• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.3 Kemiskinan Nelayan

2.3.3 Jenis-Jenis Kemiskinan

Mengemukakan, dalam membicarakan masalah kemiskinan, kita akan menemui beberapa istilah kategoritatif kemiskinan seperti kemiskinan absolut, kemiskinan relative, kemiskinan structural, kemiskinan situsional (natural) dan kemiskinan kultural.

1. Kemiskinan Absolut

Seseorang dapat dikatakan miskin jika tidak mampu memenuhi kebutuhan minimum hidupnya untuk memelihara fisiknya agar dapat bekerja penuh dan efisien orang yang dalam kondisi ini dikategorikan dalam jenis kemiskinan absolut. Kemiskinan ini sangat ditentukan oleh nutrisi yang ditentukan oleh nutrisi yang dibutuhkan setiap orang. nutrisi tersebut akan mempengaruhi jumlah kalori yang dibutuhkan terutama untuk dapat bekerja. Di Indonesia garis batas minimum kebutuhan hidup yang ditentukan BPS sebesar 2.100 kalori per tahun.

2. Kemiskinan Reltif

Kemiskinan relative muncul jika kondisi seseorang atau sekelompok orang dibandingkan dengan kondisi orang lain. Misalnya, seseorang adalah orang yang sangat kaya di desanya, tetapi setelah dibandingkan dengan orang-orang dikota ternyata seseorang tersebut tergolong miskin atau sebaliknya.

3. Kemiskinan Struktural

Kemiskinan structural lebih menunjuk kepada orang atau sekelompok orang yang telah miskin karena struktur masayarakatnya yang timpang, tidak menguntungkan bagi golongan yang lemah. Mereka tetap miskin atau mmenjadi miskin bukan karena tidak mau berusaha memperbaiki nasibnya tetapi karena usaha yang mereka lakukan selalu kandas dan terbentur pada sistem atau struktur masayarakat yang berlaku.

4. Kemiskinan Situsional atau Kemiskinan Natural

Kemiskinan struktural/natural terjadi bila seseorang atau sekelompok orang tinggal di daerah-daerah yang kurang menguntungkan dan oleh karenanya mereka menjadi miskin. Dengan kata lain, kemiskinan itu terjadi sebagai akibat dari situasi yang tidak menguntungkan seperti kemarau panjang, tanah tandus, gagal panen atau bencana alam.

5. Kemiskinan Kultural

Kemidkinan penduduk terjadi karena kultural masyarakatnya. Masayarakat rela dengan keadaan miskinnya karena diyakini sebagai upaya untuk membebaskan diri dari sikap serakah yang pada gilirannya akan membawa kepada ketamakan. Misalnya, masyarakat yang menganut pietisme-dualistis mempunyai anggapan bahwa manusia terdiri dari dua bagian

yang saling bertentangan, yaitu jiwa (dianggap suci) dan raga (dianggap hina). Sementara itu, mereka juga beranggapan bahwa keselamatan manusia sangat ditentukan oleh pietas, yaitu kesalehan yang menolak kehinaan (Siagian, 2012:45-46).

2.3.4 Faktor-Faktor Penyebab Kemiskinan Nelayan

Menurut Kusnadi (2002:2) kemiskinan nelayan disebabkan oleh faktor-faktor kompleks yang saling terkait satu sama lain. Kesulitan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan tradisional dipengaruhi oleh sejumlah faktor internal dan eksternal. Adapun faktor-faktor tersebut adalah:

