Dalam mekanisme penerapan sekuritisasi aset ini, tentunya juga memiliki banyak pihak yang berperan. Dalam aktivitas sekuritisasi aset akan melibatkan banyak pihak yang masing-masing memiliki peranan yang berbeda, sebagaimana uraian berikut :32
1. Conduit : Pihak yang melakukan koordinasi sekuritisasi, pembelian aset, penunjukan pihak-pihak lain yang terlibat dalam sekuritisasi, penanggung jawab pelaksanaan sekuritisasi, dan/atau menerbitkan EBA;
2. SPV/SPE/SPC : Perusahaan yang ditunjuk oleh conduit untuk mengelola aset keuangan yang dibeli dari originator sekaligus menerbitkan EBA;
3. Originator : Pihak yang melakukan pengalihan atau penjualan aset
keuangan kepada conduit/SPV atau pihak yang menciptakan .pinjaman. Selain itu originator dapat juga berperan sebagai pengelola pinjaman tersebut atau sebagai servicer. Misainya untuk menagih pinjaman atau tindakan fainnia yang diperlukan untuk memastikan debitur (borrower) memenuhi kewajibannya;
4. Servicer : Pihak yang menatausahakan, memproses, mengawasi, dan
melakukan tindakan-tindakan lainnya dalam rangka mengupayakan kelancaran arus kas aset keuangan yang dialihkan kepada penerbit;
5. Credit Enhancer : Pihak yang memberikan fasilitas peningkatan kualitas
aset keuangan yang dialihkan dalam rangka melindungi pembayaran kepada pemodal biasanya adalah kreditor asal. Digunakan untuk meningkatkan kualitas aset yang akan digunakan dalam sekuritisasi aset misalnya menggunakan jaminan yang nilainya jauh lebih besar dibandingkan dengan surat befiarga yang diterbitkan;
6. Liquidity Facilitator : Pihak yang memberikan fasilitas talangan kepada
penerbit untuk mengatasi mismatch pembayaran kewajiban kepada investor;
7. Custody : Pihak yang memberikan jasa penitipan EBA dan harta serta jasa lain yang berkaitan dengan sekuritisasi aset;
8. Wali Amanat/Trustee : Pihak yang mewakili kepentingan investor atas segala kegiatan yang berkaitan dengan transaksi sekuritisasi;33
9. Paying Agent : Pihak atau agen yang bertugas melakukan pembayaran
kepada investor sesuai perintah dari wali amanat;
10. Auditor : Pihak yang melakukan audit terhadap perusahaan dan
aset keuangan yang akan dialihkan serta memberikan opini independen mengenai pemenuhan kondisi jual putus (true sale);
11. Legal Consultant : Pihak yang melakukan pemeriksaan dan review aspek
hukum terhadap perusahaan dan aset keuangan yang dialihkan serta memberikan opini hukum mengenai pemenuhan kondisi jual putus (true sale).
Dalam penerapan sekuritisasi aset terhadap Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), Hilde D, Sihaloho yang merupakan peneliti di Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan, Bank Indonesia, pada penelitiannya yang berjudul “Pemanfaatan Sekuritisasi Aset Dalam Mendorong Sektor Riil : Alternatif Pembiayaan UMKM”, pihak-pihak yang terlibat dalam penerapan sekuritisasi aset, beserta manfaat yang diperoleh dari sekuritisasi aset UMKM adalah sebagai berikut :34
1. Originator (Bank Umum, BPD, BPR)
33
Gunawan Widjaja dan E. Paramitha Sapardan, Op.Cit., hlm. 24-25.
34 Hilde D, Sihaloho, Hasil Penelitian,“Pemanfaatan Sekuritisasi Aset Dalam Mendorong Sektor Riil : Alternatif Pembiayaan UMKM”, Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan, Bank Indonesia, Oktober 2014, hlm. 5
Pada hal ini, menurut Hilde D, Sihaloho, Originator dalam penerapan sekuritisasi aset memiliki manfaat sebagai berikut :
a. Menjadi alternatif sumber pendanaan yang lebih murah; b. Meningkatkan lending capacity;
c. Melakukan pengelolaan resiko kredit; d. Mengatasi masalah liquidity mismatch;
e. Memperbaiki neraca, termasuk aset tertimbang menurut risiko dan CAR;
f. Melakukan pengelolaan saset dan liablities yang lebih baik; g. Menjadi penerimaan melalui fee bassed income.
2. Investor
Adapun keuntungan bagi investor dalam penerapan sekuritisasi aset adalah sebagai berikut :
a. Pilihan investasi aset berkualitas;
b. Rendahnya default rate karena terbaginya aset piutang kepada banyak debitur;
c. Sesuai untuk investor dengan kebutuhan pengembalian pokok yang lebih cepat;
d. Profil rating EBA yang tinggi dapat meningkatkan portofolio investasi secara keseluruhan.
