• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISIS DATA

2. Jawaban Responden Berdasarkan Modal Awal

Tabel 5.9

Distribusi Responden Berdasarkan Sumber Modal Awal

No Sumber Modal Frekuensi (F) Persentase (%) 1

2

Modal sendiri Koperasi

30 2

93,75 6,25

Jumlah 32 100

Sumber : Kuesioner 2013

Modal tentunya sangat dibutuhkan untuk memulai suatu usaha demikian juga pertanian, modal tentunya sangat dibutuhkan untuk membeli bibit dan mengusahakan pemeliharaan tanaman. Mayoritas responden (93,75%) petani perempuan memulai usaha pertanian dengan modal sendiri. Mulanya petani ini hanya membuka dan mengusakan lahan yang tidak terlalu luas dan setelah panen, sedikit demi sedikit responden semakin mengembangkan usaha pertaniannya.

Berikut adalah hasil wawancara dengan ibu Lerpi Damanik: “saya memulai usaha pertanian dengan modal sendiri, yang saya dapatkan dengan bekerja ke ladang orang lain. Pada awalnya saya hanya membuka lahan sekitar 5 rante, makin lama saya menjadi petani saya bisa membuka lahan yang lebih luas”.

Tabel 5.10

Distribusi Responden Berdasarkan Luas Lahan Yang Dikelola

No Luas Lahan (Ha) Frekuensi (F) Persentase (%) 1

2 3 4

< 0,5 0,6-1,5 1,6 - 3

> 3

2 12 17 1

6,25 37,25 53,125

3,125

Jumlah 32 100

Sumber : Kuesioner 2013

Dari tabel 5.10 diatas dapat diketahui bahwa mayoritas responden membuka lahan seluas 1,6-3 Ha, yaitu 17 (53,125%) responden, 12 responden

membuka lahan 0,6-1,5 Ha, 2 orang membuka lahan < 0,5 Ha dan hanya 1 orang responden yang membuka lahan >3 Ha. Luasnya lahan berbanding lurus dengan hasil yang diperoleh, semakin luas lahan maka semakin besar pula penghasilannya. Jadi dapat disimpulkan, luas lahan juga menjadi salah satu faktor penentu besar kecilnya pendapatan responden.

Tabel 5.11

Distribusi Responden Berdasarkan Status Kepemilikan Lahan

No Kapemilikan Lahan Frekuensi (F) Persentase (%) 1

2 3

Lahan sendiri Lahan warisan

Lahan sewaan

21 10 1

65,625 31,25 3,125

Jumlah 32 100

Sumber : Kuesioner 2013

Dari tabel 5.11 diketahui bahwa mayoritas responden (65,625%) mengusahakan lahan sendiri, selebihnya mengusahakan lahan warisan dan lahan sewaan. Lahan sendiri yang dimaksud adalah lahan yang dibeli sendiri oleh responden maupun lahan yang dulunya adalah lahan warisan tapi telah dipindah namakan atas nama responden. Lahan warisan adalah lahan yang diwariskan kepada responden tapi belum didaftarkan sebagai tanahnya. Lahan sewaan adalah lahan yang disewa responden karena responden hanya pendatang ke desa itu dan tidak memiliki lahan.

3. Jawaban Responden Berdasarkan Jam Kerja

Tabel 5.12

Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Hari Kerja Perminggu

No Hari Kerja Frekuensi (F) Persentase (%) 1

2 3

5 6 7

8 23

1

25 71,875

3,125

Jumlah 32 100

Sumber : Kuesioner 2013

Dari tabel 5.12 diatas dapat diketahui bahwa mayoritas responden (71,875%) bekerja selama 6 hari dalam seminggu, dan rata-rata responden tidak ke ladang pada hari Minggu karena hari minggu responden menjalankan ibadahnya. Responden yang bekerja selama 5 hari biasanya tidak ke ladang pada hari sabtu dan minggu, dan hanya ada satu orang responden yang bekerja setiap hari. Hari kerja responden biasanya tidak sama setiap minggunya, karena terkadang ada hal-hal lain yang harus dikerjakan atau bahkan ketika ada kegiatan-kegiatan-kegiatan lain yang harus dihadiri oleh responden.

