Gumpalan tanah liat T 112 0,5 %
Bahan lolos saringan no. 200 T11 3 %
Pembangunan Gedung Pendidikan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sunan Kalijaga 73 6) Pasir harus memenuhi persyaratan SNI 2847-2013.
c. Agregat Kasar (Split/Kerikil)
1) Agregat beton harus memenuhi ketentuan dan persyaratan dari SII 0052-80 tentang "Mutu dan Cara Uji Agregat Beton". Bila tidak tercakup di dalam SII 0052-80, maka agregat tersebut harus memenuhi ketentuan ASTM C23 "Specification for Concrete Aggregates".
2) Agregat kasar yang dapat dipakai adalah koral atau batu pecah (crushed stone) yang mempunyai susunan gradasi yang baik padat dan keras. Agregat kasar yang digunakan tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1 % ( ditentukan terhadap berat kering). Semua agregat yang digunakan harus memenuhi syarat SNI 2847-2013.
BAHAN METODE UJI AASHTO BERAT % MAKSIMAL
Gumpalan tanah liat T112 0,25 %
Bahan lolos saringan no. 200 T11 1 %
Bahan tipis panjang lebih dari 5x
ketebalan maksimal - 10 %
3) Ukuran agregat kasar maksimum yang dapat digunakan adalah 3 cm dan ukuran agregat kasar tersebut tidak boleh lebih dari seperempat dimensi beton yang terkecil dari bagian konstruksi yang bersangkutan.
4) Di dalam segala hal, ukuran besar butir nominal maksimum agregat kasar harus tidak melebihi syarat - syarat berikut : (a) 1/5 (seperlima) jarak terkecil antara bidang samping dari cetakan beton; (b) 1/3 (sepertiga) dari tebal pelat; (c) 3/4 jarak bersih minimum antar batang tulangan, atau berkas batang tulangan. Penyimpangan dari batasan-batasan ini diijinkan jika menurut penilaian Tenaga Ahli, kemudahan pekerjaan, dan metoda konsolidasi beton adalah sedemikian hingga dijamin tidak akan terjadi sarang kerikil atau rongga.
5) 2 minggu sebelum pengecoran dimulai, Penyedia Jasa harus menguji contoh – contoh agregat sesuai dengan SNI 2847-2013..
6) Penyedia Jasa harus menjaga semua pengiriman agregat dari satu sumber untuk setiap agregat yang telah disetujui oleh Konsultan Pengawas hingga sebanyak 50 ton atau sewaktu – waktu diminta oleh Konsultan Pengawas atas biaya Penyedia Jasa.
7) Percobaan – percobaan harus dilakukan oleh Penyedia Jasapada setiap pengiriman sebanyak 50 ton atau sewaktu – waktu diminta oleh Konsultan Pengawas atas biaya Penyedia Jasa. 8) Agregat kasar dan agregat halus harus disimpan secara terpisah tanpa boleh terjadi segregasi
dari butir – butir penyusunnya. Timbunan agregat harus diletakkan di atas lantai dari beton kurus dan dibatasi oleh dinding kayu keras serta harus dijaga terhadap pencampuran atau pencemaran dari kotoran atau material lainnya. Selain itu Penyedia Jasa juga harus menyediakan sistem drainage yang baik di sekitar timbunan agregat sehingga timbunan agregat tidak terpendam air.
9) Untuk mendapatkan campuran beton yang baik dan sesuai dengan hasil mix – design, kadar air dari agregat harus sesuai secara periodik diuji terutama kalau terdapat indikasi bahwa kadar air agregat sudah berubah dari kondisi sebelumnya. Selain itu Penyedia Jasa juga harus secara rutin melaksanakan uji bahan dan disaksikan oleh Konsultan Pengawas .
d. Air
1) Air untuk pembuatan dan perawatan beton adalah air bersih yang sesuai dengan rekomendasi laboratorium dan persyaratan SNI 2847-2013.
2) Harus bersih, tidak mengandung lumpur, minyak dan benda terapung lainnya yang dapat dilihat secara visual.
3) Tidak mengandung garam-garam yang dapat larut dan dapat merusak beton (asam-asam, zat organic, dan sebagainya) lebih dari 15 gram/liter. Kandungan clorida (Cl) tidak lebih dari 500 ppm dan senyawa sulfat (sebagai SO3) tidak lebih dari 100 ppm.
