PROSES PENYELENGGARAAN KLHS
1. Jasa biodiversitas (perlindungan plasma nutfah)
Biodiversitas atau keanekaragaman hayati merupakan keragaman antar makhluk hidup pada berbagai sumber baik dari daratan, lautan, dan ekosistem perairan lainnya. Unsur hayati alam bersumber dari sumberdaya alam nabati (tumbuhan) dan sumberdaya alam hewani (hewan). Biodiversitas sangat berkaitan dengan sumber daya genetik dari spesies flora dan fauna, sehingga dengan semakin melimpahnya keanekaragaman hayati, maka semakin melimpah pula sumber daya genetik yang tersedia. Distribusi dan jasa ekosistem dalam mendukung biodiversitas ditentukan oleh tipe dari bentang alam dan penutupan lahan pada areal bervegetasi. Sebaran wilayah jasa ekosistem pendukung biodiversitas
PEMERINTAH KABUPATEN BULELENG DINAS LINGKUNGAN HIDUP
(perlindungan plasma nutfah).
Persentase wilayah Kabupaten Buleleng yang menyediakan dukungan biodiversitas berkategori sangat tinggi dan tinggi mencapai 61,65% dari keseluruhan luas wilayah, berkategori sedang sebesar 21,88% dan berkategori sangat rendah dan rendah sebesar 16,47%. Kondisi ini menunjukkan wilayah Kabupaten Buleleng relatif baik dalam mendukung biodiversitas.
Wilayah kecamatan di Kabupaten Buleleng yang sebagian besar wilayahnya berkategori tinggi dan sangat tinggi mendukung biodiversitas yaitu Kubutambahan, banjar, Sukasada, Tejakula, Gerokgak, dan Sawan. Sedangkan kecamatan yang sebagian besar wilayahnya berkategori sangat rendah dan rendah mendukung biodiversitas yaitu Buleleng (Tabel 3.18).
Tabel 3.17 Distribusi luas wilayah menurut tingkat jasa pendukung biodiversitas menurut kecamatan di Kabupaten Buleleng
No Kecamatan
Distribusi luas (ha) menurut tingkat jasa pendukung biodiversitas
Jumlah Sangat
Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi
1 Banjar 936,11 740,25 660,41 2.433,88 9.117,10 13.887,75 2 Buleleng 1.477,91 951,62 0 214,59 1.982,61 4.626,73 3 Busungbiu 1.441,35 0 5.954,80 309,13 6.366,37 14.071,65 4 Gerokgak 3.199,59 2.701,19 13.297,50 10.195,06 11.565,27 40.958,61 5 Kubutambahan 698,14 95,64 860,92 2.080,99 8.121,30 11.856,99 6 Sawan 2.526,75 397,42 1.262,46 398,73 4.543,97 9.129,33 7 Seririt 1.971,97 1.301,24 4.198,42 2.231,92 2.549,62 12.253,17 8 Sukasada 1.025,86 1,27 2.865,48 1.087,65 11.097,89 16.078,15 9 Tejakula 2.439,00 0 0 1.909,28 5.774,13 10.122,41 Jumlah 15.716,68 6.188,63 29.099,99 20.861,23 61.118,26 132.984,79 Sumber: Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng (2018)
PEMERINTAH KABUPATEN BULELENG DINAS LINGKUNGAN HIDUP
Tabel 3.18 Distribusi persentase luas wilayah menurut tingkat jasa pendukung biodiversitas menurut kecamatan di Kabupaten Buleleng
No Kecamatan
Distribusi persentase luas menurut tingkat jasa pendukung biodiversitas
Jumlah Sangat
Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi
1 Banjar 6,74 5,33 4,76 17,53 65,65 100
2 Buleleng 31,94 20,57 0 4,64 42,85 100
3 Busungbiu 10,24 0,00 42,32 2,20 45,24 100
4 Gerokgak 7,81 6,59 32,47 24,89 28,24 100
5 Kubutambahan 5,89 0,81 7,26 17,55 68,49 100
6 Sawan 27,68 4,35 13,83 4,37 49,77 100
7 Seririt 16,09 10,62 34,26 18,22 20,81 100
8 Sukasada 6,38 0,01 17,82 6,76 69,02 100
