BAB III : TINJAUAN UMUM MENGENAI PERJANJIAN PEMBORONGAN
C. Jenis-Jenis dan Isi Perjanjian Pemborongan
Berdasarkan objek pekerjaan yang dijalankan oleh pihak pemborong, KUH Perdata mengenal dua jenis perjanjian pemborongan, yaitu :
1. Perjanjian pemborongan pekerjaan dimana pemborong diwajibkan memberikan bahan (diatur dalam Pasal 1605 dan Pasal 1606 KUH Perdata). Dalam hal si pemborong diwajibkan menyerahkan bahannya dan pekerjaan itu dengan cara bagaimanapun musnah sebelum diserahkan kepada pihak yang memborongkan, maka segala kerugian ada dipihak si pemborong, kecuali pihak yang memborongkan telah lalai menerima hasil pekerjaan itu. Jika si pemborong hanya diwajibkan melakukan pekerjaannya saja, maka ia bertanggung jawab atas kesalahannya. Ketentuan terakhir memberikan pengaturan bahwa dalam hal terjadi suatu peristiwa diluar kesalahan dari salah satu pihak terhadap bahan-bahan yang disediakan oleh pihak yang memborongkan, maka peristiwa tersebut merupakan tanggung jawab pihak penyedia. Apabila pihak yang memborongkan (penyedia bahan-bahan) menganggap peristiwa tersebut akibat kesalahan pemborong, maka pihak yang memborongkan dibebankan pembuktian atas anggapan tersebut.
2. Perjanjian pemborongan dimana pemborong pekerjaan hanya melakukan pekerjaan saja (diatur dalam Pasal 1607 KUH Perdata). Pasal 1607 KUH Perdata dinyatakan bahwa jika musnahnya pekerjaan itu terjadi diluar kelalaian pemiliknya si pemborong, sebelum pekerjaan itu diserahkan, sedangkan pihak yang memborongkan tidak telah lalai untuk memeriksa dan menyetujui pekerjaannya, maka pemborong tidak berhak atas harga yang
diperjanjikan, kecuali musnahnya barang/pekerjaan disebabkan oleh suatu cacad dalam bahan.
Berdasarkan cara terjadinya terjadinya, secara umum perjanjian pemborongan terbagi atas tiga jenis, yaitu :64
a. Perjanjian pemborongan pekerjaan yang diperoleh sebagai hasil pelelangan atas dasar penawaran yang diajukan (competitive bid contract); b. Perjanjian pemborongan pekerjaan atas dasar penunjukan;
c. Perjanjian pemborongan pekerjaan yang diperoleh sebagai hasil perundingan antara si pemberi tugas dengan pemborong (negotiated contract).
Berdasarkan cara penentuan harganya, perjanjian pelaksanaan pemborongan secara umum terbagi atas empat bentuk, yaitu :65
1) Perjanjian pelaksanaan pemborongan dengan harga pasti (fixed price). Dalam hal ini harga pemborngan telah ditetapkan dengan pasti, baik mengenai harga kontrak maupun harga satuan;
2) Perjanjian pelaksanaan kontrak dengan harga lump sum. Dalam hal ini harga borongan diperhitungkan secara keseluruhan;
3) Perjanjian pelaksanaan pemborongan atas dasar harga satuan (unit price), yaitu harga yang diperhitungkan untuk setiap unit. Dalam hal ini luas pekerjaan ditentukan menurut perkiraan jumlah unit;
4) Perjanjian pelaksanaan pemborongan atas dasar jumlah biaya dan upah (cost plus free). Dalam hal ini pemberi tugas akan membayar 64
Sri Soedewi Mascjchun Sofwan, Hukum Bangunan, Perjanjian Pemborongan Bangunan, Liberty, Yogyakarta, 1982, hal. 59.
65
pemborongan dengan jumlah biaya yang sesungguhnya yang telah dikeluarkan ditambah dengan upahnya.
Menurut Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, sebagaimana diatur dalam Pasal 50 sampai dengan Pasal 54, bahwa bentuk-bentuk kontrak pemborongan meliputi :
a) Kontrak Berdasarkan Cara Pembayaran
(1) Kontrak Lump Sum, merupakan kontrak pengadaan barang/jasa atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tentu, dengan jumlah harga yang pasti dan tetap, penanggungan risiko sepenuhnya oleh penyedia barang/jasa, dan dengan pembayaran yang didasarkan pada tahapan produk/keluaran yang dihasilkan sesuai dengan isi kontrak.
