• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Jenis dan kelimpahan Bulu Babi

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Jenis dan kelimpahan Bulu Babi

Hasil pengamatan selama kerja praktek diketahui terdapat 3 (tiga) jenis bulu babi yaitu Diadema setosum dengan jumlah total 360 ekor, Diadema antillarum jumlah total 99 ekor, sedangkan Echinothrix calamaris jumlah total 5 ekor. Hasil perhitungan kelimpahan bulu babi dapat dilihat pada Gambar 8 berikut.

Gambar 8. Jenis dan Jumlah bulu babi pada kedalaman berbeda di Perairan Menjangan Kecil, Karimunjawa

Berdasarkan hasil perhitungan kelimpahan bulu babi yang dilakukan di Pulau Menjangan Kecil, Karimunjawa (Gambar 8) bahwa nilai kelimpahan spesies bulu babi yang tertinggi yakni spesies Diadema setosum terdapat pada stasiun 1 (Selatan) sub stasiun 2 sebesar 86.88% pada kedalaman 2 m, dikarenakan di stasiun tersebut memiliki substrat keras yakni pecahan karang dan sedikit campuran pasir sesuai dengan Tony et al (2014), bahwa bulu babi pada umumnya

27 106 45 146 23 13 7 12 20 37 12 11 0 0 0 2 3 0 0 20 40 60 80 100 120 140 160

Sub stasiun 1 Sub stasiun 2 Sub Stasiun 1 Sub stasiun 2 Sub stasiun 1 Sub stasiun 2

Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3

Ke lim p ah an (% )

menghuni ekosistem karang dan padang lamun serta menyukai substrat yang agak keras terutama substrat di padang lamun yang merupakan campuran dari pasir dan pecahan karang. Spesies Diadema antillarum terdapat pada stasiun 3 (Timur) sub stasiun 2 sebesar 45.83% pada kedalaman 3 m. Spesies Echinothrix

calamaris terdapat pada stasiun 3 sub stasiun (Timur) 1 sebessar 7.89% pada

kedalaman 2,5 m, hal tersebut dikarenakan pada saat pengambilan data dilapangan, kondisi bulu babi yang ditemukan pada hampir semua stasiun dalam bentuk mengelompok. Hal ini sesuai pernyataan Sadam et al (2019) bahwa Diadema hidup mengelompok untuk dapat saling melindungi terhadap ancaman predator. Sedangkan nilai kelimpahan spesies bulu babi yang terendah yakni spesies Diadema setosum terdapat pada stasiun 3 (Timur) sub stasiun 2 sebesar 54,16% pada kedalaman 3 m dikarenakan kondisi daerah pada kedalaman 3m sudah tubir sehingga kelimpahan bulu babi ini semakin sedikit, pada spesies

Diadema antillarum terdapat pada stasiun 1 (Selatan) sub stasiun 2 sebesar 13,11%

pada kedalaman 1,5 m, pada spesies Echinothrix calamaris terdapat pada stasiun 1 sub stasiun 1,2 , stasiun 2 (Utara) sub stasiun 2, dan pada stasiun 3 (Timur) sub stasiun 3 sebessar 0%, dikarenakan spesies ini hidup pada daerah tubir dan rataan terumbu karang untuk mengindari predator, dan sering ditemukan hidup soliter sehingga penyebarannya sedikit pada daerah dangkal. Hasil kelimpahan ini lebih rendah dibandingkan dengan hasil penelitian menurut Thamrin et al (2011) spesies yang paling banyak ditemukan pada penelitian ini adalah Diadema setosum sebanyak 828 individu. Hal ini disebabkan oleh lingkungan perairan dan kondisi habitatnya cocok memiliki substrat berupa pasir dan terumbu karang yang

merupakan habitat yang disukai oleh spesies ini. Diadema setosum umunya ditemui bersembunyi di bawah atau celah-celah terumbu karang dan daerah rocky shore atau daerah lamun. Kemudian juga menyatakan D. setosum menempati padang lamun dan dapat hidup berkelompok. Dan spesies Echinothrix

calamaris sebanyak 40 individu yang ditemukan. Hal ini dikarenakan stasiun 1, 2

dan 4 berada pada daerah terumbu karang yang dekat dengan daerah tubir dan bulu babi jenis Echinothrix calamaris hidupnya bersembunyi di bawah karang, untuk menghindari predator sehingga di saat penelitian jumlah spesies ini sedikit tercuplik di dalam plot penelitian.