Tabel 5.13

Distribusi Responden Berdasarkan Jam Kerja Perhari

No Jam kerja Perhari Frekuensi (F) Persentase (%)

1 2 3 4

< 4 5-6 7-8

>8

1 20

4 7

3,125 62,5 12,5 21,875

Jumlah 32 100

Sumber : Kuesioner 2013

Dari tabel 5.13 dapat diketahui bahwa mayoritas responden (62,5%) hanya bekerja di ladang sekitar 5-6 jam perharinya. Dalam waktu 5-6 jam setiap harinya tersebut dimanfaatkan oleh responden untuk mengerjakan semua proses pengolahan lahan mulai dari pembersihan lahan, pembibitan, penanaman, pemeliharaan tanaman sampai pada panennya. Beberapa responden terkadang dibantu oleh suaminya, buruh tani maupun anak-anaknya setelah pulang dari sekolah. Dari hasil wawancara, responden mengaku paling sering dibantu dalam proses penanaman dan panen karena membutuhkan tenaga yang lebih banyak.

Setelah bekerja di ladang responden yang dalam hal ini adalah petani perempuan masih mempunyai tanggungjawab di rumah, yaitu mempersiapkan makan malam, mencuci, mengurus anak dan berbagai pekerjaan dan urusan rumah tangga lainnya. Berikut hasil wawancara dengan ibu Mesdiana Manullang : “saya bekerja di ladang sekitar 6 jam setiap harinya. Waktu 6 jam tersebut saya pergunakan untuk mengerjakan seluruh pekerjaan saya diladang seperti menanam, memelihara tanaman, memanen dan pekerjaan-pekerjaan lainnya.

terkadang saya juga dibantu anak-anak saya setelah mereka pulang dari sekolah.

Pulang dari ladang saya masih harus memasak dan mengerjakan pekerjaan

Sebenarnya dari segi fisik saya merasa sudah sangat capek tapi apa boleh buat, suami saya tidak mau berbagi tugas dia lebih suka berada di kedai tuak daripada mengajari anak-anak”.

5.2.3. Penghasilan Petani Perempuan.

Tabel 5.14

Distribusi Responden Berdasarkan Tempat Penjualan Hasil

No Tempat Penjualan Hasil Frekuensi (F) Persentase (%) 1

2 3

Pasar Dijual di lokasi Agen sayur mayur

5 16 11

15,625 50 34,375

Jumlah 32 100

Sumber : Kuesioner 2013

Berdasarkan tabel 5.14 dapat diketahui bahwa mayoritas responden (34,375%) lebih memilih untuk menjual di lokasi hasil pertaniannya karena lebih praktis dan tidak perlu repot-repot untuk memanen dan membawa kepasar karena pembeli yang langsung datang melihat ke ladang, menyepakati harga dan si pembeli juga yang memanen dan mengangkut hasil dari ladang. Responden yang lebih memilih menjual kepada agen sayur mayur yaitu sebanyak 11 orang dengan alasan dapat tawar menawar tentang harganya dan dapat meminta uang terlebih dahulu sebelum panen. Ketika ada pengeluaran yang mendesak, sementara responden tidak memiliki cukup uang maka responden akan meminta uang terlebih dahulu kepada agen sayur mayur dengan perjanjian bahwa responden

akan menjual hasil pertaniannya kepada agen tersebut dengan harga yang ditentukan oleh agen sayur mayur tersebut. Responden yang lainnya lebih memilih untuk menjual hasil pertaniannya ke pasar dengan alasan dapat memilih harga yang lebih tinggi dan sekalian belanja untuk kebutuhan rumah tangganya.

Responden seringkali mengeluh karena ketidakpastian harga yang didapatkan, terkadang harga hasil pertaniannya naik dan tidak beberapa lama kemudian sudah turun lagi. Belum lagi agen yang terkadang membuat harga sesuka hatinya untuk mengambil untung yang banyak, dalam hal seperti ini yang dirugikan adalah petani perempuan. Melalui observasi didapatkan bahwa agen berani membuat harga sesukanya karena tidak ada kontrol dari pihak pemerintahan, sehingga agen menetapkan dan membuat harga sendiri.