1. Faktor internal

a. Keterbatasan kualitas sumber daya manusia

b. Keterbatasan kemampuan modal usaha dan teknologi penangkapan c. Hubungan kerja dalam organisasi penangkapan yang seringkali kurang

menguntungkan buruh

d. Kesulitan melakukan diversifikasi usaha penangkapan e. Ketergantungan yang sangat tinggi terhadap okupasi melaut

f. Gaya hidup yang dipandang boros, sehingga kurang berorientasi ke masa depan

2. Faktor eksternal

a. Kebijakan pembangunan perikanan yang lebih beorientasi kepada produktivitas untuk menunjang pertumbuhan ekonomi nasional dan parsial

b. Sistem pemasaran hasil perikanan yang lebih menguntungkan pedagang perantara

c. Kerusakan akan ekosistem pesisir dan laut karena pencemaran dari wilayah darat, praktek penangkapan ikan dengan bahan kimia, perusakan terumbu karang, dan konservasi hutan bakau di kawasan pesisir

d. Penggunaan peralatan tangkap ikan yang tidak ramah lingkungan e. Terbatasnya teknologi pengolahan pasca panen

f. Terbatasnya teknologi pengolahan pasca panen

g. Terbatsnya peluang kerja di sektor non perikanan yang tersedia di desa nelayan

h. Kondisi alam dan fluktuasi musim yang tidak memungkinkan nelayan melaut sepanjang tahun

i. Isolasi geografis desa nelayan yang menggangu mobilitas barang, jasa modal, dan manusia.

Faktor-faktor tersebut tidak hanya berkaitan dengan fluktuasi musim ikan, keterbatasan sumber daya manusia, modal serta akses, jaringan perdagangan ikan yang eksploitatif terhadap nelayan sebagai produsen, tetapi juga disebabkan oleh dampak negatif modernisasi perikanan atau revolusi biru yang mendorong terjadinya pengurasan sumber daya laut secara berlebihan. Proses demikian masih terus berlangsung hingga sekarang dan dampak lebih lanjut yang sangat terasakan oleh nelayan adalah semakin menurunnya tingkat pendapatan mereka dan sulitnya memperoleh hasil tangkapan. Hasil-hasil studi tentang tingkat kesejahteraan hidup di kalangan nelayan telah menunjukan bahwa kemiskinan dan kesenjangan sosial

ekonomi atau ketimpangan pendapatan merupakan persoalan krusial yang dihadapi dan tidak mudah diatasi.

2.3.5 Ruang Lingkup Kemiskinan Nelayan

Dilihat dari lingkupnya, kemiskinan nelayan terdiri atas kemiskinan prasarana dan kemiskinan keluarga. Kemiskinan prasarana dapat diindikasikan pada ketersediaan prasarana fisik di desa-desa nelayan, yang pada umumnya masih sangat minim, seperti tidak tersediannya air bersih, jauh dari pasar, dan tidak adanya akses untuk mendapatkan bahan bakar yang sesuai dengan harga standar. Kemiskinan prasarana itu secara tidak langsung juga memiliki andil bagi munculnya kemiskinan keluarga. Kemiskinan prasarana juga dapat mengakibatkan keluarga yang berada pada garis kemiskinan (near poor) bisa merosot ke dalam kelompok keluarga miskin (Mulyadi, 2005:48-49).

Sesungguhnya, ada dua hal utama yang terkandung dalam kemiskinan (Soetrisno, dalam Mulyadi, 2005:49), yaitu kerentanan dan ketidakberdayaan.

Dengan kerentanan yang di alami, orang miskin akan mengalami kesulitan untuk menghadapi situasi darurat.

2.4 Keluarga

2.4.1 Pengertian Keluarga

Keluarga merupakan kelompok primer yang terpenting dalam masyarakat secara historis, keluarga terbentuk paling tidak dari satuan yang merupakan organisasi terbatas, dan mempunyai ukuran yang minimum, terutama pihak-pihak pada awalnya mengadakan suatu ikatan.

Keluarga adalah bagian dari masyarakat yang perannya sangat penting untuk membentuk kebudayaan yang sehat. Dari keluarga inilah pendidikan kepada individu dimulai dan dari keluarga inilah akan tercipta tatanan masyarakat yang baik, sehingga untuk membangun suatu kebudayaan maka seyogyanya dimulai dari keluarga. Dengan kata lain, keluarga tetap merupakan bagian dari masyarakat total yang lahir dan berada didalamnya, yang secara berangsur-angsur akan melepaskan ciri-ciri tersebut karena tumbuhnya mereka kearah pendewasaan.