Hasil pengamatan menunjukkan spesies Diadema setosum paling dominan dikarenakan jenis tersebut merupakan salah satu dari jenis bulu babi (Echinoidea) yang hidup di ekosistem terumbu karang dan lamun. Bulu babi marga Diadema mempunyai tempat hidup dan sebaran menurutkan pola sebaran terumbu karang. Selain itu bulu babi ini juga tersebar di pantai berbatu dan di padang lamun. Di daerah ekosistem terumbu karang, bulu babi marga Diadema bisa menempati rataan pasir, daerah pertumbuhan algae dan daerah tubir karang. Di zona rataan pasir dan daerah pertumbuhan algae, bulu babi ini hidup mengelompok dalam kelompok besar (Mustaqim, et al., 2013). Menurut Thamrin

et al (2011) bulu babi lebih menyukai perairan yang jernih dan airnya relatif

tenang. Pada lokasi Kerja Praktek, Diadema setosum dan Diadema antillarum banyak ditemukan pada di terumbu karang antara lain ditemukan pada zona pasir, zona lamun sampai daerah tubir. Sama halnya dengan penelitian Zakaria (2013) dimana pada lokasi penelitian Diadema setosum dan Diadema antillarum banyak

ditemukan pada berbagai zona di terumbu karang antara lain ditemukan pada zona pasir, zona pertumbuhan alga, zona lamun sampai daerah tubir dimana zona penyebarannya lebih banyak dibandingkan dengan bulu babi jenis yang lain.

Diadema setosum berukuran kecil banyak ditemukan pada daerah karang mati.

Gambar 9. Rata-rata kelimpahan relatif bulu babi pada masing-masing stasiun

Berdasarkan hasil rata kelimpahan bulu babi (Gambar 9), bahwa rata-rata nilai bulu babi pada stasiun 1 sub stasiun 1 sampai stasiun 2 sub stasiun 2 yakni 33,33%, pada stasiun 3 sub stasiun 1 memiliki rata-rata yakni 33,32%, dan pada stasiun 3 stasiun 2 meimiliki rata-rata sebesar 33,33%. Dapat disimpulkan bahwa rata-rata pada masing-masing stasiun hampir semuanya memiliki rata-rata yang sama dan termasuk dalam kategori sangat berlimpah. dikarenakan lokasi Pulau Menjangan Kecil, Karimunjawa sangat cocok untuk keberlangsungan kehidupan bulu babi dari tempat mencari makan hingga tempat untuk proses pembesaran dilihat dari kondisi fisika-kimia perairan yang sangat mandukung.

33.33 33.33 33.32 33.314 33.316 33.318 33.32 33.322 33.324 33.326 33.328 33.33 33.332

Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3

kE LIM PAH AN (% )

Menurut Thamrin et al (2011), bulu babi lebih menyukai perairan yang jernih dan airnya relatif tenang. Pada lokasi Kerja Praktek, Diadema setosum banyak ditemukan pada berbagai zona di terumbu karang antara lain ditemukan pada zona pasir, sampai daerah tubir. Sama halnya dengan penelitian Zakaria (2013) dimana pada lokasi penelitian Diadema setosum banyak ditemukan pada berbagai zona di terumbu karang antara lain ditemukan pada zona pasir, zona pertumbuhan alga, zona lamun sampai daerah tubir dimana zona penyebarannya lebih banyak dibandingkan dengan bulu babi jenis yang lain. Menurut Nurul (2018), Bulu babi banyak ditemukan di daerah padang lamun dan terumbu karang. Mereka ditemukan di daerah yang berpasir atau pasir berlumpur biasa juga didapatkan di atas pecahan karang. Mereka menyukai perairan yang jernih dan tenang.. Bulu babi hidup di ekosistem terumbu karang (zona pertumbuhan alga) dan lamun. Bulu babi biasanya hidup berkelompok tergantung dari jenis habitatnya, di sepanjang perairan pantai hewan ini memiliki variasi spesies yang cukup besar dan melimpah.

