BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) atau biasa disebut classroom action research (CAR). Suharsimi dalam Muliawan (2010); Hopkins dalam Arifin (2012); Kemmis dalam Wiriaatmaja (2009); dan Sumadayo (2013) mendefinisikan PTK sebagai sebuah penelitian yang dilakukan oleh guru dan peneliti di kelas mengenai kondisi sosial tertentu dengan tujuan untuk memperbaiki proses belajar mengajar. Menurut Elliot dalam Ekawarna (2013) secara umum PTK adalah kajian dari sebuah keadaan dengan tujuan untuk memperbaiki keadaan tersebut. Berdasarkan berbagai pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa PTK adalah penelitian yang dilakukan di dalam kelas untuk mengamati suatu proses yang sengaja dimunculkan dengan harapan mampu memperbaiki proses pendidikan.
PTK dapat dilaksanakan secara kolaboratif antara peneliti dan guru maupun secara mandiri. Pelaksanaaan PTK dalam penelitian ini dilaksanakan secara mandiri oleh peneliti. Pelaksanaan PTK secara mandiri bertujuan memperkaya pengalaman peneliti serta bertujuan agar tindakan yang dilakukan dapat terlaksana sesuai harapan.
Adapun desain PTK dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Rancangan Penelitian
Mc. Niff dalam Sumadayo (2013) menegaskan bahwa dasar dari PTK adalah untuk melakukan suatu perbaikan. PTK memiliki beberapa model sebagai upaya
24
untuk melakukan perbaikan proses pendidikan. Model tersebut antara lain model Kurt Lewin; Kemmis dan Mc. Taggart; John Elliot; dan Dave Ebbutt.
Model yang digunakan pada penelitian ini adalah model PTK Kemmis dan Mc. Taggart. Model PTK Kemmis dan Mc. Taggart mengaitkan materi yang diajarkan dengan kemampuan awal siswa, sehingga terdapat 2 siklus yaitu melihat kemampuan awal siswa dan penerapan model pembelajaran baru.
Prosedur penelitian menurut model Kemmis dan Mc. Taggart terdiri dari 4 tahapan pada setiap siklus. Tahapan tersebut yaitu perencanaan (plan), pelaksanaan tindakan (action), observasi (observation), dan refleksi (reflection). Desain dari tahapan tersebut digambarkan sebagai berikut :
Gambar 1. Siklus PTK model Kemmis dan Mc. Taggart
2. Rancangan Tindakan
Rancangan pelaksanaan PTK pada penelitian ini didasarkan pada model Kemmis dan Mc. Taggart yang dijabarkan sebagai berikut :
25 a. Pra Siklus
Pra siklus dilakukan sebagai persiapan dalam melakukan melakukan tindakan. Penulis menyampaikan kepada guru bahwa akan melakukan penelitian dengan menerapkan tindakan CTL jenis Snowball Throwing dalam proses pembelajaran. Peneliti menjelaskan langkah-langkah proses pembelajaran yang menerapkan model pembelajaran CTL jenis Snowball Throwing. Guru menentukan materi yang akan diajarkan pada saat tindakan.
Sebagai persiapan awal, penulis mulai merancang RPP, materi pembelajaran, soal pretest, dan soal posttest. Peneliti mengkonsultasikan RPP dan soal-soal tes kepada guru. Setelah semua sesuai, guru dan peneliti menyepakati untuk dilakukan tindakan. Tindakan penelitian dilakukan sebanyak 2 siklus. Masing-masing siklus dilakukan 2 kali pertemuan.
Pada pra siklus dilakukan tes awal atau yang biasa disebut dengan pretest. Tujuan dari digunakannya pretest adalah untuk mengukur kemampuan awal yang dimiliki oleh siswa. Selai itu, pretest juga digunakan sebagai dasar untuk melakukan siklus berikutnya agar tindakan yang dilakukan sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh siswa untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.
b. Siklus I
1) Perencanaan (planning)
Peneliti merencanakan proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran CTL jenis Snowball Throwing. Tahap perencanaan ini dibagi lagi menjadi beberapa tahapan, yaitu :
a) Peneliti dan guru menyiapkan alat-alat yang akan digunakan dalam proses belajar mengajar.
26
b) Peneliti dan guru mengkondisikan siswa untuk duduk dengan tenang di tempat masing-masing.