Keluarga mempunyai tujuh sifat khusus, yaitu:

a. Universalitas, merupakan bentuk yang universal dari seluruh organisasi sosial.

b. Dasar emosional, merupakan ras akasih sayang, kecintaan sampai kebanggaan suatu ras.

c. Pengaruh yang normatif, keluarga merupakan lingkungan sosial yang pertama-tama bagi seluruh bentuk hidup yang tertinggi, dan membentuk watak daripada individu.

d. Besarnya keluarga yang terbatas.

e. Kedudukan yang sentral dalam struktur sosial.

f. Pertanggungjawaban daripada anggota-anggota.

g. Adanya aturan-aturan sosial yang homogeny (Ahmadi, 2009:222).

2.4.2 Ciri-Ciri Keluarga

Menurut Robert Mac Iver dan Charles Horton (dalam Khairuddin, 1997:5) ciri-ciri keluarga adalah:

a. Keluarga merupakan hubungan perkawinan

b. Keluarga berbentuk suatu kelembagaan yang berkaitan dengan hubungan perkawinan yang sengaja dibentuk atau dipelihara.

c. Keluarga mempunyai suatu system tata nama, termasuk perhitungan garis keturunan.

d. Keluarga mempunyai fungsi ekonomi yang dibentuk oleh anggota-anggotannya berkaitan dengan kemampuan untuk mempunyai keturunan dan membesarkan anak.

e. Keluarga merupakan tempat tinggal bersama, rumah atau rumah tangga.

2.4.3 Fungsi Keluarga

Fungsi keluarga merupakan hasil atau konsekuensi dari struktur keluarga atau sesuatu tentang apa yang dilakukan keluarga. Terdapat beberapa fungsi keluarga menurut Friedman (1998) yaitu:

a. Fungsi Afektif

Fungsi afektif merupakan fungsi keluarga dalam memenuhi kebutuhan pemeliharaan kepribadian dari anggota keluarga. Merupakan respon dari keluarga terhadap kondisi dan situasi yang dialami tiap anggota keluarga baik senang maupun sedih, dengan melihat bagaimana cara keluarga mengekspresikan kasih sayang.

b. Fungsi Sosialisasi

Fungsi sosialisasi tercermin dalam melakukan pembinaan sosialisasi pada anak, membentuk nilai dan norma yang diyakini anak, memberikan bataan perilaku yang boleh dan tidak boleh pada anak, meneruskan nilai-nilai budaya keluarga. Bagaimana keluarga produktif terhadap sosial dan

bagaimana keluarga memperkenalkan anak dengan dunia luar dengan belajar berdisiplin, mengenal budaya dan norma melalui hubungan interaksi dalam keluarga sehingga mampu berperan dalam masyarakat.

c. Fungsi Perawatan Kesehatan

Fungsi perawatan kesehatan keluarga merupakan fungsi keluarga dalam melindungi keamanan dan kesehatan seluruh anggota keluarga serta menjamin pemenuhan kebutuhan pengembangan fisik, mental, dan spiritual dengan cara memelihara dan merawat anggota keluarga serta mengenali kondisi sakit tiap anggota keluarga.

d. Fungsi Ekonomi

Fungsi ekonomi, untuk memenuhi kebutuhan keluarga seperti sandang, pangan, papan, dan kebutuhan lainnya melalui keefektifan sumber dana keluarga. Mencari sumber penghasilan guna memenuhi kebutuhan keluarga pengaturan penghasilan keluarga, menabung untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

e. Fungsi Biologis

Fungus biologis, bukan hanya ditunjukan untuk meneruskan keturunan, tetapi untuk memelihara dan membesarkan anak untuk kelanjutan generasi selanjutnya.

f. Fungsi Psikologis

Fungsi psikologis, terlihat bagaimana keluarga memberikan kasih sayang dan rasa aman, memberikan perhatian diantara anggota keluarga, membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga dan memberikan identitas keluarga.

g. Fungsi Pendidikan

Fungsi pendidikan diberikan keluarga dalam rangka memberikan pengetahuan, keterampilan, membentuk perilaku anak, mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa, mendidik anak sesuai dengan tingkatan perkembangannya (dalam Achjar, 2010:5-6).

