H. Metode Penelitian
1. Jenis dan Metode Penelitian
32
Fokus kajian di atas masih bersifat linear dan belum melakukan tinjauan secara kritis dan komprehensif. Tinjauan ulang secara kritis dan komprehensif akan memecahkan problem secara meyeluruh dari sudut pandang yang benar-benar historis.71 Dari sinilah disertasi berangkat untuk memotret secara komprehensif kritik Ḥadith Maḥmūd Abū Rayyah mulai dari rancang bangun redefinisi Sunnah, delegetimasi Sunnah, reposisi Sunnah, rekonstruksi metodologis kodifikasi Ḥadith dalam perspektif sosiologi pengetahuan Peter L. Berger.
H. Metode Penelitian
1. Jenis dan Metode Penelitian
Jenis Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research), menggunakan sumber-sumber kepustakaan dalam membahas masalah yang telah dirumuskan, baik berupa buku, jurnal dan tulisan akademis lain yang berkaitan tentang kritik ḥadīth Maḥmūd Abū Rayyah. Noeng Muhajir mengklasifikasi studi pustaka atau studi teks dalam empat katagori, yaitu: 1) studi pustaka sebagai telaah teoretik suatu disiplin ilmu yang perlu dilanjutkan dengan uji empirik untuk memperoleh bukti kebenaran empirik, 2) studi teks yang mempelajari teori linguistik, studi kebahasaan, dan studi perkembangan bahasa, 3) studi pustaka yang seluruh substansinya memerlukan olahan filosofis atau teoritis yang terkait pada value, dan 4) studi karya sastra. Disertasi ini
71 Mohammed Arkoun, Rethingking Islam: Common Questions, Ancommon Answers (Boulder San Fransisco: Westview Press, 1994), 46.
33
masuk klasifikasi penelitian studi teks yang seluruh substansinya memerlukan olahan filosofis atau teoretis yang terkait dengan nilai-nilai (value).72
Metode yang digunakan adalah metode historis. Metode historis merupakan metode penelitian yang bertujuan untuk merekonstruksi masa lampau secara sistematis dan objektif dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memverifikasi, dan mensistesiskan bukti untuk menetapkan fakta-fakta dan mencapai kesimpulan yang tegak.73 Metode historis digunakan untuk merekonstruksi jejak kritik Ḥadith secara akurat dan objektif. Metode historis berusaha mengungkap berbagai fakta secara objektif kritik Ḥadith Maḥmūd Abū Rayyah dan pandangan ulama terhadapnya. Keduanya diposisikan pada posisi yang sama secara kritis dengan pemaparan fakta-fakta historis, keterpengaruhan, baik dari sisi ideologi atau nalar pengarang.74 Dengan metode historis dapat diketahui kelebihan dan kekurangan, kebenaran dan kejanggalannya melalui metode kritik sumber (source critical method) dengan cara: 1) mengumpulkan sebanyak mungkin varian teks yang dikutip Maḥmūd Abū Rayyah dan para ulama, 2) berbagai varian teks dibangun dan direkonstruksi untuk mendeteksi kritik Ḥadith Maḥmūd Abū Rayyah dan pandangan ulama. Dengan langkah ini hipotesis pertama tentang kritik Ḥadith
72 Noeng Muhajir, Metodologi Penelitian Kualitatif (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1998), 296-297.
73 Stephen Issac dan William B. Michael, Hanbook in Research and Evaluation (California: Robert R. Knapp, Publisher, 1974), 14-17.
74 W. Montgomery Watt, The Influence of Islam on Medieval Europe (Edinburgh: Edinburgh University Press, 1994), 1, Muḥammad A. R. Khan, A Brief Survey of Muslim Contribution to Science
and Culture (Delhi: Idarah-i Adabiyat-i Delli, 1993), 63-64, Ziauddin Aḥmad, Influence of Islam on World Civilization (Delhi: Adam Publishers & Distributors, 1996), 18-19, I. H. Qureshi,
Historiography dalam M. M. Syarif (ed.), A History of Muslim Philosophy, Vol. II (Pakistan: Royal Book Company, 1983), 1197.
34
Maḥmūd Abū Rayyah dan pandangan ulama terhadapnya dapat ditemukan, 3) teks teks dari berbagai varian dibandingkan satu sama lain untuk mencari hubungan dan perbedaan di antara mereka, dan 4) temuan dari analisis varian teks dibandingkan sehingga dapat diambil kesimpulan.75
Selain itu, objek penelitian ini mengkaji kritik Ḥadith Maḥmūd Abū Rayyah dan pandangan ulama terhadapnya yang merujuk pada teks-teks kitab Ḥadith. Intertekstualitas merupakan salah satu metode pendekatan penelitian sastra yang menganggap teks memiliki makna, bukan hanya sebatas sebagai sebuah teks yang berstruktur mandiri, melainkan teks itu berkaitan dengan teks-teks lain. Teks harus dibaca dan dikaji dengan latar belakang pengetahuan mengenai teks-teks yang mendahuluinya. Ketika berbicara tentang teks, maka: 1) tidak akan lepas dari sudut sejarah dalam pandangan epistimologis untuk menempatkan teks dalam konteksnya dalam menyingkap makna aslinya, 2) sudut konteks sosiologis budaya saat itu merupakan faktor pendorong untuk melakukan interpretasi terhadap teks, sehingga terbedakan makna asli historis dan signifikansi yang diambil dari makna tersebut. Dari sudut pandang historis-linguistik dan sosial budaya yang dipakai berinteraksi dengan teks tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya, meskipun secara metodologis pemisahan antara keduanya merupakan suatu keharusan.76 Metode historis-komparatif penulis gunakan dengan cara menelusuri jejak kemunculan kritik Ḥadith Maḥmūd Abū Rayyah dan kritik para ulama sekaligus membandingkan
75 A. Teeuw, Sastra dan ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra (Jakarta: Pustaka Jaya, 1984), 145-146.
35
antara keduanya. Jejak historis dan komparasi antara kedua kritik Ḥadith direkap berdasarkan persamaan dan perbedaannya. Dengan demikian, dapat diteliti dan dianalisa keabsahan masing-masing kritik Ḥadith.
Para sarjana Ḥadith pada dasarnya terbuka terhadap semua kritik yang ditujukan terhadap karya-karya Ḥadith sepanjang kritik tidak didasarkan pada asumsi yang keliru atau tidak ditemukannya rekaman tertulis menjadi petunjuk atas tiadanya Ḥadith. Hal ini sejalan dengan prinsip tidak adanya pengetahuan tentang sesuatu bukanlah bukti tiadanya sesuatu (‘adam al-wujdān lā yadull
‘alā ‘adam al-wujūd).77 Studi ini berupaya mempertemukan antara bukti-bukti dokumenter dengan informasi-informasi historis yang berasal dari nara sumber sejauh mereka dapat dipercaya dan didukung oleh mata-rantai transmisi yang berkesinambungan.
Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sosiologi pengetahuan. Digunakan untuk menganalisis perkembangan suatu pemikiran dengan melihat adanya pengaruh lingkungannya secara kronologis-historis sehingga dapat ditemukan makna dan maksud dari sebuah pemikiran.78 Pendekatan sosiologi pengetahuan mempunyai perhatian besar dalam memahamai hubungan timbal balik antara pemikiran dengan konteks sosial yang melingkupinya, termasuk kepentingan dominasi yang disokongnya. Tugas sosiologi pengetahuan adalah menganalisis bentuk-bentuk sosial pengetahuan, proses inividu memperoleh
77 Seyyed Hossein Nasr, Traditional Islam in the Modern World (Kula Lumpur: Foundation for Traditional Studies, 1987), 15.
78 Kaelan, Metode Penelitian Kualitatif Bidang Filsafat (Yogyakarta: Paradigma, 2005), Cet. Ke-1, 58; Jujun S. Suriasumantri, "Penelitian Ilmiah Kefilsafatan dan Keagamaan: Mencari Paradigma Kebersamaan" dalam Tradisi Baru Penelitian agama Islam Tinjauan antar Disiplin (Bandung: Nuansa, 1998), Cet. Ke-1, 45.
36
pengetahuan, dan membahas pengorganisasian institusional dan distribusi sosial pengetahuan. Sosiologi pengetahuan membantu memahami hubungan antara pengetahuan dengan struktur dan kesadaran sosial masyarakat.79
Sebagai pendekatan, sosiologi pengetahuan mencurigai secara kritis hubungan antara pengetahuan dengan kepentingan. Sosiologi pengetahuan mengkaji motif, kepentingan, dan konteks yang mendorong munculnya suatu pengetahuan atau suatu ide. Tujuan apa yang akan dicapai dengan pengetahuan atau ide juga menjadi fokus perhatian. Dalam perspektif sosiologi pengetahuan, suatu pengetahuan atau ide dapat dianalisis terkait dengan dominasi apa yang ingin disokongnya. Apabila suatu ide baru bermunculan, maka ide baru dapat dicurigai mengusung suatu keinginan untuk menegakkan dominasi yang baru. Sosiologi pengetahuan juga memperhatikan paradigma suatu pengetahuan. Paradigma tertentu dicurigai mengusung kepentingan tertentu atau menyokong dominasi tertentu.