• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jenis-Jenis Perjanjian Menurut KUHPerdata

BAB III: BENTUK-BENTUK PERJANJIAN MENURUT KUHPerdata

B. Jenis-Jenis Perjanjian Menurut KUHPerdata

Untuk mengetahui dari jenis-jenis perjanjian, disini dalam KUHPerdata, khususnya dalam buku III (tiga) mengenai perikatan terdapat jenis-jenis perjanjian yaitu perjanjian bernama (nominaat) dan perjanjian tidak bernama (innominat).

1. Perjanjian bernama (nominaat) adalah perjanjian yang oleh undang-undang telah diberikan suatu nama khusus. Perjanjian bernama ini dalam KUHPerdata Pasal 1319 diatur bahwa semua persetujuan, baik yang mempunyai nama khusus, maupun yang tidak dikenal dengan suatu nama tertentu, tunduk pada peraturan-peraturan umum, yang termuat didalam bab ini dan bab yang lain.

Adapun jenis perjanjian yang dikenal dalam perjanjian bernama tersebut antara lain :

a. Perjanjian Jual Beli Berdasarkan, yaitu mengatakan bahwa suatu persetujuan dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu barang dan pihak lain untuk membayar harga yang telah dijanjikan. Dan dari ketentuan Pasal 1458 KUHPerdata menyatakan

80Fitria Rahmadani, “Kekuatan Hukum Perjanjian Lisan”, diakses dari http://www.msplawfirm.co.id/. pada tanggal 20 november 2019 pukul 20:45

55

bahwa jual beli dianggap sudah terjadi antara dua belah pihak seketika setelah mereka mencapai kata sepakat tentang barang dan harga, sekalipun barang itu belum diserahkan maupun harganya belum dibayar. Dari uraian diatas bahwa jual beli suatu perjanjian konsensual artinya ia sudah dilahirkan sebagai suatu perjanjian yang sah (mengikat, atau mempunyai kekuatan hukum) pada detik tercapainya yang sepakat antara penjual dan pembeli mengenai unsurunsur pokok yaitu barang dan harga, biarpun jual beli itu mengenai barang tidak bergerak.81

b. Perjanjian Tukar Menukar adalah persetujuan dimana kedua belah pihak berjanji untuk saling memberikan benda secara timbal balik. Mengenai perjanjian tukar menukar ini diatur dalam ketentuan Pasal 1541-1546 KUHPerdata. Pada Pasal 1543 KUHPerdata mengatakan bahwa jika seseorang pihak telah menerima barang tukaran dan pihak lain membuktikan bahwa barang yang diserahkan padanya adalah barang orang lain bukan kepunyaannya sendiri, pihak yang telah menerima barang tadi tidak dapat memaksa pihak lain untuk menerima barang tersebut, dan pihak yang menerima barang diwajibkan untuk mengembalikan barang yang sudah sempat diterimanya tadi. Dan Pasal 1544 KUHPerdata menjelaskan seseorang yang telah menerima tukaran barang dan kemudian dicabut dan diserahkan kepada pihak ketiga sebagai pemilik yang sebenarnya, dan pencabutan untuk pihak yang ketiga dilakukan atas dasar putusan hakim, dalam hal ini pihak yang kena cabut dapat bertindak

81Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

meminta ganti rugi dari pihak pemberi dan menuntut agar barang yang telah diserahkan kepadanya dikembalikan. Selanjutnya pada prinsipnya aturan dalam tukar menukar hampir sama dengan jual beli, hal ini ketentuan Pasal 1546 KUHPerdata menjelaskan segala sesuatu yang diatur dalam persetujuan tukar menukar dapat diterapkan aturan-aturan yang ditetapkan dalam persetujuan jual beli. Dan kemudian dalam Pasal 1545 KUHPerdata mengatur persetujuan tukar menukar atas barang tertentu, jika salah satu objek tukar menukar tadi terdiri dari barang tertentu dan sebelum diserahkan kepada pihak lain barang tersebut hilang atau musnah akibat diluar kesalahan, maka persetujuan tukar menukar seperti ini dianggap gugur atau pihak yang telah menyerahkan barang dapat menuntut pengembalian barang yang telah diserahkannya.82