2.4.4 Peran Keluarga

Peran keluarga sebagai suatu tempat sering dicampur dengan pengertian rumah tangga. Pengertian rumah tangga pada umumnya mengacu pada kategori spasial dimana sekolompok orang terikat dalam satu tempat yang disebut rumah.

Meskipun keluarga memiliki fungsi tempat seperti perlindungan bagi orang tua dan anak-anak, tetapi sekarang banyak keluarga yang lebih mirip berbentuk rumah tangga. Peran tempat yang mirip ajang bisnis didefenisikan sebagai “satu dapur”

pada sebuah keluarga berkaitan erat dengan fungsinya sebagai suatu proses. Peran ini sesungguhnya didominasi oleh sosialisasi anak dalam rangka adopsi nilai-nilai orangtua (Soekanto, 2009:23).

Keluarga terbagi atas beberapa bentuk, salah satunya adalah keluarga batih yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak yang belum menikah. Keluarga batih merupakan unit pergaulan hidup yang terkecil dalam masyarakat. Dalam keluarga peran produksi, reproduksi, distribusi, transisi dan konsumsi dilakukan sebagai hasil dari kerja sama antara laki-laki (suami) dan istri (perempuan) dengan pembagian peran yang seimbang.

2.5 Pemenuhan Kebutuhan Keluarga

Keluarga atau kelompok masyarakat dapat digolongkan memiliki sosial ekonomi rendah, sedang, dan tinggi. Berdasarkan hal tersebut dapat mengklasifikasikan keadaan sosial ekonominya yang dapat dijabarkan sesuai dengan indicator sebagai berikut:

1. Pangan

Menurut Peraturan Pemerintah RI nomor 28 tahun 2004 pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati, dan air, baik yang diolah maupun yang tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan dan atau pembuatan makanan dan minuman.

2. Sandang

Sandang adalah pakaian manusia. Pakaian menjadi kebutuhan primer, dan meskipun manusia dapat hidup tanpa pakaian, tetapi dikarenakan manusia merupakan makhluk sosial yang hidup dalam masyarakat sehingga pakaian adalah hal yang penting dalam kesehariannya dilihat dari kemampuan manusia membeli pakaian.

3. Pendidikan

Menurut UU RI No. 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi

dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan diselenggarakan melalui jalur pendidikan sekolah (pendidikan formal) dan jalur pendidikan luar sekolah (pendidikan informal). Jalur pendidikan sekolah terdapat jenjang sekolah yang terdiri dari pendidikan prasekolah, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.

4. Kesehatan

Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi.

Pemeliharaan kesehatan adalah upaya penanggulangan dan pencegahan dari berbagai macam gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan dan perawatan termasuk kehamilan dan persalinan. Pada dasarnya kesehatan itu meliputi tiga aspek, antara lain:

a. Kesehatan fisik, terwujud apabila seseorang tidak merasa dan mengeluh sakit.

b. Tidak adanya keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit.

c. Semua organ berfungsi normal atau tidak mengalami sakit.

5. Perumahan

Menurut UU No. 1 tahun 2011 pasal 1 ayat 1 tentang Perumahan dan Kawasan Pemukiman. Perumahan dan kawasan pemukiman adalah satu kesatuan system yang terdiri atas pembinaan, penyelenggaraan perumahan, penyelenggaraan kawasan pemukiman, pemeliharaan dan perbaikan, pencegahan

dan peningkatan kualitas terhadap perumahan kumuh dan pemukiman kumuh, penyediaan tanah pendanaan dan sistem pembiayaan, serta peran masyarakat.

