• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II RUANG LINGKUP DAN METODE PENGHITUNGAN

2.17 Jasa Lainnya

Kategori Jasa Lainnya merupakan gabungan 4 kategori pada KBLI 2009. Kategori ini mempunyai kegiatan yang cukup luas yang meliputi: Kesenian, Hiburan, dan Rekreasi; Jasa Reparasi Komputer Dan Barang Keperluan Pribadi Dan Perlengkapan Rumah Tangga; Jasa Perorangan yang Melayani Rumah Tangga; Kegiatan Yang Menghasilkan Barang dan Jasa Oleh Rumah Tangga Yang Digunakan Sendiri untuk memenuhi kebutuhan; Jasa Swasta Lainnya termasuk Kegiatan Badan Internasional, seperti PBB dan perwakilan PBB, Badan Regional, IMF, OECD, dan lain-lain.

Kesenian, Hiburan dan Rekreasi

Jasa Kesenian, Hiburan dan Rekreasi berkategori R di dalam KBLI 2009. Kategori ini meliputi kegiatan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat umum akan hiburan, kesenian, dan kreativitas, termasuk perpustakaan, arsip, museum, kegiatan kebudayaan lainnya, kegiatan perjudian dan pertaruhan, serta kegiatan olahraga dan rekreasi lainnya.

Output atas dasar harga berlaku diperoleh dengan menggunakan metode pendekatan produksi, yaitu output diperoleh dari hasil perkalian antara indikator produksi dengan indikator harga.

Output panggung hiburan/kesenian dihitung berdasarkan pajak tontonan yang diterima pemerintah. Output untuk jasa hiburan dan rekreasi lainnya pada umumnya didasarkan pada hasil perkalian antara jumlah perusahaan dan jumlah tenaga kerja masing-masing dengan rata-rata output per indikatornya. NTB atas dasar harga berlaku diperoleh dari hasil perkalian antara rasio NTB dengan output. Sedangkan output dan NTB atas dasar harga konstan menggunakan metode deflasi/ ekstrapolasi dengan

deflator/ekstrapolatornya adalah IHK rekreasi dan olahraga/ indeks indikator produksi yang sesuai.

Sumber data produksi Jasa Kesenian, Hiburan dan Rekreasi diperoleh dari beberapa sumber, yaitu Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI), dan data penunjang intern BPS (Ketenagakerjaan, Susenas, Sensus Ekonomi, Statistik Harga Konsumen, dan Survei-survei Khusus yang Dilakukan oleh Direktorat Neraca Produksi dan Direktorat Neraca Pengeluaran).

Kegiatan Jasa Lainnya

Kegiatan ini berkategori S yang mencakup kegiatan dari keanggotaan organisasi, jasa reparasi komputer dan barang keperluan pribadi dan perlengkapan rumah tangga, serta berbagai kegiatan jasa perorangan lainnya.

Output atas dasar harga berlaku untuk Jasa Lainnya diperoleh dari perkalian antara masing-masing jumlah tenaga kerja dengan rata-rata output per tenaga kerja. NTB atas dasar harga berlaku diperoleh dari hasil perkalian antara rasio NTB dengan output. Sedangkan untuk memperoleh output dan NTB atas dasar harga konstan menggunakan metode deflasi dimana deflatornya adalah IHK Umum.

Sumber data yang diperlukan berasal dari data penunjang intern BPS (Sensus Ekonomi, Subdit Statistik Demografi, Susenas, Statistik Harga Konsumen).

Jasa Perorangan yang Melayani Rumah Tangga; Kegiatan yang Menghasilkan Barang dan Jasa oleh Rumah Tangga yang Digunakan Sendiri untuk Memenuhi Kebutuhan

Kegiatan ini berkategori T di KBLI 2009, mencakup kegiatan yang memanfaatkan Jasa Perorangan Yang Melayani Rumah Tangga yan didalamnya termauk jasa pekerja domestik (pembantu rumah tangga, satpam, tukang kebun, supir, dan sejenisnya), dan Kegiatan Yang Menghasilkan Barang Dan Jasa Oleh Rumah Tangga Yang Digunakan Sendiri Untuk Memenuhi Kebutuhan (didalamnya termasuk kegiatan pertanian, industri, penggalian, konstruksi, dan pengadaan air).