c. Perjanjian Sewa Menyewa, sewa menyewa adalah suatu persetujuan, dengan mana pihak yang satu mengikatkan diri untuk memberikan kenikmatan suatu barang kepada pihak yang lain selama waktu tertentu, dengan pembayaran suatu harga yang disanggupi oleh pihak tersebut. Dari ketentuan Pasal 1553 KUHPerdata, dalam sewa menyewa itu resiko mengenai barang yang dipersewakan dipikul oleh si pemilik barang, yaitu pihak yang menyewakan. Apabila barang yang disewakan itu musnah karena satu peristiwa yang terjadi diluar kesalahan salah satu pihak maka perjanjian sewa menyewa itu gugur demi hukum. Mengenai berakhirnya sewa menyewa secara umum, Undang-Undang memberikan beberapa

82Pasal 1541-1546 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

57

ketentuan yaitu sewa menyewa berakhir apabila batas yang ditentukan berakhir, adanya ketentuan khusus yang mengakhirinya.83

2. Perjanjian tidak bernama (innominaat), yaitu perjanjian-perjanjian yang tidak diatur dalam KUHPerdata tetapi terdapat di dalam masyarakat. Jenis perjanjian tidak bernama ini diatur di dalam Buku III KUHPerdata, hanya ada satu pasal yang mengatur tentang perjanjian innominaat, yaitu Pasal 1319 KUHPerdata yang berbunyi “semua perjanjian, baik mempunyai nama khusus maupun yang tidak dikenal dengan suatu nama tertentu tunduk pada peraturan umum yang termuat dalam bab ini dan bab yang lalu”. Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa perjanjian, baik yang mempunyai nama dalam KUHPerdata maupun tidak dikenal dengan suatu nama tertentu (tidak bernama) tunduk pada Buku III KUHPerdata. Dengan demikian, para pihak yang mengadakan perjanjian innominaat tidak hanya tunduk pada berbagai peraturan yang mengaturnya, tetapi para pihak juga tunduk pada ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam KUHPerdata. Misalnya sewa guna usaha/leasing. 84 Dari definisi perjanjian tidak bernama, dapat dilihat ada beberapa unsur unsur yang terdapat dalam perjanjian tidak bernama, yaitu:

a. Perjanjian yang tidak diatur dalam KUHPerdata.

b. Perjanjian yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat.

c. Perjanjian yang timbul berdasarkan asas kebebasan berkontrak. 85

83Pasal 1548 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

84Ratna Artha Windari, Op.Cit, hlm. 27.

85 Handri Raharjo, Op. Cit, hlm 61.

Karena perjanjian tidak bernama didasarkan pada asas kebebasan berkontrak, Perjanjian maka sistem pengaturan hukum perjanjian tidak bernama adalah dengan menggunakan sistem terbuka/open system. Jika dilihat dari aspek pengaturannya, maka perjanjian tidak bernama digolongkan menjadi 3 jenis, yaitu:

a. Tidak bernama yang diatur secara khusus dan dituangkan dalam bentuk undang-undang atau telah diatur dalam pasal-pasal tersendiri. Misalnya, kontrak production sharing yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi.

b. Perjanjian tidak bernama yang diatur dalam peraturan pemerintah.

Misalnya, kontrak tentang waralaba atau franchise yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2007 tentang Waralaba.

c. Perjanjian tidak bernama yang belum diatur atau belum ada undang undangnya di Indonesia. Misalnya, kontrak rahim atau surrogate mother.

Di sisi lain, perbedaan dari perjanjian nominaat dan perjanjian innominaat dapat dilihat dari sifatnya, yaitu bahwa perjanjian nominaat bersifat umum, sedangkan perjanjian innominaat bersifat khusus sebagaimana tercantum dalam peraturan perundang – undangan yang berlaku, sehingga disini asas lex specialis derogate legi generale berlaku.86 Lahirnya perjanjian ini disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan pihak-pihak yang mengadakannya, seperti perjanjian kerjasama, perjanjian pemasaran, perjanjian pengelolaan. Salah satu contoh perjanjian tidak bernama (innominaat) adalah perjanjian kerjasama.