Tabel 5.15

Distribusi Responden Berdasarkan Penghasilan dari sektor Pertanian Perbulan

No Penghasilan (Rp) Frekuensi (F) Persentase (%) 1

2 3 4

< 1.000.000 1.000.000 – 2.000.000 2.000.000 – 3.000.000

> 3.000.000,-

3 17

9 3

9,375 53,125 28,125 9,375

Jumlah 32 100

Sumber : Kuesioner 2013

Penghasilan responden tidak selalu sama setiap bulannya karena selalu dipengaruhi oleh kwantitas dan kwalitas hasil panen serta tinggi rendahnya harga, tetapi selisihnya tidak terlalu banyak. Dari tabel 5.15 tersebut dapat diketahui bahwa mayoritas responden (53,125%) memperoleh penghasilan berkisar Rp 1.000.000 – Rp 2.000.000. Penghasilan ini dipakai petani perempuan sebagai modal untuk kelanjutan pertaniannya, untuk kebutuhan hidup, pendidikan anaknya dan berbagai keperluan lainnya. BPS menyatakan keluarga miskin adalah keluarga dengan pendapatan kurang dari Rp. 600.000,- perbulan. Jadi jika dilihat dari penghasilannya, responden tidak tergolong dalam keluarga miskin.

Tabel 5.16

Distribusi Responden Berdasarkan Mata Pencaharian Sampingan

No Kategori Frekuensi (F) Persentase (%)

1 2

Ada Tidak ada

2 30

6,25 93,75

Jumlah 32 100

Sumber : Kuesioner 2013

Dari 32 responden hanya ada 2 orang responden yang memiliki mata pencaharian sampingan yaitu ibu Romida Purba yang berjualan goreng setiap hari minggu dan memperoleh penghasilan tambahan sekitar Rp 600.000 setiap bulan dan Ma Jaya yang berjualan di pasar tradisional setiap hari sabtu dan memperoleh penghasilan tambahan sekitar 500.000 setiap bulan. Menurut mereka pekerjaan sampingan ini cukup membantu dalam meningkatkan penghasilan mereka dan dapat dipergunakan dalam berbagai keperluan dirinya dan keluarganya.

Tabel 5.17

Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan Suami

No Pekerjaan Suami Frekuensi (F) Persentase (%) 1

2 3 6 7 8

PNS Wiraswasta Karyawan swasta

Supir Tukang bangunan

Kepala desa

2 18

6 2 3 1

6,25 56,25 18,75 6,25 9,375 3,125

Jumlah 32 100

Sumber : Kuesioner 2013

Penduduk desa Raya Huluan mayoritasnya bekerja sebagai petani, tetapi dalam penelitian ini responden adalah petani perempuan yang suaminya tidak bekerja di sektor pertanian. Dengan demikian akan lebih jelas terlihat kotribusi petani perempuan, baik dalam pertanianannya, dalam penghasilan dan dalam sosial ekonominya.

Seperti yang terlihat pada tabel 5.17 bahwa mayoritas pekerjaan suami responden (56,25%) adalah wiraswasta.

Tabel 5.18

Distribusi Responden Berdasarkan Penghasilan Suami

No Penghasian Suami (Rp) Frekuensi (F) Persentase (%)

1 2 3 4

< 1.000.000,- 1.000.000 – 2.000.000 2.000.000 – 3.000.000

> 3.000.000,-

3 16 10 3

9,375 50 31,25 9,375

Jumlah 32 100

Sumber : Kuesioner 2013

Dari tabel 5.18 dapat diketahui bahwa mayoritas suami responden (50%) memiliki pendapatan sekitar Rp 1.000.000 – 2.000.000 setiap bulannya. suami responden rata-ratanya memiliki penghasilan diatas Rp 1.000.000 tetapi penghasilan tersebut kebanyakan dihabiskan untuk kebutuhan pribadi suaminya.

Berikut hasil wawancara dengan Ennaria Purba:”suami saya setiap bulannya mendapat penghasilan sekitar Rp 1.500.000 tetapi biasanya hanya setengah gajinya yang diserahkan sama saya, selebihnya dia pakai untuk kebutuhannya saja”.

