• Tidak ada hasil yang ditemukan

JEJARING KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN LAUT DI INDONESIA

Dalam dokumen Profil jejaring kawasan konservasi perai (Halaman 33-60)

Di Indonesia saat ini telah terbentuk sejumlah jejaring KKP dengan status pengelolaan, basis dan tipe keterkaitan pembentukan yang berbeda-beda. Pada pasal 19 ayat (2), PP 60 Tahun 2007, disebutkan bahwa jejaring KKP pada tingkat lokal dan nasional dilaksanakan melalui kerjasama antar unit organisasi pengelola. Hal ini berarti bahwa KKP dikatakan berjejaring apabila ada kerjasama antar dua atau lebih unit organisasi pengelola KKP. Mengacu pada ketentuan ini, sejumlah jejaring KKP mulai diinisiasi dan dibangun di Indonesia.

Pembentukan jejaring dapat terbentuk dari 1 basis dan tipe keterkaitan saja, namun juga bisa dibentuk berdasarkan kombinasi dari beberapa basis dan tipe keterkaitan. Secara umum profil jejaring KKP di Indonesia dapat dikelompokkan berdasarkan aspek dominan yang menjadi basis dalam pembentukannya.

a. Jejaring Kawasan Konservasi Berbasis Spasial

Nama Jejaring : Jejaring Kawasan Konservasi Perairan Sunda Kecil (Lesser Sunda)

Tipe/Aspek Keterkaitan : Biofisik

Kawasan Konservasi : TNP Laut Sawu, KKPD Selat Pantar, KKPD Sikka, KKPD Riung, TWAL Teluk Kupang, TWP Gili Ayer-Meno-Trawangan, KKPD Gili Sulat & Gili Lawang, KKPD Gili Banta, KKPD Teluk Bumbang, KKPD Sumbawa, KKPD Nusa Penida, KKPD Buleleng, TN. Bali Barat.

Gambaran umum

Ekoregion Sunda Kecil atau disebut sebagai Ekoregion Perarain Bali dan Nusa Tenggara (EL-9) pada Ekoregion Laut Indonesia memiliki luas 625.018 km2, meliputi 3 propinsi yaitu Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Salah satu ciri khas ekoregion ini yaitu terdapatnya beberapa pintu keluar bagi Arus Lintas Indonesia (Indonesian Through-Flow) seperti Selat Lombok,

Selat Ombai dan Terusan Timor. Arus ini membawa massa air dari Samudera Pasifik melintasi perairan Indonesia melalui Selat Malaka, Terusan Limafatola, Laut Banda dan Laut Aru. Pada ekoregion ini terdapat beberapa lokasi yang mempunyai ekosistem pesisir dan laut yang unik, salah satunya Selat Bali yang berperan sebagai habitat ikan Sardinella lemuru. Selain itu terdapat Teluk Saleh (Sumbawa) yang berfungsi sebagai area asuhan ikan-ikan ekonomis penting, Laut Flores sebagai jalur migrasi cetacean dari Samudera Pasifik ke Samudera Hindia, dan Teluk Ekas (Lombok) yang secara periodik dihampiri oleh kelompok Paus (Purnomo et al., 2004; Brodjonegoro et al., 2004, dalam Ekoregion Laut Indonesia, 2012).

Di ekoregion ini telah didirikan 19 KKP yang berstatus sebagai KKPN dan KKPD dengan berbagai kategori yang mengacu pada UU No. 5 Tahun 1990, PP No. 60 Tahun 2007 dan UU No. 27 Tahun 2007. Sebagian dari KKP tersebut melindungi ekosistem-ekosistem penting seperti terumbu karang, mangrove dan padang lamun, melindungi spesies terancam seperti paus dan lumba-lumba, dan sebagian lagi melindungi pantai tempat penyu bertelur.

Tabel 4. KKP di Ekoregion Sunda Kecil atau Ekoregion Perairan Bali dan Nusa Tenggara (EL-9).

Nama

KKPD Buleleng KKPD Nusa Penida

TWP Gili Ayer-Meno-Trawangan TWP Gili Sulat & Gili Lawang KKPD Gili Banta Bima

KKPD P. Kramat-Temudong-Bedil KKPD Sumbawa Barat

KKPD Lombok Barat TWAL Pulau Moyo TWA Pulau Satonda TNP Sawu

KKPD Lombok Tengah CAL Riung

TWAL Teluk Maumere TWA Tujuh Belas Pulau TWAL Teluk Kupang KKPD Flores Timur KKPD Sikka KKPD Selat Pantar Wilayah Administrasi (Propinsi) Bali Bali NTB NTB NTB NTB NTB NTB NTB NTB NTB NTB NTB NTB NTB NTT NTT NTT NTT NTT NTT NTT NTT NTT NTT NTT NTT NTT NTT NTT Luas (ha) 14,041 20,057 2,954 5,807 43,750 2,000 11,574 21,556 6,000 2,600 3,521,130 22,940 2,000 59,450 9,900 50,000 150,000 42,250 400,008 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

Pembentukan

Jejaring KKP di Ekoregion SUnda Kecil belum terbentuk sesuai dengan amanat PP 60 Tahun 2007, pasal 19 ayat (2) bahwa jejaring kawasan konservasi perairan dilaksanakan melalui kerjasama antar unit organisasi pengelola. Namun demikian, upaya pembentukan jejaring KKP di ekoregion ini telah diinisiasi pada sejak 2006 hingga 2009, dengan dibentuknya tim perancang jejaring KKP Lesser Sunda. Tim ini bertugas untuk mengumpulkan data informasi tentang kondisi ekologi dan sosial-ekonomi guna mengidentifikasi area-area penting, pembuatan rancangan jejaring KKP, peningkatan kapasistas stakeholders melalui training, workshop dan konsultasi publik.

Pengkajian kondisi ekologi meliputi semua data habitat penting dan data oseanografi. Berbagai data ekosistem seperti terumbu karang, mangrove, dan padang lamun dipetakan melalui interpretasi visual data satelit citra Landsat. Selain itu, daerah migrasi dan tempat mencari makan bagi paus, lumba-lumba, manta dan penyu juga diidentifikasi berdasarkan informasi dari masyarakat setempat dan para ahli. Pengkajian kondisi sosial-ekonomi menyangkut informasi tentang demografi, pariwisata, daerah budidaya, kegiatan budidaya, serta kegiatan-kegiatan perikanan lainnya.

Beberapa tahapan yang dilalui dalam merancang jejaring ekologi di Ekoregion Sunda Kecil adalah:

• Mengumpulkan dan mengkompilasi semua data yang tersedia terkait dengan kondisi biologi, oseanografi, spesies, dan sosial-ekonomi kawasan. Semua data tersebut kemudian disimpan dalam basis-data Sistem Informasi Geografis.

• Mengkaji kawasan konservasi yang sudah ada dan sedang diusulkan, serta area-area penting yang akan diusulkan menjadi kawasan konservasi baru dengan menerapkan prinsip-prinsip pengembangan jejaring yang berdaya lenting.

• Menganalisis semua data dan informasi yang sudah dikumpulkan dengan menggunakan perangkat-lunak Marxan, untuk mengidentifikasi lokasi-lokasi kawasan konservasi yang paling sesuai untuk dijadikan KKP.

• Melakukan konsultasi publik dengan menggunakan hasil analisis Marxan untuk menggalang masukan dari para pemangku kepentingan dan para pakar. Konsultasi publik dilakukan di tingkat provinsi (di Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur).

b. Jejaring Kawasan Konservasi Perairan Berbasis Habitat

Nama Jejaring : Jejaring Kawasan Konservasi Perairan Bali

Tipe/Aspek Keterkaitan : Biofisik, sosial-budaya-ekonomi, tata kelola

Kawasan Konservasi : Taman Nasional Bali Barat, Taman Hutan Raya Mangrove Ngurah Rai, KKPD Nusa Penida Kabupaten Klungkung, Taman Wisata Perairan Kabupaten Buleleng, TWA Batur dan Bukit Payung Kabupaten Bangli, TWA Buyan-Tamblingan

Gambaran umum

Bali memiliki luas 563.666 ha yang terdiri dari pulau utama Bali dan sejumlah pulau kecil di sekelilingnya. Bali terkenal sebagai tujuan wisata terkemuka di dunia karena budaya masyarakatnya yang unik serta kondisi sumberdaya alamnya, seperti terumbu karang yang relatif dalam kondisi baik. Berdasarkan hasil kajian cepat kondisi kelautan Propinsi Bali tahun 2011 tercatat 406 spesies karang dengan rata-rata tutupan karang keras 38,2%, sedangkan ikan karang tercatat sebanyak 977 spesies (Mustika et al., 2011).

Secara biofisik terdapat keterkaitan ekosistem antara satu kawasan dengan kawasan lainnya karena Bali merupakan pulau yang berukuran relatif kecil. Keterkaitan ini menyebabkan beberapa ekosistem dan spesies memiliki kemiripan komunitas. Komunitas karang di bagian utara Nusa Penida mirip dengan komunitas karang di sekitar Tulamben. Kemiripan komunitas karang juga ditemukan antara komunitas karang di bagian tenggara Badung, selatan Nusa Penida, dan juga bagian barat Jembrana.

Hasil Kajian Cepat Kondisi Kelautan Bali tahun 2011 menunjukkan setidaknya terdapat 5 tipe komunitas karang di Bali, yaitu: (1) Nusa Penida utara; (2) pantai timur Bali dari Nusa Dua hingga Gili Selang; (3) terumbu pesisir utara dari Amed hingga Pulau Menjangan; (4) habitat bersubstrat lunak di pesisir utara Puri Jati/Kalang Anyar dan Gilimanuk Secret Bay; dan (5) pesisir barat dan selatan Bali dan pesisir selatan Nusa Penida yang sering terpapar gelombang. Pola komunitas karang yang mengelilingi Bali ini juga diikuti oleh struktur komunitas ikan karang. Dipandang dari struktur komunitas ikan karang, Bali secara umum dapat dibedakan menjadi empat zona utama: (1) Nusa Penida; (2) pesisir timur (menghadap Selat Lombok); (3) pesisir utara; dan (4) Secret Bay (Gilimanuk). Seluruh tipe komunitas karang dan ikan karang utama di Bali perlu dilindungi kedalam KKP dan terwakili di dalam jejaring. Hal ini penting untuk memberikan jaminan bagi adaptasi dan kelentingan terhadap perubahan iklim.

Sejumlah tempat-tempat dengan nilai konservasi tinggi di perairan Bali seperti tempat dengan keanekaragaman yang unik, habitat yang tetap utuh, spesies endemik atau langka, daerah memijah ikan, atau tempat penyu bertelur juga teridentifikasi selama survey kajian cepat tersebut. Fauna laut besar yang ditemukan di perairan Bali juga menjadi pertimbangan dalam pembentukan jejaring. Lokasi-lokasi penting paus, lumba-lumba, dugong, penyu dan pari manta tercakup dalam lokasi prioritas pendirian KKP di Bali dan menjadi bagian dari jejaring KKP. Hasil-hasil kajian cepat diatas juga merekomendasikan 9 lokasi penting di Bali sebagai kawasan konservasi perairan. Sebagian dari kawasan yang direkomendasikan telah memiliki status, sedangkan sebagian lainnya belum memiliki status sebagai KKP. Rekomendasi lainnya adalah bahwa kesembilan lokasi penting tersebut perlu dikelola secara berjejaring, mengingat adanya keterkaitan yang dapat saling mempengaruhi satu sama lain.

Gambar 10. Kawasan dengan Komunitas Karang Utama di Bali (Kajian Cepat Kondisi Kelautan Bali, 2011)

Gambar 11. Sebaran Fauna Laut Besar di Bali

Tabel 5. Kawasan/Calon Kawasan Konservasi Perairan Laut di Bali

Nama TN. Bali Barat THR. Ngurah Rai TWP Buleleng TWP Nusa Penida Calon KKPD Badung Calon KKPD Karangasem Calon KKPD Jembrana Wilayah Administrasi