Turner (dalam Jenie, 2001:45), mendefiniskan tiga fungsi utama yang terkandung dalam sebuah rumah, yaitu:

a. Sebagai penunjang identitas keluarga (identity), yang diwujudkan pada kualitas hunian atau perlindungan sosial budaya yang diberikan oleh rumah.

b. Sebagai penunjang kesehatan (opportunity) keluarga untuk berkembang dalam kehidupan sosial budaya dan ekonomi.

Sebaagai penunjang rasa aman (security) dalam arti terjaminnya keadaan keluarga di masa depan setelah mendapatkan rumah.

2.6 Kesejahteraan Sosial

2.6.1 Pengertian Kesejahteraan Sosial

Kesejahteraan sosial berasal dari kata “sejahtera”. Sejahtera ini mengandung pengertian dari bahasa Sansekerta “catera”yang berarti payung.

Dalam konteks ini, kesejahteraan yang terkandung dalam arti “catera” adalah orang yang sejahtera yaitu orang yang dalam hidupnya bebas dari kemiskinan, kebodohan, ketakutan, atau kekhawatiran sehingga hidupnya aman dan tentram, baik lahir maupun batin. Sedangkan sosial berasal dari kata “socius” yang berarti kawan, teman, dan kerja sama. Orang yang dikatakan sosial adalah orang yang dapat berelasi dengan orang lain dan lingkungannya dengan baik. Jadi, kesejahteraan sosial dapat diartikan sebagai suatu kondisi dimana orang dapat memenuhi kebutuhannya dan dapat berelasi dengan lingkungannya secara baik.

Menurut Undang-Undang No. 11 Tahun 2009 tentang kesejahteraan sosial menyatakan bahwa kesejahteraan sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya.

Kesejahteraan mencakup pengertian yang luas, meliputi keadaan baik dan sehat atau sejahtera dan kepentingan sebagian besar manusia termasuk kebutuhan fisik, mental, perasaan, spiritual, dan ekonomi. Begitu pula kesejahteraan sosial meliputi lembaga-lembaga utama, kebijaksanaan, program dan proses-proses yang berhubungan dengan penanggulangan dan pencegahan masalah-masalah sosial, perkembangan sumber-sumber manusiawi dan peningkatan taraf hidup.

Kesejahteraan sosial dapat dilihat sebagai tujuan yaitu keadilan sosial, kemanusiaan dan pengawasan sosial.

2.6.2 Tujuan Kesejahteraan Sosial

Kesejahteraan Sosial mempunyai tujuan dalam rangka membantu lansia dalam meningkatkan kesejahteraan hidupnya , yaitu :

1. Untuk mencapai kehidupan yang sejahtera dalam arti tercapainya standar kehidupan pokok seperti sandang, perumahan, pangan, kesehatan dan relasi-relasi sosial yang harmonis dengan lingkungannya.

2. Untuk mencapai penyesuaian diri yang baik khususnya dengan masyarakat dan lingkungannya, misalnya dengan menggali sumber-sumber, dan mengembangkan taraf hidup yang memuaskan.

Selain itu, Schneiderman (1972) mengemukakan tiga tujuan utama dari sistem kesejahteraan sosial yang samapai tingkat tertentu tercermin dalam semua

program kesejahteraan sosial, yaitu pemeliharaan sistem, pengawasan sistem, dan perubahan sistem.

1. Pemeliharaan Sistem

Pemeliharaan dan menjaga keseimbangan atau kelangsungan keberadaan nilai-nilai dan norma sosial serata aturan-aturan kemasyarakatan dalam masyarakat, termasuk hal-hal yang bertalian denagn defenisi makna dan tujuan hidup, motivasi bagi kelangsungan hidup seorang atau kelompok, norma-norma yang menyangkut pelaksanaan peranan anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua dan peranan pria dan wanita, norma-norma yang berhubungan dengan produksi dan distribusi barang dan jasa, norma-norma yang berhubungan dengan penyelesaian konflik dalam masyarakat.