4) Air untuk campuran, perawatan atau aplikasi lainnya harus bersih dan bebas dari unsur- unsur yang merusak seperti alkali, asam, garam dan bahan anorganik lainnya.
5) Air dari kualitas yang dikenal dan untuk konsumsi manusia tidak perlu diuji. Bagaimanapun, bila hal ini terjadi, semua air kecuali yang telah disebutkan di atas, harus diuji dan memenuhi ketentuan AASHTO T26 dan atau disetujui Konsultan Pengawas.
6) Sumber air yang akan dipakai harus disetujui oleh Konsultan Pengawas terlebih dahulu dan harus diuji serta tidak boleh mengandung asam alkali , minyak, dan zat organis yang dapat merusak beton dan tulangan (Ph 7 – 8).
7) Tempat penampungan (bak) air harus selalu bersih dan harus dijaga agar bahan – bahan yang dapat merusak kualitas air tidak tercampur di bak penampungan tersebut.
e. Bahan pencampur /admixture/Adittive
1) Bila tidak dinyatakan lain, pada dasarnya semua beton konstruksi pada proyek ini tidak memerlukan bahan pencampur. Oleh karena itu Penyedia Jasatidak boleh menggunakan bahan pencampur kecuali dengan persetujuan tertulis dari Konsultan Perencana dan atau Konsultan Pengawas.
2) Bahan tambah integral diberikan pada beton dengan fungsi kedap air (basement dan atap). 3) Untuk melengkapi pengajuan izin penggunaan bahan pencampur beton, Penyedia Jasa harus
mengadakan percobaan perbandingan berat dari penambahan bahan campuran tersebut dan diuji tekan contoh – contoh beton pada umur 3,7,14, dan 28 hari di laboratorium yang disetujui oleh Konsultan Pengawas . Semua hasil uji tersebut di atas harus disertakan pada pengajuan izin penggunaan bahan pencampur beton.
f. Baja Tulangan
Baja tulangan yang digunakan harus memenuhi ketentuan-ketentuan berikut ini: 1) Sesuai dengan SNI 07-2052-2014, mengenai baja tulangan beton.
2) Baja batangan untuk keperluan umum (BjKU) tidak diijinkan digunakan untuk keperluan penulangan konstruksi beton (SNI 7614-2010).
3) Tidak boleh mengandung serpih-serpih, lipatan-lipatan, retak-retak, gelombang-gelombang, cerna-cerna yang dalam, atau berlapis-lapis.
4) Untuk tulangan utama (tarik/tekan lentur) harus digunakan baja tulangan deform (BJTD 40), dengan jarak antara dua sirip melintang tidak boleh lebih dari 70 % diameter nominalnya, dan tinggi siripnya tidak boleh kurang dari 5 % diameter nominalnya.
5) Tulangan ulir menggunakan BJTS/BJTD 40, tulangan polos menggunakan BJTP 24.
6) Kualitas dan diameter efektif dari baja tulangan yang digunakan harus dibuktikan dengan sertifikat pengujian laboratorium, yang pada prinsipnya menyatakan nilai kuat leleh, berat per meter panjang, diameter, dan regangan dari bahan tulangan dimaksud. Kontraktor harus mengajukan brosur dan hasil tes tulangan pada proyek sebelumnya yang memenuhi syarat dan dapat digunakan pada pekerjaan ini.
7) Kuat leleh aktual berdasarkan pengujian di pabrik tidak melampaui kuat leleh yang ditentukan sebesar lebih dari 120 MPa (uji ulang tidak boleh memberikan hasil yang melampaui nilai ini sebesar lebih dari 30 MPa) (SNI 2847:2013).
8) Rasio kuat tarik aktual terhadap kuat leleh aktual (batas ulur) tidak kurang dari 1,25 (SNI 03-2847-2002, pasal 23.2.5).
Pembangunan Gedung Pendidikan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sunan Kalijaga 75 9) Diameter efektif baja tulangan (baik deform/BJTS) yang digunakan harus ditentukan dari
sertifikat pengujian tersebut dan harus ditentukan dari rumus:
Error! Reference source not found. atau Error! Reference source not found. Dimana :
de = diameter efektif dalam mm b = berat baja tulangan (kg/m) G = berat baja tulangan (kg/m)
Sesuai ketentuan dalam SNI Tahan Gempa (1726 : 2012), tulangan yang digunakan adalah tulangan ulir (deform).
10) Toleransi Ukuran Diameter adalah sebagai berikut: DIAMETER TULANGAN