Output atas dasar harga berlaku untuk jasa perorangan yang melayani rumah tangga/ jasa pekerja domestik (pembantu rumah tangga, satpam, tukang kebun, supir, dan sejenisnya) diperoleh dari perkalian antara pengeluaran perkapita untuk jasa pekerja domestik dengan jumlah penduduk pertengahan tahun, sedangkan NTB-nya sama dengan output yang dihasilkan karena konsumsi antara pekerja jasa domestik merupakan pengeluaran konsumsi rumah tangga majikan. Untuk kegiatan yang menghasilkan barang oleh rumah tangga yang digunakan sendiri untuk memenuhi kebutuhan, (pertanian, industri, konstruksi, penggalian) output dan NTB berlaku diperoleh dengan hasil survei intern BPS (SKTIR).

Sedangkan output pengadaan air diperoleh dengan pendekatan rumah tangga yang menggunakan pompa dan sumur, baik sumur terlindung maupun tidak terlindung. Sementara itu, output dan NTB atas dasar harga konstan, baik untuk kegiatan pekerja domestik maupun kegiatan menghasilkan barang dan jasa untuk digunakan

sendiri oleh rumah tangga diperoleh dengan menggunakan metode deflasi dengan deflatornya laju IHK umum.

Sumber data kategori ini diperoleh dari intern BPS, yaitu, Susenas, Sensus Penduduk, Subdit PEK (Publikasi Statistik Air Bersih), dan Survei Khusus yang Dilakukam Direktorat Neraca Pengeluaran.

Kegiatan Badan Internasional dan Ekstra Internasional Lainnya Kategori ini berkategori U yang mencakup kegiatan badan internasional, seperti PBB dan perwakilannya, Badan Regional dan lain-lain, termasuk The Internasional Moneter Fund, The World Bank, The World Customs Organization(WHO), the Organization for Economic Co-operation and Development(OECD), the Organization of Petroleum Exporting Countries(OPEC) dan lain-lain.

Output dan NTB berlaku diperoleh dengan pendekatan biaya yang didapatkan dari laporan keuangan badan internasional dan ekstra internasional lainnya. Sementara, untuk output konstan diperoleh dengan metode deflasi dengan deflator laju IHK umum.

Sumber data diperoleh dari laporan keuangan badan internasional dan ekstra internasional lainnya yang berkantor pusat di Indonesia dan Statistik Harga Konsumen.

3.1. STRUKTUR EKONOMI

Struktur perekonomian di suatu daerah/wilayah dapat dilihat dari komposisi seluruh kegiatan produksi yang terjadi di daerah/wilayah tersebut. Perubahan struktur ekonomi pada suatu daerah/wilayah dapat dilihat pada komposisi masing-masing industri. Jika terjadi pergeseran dalam komposisi masing-masing industri maka struktur perekonomiannya juga akan berubah. Salah satu indikator yang sering dipakai untuk mengamati struktur perekonomian suatu daerah/wilayah adalah distribusi persentase dari nilai tambah bruto lapangan usaha.

Struktur ekonomi ini salah satunya juga dapat digunakan untuk mengamati keunggulan atau potensi daerah/wilayah bersangkutan.

Selama periode tahun 2012-2016, Struktur perekonomian Kabupaten Maluku Tenggara tidak banyak mengalami perubahan yang berarti. Gambar 3.1. memperlihatkan 3 (tiga) usaha penyumbang PDRB terbesar di Kabupaten Maluku Tenggara, yakni Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 30,24 persen; Lapangan Usaha Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib sebesar 24,08 persen; dan Lapangan Usaha Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 12,02 persen. Sementara peranan lapangan usaha lainnya di bawah 6 persen dengan lapangan usaha yang paling terkecil adalah Lapangan Usaha Pengadaan Listrik dan Gas sebesar 0,08 persen.

BAB III TINJAUAN EKONOMI KABUPATEN MALUKU TENGGARA

Gambar 3.1. Distribusi PDRB Kabupaten Maluku Tenggara ADHB, 2016 (Persen)

Gambar 3.2.