9 Tejakula 24,10 0 0 18,86 57,04 100
Jumlah 11,82 4,65 21,88 15,69 45,96 100
Sebaran kelas jasa pendukung biodiversitas di Kabupaten Buleleng disajikan pada Gambar 3.15. Kawasan lereng gunung umumnya merupakan kawasan hutan lindung dan cagar alam, dimana kawasan tersebut merupakan habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna sehingga memiliki biodiversitas yang tinggi. Kawasan lereng gunung dimanfaatkan sebagai lahan perkebunan, tanaman keras atau pohon, hutan lindung dan cagar alam serta untuk kegiatan non pertanian. Sementara itu, wilayah pesisir dekat pantai umumnya mempunyai jasa pendukung biodiversitas kategori sangat rendah, rendah, dan sedang. Termasuk pula di wilayah Perkotaan Singaraja, dimana terdapat 31,94% wilayahnya mempunyai jasa pendukung biodiversitas kategori sangat rendah dan 20,57% kategori rendah. Wilayah dengan kategori jasa pendukung biodiversitas sangat rendah dan rendah ini tersebar di wilayah dekat pantai yang merupakan kawasan permukiman. Sedangkan wilayah hulunya dengan proporsi 47,49% mempunyai jasa pendukung biodiversitas kategori tinggi dan sangat tinggi.
PEMERINTAH KABUPATEN BULELENG DINAS LINGKUNGAN HIDUP
Gambar 3.15 Peta jasa pendukung biodiversitas di Kabupaten Buleleng 2. Jasa pendukung siklus hara
Siklus hara dalam suatu ekosistem merupakan proses yang terintegrasi dari pergerakan/pemindahan energi dan hara di dalam ekosistem itu sendiri dan juga interaksinya dengan atmosfir, biosfir, geosfir dan hidrosfir. Energi yang dibutuhkan untuk menggerakkan siklus hara ini didapatkan dari proses yang terjadi pada biosfir yaitu proses fotosisntesis. Ekosistem secara alamiah memberikan unsur-unsur hara yang dibutuhkan oleh tumbuhan dari dalam tanah melalui serapan haranya dan kemudian diakumulasi dalam jaringan tumbuhan dan kembali lagi ke tanah baik lansung atau tidak lansung sebagai bahan organik. Proses dari serapan hara, akumulasi hara pada tubuh tumbuhan dan kembali ke tanah melalui siklus yang bervariasi sesuai dengan kondisi tumbuhan, iklim dan jenis tanahnya sendiri sehingga pada akhirnya berpengaruh terhadap kesuburan tanah dan tingkat produksi pertanian yang tinggi. Proses dari serapan hara, akumulasi hara pada tubuh tumbuhan dan kembali ke tanah melalui siklus yang bervariasi sesuai dengan kondisi tumbuhan, iklim dan jenis tanahnya sendiri sehingga pada akhirnya berpengaruh terhadap
PEMERINTAH KABUPATEN BULELENG DINAS LINGKUNGAN HIDUP
kesuburan tanah dan tingkat produksi pertanian yang tinggi.
Jasa pendukung siklus hara di wilayah Kabupaten Buleleng kategori tinggi dan sangat tinggi mencapai 66,66% dari luas wilayahnya. Sebesar 22,94% wilayah berkategori sangat rendah dan rendah, dan sisanya sebesar 10,40% berkategori sedang (Tabel 3.20).
Ekoregion jasa pendukung siklus hara yang berkontribusi dengan kategori sangat tinggi yaitu ekoregion dataran fluvio gunung api. Dataran fluvio gunung api merupakan satuan bentuk lahan dengan topografi datar dan terbentuk oleh pengendapan dari proses fluvial, dimana pada ekoregion ini memiliki tingkat kesuburan yang relatif tinggi sehingga banyak digunakan sebagai lahan persawahan, perkebunan dan penggunaan lahan hutan.
