tempo dan namun tidak
tidak mengalami mengalami Mengalami
penurunan nilai penurunan nilai penurunan nilai Total
Aset
Giro dan penempatan
pada Bank Indonesia 8.312.710.997.930 - - 8.312.710.997.930
Giro dan penempatan
pada bank lain 530.986.057.833 - - 530.986.057.833
Investasi pada surat berharga 7.589.925.359.413 - 137.000.152.230 7.726.925.511.643 Piutang 27.396.898.017.775 1.713.970.674.285 5.726.015.921.293 34.836.884.613.353 Pinjamanqardh 1.811.199.763.085 104.452.121.275 51.478.151.431 1.967.130.035.791 Pembiayaanmudharabah 2.627.712.205.348 53.949.083.109 206.904.793.142 2.888.566.081.599 Pembiayaanmusyarakah 8.595.726.328.084 332.242.660.383 1.663.107.880.292 10.591.076.868.759
Penyertaan Modal Sementara - - 50.331.426.038 50.331.426.038
Tagihan akseptasi 260.324.681.926 - - 260.324.681.926
Aset lain-lainnya 138.341.319.372 - - 138.341.319.372
Total 57.263.824.730.766 2.204.614.539.052 7.834.838.324.426 67.303.277.594.244
2014 Belum jatuh Jatuh tempo
tempo dan namun tidak
tidak mengalami mengalami Mengalami
penurunan nilai penurunan nilai penurunan nilai Total
Aset
Giro dan penempatan
pada Bank Indonesia 13.026.071.161.239 - - 13.026.071.161.239
Giro dan penempatan
pada bank lain 728.399.847.808 - - 728.399.847.808
Investasi pada surat berharga 1.730.498.598.271 - 137.000.171.503 1.867.498.769.774 Piutang 28.887.228.248.179 2.457.995.150.140 2.493.156.633.517 33.838.380.031.836 Pinjamanqardh 3.255.420.019.166 274.722.847.236 137.138.506.523 3.667.281.372.925 Pembiayaanmudharabah 2.941.603.823.634 68.830.294.836 153.696.142.470 3.164.130.260.940 Pembiayaanmusyarakah 6.532.139.559.259 250.376.830.561 863.020.745.816 7.645.537.135.636
Penyertaan Modal Sementara 50.331.426.038 - - 50.331.426.038
Tagihan akseptasi 133.914.036.176 - - 133.914.036.176
Aset lain-lainnya 60.160.000.103 - - 60.160.000.103
Total 57.345.766.719.873 3.051.925.122.773 3.784.012.199.829 64.181.704.042.475
Tabel berikut menunjukkan aging analysis aset yang telah jatuh tempo namun tidak mengalami
penurunan nilai.
2015
1-30 hari 31-60 hari 61-90 hari Total
Aset
Giro dan penempatan
pada Bank Indonesia - - - -
Giro dan penempatan
pada bank lain - - - -
Investasi pada surat berharga - - - -
Piutang 766.175.750.160 450.527.096.505 497.267.827.620 1.713.970.674.285
Pinjamanqardh 53.346.012.783 30.336.283.484 20.769.825.008 104.452.121.275 Pembiayaanmudharabah 20.689.318.252 24.338.507.472 8.921.257.385 53.949.083.109 Pembiayaanmusyarakah 296.325.679.395 12.354.135.960 23.562.845.028 332.242.660.383
Penyertaan Modal Sementara - - - -
Tagihan akseptasi - - - -
Aset lain-lainnya - - - -
48. PENGELOLAAN RISIKO(lanjutan)
a. Pengelolaan Risiko Kredit(lanjutan)
Tabel berikut menunjukkan aging analysis aset yang telah jatuh tempo tetapi namun mengalami
penurunan nilai. (lanjutan)
2014
1-30 hari 31-60 hari 61-90 hari Total
Aset
Giro dan penempatan
pada Bank Indonesia - - - -
Giro dan penempatan
pada bank lain - - - -
Investasi pada surat berharga - - - -
Piutang 1.661.079.612.228 408.798.260.724 388.117.277.188 2.457.995.150.140 Pinjamanqardh 152.080.407.728 73.663.430.709 48.979.008.799 274.722.847.236 Pembiayaanmudharabah 37.945.166.597 8.971.495.097 21.913.633.142 68.830.294.836 Pembiayaanmusyarakah 227.518.228.947 11.706.476.992 11.152.124.622 250.376.830.561
Penyertaan Modal Sementara - - - -
Tagihan akseptasi - - - -
Aset lain-lainnya - - - -
Total 2.078.623.415.500 503.139.663.522 470.162.043.751 3.051.925.122.773
b. Pengelolaan Risiko Pasar
Risiko pasar adalah risiko pada laporan posisi keuangan dan rekening administratif akibat perubahan harga pasar antara lain risiko berupa perubahan nilai dari aset yang dapat diperdagangkan atau disewakan.