Kontribusi 3 (Tiga) Lapangan Usaha Terbesar Pembentuk PDRB Kabupaten Maluku Tenggara ADHB,

2012-2016 (Persen) 0,00

5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 30,00 35,00

32,53

30,24

11,79 12,02

21,79 24,08

0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 30,00 35,00

2012 2013 2014 2015 2016

A G O

Lapangan Usaha 2012 2013 2014 2015* 2016** E Pengadaan Air, Pengelolaan

Sampah, Limbah dan Daur Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

Produk Domestik Regional Bruto 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00

* Angka sementara

** Angka sangat sementara

Tabel 3.1. Distribusi PDRB Kabupaten Maluku Tenggara ADHB, 2012-2016 (Persen)

3.2. PERTUMBUHAN EKONOMI

Perubahan nilai PDRB terutama atas dasar harga konstan (riil) yang juga dikenal sebagai laju pertumbuhan ekonomi dinilai sebagai salah satu indikator kemajuan pembangunan di suatu daerah. disamping nilai absolut PDRB yang menunjukkan besarnya produksi barang dan jasa di suatu daerah atau wilayah. Laju pertumbuhan ekonomi ini bahkan dirasa lebih penting oleh banyak kalangan karena lebih dikenal dan lebih sering digunakan dalam pengambilan keputusan dan kebijakan.

Suatu daerah atau wilayah dikatakan mengalami pertumbuhan ekonomi apabila terjadi peningkatan PDRB riil (PDRB atas dasar harga konstan) di daerah atau wilayah tersebut. Teori ekonomi klasik juga mengisyaratkan bahwa indikator pertumbuhan ekonomi merupakan indikator yang paling penting untuk menilai tingkat keberhasilan pembangunan di suatu daerah atau wilayah.

Pertumbuhan ekonomi yang dalam hal ini ditunjukkan oleh pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan, secara tidak langsung menggambarkan tingkat perubahan produksi yang terjadi di suatu daerah atau wilayah.

Perekonomian Kabupaten Maluku Tenggara pada tahun 2016 mengalami peningkatan dibandingkan pertumbuhan tahun sebelumnya.

Laju pertumbuhan PDRB Maluku Tenggara tahun 2016 mencapai 5,85 persen atau meningkat sebesar 0,34 persen dari tahun 2015.

Pertumbuhan ekonomi tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Jasa Keuangan dan Asuransi sebesar 10,50 persen. Sedangkan seluruh lapangan usaha ekonomi PDRB yang lain pada tahun 2016 mencatat pertumbuhan yang positif.

PDRB Menurut Lapangan Usaha Maluku Tenggara 7,07

5,78 6,18

5,51

5,85

0 1 2 3 4 5 6 7 8

2012 2013 2014 2015 2016

Dilihat dari Tabel 3.2. terlihat Lapangan Usaha Pengadaan Listrik dan Gas menduduki urutan kedua sebesar 8,07 persen dan Lapangan Usaha Administrasi Pemerintah, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib pada posisi ketiga sebesar 8,03 persen, sedangkan yang paling terendah adalah Lapangan Usaha Real Estate sebesar 1,49 persen.

Selama tahun 2016, ternyata ada 9 (sembilan) Lapangan Usaha yang mempunyai laju pertumbuhan dibawah rata-rata laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Maluku Tenggara yang mencapai 5,85 persen.

Diantaranya Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan;

Pertambangan; Industri Pengolahan; Konstruksi; Penyediaan Akomodasi;

Infokom; Real Estat; Jasa Perusahaan; dan Jasa Lainnya.

Gambar 3.3. Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Maluku Tenggara, 2012-2016 (Persen)

Tabel 3.2. Laju Pertumbuhan Riil PDRB Menurut Lapangan Usaha (Persen),

PDRB Menurut Lapangan Usaha Maluku Tenggara 3.3. PDRB PERKAPITA

Bila PDRB suatu daerah dibagi dengan jumlah penduduk yang tinggal di daerah itu, maka akan dihasilkan suatu PDRB per kapita.