3. UMKM
Adapun keuntungan dalam UMKM pada penerapan sekuritisasi aset adalah sebagai berikut :
a. Ketersediaan sumber pembiayaan; b. Peningkatan kualitas aset.
4. Pemerintah
Adapun keuntungan dalam UMKM pada penerapan sekuritisasi aset adalah sebagai berikut :
a. Pendalaman dan Perluasan Pasar Keuangan bagi UMKM; b. Peningkatan akses UMKM pada pasar modal.
Lembaga perbankan merupakan salah satu lembaga keuangan yang mempunyai peranan yang sangat strategis. Peran yang sangat strategis dari bank karena sebagai badan usaha, karena lembaga perbankan tersebut mempunyai fungsi sebagai perantara keuangan masyarakat yang berkelebihan dana dan masyarakat yang berkekurangan dana.1 Keberadaan bank dalam kehidupan masyarakat dewasa ini, menempati peran yang cukup penting, sebab lembaga perbankan khususnya bank umum merupakan inti sari dari sistem keuangan setiap negara. Bank merupakan lembaga keuangan yang menjadi tempat bagi perusahaan-perusahaan, lembaga pemerintah, swasta maupun perorangan menyimpan dananya dan menyalurkan dana tersebut kepada masyarakat yang membutuhkan melalui perkreditan dan berbagai jasa yang diberikan. Bank melayani kebutuhan pembiayaan serta melancarkan mekanisme sistem pembiayaan bagi semua sektor perekonomian.2
Pasal 2 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998, menyebutkan bahwa Perbankan Indonesia dalam melakukan usahanya berasaskan demokrasi ekonomi dengan menggunakan prinsip kehati-hatian. Makna asas demokrasi ekonomi yang dimaksud dalam Pasal 2 ini adalah demokrasi ekonomi
1
Munir Fuady, Hukum Bisnis Dalam Teori dan Praktek, Buku Kesatu,Bandung : Citra Aditya Bakti, 2002, hlm. 121.
2 Thomas Suyatno, Kelembagaan Perbankan, Cetakan I, Jakarta : STIE Perbanas
berdasarkan Pancasila dan Undang-undang dasar 1945. Demokrasi ekonomi diatur dalam Pasal 33 UUD 1945, yaitu perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluragaan.
Perbankan dalam menjalankan usahanya terdapat prinsip kehati-hatian yang megharuskan bank untuk selalu berhati-hati dalam menjalankan kegiatan usahanya, selalu konsisten dalam melaksanakan peraturan perundang-undangan di bidang perbankan berdasarkan profesionalisme dan itikad baik. Prinsip kehati-hatian (prudential principle) dalam sistem perbankan digunakan sebagai perlindungan secara tidak langsung oleh pihak bank terhadap kepentingan-kepentingan nasabah penyimpan dan simpananya di bank. Prinsip ini digunakan untuk mencegah timbulnya risiko-risiko kerugian dari suatu kebijakan dan kegiatan usaha yang dilakukan oleh bank. Prinsip kehati-hatian merupakan suatu upaya dan tindakan pencegahan bersifat internal oleh bank yang bersangkutan. Begitu juga dalam aktivitas sekuritisasi aset, sangat diperlukan prinsip kehati-hatian dalam pelaksanaanya.
Bank dalam menjalankan usahanya juga menghadapi berbagai risiko. Salah satunya adalah risiko kredit yaitu risiko yang timbul akibat kegagalan counterparty memenuhi kewajibannya. Risiko ini pada dasarnya dapat bersumber dari berbagai aktivitas fungsional bank seperti perkreditan, treasury, investasi, dan pembiayaan perdagangan. Untuk memitigasi risiko kredit, pada umumnya bank menempuh berbagai upaya antara lain dalam bentuk setoran jaminan, asuransi, atau agunan. Sejalan dengan perkembangan usaha, kompleksitas transaksi, dan jenis risiko, terdapat teknik mitigasi risiko kredit lain yang telah dikenal sesuai
dengan standar praktek internasional (best international practices) yaitu sekuritisasi aset.3
Sekuritisasi aset dimulai dengan proses penjualan piutang oleh originator kepada suatu lembaga yang akan melakukan penawaran umum efek (issuer) dalam bentuk efek beragun aset. Dalam proses penjualan piutang ini, investor sama sekali tidak memiliki informasi komprehensif yang dapat dipergunakan untuk memastikan bahwa piutang-piutang yang dialihkan melalui proses jual beli tersebut akan dibayar oleh debitur piutang tepat pada waktunya. Prospektus yang diterbitkan oleh issuer sepenuhnya bersumber dari originator. Untuk melindungi kepentingan investor terhadap kemungkinan penjualan piutang-piutang yang tebang pilih, dimana piutang yang bagus tetap dipertahankan dalam portofolio originator dan piutang yang kurang bagus dijual kepada investor maka dilakukanlah proses pemeringkatan piutang-piutang oleh lembaga pemeringkat.Lembaga pemeringkat inilah yang akan menentukan rating dari
Sekuritiasasi aset menurut Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005, merupakan tranformasi aset yang tidak likuid menjadi likuid dengan cara pembelian aset keuangan dari kreditur asal dan penerbit Efek Beragun Aset (EBA). Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/4/2005 menyebutkan bahwa sekerutisasi aset merupakan penerbitan surat berharga berupa Efek Beragun Aset (EBA) oleh penerbit EBA yang didasarkan pada pengalihan aset keuangan dari pemilik piutang asal (originator) yang diikuti dengan pembayaran yang berasal dari hasil penjualanEfek Beragun Aset (EBA) kepada pemodal.