Bank menerapkan pemisahan fungsi antara front office, middle office,dan back office pada
transaksi valas dan surat berharga. Unit bisnis sebagaifront officeberfungsi untuk melaksanakan
transaksi treasury dan investasi. Unit manajemen risiko sebagai middle office berfungsi untuk
mereview dan merekomendasikan limit sesuai usulan unit bisnis dan memantau risiko pasar. Unit
kerja operasional berfungsi untuk melakukansettlementtransaksi.
Bank memantau pergerakan nilai tukar dan yield surat berharga secara ketat sehingga
pengelolaan portofolio bank sejalan dengan pergerakan indikator pasar. Bank mengembangkan
aplikasidashboardmanajemen risiko pasar untuk mengukur dan memantau eksposur risiko terkini
secara akurat.
Langkah-langkah yang dilakukan Bank untuk meminimalkan risiko pasar adalah:
1) Menetapkan dan me-reviewkebijakan manajemen risiko pasar.
2) Menetapkanlimitrisiko pasar antara lainlimitPosisi Devisa Neto (PDN) danlimit banknotes.
3) Mengukur kecukupan modal untuk mengcover risiko pasar menggunakan standardize model
daninternal model(VaR).
4) Memantau pergerakan eksposur risiko pasar secara rutin.
5) Menganalisa risiko pasar yang melekat pada produk dan aktivitas baru.
6) Melaksanakan stress test risiko pasar secara berkala atau setiap saat apabila terjadi
perubahan indikator pasar secara signifikan.
48. PENGELOLAAN RISIKO(lanjutan)
c. Pengelolaan Risiko Likuiditas
Risiko likuiditas adalah risiko akibat ketidakmampuan Bank untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas dan/atau aset likuid berkualitas tinggi yang dapat diagunkan, tanpa mengganggu aktivitas dan kondisi keuangan Bank.
Langkah-langkah yang dilakukan Bank untuk meminimalkan risiko likuiditas adalah:
1) Menetapkan dan me-reviewkebijakan manajemen risiko likuiditas.
2) Menetapkan limit risiko likuiditas antara lain: Giro Wajib Minimum (GWM), saldo kas maksimal
cabang,safety level(secondary reserve) dan deposan terbesar.
3) Mengukurcore balancedana pihak ketiga bank.
4) Mengukur ketersediaan likuiditas melalui proyeksicash flowdanliquidity gap.
5) Menjaga akses Bank ke pasar uang antar bank syariah melalui perolehan dan pemberian
credit linedari dan untuk bank lain, pelaksanaan transaksi repo surat berharga syariah.
6) Memantau rasio likuiditas antara lain monitoring rasio pembiayaan terhadap dana
sertapemenuhansafety level.
7) Melaksanakan stress test risiko likuiditas secara berkala atau setiap saat apabila terjadi
perubahan indikator pasar atau kondisi Bank secara signifikan. 8) Melaporkan eksposur risiko likuiditas secara rutin kepada Direksi.
Likuiditas Bank dipengaruhi oleh struktur pembiayaan, likuiditas aset, kewajiban dengan pihak ketiga dan komitmen pembiayaan kepada debitur. Rasio Pembiayaan terhadap Pendanaan (FDR) merupakan rasio pembiayaan yang diberikan kepada pihak ketiga terhadap pendanaan dalam Rupiah dan mata uang asing. FDR digunakan untuk menilai besarnya jumlah dana yang bersumber dari dana publik, yang secara kontraktual biasanya dalam jangka pendek, dialokasikan untuk pembiayaan aset yang merupakan pembiayaan tidak lancar. FDR Bank per 31 Desember 2015 dan 2014 masing-masing sebesar 81,95% dan 82,13%. Berdasarkan Rasio FDR tersebut, masih dalam batasan yang direkomendasikan oleh Bank Indonesia, sesuai dengan peraturan GWM LDR.
d. Pengelolaan Risiko Operasional
Risiko operasional adalah risiko kerugian yang diakibatkan oleh proses internal yang kurang memadai, kegagalan proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, dan/atau adanya kejadian eksternal yang mempengaruhi operasional Bank.
Pengendalian risiko operasional perlu dilakukan untuk memitigasi risiko operasional,
Pengendalian risiko dilakukan melalui pemisahan tugas dan tanggung jawab, mekanisme dual
control/dual custody dalam pelaksanaan transaksi, fungsi override/otorisasi, pembatasan
wewenang akses sistem, pendidikan karyawan secara berkelanjutan, dan proses penilaian dan
pelaksanaan fungsiinternal audit.
Langkah-langkah pengelolaan risiko operasional yang dilakukan di Bank antara lain:
1) Menetapkan dan me-reviewkebijakan manajemen risiko operasional.
2) Menetapkan dan me-review kecukupan limit transaksi operasional baik cabang maupun unit
48. PENGELOLAAN RISIKO(lanjutan)
d. Pengelolaan Risiko Operasional(lanjutan)
Langkah-langkah yang dilakukan Bank untuk meminimalkan risiko operasional adalah: (lanjutan)
3) Menggunakan aplikasi Operational Risk Management Information System (ORMIS) untuk
mengidentifikasi, memantau, dan memitigasi kejadian risiko/kerugian operasional yang dialami
oleh Bank. ORMIS berfungsi sebagaiearly warning signalpotensi kejadian risiko dan sebagai
Loss Event Database(LED) Bank .
4) Menerapkan risk tools/model Risk & Control Self Assessment(RCSA) untuk mengidentifikasi,
menilai, dan memitigasi risiko operasional yang dilakukan secara mandiri oleh unit kerja baik di cabang maupun di kantor pusat. RCSA bersifat prediktif sehingga dapat digunakan untuk mengantisipasi atau meminimalisir potensi kerugian yang disebabkan kejadian risiko operasional.
5) Mengembangkanrisk tools/model Key Indicators(KI) untuk mengetahui secara dini indikator-
indikator potensi kejadian risiko sehingga dapat dilakukan langkah mitigasi yang cepat dan tepat waktu sehingga potensi kerugian dapat diminimalisir.
6) Memberikan kajian/opini risiko atas setiap usulan produk dan atau aktivitas baru yang akan diluncurkan oleh Bank.
7) Mengembangkan kebijakanbusiness continuity management(BCM) untuk menjamin kegiatan
operasional Bank tetap dapat berfungsi walaupun terdapat gangguan (disaster) guna
melindungi kepentinganstakeholders.
8) Menerapkan manajemen risiko teknologi informasi melalui:
a) Pengembangan kebijakan dan prosedur manajemen risiko teknologi informasi terkait
dengan standardisasi perangkat jaringan komunikasi data dan software, pengelolaan
kewenangan akses sistem, pengembangan layanan perbankan elektronik dari segi
keamanan aksesibilitas danDisaster Recovery Plan;
b) melaksanakan User Acceptance Test (UAT) atas setiap pembuatan dan pengembangan
sistem aplikasi baru untuk meminimalisasi potensi kegagalan sistem aplikasi.