(2) Kontrak Harga Satuan, merupakan kontrak pengadaan barang/jasa atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu yang telah ditentukan, berdasarkan harga satuan yang pasti dan tetap untuk setiap satuan pekerjaan dengan spesifikasi teknis tertentu dimana volume pekerjaannya masih sberupa perkiraan, dan pembayaran dilakukan berdasarkan pada hasil pengukuran bersama atas volume pekerjaan yang telah dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa.
(3) Kontrak Gabungan Lump Sum dan Harga Satuan, merupakan kontrak gabungan antara lump sum dan harga satuan, yang dilaksanakan dalam satu pekerjaan yang diperjanjikan.
(4) Kontrak Persentase, merupakan kontrak pengadaan jasa konsultasi/pekerjaan konstruksi/jasa lainnya dimana penyedia jasa konsultasi/jasa lainnya menerima imbalan berdasarkan persentase dari nilai pekerjaan tertentu dan pembayaran didasarkan pada tahapan produk/keluaran yang dihasilkan sesuai dengan isi kontrak.
(5) Kontrak Terima Jadi (Turnkey), merupakan kontrak pengadaan barang/pekerjaan konstruksi/jasa lainnya atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu, jumlah harga pasti dan tetap sampai seluruh pekerjaan selesai dilaksanakan, dan pembayaran berdasarkan pada hasil penilaian bersama yang menunjukkan bahwa pekerjaan telah selesai dilaksanakan sesuai dengan kriteria kinerja yang telah ditetapkan.
b) Kontrak Berdasarkan Pembebanan Tahun Anggaran
(1) Kontrak Tahun Tunggal, merupakan kontrak yang pelaksanaan pekerjaannya mengikat dana anggaran selama masa satu tahun anggaran.
(2) Kontrak Tahun Jamak, merupakan kontrak yang pelaksanaan pekerjaannya untuk masa lebih dari satu tahun anggaran yang dilakukan setelah mendapat persetujuan :
(a) Menteri/Pimpinan Lembaga yang bersangkutan untuk kegiatan yang nilai kontraknya sampai dengan Rp. 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) bagi kegiatan: penanaman benih/bibit, penghijauan, pelayanan perintis laut/udara, makanan dan obat di
rumah sakit, makanan untuk narapidana di Lembaga Pemasyarakatan, pengadaan pita cukai, layanan pembuangan sampah dan pengadaan jasa cleaning service;
(b) Menteri Keuangan untuk kegiatan yang nilainya diatas Rp. 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah);
(c) Kepala Daerah, dalam hal kontrak tahun jamak pada pemerintah daerah, dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
c) Kontrak Berdasarkan Sumber Pendanaan
(1) Kontrak Pengadaan Tunggal, merupakan kontrak yang dibuat oleh satu PPK dengan satu penyedia barang/jasa tertentu untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu dalam waktu tertentu.
(2) Kontrak Pengadaan Bersama, merupakan kontrak antara beberapa PPK dengan satu penyedia barang/jasa untuk menyelesaikan pekerjaan dalam waktu tertentu, sesuai dengan kebutuhan masing-masing PPK yang menendatangani kontrak.
(3) Kontrak Payung (Framework Contract) merupakan kontrak harga satuan antara pemerintah dengan penyedia barang/jasa yang dapat di manfaatkan oleh Kementrian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah/Institusi lainnya (K/L/D/I), yang diadakan guna menjamin harga barang/jasa yang lebih efisien, dan pembayarannya dilakukan oleh setiap PPK/Satuan Kerja yang didasarkan pada hasil
penilaian/pengukuran bersama terhadap volume/kuantitas pekerjaan yang telah dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa.
d) Kontrak Berdasarkan Jenis Pekerjaan
(1) Kontrak Pengadaan Pekerjaan Tunggal, merupakan kontrak pengadaan barang/jasa yang hanya terdiri atas satu pekerjaan perencanaan, pelaksanaan, atau pengawasan.
(2) Kontrak Pengadaan Pekerjaan Terintegrasi, merupakan kontrak pengadaan pekerjaan konstruksi yang bersifat kompleks dengan menggabungkan kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan/atau pengawasan.
Mengenai isi standar dalam perjanjian pemborongan, KUH Perdata tidak memberikan pengaturannya. Oleh karena itu, isi kontrak dapat ditentukan sendiri oleh para pihak sesuai dengan asas kebebasan berkontrak sebagaimana yang diatur dalam Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata. Kebebasan tersebut dibatasi oleh tiga hal yaitu tidak dilarang oleh undang-undang, tidak bertentangan dengan kepentingan umum, dan tidak bertentangan dengan kesusilaan.
Sri Soedewi Masjchun Sofwan dalam bukunya meguraikan tujuh hal yang termuat dalam isi perjanjian pemborongan pada umumnya, yaitu :66
(a) Luasnya pekerjaan yang harus dilaksanakan dan memuat uraian-uraian tentang pekerjaan dan syarat-syarat pekerjaan yang disertai dengan gambar (bestek) dilengkapi dengan uraian tentang bahan material, alat-alat dan tenaga kerja yang diperlukan;
66
(b) Penentuan tentang harga pemborongan;
(c) Mengenai jangka waktu penyelesaian pekerjaan; (d) Mengenai sanksi dalam hal terjadi wanprestasi; (e) Tentang risiko dalam hal terjadi overmacht; (f) Penyelesaian jika terjadi perselisihan;
(g) Hak dan kewajiban para pihak dalam perjanjian pemborongan.
Dalam Bab IIA angka 10 Peraturan Kepala LKPP Nomor 14 Tahun 2012 tentang Petunjuk Teknis Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012 ditentukan bahwa isi perjanjian pemborongan harus memuat hal-hal sebagai berikut :
1) Pernyataan bahwa para pihak telah sepakat atau setuju untuk mengadakan kontrak mengenai objek yang dikontrakkan sesuai dengan jenis pekerjaannya.
2) Pernyataan bahwa para pihak telah menyetujui besarnya harga kontrak. Harga yang disepakati dalam kontrak harus ditulis dengan angka dan huruf, serta rincian sumber pembiayaannya.
3) Pernyataan bahwa ungkapan-ungkapan dalam perjanjian harus mempunyai arti dan makna yang sama seperti yang tercantum dalam kontrak.
4) Pernyataan bahwa kontrak yang dibuat tersebut meliputi beberapa dokumen dan merupakan satu kesatuan yang disebut kontrak.
5) Pernyataan bahwa apabila terjadi pertentangan antara ketentuan yang ada dalam dokumen-dokumen kontrak maka yang urutannya lebih dulu sesuai dengan hierarkinya.
6) Pernyataan mengenai persetujuan para pihak untuk melaksanakan kewajiban masing-masing, yaitu pihak pertama membayar harga yang tercantum dalam kontrak dan pihak kedua melaksanakan pekerjaan yang diperjanjikan dalam kontrak.
7) Pernyataan mengenai jangka waktu pelaksanaan pekerjaan, yaitu kapan dimulai dan diakhirinya pekerjaan tersebut.
8) Pernyataan mengenai kapan mulai efektif berlakunya kontrak.
Adrian Sutedi mengemukakan bahwa dalam kontrak pemborongan pengadaan barang/jasa pemerintah sekurang-kurangnya memuat ketentuan sebagai berikut :67
a) Para pihak yang menandatangani kontrak meliputi nama, jabatan, dan alamat;
b) Pokok pekerjaan yang diperjanjikan dengan uraian yang jelas mengenai jenis dan jumlah barang yang diperjanjikan;
c) Hak dan kewajiban para pihak yang terikat di dalam perjanjian; d) Nilai/harga kontrak pekerjaan, serta syarat-syarat pembayaran; e) Persyaratan serta spesifikasi teknis yang jelas dan tterperinci;
f) Tempat dan jangka waktu penyelesaian/penyerahan dengan disertai jadwal waktu penyelesaian/penyerahan yang pasti serta syarat-syarat penyerahannya;
g) Jaminan teknis/hasil pekerjaan yang dilaksanakan dan/atau ketentuan mengenai kelaikan;
67
Adrian Sutedi, Aspek Hukum Pengadaan Barang & Jasa dan Berbagai Permasalahannya, Sinar Grafika, Jakarta, 2012, hal. 73.
h) Ketentuan mengenai cidera janji dan sanksi dalam hal para pihak tidak memenuhi kewajibannya;
i) Ketentuan mengenai pemutusan kontrak secara sepihak; j) Ketentuan mengenai keadaan memaksa;
k) Ketentuan mengenai kewajiban para pihak dalam hal terjadi kegagalan dalam pelaksanaan pekerjaan;
l) Ketentuan mengenai perlindungan tenaga pekerja;
m) Ketentuan mengenai bentuk dan tanggung jawab gangguan lingkungan; n) Ketentuan mengenai penyelesaian perselisihan.
Hal-hal tersebut diatas merupakan ketentuan mengenai isi perjanjian pemborongan pengadaan barang dan jasa pemerintah. Dalam hal lembaga non pemerintah (KONI, PMI dan sebagainya) yang mendapat hibah dalam bentuk uang atau transfer dana maka pengadaan dilakukan sendiri oleh lembaga non pemerintah seperti swakelola kepada kelompok masyarakat. Pengadaan tersebut dapat dilakukan dengan membuat pedoman pelaksanaan sendiri dengan mengikuti prinsip pengadaan yaitu efisien, terbuka dan kompetitif. Mengingat lembaga non pemerintah bukan merupakan instansi pemerintah maka anggota kelompok kerja (panitia pengadaan) tidak diwajibkan memenuhi persyaratan sertifikasi keahlian pengadaan (Mudjisantosa, 2013).
D. Pihak-Pihak dalam Perjanjian Pemborongan
Secara sederhana dalam perjanjiaan pemborongan yang diatur dalam Pasal 1601 b dinyatakan bahwa pihak yang terlibat dalam suatu perjanjian pemborongan pada umumnya hanya ada dua, yaitu pihak yang memborongkan dan pihak
pemborong. Namun dalam praktiknya tidak demikian, dengan para pihak mengikatkan diri dalam perjanjian pemborongan maka secara tidak langsung juga ada pihak lain yang terikat dengan perjanjian tersebut, yaitu :68
1. Prinsipal (bouwheer/aanbestender/kepala kantor/ satuan kerja/ pemimpin proyek/pemberi tugas;
2. Pemborong (rekanan, annamar, kontraktor); 3. Perencana; dan
4. Pengawas.
Berbeda dengan pengadaan barang dan jasa pada umumnya, para pihak dalam perjanjian pemborongan pengadaan barang/jasa pemerintah diatur dalam Pasal 7 sampai dengan Pasal 21 Peraturan Presiden Nomor 54 tahun 2010, pihak-pihak yang dimaksud yaitu :
a. Pengguna Angggaran
Pengguna Anggaran (PA) adalah pejabat yang memiliki kewenangan dalam penggunaan anggaran Kementrian/ Lembaga/Satuan Perangkat Daerah atau Pejabat yang disamakan pada institusi pengguna APBN/APBD.
b. Kuasa Pengguna Anggaran
Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) adalah pejabat yang ditetapkan oleh PA untuk menggunakan APBN atau ditetapkan oleh Kepala Daerah untuk menggunakan APBD.
c. Pejabat Pembuat Komitmen
68
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) adalah pejabat yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pengadaan barang/jasa. PPK bersama-sama dengan pemborong menandatangani kontrak/SPK yang merupakan bukti atas perjanjian yang dibuat oleh kedua pihak, dan kemudian bertanggung jawab secara penuh terhadap pelaksanaan kontrak tersebut.
d. Unit Layanan Pengadaan/Pejabat Pengadaan
Unit Layanan Pengadaan (ULP) adalah unit organisasi K/L/D/I yang berfungsi melaksanakan pengadaan barang/jasa yang bersifat permanen, dapat berdiri sendri atau melekat pada unit yang telah ada. Sedangkan Pejabat Pengadaan adalah personil yang ditujukan untuk melaksanakan pengadaan langsung.
e. Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan
Pania/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan adalah panitia/pejabat yang ditetapkan oleh PA/KPA untuk bertugas memeriksa dan menerima hasil pekerjaan.
f. Penyedia Barang/Jasa
Penyedia barang/jasa adalah badan usaha atau orang perseorangan yang menyediakan barang/pekerjaan/konstruksi/jasa konsultasi/ jasa lainnya. Dalam Pasal 19 Ayat (1) diatur bahwa dalam melaksanakan pekerjaannya penyedia barang/jasa wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1) memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan untuk
2) memiliki keahlian, pengalaman, kemampuan teknis dan manajerial untuk menyediakan barang/jasa;
3) memperoleh paling kurang satu pekerjaan sebagai penyedia barang/jasa dalam kurun waktu empat tahun terakhir, baik di lingkungan pemerintah maupun swasta, termasuk pengalaman subkontrak;
4) ketentuan sebagaimana dimaksud pada huruf c, dikecualikan bagi penyedia barang/jasa yang baru berdiri kurang dari tiga tahun;
5) memiliki sumber daya manusia, modal, peralatan, dan fasilitas lain yang diperlukan dalam pengadaan barang/jasa;
6) dalam hal penyedia barang/jasa akan melakukan kemitraan, penyedia barang/jasa harus mempunyai perjanjian kerja sama operasi/kemitraan yang memuat persentase kemitraan dan perusahaan yang mewakili kemitraan tersebut;
7) memiliki kemampuan pada bidang pekerjaan yang sesuai untuk usaha mikro, usaha kecil dan koperasi kecil serta kemampuan pada subbidang pekerjaan yang sesuai untuk usaha non-kecil;
8) memiliki kemampuan dasar untuk usaha non-kecil kecuali untuk pengadaan barang dan jasa konsultansi;
9) khusus untuk pengadaan pekerjaan konstruksi dan jasa lainnya harus memperhitungkan sisa kemampuan paket (SKP);
10)tidak dalam pengawasan pengadilan, tidak pailit, kegiatan usahanya tidak sedang dihentikan dan/atau direksi yang bertindak untuk dan atas
nama perusahaan tidak sedang dalam menjalani sanksi pidana, yang dibuktikan dengan surat pernyataan yang ditandatangani penyedia barang/jasa;
11)sebagai wajib pajak sudah memiliki nomor pokok wajib pajak (NPWP) dan telah memenuhi kewajiban perpajakan tahun terakhir (SPT) tahunan serta memiliki laporan bulanan PPh Pasal 21, PPh Pasal 23 (bila ada transaksi), PPh Pasal 25 sampai dengan Pasal 29 dan PPN (bagi pengusaha kena pajak) paling kurang tiga bulan terakhir dalam tahun berjalan;
12)secara hukum mempunyai kapasitas untuk mengikatkan diri dalam kontrak;
13)tidak masuk dalam daftar hitam;
14)memiliki alamat tetap dan jelas serta dapat dijangkau dengan jasa pengiriman;
15)menandatangani pakta integritas.
Hal-hal yang diatur mengenai para pihak dalam perjanjian pemborongan Pada Pasal 7 sampai dengan Pasal 21 Peraturan Presiden Nomor 54 tahun 2010 adalah hal-hal mengenai fungsi, tugas dan kewenangan, hubungan kerja (koordinasi), persyaratan jabatan, dan hal-hal yang dilarang untuk dilakukan oleh pihak-pihak yang bersangkutan, baik dari pihak institusi pemerintah maupun dari pihak penyedia barang/jasa.
Dalam perjanjian pemborongan ada kemungkinan dimana yang terlibat dalam perjanjian tersebut hanya pihak yang memborongkan dengan pihak pemborong.
Hal ini terjadi pada situasi dimana pihak perencana merupakan anggota (bagian) dari pihak pemborong, atau pihak pengawas ditunjuk oleh pihak yang memborongkan atau bahkan karena baik pihak yang memborongkan, pemborong, perencana dan pengawas, berada dalam satu pihak yang sama yang disebut dengan swakelola (eigenbeher). Swakelola merupakan istilah yang lazim terdapat dalam pemborongan pekerjaan pemerintah. Menurut Pasal 1 angka 20 Peraturan Presiden Nomor 54 tahun 2010 swakelola adalah pengadaan barang/jasa dimana pekerjaannya dilaksanakan dan/atau diawasi sendiri oleh kementerian/ lembaga/satuan kerja perangkat daerah/institusi lainnya sebagai penanggung jawab anggaran, instansi pemerintah lain dan/atau kelompok masyarakat.
E. Prosedur Perjanjian Pemborongan
Pengadaan barang dan jasa merupakan upaya yang dilakukan untuk mendapatkan atau mewujudkan barang dan jasa yang diinginkan, yang kerap dilakukan baik oleh pemerintah maupun perusahaan swasta. Meskipun demikian, pengadaan barang dan jasa pemerintah dengan pengadaan barang dan jasa perusahaan swasta adalah berbeda. Tidak seperti perusahaan swasta yang menggunakan dana pribadi, pengadaan barang dan jasa pemerintah dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Propinsi, dan APBD Kabupaten/Kota yang sebagian besar berasal dari pajak yang dibayar oleh rakyat. Sehingga prosedur pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah harus dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Berpedoman pada Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dan perubahannya yaitu Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012, maka prosedur perjanjian pemborongan dalam pengadaan barang/jasa pemerintah terdiri atas tiga tahap, yaitu tahap persiapan, tahap pemilihan penyedia barang/jasa dan tahap pelaksanaan kontrak, yang diuraikan sebagai berikut:
1. Tahap Persiapan
a. Perencanaan pemilihan penyedia barang/jasa, menurut Pasal 34 Ayat (2) Peraturan Presiden Nomor 54 tahun 2010 dilakukan oleh PPK dan/atau Kelompok Kerja ULP/Pejabat Pengadaan. Selanjutnya dalam Ayat (3) dinyatakan bahwa perencanaan pemilihan peyedia barang/jasa dilakukan dengan:
1) menyesuaikan dengan kondisi nyata di lokasi/lapangan pada saat akan melaksanakan pemilihan penyedia barang/jasa;
2) mempertimbangkan kepentingan masyarakat;
3) mempertimbangkan jenis, sifat dan nilai Barang/Jasa serta jumlah Penyedia Barang/Jasa yang ada; dan
4) memperhatikan ketentuan tentang pemaketan yang ada.
b. Pemilihan sistem pengadaan, menurut Pasal 35 Ayat (1) Peraturan Presiden Nomor 70 Nomor 2012 dilakukan oleh Kelompok Kerja ULP/Pejabat Pengadaan. Dalam Ayat (2) dinyatakan bahwa pemilihan pernyedia barang dilakukan dengan:
1) Pelelangan umum, adalah metode pemilihan penyedia barang/pekerjaan konstruksi/jasa lainnya untuk semua pekerjaan yang dapat diikuti oleh semua penyedia barang/pekerjaan konstruksi/jasa lainnya yang memenuhi syarat;
2) Pelelangan terbatas, adalah metode pemilihan penyedia barang/pekerjaan konstruksi dengan jumlah penyedia yang mampu melaksanakan diyakini terbatas dan untuk pekerjaan yang kompleks;
3) Pelelangan sederhana, adalah metode pemilihan penyedia barang/jasa lainnya untuk pekerjaan yang bernilai paling tinggi Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah);
4) Penunjukan langsung, penunjukan langsung adalah metode pemilihan penyedia barang/jasa dengan cara menunjuk langsung satu penyedia barang/jasa;
5) Pengadaan langsung, adalah pengadaan barang/jasa langsung kepada penyedia barang/jasa, tanpa melalui pelelangan/ seleksi/penunjukan langsung;
6) Kontes, adalah metode pemilihan Penyedia Barang yang memperlombakan barang/benda tertentu yang tidak mempunyai harga pasar dan yang harga/biayanya tidak dapat ditetapkan berdasarkan Harga Satuan.
c. Penetapan metode penilaian, menurut Pasal 56 Ayat (1) Peraturan Presiden Nomor 70 Nomor 2012 kualifikasi adalah penilaian
kompetensi dan kemampuan usaha serta persyaratan tertentu oleh Kelompok Kerja ULP/Pejabat Pengadaan. Dalam Ayat (2) dinyatakan bahwa kualifikasi dapat dilakukan dengan dua cara, yang diuraikan dalam Ayat (4) dan Ayat (9), yaitu:
1) Prakualifikasi, merupakan proses penilaian kualifikasi yang dilakukan sebelum pemasukan penawaran, dilaksanakan untuk pengadaan sebagai berikut:
a) Pemilihan penyedia jasa konsultansi (dikecualikan untuk pengadaan langsung barang/jasa lainnya);
b) Pemilihan penyedia barang/pekerjaan konstruksi/jasa lainnya yang bersifat kompleks melalui pelelangan umum; c) Pemilihan penyedia barang/pekerjaan konstruksi/jasa
lainnya yang menggunakan metode penunjukan langsung, kecuali untuk penanganan darurat; atau
d) Pemilihan penyedia melalui pengadaan langsung.
