persampahan Kota Banjar dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 7.31
Ringkasan Pendapatan dan Belanja dari Subsektor Pengelolaan Persampahan
No Subsektor/SKPD n-4 n-3 n-2 n-1 n Rata-rata Pertumbuhan (%)
1 Persampahan
2 Retribusi Sampah 2.000 2.000 2.000 2.500 2.500 2.200 20
*) Dalam Juta
3. Peraturan Perundangan
Pedoman yang digunakan mengenai persampahan di Kota Banjar diatur dalam Peraturan Daerah No. 5 Tahun 2011. Selain itu mengenai peraturan yang memiliki substansi tentang Pembagian kerja pengumpulan sampah dari sumber ke TPS, dari TPS ke TPA, pengelolaan di TPA dan pengaturan waktu pengangkutan sampah dari TPS ke TPA sudah tersedia dalam Rencana Kerja Bulanan. Untuk pemungutan retribusi sampah atau kebersihan sudah efektif dilakukan untuk mencapai Target Pendapatan Asli Daerah (PAD).
C. Permasalahan dan Tantangan
Permasalahan pengelolaan persampahan di Kota Banjar terbagi atas permasalahan teknis dan non teknis. Untuk isu-isu permasalahan non teknis yang ditemui pada sub sektor persampahan di Kota Banjar menyangkut masalah kebijakan daerah, kelembagaan, anggaran/pendanaan, sosialisasi dan pendekatan (informasi) terhadap masyarakat. Sedangkan permasalahan teknis biasanya berupa masalah sistem dan kontruksi, perlu ada standard yang berlaku berkaitan sistem dan kontruksi agar dapat berfungsi dengan baik dan terkoordinir dalam hal pemeliharaannya.
Tabel 7.32
Permasalahan Mendesak di sub sector Persampahan Kota Banjar
No Uraian Isu Strategis dan Permasalahan
Non Teknis Teknis
1 Pewadahan Komunikasi (Kurangnya kegiatan Sosialisasi ttg persampahan kpd masyarakat dengan memanfaatkan media) Perilaku dan dukungan Masyarakat (Belum mendukung pengelolaan sampah ramah lingkungan)
4 Pengangkutan Pelayanan sampah hanya menjangkau pusat kota x Pelayanan sampah hanya menjangkau pusat kota
7 -
35
No Uraian Isu Strategis dan Permasalahan
Non Teknis Teknis
5 Pengolahan tidak berkesenimbungan 3R program pemerintah
Perilaku dan dukungan Masyarakat (Belum
mendukung pengelolaan sampah
ramah lingkungan) 6 Pembuangan akhir Belum ada Perda persampahan untuk melayani 25 Kurang lahan TPA
kel/desa Sumber : Buku Putih Sanitasi (BPS) Kota Banjar Tahun 2012
D. Kriteria Kesiapan Daerah
Untuk mendukung program dan kegiatan pengelolaan persampahan di Kota Banjar kriteria kesiapan daerah yang sudah ada dan yang akan dilaksanakan meliputi:
1. Dokumen Strategi Sanitsi Kota (SSK) Kota Banjar disusun tahun 2012 2. Dokumen Buku Putih Sanitasi (BPS) Kota Banjar disusun tahun 2012
3. Dokumen Memorandum Program Sektor Sanitasi (MPSS) Kota Banjar disusun tahun 2013
E. Analisis Kebutuhan Pengembangan Persampahan
Kebutuhan komponen pengelolaan persampahan yang meliputi aspek teknis operasional (sejak dari sumber sampai dengan pengolahan akhir sampah), aspek kelembagaan, aspek pendanaan, aspek peraturan perundangan dan aspek peran serta masyarakat, serta memperlihatkan arahan struktur pengembangan prasarana kota yang telah disepakati. Analisis yang terkait dengan kebutuhan persampahan adalah analisis sistem pengelolaan persampahan, analisis kualitas dan tingkat pelayanan serta analisis ekonomi. Untuk lebih jelasnya mengenai analisis kebutuhan dan target pencapaian pengelolaan persampahan di Kota Banjar dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 7.33
Analisis Kebutuhan dan Target Pencapaian Pengelolaan Persampahan
No Uraian Eksisting Kondisi Kebutuhan Ket
2017 2018 2019 2020 2021 2022
I Aspek teknis
1 Pengadaan Alat Berat tersedia Belum
Pengadaan Roda Sampah Pengadaan Arm Roll Pengadaan Alat Berat Excavator Pengadaan Motor Roda 3 Pengadaan Dump Truck Pengadaan Bak Kontainer
7 -
36
No Uraian Eksisting Kondisi Kebutuhan Ket
2017 2018 2019 2020 2021 2022
Pengadaan Alat Berat
Wheel Loader Sumber : Hasil Analisis Tahun 2016
7.4.3 Drainase
A. Isu Strategis Pengembangan Drainase
Isu-isu strategis dalam pengelolaan Sistem Drainase Perkotaan di Indonesia antara lain:
1. Belum adanya ketegasan fungsi sistem drainase
Belum ada ketegasan fungsi saluran drainase, untuk mengalirkan kelebihan air permukaan/mengalirkan air hujan, apakah juga berfungsi sebagai saluran air limbah permukiman (“grey water”). Sedangkan fungsi dan karakteristik sistem drainase berbeda dengan air limbah, yang tentunya akan membawa masalah pada daerah hilir aliran. Apalagi kondisi ini akan diperparah bila ada sampah yang dibuang ke saluran akibat penanganan sampah secara potensial oleh pengelola sampah dan masyarakat.