2) Aksi/ Tindakan (action)
Tindakan dilakukan sesuai dengan skenario yang telah dirancang oleh peneliti. Adapun urutan pelaksanaan tindakan tersebut dijabarkan sebagai berikut :
a) Peneliti melaksanakan proses pembelajaran dengan model pembelajaran CTL jenis snowball throwing untuk menyampaikan sebuah materi kepada semua kelompok. Caranya yaitu :
i. Guru menyampaikan materi yang akan disajikan.
ii. Guru membentuk kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi.
iii. Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya, kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada teman sekelompoknya.
iv. Masing-masing siswa diberikan satu lembar kertas untuk ditulisi pertanyaan yang menyangkut materi yang dijelaskan oleh ketua kelompok.
v. Kertas berisi pertanyaan dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa lain selama kurang lebih 15 menit.
vi. Setelah siswa mendapat satu bola, siswa menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian.
vii. Evaluasi viii.Penutup
27
b) Pada setiap proses penyampaian materi berisi 11 kegiatan yaitu, salam pembuka, berdoa, mengecek kehadiran siswa, penyampaian tujuan pembelajaran, penyampaian standar kompetensi dan kompetensi dasar, penjelasan awal proses pembelajaran, apersepsi, pelaksanaan proses pembelajaran, evaluasi, pembahasan soal evaluasi, dan kesimpulan materi. 3) Observasi (Observation)
Selama proses pembelajaran berlangsung, selain menyampaikan materi seorang observer juga mengawasi tingkah laku, antusiasme, interaksi antar siswa, dan keaktifan siswa. Pengamatan dilakukan sebelum, saat, maupun setelah proses tindakan dilakukan. Pengamatan ini dilakukan berdasarkan dengan pedoman observasi yang telah dirancang sebelumnya. Pedoman observasi tersebut mencakup pengamatan proses tindakan, hasil tindakan, situasi tindakan, dan kendala yang dialami selama proses tindakan. Kegiatan observasi ini dilakukan untuk mendokumentasikan tindakan dan pengaruhnya serta digunakan sebagai dasar untuk melakukan refleksi.
4) Refleksi (Reflection)
Menurut Sumadayo (2013) refleksi yaitu proses memaknai hasil tindakan yang telah dilakukan dan menentukan tingkat keberhasilan dari suatu tindakan dalam menyelesaikan masalah yang ada. Kegiatan refleksi akan mengkaji data yang telah didapat dari tindakan dan observasi dan digunakan sebagai acuan untuk melakukan tindakan siklus berikutnya.
28 c. Siklus II
1) Perencanaan (planning)
Peneliti merencanakan proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran CTL jenis Snowball Throwing. Tahap perencanaan ini dibagi lagi menjadi beberapa tahapan, yaitu :
a) Peneliti melihat hasil tes evaluasi yang telah dilaksanakan pada siklus sebelumnya untuk digunakan sebagai dasar dalam melakukan tindakan. b) Peneliti dan guru mempersiapkan alat-alat yang digunakan untuk mengajar
seperti laptop dan LCD Projector.
c) Guru mengkondisikan siswa untuk duduk di tempat masing-masing dengan tenang.
2) Aksi/ Tindakan (action)
Tindakan dilakukan sesuai dengan skenario yang telah dirancang oleh peneliti. Apabila keadaannya sangat mendesak, maka guru ataupun peneliti dapat mengubah skenario yang telah dirancang karena PTK bersifat fleksibel. Adapun urutan pelaksanaan tindakan tersebut dijabarkan sebagai berikut :
a) Peneliti melaksanakan proses pembelajaran dengan model pembelajaran CTL jenis snowball throwing untuk menyampaikan sebuah materi kepada semua kelompok. Caranya yaitu :
i. Guru menyampaikan materi yang akan disajikan.
ii. Guru membentuk kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi.
29
iii. Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya, kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada teman sekelompoknya.
iv. Masing-masing siswa diberikan satu lembar kertas untuk ditulisi pertanyaan yang menyangkut materi yang dijelaskan oleh ketua kelompok.
v. Kertas berisi pertanyaan dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa lain selama kurang lebih 15 menit.
vi. Setelah siswa mendapat satu bola, siswa menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian.
vii. Evaluasi viii.Penutup
b) Pada setiap proses penyampaian materi berisi 11 kegiatan yaitu, salam pembuka, berdoa, mengecek kehadiran siswa, penyampaian tujuan pembelajaran, penyampaian standar kompetensi dan kompetensi dasar, penjelasan awal proses pembelajaran, apersepsi, pelaksanaan proses pembelajaran, evaluasi, pembahasan soal evaluasi, dan kesimpulan materi. 3) Observasi (Observation)
Selama proses pembelajaran berlangsung, selain menyampaikan materi peneliti juga mengawasi tingkah laku, antusiasme, interaksi antar, dan keaktifan siswa. Pengamatan dilakukan sebelum, saat, maupun setelah proses tindakan dilakukan. Pengamatan ini dilakukan berdasarkan dengan pedoman observasi yang telah dirancang sebelumnya. Pedoman observasi tersebut mencakup pengamatan proses tindakan, hasil tindakan, situasi tindakan, dan kendala yang dialami selama proses tindakan. Kegiatan observasi ini dilakukan untuk
30
mendokumentasikan tindakan dan pengaruhnya serta digunakan sebagai dasar untuk melakukan refleksi.
4) Refleksi (Reflection)
Refleksi pada siklus II dilakukan untuk menentukan adanya siklus berikutnya atau tidak. Jika hasil tes evaluasi siklus II telah memenuhi standar kriteria keberhasilan maka tidak perlu diadakan siklus berikutnya. Selain nilai tes evaluasi, tindakan refleksi juga mengkaji hasil lembar observasi yang telah diperoleh pada setiap siklus.