Kab. Jembrana dan Kab. Buleleng Kab. Badung dan Kota Denpasar Kab. Buleleng Kab. Klungkung Kab. Badung Kab. Karangasem Kab. Jembrana Luas (ha) 19,003 1,373 14,041 20,057 No 1 2 3 4 5 6 7

Gambar 12. Sembilan Lokasi/Calon Lokasi Kawasan Konservasi Perairan untuk Dikelola secara Berjejaring

Kondisi sosial budaya masyarakat Bali melalui kearifan lokalnya yang masih berjalan dengan baik sampai saat ini, mendukung pembentukan dan pengelolaan kawasan-kawasan konservasi perairan secara berjejaring. Masyarakat Bali dipandu oleh budaya nyegara gunung (hilir-hulu), Tri Hita Karana dan Sad Kertih. Nyegara gunung adalah filosofi Bali bahwa antara laut dan gunung adalah satu kesatuan tak terpisahkan. Oleh karena itu, setiap tindakan di gunung akan berdampak pada laut. Mengacu pada filosofi ini, maka, jika hendak menyelamatkan laut, maka kita harus melibatkan aspek-aspek yang terdapat di darat (Pemerintah Propinsi Bali, 2013). Budaya lain adalah Tri Hita Karana yang mengingatkan masyarakat Bali bahwa pembangunan tidak boleh lepas dari hubungan antar manusia (sosial), manusia dan lingkungan (ekologi) serta manusia dan Sang Pencipta (spiritual). Sad Kertih adalah enam elemen yang harus diperhatikan untuk mencapai kesejahteraan manusia. Pertama dalam hidupnya, manusia harus sadar (atma kertih). Begitu sadar, manusia akan menjaga hutan dari kerusakan (wana kertih). Jika hutan dikelola dengan baik, maka air tawar (termasuk danau dan sungai – danu kertih) dan lautan (segara kertih) pasti akan baik pula. Dengan demikian, manusia menjadi sejahtera (jana kertih) dan semesta raya menjadi harmonis (jagat kertih). Prinsip-prinsip ini menegaskan pentingnya pengelolaan terpadu dari hulu hingga hilir untuk menjaga kelestarian sumber daya laut di Bali. Karena itu, jejaring KKP di Bali melibatkan tidak hanya kawasan-kawasan konservasi di pesisir dan laut, melainkan juga kawasan-kawasan konservasi perairan darat (dalam hal ini danau-danau di Bali).

Kepentingan ekonomi pembentukan jejaring bagi pemerintah daerah Bali (provinsi dan kabupaten/kota) adalah untuk mengembangkan destinasi wisata perairan baru secara terintegrasi. Saat ini sejumlah KKP di Bali telah menjadi destinasi wisata perairan, seperti Nusa Penida, Buleleng dan Pulau Menjangan. Melalui pembentukan kawasan konservasi baru yang memiliki keindahan alam bawah laut, diharapkan dapat menambah pilihan objek wisata bagi wisatawan yang berkunjung ke Bali.

Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Bali Nomor 16 Tahun 2009, menyatakan bahwa Bali merupakan satu kesatuan wilayah pengembangan ekosistem pulau kecil yang terpadu. Berdasarkan peraturan ini, Bali perlu dikelola menurut prinsip satu pulau, satu perencanaan dan satu pengelolaan (one island, one plan, one management). Tujuannya adalah untuk mewujudkan keterpaduan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah provinsi dan kabupaten/kota dalam rangka perlindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan dan budaya Bali akibat pemanfaatan ruang. Mengacu kepada hal ini, maka pengelolaan kawasan-kawasan konservasi perairan di Bali perlu dilakukan dalam satu perencanaan dan satu pengelolaan melalui pembentukan jejaring.

Pembentukan

Inisiasi pembentukan jejaring KKP Bali diawali dengan lokakarya pada Juni 2010 yang diselenggarakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali. Pemangku kepentingan yang terlibat dalam lokakarya tersebut mencakup sejumlah dinas terkait dari seluruh kabupaten/ kota, Taman Nasional, BKSDA, universitas, forum lembaga adat, kelompok nelayan, dan LSM.