86Handri Raharjo, Op. Cit., hlm. 63.

59

Perjanjian Kerjasama sendiri tidak dikenal di dalam KUHPerdata sehingga digolongkan sebagai perjanjian tidak bernama (innominaat), sebagaimana diatur di dalam Pasal 1319 KUH Perdata. Pasal tersebut menyatakan bahwa perjanjian tak bernama juga tunduk pada ketentuan-ketentuan umum mengenai perjanjian dalam KUH Perdata. Sehingga, KUHPerdata berlaku juga dalam perjanjian kerjasama, disamping peraturan lain, agar perjanjian kerjasama tetap sah berlaku. Menurut Subekti bahwa, “Perjanjian kerjasama hanya mempunyai daya hukum intern (ke dalam) dan tidak mempunyai daya hukum ke luar”. Yang bertindak ke luar dan bertanggung jawab kepada pihak ketiga adalah kerugian di antara para sekutu diatur dalam perjanjiannya, yang tidak perlu diketahui masyarakat.87 Pada umumnya setiap pihak yang mengadakan suatu perjanjian kerjasama menghendaki agar perjanjian yang telah dibuat dapat dilaksanakan sesuai dengan isi yang telah disepakati bersama.

Dengan kata lain bahwa salah satu pihak menghendaki dapat dipenuhinya prestasi dari pihak lainnya sesuai dengan perjanjian. Akan tetapi dalam praktik tidak semua perjanjian dapat dilaksanakan dengan sempurna. Hal ini dimungkinkan prestasi yang diharapkan tidak dapat dipenuhi pihak lain sehingga pelaksanaan perjanjian itu mengalami hambatan. Adapun hambatan-hambatan dalam pelaksanaan perjanjian kerjasama diantaranya, yakni:

87Subekti, 1976 Aspek aspek Hukum Perikatan NasionalAlumni, Bandung, hlm.53

a. Wanprestasi

Dalam suatu perjanjian, setidaknya ada dua subyek yaitu pihak debitur dan pihak kreditur. Pihak debitur adalah pihak yang berkewajiban untuk memenuhi suatu prestasi, sedangkan pihak kreditur adalah pihak yang berhak atas suatu prestasi dari debitur. Keadaan dimana debitur tidak dapat memenuhi prestasinya inilah yang dinamakan wanprestasi Menurut Salim H.S. mengatakan wanprestasi adalah tidak memenuhi atau lalai melaksanakan kewajiban sebagaimana yang ditentukan dalam perjanjian yang dibuat antara kreditur dan debitur. 88 Sedangkan Abdulkadir Muhammad mengatakan bahwa wanprestasi artinya tidak memenuhi sesuatu yang diwajibkan seperti yang telah ditetapkan dalam perikatan.89

b. Resiko Pelaksanaan Perjanjian

Sering terjadi bahwa debitur tidak memenuhi prestasinya dalam suatu perjanjian bukan karena lalai atau wanprestasi, tetapi karena dalam keadaan memaksa. Keadaan ini adalah suatu keadaan yang menyebabkan tidak dapat dipenuhinya sutau prestasi dalam perjanjian yang disebabkan oleh suatu keadaan yang tidak dapat diduga sebelumnya dan berada di luar kesalahan debitur. Dalam keadaan memaksa, debitur tidak dapat dipersalahkan, karena keadaan ini timbul di

88 Salim H.S., 2001, Pengantar Hukum Perdata Tertulis (BW), Sinar Grafika, Jakarta, hlm,180.

89 Abdulkadir Muhammad, Op.Cit hlm, 203.

61

luar kemauan dan kemampuan debitur. Unsur-unsur keadaan memaksa adalah sebagai berikut : 90

1) Tidak dipenuhi prestasi karena terjadi peristiwa yang membinasakan/memusnahkan benda objek perikatan, atau

2) Tidak dipenuhi prestasi karena terjadi peristiwa yang menghalangi perbuatan debitur untuk berprestasi,

3) Peristiwa itu tidak dapat diketahui atau diduga akan terjadi pada waktu membuat perikatan.

