BAB III METODE PENELITIAN
B. Jenis dan Tipe Penelitian
Penelitian ini merupakan deskriptif kuantitatif kombinasi dengan kualitatif, namun dominan metode kuantitaf lalu didikung oleh metode kualitatif dalam mengelolah data-data yang telah diperoleh dari lokasi penelitian. 2. Tipe Penelitian
Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan melakukan survey yaitu penelitian dengan mengumpulkan dan menganalisis suatu peristiwa atau proses tertentu dengan memilih dan memperoleh data langsung dari 50 responden dan sampel yang dianggap representative terkait dengan Kinerja Inspektorat Dalam Penegakan Disiplin Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kota Makassar.
C. Populasi Dan Sampel Penelitian 1. Populasi
Sugiyono (2013) mendefinisikan populasi sebagai wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang memiliki nilai kualitas dan karakterstik tertentu yang telah ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian akan ditarik kesimpulan dari penelitian tersebut. Adapun populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan jumlah Pegawai Negeri Sipil yang telah mengabdi di kantor Inspektorat Kota Makassar sebanyak 50 orang.
2. Sampel
Sugiyono (2013) mengemukakan sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi kecil, maka peneliti dapat menggunakan semua populasi dijadikan sampel. Adapun teknik sampel yang digunakan yaitu Sampel Jenuh atau Total. Penggunaan sampel ini mempertimbangkan jumlah populasi sebanyak 50 orang.
Informan :
1. Kepala Inspektorat = 1 Orang
2. Kepala Sub. Bagian Umum dan Administrasi = 1 Orang
3. Auditor = 2 Orang
4. LSM Kopel = 1 Orang
Jumlah Informan = 5 Orang
D. Teknik Pengumpulan Data
Berdasarkan tujuan peneliti, maka peneliti ditujukan mengungkap berbagai data dengan melalui beberapa tahap atau proses antara lain sebagai berikut :
1. Observasi
Teknik ini dimaksudkan untuk melengkapi data primer dengan jalan mengadakan pengamatan langsung di Inspektorat Kota Makassar.
2. Kuesioner
Kuesioner dalam penelitian ini dimaksud sebagai alat untuk memperoleh data dengan memberikan atau penyebaran daftar pertanyaan/pernyataan yang mengacu pada variabel-variabel penelitian. Diajukan secara tertulis dan dibagikan kepada seluruh responden orang yang hasilnya akan dikemukakan dalam bilangan persentase dan table frekuensi distribusi. 3. Wawancara
Teknik ini dimaksudkan untuk melengkapi informasi yang belum sempurna yang didapat dari kuesioner, juga dapat dijadikan alat kontrol terhadap data-data yang diragukan atau samar-samar dengan jalan melakukan wawancara secara langsung. Adapun wawancara ini di tujukan pada Kepala Inspektorat, Kepala Sub. Bagian Umum dan Administrasi, Auditor dan anggota LSM Kopel yang dinilai berkompeten terhadap masalah yang diteliti.
4. Dokumentasi
Teknik dokumentasi dalam penelitian ini yaitu teknik mengumpulkan data melalui dokumen yang berkaitan dengan objek penelitian sebagai sumber data, baik dalam bentuk literatur ilmiah, jurnal, makalah,arsip, dokumen peraturan-peraturan yang terkait dengan kinerja Inspektorat dalam penegakan disiplin Pegawai Negeri Sipil di Kota Makassar.
E. Jenis dan Sumber Data a. Jenis Data
Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka yang kemudian diolah dan dibuatkan suatu interpretasi dalam upaya menjawab permasalah yang ada dan data kualitatif berupa hasil wawancara terhadap informan untuk melengkapi informasi yang belum sempurna yang didapat dari kuesioner. b. Sumber Data
a. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari objek yang diteliti. Pengambilan data primer ini melalui observasi, kuesioner dan wawancara langsung terhadap informan sesuai dengan objek yang diteliti.
b. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari hasil kajian pustaka melalui buku-buku, peraturan perundang-undangan, artikel dan karya-karya ilmiah lainnya yang didapatkan dari objek peneletian dan media elektronik yang digunakan sebagai penunjang penulisan ini.
