengelolaan keuangan daerah.

BAB III

PENERAPAN KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN DALAM RENCANA KERJA (TAHUNAN) APBD

PEMERINTAH KOTA MEDAN A. Pengertian Kebijakan Umum Anggaran

Kebijakan Umum Anggaranatau KUA adalah dokumen yang memuat kebijakan bidang pendapatan, belanja, dan pembiayaan serta asumsi yang mendasarinya untuk periode satu tahun.Rancangan KUA menjadi dasar dalam penyusunan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Tahun Anggaran 2015 yangmemuat kondisi ekonomi makro daerah, asumsi-asumsi dasar dalam penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah(R.APBD) dan kebijakan mengenai pendapatan, belanja dan pembiayaan daerah serta strategi pembangunan kota.

KUA merupakan wujud dari sinkronisasi Kebijakan antara Pemerintah Daerah dengan Pemerintah Pusat Tahun 2015 dengan tema Pembangunan Nasional “Melanjutkan Reformasi bagi Percepatan Pembangunan Ekonomi yang Berkeadilan“.Menurut Soeradi (2014; 14) Pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota harus mendukung tercapainya sasaran utama dan prioritas pembangunan nasional sesuai dengan potensi dan kondisi masing-masing daerah, mengingat keberhasilan pencapaian sasaran utama dan prioritas pembangunan nasional sangat tergantung pada sinkronisasi kebijakan antara pemerintah provinsidengan pemerintah pusat dan antara pemerintah kabupaten/kota dengan pemerintah pusat dan pemerintah propinsi.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 dan perubahannya maka untuk menjamin terselenggaranya pemerintahan dan pembangunan kota yang efektif, efisien, dan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, diperlukan rencana pembangunan tahunan yang dituangkan dalam tahapan dokumen Kebijakan Umum Anggaran APBD Kota Medan Tahun 2015.

Disamping untuk memenuhi amanat undang-undang tersebut, Kebijakan Umum Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Medan Tahun 2015 dimaksudkan pula sebagai penjabaran setiap tahun implementasi visi RPJMD Kota Medan yaitu

“Kota Medan Menjadi Kota Metropolitan yang Berdaya Saing, Nyaman, Peduli dan Sejahtera”.

B. KERANGKA EKONOMI MAKRO KOTA MEDAN

Menurut Tarmizi (2010; 11 ) Ekonomi makro adalah salah satu cabang ilmu ekonomi yang memfokuskan analisisnya terhadap variabel ekonomi secara keseluruhan serta akibat yang ditimbulkannya seperti resesi, pertumbuhan ekonomi, inflasi, pengangguran serta depresiasi dan apresiasi uang. Hal ini berarti bahwa makro ekonomi menyangkut masalah perekonomian yang kita hadapi sehari-hari. Untuk itu peran pemerintah sangat dibutuhkan dalam menghadapi masalah tersebut melalui kebijakan pemerintah seperti memacu pertumbuhan ekonomi, stabilitas harga dalam kerangka mengatasi inflasi dan memperluas kesempatan kerja. Dengan kata lain, ekonomi makro memuat kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat agar tidak terjadi krisis ekonomi dan masalah yang serius.

Secara umum perkiraan kerangka ekonomi makro Kota Medan tahun 2015 merupakan faktor-faktor yang dianggap ikut mempengaruhi penyusunan

Rancangan-APBD tahun 2015. Selain itu, kerangka ekonomi makro disusun sebagai bentuk sasaran dan tujuan yang diharapkan dapat dicapai dalam tahun 2105.

Secara substansi, penyusunan kerangka ekonomi makro tahun 2015 berpedoman pada Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) tahun 2015, yang merupakan perwujudan implementif jangka pendek dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Medan tahun 2011-2015. Selain itu, substansi dari kerangka ekonomi makro selalu memperhatikan berbagai perkembangan terkini kinerja perekonomian baik pada tingkat global, nasional, dan regional. Oleh karena itu, kerangka ekonomi makro ini dijadikan dasar untuk memproyeksikan kondisi ekonomi makro Kota Medan Tahun 2015.