Rendahnya kelimpahan Echinothrix calamaris dikarena ketidak sesuaian tempat hidupnya, Echinothrix calamaris biasanya hidup pada daerah tubir dan lamun. Hal ini sesuai dengan pendapat Mustaqim, et al., (2013) dalam Juliawan et

al (2017), bahwa bulu babi jenis Echinothrix calamaris banyak ditemukan pada

daerah tubir. Faktor lain yang mempengaruhi kelimpahanya adalah predator. Predator adalah salah satu faktor yang paling mempengaruhi distribusi dan kelimpahan bulu babi. Echinothrix calamaris hidupnya pada daerah terumbu karang yang dekat dengan daerah tubir dan bersembunyi di bawah karang yang

bertujuan untuk menghindari predator. Menurut Juliawan et al (2017), pertumbuhan bulu babi cukup tinggi pada daerah karang, hal ini disebabkan karena adanya dukungan berbagai faktor makanan antara lain banyaknya mikroorganisme yang menempel pada karang yang merupakan makanan bulu babi.

Keberadaan bulu babi Diadema setosum pada ekosistem terumbu karang memberikan pengaruh yang signifikan terhadap keseimbangan ekologi (Thamrin

et al. 2011). Menurut Suryanti dan Ruswahyuni, (2014) menyatakan bahwa bulu

babi banyak ditemukan pada ekosistem terumbu karang terutama jenis Diadema

setosum, karena kelimpahan dari popolasi spesies tersebut penting bagi terumbu

karang sebagai penyeimbang. Sifat bulu babi yang dapat dikatakan herbivori atau perumput, dikarenakan pola makan pada bulu babi yang umumnya memakan alga yang terdapat pada terumbu karang. Kegiatan memakan alga tersebut menyebabkan adanya penurunan dari jumlah makroalga yang terdapat di ekosistem terumbu karang dan menyeimbangkan kembali ruang tempat terumbukarang tersebut dapat hidup. Dimana sebelumnya diketahui bahwa peningkatan jumlah makroalga menimbulkan perebutan ruang untuk tumbuh bagi hewan karang (Suryanti dan Ruswahyuni, 2014).

Parameter fisika dan Kimia berperan penting dalam distribusi bulu babi (sea urchin). Berdasarkan hasil kerja praktek di Pulau Menjangan Kecil, Karimunjawa, parameter fisika dan kimia air (Tabel 3) yang diukur masih berada pada kondisi yang dapat ditoleransi oleh bulu babi.

Tabel 3. Pengukuran Parameter Fisika-Kimia yang diukur pada setiap stasiun

Kecerahan yang didapat di stasiun 1, stasiun 2 dan stasiun 3 adalah sampai dasar. Hal ini berarti bahwa perairan jernih atau tingkat kekeruhan relatif rendah, sehingga cukup baik untuk keberadaan bulu babi. Pernyataan ini diperkuat oleh Rizqi, et al (2014) yang menyatakan bahwa pada perairan yang dalam dan jernih, proses fotosintesis dan penetrasi cahaya hanya dapat sampai kedalaman sekitar 200 meter. Air tidak terlampau keruh dan tidak pula terlampau jernih baik untuk kehidupan biota perairan.

Kedalaman yang didapat di lokasi penelitian yaitu pada stasiun 1 sub stasiun 1 berkisar antara 1,5 – 2 m dan sub stasiun 2 berkisar antara 2,5 – 3 m. Pada stasiun 2 sub stasiun 1 kedalaman berkisar antara 1,5 – 2 dan titik 2 1,5 – 2 m. Sedangkan pada stasiun 3 sub stasiun 1 kedalaman berkisar antara 2,5 – 3 m dan sub stasiun 2 berkisar 3 – 3,5 m. Pada Stasiun 3 sub stasiun 1 dan 2 kelimpahan bulu babi semakin sedikit dikarenakan kedalaman pada stasiun 3 sub stasiun 1 yakni 2,5 m dan kedalaman sub stasiun 2 yakni 3 m, semakin dalam suatu perairan maka kelimpahan bulu babi akan semakin sedikit . Menurut Hyman (1955) dalam Ratna (2002) bahwa bulu babi termasuk hewan benthonic, ditemui di semua laut