PDRB Per kapita atas dasar harga berlaku menunjukkan nilai PDRB per kepala atau per satu orang penduduk. Pada tahun 2016, PDRB per kapita Kabupaten Maluku Tenggara mencapai 25,37 juta rupiah dengan pertumbuhan sebesar 8,24 persen dibandingkan dengan tahun 2015 dan selama periode 2012-2016 mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Lapangan Usaha 2012 2013 2014 2015* 2016**

Tabel 3.3. PDRB Per Kapita Menurut Lapangan Usaha (Juta Rupiah), 2012-2016

Lapangan Usaha 2012 2013 2014 2015* 2016**

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

O Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

3,50 4,06 4,72 5,50 6,11

P Jasa Pendidikan 0,81 0,90 1,03 1,19 1,28

Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial

0,55 0,60 0,64 0,71 0,76 R,S

,T, U

Jasa Lainnya 0,31 0,33 0,36 0,39 0,41

Produk Domestik Regional Bruto 16,04 18,31 20,96 23,44 25,37

* Angka sementara

** Angka sangat sementara

PDRB Kabupaten Maluku Tenggara menurut lapangan usaha dirinci menjadi 17 kategori lapangan usaha dan sebagian besar kategori dirinci lagi menjadi subkategori. Pemecahan menjadi subkategori atau sub lapangan usaha ini disesuaikan dengan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2009. Perkembangan setiap lapangan usaha diuraikan di bawah ini.

4.1. Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan

Lapangan usaha ini mencakup Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang terdiri atas tanaman pangan, tanaman hortikultura, tanaman perkebunan, peternakan, dan jasa pertanian dan perburuan, Lapangan Usaha kehutanan dan Penebangan Kayu, dan Lapangan Usaha Perikanan. Lapangan usaha ini masih menjadi tumpuan dan harapan dalam penyerapan tenaga kerja.

Pada tahun 2016 Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan memberi kontribusi terhadap total PDRB atas dasar harga berlaku sebesar 30,24 persen. Sub Lapangan Usaha Tanaman Pangan merupakan penyumbang terbesar terhadap Lapangan Usaha Pertanian, Peternakan, Perburuan dan Jasa Pertanian yang tercatat sebesar 56,41 persen dari seluruh nilai tambah lapangan usaha ini. Lapangan usaha Perikanan merupakan pemberi kontribusi terbesar dalam Lapangan

BAB IV PERTUMBUHAN DAN PERANAN PDRB

MENURUT LAPANGAN USAHA

PDRB Menurut Lapangan Usaha Maluku Tenggara

Usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan sebesar 70,87 persen dari seluruh nilai tambah pada lapangan usaha ini.

Pertumbuhan ekonomi tahun 2016 pada Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan sebesar 4,04 persen, atau mengalami kenaikan sebesar 0,75 persen dari tahun sebelumnya, dimana laju pertumbuhan tertinggi dari Lapangan Usaha Pertanian, Peternakan, Perburuan dana Jasa Pertanian sebesar 4,52 persen diikuti 3,90 persen dari Lapangan Usaha Perikanan. Laju pertumbuhan terbesar adalah pada sub Lapangan Usaha Pertanian, Peternakan, Perburuan dan Jasa Pertanian adalah Tanaman Pangan yaitu sebesar 4,68 persen. Sedangkan lapangan usaha lainnya tetap mencetak laju pertumbuhan yang positif.

Tabel 4.1. Peranan Lapangan Usaha Terhadap PDRB Kategori Pertanian, Kehutanan dan Perikanan (Persen), 2012-2016

Lapangan Usaha 2012 2013 2014 2015* 2016**

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

1 Pertanian, Peternakan, Perburuan dan Jasa Pertanian

29,04 28,75 27,86 27,80 28,11

a. Tanaman Pangan 56,93 56,09 56,75 56,24 56,41 b. Tanaman Hortikultura 10,41 10,59 10,60 10,94 10,90 c. Tanaman Perkebunan 28,87 29,59 29,03 29,28 29,29

d. Peternakan 1,83 1,80 1,71 1,70 1,62

e. Jasa Pertanian dan Perburuan 1,96 1,93 1,91 1,85 1,78 2 Kehutanan dan Penebangan Kayu 1,13 1,11 1,07 1,06 1,03

3 Perikanan 69,83 70,15 71,07 71,14 70,87

Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00

4.2. Pertambangan dan Penggalian

Pada Kategori Pertambangan dan Penggalian, hanya terdapat Lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian Lainnya yang berkontribusi sebesar 0,47 persen pada tahun 2016, mengalami kenaikan sebesar 0,01 persen dibandingkan tahun 2015 sebesar 0,46 persen terhadap PDRB.