Keadaan memaksa ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

keadaan memaksa yang bersifat absolut dan keadaan memaksa yang bersifat relatif. Yang dimaksud dengan keadaan memaksa yang bersifat absolut adalah suatu keadaan yang mengakibatkan suatu prestasi dalam suatu perjanjian tidak dapat dipenuhi sama sekali oleh siapapun dan dalam keadaan bagaimanpun juga. Sedangkan keadaan memaksa yang bersifat relatif adalah suatu keadaan dimana masih dimungkinkan dipenuhinya prestasi dalam suatu perjanjian, akan tetapi memerlukan pengorbanan yang besar.

90Ibid, hlm, 205

A. Pelaksanaan Perjanjian di PT Rahayu Medan Ceria

Sistem hukum perdata mengenal asas kebebasan berkontrak, (freedom of contract) sebagaimana dianut di dalam KUHPerdata. Asas kebebasan berkontrak diatur dalam Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata di mana perjanjian berdasarkan kebebasan berkontrak maka perjanjian atau kontrak yang dibuat merupakan suatu hukum khusus yang dibuat para pihak sendiri yang menghubungkan kehendak mereka. Untuk mencapai tujuan asas kebebasan berkontrak, para pihak yang mengadakan perjanjian harus memiliki posisi tawar yang seimbang. Kebebasan berkontrak yang sebenarnya akan eksis jika para pihak di dalam kontrak meemiliki keseimbangan secara ekonomi dan sosial.

Dalam kenyataannya, tidak selalu para pihak memiliki posisi tawar yang seimbang, sehingga dapat merugikan pihak yang memiliki posisi tawar yang lemah90. Bagi doktrin hukum, kebebasan berkontrak berarti orang dapat memilih apa yang dia inginkan melalui kesepakatan bersama (mutual agreement). Lahirnya pandangan tersebut dikarenakan dianut asumsi bahwa posisi tawar para pihak dalam kontrak adalah sejajar.91 Berdasarkan Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata terdapat suatu asas yaitu asas kebebasan berkontrak. Dengan asas kebebasan berkontrak setiap orang diakui memiliki kebebasan untuk membuat kontrak

90 Ridwan Khairandy, Itikad Baik dalam Kebebasan Berkontrak, Jakarta, Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2004, hlm. 32.

91 Ibid, hlm. 33.

63

dengan siapapun juga, menentukan isi kontrak, menentukan bentuk kontrak, memilih hukum yang berlaku pada kontrak yang bersangkutan.92 Asas kebebasan berkontrak ini adalah sebagai konsekuensi dari “sistem terbuka” (open system) dari hukum kontrak atau hukum perjanjian.93 Namun asas kebebasan berkontrak ini harus dibatasi sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang, kepatutan, kebiasaan yang berlaku, dan harus dilaksanakan dengan itikad baik.

Buku III KUHPerdata mengatur berbagai bentuk perjanjian, perjanjian menurut namanya dibagi menjadi dua macam, yaitu perjanjian nominaat (bernama) dan innominaat (tidak bernama). Perjanjian nominaat merupakan perjanjian yang dikenal di dalam KUHPerdata. Perjanjian nominaat terdiri dari jual beli, tukar menukar, sewa-menyewa, persekutuan perdata, hibah, penitipan barang, pinjam pakai, pinjam-meminjam, pemberian kuasa, penanggungan utang, perdamaian, dan lain-lain. Perjanjian innominaat adalah perjanjian yang timbul, tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Jenis perjanjian ini belum dikenal pada saat KUHPerdata diundangkannya. 94 Jika dilihat dari pelaksanaan perjanjian kerjasama di PT. Rahayu Medan Ceria yang dilaksanakan secara lisan maka bentuk perjanjian ini merupakan perjanjian tidak bernama atau perjanjian innominaat. Menurut ketentuan Pasal 1319 KUHPerdata setiap perjanjian nominaat dan innominaat tunduk kepada ketentuan umum hukum perjanjian.

