BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
D. Pidana dan Pemidanaan
2. Jenis-Jenis Pidana
kecenderungan manusia untuk melanggar ketertiban hukum, yaitu sudah kecenderungan yang diadakan oleh “kodrat alam” manusia, dan hanya dapat dikurangi kalau atas pelanggaran tersebut diancamkan atas suatu kerugian bagi manusia tersebut. Oleh karena itu, negara sesuai dengan sifat negara sesuai dengan “kodrat alam” tersebut diberi hak untuk
“membalas” pelanggaran tersebut dengan menjatuhkan sanksi.
Dapat disimpulkan bahwa menghukum perbuatan-perbuatan melanggar yang dilakukan terpaksa sebetilnya bukan “pembalasan”
karena dasar untuk membalas adalah “kesalahan” pada pembuat (persoonlijk schuld) dan “pertanggungjawaban” (verentwoordelijkheid) atas suatu perbuatan tidak ada. Sehingga dengan demikian, perbuatan yang dilakukan secara terpaksa harus ditempatkan diluar hukum pidana.
2. Pidana penjara 3. Pidana kurungan 4. Pidana denda
5. Pidana tutupan (KUHP terjemahan BPHN, berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1946)
b. Pidana tambahan meliputi :
1. Pencabutan beberapa hak-hak tertentu 2. Perampasan barang-barang tertentu 3. Pengumuman putusan hakim
Jenis pidana dalam KUHP berbeda dengan yang ditirunya, yaitu pasal 9 WvS Netherland, yang pidana pokok tidak terdapat pidana mati (sudah dihapus sejak tahun 1870). Di Indonesia bahkan jumlah delik yang diancam dengan pidana mati semakin banyak. Lagipula rata-rata ancaman pidana penjara di dalam KUHP Indonesia lebih berat dibandingkan dengan yang tercantum di dalam WvS Netherland.
Pencurian misalnya, di dalam KUHP Indonesia diancam dengan pidana maksimum lima tahun penjara, sedangkan di dalam WvS Netherland maksimum hanya empat tahun penjara.
Ada juga yang sama ancaman pidananya, misalnya delik pembunuhan ancaman pidananya sama si WvS Netherland dan KUHP, yaitu maksimum lima belas tahun penjara, begitu pula perkosaan, ancaman pidananya sama dua belas tahun.
Selanjutnya, pada pidana tambahan WvS Netherland memuat empat jenis, termasuk pada urutan kedua “penempatan pada tempat kerja”.
Jenis pidana dalam RUU KUHP baru menjadi lain, sesuai dengan perkembangan sistem pemidanaan, yang tersebut dalam pasal 58 yaitu sebagai berikut :
a) Pidana Pokok Ke-1 pidana penjara Ke-2 pidana tutupan
Ke-3 pidana pengawasan (control) Ke-4 pidana denda
Ke-5 pidana kerja sosial (community service)
Urutan pidana pokok diatas menentukan berat ringannya pidana.
Pidana mati didalam pasal berikutnya, pasal 59 yang mengatakan pidana mati bersifat khusus. Pidana tambahan juga diatur dalam pasal lain, yaitu pasal 60, sebagai berikut :
b) Pidana Tambahan
Ke-1 pencabutan hak-hak tertentu
Ke-2 perampasan barang-barang tertentu dan tagihan Ke-3 pengumuman putusan Hakim
Ke-4 pembayaran ganti kerugian Ke-5 pemenuhan kewajiban adat
Pidana tambahan hanya dijatuhkan apabila tercantum secara tegas dalam perumusan tindak pidana. Pidana tambahan berupa pemenuhan
kewajiban adat dan pencabutan hak yang diperoleh korporasi dapat dijatuhkan oleh Hakim sesuai dengan kebutuhan walaupun tidak tercantum dalam perumusan tindak pidana. Pidana tambahan untuk percobaan dan pembantuan adalah sama dengan tindak pidananya.
3. Pidana dan Pemidanaan Anak
Jika anak yang melakukan tindak pidana maka menurut Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 terhadap anak nakal dapat dijatuhkan pidana yaitu pidana pokok dan pidana tambahan. Dengan menyimak Pasal 23 ayat (1) dan ayat (2) diatur pidana pokok dan tambahan bagi anak nakal.
a. Pidana pokok
Ada beberapa pidana pokok dapat dijatuhkan kepada anak nakal yaitu :
1. Pidana penjara 2. Pidana kurungan 3. Pidana denda, atau 4. Pidana pengawasan b. Pidana tambahan
Seperti telah disebut bahwa selain pidana pokok maka terhadap anak nakaldapat juga dijatuhkan pidana tambahan yang berupa :
1. Perampasan barang-barang tertentu, dan atau 2. Pembayaran ganti rugi
c. Tindakan
Beberapa tindakan yang dapat dijatuhkan kepada anak nakal (Pasal 24 ayat (1) ialaha Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997) adalah
1. Mengembalikan kepada orang tua, wali, atau orang tua asuh 2. Menyerahkan kepada Negara untuk mengikuti pendidikan,
pembinaan, dan latihan kerja, atau
3. Menyerahkan kepada Departemen Sosial, atau Organisasi sosial kemasyarakatan yang bergerak dibidang pendidikan, pembinaan, dan latihan kerja
d. Pidana penjara
Berbeda dengan orang dewasa, pidana penjara bagi anak nakal lamanya ½ (satu perdua) dari ancaman pidana orang dewasa atau paling lama 10 (sepuluh) tahun. Kecuali itu, pidana mati dan pidana penjara seumur hidup tidak dapat dijatuhkan terhadap anak.