1. Perkembangan Indikator Ekonomi Makro Kota Medan

Kinerja perekonomian suatu daerah umumnya diukur oleh beberapa indikator ekonomi yang bisa mencerminkan tingkat kegiatan ekonomi di masyarakat. Beberapa indikator ekonomi ini memiliki peranan penting sebagai bahan evaluasi untuk menilai tingkat keberhasilan yang telah dicapai dan dapat dijadikan dasar untuk memproyeksi kondisi ekonomi makro Kota Medan pada tahun 2015, antara lain:

1.1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Indikator yang digunakan untuk menggambarkan kemampuan suatu daerah dalam mengelola sumber daya yang dimilikinya. Rahardjo Adisasmita (2011) berpendapat bahwa indikator yang dipergunakan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi adalah tingkat pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

Sumber: Kebijakan Umum Anggaran Kota Medan (Tahun 2015)

Gambar 3.1.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Medan Periode 2010-2013 (Rp. Triliun)

Berdasarkan gambar di atas, secara umum PDRB Kota Medan Atas Dasar Harga Berlaku selama periode 2010-2013 menunjukkan tren yang cukup meningkat dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 12,14 persen. Tetapi besaran tersebut belum menggambarkan kondisi yang sebenarnya karena nilai PDRB atas dasar harga berlaku masih mengandung unsur inflasi.

Sementara itu, besaran nilai PDRB Kota Medan Atas Dasar Harga Konstan (ADHK tahun 2000) tumbuh dengan rata-rata sekitar 6,59 persen pertahun. Kondisi ini mengindikasikan bahwa kinerja ekonomi Kota Medan secara riil semakin membaik dengan perkembangan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun selama kurun waktu tersebut.

2010 2011 2012 2013

85,09 93,61

105,4

121,31

35,57 38,57 41,51 44,59

PDRB ADH Berlaku PDRB ADH Konstan 2000

1.2. Struktur Perekonomian

Struktur perekonomian daerah sangat ditentukan oleh besarnya peranan masing-masing sektor ekonomi dalam memproduksi barang dan jasa. Struktur ekonomi Kota Medan menunjukkan bahwa sektor perdagangan, hotel dan restoran merupakan sektor yang berkontribusi besar dalam pembentukan PDRB dengan rata-rata sebesar 25,77 persen pertahun selama periode 2010-2013. Selanjutnya diikuti oleh sektor pengangkutan dan komunikasi dengan rata-rata 19,30 persen pertahun dan sektor industri pengolahan sebesar 15,75 persen serta sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan mencapai 14,37 persen pertahun.

Tabel 3.1.

Struktur Perekonomian Kota Medan Tahun 2010 - 2013 Sektor/Lapangan

b. Pertambangan dan Penggalian

a. Perdagangan, Hotel, dan Restoran

26,92 25,92 25,52 26,94 b. Transportasi dan

Telekomunikasi

18,95 19,02 19,27 21,21 c. Keuangan dan Jasa

Perusahaan

14,27 15,11 15,50 14,87

d. Jasa-jasa 10,72 10,88 11,13 10,73

PDRB 100,00 100,00 100,00 100,00

Sumber: Kebijakan Umum Anggaran Kota Medan (Tahun 2015)

Sementara itu, berdasarkan gambar diatas memperlihatkan kontribusi sektor/lapangan usaha yang dominan dalam perekonomian Kota Medan adalah

sektor tersier, yakni lapangan usaha perdagangan/hotel dan restoran, tranportasi/telekomunikasi, keuangan dan jasa perusahaan dan jasa-jasa.

Kontribusi sektor ini mengalami peningkatan dari 70,87 persen pada tahun 2010 menjadi 73,75 persen pada tahun 2013. Peningkatan ini didukung oleh tumbuhnya sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan. Besarnya kontribusi sektor pengangkutan dan komunikasi terutama didukung oleh semakin menariknya penggunaan pesawat komersil dan meningkatnya intensitas kegiatan komunikasi melalui ponsel dan internet.