2. Pengawasan Sistem

Melakukan pengawasan secara efektif terhadap prilaku yang tidak sesuai atau menyimpang dari nilai-nilai sosial.

3. Perubahan Sistem

Mengadakan perubahan ke arah berkembangnya suatu sistem yang lebih efektif bagi anggota masyarakat ( Fahruddin, 2012 : 10-12 ).

2.7 Konsep Penelitian

Kemiskinan pada umumnya digambarkan sebagai keadaan dimana kekurangan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok seperti pangan, pakaian, dan tempat tinggal. Persoalan kemiskinan ini lebih dipicu oleh banyaknya masyarakat yang masuk dalam kategori kemiskinan terselubung, dimana mereka tidak produktif dalam pekerjaannya (musiman). Sehingga banyak

keluarga Indonesia masih mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, sekalipun mereka dalam status dan posisi sedang bekerja. Hal tersebut menjadi faktor pendorong paling besar semua anggota keluarga termasuk suami, istri dan anak-anak harus berperan aktif dalam meningkatkan perekonomian keluarga. Terutama yang dialami oleh keluarga nelayan di Kampung Nelayan Seberang.

Harga kebutuhan-kebutuhan yang kian lama kian melonjak, ketidakcukupan pendapatan suami dalam memenuhi kebutuhan keluarga, ditambah lagi rendahnya pendidikan yang mereka miliki akhirnya membuat para perempuan atau ibu rumah tangga untuk bekerja.Istri nelayan di kampung nelayan seberang beranggapan, tidak hanya suami yang bekerja sebagai nelayan saja yang di jadikan sebagai pekerjaan menopang perekonomian keluarga tetapi mereka serta anak-anaknya juga ikut langsung terlibat dalam memenuhi kebutuhan keluarga.

Berbagai macam pekerjaan yang dilakukan istri dan anak nelayan dalam membantu memenuhi kebutuhan keluarga mereka, ada yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga, pegawai toko, buruh bangunan dan juga mengikuti pekerjaan sang ayah nya sebagai nelayan. Pekerjaan lain yang biasanya mereka lakukan oleh istri nelayan dan anak-anaknya ini antara lain mengolah hasil tangkapan laut yaitu mengolah ikan asin, mengolah terasi, mengolah udang menjadi udang manis dan menjual kembali hasil olahan tersebut atau pun hasil laut lainnya serta menjadi pedagang dengan membuka warung dan lain sebagainya.

Pekerjaan mengolah hasil tangkapan dari laut tersebut merupakan pekerjaan sampingan yang dilakukan oleh ibu rumah tangga di Kampung Nelayan Seberang untuk mendapatkan pendapatan tambahan selain pendapatan tetap yang diperoleh dari hasil pendapatan suami. Tidak hanya mengolah hasil tangkapan dari laut, mereka juga melakukan berbagai cara sebagai bentuk dari kontribusi mereka dalam meningkatkan penghasilan keluarga.

Kontribusi keluarga nelayan yang terdiri dari suami, istri, dan anak dapat membantu pendapatan ekonomi keluarga dalam pemenuhan kebutuhan keluarga, seperti halnya pengeluaran dalam bentuk kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan konsumsi. Hasil tangkapan yang diperoleh suami kemudian juga akan diolah oleh istri nelayan dan hasil penjualannya dapat di jadikan sebagai pendapatan tambahan dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga baik pemenuhan kebutuhan dasar berupa pangan, sandang, kesehatan, kebutuhan akan pendidikan anak, atau kebutuhan rumah.

Bagan Alur Pikir

Pendapatan Keluarga Nelayan

Kebutuhan Keluarga

1. Pangan 2. Sandang

3. Pendidikan Anak 4. Kesehatan 5. Perumahan

Kemiskinan

Pendapatan Tetap

Pendapatan Tambahan

2.8 Definisi Konsep

Konsep merupakan istilah khusus yang digunakn para ahli dalam upaya menggambarkan secara cermat fenomena sosial yang dikaji, untuk menghindari salah pengertian atas konsep-konsep yang akan dijadikan objek penelitian.