2) Pascakualifikasi, merupakan proses penilaian kualifikasi yang dilakukan setelah pemasukan penawaran, dilaksanakan untuk pengadaan sebagai berikut:
a) Pelelangan Umum, kecuali Pelelangan Umum untuk Pekerjaan Kompleks;
b) Pelelangan sederhana/pemilihan langsung; dan c) Pemilihan Penyedia Jasa Konsultansi Perorangan.
d. Penyusunan jadwal, menurut Pasal 59 Ayat (1) Peraturan Presiden Nomor 54 Nomor 2010 pemilihan penyedia barang/jasa dilakukan oleh Kelompok Kerja ULP/Pejabat Pengadaan. Dalam Ayat (2) dinyatakan bahwa penyusunan jadwal pelaksanaan pengadaan harus memberikan alokasi waktu yang cukup untuk semua tahapan proses pengadaan, termasuk waktu untuk:
1) pengumuman pelelangan/seleksi;
2) pendaftaran dan pengambilan dokumen kualifikasi atau dokumen pengadaan;
3) pemberian penjelasan;
4) pemasukan dokumen penawaran; 5) evaluasi penawaran;
6) penetapan pemenang; dan
7) sanggahan dan sanggahan banding.
e. Penyusunan Dokumen Pengadaan Barang/Jasa, dimana PPK menetapkan rancangan Surat Perintah Kerja (SPK)/Surat Perjanjian, termasuk syarat-syarat umum kontrak, syarat-syarat khusus kontrak, spesifikasi teknis/Kerangka Acuan Kerja (KAK), dan/atau gambar, daftar kuantitas dan harga, dan dokumen lainnya oleh Kelompok Kerja ULP/Pejabat Pengadaan.
f. Penetapan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) barang/jasa, menurut Pasal 66 Ayat (1) Peraturan Presiden Nomor 70 Nomor 2012 dilakukan oleh PPK. Dalam Ayat (4) dinyatakan bahwa HPS digunakan sebagai:
1) alat untuk menilai kewajaran penawaran termasuk rinciannya; 2) dasar untuk menetapkan batas tertinggi penawaran yang sah:
a) untuk Pengadaan Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya, kecuali Pelelangan yang menggunakan metode dua tahap dan Pelelangan Terbatas dimana peserta yang memasukkan penawaran harga kurang dari tiga; dan
b) untuk Pengadaan Jasa Konsultansi yang menggunakan metode Pagu Anggaran.
3) dasar untuk menetapkan besaran nilai Jaminan Pelaksanaan bagi penawaran yang nilainya lebih rendah dari 80% (delapan puluh perseratus) nilai total HPS.
2. Tahap Pemilihan Penyedia Barang/Jasa
Dalam pelaksanaan pemilihan penyedia barang masing-masing metode pemilihan penyedia barang memiliki proses yang berbeda-beda. Untuk proses pemilihan penyedia dengan metode pengadaan langsung adalah sebagai berikut:
a. Pejabat Pengadaan mengundang calon Penyedia yang diyakini mampu untuk menyampaikan penawaran administrasi, teknis, dan harga. Undangan dilampiri dengan spesifikasi teknis dan/atau gambar serta dokumen-dokumen lain yang menggambarkan jenis pekerjaan yang dibutuhkan.
b. Penyedia yang diundang menyampaikan penawaran administrasi, teknis, dan harga secara langsung sesuai jadwal yang telah ditentukan dalam undangan.
c. Pejabat Pengadaan membuka penawaran dan mengevaluasi
administrasi dan teknis dengan sistem gugur, melakukan klarifikasi teknis dan negosiasi harga untuk mendapatkan Penyedia dengan harga yang wajar serta dapat dipertanggungjawabkan.
d. Negosiasi harga dilakukan berdasarkan HPS.
e. Pejabat Pengadaan membuat Berita Acara Hasil Pengadaan Langsung yang terdiri dari untuk kemudian disampaikan kepada PPK.