1.3. Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi pada dasarnya adalah gambaran dari aktifitas perekonomian di masyarakat di suatu daerah dan sebagai salah satu tolak ukur dari keberhasilan pembangunan dibidang ekonomi. Berdasarkan PDRB Kota Medan dapat dianggap masih cukup dinamis selama periode 2010-2013.

Sumber: Kebijakan Umum Anggaran Kota Medan (Tahun 2015)

Gambar 3.2.

Pertumbuhan Ekonomi Kota Medan Periode 2010-2013 (Persen)

Dilihat dari sisi penawaran, kinerja pertumbuhan ekonomi Kota Medan selama periode 2010-2013 menunjukkan kondisi yang cukup menggembirakan.

7,16 7,69 7,63 7,41

2010 2011 2012 2013

Pertumbuhan Ekonomi

Namun secara umum, tingginya laju pertumbuhan ekonomi Kota Medan lebih didorong oleh kelompok sektor tersier yang terdiri dari sektor pengangkutan dan komunikasi yang rata-rata tumbuh sebesar 8,77 persen pertahun. Pertumbuhan yang tinggi ini didukung oleh sub sektor komunikasi yang menjadikan sarana komunikasi sebagai kebutuhan pokok masyarakat.

1.4. Perkembangan Inflasi

Menurut Rahayu (2014; 27), Inflasi adalah suatu keadaan dalam perekonomian dimana terjadi kenaikan harga-harga secara umum dan dapat menyebabkan perubahan yang sangat luas terhadap kegiatan ekonomi masyarakat.

Banyak faktor lain yang mempengaruhi inflasi seperti tata niaga, kelancaran arus lalu lintas barang dan jasa serta peran kebijakan pemerintah bahkan lebih luas lagi inflasi terkait dengan perilaku sektor keuangan.

Sumber: Kebijakan Umum Anggaran Kota Medan (Tahun 2015)

Gambar 3.3.

Perkembangan laju Inflasi Kota Medan Periode 2010-2013 (Persen)

Berdasarkan gambar di atas, perkembangan laju inflasi di Kota Medan selama periode tersebut menunjukkan perkembangan yang berfluktuasi.

Peningkatan laju inflasi ini sebagai dampak dari terjadinya krisis ekonomi global

7,65

3,54 3,79

10,09

2010 2011 2012 2013

sehingga mendorong terjadinya kenaikan harga-harga barang dan jasa yang berasal dari luar negeri (imported inflation).

Tabel 3.2.

Perkembangan Inflasi Kota Medan Menurut Kelompok Pengeluaran Periode 2010-2013 (Persen)

No Komoditi

Tingkat Inflasi (%)

2010 2011 2012 2013

1 Bahan Makanan 0,91 0,91 1,79 12,60

2 Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau

6,64 3,97 4,36 5,56

3 Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar

8,44 4,42 3,16 8,43

4 Sandang 8,60 11,04 5,94 2,71

5 Kesehatan 2,46 7,44 2,24 1,80

6 Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga

0,72 4,80 2,25 8,94

7 Transportasi dan Komunikasi 1,48 3,07 7,92 19,51

Umum 7,65 3,54 3,79 10,09

Sumber: Kebijakan Umum Anggaran Kota Medan (Tahun 2015)

Untuk tahun 2013, laju inflasi Kota Medan kembali mengalami peningkatan menjadi sebesar 10,09 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Peningkatan ini dipicu oleh kenaikan harga bahan pangan dan energi yang terjadi baik di pasar internasional maupun pasar domestik. Selain itu inflasi juga didorong oleh meningkatnya harga emas dan rencana kebijakan pemerintah terkait BBM bersubsidi yang mendorong ekspetasi harga di benak konsumen.

1.5. Pengangguran

Menurut Keynes (2012; 23) Kesempatan kerja penuh tidak selalu dapat dicapai dalam perekonomian. Kebanyakan perekonomian akan selalu menghadapi masalah pengangguran dan keadaan tersebut wujud sebagai akibat kekurangan

permintaan efektif. Artinya, dalam masyarakat akan terjadi keadaan dimana keinginan masyarakat untuk berbelanja lebih rendah dari kemampuan perekonomian memproduksi barang dan jasa. Akibatnya, perusahaan tidak akan menggunakan alat-alat produksinya secara maksimum dan tidak semua tenaga kerja dalam perekonomian akan digunakan dalam kegiatan memproduksi sehingga terjadi pengangguran.