Maka dengan demikian perjanjian pemasangan papan reklame sebagai suatu

92 Ibid, hlm. 29

93 Munir Fuady, Op.Cit, hlm. 181

94 Salim H.S dan Erlies Septiana Nurbani, Perkembangan Hukum Kontrak Innominaat di Indonesia, Jakarta, Sinar Grafika, 2014, hlm.1

perjanjian innominaat juga tunduk kepada ketentuan umum tentang perjanjian seperti misalnya syarat sahnya perjanjian, baik mempunyai nama dalam KUHPerdata maupun yang tidak dikenal dengan suatu nama tertentu (tidak bernama) tunduk pada Buku III KUHPerdata .

Perjanjian secara lisan yang sering terjadi di perusahaan ini terlaksana antara perorangan dalam rangka pihak tersebut ingin menjalankan usaha angkutan kota (Angkot) dan peran perusahaan disini sebagai perantara yang mengurus dan membantu dalam perihal izin dan lain sebagainya dengan syarat-syarat yang telah ditentukan oleh perusahaan. Selain perjanjian dengan perorangan atau individu.

Berdasarkan hasil wawancara dengan ricky media munthe selaku manajer operasional PT. Rahayu Medan ceria sehubungan dengan perjanjian yang berdasarkan asas kebebasan berkontrak terhadap pelaksanaan perjanjian di PT.

Rahayu Medan Ceria yang bentuk perjanjiannya adalah lisan .

Pelaksanaan perjanjian secara lisan antara seorang pihak dengan PT.RMC dalam lingkup kerj asama. Dalam hal ini kerjasama yg di maksud adalah seseorang ingin menjalankan usaha mengelola angkutan kota (angkot) melalui perantaranya yaitu perusahaan PT RMC dengan mekanisme yang saya peroleh dari hasil wawancara dengan Ricky Median Munthe selaku manajer oprasional sebagai berikut : 95

Prosedur pelaksanaan perjanjian lisan dengan pihak itu sendiri meliputi penyerahan dokumen penting berupa Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK), dan salinan buku tabungan. Biaya adminsitrasi yang harus

95 Wawancara dengan Bapak Ricky Median Munthe, Manajer Operasional, PT Rahayu Medan Ceria, tanggal 20 desember 2019

65

dibayarkan ketika ingin menjadi keanggotaan untuk menjalankan unit angkot di PT. RMC sebesar Rp 5.000.000/unit, biaya tersebut hanya merupakan biaya adminstrasi saja. Jadi singkatnya pihak yang ingin mempunyai unit angkot dan ingin menjalankannya, dapat membeli sendiri atau dapat juga mengambil dari vendor yang telah berkerjasama dengan PT. RMC sebagai penyedia unit angkot.

Setelah membayar uang administrasi, pihak tersebut wajib untuk memenuhi apa saja yang menjadi kewajibannya seperti membayar uang iuran sebesar Rp 7.000 setiap harinya untuk 1 unit angkot selama 23 hari kerja perbulannya. Perhitungan hari kerja selama 23 hari karena 7 hari sisanya dianggap sebagai hari untuk libur dan perawatan unit angkot tersebut seperti servis berkala dan lain sebagainya.96

Selain membayar biaya adminsitrasi tersebut, unit angkot yang ingin dijalankan oleh pihak tersebut harus memenuhi persyaratan seperti mengecat unit nya dengan warna PT. RMC yaitu warna merah dan hijau, proses cat ini sendiri dibebaskan apakah pihak tersebut ingin cat sendiri atau ingin dicat oleh PT. RMC dengan membayar lagi biaya pengecatan tersebut di luar biaya administrasi.