Parameter Satuan

Stasiun 1

(Selatan) Stasiun 2 (Utara) Stasiun 3 (Timur) Sub stasiun 1 Sub stasiun 2 Sub stasiun 1 Sub stasiun 2 Sub stasiun 1 Sub stasiun 2 Temperatur oC 31 31 31 31 31 31 pH - 7 7 7 7 7 7 Salinitas 0/00 29 29 29 29 30 29 Kedalaman m 1,5 2 1,5 1,5 2,5 3 Kecerahan m 100% 100% 100% 100% 100% 100%

dan lautan dengan batas kedalaman antara 0-8000 m. Menurut Rizqi, et al (2014), kedalaman memiliki peran terhadap masuknya penetrasi cahaya ke badan air, apabila semakin dalam suatu perairan, maka semakin cepat pula penurunan intensitas cahaya yang masuk ke badan air. Kedalaman suatu perairan akan mempengaruhi kelimpahan organisme yang termasuk di dalamnya yaitu bulu babi. Secara umum bulu babi dapat ditemukan di daerah intertidal yang relatif dangkal dan jumlahnya akan semakin menurun apabila kedalaman perairan tersebut semakin meningkat. Hal ini dikarenakan pada perairan yang dalam, bahan-bahan organik yang terkandung didalamnya sedikit, maka produktivitas perairan diatasnya juga berkurang, sehingga kepadatan organismenya, termasuk bulu babi juga rendah.

Salinitas yang didapat pada lokasi penelitian di stasiun 1 , sub stasiun 1 dan sub stasiun 2 yaitu sebesar 29‰, Pada stasiun 2, sub stasiun 1 dan sub stasiun 2 yaitu sebesar 29‰. Sedangkan pada stasiun 3, salinitas yang didapat di sub stasiun 1 adalah sebesar 30 ‰ dan sub stasiun 2 sebesar 29‰. Menurut Tony et al (2014), kisaran salinitas yang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangan hewan karang berkisar antara 32 – 35 ‰ dan mempunyai batas teloransi. Batas perubahan salinitas yang berkisar antara 27 - 40 ‰ serta adanya aliran air tawar yang akan menyebabkan kematian. Oleh karena itu kisaran salinitas yang terdapat pada ke 3 stasiun di penelitian ini masih tergolong normal. Kisaran salinitas di suatu perairan berkisar antara 23 – 26 ‰, maka akan berakibat pada perubahan pigmen warna, duri-duri akan rontok, dan bulu babi akan menjadi tidak aktif,

tidak mau makan, dan pada akhirnya akan mengalami kematian setelah beberapa hari.

Temperatur pada stasiun 1,2 dan 3 temperatur berkisar antara 30 oC, nilai temperatur pada masing-masing stasiun masih dalam kisaran normal dan tidak menjadi ancaman bagi bulu babi. Menurut Tony et al (2014) Kisaran suhu perairan yang optimal bagi kehidupan Urchin antara 28-40oC. Temperatur ekosistem air dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti intensitas cahaya matahari, pertukaran panas antara air dengan udara, ketinggian geografis dan juga oleh faktor kanopi dari pepohonan yang tumbuh di tepi perairan. Jenis Echinometra akan mengalami kematian pada suhu 35°C dalam waktu 12 jam, Sedangkan di alam hewan ini dilaporkan mengalami kematian massal pada suhu 36°C sampai 40°C.

Nilai pH yang didapat pada lokasi penelitian di stasiun 1, stasiun 2 dan stasiun 3 yaitu sebesar 7, sehingga pada stasiun 1 hingga stasiun 3 kelimpahan bulu babi sangat melimpah dikarenakan pH yang diperoleh mampu mendukung kehidupan bulu babi di Pulau Menjangan Kecil, Karimunjawa. Menurut Mustaqim et al (2013) menyatakan bahwa pH 7,0-8,5 merupakan taraf toleransi hidup yang baik bagi bulu babi. Menurut Tony et al (2014), dimana nilai pH yang baik adalah 7–8, Maka dapat dikatakan untuk persyaratan derajat keasaman (pH) maka lokasi tersebut memenuhi syarat.

Dokumen terkait