Jumlah pengangguran di Kota Medan mengalami peningkatan dari 127.670 jiwa tahun 2010 menjadi 160.713 jiwa pada tahun 2013 atau mengalami pertumbuhan rata-rata 7,98 persen pertahun yang disebabkan bertambahnya angkatan kerja yag memasuki dunia kerja yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun.

1.6. Kemiskinan.

Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik), tingkat kemiskinan di Kota Medan selama periode 2010 hingga 2013 menunjukkan tren yang menurun dengan persentase 7,09 persen pada tahun 2010 menurun hingga sebesar 6,04 persen pada tahun 2013. Hal ini tidak terlepas dari dukungan berbagai program pemberdayaan masyarakat yang merupakan bagian dari pemenuhan hak-hak dasar rakyat seperti pemberian subsidi, bantuan sosial, PNPM Mandiri dan dana kredit/pembiayaan bagi usaha mikro, kecil, menengah (UMKM) dan koperasi dari sektor keuangan dan langkah-langkah pemberdayaan masyarakat lainnya.

2. Rencana Target Ekonomi Makro Kota Medan

Berdasarkan perkiraan kondisi perekonomian nasional dan regional yang semakin membaik, dengan laju pertumbuhan ekonomi yang tetap dinamis, maka kebijakan ekonomi makro Kota Medan pada tahun 2015 diarahkan pada

percepatan dan perluasan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan bagi peningkatan kesejahteraan rakyat. Untuk menjamin efektivitas kebijakan ekonomi daerah yang ditempuh, Pemerintah Kota Medan menetapkan rencana target indikatif ekonomi makro tahun 2015 sebagai berikut :

a. PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) tahun 2014 diprediksikan sebesar Rp.125,59 triliun dan diproyeksikan meningkat pada tahun 2015 menjadi Rp.

127,46 triliun. Sedangkan PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK 2000) diprediksikan pada tahun 2014 mencapai Rp. 46,69 dan diproyeksikan menjadi Rp. 50,25 triliun pada tahun 2015.

b. Perkiraan Struktur Ekonomi Kota Medan berdasarkan kelompok sektor primer cenderung menurun dengan peranannya tidak lebih dari 2,85 persen terhadapn PDRB. Untuk tahun 2015 diproyeksikan sebesar 2,08 persen.

Sementara itu, kontribusi kelompok sektor sekunder tahun 2014 diperkiran stabil pada kisaran 26,70 persen dan untuk tahun 2015 diproyeksikan sebesar 26,44 persen. Sebaliknya untuk kontribusi kelompok sektor tersier memperlihatkan tren yang meningkat dari 69,22 persen pada tahun 2014 menjadi 71,02 persen pada prediksi tahun 2015. Sektor ini diharapkan menjadi lokomotif bagi pertumbuhan ekonomi Kota Medan pada tahun 2015 dengan mengandalkan sektor jasa perdagangan, keuangan, persewaan dan jasa perusahaan serta sektor pengangkutan dan komunikasi.

c. Perkiraan Pertumbuhan Ekonomi Kota Medan pada tahun 2014 diprediksi mencapai 7,02 persen dan diproyeksikan pada tahun 2015 tumbuh pada kisaran 7,5 persen. Proyeksi optimisme ini tentunya setelah mempertimbangkan kondisi perekonomian nasional dan regional yang

semakin membaik akibat iklim investasi dan nilai tukar Rupiah yang stabil sehingga arus modal invetasi yang masuk lebih besar ke Kota Medan pada tahun 2015.

d. Perkiraan PDRB Perkapita Kota Medan Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) diprediksikan Meningkat pada tahun 2014 menjadi Rp. 54,56 juta dan tahun 2015 diproyeksikan naik menjadi sebesar Rp. 56,72 juta. Sedangkan PDRB menurut ADHK 2000 diprediksikan meningkat menjadi Rp. 24,23 juta pada tahun 2014 dan diproyeksikan meningkat kembali menjadi Rp. 25,13 juta di tahun 2015.