. Jika diperhatikan penghasilan responden dan penghasilan suami responden tidak jauh berbeda. Responden bekerja di sektor pertanian, mendapatkan penghasilan dan dipergunakan untuk pemenuhan sosial ekonomi keluarganya.

Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa responden sangat berkontribusi dalam sosial ekonomi keluarganya.

5.2.4. Kontribusi Petani Perempuan dalam Sosial Ekonomi Keluarga

1. Kontribusi dalam Pemenuhan Pangan Keluarga

Tabel 5.19

Distribusi Responden Berdasarkan Kecukupan Hidup Sehari-Hari

No Kecukupan Hidup Frekuensi (F) Persentase (%) 1

2 3 4

Sangat mencukupi Mencukupi Kurang mencukupi

Tidak mencukupi

2 27

2 1

6,25 84,375

6,25 3,125

Jumlah 32 100

Sumber : Kuesioner 2013

Dari tabel 5.19 dapat diketahui bahwa 27 responden (84,375%) mengakui bahwa pendapatan mereka mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, 2 responden menyatakan kebutuhan sehari-harinya sangat tercukupi, 2 responden menyatakan kebutuhan sehari-hari keluarganya kurang mencukupi dan seorang responden menyatakan kebutuhannya tidak tercukupi karena suaminya sudah lama sakit sakitan sehingga suaminya tidak memiliki penghasilan tetapi malah membutuhkan biaya untuk pengobatan

Tabel 5.20

Distribusi Responden Berdasarkan Frekuensi Makan Nasi Perhari

No Frekuensi Makan Nasi (Hari) Frekuensi (F) Persentase (%) 1

2

3

>3

30 2

93,75 6,25

Jumlah 32 100 Sumber : Kuesioner 2013

Menurut BPS, keluarga miskin adalah keluarga yang hanya mampu mengkonsumsi nasi 2 kali sehari. Dari tabel 5.20 diketahui bahwa 93,75%

responden dan keluarganya makan nasi 3 kali sehari, jadi responden tidak tergolong dalam keluarga miskin jika dilihat dari pola konsumsinya. Responden dan keluarganya selalu teratur dan tepat waktu untuk makan karena responden tinggal di wilayah yang iklimnya dingin dan responden juga membutuhkan tenaga untuk mengerjakan lahannya. Mayoritas responden di desa Raya Huluan ini selalu menanam padi di ladangnya, yang pada umumnya cukup untuk konsumsi selama setahun.

Tabel 5.21

Distribusi Responden Berdasarkan Pola Konsumsi Terhadap Ikan Perminggu

No Pola Konsumsi Frekuensi (F) Persentase (%) 1

2 3

Sangat sering Sering Cukup sering

17 5 10

53,125 15,625 31,25

Jumlah 32 100

Sumber : Kuesioner 2013

Ikan memiliki banyak manfaat untuk kesehatan karena kaya akan protein, vitamin dan mineral serta kaya akan kandungan asam lemak omega 3 yang sangat

penting untuk kecerdasan otak. Dari tabel 5.21 dapat diketahui bahwa setiap responden mengkonsumsi ikan. Responden yang menyatakan sangat sering mengkonsumsi ikan ada sebanyak 17 responden (53,125%), mereka biasanya mengkonsumsi ikan setiap kali makan. Responen yang menyatakan sering mengkonsumsi ikan ada sebanyak 5 orang, mereka mengkonsumsi ikan minimal sekali dalam sehari sedangkan responden yang menyatakan cukup sering mengkonsumsi ikan ada sebanyak 10 orang responden.

Tabel 5.22

Distribusi Responden Berdasarkaan Pola Konsumsi Terhadap Daging Perbulan

No Pola Konsumsi Frekuensi (F) Persentase (%) 1

2 3

Sering Cukup sering

Jarang

4 14 14

12,5 43,75 43,75

Jumlah 32 100

Sumber : Kuesioner 2013

Dari tabel 5.22 diketahui bahwa 4 responden sering mengkonsumsi daging (kira-kira 6-8 kali) setiap bulannya, 14 responden cukup sering mengkonsumsi daging (3-4 kali) perbulannya dan 14 orang responden yang lain jarang mengkonsumsi daging yaitu hanya sekali sebulan. Di Desa Raya Huluan ini memang susah untuk mencari daging, untuk membeli daging responden harus ke ibu kota Kecamatan yang berjarak 15 Km dari desa Raya Huluan tersebut.

daging. Masyarakat desa ini biasanya mengkonsumsi daging karena rasa saja, mereka belum mengetahui bahwa daging sangat penting untuk dikonsumsi karena daging mengandung protein dalam jumlah besar, mineral dan vitamin yang baik untuk kesehatan tubuh.