F. Teknik Analisis Data
Adapun teknik analisis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah analisis kuantitatif. Data yang diperoleh dari lokasi penelitian pada dasarnya masih merupakan data mentah. Data tersebut merupakan hasil yang perlu diolah kembali dengan hasilnya diuraikan secara deskriptif dengan memberikan gambaran mengenai kinerja Inspektorat dalam penegakan disiplin Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kota Makassar. Dari data tersebut, dilakukan analisis deskriptif melalui perhitungan presentase dan sistem skor untuk mengetahui komposisi
jawaban responden. Adapun menurut Singararibun & Effendy dalam Hindar Jaya (2013) analisis presentase dan rumus perhitungan skor untuk setiap item pernyataan, yaitu : = 100 %. Keterangan : P = Presentase F = Frekuensi N = Jumlah Responden
Selain tabel frekuensi, analisa data juga dilakukan dengan menggunakan skala likert. Skala Likert dikembangkan oleh Rasis Likert (1932) yang paling sering digunkan untuk mengukur sikap, pendapat, presepsi responden terhadap suatu objek, Husain Usman & Purnomo Setiady (dalam Hindar Jaya 2013:43) yaitu : = ∑( . )N Keterangan : X = Rata-rata skor ∑ = Jumlah X = Skor F = frekuensi N = Jumlah Responden RATA PERSEN = × 100%
Adapun skala pengukuran yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah indeks dan skala, yang kedua-duanya merupakan adalah ukuran ordinal. Untuk menganalisis data yang masuk guna pembuktian hipotesis, peneliti menggunakan teknik statistik. Dalam penelitian ini dimaksudkan mencari atau mengetahui Kinerja Inspektorat dalam Penegakan Disiplin Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kota Makassar. Oleh karena data yang diperoleh masih merupakan data kualitatif, maka untuk mengolah data tersebut melalui perhitungan statistik harus dilakukan pentransformasian data tersebut menjadi data kuantitatif dengan menggunakan simbol berupa angka untuk mendapatkan skor dari setiap jawaban responden.
Pengklasifikasikan skor masing–masing responden apakah termasuk kategori sangat baik, baik, kurang baik, atau tidak baik harus ditentukan terlebih dahulu intervalnya sebagaimana rumus yang dikemukakan Hadi (dalam Sumarlin 2013:44) berikut:
Interval kategori = Jarak Pengukuran Jumlah Inteval
= Skor Tertinggi – Skor Terendah Kriteria
= 4 – 1 4 = 0,75
Oleh karenanya, kategori dari data yang dihasilkan akan diuraikan sebagai berikut:
Kategorisasi Tanggapan
Responden NilaiSkor Interval Rata-RataSkor Interval Rata-RataPersentase Sangat Baik 4 3, 26 - 4,00 81, 50% - 100, 00%
Baik 3 2, 51 - 3, 25 62, 75 % - 81, 25%
Kurang Baik 2 1, 76 - 2, 50 44, 00% - 62, 50% Tidak Baik 1 1, 00 - 1, 75 25, 00% - 43, 75%
Berdasarkan dengan pemberian skor yang dinilai dari nilai tertinggi skor 4 dan yang terendah skor 1 maka dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Klasifikasi Skor
Klasifikasi Skor
Sangat sering/ sangat penting/ sangat sesuai/ sangat jera/ sangat baik/
sangat tanggap/ sangat lengkap/ sangat cepat/ sangat perlu 4
Sering/ penting/ sesuai/ jera/ baik/ tanggap/ lengkap/ cepat/ perlu 3
Kurang sering/ kurang penting/ kurang sesuai/ kurang jera/ kurang
baik/ kurang tanggap/ kurang lengkap/ kurang cepat/ kurang perlu 2
Tidak sering/ tidak penting/ tidak sesuai/ tidak jera/ tidak baik/ tidak
37 A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
a. Gambaran Umum Inspektorat Kota Makassar
Inspektorat Kota Makassar adalah suatu badan instansi pemerintah yang berada di daerah Kota Makassar dan terletak di Perumahan Griya Fajar Mas Jalan Teduh Bersinar No. 07 Makassar. Inspektorat Kota Maksasar dibentuk berdasarkan peraturan daerah Nomor 07 Tahun 2005 tentang pembentukan susunan organisasi dan tata kerja Inspektorat Kota Makassar.