Secara keseluruhan pada tahun 2016, kategori Pertambangan dan Penggalian menunjukkan laju pertumbuhan yang positif sebesar 5,31 persen, yang antara lain didorong hanya oleh meningkatnya pertumbuhan Lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian Lainnya.

Gambar 4.1. Peranan dan Laju Pertumbuhan Rill Kategori Pertanian, Kehutanan dan Perikanan (Persen), 2012-2016

7,02

PDRB Menurut Lapangan Usaha Maluku Tenggara

Tabel 4.2. Peranan Lapangan Usaha Terhadap PDRB Kategori Pertambangan dan Penggalian (Persen), 2012-2016

Pertambangan dan Penggalian 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00

Gambar 4.2.

4.3. Industri Pengolahan

Pada Kategori Industri Pengolahan, Lapangan usaha yang menyumbang peranan terbesar adalah Industri Makanan dan Minuman yaitu sebesar 61,70 persen pada tahun 2016, kemudian diikuti oleh Industri Kayu, Barang dari Kayu dan Gabus dan Barang Anyaman dari Bambu, Rotan dan Sejenisnya, yaitu sebesar 31,32 persen. Sedangkan peranan Lapangan Usaha yang terkecil adalah Industri Kertas dan Barang dari Kertas, Percetakan dan Reproduksi Media Rekaman sebesar 0,01 persen.

Tabel 4.3. Peranan Lapangan Usaha terhadap PDRB Kategori Industri Pengolahan (Persen), 2012-2016 5 Industri Kulit, Barang dari Kulit

dan Alas Kaki

7 Industri Kertas dan Barang dari Kertas; Percetakan dan

PDRB Menurut Lapangan Usaha Maluku Tenggara

Tabel 4.3. Peranan Lapangan Usaha terhadap PDRB Kategori Industri Pengolahan (Persen), 2012-2016

Lapangan Usaha 2012 2013 2014 2015* 2016**

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

11 Industri Logam Dasar 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 12 Industri Barang Logam;

Komputer, Barang Elektronik, Optik; dan Peralatan Listrik

0,07 0,06 0,06 0,06 0,06

13 Industri Mesin dan Perlengkapan

0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 14 Industri Alat Angkutan 7,92 7,65 7,14 6,77 6,72

15 Industri Furnitur 0,02 0,02 0,02 0,02 0,02

16 Industri Pengolahan Lainnya;

Jasa Reparasi dan Pemasangan Mesin dan Peralatan

0,03 0,03 0,03 0,02 0,03

Industri Pengolahan 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00

Secara keseluruhan, laju pertumbuhan kategori Industri Pengolahan pada tahun 2016 adalah sebesar 4,48 persen; sedangkan Lapangan usaha yang mencatatkan laju pertumbuhan terbesar adalah Industri Makanan dan Minuman Jadi sebesar 5,57 persen; Industri Pengolahan Lainnya 5,42 persen; Industri Furniture yaitu sebesar 4,93 persen; Industri Barang Galian Bukan Logam sebsar 4,02 persen dan Lapangan usaha lainnya tetap mencetak laju pertumbuhan yang positif di atas 1,00 persen.

0%

62%

0%

0% 0%

31%

0%

0%

0% 0% 0%

0%

0%

7%

0% 0%

Peranan Terhadap PDRB

C1 C2 C3 C4 C5 C6 C7 C8 C9 C10 C11 C12 C13 C14 C15 C16

Gambar 4.3. Peranan Lapangan Usaha Terhadap PDRB Kategori Industri Pengolahan (Persen), 2016

PDRB Menurut Lapangan Usaha Maluku Tenggara

4.4. Pengadaan Listrik dan Gas

Kategori Pengadaan Listrik dan Gas berkontribusi sebesar 0,08 persen terhadap perekonomian Kabupaten Maluku Tenggara pada tahun 2016. Dari kontribusi tersebut, sebanyak 99,55 persennya disumbangkan oleh Lapangan Usaha Ketenagalistrikan dan 0,45 persen oleh Pengadaan Gas dan Produksi Es.

