• Tidak ada hasil yang ditemukan

KERANGKA TEORETIS

9. Jasa Layanan Bank Syariah

Pada dasarnya prinsip-prinsip Syariah yang berhubungan dengan jasa perbankan terdiri dari Wakalah, Kafalah, arf, Hawalah, Ran.

a. Wakalah

Wakalah adalah tindakan seseorang menempatkan orang lain ditempatnya untuk melakukan tindakan hukum yang tidak mengikat dan di ketahui. Atau penyerahan tindakan hukum dan penjagaan terhadap sesuatu kepada orang lain yang menjadi wakil, selama pemilik kewenangan asli masih hidup untuk membedakannya dengan wasiat. Tindakan hukum ini mencakup pembelanjaan terhadap harta seperti jual beli, juga hal-hal secara syara‟ bisa diwakilkan seperti juga memberi izin kepada orang lain untuk masuk rumah.86

Wakalah, yaitu pelimpahan kekuasaan oleh satu pihak kepada pihak lain dalam hal-hal yang boleh diwakilkan87

Landasan hukum Wakalah terdapat pada Fatwa Dewan Syariah Nasional N0:10/DSN-MUI/IV/2000

Wakalah terbagi menjadi 2 jenis, yaitu : (1). Wakalah Muṭlaqah, yaitu Wakalah yang tidak terikat dengan syarat tertentu (Selain dari syarat yang ditetapkan Islam)., tidak terbatas waktu, dan tidak terikat dengan keadaan tertentu. (2). Wakalah Muqayyadah, yaitu Wakalah yang terikat dengan syarat tertentu, atau terbatas waktu, atau terikat dengan syarat tertentu88.

Dalam praktik perbankan Syariah sering di gunakan untuk pembukaan letter of credit, inkaso, transfer uang, penyelesaian piutang dalam ekspor maupun anjak Piutang Syariah ( Hedging Syariah)89

85 Wiroso, Produk Perbankan Syariah,.h.287 86 Wahbah- Az-Zuhali, Fiqih Islam,..juz 5 h. 82

87 Fatwa Dewan Syariah Nasional No:10/DSN-MUI/IV/2000 tentang Wakalah 88 Wiroso, Produk Perbankan Syariah,.h.403

89

b. Kafalah.

Kafalah adalah menggabungkan sebuah żimmah (tanggungan) kepada żimmah yang lain di dalam penagihan atau penuntutan secara mutlak Maksudnya adalah menggabungkan tanggungan pihak kafīl (penjamin) kepada tanggungan al-Madīn (orang yang menanggung suatu hak, pihak yang dijamin) di dalam penagihan atau penuntutan hak jiwa, ad-Dayin ( harta yang masih dalam bentuk hutang) atau harta al-„in (barang, harta yang berwujud secara konkrit dan nyata)90

Kafalah, yaitu jaminan yang diberikan oleh penanggung (kafīl) kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung 91

Landasan hukum kafalah adalah Fatwa Dewan Syariah Nasional No:11/DSN-MUI/IV/2000 tentang Kafalah.

Kafalah terdiri dari 1. Kafalah bi an nafs yaitu merupakan akad memberikan jaminan atas dirinya (personal guarantee) 2. Kafalah bi al mal yaitu merupakan jaminan pembayaran hutang atau pelunasan hutang 3. Kafalah bit taslim. Jenis ini biasa dilakukan untuk menjamin pengembalian atas barang yang disewa pada waktu masa sewa berakhir 4. Kafalah al munjazah. Jaminan mutlak yang tidak dibatasi oleh jangka waktu tertentu dan untuk kepentingan / tujuan tertentu. 5. Kafalah al muallaqah. Jaminan ini merupakan penyederhanaan dari kafalah al munjazah, dimana jaminan dibatasi hanya untuk jangka waktu tertentu92

Dalam praktik perbankan Syariah sering di gunakan untuk Garansi bank, diberikan dengan tujuan untuk menjamin pembayaran suatu kewajiban pembayaran.; Letter of Credit (L/C) dengan akad Kafalah bil Ujroh; Penjaminan Syariah.

c.

arf.

Dalam Fatwa Dewan Syariah No :28/DSN-MUI/III/2000 di sebutkan bahwa arf adalah transaksi jual-beli mata uang, baik antar mata uang sejenis

90 Wahbah- Az-Zuhali, Fiqih Islam,..juz 5 h. 132.

91 Fatwa Dewan Syariah Nasional No:11/DSN-MUI/IV/2000 tentang Kafalah. 92

maupun antar mata uang berlainan jenis; dengan ketentuan sebagai berikut: a.Tidak untuk spekulasi (untung-untungan) b. Ada kebutuhan transaksi atau untuk berjaga-jaga (simpanan) c. Apabila transaksi dilakukan terhadap mata uang sejenis maka nilainya harus sama dan secara tunai (attaqabu ). d. Apabila berlainan jenis maka harus dilakukan dengan nilai tukar (kurs) yang berlaku pada saat transaksi dilakukan dan secara tunai.

d. Hawalah.