Kedudukan Inspektorat Kota Makassar yaitu Inspektorat Kota Makassar berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Walikota dan mempunyai tugas pokok melaksanakan kewenangan Walikota di bidang pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Fungsi Inspektorat Kota Makassar yaitu:
a. Penyusunan kebijaksanaan teknis pemeriksaan terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah.
b. Penyusunan kebijaksanaan teknis pengusutan terhadap kebenaran laporan/pengaduan penyimpangan wewenang pada unit kerja.
c. Pengendalian dan pelaksanaan teknis operasaional dalam rangka pemberdayaan pengawasan daerah.
Adapun visi dari Inspektorat Kota Makassar adalah “Terwujudnya penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan berwibawa melalui pengawasan yang efektif dan profesional”.
Untuk mewujudkan visi tersebut, maka ditetapkan misi sebagai berikut: 1. Melakukan pengawasan terhadap sistem, mekanisme, peraturan yang
ditetapkan;
2. Mendorong dan memberikan kontribusi bagi terselenggaranya pemerintahan yang baik melalui pengawasan internal/fungsional;
3. Mendorong terwujudnya aparat pemerintah yang profesional, akuntabel, efektif, dan efisien serta responsif;
4. Meningkatkan kualitas hasil pengawasan dalam pengambilan keputusan pimpinan untuk peningkatan kinerja aparat pemerintah;
5. Menumbuhkan sinergi antar aparat pengawasan. b. Sruktur Organisasi Inspektorat Kota Makassar
Susunan organisasi Inspektorat Kota Makassar berdasarkan Peraturan Walikota Makassar Nomor 15 tahun 2014 yaitu sebagai berikut:
1. Inspektur 2. Sekretaris
3. Bagian Tata Usaha, yang terdiri dari : a. Sub bagian Administrasi Umum; b. Sub bagian Program dan Perencanaan; c. Sub bagian Pelaporan dan Evaluasi. 4. Inspektur Pembantu Bidang Pembangunan
5. Inspektur Pembantu Bidang Pemerintahan 6. Inspektur Pembantu Bidang Kemasyarakatan
7. Inspektur Pembantu Bidang Keuangan dan Kekayaan 8. Kelompok Jabatan Fungsional Auditor, terdiri atas:
a. Kelompok Jabatan Fungsional Auditor Pengawasan Pemerintahan dan Pertanahan;
b. Kelompok Jabatan Fungsional Auditor Pengawasan Keuangan dan Pembangunan;
c. Kelompok Jabatan Fungsional Auditor Pengawasan Peralatan dan Kekayaan;
d. Kelompok Jabatan Fungsional Auditor Pengawasan Aparatur dan Kesatuan Bangsa.
c. Uraian Tugas dan Fungsi Jabatan Struktural pada Kantor Inspektorat Kota Makassar
Peraturan Walikota Makassar Nomor 15 tahun 2014 tentang uraian tugas dan fungsi jabatan struktural pada Inspektorat Kota Makassar berdasarkan ketentuan umum dalam pasal 1, peraturan ini yang dimaksudkan dengan:
1. Daerah adalah Kota Makassar; 2. Walikota adalah Walikota Makassar;
3. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Daerah Kota Makassar; 4. Sekretaris Daerah Kota adalah Sekretaris Daerah Kota Makassar; 5. Inspektorat adalah Inspektorat Kota Makassar;
6. Kepala Inspektorat selanjutnya disebut Inspektur adalah Inspektur Kota Makassar;
7. Sekretariat adalah Sekretariat Inspektorat Kota Makassar;
8. Inspektur pembantu adalah Inspektur pembantu pada inspektorat Kota Makassar;
9. Subbagian adalah subbagian pada Inspektorat Kota Makassar;
10. Auditor adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan pengawasan pada instansi pemerintah;
11. Kelompok Jabatan fungsional Auditor adalah Jabatan Fungsional Auditor pada Inspektorat.
Tugas dan fungsi jabatan pada kantor Inspektorat Kota Makassar berdasarkan Peraturan Walikota Makassar Nomor 15 Tahun 2014, yaitu:
1. Inspektur
Tugas dan fungsi inspektur pada Pasal 7 yaitu:
a. Inspektur mempunyai tugas pokok memimpin, melaksanakan, mengkoordinasikan dan menfasilitasi pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah.
b. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Inspektur menyelenggarakan fungsi yaitu:
(1) Penyusunan kebijaksanaan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah;
(2) Pengkoordinasian perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan kegiatan pengawasan;
(3) Pengkoordinasian tindak lanjut pengawasan;
(4) Penyusunan kebijakan teknis pengawasan penyelengaraan pemerintah daerah;
(5) Pelaksanaan fasilitasi kerjasama kelembagaan;
(6) Pembinaan urusan kepegawaian, penyusunan program, pengelolaan keuangan serta pelaksanaan administrasi umum dan urusan rumahtangga inspektorat;
(7) Pembinaan kelembagaan, jabatan fungsional auditor dan pengembangan sumber daya manusia.
2. Sekretaris
Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada pasal 2 ayat 1 peraturan ini, sekretaris menyelenggarakan fungsi:
a. Menyelenggarakan pengumpulan data, informasi, permasalahan, peraturan perundang-undangan dan kebijaksanaan teknis yang berkaitan dengan urusan administrasi umum, kepegawaian, keuangan, perencanaan, evaluasi dan pelaporan;
b. Menyelenggarakan perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, evaluasi, dan pelaporan kegiatan sekretariat;
c. Melaksanakan inventerasasi permasalahan dan upaya pemecahan masalah di bidang urusan administrasi umum, kepegawaian, keuangan, perencanaan, evaluasi dan pelaporan;
d. Mengkoordinasikan upaya pemecahan masalah Inspektorat;
e. Mengkoordinasikan penyiapan bahan koordinasi dan pengendalian rencana dan program kerja pengawasan;
f. Mengkoordinasikan perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, evaluasi dan pelaporan kegiatan Inspektorat;
g. Mengkoordinasikan penyelenggaraan evaluasi internal;
h. Mengkoordinasikan penyusunan standar operasional dan prosedur pelasaksanaan kegiatan pengawasan;
i. Menyelenggarakan penghimpunan, pengelolaan, penilaian, dan penyimpanan laporan hasil pengawasan;
j. Menyelenggarakan penyusunan bahan data alam rangka pembinaan teknis fungsional;
k. Menyelenggarakan penyusunan inventarisasi dan pengkoordinasian data dalam rangka penatausahaan proses penanganan pengaduan; l. Menyelenggarakan urusan umum, kepegawaian, keuangan,
perencanaan evaluasi dan pelaporan;
m. Menyelenggarakan analisis dan pengembangan kinerja sekretariat; n. Melaksanakan tugas kedinasan lainnya yang diberikan oleh atasan. 3. Sub bagian Administrasi dan Umum
Subbagian administrasi dan umum mempunyai tugas melakukan penyusunan rencana, melaksakan urusan ketata usahaan, mengelolah administrasi kepegawaian, mengelolah administrasi keuangan dan perlengkapan meliputi penyusunan aggaran, penggunaan anggaran,
pembukuan, pertanggung jawaban dan merumuskan rencana kebutuhan perlengkapan;
4. Sub bagian Perencanaan
Subbagian perencanaan mempunyai tugas mempersiapkan bahan penyusunan dan pengendalian rencana/program kerja pengawasan, meghimpun dan menyiapkan rancangan peraturan perundang-undangan, dekumentasi dan pengolahan data pengawasan.
5. Sub bagian Evaluasi dan Pelaporan
Subbagian evaluasi dan pelaporan mempunyai tugas menyiapkan bahan penyusunan, menghimpun, mengelolah, menilai dan menyimpan laporan hasil pengawasan aparat pengawasan fungsional dan melakukan administrasi pengaduan masyarakat serta menyusun laporan kegiatan pengawasan.
6. Inspektur Pembantu Wilayah I
Inspektur pembantu wilayah I mempunyai tugas melaksanakan koordinasi di bidang pengawasan sesuai dengan wilayah kerjanya.
7. Inspektur Pembantu Wilayah II
Inspektur pembantu wilayah II mempunyai tugas melaksanakan koordinasi di bidang pengawasan sesuai dengan wilayah kerjanya.
8. Inspektur Pembantu Wilayah III
Inspektur pembantu wilayah III mempunyai tugas melaksanakan koordinasi di bidang pengawasan sesuai dengan wilayah kerjanya.
