BAB IV REKRUTMEN HAKIM AGUNG SEBAGAI PEJABAT NEGARA
A. Syarat-Syarat Hakim Agung sebagai Pejabat Negara
1. Syarat Hakim Agung dari Jalur Hakim Karier
Hakim karier merupakan hakim yang memang berasal dari hakim dan pengusulan untuk menjadi calon hakim agung diusulkan oleh MA atau peradilan dibawahnya dalam hal ini bisa di delegasikan ke Pengadilan Tinggi. Berdasarkan ketentuan Pasal 7 huruf a Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-undang nomor 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung, telah ditetapkan syarat-syarat dari hakim karier yaitu :
1. warga negara Indonesia;
210 Pat Agonia, Arti Kata syarat, Makna, Pengertian dan Definisi - Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online, https://artikbbi.com/syarat/, diakses pada tanggal 12 Maret 2020, Pukul 09.52 Wib
2. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
3. berijazah magister di bidang hukum dengan dasar sarjana hukum atau sarjana lain yang mempunyai keahlian di bidang hukum;
4. berusia sekurang-kurangnya 45 (empat puluh lima) tahun;
5. mampu secara rohani dan jasmani untuk menjalankan tugas dan kewajiban;
6. berpengalaman paling sedikit 20 (dua puluh) tahun menjadi hakim, termasuk paling sedikit 3 (tiga) tahun menjadi hakim tinggi; dan
7. tidak pernah dijatuhi sanksi pemberhentian sementara akibat melakukan pelanggaran kode etik dan/atau pedoman perilaku hakim.
Sedangkan syarat-syarat administrasi yang ditetapkan oleh Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial adalah :211
a. daftar riwayat hidup, termasuk riwayat pekerjaan;
b. ijazah asli atau yang telah dilegalisasi;
c. surat keterangan sehat jasmani dan rohani dari dokter rumah sakit pemerintah;
d. daftar harta kekayaan serta sumber penghasilan calon; dan e. Nomor Pokok Wajib Pajak.
Lebih lanjut lagi pengaturan mengenai syarat-syarat hakim agung diatur lebih lengkap melalui Peraturan KY Nomor 2 Tahun 2016 Tentang Seleksi Calon Hakim Agung yaitu :212
a. warga negara Indonesia;
b. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
c. berijazah magister dibidang hukum dengan dasar sarjana hukum atau sarjana lain yang mempunyai keahlian di bidang hukum;
d. berusia sekurang-kurangnya 45 (empat puluh lima) tahun;
e. mampu secara rohani dan jasmani untuk menjalankan tugas dan kewajiban;
f. berpengalaman paling sedikit 20 (dua puluh) tahun menjadi hakim, termasuk paling singkat 3 (tiga) tahun menjadi hakim tinggi; dan213
211 Lihat Ketentuan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial Pasal 16 Ayat (2)
212 Lihat Ketentuan Peraturan Komisi Yudisial Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2016 Tentang Seleksi Calon Hakim Agung Pasal 6 Ayat (1) dan Ketentuan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 Tentang Mahkamah Agung Pasal 7 Huruf a
213 Wawancara Dengan Hendro Puspito, Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Medan, data diolah Pada tanggal 16 Maret 2020, Pada Pukul 10.02 Wib
g. tidak pernah dijatuhi sanksi pemberhentian sementara akibat melakukan pelanggaran kode etik dan/atau pedoman perilaku hakim.