e. Perkiraan Inflasi di Kota Medan tahun 2014 diprediksikan pada kisaran 6,01 persen dan diproyeksikan sedikit meningkat dari prediksi 2015 menjadi 6,5 persen. Pemko Medan berupaya menjaga tingkat kestabilan harga-harga barang dan jasa terutama kebutuhan pokok dasar bagi masyarakat melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dengan cara meningkatkan fungsi-fungsi stabilitas yang efektif.

f. Perkiraan Pengangguran di Kota Medan diupayakan melalui kebijakan Pemerintah Kota Medan untuk terus mendorong dan menggerakkan sektor riil agar menekan tingkat pengangguran tersebut yang diprediksikan tahun 2014 sebesar 8,00 persen dan diproyeksikan menurun pada tahun 2015 pada kisaran 7,85 persen.

g. Perkiraan Kemiskinan di Kota Medan tahun 2014 diprediksikan jumlah penduduk miskin sekitar 5,23 persen dan diproyeksikan akan terus menurun tahun 2015 dengan kisaran 5,00 persen dapat tercapai dengan asumsi stabilitas ekonomi daerah terjaga dan laju inflasi melalui distribusi barang

yang lancar serta program penanggulangan kemiskinan yang semakin terintegritasi.

h. Prospek Ekonomi Kota Medan Tahun 2015

Saat ini kondisi perekonomian Kota Medan cenderung semakin membaik, hal ini menunjukkan program-program pembangunan yang dilaksanakan Pemerintah Kota Medan sudah berada dalam arah yang benar.

Tabel 3.3.

Prospek Ekonomi Kota Medan Tahun 2015

No. Indikator Satuan Tahun 2015

1 PDRB ADHB Rp. triliun 127,46

2 PDRB ADHK 2000 Rp. triliun 50,25

3 PDRB per Kapita ADHB Rp. juta 56,72

4 PDRB per Kapita ADHK 2000 Rp. juta 25,13

5 Pertumbuhan Ekonomi % 7,5

6 Inflasi % 6,5

7 Tingkat Pengangguran % 7,85

8 Jumlah Penduduk Miskin % 5,00

Sumber: Kebijakan Umum Anggaran Kota Medan (Tahun 2015)

C. Asumsi-Asumsi Dasar Dalam Penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah (RAPBD)

Penyusunan dan perhitungan APBD Kota Medan Tahun 2015 dihitung berdasarkan asumsi-asumsi sebagai berikut :

1. Asumsi dasar yang digunakan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)

2. Laju inflasi daerah

3. Pertumbuhan Ekonomi atau PDRB

4. Lain-lain asumsi terkait dengan arah kebijakan ekonomi daerah

3.1. Asumsi Dasar yang digunakan dalan R.APBN TA.2105

Penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun 2015 difokuskan pada percepatan dan perluasan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan bagi peningkatan kesejahteraan rakyat, ditengah ketidakseimbangan pemulihan ekonomi global. Oleh karena itu, asumsi-asumsi yang digunakan cenderung masih dipengaruhi oleh kondisi eksternal.

Berikut beberapa asumsi dasar yang digunakan dalam penyusunan RAPBN T.A.2015, antara lain :

a. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2015 diperkirakan berkisar antara 6,5 persen hingga 6,9 persen.

b. Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS tahun 2015 berkisar antara Rp. 9.000 Rp. 9.300 per dolar AS.

c. Tingkat Inflasi tahun 2015 diperkirakan pada kisaran 5,5 - 6,5 persen.

d. Suku Bunga SPN 3 bulan sebagai acuan pengganti SBI 3 bulan pada tahun 2015diperkirakan pada kisaran 5,5 – 7,5 persen.

e. Harga Minyak Indonesia (ICP) diperkirakan berada pada kisaran US$85 - US$97per barel.

f. Harga Minyak pada tahun 2015 diperkirakan akan mencapai kisaran 0,950 0,970 juta barel per hari sebagai hasil investasi di sektor pertambangan minyak yang cenderung meningkat.

g. Defisit Anggaran pada tahun 2015 ditargetkan pada kisaran 1,4 – 1,6 persen dariProduk Domestik Bruto (PDB).