3 Peraturan Bank Indonesia tentang Prinsip Kehati-hatian Dalam Aktivitas Sekuritisasi Aset, PBI No.7/4/2005, LN No. 14 tahun 2005, TLN NO. 4473, penjelasan umum.
piutang-piutang yang dijual originator ini. Informasi yang terkait dengan hasil pemeringkatan kemudian disampaikan investor melalui prospektus yang diterbitkan, sehingga investor dapat menilai kelayakan dari harga-harga efek yang ditawarkan beserta risiko-risiko yang ada. Kelayakan suatu kredit bank maupun lembaga keuangan non-bank umumnya diberikan berdasarkan prinsip pemberian kredit sehat yaitu penilaian faktor 5-C yang terdiri dari character (karakter, watak); capacity (kapasitas, kemampuan, kompetensi); capital (modal); conditions (kondisi); dan collateral (jaminan) dari debitor. Di pihak kreditor setiap kebijakan pemberian kredit dilandasi prinsip kehati-hatian (prudential) dalam mengambil keputusan, keamanan (safety) atas pengembalian kreditnya dan keuntungan (profitability) yang diperhitungkan atas kredit yang dikucurkan.
Untuk memperoleh manfaat sekuritisasi aset tersebut, maka perlu dilakukan pengaturan terhadap prinsip kehati-hatian dalam aktivitas sekuritisasi aset sebagai dasar dan panduan sehingga bank dapat melaksanakan aktivitas sekuritisasi aset secara efektif. Adapun pada tahun 2005 berdasarkan landasan tersebut, Bank Indonesia mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia No. 7/4/PBI/2005 yang mengatur tentang Prinsip Kehati-hatian bagi Bank Umum dalam Aktivitas Sekuritisasi Aset.
Sebuah kasus terjadi pada tahun 2001,bahwa KPR masih dibawah Rp20 triliun, namun pada akhir tahun 2008 menembus angka Rp122 triliun (perhitungan compounded annual growth rate telah tumbuh sekitar 30 persen). Pertumbuhan kredit di Bank Swasta 41 persen per tahun, dan peranannya mencapai 46 persen dari total KPR di Indonesia. LDR (Loan to Deposit Ratio) juga meningkat dari 38
persen pada 2003 menjadi 75 persen pada Desember 2008. Sebagian Bank, terutama Bank Swasta, memiliki LDR hingga 80-90 persen. Hal ini menyebabkan risiko maturity mismatch. Salah satu cara untuk menciptakan likuiditas Bank adalah dengan sekuritisasi.
Proses Sekuritisasi Aset diterapkan Prinsip Kehati hatian karena dalam kelangsungan usaha Bank juga tergantung dari efektivitas dan kemampuan Bank dalam mengelola resiko kredit atau meminimalkan potensi kerugian dalam mengelola aset, dan apabila dalam aktivitas sekuritisasi aset dilakukan tanpa memenuhi prinsip kehati-hatian maka Bank akan menghadapi resiko yang lebih besar. Dalam Pasar Modal Indonesia, wahana sekuritisasi tersebut berupa Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK-EBA) yang diatur berdasarkan Peraturan Bapepam No. IX.K.1 tentang Pedoman Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (Asset Backed Securities), sesuai Surat Keputusan Ketua Bapepam No. Kep-28/PM/2003 tanggal 21 Juli 2003.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penulis akan menguraikan secara lengkap dan cermat dalam sebuah skripsi yang berjudul : Penerapan
Prinsip Kehati-Hatian dalam Aktivitas Sekuritisasi Aset bagi Bank Umum ditinjau dari Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal.