• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN TENTANG ANAK DI BAWAH UMUR DAN PANTI

B. Jenis-Jenis dan Asas Pelaksanaan Perwalian

Orang-orang yang diangkat menjadi wali berdasarkan ketentuan perwalian dalam KUHPerdata dibagi menjadi 3 jenis:

a. Perwalian menurut undang-undang yang diatur di dalam Pasal 345 sampai dengan 354 KUH Perdata.67

Perwalian menurut undang-undang diatur secara resmi atau otentik dengan ketentuan bahwa apabila salah satu dari kedua orangtua meninggal dunia, maka perwalian terhadap anak-anak-anak yang belum dewasa, demi hukum dipangku oleh orangtua yang hidup lebih lama, apabila orangtuanya tersebut tidak dibebaskan atau dipecat dari kekuasaan orangtuanya. Dalam Pasal ini, tidak terdapat pengecualian baik suami istri yang hidup terpisah karena perceraian atau pisah meja dan ranjang, jadi apabila ayah setelah bercerai meninggal dunia, maka si ibu dengan sendirinya menjadi wali atas anak tersebut.

Pada Pasal 348 KUHPerdata, jika waktu bapak meninggal dan pada saat yang sama, ibu sedang mengandung, Balai Harta Peninggalan yang

67 Sudarsono, Op.Cit., Hal 30-32.

untuk selanjutnya disebut BHP, menjadi pengampu (kurator) atas anak yang berada dalam kandungan dengan cara-cara seperti yang telah ditetapkan dalam pengangkatan wali. Kalau anak itu lahir, ibu dengan sendirinya (menurut hukum) menjadi wali, sedangkan BHP (pengampu) menjadi wali pengawas.

Pada pernikahan yang baru, dalam hal ibu menikah lagi, suami yang baru itu dengan sendirinya (menurut hukum) menjadi medevoogd (wali peserta) dan bersama istrinya (wali ibu) bertanggung jawab secara tanggung renteng terhadap perbuatan-perbuatan yang dilakukan setelah pernikahan itu berlangsung.

b. Perwalian dengan surat wasiat yang ditunjuk oleh ayah atau ibu atau akta.68

Adapun perwalian dengan wasiat atau akta tersendiri diatur secara resmi di dalam Pasal 355 ayat 1 yang menyatakan bahwa orangtua yang melakukan kekuasaan orangtua atau wali seorang anaknya atau lebih, berhak mengangkat seorang wali bagi anak-anak itu. Jika perwalian sesudah bapak atau ibu meninggal dan tidak ada perwalian pada orangtua yang lain, baik sendiri atau karena putusan hakim, seperti yang tercantum di dalam Pasal 353 ayat 5 KUHPerdata, atau dengan kata lain orangtua berhak mengangkat wali, kalau perwalian tersebut memang masih terbuka.

Menurut hukum, karena putusan hakim akan jatuh kepada orangtua yang lain, maka pengangkatan wali itu tiada diperbolehkan.

68 Soedharyo Soimin, Op., Cit., Hal 58-60.

Pengangkatan dilakukan dengan wasiat, atau dengan kata akta notaris yang dibuat untuk keperluan itu semata-mata. Dalam itu boleh juga beberapa orang diangkat menurut nomor urut pengangkatan mereka, orang yang kemudian disebutnya akan menjadi wali, apabila orang yang tersebut sebelumnya tidak ada.

Kedudukan hukum anak luar kawin yang diakui selalu berada di bawah perwalian. Karena perwalian hanya ada, bilamana ada perkawinan, maka dengan sendirinya anak luar kawin yang diakui ada di bawah perwalian bapak atau ibunya yang telah mengakuinya. Dapat dikecualikan untuk menjadi wali atau kehilangan untuk menjadi wali, Pasal 353 ayat 1 KUHPerdata menyatakan bahwa seorang anak luar kawin demi hukum berada di bawah perwalian bapak atau ibunya yang telah dewasa dan telah mengakui anak tersebut, namun bapak atau ibunya tersebut dikecualikan dari perwalian atau kehilangan hak menjadi wali atau perwalian sudah ditugaskan kepada orang lain selama bapak dan ibunya tersebut belum dewasa dan orang lain itu telah mendapat tugas sebelum bapak atau ibunya mengakuinya.

Khusus bagi pengangkatan seorang wali atas penunjukan bapak atau ibu anak diluar pernikahan yang diakui, disebutkan dalam Pasal 358 KUHPedata, bahwa pengangkatan tersebut memerlukan penguatan Pengadilan Negeri agar pengangkatan itu menjadi sah.

c. Perwalian yang diangkat oleh Hakim (Perwalian dalil) diatur di dalam Pasal 359 KUH Perdata.

Undang-undang telah mengatur secara otentik yang diangkat oleh Hakim (Perwalian dalil), yakni: bagi sekalian anak belum dewasa, yang tidak bernaung di bawah kekuasaan orangtua dan yang perwaliannya tidak telah diatur dengan cara yang sah. Pengadilan negeri harus mengangkat seorang wali, setelah mendengar atau memanggil dengan sah para keluarga sedarah dan semenda.