3.2. Asumsi Dasar Penyusunan R.APBD T.A.2015

a. Perkembangan Inflasi Kota Medan berdasarkan kondisi riil tahun-tahun sebelumnya dan dengan mengefektifkan pengendalian inflasi daerah maka laju inflasi Kota Medan tahun 2015 diperkirakan pada kisaran 5,92 persen.

b. Pertumbuhan Ekonomi Kota Medan diprediksi lebih baik dari tahun sebelumnya, sehingga diharapkan akan lebih berkualitas dan berkesinambungan dengan penciptaan kesempatan kerja yang lebih luas dan mendorong peningkatan daya beli masyarakat, sehingga penerimaan Pemerintah Kota Medan melalui pajak dan retribusi daerah (PAD) lebih meningkat.

Berdasarkan kondisi tersebut, Pemerintah Kota Medan menetapkan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2015 pada kisaran 7,02 persen. Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi tersebut, Pemerintah Kota Medan mengupayakannya dengan asumsi-asumsi sebagai berikut :

a. Tersedianya persediaan barang dan jasa yang cukup dan tetap terjaga, terutama kebutuhan dasar masyarakat.

b. Stabilitas harga-harga barang dan jasa tetap terjaga dengan ketersediaan pasokan dan lancarnya arus distribusi barang dan jasa sehingga dapat menekan laju inflasi sesuai target yang ditetapkan.

c. Permintaan domestik yang meningkat terutama untuk konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah.

d. Meningkatnya investasi sehingga menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi daerah.

e. Adanya koordinasi dan sinergitas yang semakin baik antara pihak Pemerintah Kota Medan (eksekutif) dan DPRD (legislatif) serta lembaga-lembaga pemerintah lainnya, termasuk dengan sektor swasta.

3.3. Arah Kebijakan Ekonomi Kota Medan Tahun 2015

Stabilitas perekonomian daerah merupakan prasyarat dasar untuk tercapainya peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pertumbuhan ekonomi yang lebih dinamis dan peningkatan kualitas pertumbuhan. Stabilitas perekonomian daerah sangat penting untuk memberikan kapasitas berusaha bagi para pelaku ekonomi.

Mengingat pentingnya stabilitas ekonomi daerah bagi pencapaian visi dan misi pembangunan kota, maka Pemerintah Kota Medan bertekad untuk terus mendorong percepatan dan perluasan ekonomi daerah dengan arah kebijakan ekonomi Kota Medan Tahun 2015 sebagai berikut :

1. Meningkatnya daya saing ekonomi Kota Medan dengan didukung kondisi infrastruktur, seperti kondisi jalan/jembatan yang semakin baik.

2. Meningkatkan pelayanan dengan mengutamakan prinsip Keterbukaan dan Ketepatan Waktu.

3. Pengembangan perekonomian wilayah lingkar luar melalui pengelolahan wilayah strategis/cepat tumbuh.

4. Pengembangan kawasan sub-sub pelayanan pada sektor-sektor ekonomi atau pusat-pusat pertumbuhan di kecamatan.

5. Mengembangkan sektor perdagangan dan jasa dengan berbasis pada pelaku usaha kecil, menengah dan koperasi yang bergerak pada sektor potensial dan

ekonomi kreatif dengan meningkatkan dan mendorong perkuatan permodalan UKM dan Koperasi.

6. Pengembangan infrastruktur sosial ekonomi kota melalui peningkatan aksessibilitas kualitas pelayanan pendidikan, kesehatan, lapangan kerja dan pelayanan PMKS khususnya bagi masyarakat miskin dan kurang mampu, termasuk tata ruang dan pelayanan umum.