Selain syarat-syarat yang telah ditetapkan diatas, usulan calon hakim agung harus melampirkan kelengkapan administrasi, yaitu sebagai berikut :214
a. surat usulan calon hakim agung;
b. daftar riwayat hidup, yang memuat riwayat pekerjaan dan/atau pengalaman organisasi;
c. fotokopi ijazah beserta transkrip nilai yang telah dilegalisasi oleh pejabat yang berwenang;
d. surat keterangan sehat rohani dan jasmani dari dokter pemerintah;
e. daftar harta kekayaan serta sumber penghasilan calon (dibuktikan dengan tanda bukti penyerahan LHKPN Form A dan Form B dari Komisi Pemberantasan Korupsi);
f. fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);
g. fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang masih berlaku;
h. pas foto terbaru sebanyak 3 (tiga) lembar ukuran 4x6 (berwarna);
i. surat keterangan berpengalaman dalam bidang hukum paling sedikit 20 (dua puluh) tahun dari instansi yang bersangkutan;
j. surat keterangan dari pengadilan negeri setempat bahwa calon tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih, bagi calon hakim agung yang berasal dari nonkarier;
k. surat keterangan tidak pernah dijatuhi pemberhentian sementara bagi calon hakim agung yang berasal dari hakim karier, dan sanksi disiplin dari instansi/lembaga asal calon yang berasal dari nonkarier;
l. surat pernyataan tidak akan merangkap sebagai pejabat negara, advokat, notaris, pejabat pembuat akta tanah, pengusaha, karyawan badan usaha milik negara/daerah atau badan usaha milik swasta, pimpinan/pengurus partai politik atau organisasi massa yang memiliki afiliasi dengan partai politik, atau jabatan lainnya yang dapat menimbulkan benturan kepentingan, jika diterima menjadi hakim agung;
m. surat pernyataan kesediaan mengikuti proses seleksi calon hakim agung;
n. surat pernyataan pilihan kamar peradilan (Perdata, Pidana, Tata Usaha Negara, Agama dan Militer); dan
o. surat pernyataan tidak pernah mengikuti seleksi calon hakim agung dua kali secara berturut-turut.
214 Lihat Ketentuan Peraturan Komisi Yudisial Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2016 Tentang Seleksi Calon Hakim Agung Pasal 6 Ayat (3)
Mengenai syarat-syarat yang ditetapkan di Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-undang nomor 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung maupun di Peraturan Komisi Yudisial Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2016 tentang Seleksi Calon Hakim Agung itu sama saja, hanya saja untuk pengaturan lebih lanjutnya mengenai kelengkapan administrasi tidak diatur di Undang-Undang MA karena dalam hal ini lembaga yang melaksanakan langsung rekrutmen itu yaitu KY sehingga untuk administrasinya ditetapkan oleh KY. Syarat-syarat yang telah di tetapkan berdasarkan undang-undang tersebut harus dipenuhi, karena syarat tersebut merupakan syarat yang mutlak. Jika tidak terpenuhi nya salah satu syarat yang telah di tentukan tersebut, maka tidak dapat mencalonkan diri sebagai hakim agung.
Setelah adanya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 53/PUU-XIV/2016215 dan juga ada nya Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Nomor 270.G2018PTUN.JKT216 sebagai tindak lanjut atas Putusan MK tersebut, maka mengenai syarat hakim karir harus menjadi hakim tinggi selama 3 tahun tersebut tidak lagi berlaku. Sehingga, untuk persyaratan hakim yang berasal dari hakim karir yang terdapat pada Pasal 7 Huruf a Poin ke 6 menjadi “berpengalaman paling sedikit 20 (dua puluh) tahun menjadi hakim” karena untuk dapat mencalonkan diri sebagai hakim agung dari jalur karir tidak lagi harus menjadi hakim tinggi selama 3 tahun, namun bisa 0 tahun menjadi hakim tinggi.
215 Lihat Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 53/PUU-XIV/2016
216 Lihat Putusan Tata Usaha Negara Nomor 270.G2018PTUN.JKT
Mengenai syarat-syarat yang lainnya itu tidak ada perubahan dan tetap berpedoman pada Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-undang nomor 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung dan Peraturan Komisi Yudisial republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2016 tentang Seleksi Calon Hakim Agung.
2. Syarat Hakim Agung dari Jalur Non Karier
Hakim non karier yaitu hakim yang berasal dari non hakim seperti akademisi, advokat, jaksa, notaris yang di usulkan oleh pemerintah217 atau masyarakat.218 Hadirnya hakim agung non karier dalam dunia peradilan di Indonesia merupakan suatu reaksi atas menurunnya rasa kepercayaan masyarakat terhadap dunia peradilan terutama masa pemerintahan Presiden Soeharto pada rezim orde baru. Sehingga pada masa reformasi dilakukanlah amandemen UUD NRI Tahun 1945 yang kemudian menghasilkan perubahan di dunia peradilan dengan menambahkan MK sebagai lembaga kekuasaan kehakiman yang baru dan di ikut sertakan hakim dari jalur non karier sebagai hakim agung.219 Selain itu, dengan adanya hakim agung non karier
217 Lihat Penjelasan Peraturan Komisi Yudisial Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2016 tentang Seleksi Hakim Agung, Pemerintah yang dapat mengajukan usulan calon hakim agung adalah lembaga kepresidenan beserta instansinya baik instansi pusat maupun instansi daerah. Instansi Pusat yaitu kementerian, lembaga pemerintah non kementerian, kesekretariatan lembaga negara, dan kesekretariatan lembaga nonstruktural. Instansi Daerah yaitu perangkat daerah provinsi dan perangkat daerah kabupaten/kota yang meliputi sekretariat daerah, sekretariat dewan perwakilan rakyat daerah, dinas daerah, dan lembaga teknis daerah
218 Lihat Penjelasan Peraturan Komisi Yudisial Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2016 tentang Seleksi Hakim Agung, Masyarakat yang dapat mengajukan usulan calon hakim agung adalahadalah organisasi atau lembaga di luar Mahkamah Agung dan Pemerintah.
219 Muhammad Nasrun, Rekruitmen Hakim Agung Nonkarir Sebagai Implementasi Independensi Kekuasaan Kehakiman Di Indonesia, Kanun Jurnal Ilmu Hukum, No. 67, Th. Xvii (Desember, 2015), Hlm. 477-478
menjadi penyeimbang juga bagi hakim agung yang berasal dari jalur karier karena pengalaman hakim agung non karier yang memiliki keahlian khusus di bidang tertentu diharapkan mampu menegakkan hukum bagi setiap masyarakat pencari keadilan.
Keperluan akan hakim non karier sebaiknya dibatasi hanya jika memang dibutuhkan keahlian khusus, seperti kebutuhan hakim agung bidang perpajakan, hakim agung bidang lingkungan hidup. Adapun syarat-syarat yang ditetapkan oleh undang-undang mengenai hakim agung dari jalur non karier, yaitu sebagai berikut :220
1. memenuhi syarat sebagaimana dimaksud pada huruf a angka 1, angka 2, angka 4, dan angka 5;
2. berpengalaman dalam profesi hukum dan/atau akademisi hukum paling sedikit 20 (dua puluh) tahun;
3. berijazah doktor dan magister di bidang hukum dengan dasar sarjana hukum atau sarjana lain yang mempunyai keahlian di bidang hukum; dan 4. tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang
telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih.
Kemudian untuk syarat-syarat hakim non karier diatur lebih lanjut juga dalam peraturan KY :221
a. warga negara Indonesia;
b. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
c. berusia sekurang-kurangnya 45 (empat puluh lima) tahun;
d. mampu secara rohani dan jasmani untuk menjalankan tugas dan kewajiban;
e. berpengalaman dalam Profesi Hukum dan/atau akademisi hukum paling sedikit 20 (dua puluh) tahun;
f. berijazah doktor dan magister di bidang hukum dengan dasar sarjana hukum atau sarjana lain yang mempunyai keahlian di bidang hukum;
220 Lihat Ketentuan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-undang nomor 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung Pasal 7 huruf b
221 Lihat Ketentuan Peraturan Komisi Yudisial Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2016 Tentang Seleksi Calon Hakim Agung Pasal 6 Ayat Ayat (2)
g. tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih; dan
h. tidak pernah dijatuhi sanksi pelanggaran disiplin.
Syarat-syarat antara hakim karier dan non karier itu sama saja tetapi yang membedakan antara kedua nya itu hanyalah jenjang pendidikan yang mana hakim non karier itu jenjang pendidikannya lebih tinggi dari pada hakim karier. Kelulusan tahap seleksi administrasi ditentukan dengan meneliti persyaratan administratif calon hakim agung berdasarkan ketentuan tersebut.
Perkembangan terbaru mengenai rekrutmen hakim agung dari jalur non karier pasca adanya Putusan MK Nomor 53/PUU-XIV/2016, adanya kewajiban dari MA untuk hakim yang mendaftar dari non karier tidak diperbolehkan atau harus seizin MA terlebih dahulu. Jika MA memang membutuhkan hakim yang berasal dari jalur non karier maka hakim non karier tersebut dapat mendaftarkan diri. Kemudian mengenai syarat hakim non karier tersebut harus berijazah doktor dan magister hukum sudah tidak berlaku lagi sejak adanya putusan MK Nomor 53/PUU-XIV/2016.
B. Rekrutmen Hakim Agung sebagai Pejabat Negara yang dilaksanakan oleh Komisi Yudisial
1. Kedudukan Komisi Yudisial dalam Proses Rekrutmen Hakim Agung a. Urgensi pembentukan Komisi Yudisial di Indonesia
KY merupakan suatu lembaga negara yang dibentuk berdasarkan amandemen ketiga konstitusi yang diatur di dalam Bab IX UUD NRI Tahun 1945 Pasal 24B yang berfungsi sebagai lembaga pengawas dalam pelaksanaan kekuasaan kehakiman.
Perubahan ketiga UUD NRI Tahun 1945 tersebut memberikan perubahan dalam Pasal 24 berupa bertambahnya lembaga negara penyelenggara kekuasaan kehakiman yaitu bukan hanya MA,222 tetapi MK dan juga KY.
Dalam menjalankan kewenangannya sebagai lembaga yudikatif KY bersifat mandiri dan mempunyai wewenang dalam mengusulkan pengangkatan hakim agung sebagaimana diatur dalam Pasal 24B Ayat (1) UUD NRI Tahun 1945 yang berbunyi :
“Komisi Yudisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim” dan Pasal 13 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2011. Untuk melaksanakan kewenangan tersebut, KY memiliki tugas yaitu melakukan pendaftaran calon hakim agung, melakukan seleksi terhadap calon hakim agung, menetapkan calon hakim agung, dan mengajukan calon hakim agung yang telah ditetapkan kepada DPR. Sebagai lembaga negara yang mempunyai kewenangan dalam menyeleksi calon hakim agung, KY senantiasa melakukan evaluasi metode dan tata cara seleksi calon hakim agung untuk mendapatkan calon hakim agung yang memenuhi kriteria sebagaimana yang telah diamanatkan oleh UUD NRI Tahun 1945.223
222 Lihat Ketentuan UUD NRI Tahun 1945 Pasal 24A Ayat (1) yang berbunyi : “kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan”
223 Komisi Yudisial, Laporan Pelaksanaa Kegiatan Seleksi Calon Hakim Agung, (Jakarta : Sekretariat Jenderal, 2019), Hlm. 1
Ide pembentukan KY di Indonesia dalam rangka mengontrol kekuasaan kehakiman semakin menguat pasca era reformasi.224 Apalagi dengan diberlakukannya peradilan dengan sistem satu atap yang berpusat pada MA. Kondisi tersebut menyebabkan harus adanya Checks and Balances pada setiap lembaga Negara, sehingga muncul lah ide pembentukan lembaga baru tersebut.225 Ide tersebut baru dapat terealisasi pada perubahan ketiga UUD NRI Tahun 1945 yang membentuk KY, dimana pengaturannya diatur dalam Pasal 24B ayat (1) dan ayat (2) UUD NRI Tahun 1945.
Adanya penambahan lembaga baru tersebut mengakibatkan terjadinya perubahan struktur kekuasaan kehakiman. Walaupun KY bukan lembaga yustisial tetapi KY memiliki peran yang besar dalam kekuasaan kehakiman. Dilihat dari ketentuan pasal 24B Ayat (1) UUD NRI Tahun 1945 tersebut terlihat jelas bahwa KY dalam menjalankan tugas dan kewenangannya merupakan lembaga yang bersifat mandiri yang bebas dari campur tangan kekuasaan lembaga lain. Dari dua kewenangan KY tersebut pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan mutu independensi peradilan melalui sistem rekrutmen, akuntabilitas peradilan dalam menjaga dan menegakkan keluhuran martabat serta perilaku hakim.226
224 Suparto, Kedudukan dan Kewenangan Komisi Yudisial Republik Indonesia dan Perbandingan dengan Komisi Yudisial di Beberapa Negara Eropa, Jurnal Hukum dan Pembangunan, Vol. 47, No. 4, 2017, Hlm. 498
225 Sirajuddin dan Zulkarnain, Komisi Yudisial dan Eksaminasi Publik, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 2006), Hlm. 70-71
226 Titik Triwulan Tutik, Eksistensi, Kedudukan, dan Wewenang Komisi Yudisial : sebagai Lembaga Negara dalam Sistem Ketatanegaraan RI Pasca Amandemen UUD 1945, (Jakarta : Prestasi Pustaka Publisher, 2007), Hlm. 78-84
Jika dikaji lebih lanjut, bukan hanya Indonesia yang memiliki lembaga pengawas kehakiman seperti KY. Sampai pada tahun 2004, sudah ada 43 negara termasuk Indonesia yang telah mengatur KY ke dalam konstitusi nya,227 kemudian pada tahun 2008 KY sudah berkembang ke 121 negara di dunia walaupun berbeda-beda dari segi penamaan maupun kewenangannya tetapi pada dasarnya tujuannya tetap sama yaitu untuk meningkatkan independensi peradilan.228
Pembentukan KY di dunia dipengaruhi oleh latar belakang yang berbeda-beda tetapi ada beberapa faktor pembentukan yang sangat menonjol, diantaranya :229
1. Lemahnya monitoring terhadap kekuasaan kehakiman;
2. Tidak adanya lembaga penghubung antara Departemen kekuasaan kehakiman dengan kekuasaaan kehakiman;
3. Kekuasaan kehakiman dianggap tidak efektif apabila mengurusi masalah teknis non hukum;
4. Tidak adanya konsistensi putusan-putusan karena tidak adanya pengawasan yang ketat dari lembaga khusus;
5. Rekrutmen hakim terlalu erat hubungannya dengan politik karena lembaga yang mengusulkan dan merekrut hakim adalah lembaga politik yaitu Presiden atau Parlemen.
Di Indonesia pembentukan KY dalam sistem kekuasaan kehakiman merupakan suatu reaksi dari masyarakat terhadap lembaga peradilan yang ada karena kekecewaan terhadap independensi peradilan. Hal ini dapat di lihat pada masa orde lama dan orde baru pada saat itu Presiden Soekarno maupun Presiden Soeharto kerap
227 A. Ahsin Thohari, Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan, (Jakarta : ELSAM, 2004), Hlm. 106
228 Idul Rishan dan Abel Putra Hamonangan Pangaribuan, Model dan Kewenangan Komisi Yudisial : Komparasi dengan Bulgaria, Argentina, Afrika Selatan, dan Mongolia, Jurnal Hukum Ius Quia Iustum, Volume 24, No. 3, Juli 2017, Hlm. 352
229 Ni’matul Huda, Lembaga Negara dalam Masa Transisi Demokrasi, (Yogyakarta : UII Press, 2007), Hlm. 149
melakukan intervensi terhadap perkara-perkara tertentu dalam proses peradilan.230 Inilah yang menyebabkan kepercayaan publik menurun terhadap lembaga peradilan di Indonesia.
Selain itu, sebagai lembaga Negara yang lahir pada masa transisi demokrasi KY banyak menuai polemik ketika berhadapan dengan pelaku utama kekuasaan kehakiman yang pada akhirnya kedudukan dan kewenangan KY telah banyak mengalami pergeseran secara komperhensif,231 seperti pada putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 43/PUU-XIII/2015 dimana MK mengurangi kewenangan KY dalam melakukan seleksi bersama dengan MA terhadap hakim tingkat pertama.
b. Kedudukan dan Susunan Komisi Yudisial
KY merupakan lembaga negara yang bersifat mandiri dan dalam pelaksanaan wewenangnya bebas dari campur tangan atau pengaruh kekuasaan lainnya.232 Dalam menjalankan kewenangannya KY mempunyai 7 orang anggota yang merupakan pejabat negara dan berkedudukan di ibukota negara. Anggota KY terdiri dari mantan hakim, praktisi hukum, akademisi, dan anggota masyarakat. Struktur kepemimpinan KY Indonesia terdiri atas seorang Ketua dan seorang Wakil Ketua yang merangkap sebagai anggota.233 Dalam menentukan pimpinan KY dilakukan berdasarkan
230 Sebastian Pompe, Runtuhnya Institusi Mahkamah Agung, (Jakarta : Lembaga Kajian dan Advokasi untuk Independensi Peradilan, 2012), Hlm. 98, 165
231 Op. Cit, Idul Rishan dan Abel Putra Hamonangan Pangaribuan, Model dan Kewenangan………., Hlm. 354
232 Lihat Ketentuan Undang Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial Pasal 2
233 Lihat Pasal 4, Pasal 5 , dan Pasal 7 Bab II Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2011 tentang Komisi Yudisial
pemilihan dari anggota KY yang telah terpilih. Hal ini diharapkan untuk menjauhkan dari intervensi dari pihak mana pun, sehingga tidak akan mempengaruhi kinerja dari KY. Namun untuk kedudukan wakil ketua KY harus menunggu pendelegasian yang berasal dari ketua KY. Untuk masa jabatan kepemimpinan KY telah diatur melalui keputusan bersama anggota KY periode 2011-2016 yang hanya menjabat selama 2,5 tahun dan kemudian dapat dipilih kembali dalam satu kali masa jabatan.234
c. Kewenangan dan Fungsi Komisi Yudisial
Berbicara mengenai kewenangan KY telah diatur dalam UUD NRI Tahun 1945 Pada perubahan ketiga yang terdapat dalam Pasal 24B Ayat (1) yang berbunyi :
“Komisi Yudisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim”. Mengacu pada pasal tersebut, dapat dilihat bahwa KY memiliki 2 kewenangan, dimana kewenangan KY dalam hal pengangkatan hakim agung ini merupakan kewenangan yang bersifat preventif sedangkan kewenangan yang berkaitan dengan menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat serta perilaku hakim ini merupakan kewenangan yang bersifat represif.235
Kewenangan KY dalam seleksi hakim agung bertujuan untuk menjaring para hakim yang memiliki integritas, kepribadian yang tidak tercela, adil, professional, dan
234 Op. Cit, Komisi Yudisial, Studi…….., Hlm. 137
235 Komisi Yudisial, Studi Perbandingan Komisi Yudisial di Beberapa Negara, (Jakarta : Sekretariat Jenderal Komisi Yudisial Republik Indonesia, 2014), Hlm. 17
berpengalaman di bidang hukum.236 Kewenangan KY dalam rangka mengusulkan pengangkatan hakim agung sebagaimana diatur dalam Pasal 24B Ayat (1) UUD NRI Tahun 1945, kembali diatur dalam Pasal 13 huruf a Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang KY yang menyatakan bahwa : “Mengusulkan pengangkatan hakim agung dan hakim ad hoc di Mahkamah Agung kepada Dewan Perwakilan Rakyat untuk mendapat persetujuan”. Dengan demikian huruf a ini telah memaknai Pasal 24B ayat (1) dan Pasal 24A ayat (3) UUD NRI Tahun 1945 sebagai suatu rangkaian sistem pencalonan, pengusulan, dan pengangkatan hakim agung.237
Lebih lanjut lagi, penjabaran kewenangan KY mengenai Pasal 13 huruf a dapat dilihat pada Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang KY yang menyatakan bahwa : “Dalam melaksanakan wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf a, KY mempunyai tugas : a. melakukan pendaftaran calon hakim agung, b. melakukan seleksi terhadap calon hakim agung, c. menetapkan calon hakim agung, d. mengajukan calon hakim agung ke DPR”. Dari pasal tersebut semakin terlihat jelas kewenangan KY bahwa yang dimaksud dengan mengusulkan pengangkatan hakim agung adalah sebagaimana dimaksud dalam pasal 24A ayat (3) yaitu terkait dengan calon hakim agung. Seleksi calon hakim agung yang
236 Lihat Ketentuan UUD NRI Tahun 1945 Pasal 24A ayat (2)
237 Op. Cit, Komisi Yudisial, Studi…….., Hlm. 18
dilaksanakan oleh KY dilakukan paling lama 20 hari, kemudian ditetapkan oleh KY untuk diajukan sebagai calon hakim agung kepada DPR.238
Selain dari wewenang rekrutmen tersebut, KY memiliki wewenang lain yaitu melakukan pengawasan terhadap perilaku hakim. Dalam rangka menjalankan kewenangan tersebut, KY mempunyai tugas:
a. melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap perilaku Hakim;
b. menerima laporan dari masyarakat berkaitan dengan pelanggaran Kode Etik dan/atau Pedoman Perilaku Hakim;
c. melakukan verifikasi, klarifikasi, dan investigasi terhadap laporan dugaan pelanggaran Kode Etik dan/atau Pedoman Perilaku Hakim secara tertutup;
d. memutuskan benar tidaknya laporan dugaan pelanggaran Kode Etik dan/atau Pedoman Perilaku Hakim; dan
e. mengambil langkah hukum dan/atau langkah lain terhadap orang perseorangan, kelompok orang, atau badan hukum yang merendahkan kehormatan dan keluhuran martabat Hakim.239
Menurut Jimly Asshiddiqie, Pasal 13 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tersebut justru membatasi pengusulan calon hakim agung harus dilakukan oleh KY.
Dengan demikian, fungsi KY hanya sebagai supporting system dalam memilih calon hakim agung.240 Jika pengusulan itu dilakukan oleh KY kepada DPR, maka yang diusulkan tersebut adalah bakal calon hakim agung yang nantinya akan dipilih oleh
Dengan demikian, fungsi KY hanya sebagai supporting system dalam memilih calon hakim agung.240 Jika pengusulan itu dilakukan oleh KY kepada DPR, maka yang diusulkan tersebut adalah bakal calon hakim agung yang nantinya akan dipilih oleh