9. Inspektur Pembantu Wilayah IV
Inspektur pembantu wilayah IV mempunyai tugas melaksanakan koordinasi di bidang pengawasan sesuai dengan wilayah kerjanya.
10. Kelompok Jabatan Fungsional
Tugas dan fungsi Kelompok Jabatan Fungsional pada pasal 9 yaitu : (1) Kelompok Jabatan Fungsional Auditor mempunyai tugas
melaksanakan kegiatan teknis sesuai bidang keahlian yang masing-masing dipimpin oleh seorang Ketua Kelompok dengan tugas pokok melaksanakan, memipmpin, mengarahkan, merencanakan dan mengkoordinasikan pelaksanaan audit/pemeriksaan serta melakukan pengkajian dan evaluasi hasil audit.
(2) Dalam melaksankan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat 1, Ketua Kelompok Jabatan Fungsional Auditor menyelenggarkan fungsi : a. Perumusan dan penyusunan daftar materi audit;
b. Perumusan dan penyusunan program kerja audit;
c. Perencanaan, pengkoordinasian, pelaksanaan, pengendalian, dan pelaporan kegiatan audit;
d. Pelaksanaan tugas lain yang diperintahkan inspektur. B. Karakteristik Responden
Penggambaran karakteristik 50 pegawai Inspektorat di Kota Makassar yang menjadi responden akan dikemukakan berdasarkan jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan, dan pangkat/golongan sebagai berikut:
1. Karakteristik Responden berdasarkan Jenis Kelamin
Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin ditunjukkan pada tabel di bawah ini:
Tabel 1: Karakteristik responden berdasarkan Jenis Kelamin No Jenis kelamin Frekuensi Persentase (%)
1 Laki-laki 27 54%
2 Perempuan 23 46%
Jumlah 50 100%
Sumber: Diolah dari data primer, Desember 2014
Data tabel 1 di atas menunjukkan bahwa dari 50 pegawai di Inspektorat yang merupakan responden dominannya adalah berjenis kelamin laki-laki yang berjumlah 27 orang pegawai dengan persentase 54% sedangkan perempuan sebanyak 23 orang pegawai dengan persentase 46%. Hal ini menunjukkan bahwa dalam penelitian responden laki-laki lebih besar dibandingkan dengan responden perempuan.
2. Karakteristik Responden berdasarkan Umur
Karakteristik responden berdasarkan umur ditunjukkan pada tabel di bawah ini:
Tabel 2: Karakteristik responden berdasarkan umur
No Klasifikasi Umur Frekuensi Persentase (%)
1 21 - 30 8 16%
2 31 - 40 18 36%
3 41 - 50 14 28%
4 51 - 60 10 20%
Jumlah 50 100%
Sumber: Diolah dari data primer, Desember 2014
Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa kebanyakan responden memiliki umur yang berkisar dari 31 - 40 tahun yang menunjukkan sebanyak 18 orang atau
sebesar 36% dari jumlah keseluruhan responden, responden yang memiliki umur yang berkisar dari 41 - 50 tahun memiliki posisi kedua terbanyak dari responden dimana menunjukkan sebanyak 14 orang atau 28% dari keseluruhan responden, dan selanjutnya responden yang memiliki umur yang berkisar 51 - 60 tahun menunjukkan sebanyak 10 orang atau sebesar 20% dari keseluruhan responden, sedangkan responden yang berumur 21 - 30 tahun memiliki posisi keempat dari responden dimana menunjukkan sebanyak 8 orang atau sebesar 16%.
3. Karakteristik Responden berdasarkan Tingkat Pendidikan
Karakteristik responden berdasarkan pendidikan ditunjukkan pada tabel di bawah ini:
Tabel 3: Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan No Pendidikan Terakhir Frekuensi Persentase (%)
1 S2 (Magister) 10 20%
2 S1 (Sarjana) 36 72%
3 SLTA 4 8%
Jumlah 50 100%
Sumber: Diolah dari data primer, Desember 2014
Tabel di atas menunjukkan bahwa persentase responden pegawai Inspektorat berdasarkan tingkat pendidikan, S1 lebih banyak dengan persentase 72%, kemudian S2 dengan presentase 20% dan SLTA sebanyak 4 orang pegawai dengan presentase 8%.