Lokakarya ini menghasilkan kesepakatan untuk membentuk jejaring KKP Bali, selain berhasil mengidentifikasi 25 lokasi prioritas yang dianggap penting untuk menjadi bagian jejaring KKP Bali. Sebagian lokasi-lokasi tersebut telah memiliki status seperti TN Bali Barat, Tahura Man-grove Ngurah Rai, KKPD Nusa Penida di Kabupaten Klungkung, KKPD Kabupaten Buleleng, dan sebagian lainnya yang belum dibentuk sebagai kawasan konservasi.

Proses selanjutnya adalah melakukan Kajian Cepat Kondisi Kelautan Bali (Bali Marine Rapid Assessment Program - MRAP) yang melibatkan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, Balai Riset Oseanografi dan Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Conserva-tion InternaConserva-tional Indonesia. Survei dilakukan di 25 lokasi prioritas yang telah diidentifikasi sebelumnya. Tujuan dari kajian cepat ini adalah untuk menghasilkan data dan informasi ekologi dan sosial-ekonomi yang dapat digunakan sebagai masukan untuk merekomendasikan lokasi-lokasi prioritas pendirian KKP baru, 9 lokasi-lokasi penting sebagai kawasan konservasi (Gambar 3), serta langkah-langkah yang perlu diambil dalam merancang jejaring KKP Bali. Kemudian, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali membentuk kelompok kerja yang terdiri dari perwakilan dinas terkait di tingkat provinsi dan kabupaten serta LSM untuk menyiapkan: (a) program dan kegiatan jejaring, dan (b) kelembagaan dan pendanaan jejaring.

Langkah selanjutnya dilakukan pertemuan para kepala Dinas Kelautan dan Perikanan kabupaten/ kota, Taman Nasional dan BKSDA dengan kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali yang menghasilkan kesepakatan untuk membentuk jejaring KKP Bali. Untuk memperkuat legitimasi kelompok kerja jejaring KKP Bali, Gubernur Bali mengeluarkan SK No. 1590 Tahun 2013 tentang Pembentukan dan Susunan Keanggotaan Kelompok Kerja Jejaring KKP di Provinsi Bali. Salah satu kesepakatan tersebut adalah mendorong pencadangan calon-calon KKPD di Kabupaten Badung, Kabupaten Karangasem dan Kabupaten Jembrana. Selain itu disusun kegiatan dan anggaran tahun 2013 terkait pengelolaan jejaring di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.

Nama Jejaring : Jejaring KKP Raja Ampat

Tipe/Aspek Keterkaitan : Biofisik, sosial budaya

Kawasan Konservasi : Taman Pulau-Pulau Kecil Raja Ampat (terdiri dari: Wilayah I-Ayau Asia, Wilayah II-Teluk Mayalibit, Wilayah III-Selat Dampier, Wilayah IV-Kofiau dan Wilayah V-Misool), Suaka Alam Perarain Waigeo Barat, Suaka Alam Perairan Raja Ampat

Gambaran umum

Secara umum kawasan perairan Raja Ampat memiliki tingkat keragaman dan endemisitas sumberdaya hayati laut dan darat yang tinggi. Dari serangkaian survei di Raja Ampat tercatat 1.318 jenis ikan karang (Allen & Erdmann, 2009), 533 jenis karang keras (Turak & Devantier, 2008), 699 jenis moluska (McKenna et al., 2002), dan 15 jenis cetacean (Kahn, 2007). Dikawasan ini juga ditemukan spesies hiu berjalan/hiu bambu (Hemiscyllium freycineti) atau ‘walking shark/ bamboo shark/’ dengan nama lokal Kalabia yang hanya ada di Papua dan Australia. Selain itu terdapat sejumlah ikan endemik lainnya seperti Pentapodus numberii, Eviota raja (sejenis ikan gobi), Apogon leptofasciatus (sejenis ikan cardinal) dan Eviota (sejenis gobi) (McKenna et al., 2002; Allen & Erdmann, 2009).