.Seluruh kecamatan sebagian besar wilayahnya berkategori tinggi dan sangat tinggi berperan dalam mendukung siklus hara. Termasuk Kecamatan Buleleng, dimana 51,11%
wilayahnya mempunyai jasa pendukung siklus hara dengan kategori tinggi dan sangat tinggi. Namun demikian wilayah dengan tingkat jasa ketagori sangat rendah dan rendah juga relative tinggi yaitu 48,89%.
Tabel 3.19 Distribusi luas wilayah menurut tingkat jasa pendukung siklus hara menurut kecamatan di Kabupaten Buleleng
No Kecamatan
Distribusi luas (ha) menurut tingkat jasa pendukung siklus hara
Jumlah Sangat
Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi
1 Banjar 918,28 740,25 456,71 2.630,92 9.141,60 13.887,76 2 Buleleng 1.310,39 951,62 0 1.657,54 707,17 4.626,72 3 Busungbiu 1.441,35 0 1.764,20 152,05 10.714,04 14.071,64 4 Gerokgak 8.753,14 2.831,89 7.606,22 12.191,77 9.575,59 40.958,61 5 Kubutambahan 2.322,32 95,64 132,31 6.853,36 2.453,35 11.856,98 6 Sawan 2.918,27 397,42 299,67 3.202,41 2.311,57 9.129,34 7 Seririt 1.907,16 1.301,24 2.167,90 1.853,99 5.022,89 12.253,18 8 Sukasada 1.357,47 1,27 1.398,59 4.868,66 8.452,16 16.078,15 9 Tejakula 3.263,11 0 0 4.487,73 2.371,57 10.122,41 Jumlah 24.191,49 6.319,33 13.825,60 37.898,43 50.749,94 132.984,79 Sumber: Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng (2018)
PEMERINTAH KABUPATEN BULELENG DINAS LINGKUNGAN HIDUP
Tabel 3.20 Distribusi persentase luas wilayah menurut tingkat jasa pendukung siklus hara menurut kecamatan di Kabupaten Buleleng
No Kecamatan
Distribusi persentase luas menurut tingkat jasa pendukung siklus hara
Jumlah Sangat
Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi
1 Banjar 6,61 5,33 3,29 18,94 65,82 100
2 Buleleng 28,32 20,57 0,00 35,83 15,28 100
3 Busungbiu 10,24 0 12,54 1,08 76,14 100
4 Gerokgak 21,37 6,91 18,57 29,77 23,38 100
5 Kubutambahan 19,59 0,81 1,12 57,80 20,69 100
6 Sawan 31,97 4,35 3,28 35,08 25,32 100
7 Seririt 15,56 10,62 17,69 15,13 40,99 100
8 Sukasada 8,44 0,01 8,70 30,28 52,57 100
9 Tejakula 32,24 0 0 44,33 23,43 100
Jumlah 18,19 4,75 10,40 28,50 38,16 100
Sebaran wilayah jasa ekosistem pendukung siklus hara dapat dilihat pada Gambar 3.16. Dari peta ini terlihat bahwa wilayah Perkotaan Singaraja di bagian pesisir dekat pantai umumnya mempunyai tingkat jasa pendukung siklus hara kategori sangat rendah dan rendah. Sedangkan bagian hulunya umumnya berkategori tinggi dan sangat tinggi.
PEMERINTAH KABUPATEN BULELENG DINAS LINGKUNGAN HIDUP
Gambar 3.16 Peta jasa pendukung siklus hara di Kabupaten Buleleng Daya tampung lingkungan hidup berdasarkan jasa pengaturan
Daya tampung lingkungan hidup berdasarkan jasa pengaturan pada kajian ini dianalisis menurut kelas pengaturan iklim, pengaturan aliran tata air dan pengendalian banjir, pencegahan dan perlindungan bencana alam, pengolahan dan penguraian limbah, pemurnian air, dan pemeliharaan kualitas udara.