Tabel 5.23

Distribusi Responden Berdasarkan Pola Konsumsi Terhadap Telur Perminggu

No Pola Konsumsi Frekuensi (F) Persentase (%) 1

2 3

Sering Cukup sering

Jarang

1 9 22

3,125 28,125

68,75

Jumlah 32 100

Sumber : Kuesioner 2013

Dari tabel 5.23 dapat diketahui bahwa mayoritas responden (68,75%) jarang mengkonsumsi telur. Telur memiliki kandungan protein yang tinggi, tetapi responden jarang mengkonsumsinya. Responden menyatakan jarang mengkonsumsi telur karena anggota keluarganya ada yang alergi terhadap telur, sementara responden yang lain jarang mengkonsumsi telur karena keluarganya lebih menyukai ikan dan mereka hanya mengkonsumsi telur ketika persediaan ikan dirumahnya telah habis.

Tabel 5.24

Distribusi Responden Berdasarkan Pola Konsumsi Terhadap Sayuran

No Pola Konsumsi Frekuensi (F) Persentase (%) 1

2 3 4

Sangat sering Sering Cukup sering

Jarang

23 2 5 2

71,875 6,25 15,625

6,25

Jumlah 32 100

Sumber : Kuesioner 2013

Sayuran memiliki banyak gizi yang dibutuhkan oleh tubuh manusia sehingga sayur merupakan makanan yang penting untuk dikonsumsi. Dari tabel 5.24 dapat diketahui bahwa mayoritas responden (71,875%) sangat sering mengkonsumsi sayuran (setiap kali makan), 2 responden sering mengkonsumsi sayuran (sekali sehari), 5 responden cukup sering mengkonsumsi sayuran (3-4 kali seminggu) dan hanya 2 responden yang menyatakan jarang mengkonsumsi sayuran (sekali semingu).

Sayuran mudah ditemukan di desa Raya Huluan mengingat bahwa mayoritas penduduk desa ini adalah petani. Responden biasanya mengkonsumsi sayuran yang ditanam sendiri di ladangnya seperti penuturan dari ibu Nora Siadari: “kami selalu makan sayur setiap kali makan, karena sayur kan tidak usah dibeli. Setiap hari saya selalu membawa sayur dari ladang untuk kami makan”.

Tabel 5.25

Distribusi responden Berdasarkan Pola Konsumsi Terhadap Buah

No Pola Konsumsi Frekuensi (F) Persentase (%)

1 2

Cukup sering Jarang

16 16

50 50

Jumlah 32 100

Sumber : Kuesioner 2013

Dari tabel 5.25 dapat diketahui bahwa 16 orang responden (50%) cukup sering mengkonsumsi buah (3-4 kali seminggu) dan 16 responden yang lainnya menyatakan jarang mengkonsumsi buah-buahan (sekali seminggu). Kesadaran responden akan pentingnya buah-buahan untuk kesehatan masih kurang, hal ini dapat diketahui dari pola konsumsi responden terhadap buah yang masih sangat minim.

Pola konsumsi terhadap buah juga kurang tepat, dimana ketika responden membeli buah 1 kg, semuanya dihabiskan langsung sekali makan. Responden biasanya membeli buah hanya di pajak yang hanya beroperasi sekali dalam seminggu, seperti penuturan Ma Eva:”kalo keluarga kami jarang makan buah, paling hanya sekali seminggu, itupun kalo kebetulan ke pajak tapi kalo saya ga ke pajak ya tidak makan buahlah kami. Biasanya saya beli 1-2 kg buah, semuanya biasanya langsung kami habiskan hari itu”.