Selain warna, di unit angkot harus di tempel nomor jalur atau yang lebih dikenal dengan nomor trayek misalnya nomor 103 untuk jalur Universitas Negeri Medan sampai ke Daerah Pancur Batu dan lain sebagainya. Lalu kelengkapan yang harus di tempel pada unit angkot adalah nomor gabungan, adapun yang dimaksud dengan nomor gabungan adalah nomor yang menunjukan unit tersebut merupakan unit keberapa di dalam jalur yang sama, contohnya seperti di jalur 103 terdapat 30 mobil, dan di antara 30 mobil itu unit yang merupakan kepunyaan dari pihak

96 Wawancara dengan Bapak Ricky Median Munthe, Manajer Operasional, PT Rahayu Medan Ceria, tanggal 20 desember 2019

tersebut akan diberi nomor gabungannya, nomor berapa saja yang merupakan kepunyaan dari pihak tersebut, adapun fungsi dari adanya nomor gabungan ini adalah untuk mempermudah pengecekan apabila unit tersebut dijalankan atau tidak oleh orang yang mengelolanya. Terdapat biaya tambahan jika ingin mengubah nomor jalur (trayek) yaitu sebesar 2jt setiap unit yang diubah97 .

Selanjutnya untuk memperkerjakan supir angkot, hal tersebut sebenarnya diserahkan kepada pihak yang mengelola unit tersebut untuk mencarinya, akan tetapi bila ingin meminta supir dari pihak PT. RMC bisa saja melalui agen lapangan dari PT RMC . Adapun hak dan kewajiban para pihak sebagai berikut :

1. Haknya meliputi :

a. memperoleh izin operasional sesuai nomor jalur (trayek) yang di inginkan

b. mendapat perlindungan dari petugas petugas lapangan PT.RMC dalam mengoperasikan kendaraan

c. mendapat kemudahan dalam pengurusan surat izin operasional.

2. Kewajibannya meliputi :

a. membayar iuran harian selama 23 hari dalam sebulan

b. mengikuti aturan yang berlaku di perusahaan baik di kantor maupun di lapangan

c. mematuhi aturah yang dibuat secara bersama oleh pemilik, supir, dan mandor .98

97 Wawancara dengan Bapak Ricky Median Munthe, Manajer Operasional, PT Rahayu Medan Ceria, tanggal 20 desember 2019

98 Wawancara dengan Bapak Ricky Median Munthe, Manajer Operasional, PT Rahayu Medan Ceria, tanggal 20 desember 2019

67

B. Kendala Yang Muncul Dalam Pelaksanaan Perjanjian di PT Rahayu Medan Ceria

Di setiap perusahaan dalam melaksanakan perjanjian Kerjasama tentu ada kendala atau permasalah yang muncul. begitu pula di PT. RMC sendiri yang memiliki kendala dalam pelaksanaannya, menurut narasumber Ricky Median Munthe selaku manajer operasional seperti mengenai permasalahan yang muncul adalah terdapat beberapa kasus dimana para pihak yang mengelola unit angkot tersebut menjual unit itu tanpa sepengetahuan dari pihak PT. RMC, hal ini tentu saja sangat merugikan bagi pihak PT. RMC karena akan membuat iuran yang harus dibayarkan setiap harinya menjadi berkurang, dan juga kehilangan unitnya tanpa jejak99.

Adapun alasan yang dituturkan oleh narasumber untuk masalah ini adalah adanya keengganan dari pihak anggota untuk mengurus administrasi untuk berhenti dari pengelolaan unit angkot tersebut, karena untuk proses keluar dari pengurusan angkot di PT. RMC ini dikenakan biaya sebesar Rp 5.000.000 per unitnya, mungkin hal ini yang menyebabkan individu ini menjual begitu saja unitnya tanpa sepengetahuan dari pihak PT. RMC. 100 Selain itu pihak tersebut tidak membayar iuran sebagaimana kewajibannya yang harus di laksanakannya.