9) Membentuk organisasiinternal controlantara lain:
a. Operational Risk, Internal Control & Compliance(ORCC) diregion office untuk memantau
dan memastikan penerapan kepatuhan,operational riskdancontroldi cabang-cabang.
b. Desentralized Complaince & Operational Risk (DCOR) di Direktorat untuk memantau dan
memastikan penerapan kepatuhan,operational riskdancontroldi unit kerja kantor pusat
10) Membentuk organisasi verifikator dibawah supervisi unit kerja Risk Assessment untuk menginvestigasi profil dan kelayakan nasabah.
e. Pengelolaan Risiko Kepatuhan
Risiko Kepatuhan merupakan risiko akibat Bank tidak mematuhi dan/atau tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku, termasuk Prinsip Syariah. Dalam menjalankan kegiatan usaha pada industri perbankan, Bank diwajibkan untuk selalu tunduk terhadap peraturan perbankan yang diterbitkan baik oleh Pemerintah, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Dewan Syariah Nasional-MUI (DSN-MUI).
48. PENGELOLAAN RISIKO(lanjutan)
e. Pengelolaan Risiko Kepatuhan(lanjutan)
Pada umumnya, risiko kepatuhan melekat pada peraturan perundang-undangan RI dan ketentuan lain yang berlaku, terkait dengan ketentuan mengenai prinsip kehati-hatian bank seperti: risiko pembiayaan terkait dengan ketentuan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM); Kualitas Aktiva Produktif (KAP); Pembentukan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP); Batas Maksimum Penyaluran Dana (BMPD); risiko pasar terkait dengan ketentuan Posisi Devisa Neto (PDN); penerapan Tata Kelola yang Baik (GCG); risiko strategis terkait dengan ketentuan Rencana Bisnis Bank (RBB); Rencana Kerja Anggaran Tahunan (RKAT) dan risiko lain yang terkait dengan ketentuan tertentu. Ketidakmampuan Bank Umum Syariah untuk mengikuti dan mematuhi seluruh peraturan perundangan yang terkait dengan kegiatan usaha perbankan dapat berdampak terhadap kelangsungan usahanya.
Dalam mengelola risiko kepatuhan, Bank melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1) Melakukan langkah-langkah preventif (ex-ante) terhadap kegiatan usaha Bank untuk memitigasi timbulnya Risiko Kepatuhan.
2) Melakukan koordinasi dengan Enterprise Risk Management dalam mengelola profil Risiko
Kepatuhan.
3) Memberdayakan fungsiInternal Sharia Advisory untuk mengkaji dan menganalisa kesesuaian
dari suatu produk/aktivitas Bank dengan Prinsip Syariah.
4) Melakukan koordinasi dengan Dewan Pengawas Syariah (DPS) dalam mengawal kepatuhan operasional Bank sesuai Prinsip Syariah, rapat pembahasan hasil uji petik DPS dengan unit kerja terkait mengenai hasil temuan pelanggaran syariah dan tindak lanjut perbaikan serta opini DPS untuk setiap penerbitan produk/aktivitas Bank.
5) Meningkatkan pemahaman tentang ketentuanGood Corporate Governance(GCG) dan Code
of Conduct(CoC) jajaran Bank.
6) Menguatkan penerapan GCG dan CoC melalui persetujuan Dewan Komisaris atas permohonan pembiayaan dari Pihak Terkait.
7) Menyampaikan laporan pelaksanaan GCG dan Self Asessment GCG kepada Otoritas Jasa
Keuangan (OJK) dan Self Assessment Tata Kelola Terintegrasi (TKT) pada laporan Tingkat
Kesehatan Bank ke perusahaan induk serta laporan publikasi pelaksanaan GCG pada homepage.
8) Mengawal pembiayaan melalui pemberianIndependent Compliance Notedan kehadiran pada
pelaksanaan Rapat Teknis (Ratek) dan Rapat Komite Pembiayaan (RKP), serta memenuhi
Compliance Checklistuntuk pembukaan dan relokasioutlet
9) Menguatkan Penerapan Program Anti Pencucian Uang (APU) dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT) melalui pengkinian pedoman, penguatan kualitas petugas Satuan Kerja APU
dan PPT (SKAP) pada unit kerja Head Office, Regional Officedan Branch, pemantauan dan
pelaporan terhadap kelengkapan dan validitas data nasabah, kewaspadaan terhadap tindak
pidana pencucian uang melalui tertib pelaporan Suspicious Transaction Report,Cash
Transaction Reports, International Funds Transfer Instruction Report dan Sistem Informasi
Pengguna Jasa Terpadu kepada PPATK.
10) Melakukan review ketentuan eksternal (regulasi) untuk diratifikasi dalam ketentuan internal
Bank.
11) Melakukanreviewkesesuaian rencana produk, kebijakan, sistem dan prosedur Bank terhadap
49. INFORMASI PENTING LAINNYA
a. Berdasarkan perhitungan manajemen pada tanggal 31 Desember 2015 dan 2014 Bank memiliki rasio kecukupan penyediaan modal minimum (KPMM) masing-masing sebesar 12,85% dan 14,12%.
b. Pada tanggal 31 Desember 2015 dan 2014 Bank memiliki rasio Aset Produktif yang Diklasifikasikan (APYD) terhadap jumlah aset produktif masing-masing sebesar 0,94 dan 0,94.
c. Pada tanggal 31 Desember 2015 dan 2014, rasio piutang, pinjamanqardhdan pembiayaan yang
non-performing (gross)terhadap jumlah piutang, pinjamanqardhdan pembiayaan adalah masing-
masing sebesar 6,14% dan 6,97% sedangkan rasio piutang, pinjaman qardh dan pembiayaan
yang non-performing (net) terhadap jumlah piutang, pinjaman qardh dan pembiayaan adalah
masing-masing sebesar 4,09% dan 4,42%.
d. Dalam laporan Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) yang disampaikan Bank kepada Bank Indonesia pada tanggal 31 Desember 2015 tidak terdapat piutang dan pembiayaan yang melampaui atau melanggar ketentuan BMPK.
50. MANAJEMEN MODAL
Kebijakan pengelolaan modal Bank bertujuan untuk memastikan bahwa Bank memiliki struktur permodalan yang efisien, memiliki modal yang kuat untuk mendukung strategi pengembangan usaha Bank saat ini dan untuk mempertahankan kelangsungan usaha Bank di masa yang akan datang serta untuk memenuhi kecukupan permodalan yang ditetapkan oleh regulator.
Rencana Permodalan disusun oleh Direksi sebagai bagian dalam Rencana Bisnis Bank dan disetujui oleh Dewan Komisaris.
Rencana permodalan Bank disusun berdasarkan penilaian atas kecukupan kebutuhan permodalan yang dipersyaratkan, rencana pengembangan usaha, dan kebutuhan likuiditas Bank.
Rasio kecukupan modal Bank pada tanggal 31 Desember 2015 dan 2014 adalah sebagai berikut (dalam jutaan rupiah):
2015 2014
I. Komponen Modal
A. Modal inti 4.856.611 4.428.068
Modal Disetor 1.989.022 1.489.022
Cadangan umum 297.804 297.804
Laba ditahan awal tahun setelah pajak 2.424.997 2.686.052
Laba tahun berjalan setelah pajak (50%) 144.788 -
Rugi tahun berjalan - (44.811)
B. Modal Pelengkap 1.330.779 900.261
Selisih penilaian kembali aktiva tetap*) 344.038 -
Cadangan umum dari penyisihan penghapusan aktiva produktif
(maksimum 1.25% dari ATMR) 486.741 400.261
Investasi subordinasi
(maksimum 50% dari jumlah modal inti) 500.000 500.000
C. Modal Pelengkap Tambahan - -
50. MANAJEMEN MODAL(lanjutan)
Rasio kecukupan modal Bank pada tanggal 31 Desember 2015 dan 2014 adalah sebagai berikut (dalam jutaan rupiah): (lanjutan)
2015 2014
II. Jumlah Modal Inti Pelengkap dan Modal
Pelengkap Tambahan 6.187.390 5.328.329
III. Aset Tertimbang Menurut Risiko Kredit 40.923.163 37.614.065
IV. Aset Tertimbang Menurut Risiko Operasional 7.084.024 -
V. Aset Tertimbang Menurut Risiko Pasar 139.366 131.959
VI. Jumlah Risiko - Aset Tertimbang 48.146.553 37.746.024
VII. Rasio Kecukupan Modal - Risiko Kredit 15,12% 14,17%
VIII.Rasio Kecukupan Modal - Risiko Kredit,
operasional dan pasar 12,85% 14,12%
IX. Rasio Kecukupan Modal Minimum 9,99%**) 8%
*) Bank melakukan revaluasi terhadap nilai aset tetap dalam kelompok ”tanah”. Bank telah menerima persetujuan dari kantor pajak atas revaluasi tersebut di tanggal 8 Januari 2016 (lihat Catatan 14).
**) Sesuai dengan ketentuan dari peraturan No.21/POJK.03/2014 dimana Rasio Kecukupan Modal Minimum dikaitkan dengan profil risiko Bank.
51. OPINI DEWAN PENGAWAS SYARIAH
Berdasarkan surat No. 18/01/DPS/I/2016 tanggal 4 Januari 2016 dan surat No. 17/01/DPS/I/2015 tanggal 9 Januari 2015 masing-masing untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal 31 Desember 2015 dan 2014, Dewan Pengawas Syariah (DPS) Bank Syariah Mandiri menyatakan bahwa secara umum aspek syariah dalam operasional dan produk Bank telah mengikuti fatwa dan ketentuan syariah yang dikeluarkan oleh Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) serta opini syariah dari DPS.
52. PERJANJIAN DAN KERJASAMA
Pada tanggal 9 September 2009, Bank mengadakan perjanjian Penyediaan Jasa IT Core Banking System dengan PT Anabatic Technologies untuk jangka waktu 12 (dua belas) tahun dengan nilai kontrak AS$4.488.000. Sampai dengan tanggal 31 Desember 2015, Bank telah melakukan pembayaran senilai AS$2.863.080. (2014: AS$2.533.080) sesuai dengan perjanjian tersebut.
53. DAMPAK PENERAPAN AWAL CADANGAN KERUGIAN PENURUNAN NILAI (CKPN) KOLEKTIF
Sejak 1 Januari 2015, Bank menerapkan PSAK 55 “Instrumen Keuangan: Pengakuan dan
Pengukuran” untuk menghitung CKPN kolektif sesuai dengan PSAK 102 “Akuntansi Murabahah”.
Pada tanggal 1 Januari 2015 Bank melakukan perhitungan kembali CKPN kolektif sesuai dengan metode yang diatur dalam PSAK 55 “Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran” dan sesuai
dengan ketentuan transisi PSAK 102 “Akuntansi Murabahah”, perbedaan antara saldo cadangan per
1 Januari 2015 dengan saldo CKPN kolektif yang dihitung berdasarkan PSAK 55 “Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran” sebesar Rp246.726.758.565, dibebankan ke saldo laba pada tanggal 1 Januari 2015 sebesar Rp185.045.068.924 dan menambah aset pajak tangguhan sebesar Rp61.681.689.641.
54. REKLASIFIKASI AKUN
Akun dalam laporan keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2014 dan laporan posisi keuangan pada tanggal 1 Januari 2014 telah direklasifikasi agar sesuai dengan penyajian laporan keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2015. Reklasifikasi tersebut dilakukan dalam rangka menyajikan tagihan dan liabilitas akseptasi:
31 Desember 2014 Sebelum
reklasifikasi Reklasifikasi
Setelah reklasifikasi Laporan posisi keuangan
Aset
- Tagihan akseptasi - 133.914.036.176 133.914.036.176
- Aset lain - lainnya 1.607.641.603.705 (133.914.036.176) 1.473.727.567.529*) Liabilitas
- Liabilitas akseptasi - 133.914.036.176 133.914.036.176
- Liabilitas lain-lain 445.818.198.382 (133.914.036.176) 311.904.162.206*) Laporan arus kas
- Tagihan akseptasi - (38.829.740.418) (38.829.740.418) - Aset lain (119.331.658.523) 38.829.740.418 (80.501.918.105) - Liabilitas akseptasi - 38.829.740.418 38.829.740.418 - Liabilitas lain-lain (40.044.109.313) (38.829.740.418) (78.873.849.731) 1 Januari 2014 Sebelum reklasifikasi Reklasifikasi Setelah reklasifikasi Laporan posisi keuangan
Aset
- Tagihan akseptasi - 95.084.295.758 95.084.295.758
- Aset lain - lainnya 1.389.339.570.472 (95.084.295.758) 1.294.255.274.714*) Liabilitas
- Liabilitas akseptasi - 95.084.295.758 95.084.295.758
- Liabilitas lain-lain 425.678.330.288 (95.084.295.758) 330.594.034.530*) *) Merupakan angka setelah direklasifikasi namun sebelum penyajian kembali laporan keuangan
55. PENYAJIAN KEMBALI LAPORAN KEUANGAN
Sejak tanggal 1 Januari 2015, Bank menerapkan PSAK 24 (revisi 2013) “Imbalan Kerja (“PSAK 24”), PSAK 24 ini menyebabkan Bank mengubah kebijakan akuntansi terkait pengakuan imbalan kerja (lihat Catatan 2b).
PSAK 24 mengharuskan biaya jasa lalu dibebankan ke laporan laba rugi di tahun dimana terjadi perubahan skema imbalan. Selain itu keuntungan/kerugian aktuaris juga dibebankan/dikreditkan langsung ke pendapatan komprehensif lainnya di ekuitas pada saat terjadinya.
Penerapan PSAK 24 menyebabkan biaya jasa lalu sebesar Rp56.647.757.771 (setelah pajak) dibebankan sebagai biaya di tahun 2014 dan sebesar Rp2.122.459.141 (setelah pajak) dibebankan ke saldo laba pada tanggal 1 Januari 2014.
Kerugian aktuaris sebesar Rp7.168.939.970 (setelah pajak) dibebankan ke pendapatan komprehensif lainnya di tahun 2014 dan sebesar Rp5.570.669.235 (setelah pajak) dibebankan ke pendapatan komprehensif lainnya pada tanggal 1 Januari 2014.
55. PENYAJIAN KEMBALI LAPORAN KEUANGAN(lanjutan)
Lebih lanjut, Bank juga melakukan penyesuaian terhadap saldo aset lain berdasarkan analisa atas manfaat masa depan dari aset lain tersebut, serta penyesuaian atas akun liabilitas segera dan lain- lain.
Sehubungan dengan hal-hal yang dijelaskan di atas, Bank menyajikan kembali laporan keuangan pada tanggal dan untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2014 dan laporan posisi keuangan pada tanggal 1 Januari 2014.