Defenisi konsep adalah pengertian yang terbatas dari satu konsep yang dianut dalam suatu penelitian (Siagian, 2011: 138). Karena kajian konsep itu sangat multidimensional dan abstrak maka diperlukan proses dan upaya penegasan dan pembatasan makna konsep dalam suatu penelitian yang disebut dengan defenisi konsep.

Hal ini menunjukan bahwa peneliti ingin mencegah salah pengertian atas konsep yang diteliti, maka peneliti membatasi konsep yang digunakan sebagai berikut:

1. Kontribusi dalam penelitian ini adalah sebuah keterlibatan yang dilakukan oleh seseorang yang kemudian memposisikan dirinya terhadap peran dalam keluarga sehingga memberikan dampak dalam pemenuhan kebutuhan keluarga.

2. Keluargaadalah kelompok primer, secara historis keluarga terbentuk paling tidak dari satuan yang merupakan organisasi terbatas, dan mempunyai ukuran yang minimum, terutama pihak-pihak yang pada awalnya mengadakan suatu ikatan. Dalam penelitian ini keluarga nelayan yaitu terdiri dari ayah, ibu dan anak.

3. Pemenuhan kebutuhan dalam penelitian ini adalah langkah atau cara yang di lakukan oleh keluarga nelayan dalam memenuhi kebutuhan keluarga.

Dalam pemenuhan kebutuhan keluarga, seluruh anggota keluarga turut berkontribusi misalnya kepala keluarga (suami) menangkap ikan dilaut, istri nelayan mengolah sebagian dari hasil tangkapan laut tersebut dan anak nelayan membantu menangkap ikan atau mengololah hasil tangkapan laut.

4. Kebutuhan Keluarga

Hal-hal yang harus dipenuhi oleh keluarga nelayan agar keluarga dapat berfungsi dengan baik. Kebutuhan tersebut terdiri dari sandang, pangan, kesehatan, kebutuhan pendidikan anak ataupun kebutuhan perumahan.

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Tipe Penelitian

Penelitian ini tergolong tipe penelitian deskriftif dengan mengggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan dengan tujuan menggambarkan dan mendeskripsikan objek dan fenomena yang diteliti. Termasuk di dalamnya bagaimana unsur-unsur yang ada dalam variabel penelitian itu berinteraksi satu sama lain dan apa pula produk interaksi yang berlangsung (Siagian, 2011:52). Melalui penelitian deskriptif ini, penulis ingin membuat gambaran secara menyeluruh bagaimana kontribusi keluarga nelayan terhadap pemenuhan kebutuhan keluarga di Kampung Nelayan Seberang.

3.2 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan di Kampung Nelayan Seberang Lingkungan XII, Kelurahan I, Kecamatan Medan Belawan. Kampung nelayan seberang ini merupakan wilayah pesisir dimana mayoritas penduduknya bekerja sebagai nelayan. Alasan peneliti memilih tempat penelitian ini adalah karena kampung nelayan seberang merupakan salah satu kampung yang cukup dekat dengan kota dan diduduki oleh masyarakat nelayan namun kehidupan masyarakatnya tergolong miskin.

3.3 Informan

Informan merupakan orang yang diperkirakan dapat memahami atau memberikan informasi, data ataupun fakta dari suatu objek penelitian. Subjek

penelitian yang telah tercermin dalam fokus penelitian ini selanjutnya akan menjadi informan penelitian yang diharapkan akan memberikan informasi yang diperlukan selama proses penelitian. Informan dalam penelitian ini terdapat tiga informan diantaranya:

1. Informan kunci, yaitu mereka yang mengetahui dan memiliki berbagai

1. Informan kunci, yaitu mereka yang mengetahui dan memiliki berbagai

Dokumen terkait