4. Karakteristik Responden berdasarkan Tingkat/Golongan Ruang
Karakteristik responden berdasarkan tingkat/golongan ruang ditunjukkan pada tabel di bawah ini:
Tabel 4: Karakteristik responden berdasarkan tingkat/golongan ruang No Klasifikasi
Tingkat/Golongan Frekuensi Persentase (%)
1 IV/a - IV/d 10 20%
2 III/a - III/d 36 72%
3 II/a - II/d 2 4%
4 I/a - I/d 2 4%
Jumlah 50 100%
Sumber: Diolah dari data primer, Desember 2014
Tabel 4 di atas menunjukkan bahwa 36 responden berpangkat III/a – III/d atau sebesar 72% dari keseluruhan responden, 10 responden berpangkat IV/a – IV/d sebesar 20% dari keseluruhan responden, dan 2 responden berpangkat II/a – II/d atau sebesar 4%, dan 2 orang responden yang berpangkat I/a – I/d atau sebesar 4% dari keseluruhan responden atau pegawai di Inspektorat Kota Makassar.
C. Kinerja Inspektorat Dalam Penegakan Disiplin Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kota Makassar
Inspektorat Kota Makassar yang memiliki fungsi dan tugas dalam melakukan pengawasan kinerja pemerintahan daerah dalam hal ini disiplin Pegawai Negeri Sipil. Dimana salah satu misi yang ingin dicapai adalah terwujudnya penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan berwibawa melalui pengawasan yang efektif dan profesionaldengan mencegah terjadinya Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang tidak taat pada aturan. Indikator kinerja adalah ukuran kuantitatif dan kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu kegiatan dan sasaran yang telah ditetapkan, maka penulis memilih 4 indikator sebagai tolak ukur kinerja Inspektorat dalam penegakan disiplin Pegawai Negeri Sipil (PNS) di
Kota Makassar yaitu produktivitas, responsivitas, responsibilitas, dan akuntabilitas.
1. Produktivitas Inspektorat Dalam Penegakan Disiplin Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kota Makassar
Produktivitas tidak hanya mengukur tingkat kuantitas kinerja, tetapi juga kualitas kinerja dan ketetapan waktu kerja. Oleh karena itu, Inspektorat Kota Makassar sebagai institusi pengawasan harus memiliki produktivitas yang tinggi dalam penegakan disiplin aparatur sipil daerah. Untuk mengetahui hal tersebut peneliti menggunakan beberapa parameter diantaranya:
a. Kuantitas inspeksi mendadak Inspektorat
Kuantitas adalah jumlah kerja, hasil kerja yang dicapai seseorang atau oganisasi sebagai aspek mengukur produktivitas yang dihasilkan pegawai atau sebuah organisasi. Dalam hal ini kuantitas sidak Inspektorat adalah seberapa sering Inspektorat melakukan pengawasan langusng atau inspeksi mendadak dalam penegakan disiplin Pegawai Negeri Sipil di Kota Makassar. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 5: Tanggapan responden terhadap seberapa sering Inspektorat melakukan Inspeksi mendadak
No Tanggapan Responden Skor (x) F X.F Persentase (%)
1 Sangat Sering 4 11 44 22%
2 Sering 3 36 108 72%
3 Kurang sering 2 3 6 6%
4 Tidak Pernah 1 - -
-Total 50 158 100%
Rata-rata skor dan rata-rata presentase , atau 79% Sumber: Diolah dari data primer, Desember 2014
Tabel 5 di atas menunjukkan bahwa tanggapan responden terhadap seberapa sering Inspektorat melakukan sidak terhadap Pegawai Negeri Sipil dari 50 responden, 11 responden atau 22% yang menanggapi sangat sering, 36 responden atau 72% menanggapi sering, 3 responden atau 6% menanggapi kurang sering dan kategori tidak sering memperoleh tanggapan tidak ada atau 0%. Dengan melihat rata-rata skor 3,16 atau 79% pada katagori baik, maka dapat disimpulkan bahwa Inspektorat selalu melakukan inspeksi mendadak terhadap Pegawai Negeri Sipil di Kota Makassar. Hasil wawancara peneliti dengan kepala sub bagian administrasi dan umum, mengatakan bahwa:
“...Inspektorat rutin menggelar sidak dalam sebulan bisa dua kali ataupun lebih terutama saat pasca hari raya, boleh dibilang kami ini kerja tidak di dalam kantor tapi di luar kantor untuk memantau kedisplinan PNS”. (Wawancara DY,15 Desember 2014)
Berdasarkan wawancara di atas menunjukkan bahwa Inspektorat rutin melakukan sidak terhadap Pegawai Ngeri Sipil, maka kantor Inspektorat sering terlihat sepi karena pegawai yang bertugas sebagai auditor pengawasan berkerja di ruangan pukul 8.00 sampai 10.00 Wita selebihnya mereka berkerja di luar kantor, hanya pegawai staff yang aktif berkerja di ruangan. Bekaitan dengan hal ini auditor Inspektorat juga memberi penjelasan, mengatakan bahwa :
“...Inpektorat selalu melakukan sidak, selain pada pasca hari Raya keagamaan seperti Idul Fitri dan Natal, kami juga melakukan sidak selama pelaksanaan Bulan Ramadhan termasuk selama pelaksanaan World Cup atau piala dunia sepak bola dalam hal ini boleh dibilang hampir setiap hari kami melakukan sidak”. (Wawancara NS, 15 Desember 2014)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Inspektorat sangat sering melakukan sidak di setiap Instansi Pemerintahan dan di Satuan Kerja Perangkat Daerah
(SKPD) unit kerja masing-masing Pegawai Negeri Sipili di Kota Makassar, sama halnya dengan hasil wawancara dengan informan bahwa Inspektorat rutin menggelar sidak dalam sebulan bisa dua kali atapun lebih terutama pasca hari raya, untuk itu dengan adanya sidak dari Inspektorat mampu melahirkan pengurangan jumlah Pegawai Negeri Sipil di Kota Makassar.
b. Kualitas penegakan disiplin
Kualitas merupakan suatu proses dan prosedur yang ditentukan lebih awal sehingga dapat mencapai hasil yang diharapkan dan merupakan ukuran terhadap pencapaian kerja/kinerja oleh organisasi setelah melakukan suatu kegiatan. Dalam hal ini Kualitas Penegakan disiplin yang dilakukan Inspektorat Kota Makassar adalah bagaimana proses pengawasan yang dilakukan Inspektorat dalam penegakan disipin Pegawai Negeri Sipil di Kota Makassar dan sidak yang dilakukan Inspektorat memberikan efek jera terhadap Pegawai Negeri Sipil.
Pengawasan dilakukan untuk mengetahui seberapa tinggi tingkat kepatuhan para Pegawai Negeri Sipil dalam melaksakan wewenangnya dan memperbaiki penyimpangan dispilin yang dilakukan oleh Pegawai Negeri Sipil sehingga sikap dan prilakunya dalam bekerja sehari-hari sesuai dengan peraturan disiplin Pegawai Negeri Sipil yang berlaku. Inspektorat sering melakukan pengawasan agar tidak terjadi ataupun bertambahnya Pegawai Negeri Sipil di Kota Makassar yang tidak disiplin. Hal ini dapat dilihat dari temuan Inspektorat dalam kasus pelanggaran disiplin Pegawai Negeri Sipil tiga tahun terakhir pada tabel berikut:
Tabel 6: Temuan Kasus Pelanggaran Disiplin oleh Inspektorat Kota Makassar
TAHUN JUMLAH KASUS
2012 127 Kasus
2013 99 Kasus
2014 82 Kasus
Sumber: diolah dari data sekunder, Desember 2014
Data tabel 6 di atas menunjukkan bahwa pada tahun 2012 terdapat 127 kasus ketidakdisiplinan Pegawai Negeri Sipil, tahun 2013 menurun dengan 99 kasus dan pada tahun 2014 juga mengalami penurunan dengan hanya 82 kasus. Hal ini menunjukkan pengawasan yang dilakukan Inspektorat dalam penegakan disiplin Pegawai Negeri Sipil di Kota Makassar cukup berkualitas, itu dilihat dengan menurunnya jumlah Pegawai Negeri Sipil di Kota Makassar yang melakukan pelanggaran disiplin tiap tahunnya.
Inspektorat melakukan pengawasan dalam penegakan disipil Pegawai Negeri Sipil (PNS) di kota Makssar dalam bentuk sidak, inpeksi mendadak yang