Sedangkan laju pertumbuhan ekonomi kategori Pengadaan Listrik dan Gas pada tahun 2016 adalah sebesar 8,07 persen. Masing-masing lapangan usaha juga mencatatkan pertumbuhan yang tinggi, dimana lapangan usaha Ketenagalistrikan sebesar 8,09 persen dan Pengadaan Gas dan Produksi Es sebesar 3,01 persen.

Tabel 4.4. Peranan Lapangan Usaha Terhadap PDRB Kategori Pengadaan Listrik dan Gas (Persen), 2012-2016

Lapangan Usaha 2012 2013 2014 2015* 2016**

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

1 Ketenagalistrikan 99,31 99,18 99,33 99,46 99,55

2 Pengadaan Gas dan Produksi Es

0,69 0,82 0,67 0,54 0,45

Pengadaan Listrik dan Gas 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00

Gambar 4.4. Laju Pertumbuhan Riil Kategori Pengadaan Listrik dan Gas (persen), 2012-2016

4.5. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang

Kategori Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan daur Ulang mencakup kegiatan ekonomi pengumpulan, pengolahan dan penditribusian air melalui berbagai saluran pipa untuk kebutuhan rumah tangga dan industri. Termasuk juga kegiatan pengumpulan, penjernihan dan pengolahan air dan sungai, danau, mata air, hujan dll. Tidak termasuk pengoperasian peralatan irigasi untuk keperluan pertanian.

Peranan kategori Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan daur Ulang terhadap perekonomian di Kabupaten Maluku Tenggara selama tahun 2012-2016 sebesar 0,40 persen; 0,39 persen; 0,38 persen; 0,37 persen dan 0,37 persen.

8,83

PDRB Menurut Lapangan Usaha Maluku Tenggara

0,4 0,39 0,38 0,37 0,37

5,86

2,09

3,56

4,84

5,99

0 1 2 3 4 5 6 7

2012 2013 2014 2015 2016

Peranan Kategori LP

Sedangkan laju pertumbuhannya selalu di atas 2,00 persen, yaitu sebesar 5,86 persen; 2,09 persen; 3,56 persen; 4,84 persen dan 5,99 persen berturut-turut untuk tahun 2012-2016.

Gambar 4.5.

Peranan dan Laju Pertumbuhan Riil Kategori Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang (persen), 2012-2016

4.6. Konstruksi

Pada tahun 2016 kategori konstruksi menyumbang sebesar 10,92 persen terhadap total perekonomian Kabupaten Maluku Tenggara, menurun dibandingkan pada tahun 2015 sebesar 0,06 persen. Trend peningkatan kontribusi kategori ini juga terlihat dari tahun ke tahun selama periode 2012-2016 yaitu sebesar berturut-turut 0,21 persen;

0,11 persen; 0,05 persen; 0,11 persen dan melambat 0,06 persen.

10,61

Dengan penghitungan atas dasar harga konstan tahun dasar 2010, laju pertumbuhan kategori konstruksi Kabupaten Maluku Tenggara mengalami perlambatan dari 7,50 persen pada tahun 2013 menjadi 6,48 persen pada tahun 2014; 5,76 persen pada tahun 2015 dan 5,04 persen pada tahun 2016.

Gambar 4.6. Nilai PDRB Atas Dasar Harga Berlaku dan Peranan Kategori Konstruksi, 2012-2016

4.7. Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

Selama 5 (lima) tahun terakhir, Kategori Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor menyumbang sebesar 12,02 persen atau sekitar 302.059,60 Juta rupiah, dengan alokasi sebesar 6,91 persen (57,54 persen terhadap kategori) disumbangkan oleh

PDRB Menurut Lapangan Usaha Maluku Tenggara

Perdagangan Mobil, Sepeda Motor dan Reparasinya. Sedangkan sebesar 5,10 persen (42,46 persen terhadap kategori) disumbangkan oleh Lapangan Usaha Perdagangan Besar dan Eceran, Bukan Mobil dan Sepeda Motor.

Laju pertumbuhan Kategori Perdagangan Besar dan Eceran;

Reparasi Mobil dan Sepeda Motor pada tahun 2016 meningkat 0,03 persen dari tahun 2015 sebesar 6,91 persen.