2. Pengendalian debit puncak
Untuk daerah-daerah yang relatif sangat padat bangunan sehingga mengurangi luasan air untuk meresap, perlu dibuatkan aturan untuk menyiapkan penampungan air sementara untuk menghindari aliran puncak. Penampungan- penampungan tersebut dapat dilakukan dengan membuat sumur-sumur resapan, kolam-kolam retensi di atap-atap gedung, didasar-dasar bangunan, waduk, lapangan, yang selanjutnya di atas untuk dialirkan secara bertahap.
3. Kelengkapan perangkat peraturan
Aspek hukum yang harus dipertimbangkan dalam rencana penanganan drainase permukiman di daerah adalah:
Peraturan Daerah mengenai ketertiban umum perlu disiapkan seperti pencegahan pengambilan air tanah secara besar-besaran, pembuangan sampah di saluran, pelarangan pengurugan lahan basah dan penggunaan daerah resapan air (wet land), termasuk sanksi yang diterapkan.
Peraturan koordinasi dengan utilitas kota lainnya seperti jalur, kedalaman, posisinya, agar dapat saling menunjang kepentingan masing-masing. Kejelasan keterlibatan masyarakat dan swasta, sehingga masyarakat dan
swasta dapat mengetahui tugas, tanggung jawab dan wewenangnya. Bentuk dan struktur organisasi, uraian tugas dan kualitas personil yang
dibutuhkan dalam penanganan drainase harus di rumuskan dalam peraturan daerah.
7 -
37
4. Peran Serta Masyarakat dan Dunia Usaha/SwastaKurangnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat dalam pengelolaan saluran drainase terlihat dari masih banyaknya masyarakat yang membuang sampah ke dalam saluran drainase, kurang peduli dalam perawatan saluran, maupun penutupan saluran drainase dan pengalihan fungsi saluran drainase sebagai bangunan, kolam ikan dll.
5. Kemampuan Pembiayaan
Kemampuan pendanaan terutama berkaitan dengan rendahnya alokasi pendanaan dari pemerintah daerah yang merupakan akibat dari rendahnya skala prioritas penanganan pengelolaan drainase baik dari segi pembangunan maupun biaya operasi dan pemeliharaan. Permasalahan pendanaan secara keseluruhan berdampak pada buruknya kualitas pengelolaan drainase perkotaan.
6. Penanganan Drainase Belum Terpadu
Pembangunan sistem drainase utama dan lokal yang belum terpadu, terutama masalah peil banjir, disain kala ulang, akibat banjir terbatasnya masterplan drainase sehingga pengembang tidak punya acuan untuk sistem lokal yang berakibat pengelolaan sifatnya hanya pertial di wilayah yang dikembangkannya saja.
Sedangkan isu-isu strategis dalam pengelolaan sistem drainase di Kota Banjar yaitu :
1. Peran serta masyarakat dalam pemeliharaan drainase masih kurang, pembuangan sampah ke saluran drainase masih terjadi
2. Masih bercampurnya saluran draianse dengan saluran air limbah
3. Masih kurangnya pemeliharaan drainase sehingga drainase yang ada tidak semua berfungsi dengan baik
B. Kondisi Eksisting Pengembangan Drainase 1. Aspek Teknis
Sistem jaringan drainase perkotaan Kota Banjar terbagi menjadi 2 (dua) bagian. Adapun pembagian sistem jaringan drainase perkotaan Kota Banjar meliputi :
A. Sistem Drainase Mayor, sistem drainase mayor yaitu sistem saluran/badan air yang menampung dan mengalirkan air dari suatu daerah tangkapan air hujan (catchment area). Pada umumnya sistem drainase mayor ini disebut juga sistem saluran pembuangan utama (major system) atau drainase primer. Sistem jaringan ini menampung aliran yang berskala besar dan luas seperti saluran drainase primer, kanal-kanal atau sungai-sungai. Perencanaan drainase makro ini umumnya dipakai dengan periode ulang antara 5 sampai 10 tahun dan pengukuran topografi yang detail mutlak diperlukan dalam perencanaan sistem drainase ini.
7 -
38
B. Sistem drainase Mikro, sistem mikro yaitu sistem saluran dan bangunanpelengkap drainase tang menampung dan mengalirkan air dari daerah tangkapan air hujan. Secara keseluruhan yang termasuk kedalam sistem drainase mikro adalah saluran disepanjang sisi jalan, saluran/selokan air hujan disekitar bangunan, gorong-gorong, saluran drainase kota lain sebagainya dimana debit air yang dapat ditampungnya tidak terlalu besar. Pada umumnya drainase mikro ini direncanakan untuk hujan dengan masa ulang 2, 5 atau 10 tahun tergantung pada tat guna lahan yang ada. Sistem drainase untuk lingkungan permukiman lebih cenderung sebagai siste drainase mikro. Dalam PPSP, sistem drainase yang menjadi tanggung jawab daerah (kota Banjar) adalah sistem drainase mikro. Untuk mengetahui lebih jelas mengenai kondisi sistem sanitasi drainase di Kota Banjar dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Gambar 7.5
Diagram Sistem Sanitasi Drainase Tabel 7.34
Diagram Sistem Sanitasi Pengelolaan Drainase Lingkungan Kota Banjar
Input Interface User Pengumpulan Awal Pengaliran
(Semi) Pengolahan Akhir Terpusat Pembuangan Akhir/ Daur Ulang Kode/Nama Aliran Air Hujan Saluran Halaman Rumah Saluran Drainase Tersier Saluran Primer Perkotaan Sungai Citanduy Bak Kontrol di Trotoar Saluran Drainase Sekunder Saluran
Pembuang Sungai Ciseel