D. Kebijakan Pendapatan, Belanja Dan Pembiayaan Daerah

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) merupakan salah satu instrument utama dari kebijakan fiskal daerah yang mempunyai kedudukan dan peran penting dan strategis dalam mewujudkan tujuan dan sasaran pembangunan kota, sebagaimana yang tertuang dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) setiap tahunnya. Fungsi strategis APBD tersebut terkait dengan tiga fungsi utama pemerintah, yaitu untuk : mengalokasikan sumber-sumber ekonomi, mendistribusikan barang dan jasa serta menjaga stabilitas dan akselerasi kinerja ekonomi daerah.

Sebagai implementasi Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, maka penyelenggaraan pemerintahan daerah diarahkan pada upaya peningkatan efisiensi, efektivitas dan akuntabilitas dalam pengelolaan sumber daya keuangan daerah. Sebagai wujud konkritnya, pengelolaan keuangan daerah dapat dilakukan pemerintah daerah melalui penyusunan, pembahasan dan penetapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) secara tepat waktu dan mampu mencerminkan aspirasi kebutuhan masyarakat.

Dalam penyusunan APBD, penganggaran pengeluaran harus didukung dengan adanya kepastian tersedianya penerimaan dalam jumlah yang cukup, baik pendapatan, belanja maupun pembiayaan daerah yang dianggarkan dalam APBD, harus berdasarkan pada ketentuan peraturan perundang-undangan.Struktur APBD merupakan satu kesatuan yang terdiri atas pendapatan daerah, belanja daerah dan pembiayaan daerah, (Karianga, 2011: 76).

1. Pendapatan Daerah

Pendapatan daerah dalam struktur APBD memiliki kedudukan, fungsi dan peranan strategis guna mendukung penyelenggaraan pemerintahan daerah, terutama dalam rangka pelayanan publik.Dari tahun ke tahun kebijakan mengenai Pendapatan Asli Daerah (PAD) masing-masing daerah relatif tidak banyak berubah.Setelah desentralisasi fiscal digulirkan oleh pemerintah pusat, maka pemerintah daerah berlomba-lomba menciptakan kreatifitas baru untuk meningkatkan jumlah PAD masing-masing daerah sebagai andalan utama daerah untuk mendukung penyelenggaraan pemerintahan dan pembiayaan pembangunan.

PAD banyak tergantung kepada besar kecilnya nilai investasi di suatu daerah.

(Sirojuzilam, 2010: 135).

1.1. Kebijakan Perencanaan Pendapatan Daerah

Dalam rangka mendukung strategi peningkatan pendapatan daerah untuk menjaga kesinambungan pelayanan publik (sustainability public service) maka kebijakan perencanaan pendapatan daerah Kota Medan tahun 2015 diformulasikan sebagai berikut :

a. Pengelolaan yang lebih efektif guna mengoptimalkan perolehan pandapatan daerah yang dinamis melalui sumber-sumber pendapatan daerah yang secara potensial dapat dikembangkan.

b. Pengembangan organisasi di bidang pengelolaan pendapatan daerah guna meningkatkan kemandirian dalam pembiayaan pembangunan kota.

1.2. Target Pendapatan Daerah

Dalam rangka menyelenggarakan pemerintahan daerah dengan basis desentralisasi dan otonomi daerah yang nyata dan bertanggungjawab, Pemerintah Kota Medan setiap tahunnya selalu berusaha untuk mewujudkan peningkatan pendapatan daerah dengan tetap memperhatikan kelayakan dan iklim investasi di daerah. Adapun proyeksi target capaian pendapatan daerah Kota Medan untuk periode 2014-2015 adalah sebagai berikut :

A. Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Pendapatan asli daerah merupakan sumber keuangan daerah yang digali dari dalam wilayah yang bersangkutan, yang terdiri dari pajak daerah, retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan serta lain-lain pendapatan asli daerah yang sah.Gambaran komposisi perkiraan PAD Kota Medan periode 2014-2015 disajikan pada tabel dibawah ini.

Tabel 3.4

Target Komposisi PAD Kota Medan Tahun 2014-2015 Komposisi

273.992.900.000 175.678.890.000 (98.224.010.00) (35,85 ) C. Hasil

Pengelolaan Kekayaan Daerah

6.823.791.825 7.405.018.825 581.227.000 8,52

D. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah

D. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah

Dokumen terkait