Tabel 4.5. Peranan Lapangan Usaha Terhadap PDRB Kategori Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor (Persen), 2012-2016

Lapangan Usaha 2012 2013 2014 2015* 2016**

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

1 Perdagangan Mobil, Sepeda Motor dan Reparasinya

55,33 56,62 56,42 57,03 57,54

2 Perdagangan Besar dan Eceran, Bukan Mobil dan Sepeda Motor

44,67 43,38 43,58 42,97 42,46

Perdagangan Besar dan Eceran;

Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00

173.793,70

Perdagangan Besar dan Eceran, Bukan Mobil dan Sepeda Motor Perdagangan Mobil, Sepeda Motor dan Reparasinya Peranan Perdagangan

Gambar 4.7.

Nilai PDRB Atas Dasar Harga Berlaku dan Peranan Kategori Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor, 2012-2016

4.8. Transportasi dan Pergudangan

Kategori Transportasi dan Pergudangan terdiri dari 6 lapangan usaha, yaitu Angkutan Rel, Angkutan Darat, Angkutan Laut, Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan, Angkutan Udara, serta Pergudangan dan Jasa Penunjang Angkutan. Lapangan usaha Angkutan Udara memberikan kontribusi terbesar selama 5 tahun terakhir (2012-2016), dengan nilai kontribusi terhadap kategori ini sebesar 56,54 persen pada tahun 2016. Angkutan Darat memberikan kontribusi terbesar kedua sebesar 26,73 persen. Sedangkan lapangan usaha lain (Angkutan Laut; Angkutan Sungai dan Penyeberangan;

Pergudangan dan Jasa Penunjang Angkutan, Pos dan Kurir) memberikan kontribusi sebesar 16,73 persen pada tahun 2016.

PDRB Menurut Lapangan Usaha Maluku Tenggara

Secara keseluruhan Kategori Transportasi dan Pergudangan mencatat pertumbuhan yang positf selama periode lima tahun terakhir (2012-2016). Pertumbuhan pada tahun 2016 tercatat sebesar 6,87 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya 2015, mengalami perlambatan pertumbuhan sebesar 0,67 persen. Lapangan Usaha pada kategori ini juga menunjukan pertumbuhan yang positif pada tahun 2016.

Gambar 4.8. Laju Pertumbuhan Riil Kategori Transportasi dan Pergudangan (Persen), 2012-2016

5,88 5,83

7,05

6,20

6,87

5,00 5,50 6,00 6,50 7,00 7,50 8,00 8,50

2012 2013 2014 2015 2016

PDRB Menurut Lapangan Usaha Maluku Tenggara

Tabel 4.6. Peranan Lapangan Usaha Terhadap PDRB Kategori Transportasi dan Pergudangan (Persen), 2012-2016

Lapangan Usaha 2012 2013 2014 2015* 2016**

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

1 Angkutan Rel 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00

2 Angkutan Darat 31,19 29,47 28,06 26,88 26,73

3 Angkutan Laut 7,51 7,33 7,07 6,98 6,73

4 Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan

2,15 2,01 1,97 1,96 1,89

5 Angkutan Udara 50,05 52,19 54,03 55,64 56,54

6 Pergudangan dan Jasa Penunjang Angkutan; Pos dan Kurir

9,09 9,01 8,88 8,54 8,11

Transportasi dan Pergudangan 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00

4.9. Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum

Pada tahun 2016, kategori Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum berkontribusi terhadap PDRB Kabupaten Maluku Tenggara sebesar 2,39 persen, dimana sebesar 2,08 persennya (87,22 persen terhadap kategori) merupakan kontribusi dari lapangan usaha Penyediaan Akomodasi dan sebesar 0,30 persen (12,78 persen terhadap kategori) disumbangkan oleh lapangan usaha Penyediaan Makan Minum.

Secara keseluruhan, kategori ini mencatatkan laju pertumbuhan positif sebesar 2,49 persen pada tahun 2016, sedikit mengalami perlambatan dibandingkan pada tahun 2015 yang sebesar 4,99 persen.

Masing-masing lapangan usaha Penyediaan Akomodasi dan

PDRB Menurut Lapangan Usaha Maluku Tenggara

Penyediaan Makan Minum juga menunjukkan pertumbuhan positif pada tahun 2016 sebesar 2,40 persen dan 3,06 persen.

Tabel 4.7. Peranan Lapangan Usaha Terhadap PDRB Kategori Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum (Persen), 2012-2016

Gambar 4.9. Laju Pertumbuhan Riil Kategori Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum (Persen), 2012-2016

PDRB Menurut Lapangan Usaha Maluku Tenggara 4.10. Informasi dan Komunikasi

Kategori informasi dan komunikasi memiliki peranan sebagai penunjang aktivitas di setiap bidang ekonomi. Dalam era globalisasi, peranan kategori ini sangat vital dan menjadi indikator kemajuan suatu bangsa, terutama jasa telekomunikasi. Peranan kategori ini terhadap perekonomian di Kabupaten Maluku Tenggara selama tahun 2012-2016 sebesar 1,24 persen; 1,17 persen; 1,17 persen; 1,16 persen dan 1,13 persen.

Sedangkan laju pertumbuhannya menunjukkan perlambatan, yaitu sebesar 3,72 persen pada tahun 2015 menjadi 2,95 persen pada tahun 2016.

Gambar 4.10. Peranan dan Laju Pertumbuhan Riil Kategori Informasi dan Komunikasi (persen), 2012-2016

5,86

6,24

5,72

3,72

2,95 1,24 1,17 1,17 1,16 1,13

0 1 2 3 4 5 6 7

2012 2013 2014 2015 2016

LP Peranan

PDRB Menurut Lapangan Usaha Maluku Tenggara

4.11. Jasa Keuangan dan Asuransi

Kegiatan ekonomi pada lapangan usaha jasa perantara keuangan menjadi mayoritas kontribusi perekonomian pada kategori jasa keuangan dan asuransi ini. Selama tahun 2012-2016, kontribusinya mendominasi dengan lebih dari 90 persen terhadap PDRB kategori jasa keuangan dan asuransi. Penyumbang terbesar berikutnya dalah lapangan usaha Asuransi dan Dana Pensiun pada kisaran di atas 3 persen, dan Jasa Keuangan Lainnya dengan sumbangan sekitar 0,5 persen.

Tabel 4.8. Peranan Lapangan Usaha Terhadap PDRB Kategori Jasa Keuangan dan Asuransi (Persen), 2012-2016

Lapangan Usaha/Industry 2012 2013 2014 2015* 2016**

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

1 Jasa Perantara Keuangan 97,12 97,31 97,48 97,65 97,87 2 Asuransi dan Dana Pensiun 2,22 2,08 1,93 1,81 1,62 3 Jasa Keuangan Lainnya 0,66 0,61 0,59 0,54 0,51 4 Jasa Penunjang Keuangan 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00

Jasa Keuangan dan Asuransi 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00

PDRB Menurut Lapangan Usaha Maluku Tenggara

Peranan Kategori Jasa Keuangan & Asuransi (%)

PDRB ADHB (Juta Rp.)

Kategori real estat memberikan kontribusi yang relatif stabil bagi PDRB Kabupaten Maluku dengan peranan sebesar kurang dari 1 persen. Selama tahun 2012-2016, secara berturut-turut sumbangan kategori real estat sebesar 0,23 persen; 0,22 persen; 0,21 persen; 0,20 persen dan 0,19 persen.

Sedangkan laju pertumbuhan ekonomi kategori ini mengalami perlambatan pada tahun 2016 yaitu sebesar 1,49 persen dibandingkan pada tahun 2015 sebesar 1,79 persen.

PDRB Menurut Lapangan Usaha Maluku Tenggara

4.13. Jasa Perusahaan

Selama 5 tahun terakhir, kontribusi kegiatan ekonomi pada kategori jasa perusahaan relatif tidak banyak berubah, yaitu dari 0,47 persen pada tahun 2012; menjadi 0,43 persen; 0,42 persen; 0,40 persen; dan 0,39 persen untuk tahun 2012-2016. Hal ini menunjukkan

Selama 5 tahun terakhir, kontribusi kegiatan ekonomi pada kategori jasa perusahaan relatif tidak banyak berubah, yaitu dari 0,47 persen pada tahun 2012; menjadi 0,43 persen; 0,42 persen; 0,40 persen; dan 0,39 persen untuk tahun 2012-2016. Hal ini menunjukkan

Dokumen terkait