Tabel 5.26

Distribusi Responden Berdasarkan Pola Konsumsi Terhadap Susu

No Pola Konsumsi Frekuensi (F) Persentase (%)

1 2 3

Sering Cukup sering

Jarang

5 2 25

15,625 6,25 78,125

Jumlah 32 100

Sumber : Kuesioner 2013

Penduduk desa Raya Huluan banyak yang tidak mengkonsumsi susu, masih banyak penduduk desa ini yang belum menyadari bahwa susu mengandung banyak vitamin dan nutrisi yang sangat baik untuk kesehatan tubuh. Jika melihat tabel 5.26 kita mengetahui bahwa mayoritas responden (78,125%) jarang mengkonsumsi susu (hanya sekali dalam seminggu), 2 responden cukup sering mengkonsumsi susu (3-4 kali seminggu) dan 5 responden yang lainnya sering mengkonsumsi susu (sekali sehari).

Dari pengamatan peneliti, secara keseluruhan petani perempuan di desa Raya Huluan ini sangat kuat bekerja tetapi tidak memperhatikan asupan makanan yang baik untuk tubuhnya. Mayoritas responden mempunyai pemikiran yang salah dimana mereka menyatakan bahwa yang penting adalah banyak-banyak makan nasi sudah cukup untuk menjaga kesehatan mereka. Di desa Raya Huluan ini susah mencari keluarga petani yang selalu menyediakan buah dan susu di rumah mereka, padahal buah dan susu merupakan sumber vitamin, nutrisi, mineral dan gizi yang dibutuhkan oleh tubuh. Dengan melihat pola konsumsi responden dapat disimpulkan bahwa responden belum memenuhi asupan gizi seimbang.

Dilihat dari pola konsumsi dan ketersediaan pangan di desa Raya Huluan, responden bukanlah orang yang miskin hanya saja masih kurang kesadaran dan pengetahuan akan pentingnya asupan gizi yang cukup.

Tabel 5.27

Distribusi Responden Berdasarkan Frekuensi mengkonsumsi Hasil Panen

No Kategori Frekuensi (F) Persentase (%)

1 2 3

Sangat sering Sering Cukup sering

4 22

6

12,5 68,75 18,75

Jumlah 32 100

Sumber : Kuesioner 2013

Dari tabel 5.27 dapat diketahui bahwa mayoritas responden (68,75%) sering mengkonsumsi hasil panennya. Petani di Desa Raya Huluan menanam dan mengusahakan berbagai macam tanaman seperti sayuran, kopi, padi, jahe, jagung dan lain sebagainya. Responden selalu menyisihkan hasil panen yang bisa dikonsumsi oleh responden dan keluarganya, dimana biasanya hasil panen yang dikonsumsi responden seperti sayuran, tomat, cabai, jahe, kunyit, padi dan lain-lain. Responden merasa adanya kepuasan tersendiri ketika mengkonsumsi tanaman yang diusahakannya sendiri, karena responden sudah bekerja keras untuk mengusahakan tanaman tersebut. Berikut hasil wawancara dengan ibu Kastinim;

“keluarga kami sering mengkonsumsi hasil panen, setiap hasil panen yang bisa dimakan selalu kami sisihkan untuk dibawa ke rumah. Saya juga lebih suka mengkonsumsi hasil panen saya sendiri karena saya sudah bekerja keras untuk

mengusahakannya, ya hasilnya pun harus saya nikmati juga. Dengan mengkonsumsi hasil panen saya, serasa semua kerja keras saya terbayar”.

2. Kontribusi dalam Sandang

Tabel 5.28

Distribusi Responden Berdasarkan Frekuensi Membeli Pakaian

No Kategori Frekuensi (F) Persentase (%) 1

2 3

1 2-4

>4

4 27

1

12,5 84,375

3,125

Jumlah 32 100

Sumber : Kuesioner 2013

Pakaian merupakan kebutuhan pokok yang berfungsi sebagai penutup dan pelindung tubuh. Konsep keluarga Sejahtera yang dirumuskan oleh BKKBN menyatakan bahwa seluruh anggota keluarga minimal memperoleh 1 stel pakaian baru pertahun. Dari tabel 5.28 dapat diketahui bahwa mayoritas responden (84,375%) memperoleh penambahan pakaian baru 2-4 stel pertahunnya, 4 responden hanya mampu membeli 1 stel pakaian baru pertahunnya dan 1 responden lain mampu membeli lebih dari 4 stel pakaian pertahun. Setiap responden juga memiliki pakaian yang berbeda di rumah, bepergian dan pakaian untuk bekerja. Jika melihat perumusan dari BKKBN, dapat disimpulkan bahwa responden tidak miskin karena responden memperoleh penambahan pakaian minimal 1 stel pertahunnya.

Tabel 5.29

Distribusi Responden Berdasarkan Cara Membeli Pakaian

No Cara Membeli Pakaian Frekuensi (F) Persentase (%) 1

2

Membeli yang baru (lunas) Membeli yang bekas

31 1

96,875 3,125

Jumlah 32 100

Sumber : Kuesioner 2013

Dari tabel 5.29 dapat diketahui bahwa mayoritas responden (96,875%) membeli pakain yang baru. Responden biasanya membeli pakain baru tersebut di pasar tradisional. Seperti hasil wawancara dengan Ma senta Sipayung berikut ini:

“kami memperoleh penambahan pakaian kira-kira 5 stel setiap tahun, biasanya saya membeli pakaian menjelang semester baru, menjelang natal dan tahun baru.

Biasanya saya membeli pakaiannya di pasar tradisional karena ada banyak pilihan dan kita bisa tawar menawar harga dengan penjualnya”.

3. Kontribusi dalam Perumahan

Tabel 5.30

Distribusi Responden Berdasarkan Kepemilikan Rumah

No Kepemilikan Rumah Frekuensi (F) Persentase (%) 1

2

Milik sendiri Menumpang

30 2

93,75 6,25

Jumlah 32 100

Sumber : Kuesioner 2013

Rumah merupakan kebutuhan pokok sebagai tempat berlindung dari panas matahari, hujan dan lain-lain. Dari tabel 5.30 dapat diketahui bahwa mayoritas responden (93,75%) sudah memiliki rumah sendiri dan responden yang lain masih menumpang dirumah keluarganya.

Rumah yang di tempati responden adalah hasil usaha dan kerja keras responden dengan suaminya. Berikut hasil wawancara dengan Sinta Purba:

“rumah yang kami tempati sekarang adalah rumah sendiri yang kami bangun sekitar 4 tahun setelah kami menikah. Penghasilan saya dan suami kami kumpulkan dan bisa membangun rumah ini, walaupun masih sederhana yang penting sudah rumah sendiri”.

Tabel 5.31

Distribusi Responden Berdasarkan Kondisi Rumah

No Kondisi Rumah Frekuensi (F) Persentase (%) 1

2 3 4

Permanen Semi permanen

Papan Tepas

9 17

3 3

28,125 53,125 9,375 9,375

Jumlah 32 100

Sumber : Kuesioner 2013

Dari tabel 5.31 diketahui bahwa mayoritas responden (53,125%) tinggal di rumah yang semi permanen, dimana rumahnya setengan beton dan setengah papan. Dari observasi peneliti, hampir keseluruhan rumah responden memiliki

teras yang dipergunakan untuk menyimpan alat-alat pertanian maupun hasil-hasil pertanian sebelum dipasarkan.

Tabel 5.32

Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Kamar

No Jumlah Kamar Frekuensi (F) Persentase (%) 1

2 3 4

1 2 3 4

9 14

6 3

28,125 43,75 18,75 9,375

Jumlah 32 100

Sumber : Kuesioner 2013

Dari tabel 5.32 dapat diketahui bahwa keseluruhan responden memiliki kamar walaupun jumlahnya berbeda-beda. Kebanyakan responden (43,75%) memiliki 2 kamar, 9 responden memiliki 1 kamar, 6 responden memiliki 3 kamar dan 3 responden lainnya memiliki 4 kamar.

Jumlah kamar biasanya disesuaikan dengan luasnya rumah. Jika dilihat jumlah kamar responden, dimana mayoritas responden sudah memiliki 2 kamar atau lebih menandakan bahwa responden memiliki rumah yang lumayan luas. Jika kamar yang ada di rumah responden hanya satu maka kamar tersebut akan ditempati oleh responden sementara itu anak-anaknya akan tidur di ruang tengah.

Jika kamarnya lebih dari satu, maka 1 kamar akan ditempati oleh responden dan kamar yang lainnya akan ditempati oleh anak-anaknya.

Tabel 5.33

Distribusi Responden Berdasarkan Sistem Pertukaran Udara

No Sistem Pertukaran Udara Frekuensi (F) Persentase (%) 1

2 3

Pintu, jendela dan ventilasi Pintu dan jendela

Pintu

2 19 11

6,25 59,375 34,375

Jumlah 32 100

Sumber : Kuesioner 2013

Rumah yang sehat adalah rumah yang memiliki ventilasi sebagai sarana keluar masuknya udara sehingga udara dalam rumah tetap segar. Dari tabel 5.33 dapat diketahui bahwa mayoritas responden (59,375%) memiliki pintu dan jendela sebagai sarana pertukaran udara dan sebagai sarana masuknya sinar matahari.

Tabel 5.34

Distribusi Responden Berdasarkan Sumber Air Bersih

No Sumber Air Bersih Frekuensi (F) Persentase (%)

1 PAM 32 100

Jumlah 32 100

Sumber : Kuesioner 2013

Dari tabel 5.34 dapat diketahui bahwa keseluruhan responden (100%) mendapatkan air bersih dari PAM yang sudah dimasukkan kesetiap rumah.

Responden sangat terbantu dengan adanya PAM, dimana responden tidak susah

pembayaran airnya pun tidak susah karena langsung dipungut kerumah-rumah setiap bulannya sehingga responden tidak perlu repot untuk membayarkannya.

Tabel 5.35

Distribusi Responden Berdasarkan Ketersediaan Fasilitas MCK

No Ketersediaan MCK Frekwensi (F) Persentase (%) 1

2

Tersedia Hanya kamar mandi

25 7

78,125 21,875

Jumlah 32 100

Sumber : Kuesioner 2013

Dari tabel 5.35 dapat diketahui bahwa mayoritas responden (78,125%) sudah memiliki fasilitas MCK di rumahnya, dan responden lainnya hanya memiliki kamar mandi saja. Responden yang dirumahnya hanya ada kamar mandi dapat dipergunakan untuk mandi dan cuci sedangkan untuk kakusnya, responden biasanya ke alam.

Tabel 5.36

Distribusi Responden Berdasarkan sistem Pembuangan Air Limbah

No Sistem Pembuangan Air Limbah Frekuensi (F) Persentase (%) 1

2

Melalui parit

Dibuang begitu saja di pekarangan

25 7

78,125 21,875

Jumlah 100 100

Sumber : Kuesioner 2013

Dari tabel 5.36 diketahui bahwa mayoritas responden (78,125%) membuang air limbah mereka melalui parit, sedangkan responden lainnya masih membuang begitu saja di pekarangan rumah atau kebelakang rumahnya karena tidak adanya parit dirumahnya. Dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden sudah peduli dengan kebersihan lingkungan dan kesehatan keluarganya.

Tabel 5.37

Distribusi Responden Berdasarkan Sumber Penerangan

No Sumber Penerangan Frekuensi (F) Persentase (%)

1 Listrik 32 100

Jumlah 32 100

Sumber : Kuesioner 2013

Dari tabel 5.37 diketahui bahwa seluruh rumah responden (100%) sudah diterangi oleh listrik karena desa ini sudah dijangkau oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN). Adanya fasilitas listrik membuat warga sudah dimanjakan dengan berbagai fasilitas dan alat-alat eletronik seperti Televisi, Setrika, Rice cooker, Kulkas, Hand phone dan berbagai peralatan eletronik lainnya. Responden tidak perlu direpotkan dengan tagihan listriknya karena setiap bulannya akan ada petugas yang langsung memungut kerumah-rumah.

Jika melihat dari tabel-tabel yang menguraikan tentang perumahan dapat diketahui bahwa 30 (93,75%) responden sudah memiliki rumah sendiri, 17 (53,125%) responden sudah memiliki rumah yang semi permanen, 14 (43,75%) responden memiliki 2 kamar dalam rumahnya, 19 (59,375%) responden memiliki

Dokumen terkait