Dampak dari penyajian kembali laporan keuangan tersebut adalah sebagai berikut:
31 Desember 2014 Sebelum penyajian
kembali Penyesuaian
Setelah penyajian kembali Laporan posisi keuangan
Aset
- Aset pajak tangguhan 176.504.319.765 22.421.635.945 198.925.955.710 - Aset lain - lainnya 1.473.727.567.529*) (9.173.290.491) 1.464.554.277.038 Liabilitas
- Liabilitas segera 690.312.750.249 243.531.315.320 933.844.065.569 - Liabilitas lain-lain 311.904.162.206*) 89.686.543.779 401.590.705.985 Ekuitas
- Pendapatan komprehensif lainnya :
imbalan kerja - (12.739.609.205) (12.739.609.205)
- Saldo laba – belum ditentukan penggunaannya
1 Januari 2014 3.081.774.295.722 (190.640.671.538) 2.891.133.624.184 Laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain
- (Beban)/manfaat pajak tangguhan 31.044.091.460 18.882.585.924 49.926.677.384 - Laba/(rugi) bersih 71.778.420.782 (116.589.232.902) (44.810.812.120) 1 Januari 2014 Sebelum penyajian kembali Penyesuaian Setelah penyajian kembali Laporan posisi keuangan
Aset
- Aset pajak tangguhan 145.608.904.944 1.149.403.365 146.758.308.309 - Aset lain - lainnya 1.294.255.274.714*) (802.935.459) 1.293.452.339.255 Liabilitas
- Liabilitas segera 753.630.890.001 191.960.195.220 945.591.085.221 - Liabilitas lain-lain 330.594.034.530*) 4.597.613.459 335.191.647.989 Ekuitas
- Pendapatan komprehensif lainnya :
imbalan kerja - (5.570.669.235) (5.570.669.235)
- Saldo laba – belum ditentukan penggunaannya 3.081.774.295.722 (190.640.671.538) 2.891.133.624.184
56. STANDAR AKUNTANSI BARU
Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK-IAI) telah menerbitkan beberapa standar baru, revisi dan intepretasi, namun belum berlaku efektif untuk tahun buku yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2015 adalah sebagai berikut:
- PSAK 1 (revisi 2015) “Penyajian Laporan Keuangan”
- PSAK 4 (revisi 2015) “Laporan Keuangan Tersendiri”
- PSAK 5 (revisi 2015) “Segmen Operasi”
- PSAK 7 (revisi 2015) “Pengungkapan Pihak-pihak Berelasi”
- PSAK 13 (revisi 2015) “Properti Investasi”
- PSAK 15 (revisi 2015) “Investasi Pada Entitas Asosiasi dan Ventura Bersama”
- PSAK 16 (revisi 2015) “Aset Tetap”
- PSAK 19 (revisi 2015) “Aset Tak berwujud”
- PSAK 22 (revisi 2015) “Kombinasi Bisnis”
- PSAK 24 (revisi 2015) “Imbalan Kerja”
- PSAK 25 (revisi 2015) “Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi dan Kesalahan”
- PSAK 53 (revisi 2015) “Pembayaran Berbasis Saham”
- PSAK 65 (revisi 2015) “Laporan Keuangan Konsolidasian”
- PSAK 66 (revisi 2015) “Pengaturan Bersama”
- PSAK 67 (revisi 2015) “Pengungkapan Kepentingan Dalam Entitas Lain”
- PSAK 68 (revisi 2015) “Pengukuran Nilai Wajar”
- PSAK 110 (revisi 2015) “Akuntansi Sukuk”
- ISAK 30 (revisi 2015) “Pungutan”
- ISAK 31 (revisi 2015) “Interpretasi atas Ruang Lingkup PSAK 13: Properti Investasi”
PSAK 1 and ISAK 31 berlaku untuk tahun buku yang dimulai sejak 1 Januari 2017 dan penerapan dini diperkenankan, sedangkan revisi dan standar baru lainnya akan berlaku efektif pada tahun buku yang dimulai 1 Januari 2016.
Pada saat penerbitan laporan keuangan, Bank masih mempelajari dampak yang mungkin timbul dari penerapan standar baru dan revisi serta interpretasi tersebut serta pengaruhnya pada laporan keuangan Bank.