Hawalah menurut ulama Hanafiyyah adalah memindahkan (an-Naqlu) penuntutan atau penagihan dari tanggungan pihak yang berhutang (al-Madiin) kepada tanggungan pihak al-Mutazim (yang harus membayar hutang). Berbeda dengan al-Kafalah yang artinya ad-ammu (menggabungkan tanggungan) di dalam penuntutan atau penagihan, bukan an-Naqlu. Maka oleh karena itu dengan adanya al-Hawalah, menurut kesepakatan ulama, pihak yang berhutang tidak di tagih lagi.93

Hawalah, yaitu akad pengalihan utang dari satu pihak yang berutang kepada pihak lain yang wajib menanggung (membayar)-nya94

Landasan hukumnya adalah Fatwa Dewan Syariah Nasional No:12/DSN-MUI/IV/2000 tentang Hawalah.

Transaksi yang banyak dilakukan oleh Bank Syariah dengan prinsip hawalah adalah dalam rangka pengambilalihan kewajiban nasabah dari Lembaga Keuangan Konvensional; Penyelesaian Utang Dalam Impor.

e. Ran.

Ran (gadai) adalah menahan sesuatu di sebabkan adanya hak yang memungkinkan hak itu bisa dipenuhi dari sesuatu tersebut. Atau Ar-Ran adalah akad waṡ

īqah (penjaminan) harta, maksudnya sebuah akad yang berdasarkan atas

pengambilan jaminan berbentuk harta yang konkrit bukan jaminan dalam bentuk tanggungan seseorang95

93 Wahbah- Az-Zuhali, Fiqih Islam,..juz 5 h. 162

94 Fatwa Dewan Syariah Nasional No:12/DSN-MUI/IV/2000 tentang Hawalah. 95

Ran, yaitu menahan barang sebagai jaminan atas hutang.96.Landasan hukumnya adalah Fatwa Dewan Syariah Nasional No:25/DSN-MUI/IV/2000 tentang Ran

B. Kualitas.

Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia97 kualitas adalah baik buruk (sesuatu benda); keadaan suatu benda. Sedangkan dalam Oxford dictionary kualitas atau quality is the standard of something when compared with to otherthing like how good or bad something.”[Kualitas adalah sebuah standar tentang sesuatu jika dibandingkan dengan sesuatu yang lain, baik atau buruk]98

Juran99 mengatakan kualitas mengandung dua makna: pertama kualitas berarti fitur-fitur produk yang memenuhi kebutuhan pelanggan dan memberikan kepuasan kepada pelanggan. Dalam hal ini, makna kualitas berorientasi pada laba. Tujuan dari kualitas yang lebih tinggi tersebut adalah untuk memberikan kepuasan pelanggan yang lebih besar dengan satu harapan, untuk meningkatkan pendapatan. Kedua, kualitas "berarti bebas dari kekurangan, kesalahan yang membutuhkan melakukan pekerjaan lagi (ulang) atau yang menghasilkan kegagalan di lapangan, ketidakpuasan pelanggan, klaim pelanggan, dan sebagainya di dalam hal ini, makna kualitas berorientasi pada biaya, dan kualitas yang ingin dicapai adalah berkurangnya biaya.

Perreault et al mengatakan “quality means a product‟s ability to satisfy a customer‟s needs or requirements. This definition focuses on the customer and how the customer thinks a product will fit some purpose” [Kualitas berarti kemampuan suatu produk untuk memenuhi kebutuhan atau persyaratan pelanggan. Definisi ini berfokus pada pelanggan/orang dan bagaimana pelanggan

96 Fatwa Dewan Syariah Nasional No:25/DSN-MUI/III/2003 tentang Raḥn

97 WJS Poerwodarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, ( Jakarta: Balai Pustaka , 1999) h.528

98 AS Hornby, Oxford Advanced Learner Dictionary, (UK: Oxford University Prsss, 1995) h.950

99 Joseph M Juran and A. Blanton Godfrey, Juran‟s Quality Handbook, (Newyork: Mc Graw-Hill, 1999) h.21-22

berpikir bagaimana produk akan sesuai dengan keinginan dan tujuan - tujuan mereka]100

Menurut American Society for Quality, “quality” dapat didefinisikan: Based on customer‟s perceptions of a product/service‟s design and how well the design matches the original specifications; The ability of a product/service to satisfy stated or implied needs.; Achieved by conforming to established requirements within an organization. [Kualitas adalah persepsi pelanggan terhadap desain produk dan layanan dan seberapa baik desain sesuai dengan spesifikasi yang di informasikan: seberapa besar kemampuan produk / layanan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang di informasikan ; dan pencapaiannya harus sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dalam sebuah organisasi.]101

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kualitas berkaitan dengan persepsi masyarakat terhadap sebuah produk atau dan jasa yang memenuhi kebutuhan dan keinginan atau persyaratan yang di inginkan dalam rangka memenuhi kepuasan mereka.

Dalam bank Syariah untuk meningkatkan performansinya dan menjadikan bank Syariah memberikan kontribusi bagi masyarakat dan negara dan meningkatkan pangsa pasarnya peningkatan kualitas sudah harus menjadi tugas utamanya