Dan begitupula mereka tidak memasang atribut perusahaan yang sudah menjadi ketentuan perusahaan, di angkot mereka . Jikasalah satu pihak tidak melaksanakan

99 Wawancara dengan Bapak Ricky Median Munthe, Manajer Operasional, PT Rahayu Medan Ceria, tanggal 20 desember 2019

100 Wawancara dengan Bapak Ricky Median Munthe, Manajer Operasional, PT Rahayu Medan Ceria, tanggal 20 desember 2019

kewajibannya, maka PT. RMC memerintah mandor atau petugas lapangan mendatangi orang yang bersangkutan.101

C. Penyelesaian Sengketa Dalam Pelaksanaan Perjanjian di PT Rahayu Medan Ceria

Dunia bisnis dalam menjalankan profesinya ingin agar segala sesuatunya dapat berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan. Namun dalam kenyataanya102 Perselisihan dalam kegiatan bisnis dapat terlihat pada tahap sebelum perjanjian disepakati, misalnya mengenai objek perjanjian, harga barang dan isi perjanjian, dan pada waktu pelaksanaan perjanjian, misalnya ada salah satu pihak yang tidak dapat menjalankan perjanjian yang telah disepakati atau tidak dapat melaksanakan perjanjiannya.103 Oleh karena itu, perselisihan yang menjadi adanya perbedaan kepentingan yang tidak dapat dikomunikasikan secara baik sehingga muncul sengketa antara pihak yang bersangkutan. Di dalam suatu masyarakat selalu tersedia berbagai bentuk mekanisme penyelesaian sengketa.

Secara konvensional penyelesaian sengketa dapat ditempuh melalui dua jalur, yaitu melalui jalur litigasi dan non litigasi. Jalur litigasi dapat ditempuh melalui peradilan yang bersifat sangat formal dan teknis serta mengesankan permusuhan di antara pihak yang bersengketa. Jalur nonlitigasi dapat diasumsikan sebagai penyelesaian alternatif di luar pengadilan.104 Penyelesaian sengketa melalui litigasi, yaitu peradilan formal banyak mendapat kritikan dari masyarakat.

101 Wawancara dengan Bapak Ricky Median Munthe, Manajer Operasional, PT Rahayu Medan Ceria, tanggal 20 desember 2019

102 http://www.slideshare.net/WawanGoendoel/alternatif-penyelesaian-sengketa-bisnis-di-luar-pengadilan diakses pada tanggal 7 desember 2019 pukul 20:25

103 Intan Nur Rahmawanti dan Rukiyah Lubis, Win-Win Solution Sengketa Konsumen, Yogyakarta: Pustaka Yustisia, 2014, hlm. 34

104 Ibid, hlm. 4

69

Kelemahan penyelesaian sengketa secara litigasi antara lain memakan waktu yang lama dari pengadilan tingkat pertama sampai dengan tingkat banding dan kasasi, memakan biaya yang tinggi, dan merenggangkan hubungan pihak-pihak yang bersengketa. Keluhan mengenai keterlambatan waktu dalam mencapai keputusan pengadilan adalah hampir universal dan alasan-alasan keterlambatan ini bermacam-macam. Dengan lamanya waktu penyelesaian sengketa secara litigasi akan menyebabkan pula besarnya biaya yang harus dikerluarkan oleh pencari keadilan. Lawrence S. Clark, memperkirakan jumlah biaya perkara yang dikeluarkan pihak yang berperkara bisa melampaui nilai hasil kemenangan.

Selain itu, penyelesaian sengketa melalui pengadilan menempatkan para pihak pada dua sisi yang bertolak belakang, satu pihak sebagai pemenang (winner) dan pihak lainnya sebagai pihak yang kalah (looser) tidak menyelesaikan masalah secara tuntas.105 Sebagai upaya dalam penyelesaian sengketa melalui litigasi, maka di berbagai negara di dunia dikembangkan suatu penyelesaian

Selain itu, penyelesaian sengketa melalui pengadilan menempatkan para pihak pada dua sisi yang bertolak belakang, satu pihak sebagai pemenang (winner) dan pihak lainnya sebagai pihak yang kalah (looser) tidak menyelesaikan masalah secara tuntas.105 Sebagai upaya dalam penyelesaian sengketa melalui litigasi, maka di berbagai negara di dunia dikembangkan suatu penyelesaian

Dokumen terkait