Berdasarkan Pasal 359 ayat 2 apabila pengangkatan itu diperlukan berdasarkan ketidakmampuan untuk sementara waktu melakukan kekuasaan orangtua atau perwalian, maka oleh pengadilan diangkat juga seorang wali untuk waktu selama ketidakmampuan itu ada. Atas permintaan orang yang digantinya, wali tidak boleh dipecat lagi, apabila alasan yang menyebabkan pengangkatannya tidak ada lagi.

Namun wali ini dipecat lagi apabila alasan yang menyebabkan pengangkatannya tidak lagi ada. Atas permintaan ini pengadilan mengambil ketetapannya, setelah mendengar dan memanggil dangan sah akan peminta, si wali, wali pengawas, para keluarga sedarah atau semenda si belum dewasa dan akan Dewan Perwalian. Apabila permintaan itu berkenaan dengan perwalian seorang anak luar kawin, maka pengadilan mengambil keputusan sah seperti diatur dalam Pasal 354. Permintaan akan dikabulkan, kecuali ada kekhawatiran yang bapak atau si ibu akan

menelantarkan si anak, terhadap pemeriksaan orang-orang itu ketentuan dalam Pasal 206 ayat 4 berlaku dengan penyesuaian sekedarnya.69

Apabila pengangkatan itu diperlukan karena ada atau tidak adanya si bapak atau si ibu tidak diketahui, atau karena tepat tinggal atau kediaman mereka tak diketahui, maka oleh pengadilan diangkat juga seorang wali.

Pasal 365 ayat 1 KUHPerdata menyebutkan bahwa dalam segala hal apabila hakim harus mengangkat seorang wali, maka perwalian itu dapat diserahkan dan diperintahkan kepada perkumpulan yang berbadan hukum dan berkedudukan di Indonesia yang menurut dasarnya, akta pendiriannya atau reglemennya mengatur pemeliharaan anak yang belum dewasa untuk waktu yang lama.

Cara penunjukannya Perwalian berdasarkan Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan ada 2 jenis yaitu :70

1) Dalam Pasal 51, bahwa penunjukan wali dapat ditunjuk oleh salah satu orangtua yang menjalankan kekuasaan orangtua, sebelum ia meninggal dengan surat wasiat atau dengan lisan di hadapan 2 (dua) orang saksi.

2) Dalam Pasal 53, bahwa dalam hal kekuasaan seorang wali dicabut, oleh pengadilan ditunjuk orang lain sebagai wali.

Perwalian bagi seorang anak berdasarkan ketentuan Pasal tersebut, dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :71

a) Secara tertulis dengan surat wasiat;

b) Secara lisan di hadapan 2 (dua) saksi;

69 Sudarsono, loc.Cit.

70 Rachmadi Usman, Op.Cit., Hal 365.

71 Ibid, Hal 366.

c) Secara tertulis dengan penunjukan hakim atau pengadilan, dalam hal kekuasaan seseorang wali dicabut baik di dalam maupun di luar pengadilan untuk kepentingan yang terbaik bagi anak.

2. Asas Pelaksanaan Perwalian

a. Asas tidak dapat dibagi-bagi, bahwa perwalian hanya ada satu wali hal ini dapat kita lihat dalam Pasal 331 KUHPerdata yang menyebutkan perwalian mulai berlaku :

1) Jika seorang wali diangkat oleh hakim dan pengangkatan dilakukan dalam kehadirannya. Jika terjadi pengangkatan tidak dalam kehadirannya, maka saat pengangkatan harus diberitahukan kepadanya.

2) Jika seorang wali diangkat oleh salah satu dari kedua orangtua pada saat pengangkatan itu karena meninggalnya yang mengangkat, ditanyakan kesanggupan menerima pengangkatan tersebut.

3) Jika seorang perempuan bersuami diangkat menjadi wali, baik oleh hakim, maupun oleh salah satu dari kedua orangtua, pada saat ia dengan bantuan atau dengan kuasa dari suaminya atau dengan kuasa dari hakim, menyatakan kesanggupan menerima pengangkatan itu.

4) Jika suatu perhimpuan yayasan atau lembaga sosial tidak atas permintaan atau kesanggupan sendiri, diangkat menjadi wali pada saat mereka menyatakan sanggup menerima pengangkatan itu.

5) Pengangkatan seorang wali bagi anak luar kawin yang diakui oleh bapak atau ibunya dimulai pada saat pengesahan dari Pengadilan.

6) Jika seorang menjadi wali karena hukum pada saat terjadinya peristiwa yang mengakibatkan perwaliannya.72

b. Asas persetujuan dari keluarga. Keluarga harus dimintai persetujuan tentang Perwalian. Dalam hal keluarga tidak ada,maka tidak diperlukan persetujuan pihak keluarga itu. Sedangkan pihak keluarga, apabila tidak datang sesudah ditiadakan panggilan, dapat dituntut Pasal 542 KUHP yang diancam dengan denda paling banyak enam puluh ribu rupiah.73