• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KEDUDUKAN PERPRES No. 4 Tahun 2015 DALAM

A. Jenis dan Peranan Pejabat Pembuat Komitmen

Pengadaan Barang/Jasa

Dalam pengadaan barang/jasa pemerintah ada beberapa yang memegang peran penting dalam penentuan proses pengerjaan yang dilelang, adapun organisasi penyediaan barang/jasa melalui penyedia barang/jasa ataupun pengguna, yaitu16

1. Pengguna Anggaran (PA)/ Kuasa Pengguna Anggaran (KPA).

:

Pengguna anggaran adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran Kementerian Negara/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah atau Pejabat yang disamakan pada Institusi Pengguna APBN/APBD, sedangkan Kuasa Pengguna Anggaran adalah adalah pejabat yang ditetapkan oleh PA untuk menggunakan APBN atau ditetapkan oleh Kepala Daerah untuk menggunakan APBD.

16 Diakses dari 41

42 Secara umum kewenangan pengguna anggaran antara lain adalah: a. Menyusun dokumen pelaksanaan anggaran;

b. Melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran bagi negara; c. Menetapkan pejabat yang melakukan pengujian atas perintah

pembayaran;

d. Menggunakan barang milik negara;

e. Menetapkan petugas yang melaksanakan pengelolaan barang milik negara;

f. Mengawasi pelaksanaan anggaran.

Dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa, Kuasa Pengguna Anggaran memiliki tugas dan wewenang untuk:

a. Menetapkan Rencana Umum Pengadaan

b. Mengumumkan secara luas Rencana Umum Pengadaan paling kurang di website Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah/Institusi lainnya (K/L/D/I)

c. Menetapkan PPK

d. Menetapkan Pejabat Pengadaan

e. Menetapkan Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan; f. Menetapkan pemenang lelang

g. Mengawasi pelaksanaan anggaran

h. Menyampaikan laporan keuangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

i. Menyelesaikan perselisihan antara PPK dengan ULP/Pejabat Pengadaan, dalam hal terjadi perbedaan pendapat; dan

j. Mengawasi penyimpanan dan pemeliharaan seluruh Dokumen Pengadaan Barang/Jasa.

2. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2015, Pejabat Pembuat Komitmen adalah pejabat yang diangkat oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran sebagai pemilik pekerjaan, yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pengadaan barang/jasa.

43 Pejabat Pembuat Komitmen harus memiliki persyaratan sebagai berikut:

a. Memiliki integritas;

b. Memiliki disiplin yang tinggi;

c. Memiliki tanggung jawab dan kualifikasi teknis serta manajerial untuk melaksanakan tugas, yang dimaksud dengan kualifikasi manajerial tersebut adalah:

1) Berpendidikan paling kurang Sarjana Strata Satu (S1) dengan bidang keahlian yang sedapat mungkin sesuai dengan tuntutan pekerjaan, atau berdasarkan draft Rancangan Perubahan Perpres 54 Tahun 2010 tanggal 28 Maret 2012 dapat diganti dengan paling kurang golongan IIIa atau disetarakan dengan golongan IIIa apabila jumlah pegawai negeri yang memenuhi persyaratan terbatas;

2) Memiliki pengalaman paling kurang 2(dua) tahun terlibat secara aktif dalam kegiatan dengan Pengadaan Barang/Jasa. 3) Memiliki kemampuan kerja secara berkelompok dalam

melaksanakan setiap tugas/pekerjaannya.

4) Mampu mengambil keputusan, bertindak tegas dan memiliki keteladanan dalam sikap perilaku serta tidak pernah terlibat KKN;

5) Menandatangani Pakta Integritas.

6) Tidak menjabat sebagai Pejabat Penanda Tangan Surat Perintah Membayar (PPSPM) dan bendahara, kecuali PPK yang dijabat oleh PA/KPA pada Pemerintah Daerah.

7) Memiliki Sertifikat Keahlian Pengadaan Barang/Jasa.

Berdasarkan draft Rancangan Perubahan Perpres Nomor 4 Tahun 2015, apabila tidak ada personil yang memenuhi persyaratan untuk ditunjuk sebagai PPK, maka persyaratan bahwa PPK harus memiliki sertifikat keahlian pengadaan barang/jasa dikecualikan untuk:

1. PPK yang dijabat oleh pejabat eselon I dan II di K/L/D/I; dan/atau 2. PA/KPA yang merangkap sebagai PPK.

Tugas pokok PPK dalam pengadaan barang/jasa antara lain meliputi: 1. Menetapkan rencana pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa; 2. Menerbitkan Surat Penunjukan Penyedia Barang/Jasa;

44 3. menyetujui bukti pembelian atau menandatangani Kuitansi/Kontrak/Surat Perintah Kerja yang selanjutnya disebut SPK;

4. Melaksanakan Kontrak dengan Penyedia Barang/Jasa; 5. Mengendalikan pelaksanaan Kontrak;

6. Melaporkan pelaksanaan/penyelesaian Pengadaan Barang/Jasa kepada PA/KPA;

7. Menyerahkan hasil pekerjaan Pengadaan Barang/Jasa kepada PA/KPA dengan Berita Acara Penyerahan;

8. Melaporkan kemajuan pekerjaan termasuk penyerapan anggaran dan hambatan pelaksanaan pekerjaan kepada PA/KPA setiap triwulan; dan

9. Menyimpan dan menjaga keutuhan seluruh dokumen pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa.

PPK dilarang mengadakan ikatan perjanjian atau menandatangani Kontrak dengan Penyedia Barang/Jasa apabila belum tersedia anggaran atau tidak cukup tersedia anggaran yang dapat mengakibatkan dilampauinya batas anggaran yang tersedia untuk kegiatan yang dibiayai dari APBN/APBD.

Adapun kewajiban yang harus dipenuhi oleh Pejabat Pembuat Komitmen di bidang pengadaan barang/jasa antara lain adalah:

1. Segera setelah pengangkatannya wajib menyusun organisasi, uraian tugas dan fungsi secara jelas, kebijaksanaan pengadaan, rencana kerja yang menggambarkan kegiatan yang harus dilaksanakan, bentuk hubungan kerja, sasaran yang harus dicapai, tata laksana dan prosedur kerja secara tertulis untuk disampaikan kepada atasan langsung dan unit pengawasan internal.

2. Melakukan pencatatan dan pelaporan serta hasil kerja yang dilaksanakannya.

3. Menyimpan dan menatausahakan seluruh dokumen pelaksanaan pengadaan barang/jasa termasuk berita acara proses pelelangan/seleksi. 4. Memberikan tanggapan dan informasi mengenai pengadaan barang/jasa

45 Di samping itu Pejabat Pembuat Komitmen juga memiliki tugas dan tanggung jawab dalam pelaksanaan pembayaran atas pengadaan barang/jasa yaitu:

1. Membuat dan menandatangani dokumen kontrak/perikatan; 2. Membuat dan menandatangani dokumen pembayaran;

3. Membuat Surat Permintaan Pembayaran (SPP) untuk diajukan ke Pejabat Penguji dan Penerbit SPM;

4. Menatausahakan seluruh dokumen pendukung sebagai bukti pembayaran yang akan dilampirkan pada Surat Permintaan Pembayaran;

5. Menandatangani Kuitansi, Berita Acara Pemeriksaan Pekerjaan/Kemajuan Pekerjaan, dan Berita Acara Serah Terima Pekerjaan dan Berita Acara Pembayaran;

6. Menghitung dan menetapkan nilai pembayaran dan segala kewajiban penyedia barang/jasa atas pembayaran yang diterimanya berdasarkan penyelesaian pekerjaan;

7. Membebankan pengeluaran pada mata anggaran yang tercantum dalam dokumen anggaran.

3. Unit Layanan Pengadaan (ULP)/Pejabat Pengadaan, dan

Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan.

Unit Layanan Pengadaan (ULP) adalah unit yang dibentuk oleh Menteri/Pimpinan Lembaga/Kepala Daerah/Pimpinan Institusi yang dapat memberikan pelayanan dan pembinaan dibidang Pengadaaan Barang/Jasa.

Paket Pengadaan Jasa Konsultansi yang bernilai paling tinggi Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dapat dilaksanakan oleh ULP atau 1 (satu) orang Pejabat Pengadaan. Sedangkan Pengadaan Langsung dilaksanakan oleh 1 (satu) orang Pejabat Pengadaan.

Pemilihan Penyedia Barang/Jasa dalam ULP dilakukan oleh Kelompok Kerja di mana anggota Kelompok Kerja tersebut berjumlah gasal dengan beranggotakan paling kurang 3 (tiga) orang dan dapat ditambah sesuai dengan

46 kompleksitas pekerjaan serta dapat dibantu oleh tim atau tenaga ahli pemberi penjelasan teknis (aanwijzer) .

Anggota ULP/Pejabat Pengadaan berasal dari pegawai negeri baik instansi sendiri maupun instansi lainnya, kecuali Lembaga/Institusi Pengguna APBN/APBD yang memiliki keterbatasan pegawai yang berstatus Pegawai Negeri, Kepala ULP/anggota Pokja ULP dapat berasal dari pegawai tetap Lembaga/Institusi Pengguna APBN/APBD yang bukan Pegawai Negeri, dan juga untuk Kelompok Masyarakat Pelaksana Swakelola, Kepala ULP/anggota Kelompok Kerja ULP dapat berasal dari bukan Pegawai Negeri. Apabila Pengadaaan Barang/Jasa bersifat khusus sehingga memerlukan keahlian khusus, maka ULP/Pajabat Pengadaan dapat menggunakan tenaga ahli yang berasal dari pegawai negeri atau swasta.

Pegawai/Pejabat yang ditunjuk sebagai Kepala ULP/anggota kelompok kerja ULP/Pejabat Pengadaan tersebut harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1. Memiliki integritas, disiplin dan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas;

2. Memahami pekerjaan yang akan diadakan;

3. Memahami jenis pekerjaan tertentu yang menjadi tugas ULP/Pejabat Pengadaan yang bersangkutan;

4. Memahami isi dokumen, metode dan prosedur Pengadaan;

5. Tidak mempunyai hubungan keluarga dengan Pejabat yang menetapkannya sebagai anggota ULP/Pejabat Pengadaan;

6. Memiliki Sertifikat Keahlian Pengadaan Barang/Jasa sesuai dengan kompetensi yang dipersyaratkan; dan

7. Menandatangani Pakta Integritas.

Adapun tugas pokok dan kewenangan Kepala ULP meliputi: 1. memimpin dan mengkoordinasikan seluruh kegiatan ULP; 2. menyusun program kerja dan anggaran ULP;

47 3. mengawasi seluruh kegiatan pengadaan barang/jasa di ULP dan

melaporkan apabila ada penyimpangan dan/atau indikasi penyimpangan; 4. membuat laporan pertanggungjawaban atas pelaksanaan kegiatan

pengadaan barang/jasa kepada Menteri/Pimpinan Lembaga/Kepala Daerah/Pimpinan Institusi;

5. melaksanakan pengembangan dan pembinaan Sumber Daya Manusia ULP;

6. menugaskan / menempatkan / memindahkan anggota Pokja sesuai dengan beban kerja masing-masing Pokja ULP;

7. mengusulkan pemberhentian anggota Pokja yang ditugaskan di ULP kepada PA/KPA/Kepala Daerah; dan

8. menetapkan Staf Pendukung ULP sesuai dengan kebutuhan.

Adapun tugas pokok dan wewenang kelompok kerja ULP/Pejabat Pengadaan meliputi:

1. Menyusun rencana pemilihan Penyedia Barang/Jasa. 2. Menetapkan Dokumen Pengadaan.

3. Menetapkan besaran nominal Jaminan Penawaran.

4. Mengumumkan pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa di website K/L/D/I masing-masing dan papan pengumuman resmi untuk masyarakat serta menyampaikan ke LPSE untuk diumumkan dalam Portal Pengadaan Nasional.

5. Menilai kualifikasi Penyedia Barang/Jasa melalui prakualifikasi atau pascakualifikasi.

6. Melakukan evaluasi administrasi, teknis dan harga terhadap penawaran yang masuk.

7. Membuat laporan mengenai proses dan hasil Pengadaan kepada Menteri/Pimpinan Lembaga/Kepala Daerah/ Pimpinan Institusi.

8. Memberikan pertanggungjawaban atas pelaksanaan kegiatan Pengadaan Barang/Jasa kepada PA/KPA.

Selain tugas, wewenang dan tanggung jawab sebagaimana tersebut di atas, kelompok kerja ULP juga mempunyai tugas, wewenang dan tanggung jawab sebagai berikut:

1. Menjawab sanggahan;

2. Menetapkan Penyedia Barang/Jasa untuk:

a. Pelelangan atau Penunjukan Langsung untuk paket Pengadaan Barang/Pekerjaan Konstruksi/ Jasa Lainnya yang bernilai paling tinggi Rp100.000.000.000,00 (dalam draft perubahan Perpres 54 Tahun 2010 tanggal 28 Maret 2012 nilainya paling tinggi Rp200.000.000.000); atau

48 b. Seleksi atau Penunjukan Langsung untuk paket Pengadaan Jasa

Konsultansi yang bernilai paling tinggi Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah);

3. Menyerahkan salinan Dokumen Pemilihan Penyedia Barang/Jasa kepada PPK;

4. Menyimpan dokumen asli pemilihan Penyedia Barang/Jasa.

Selain tugas, wewenang dan tanggung jawab sebagaimana tersebut di atas, Pejabat Pengadaan juga mempunyai tugas, wewenang dan tanggung jawab sebagai berikut:

1. Menetapkan Penyedia Barang/Jasa untuk:

a. Penunjukan Langsung atau Pengadaan Langsung untuk paket Pengadaan Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya yang bernilai paling tinggi Rp100.000.000,00 (dalam draft perubahan Perpres 54 Tahun 2010 tanggal 28 Maret 2012 nilainya paling tinggi Rp200.000.000), dan/atau

b. Penunjukan Langsung atau Pengadaan Langsung untuk paket Pengadaan Jasa Konsultansi yang bernilai paling tinggi Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).

2. Menyerahkan dokumen asli pemilihan Penyedia Barang/Jasa kepada PA/KPA.

Yang dilarang duduk sebagai Kepala ULP dan anggota Kelompok Kerja ULP adalah:

1. PPK,

2. Pejabat Penanda Tangan Surat Perintah Membayar (PPSPM), 3. Bendahara,

4. APIP, terkecuali menjadi Pejabat Pengadaan/anggota ULP untuk Pengadaan Barang/Jasa yang dibutuhkan instansinya.

49 4.Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan

Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan adalah pejabat atau pegawai yang ditetapkan oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran yang bertugas memeriksa dan menerima hasil pekerjaan.

Anggota Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan berasal dari pegawai negeri baik dari instansi sendiri maupun instansi lainnya, kecuali apabila Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan pada Instansi lain Pengguna APBN/APBD atau Kelompok Masyarakat Pelaksana Swakelola dapat berasal dari bukan pegawai negeri.

Pegawai/Pejabat yang ditunjuk sebagai Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1. Memiliki integritas, disiplin dan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas;

2. Memahami isi Kontrak; 3. Memiliki kualifikasi teknis;

4. Menandatangani Pakta Integritas; dan

5. Tidak menjabat sebagai Pejabat Penanda Tangan Surat Perintah Membayar (PPSPM) dan bendahara.

Adapun tugas pokok dan wewenang Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan meliputi :

1. Melakukan pemeriksaan hasil pekerjaan Pengadaan Barang/Jasa sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam Kontrak;

2. Menerima hasil Pengadaan Barang/Jasa setelah melalui pemeriksaan/pengujian; dan

3. Membuat dan menandatangani Berita Acara Serah Terima Hasil Pekerjaan.

50 Apabila dalam hal pemeriksaan Barang/Jasa memerlukan keahlian teknis khusus, dapat dibentuk tim/tenaga ahli yang ditetapkan oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran untuk membantu pelaksanaan tugas Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan. Sedangkan terhadap pengadaan Jasa Konsultansi, pemeriksaan pekerjaan dilakukan setelah berkoordinasi dengan Pengguna Jasa Konsultansi yang bersangkutan.

B. Klasifikasi Dalam Penentuan Perusahaan Pengadaan Barang/Jasa

Nomor 4 Tahun 2015 1. Evaluasi Klasifikasi

Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2015 menyebutkan “Klasifikasi merupakan proses penilaian kompetisi dan kemampuan usaha serta pemenuhan persyaratan tertentu lainnya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata klasifikasi berarti “penyusunan bersistem dl kelompok atau golongan menurut kaidah atau standar yg ditetapkan”17

a. Dokumen yang berkaitan dengan legalitas perusahaan seperti: akte pendirian badan usaha, perolehan pekerjaan dalam empat tahun Dari pengertian klasifikasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa tujuan evaluasi klasifikasi adalah untuk mengetahui dan memastikan calon pesertan pemilihan penyedia barang/jasa memiliki keahlian atau memiliki kemampuan untuk melakssanakan pekerjaan atau menyediakan barang yang dibutuhkan oleh pemerintah, karena itu dokumen yang dinilai dalam evaluasi kualifikasi klasifikasi adalah :

51 terakhir, tanda terima laporan pajak, secara hukum mempunyai kapasitas menandatangani kontak, tidak masuk dalam daftar hitam b. Dokumen yang berkaitan dengan kesesuaian bidang usaha seperti

Surat Izin Usaha Perdangan (SIUP) atau Surat Izin Usaha Jasa Konstruksi (SIUJK), bukti pengalaman perusahaan mengerjakan pekerjaan yang sesuai dengan pekerjaan yang akan dilaksanakan oleh pemerintah, kemampuan menyeiakan tenaga ahli, kemampuan menyediakan peralatan yang dibutuhkan, memiliki kemampuan dasar (KD) untuk konstruksi atau jasa lainnya.

Sistem prakualifikasi, penilaian kualifikasi calon penyedia barang/jasa merupakan tahap awal yang harusnya diselesaikan terlebih dahulu sebelum memasuki tahapan persaingan yang sebenarnya, yaitu tahapan dimana peserta bersain melalui harga dan kualitas teknis. Untuk tahap prakualifikasi ULP/Pokja PengadaanmBarang/Jasa harus menyusun dokumen prakualifikasi yang dibuat terpisah dari dokumen lelang.

Karena itu dalam proses pelelangan dengan sistem prakualifikasi ULP/Pokja/Panitia pengadaan harus menyusu dua macam dokumen prakualifikasi dan dokumen lelang (dokumen pemilihan penyedia barang/jasa). Dokumen prakualifikasi diberikan kepada semua peserta prakualifikasi, sedangkan dokumen lelang diberikan kepada penyedia barang/jasa yang dinyatakan lulus prakualifikasi. Dokumen prakualifikasi terdiri dari:

a. Formulir Daftar Isian Penilaian Kualifikasi b. Petunjuk pengisian dokuen penilaian kualifikasi c. Data kualifikasi

d. Ketentuan tentang evaluasi kualifikasi e. Pakta Integritas

52

2.

Persyaratan Kualifikasi

Dalam menyusun dan menentukan persyaratan kualifikasi ULP/Pokja Pengadaan Barang/Jasa dihadapkan pada pertimbangan bahwa di satu sisi ULP/Pokja pengadaan barang/jasa harus menerapkan prinsip keterbukaan yang memberikan peluang seluas-luasnya kepada penyedia barang/jasa yang berminat untuk ikut berpartisipasi dalam proses pelelangan, karena itu persyaratan kualifikasi harus dibuat seminimal mungkin. Namun disisi lain proses pelelangan itu sendiri harus dapat memilih penyedia barang/jasa yang berkualitas, karena ULP harus mencantumkan persyaratan kualifikasi yang ketat dengan berpegang teguh prinsip adil dan tidak diskriminatif.

Secara umum persyaratan kualifikasi penyedia barang/jasa telah diatur dalam pasal 19 ayat 1 Perpres nomor 4 tahun 2015. Meskipun persyaratan kualifikasi tersebut dengan rinci dalam pasal 19 ayat 1 namun untuk menjamin bahwa penyedia yang akan menjadi pemenang lelang mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan tepat waktu ULP/Pokja/Panitia lelang dapat mencantumkan persyaratan lain asalkan persyaratan tersebut benar-benar diperlukan tidak bersifat diskriminatif atau ditujukan untuk mengutungkan salah satu penyedia barang/jasa. Contohnya, dalam lelang pekerjaan renovasi gedung kantor ULP/Pokja/Panitia pengadaan dapat mencantumkan persyaratan bahwa penyedia harus memiliki peralatanminimal dum truk 1 (satu) unit; mesin pengaduk semen (molen) 1 (unit);gerobak dorong (lori) 3

53 (tiga) unit; mesin pemotong keramik 1 (satu); scaffolding 100 (seratus) set. Dalam proses lelang konsumsi diklat ULP/Pokja/Panitia Pengadaan dapat mencantumkan persyaratan bahwa penyedia harus memiliki sertifikat halal (bahan makanan yang disajikam semuanya halal) yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia, dan Surat Keterangan Higieness dari Dinas kesehatan.

Adapun persyaratan kualifikasi yang telah ditetapkan dalam pasal 19 ayat 1 Perpres nomor 4 tahun 2015 adalah sebagai berikut:

a. Memenuhi ketentuan perundang-undangan untuk menjalankan kegiatan/usaha.

b. Memiliki keahlian,pengalaman, kemampuan teknis dan manajerial untuk menyediakan Barang/Jasa.

c. Memperoleh paling kurang 1 (satu) pekerjaan sebagai Penyedia Barang/Jasa dalam kurun waktu 4 (empat) tahun terakhir baik dilingkungan pemerintah maupun swasta, termasuk pengalaman subkontrak.

d. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada huruf c,dikecualikan bagi Penyedia Barang/Jasa yang baru berdiri kurang dari 3 (tiga) tahun. e. Memiliki sumber daya manusia, modal, peralatan dan fasilitas lain

yang diperlukan dalam Pengadaan Barang/Jasa.

f. Dalam hal Penyedia Barang/Jasa akan melakukan kemitraan, Penyedia Barang/Jasa harus mempunyai perjanjian kerja sama operasi/kemitraan yang memuat persentase kemitraan dan perusahaan yang mewakili kemitraan tersebut.

g. Memiliki kemampuan pada bidang pekerjaan yang sesuai untuk Usaha Mikro, Usaha Kecil dan koperasi kecil serta kemampuan pada subbidang pekerjaan yang sesuai untuk usaha non-kecil. h. Memiliki Kemampuan Dasar (KD) untuk usaha non-kecil,kecuali

untuk Pengadaan Barang dan Jasa Konsultansi.

i. Khusus untuk Pengadaan Pekerjaan Konstruksi dan Jasa Lainnya, harus memperhitungkan Sisa Kemampuan Paket (SKP) sebagai berikut:SKP = KP–PKP = nilai Kemampuan Paket, dengan ketentuan:

1) Untuk Usaha Kecil, nilai Kemampuan Paket (KP) ditentukan sebanyak 5 (lima) Paket pekerjaan; dan

2) Untuk usaha non kecil nilai Kemampuan Paket (KP) ditentukan sebanyak 6 (enam) atau 1,2 (satu koma dua) N.

54 N = jumlah paket pekerjaan terbanyak yang dapat ditangani pada saat bersamaan selama kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir

.

j. Tidak dalam pengawasan pengadilan, tidak pailit, kegiatan usahanya tidak sedang dihentikan dan/atau direksi yang bertindak untuk dan atas nama perusahaan tidak sedang dalam menjalani sanksi pidana, yang dibuktikan dengan surat pernyataan yang ditandatangani Penyedia Barang/Jasa.

k. Sebagai wajib pajak sudah memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan telah memenuhi kewajiban perpajakan tahun terakhir (SPT Tahunan) serta memiliki laporan bulanan PPh Pasal 21, PPh Pasal 23 (bila ada transaksi),PPh Pasal 25/Pasal 29 dan PPN (bagi Pengusaha Kena Pajak) paling kurang 3 (tiga) bulan terakhir dalam tahun berjalan.

l. Secara hukum mempunyai kapasitas untuk mengikatkandiri pada kontrak.

m. Tidak masuk dalam Daftar Hitam.

n. Memiliki alamat tetap dan jelas serta dapat dijangkau dengan jasa pengiriman.

o. Menandatangani Pakta Integritas.

C. Perpres Nomor 4 Tahun 2015 Sebagai Pedoman Tender Pengadaan

Barang/Jasa oleh Instansi Pemerintah.

Secara umum pengertiaan Pengadaan barang/jasa pemerintah adalah kegiatan pengadaan barang/jasa yang dibiayai dengan APBN/APBD, baik yang dilaksanakan secara swakelola maupun secara tender oleh penyedia barang/jasa.

Sedangkan menurut Perpres Nomor 4 Tahun 2015 dalam pasal 1 ayat (1) Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang selanjutnya disebut dengan Pengadaan Barang/Jasa adalah kegiatan untuk memperoleh Barang/Jasa oleh Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah/Institusi yang prosesnya dimulai dari perencanaan kebutuhan sampai diselesaikannya seluruh kegiatan untuk memperoleh Barang/Jasa.

55 Sistem swakelola menurut Pasal 1 angka 20 merupakan pengadaan barang/jasa dimana pekerjaannya direncanakan, dikerjakan dan atau diawasi sendiri oleh Kementrian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah/Institusi lainnya sebagai penanggung jawab anggaran, instansi pemerintah lain dan/atau kelompok masyarakat. Didalam swakelola ada beberapa organisasi dalam pengadaan barang/jasa, yang pertama adalah Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran dimana dimaksud merupakan pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran Kementrian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah atau Pejabat yang disamakan pada Institusi lain pengguna APBN/APBD. Kemudian ada yang disebut dengan Pejabat Pembuat Komitmen, yang artinya pejabat yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pengadaan barang/jasa. Dan yang terakhir adalah Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan, yang ditetapkan oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran yang bertugas memeriksa dan menerima hasil pekerjaan.

Tender (Pelelangan) adalah merupakan suatu proses pengajuan penawaran yang dilakukan oleh kontraktor yang akan dilaksanakan dilapangan sesuai dengan dokumen Tender.18

18Tim redaksi forum sahabat,Buku pintar pengadaan barang dan jasa pemerintah, Jakarta, 2011,hlm 12.

Sedangkan menurut Pasal 1 ayat (39) menjelaskan tender dalam bentuk elektronik, yaitu E-Tendering adalah tata cara pemilihan PenyediaBarang/Jasa yang dilakukan secara terbuka dan dapat diikuti oleh semua Penyedia Barang/Jasa yang terdaftar pada sistem pengadaan secara elektronik dengan cara menyampaikan 1 (satu) kali penawaran dalam waktu yang telah ditentukan.

56 Dalam Perpres Nomor 4 tahun 2015 hal- hal yang menjadi pedoman dalam tender pengadaan barang/jasa di jelaskan dalam pasal 109 dan 109A. Dalam pasal 109 di jelaskan sebagai berikut:

1.Ruang lingkup E-Tendering meliputi prosespengumuman Pengadaan Barang/Jasa sampai dengan pengumuman pemenang.

2. Para pihak yang terlibat dalam E-Tendering sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah PPK, ULP/Pejabat Pengadaan, dan Penyedia Barang/Jasa. 3.E-Tendering dilaksanakan dengan menggunakan sistem pengadaan secara

elektronik yang diselenggarakan oleh LPSE.

4.Aplikasi E-Tendering sekurang-kurangnya memenuhi unsur perlindungan Hak atas Kekayaan Intelektual dan kerahasian dalam pertukaran dokumen, serta tersedianya sistem keamanan dan penyimpanan dokumen elektronik yang menjamin dokumen elektronik tersebut hanya dapat dibaca pada waktu yang telah ditentukan.

5. Sistem E-Tendering yang diselenggarakan oleh LPSE wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. mengacu pada standar yang meliputi interoperabilitas dan integrasi dengan sistem Pengadaan Barang/Jasa secara elektronik b. mengacu pada standar proses pengadaan secara elektronik c. tidak terikat pada lisensi tertentu (free license).

6. ULP/Pejabat Pengadaan dapat menggunakan sistemPengadaan Barang/Jasa secara elektronik yang diselenggarakan oleh LPSE terdekat. 7. Dalam pelaksanaan E-Tendering dilakukan dengan ketentuan sebagai

berikut:

a. tidak diperlukan Jaminan Penawaran; b. tidak diperlukan sanggahan kualifikasi;

c. apabila penawaran yang masuk kurang dari 3 (tiga) peserta, pemilihan penyedia dilanjutkan dengan dilakukan negosiasi teknis dan harga/biaya;

d. tidak diperlukan sanggahan banding;

e. untuk pemilihan Penyedia Jasa Konsultansi:

1) daftar pendek berjumlah 3 (tiga) sampai 5 (lima) penyedia Jasa Konsultansi;

2) seleksi sederhana dilakukan dengan metode pascakualifikasi. 8. Ketentuan lebih lanjut mengenai E-Tendering ditetapkan oleh LKPP. Pasal 109A menjelaskan mengenai :

1. Percepatan pelaksanaan E-Tendering dilakukandengan memanfaatkan Informasi Kinerja PenyediaBarang/Jasa

2. Pelaksanaan E-Tendering sebagaimana dimaksud padaayat (1) dilakukan dengan hanya memasukanpenawaran harga untuk Pengadaan Barang/Jasa

Dokumen terkait