e. Pidana kurungan
Dinyatakan dalam pasal 27 bahwa pidana kurungan yang dapat diajtuhkan kepada anak yang melakukan tindak pidana, paling lama
½ (satu perdua) dari maksimum ancaman pidana kurungan bagi orang dewasa.
f. Pidana denda
Seperti pidana penjara dan pidana kurungan maka penjatuhan pidana denda terhadap anak nakal paling banyak juga ½ (satu
perdua) dari maksimum ancaman pidana denda bagi orang dewasa (Pasal 28 ayat (1)). Undang-Undang Pengadilan Anak Mengatur pula ketentuan yang relatif baru yaitu apabila pidana denda tersebut dinyatakan tidak dapat dibayar maka diganti dengan wajib latihan kerja. Undang-Undang menetapkan demikian sebagai upaya untuk mendidik anak yang bersangkutan agar memiliki keterampilan yang bermanfaat bagi dirinya (Pasal 28 ayat (2)).
Lama wajib latihan kerja sebagai pengganti denda, paling lama 90 (sembilan puluh) hari kerja lama latihan kerja tidak lebih dari 4 (empat) jam sehari serta tidak dilakukan pada malam hari (Pasal 28 ayat (3)). Tentunya demikian mengingat pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental, dan sosial anak serta perlindungan anak.
g. Pidana bersyarat
Garis besar ketentuan pidana bersyarat bagi anak nakal sesuai dengan perumusan Pasal 29 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 adalah :
1. Pidana bersyarat dapat dijatuhkan, apabila pidana penjara yang diajtuhkan selama paling lama 2 (dua) tahun, sedangkan jangka waktu masa pidana bersyarat adalah paling lama 3 (tiga) tahun
2. Dalam putusan pidana bersyarat diberlakukan ketentuan sebagai berikut :
a. Syarat umum, yaitu anak nakal tersebut tidak akan melakukan tindak pidana lagi selama menjalani masa pidana bersyarat
b. Syarat khusus, yaitu anak melakukan atau tidak melakukan hal tertentu yang ditetapkan dalam putusan hakim dengan tetap memperhatikan kebebasan anak.
3. Pengawasan dan pembimbingan
a. Selama menjalani masa pidana bersyarat, Jaksa melakukan pengawasan dan pembimbing kemasyarakatan melakukan bimbingan agar anak nakal menepati persyaratan yang telah dilakukan.
b. Anak nakal yang menjalani pidana bersyarat dibimbing oleh balai permasyarakatan berstatus sebagai klien permasyarakatan
c. Selama anak nakal berstatus sebagai klien permasyarakatan dapat mengikuti pendidikan sekolah h. Pidana pengawasan
Ketentuan bentuk dan cara pelaksanaan pidana pengawasan menurut Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 akan diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Hendaknya nanti materi yang diatur dalam peraturan pemerintah tersebut harus tetap berpedoman pada Undang-Undang Nomor 3 tahun 1997 tentang Pengadilan Anak khususnya Pasal 30.
Pidana pengawasan dijatuhkan kepada anak yang melakukan tindak pidana, dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Lamanya, paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 2 (dua) tahun
2. Pengawasan terhadap perilaku anak dalam kehidupan sehari-hari di rumah tersebut dilakukan oleh jaksa
3. Pemberian bimbingan dilakukan oleh pembimbing kemasyarakatan.
4. Teori Tujuan Pemidanaan
Tentang maksud penjatuhan pidana terdapat beberapa teori yang mengemukakan mengapa suatu kejahatan dikenakan suatu pidana antara lain :
a) Teori Absolut dan Teori Pembalasan
Menurut teori absolut ini setiap kejahatan harus diikuti dengan pidana, tidak boleh tidak, tanpa tawar menawar. Seorang mendapatkan pidana oleh karena telah melakukan kejahatan. Tidak dilihat akibat-akibat apa yang mungkin timbul dari dijatuhkanya pidana. Tidak dipedulikan apa dengan demikian masyarakat mungkin akan dirugikan. Hanya dilihat ke masa lampau, tidak melihat ke masa depan.
Kejahatan yang telah dilakukan oleh pelaku telah banyak menimbulkan kerugian dan penderitaan, oleh karena itu pelaku
kejahatan harus mendapatkan hukuman sebagai bentuk pembalasan atas perbuatan yang dilakukannya. Setiap kejahatan yang dilakukan oleh seseorang harus diikuti dengan pidana yang seimbang untuk mencapai kepuasan hati, tanpa memikirkan akibat-akibat yang mungkin timbul dari penjatuhan pidana tersebut. Dalam teori ini hanya dilihat masa lalu, bukan masa yang akan datang.
b) Teori Relatif
Menurut teori ini, suatu kejahatan tidak mutlak harus diikuti dengan suatu pidana. Untuk itu tidaklah cukup adanya suatu pidana, melainkan harus dipersoalkan perlu dan manfaatnya suatu pidana bagi masyarakat atau bagi si penjahat sendiri. Tidaklah saja dilihat pada masa lampau, melainkan juga masa depan.
Harus ada tujuan yang lebih jauh daripada hanya menjatuhkan pidana saja. Dengan demikian, teori ini juga disebut dengan teori tujuan (doel-theorien).
Tujuan ini harus diarahkan untuk mencegah agar kejahatan yang dilakukan tidak terulang lagi (prevensi).
Prevensi ada dua macam, yaitu prevensi khusus dan prevensi umum.
Dalam prevensi khusus, pencegahan kejahatan lebih diarahkan pada pemberian rasa takut atau jera kepada pelaku kejahatan. Hal ini dilakukan dengan menakut-nakuti pelaku kejahatan dengan tembok penjara agar ia tidak melakukan kejahatan lagi. Sedangkan dalam prevensi umum,