Studi pengukuran suhu permukaan laut selama dua tahun (2008-2010) mengindikasikan terumbu karang di Raja Ampat memiliki ketahanan hidup yang cukup tinggi dan cukup “resil-ient” untuk menghadapi pemanasan suhu laut. Terumbu karang dikawasan ini dapat hidup pada kisaran suhu 19.33-36.04°C ketika koral ditempat lain sedang sekarat untuk bertahan hidup (CI, 2010). Hal ini penting berkaitan dengan isu pemanasan global. Terumbu karang yang dilindungi dapat menjadi sumber larva karang di daerah lain untuk kembali pulih setelah terjadi bencana yang diakibatkan oleh kenaikan rata-rata suhu permukaan laut.

Hasil beberapa studi di sejumlah KKP di Raja Ampat menunjukkan adanya keterkaitan dari aspek penyebaran larva ikan dari satu KKP sebagai tempat pemijahan dengan KKP lainnya sebagai tempat pembesaran (Wilson et al., 2008; TNC, 2010; Treml, 2011). Keterkaitan ini disebabkan oleh adanya pola arus di perairan Raja Ampat yang lebih banyak dipengaruhi oleh massa air dari Samudera Pasifik Barat (Western Pacific Ocean) yang bergerak dari arah timur menuju barat laut (North West) dan sejajar dengan daratan Papua bagian utara. Ketika arus ini tiba di Laut Halmahera atau bagian utara Kepulauan Raja Ampat, sebagian arus tersebut kemudian bergerak ke selatan dan sebagian lagi berbalik menuju Samudera Pasifik. Arus ini dikenal sebagai Halmahera Eddie. Diduga sebagian arus ini memasuki perairan Kepulauan Raja Ampat (Tomczak & Godfrey, 1994). Studi lainnya menunjukkan adanya hubungan antara tempat bertelur penyu di satu KKP dengan tempat makan penyu di KKP lainnya (Gearheart, 2005; WWF, 2010).

Masyarakat adat Raja Ampat berasal dari suku Maya, terdiri dari 4 sub suku dan sejumlah marga yang menyebar di berbagai kampung. Sebagaimana tempat lain di Papua, wilayah perairan Raja Ampat juga dimiliki secara komunal oleh masyarakat adat. Perairan termasuk pulau-pulau yang tidak berpenghuni beserta terumbu karang disekitarnya dimiliki secara adat oleh masyarakat melalui marga-marga yang menduduki wilayah tersebut. Ada berbagai hak atas sumberdaya alam yang umum didengar di Raja Ampat seperti hak milik atau petuanan, hak makan dan hak pakai. Dengan kata lain, pemanfaatan dan pemilikan suatu wilayah beserta

Tabel 6. Kawasan Konservasi Perairan Laut di Raja Ampat Gambar 14. Studi Penyebaran Penyu

Nama

Taman Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Raja Ampat - Wilayah I –Ayau Asia

- Wilayah II –Teluk Mayalibit - Wilayah III - Selat Dampier - Wilayah IV - Kofiau - Wilayah V - Misool SAP Waigeo Barat SAP Raja Ampat

Status KKPD KKPN KKPN Luas (ha) 101,440 53,100 336,346 170,000 366,000 271,630 60,000 No 1 2 3

sumberdaya alamnya sudah diatur secara turun temurun oleh masyarakat adat setempat. Praktek pelestarian alam adalah suatu kearifan lokal (sasi) yang telah lama dikenal dan dilakukan dalam kehidupan sehari-hari di kampung. Dalam sasi terdapat prinsip-prinsip konservasi yang sudah dilakukan secara turun temurun dari para leluhur hingga sekarang. Dengan demikian, pada dasarnya keberadaan KKP Raja Ampat sejalan dengan kearifan lokal masyarakat Raja Ampat.

Pembentukan

Jejaring KKP di Raja Ampat belum terbentuk sesuai dengan amanat PP 60 Tahun 2007, pasal 19 ayat (2) bahwa jejaring kawasan konservasi perairan dilaksanakan melalui kerjasama antar unit organisasi pengelola. Namun demikian, kelima wilayah kawasan konservasi dalam TPPKD dan 2 SAPN berpotensi membangun jejaring KKP Raja Ampat di masa depan, mengingat adanya: (a) keterkaitan biofisik yang erat keseluruhan kawasan ini, (b) kondisi sosial-budaya masyarakat yang mendukung pembentukan dan pengelolaan jejaring, serta (c) kepentingan ekonomi terkait pengembangan pariwisata bahari terpadu di Raja Ampat.

Nama Jejaring : Jejaring KKP Aceh

Tipe/Aspek Keterkaitan : Biofisik, sosial budaya, tata kelola

Kawasan Konservas i: KKP Pesisir Timur Pulau Weh - Kota Sabang, KKPD Kabupaten Aceh Besar, KKPD Kabupaten Aceh Jaya, KKPD Kabupaten Aceh Barat, KKPD Kabupaten Simeulue, TWAL Pulau WehSabang, TWAL Pulau Banyak.

Gambaran umum

Perairan Provinsi Aceh mencakup tiga wilayah perairan utama di Indonesia bagian barat, yaitu perairan Selat Malaka di sebelah timur, Laut Andaman di sebelah utara, dan Samudera Hindia di sebelah barat. Selain wilayah pesisir yang merupakan bagian dari Pulau Sumatera, Provinsi Aceh juga miliki gugusan pulau-pulau kecil yang terletak di sebelah barat dan utara. Pulau-pulau kecil tersebut diantaranya adalah Pulau Weh, Pulau Aceh, Pulau Simeulue dan KePulau-pulauan Banyak. Dari sudut pandang wilayah pengelolaan perikanan, perairan Aceh termasuk kedalam WPP 571 dan WPP 572. WPP 571 meliputi perairan Selat Malaka hingga ke Laut Andaman, sedangkan WPP 572 meliputi wilayah Pantai Barat Sumatera.

Provinsi Aceh juga merupakan bagian dari ekosistem besar Teluk Benggala yang juga merupakan bagian wilayah perairan dari beberapa negara di Asia Tenggara dan Asia Selatan, yaitu Bangladesh, Malaysia, Srilanka, India, Maladewa, Myanmar dan Indonesia. Aceh dibatasi oleh Selat Malaka di sebelah timur dan Samudera Hindia di sebelah barat. Dua wilayah perairan tersebut memiliki karakteristik yang berbeda, dimana perairan barat didominasi oleh ekosistem terumbu karang yang membentang dari utara menuju perairan barat hingga ke perbatasan Sumatera Utara, sedangkan perairan sebelah timur didominasi oleh muara sungai serta ekosistem mangrove. Terumbu karang di wilayah timur hanya ditemukan di sebagian kecil wilayah, seperti Laweung di Pidie atau Jambo Aye di Aceh Utara. Secara umum Aceh memiliki tiga ekosistem utama di wilayah pesisir dan laut yaitu hutan mangrove seluas 30.907,41 ha, padang lamun dan terumbu karang seluas 15.124,57 ha (Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh, 2011).

Selain aspek keanekaragaman hayati dan endemisme, Aceh merupakan salah satu kawasan penting yang menghubungkan Selat Malaka, Laut Andaman dengan Samudera Hindia. Hal ini menyebabkan kawasan ini memiliki nilai penting bagi berbagai jenis fauna yang bermigrasi mengikuti Arus Lintas Indonesia (Arlindo) Bagian Barat seperti berbagai jenis cetacean dan ikan-ikan pelagis penting.

Pembentukan KKP di Aceh berkembang dalam tujuh tahun terakhir. Saat ini terdapat 7 kawasan konservasi perairan di Provinsi Aceh yang tersebar di 6 kabupaten/kota dengan luas total mencakup 264.788 ha (Tabel 1). Kabupaten/kota di Provinsi Aceh yang sudah memiliki kawasan konservasi perairan adalah Kota Sabang, Kabupaten Aceh Besar, Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Aceh Barat, Kabupaten Simeulue, dan Kabupaten Aceh Singkil. Kawasan

konservasi perairan di Aceh pertama kali dibentuk pada tahun 1982, yaitu Taman Wisata Alam Laut Pulau Weh (Kota Sabang) dibawah pengelolaan Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA).

Hingga saat ini belum ada suatu kajian yang mengidentifikasi secara spesifik

Dalam dokumen Profil jejaring kawasan konservasi perai (Halaman 33-60)

Dokumen terkait