• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III TINJAUAN TENTANG TINDAK PIDANA NARKOTIKA

B. Jenis-Jenis Tindak Pidana Narkotika Menurut Undang Undang

Dampak Psikologis atau kejiwaan ketergantungan pada narkoba menyebabkan orang tidak dapat berpikir dan tidak dapat berprilaku normal, perasaan, pikiran dan perilakunya dipengaruhi oleh zat yang dipakainya, gangguan kejiwaan ini bersifat sementara tetapi juga permanen karena kadar ketergantungan terhadap nakoba yang semakin tinggi. Gejala psikoligis yang biasa dialami para pengguna narkoba antara lain:

1. Itoksikasi (keracunan)

2. Toleransi yakni istilah untuk tubuh membunuh jumlah tertentu untuk menimbulakan efek yang diingunkan

3. Gejala putus obat yaitu keadaan gangguan fisik dan psikis saat tubuh tidak memperoleh zat yang biasa dipakai.

4. Ketergantungan yaitu keadaan dimana seseorang selalu membutuhkan zat atau obat tertentu agar dapat berfungsi secara wajar baik fisik maupun psikis.45

B. Jenis-Jenis Tindak Pidana Narkotika Menurut Undang Undang Nomor 35

3. Perbuatan yang tanpa hak atau melawan hukum memproduksi, mengimpor, mengekspor, atau menyalurkan Narkotika Golongan I. (Pasal 113 Ayat (1))

4. Perbuatan yang tanpa hak atau melawan hukum menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, atau menyerahkan Narkotika Golongan I. (Pasal 114 Ayat (1)) 5. Perbuatan yang tanpa hak atau melawan hukum membawa, mengirim,

mengangkut, atau mentransito Narkotika Golongan I. (Pasal 115 Ayat (1)) 6. Perbuatan yang tanpa hak atau melawan hukum menggunakan Narkotika Golongan I terhadap orang lain atau memberikan Narkotika Golongan I untuk digunakan orang lain. (Pasal 116 Ayat (1))

7. Perbuatan yang tanpa hak atau melawan hukum memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan II. (Pasal 117 Ayat (1))

8. Perbuatan yang tanpa hak atau melawan hukum memproduksi, mengimpor, mengekspor, atau menyalurkan Narkotika Golongan II.

(Pasal 118 Ayat (1))

9. Perbuatan yang tanpa hak atau melawan hukum menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, atau menyerahkan Narkotika Golongan II. (Pasal 119 Ayat (1)) 10. Perbuatan yang tanpa hak atau melawan hukum membawa, mengirim, mengangkut, atau mentransito Narkotika Golongan II. (Pasal 120 Ayat (1))

11. Perbuatan yang tanpa hak atau melawan hukum menggunakan Narkotika Golongan II terhadap orang lain atau memberikan Narkotika Golongan II untuk digunakan orang lain. (Pasal 121 Ayat (1))

12. Perbuatan yang tanpa hak atau melawan hukum memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan II. (Pasal 122 Ayat (1))

13. Perbuatan yang tanpa hak atau melawan hukum memproduksi, mengimpor, mengekspor, atau menyalurkan Narkotika Golongan III.

(Pasal 123 Ayat (1))

14. Perbuatan yang tanpa hak atau melawan hukum menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, atau menyerahkan Narkotika Golongan III. (Pasal 124 Ayat (1)) 15. Perbuatan yang tanpa hak atau melawan hukum membawa, mengirim, mengangkut, atau mentransito Narkotika Golongan III. (Pasal 125 Ayat (1))

16. Perbuatan yang tanpa hak atau melawan hukum menggunakan Narkotika Golongan III terhadap orang lain atau memberikan Narkotika Golongan III untuk digunakan orang lain. (Pasal 126 Ayat (1))

17. Perbuatan Penyalah Guna:

a. Narkotika Golongan I bagi diri sendiri b. Narkotika Golongan II bagi diri sendiri

c. Narkotika Golongan III bagi diri sendiri (Pasal 127 Ayat (1))

18. Perbuatan Orang tua atau wali dari pecandu yang belum cukup umur, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 Ayat (1) yang sengaja tidak melapor (Pasal 128 Ayat (1))

19. Perbuatan orang yang tanpa hak atau melawan hukum:

a. Memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Prekursor Narkotika untuk pembuatan Narkotika;

b. Memproduksi, mengimpor, mengekspor, atau menyalurkan Prekursor Narkotika untuk pembuatan Narkotika;

c. Menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, atau menyerahkan Prekursor Narkotika untuk pembuatan Narkotika;

d. Membawa, mengirim, mengangkut, atau mentransito Prekursor Narkotika untuk pembuatan Narkotika. (Pasal 129 Ayat (1))

20. Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 111, Pasal 112, Pasal 113, Pasal 114, Pasal 115, Pasal 116, Pasal 117, Pasal 118, Pasal 119, Pasal 120, Pasal 121, Pasal 122, Pasal 123, Pasal 124, Pasal 125, Pasal 126, dan Pasal 129 dilakukan oleh korporasi. (Pasal 130 Ayat (1))

21. Perbuatan yang dengan sengaja tidak melaporkan adanya tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 111, Pasal 112, Pasal 113, Pasal 114, Pasal 115, Pasal 116, Pasal 117, Pasal 118, Pasal 119, Pasal 120, Pasal 121, Pasal 122, Pasal 123, Pasal 124, Pasal 125, Pasal 126, Pasal 127 ayat (1), Pasal 128 ayat (1), dan Pasal 129. (Pasal 131 Ayat (1))

22. Perbuatan Percobaan atau permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana Narkotika dan Prekursor Narkotika sebagaimana dimaksud dalam Pasal 111, Pasal 112, Pasal 113, Pasal 114, Pasal 115, Pasal 116, Pasal 117, Pasal 118, Pasal 119, Pasal 120, Pasal 121, Pasal 122, Pasal 123, Pasal 124, Pasal 125, Pasal 126, dan Pasal 129. (Pasal 132 Ayat (1)) 23. Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 111, Pasal 112,

Pasal 113, Pasal 114, Pasal 115, Pasal 116, Pasal 117, Pasal 118, Pasal 119, Pasal 120, Pasal 121, Pasal 122, Pasal 123, Pasal 124, Pasal 125, Pasal 126, dan Pasal 129 dilakukan secara terorganisasi. (Pasal 132 Ayat (2))

24. Perbuatan yang menyuruh, memberi atau menjanjikan sesuatu, memberikan kesempatan, menganjurkan, memberikan kemudahan, memaksa dengan ancaman, memaksa dengan kekerasan, melakukan tipu muslihat, atau membujuk anak yang belum cukup umur untuk melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 111, Pasal 112, Pasal 113, Pasal 114, Pasal 115, Pasal 116, Pasal 117, Pasal 118, Pasal 119, Pasal 120, Pasal 121, Pasal 122, Pasal 123, Pasal 124, Pasal 125, Pasal 126, dan Pasal 129. (Pasal 133 Ayat (1))

25. Perbuatan yang menyuruh, memberi atau menjanjikan sesuatu, memberikan kesempatan, menganjurkan, memberikan kemudahan, memaksa dengan ancaman, memaksa dengan kekerasan, melakukan tipu muslihat, atau membujuk anak yang belum cukup umur untuk menggunakan Narkotika. (Pasal 133 Ayat (2))

26. Perbuatan Pecandu Narkotika yang sudah cukup umur dan dengan sengaja tidak melaporkan diri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 Ayat (2).

(Pasal 134 Ayat (1))

27. Perbuatan Keluarga dari Pecandu Narkotika sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dengan sengaja tidak melaporkan Pecandu Narkotika tersebut. (Pasal 134 Ayat (2))

28. Perbuatan Pengurus Industri Farmasi yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45. (Pasal 135)

29. Perbuatan yang:

a. Menempatkan, membayarkan atau membelanjakan, menitipkan, menukarkan, menyembunyikan atau menyamarkan, menginvestasikan, menyimpan, menghibahkan, mewariskan, dan/atau mentransfer uang, harta, dan benda atau aset baik dalam bentuk benda bergerak maupun tidak bergerak, berwujud atau tidak berwujud yang berasal dari tindak pidana Narkotika dan/atau tindak pidana Prekursor Narkotika. (Pasal 137 huruf (a))

b. Menerima penempatan, pembayaran atau pembelanjaan, penitipan, penukaran, penyembunyian atau penyamaran investasi, simpanan atau transfer, hibah, waris, harta atau uang, benda atau aset baik dalam bentuk benda bergerak maupun tidak bergerak, berwujud atau tidak berwujud yang diketahuinya berasal dari tindak pidana Narkotika dan/atau tindak pidana Prekursor Narkotika. (Pasal 137 huruf (b))

30. Perbuatan yang menghalang-halangi atau mempersulit penyidikan serta penuntutan dan pemeriksaan perkara tindak pidana Narkotika dan/atau tindak pidana Prekursor Narkotika di muka sidang pengadilan. (Pasal 138) 31. Perbuatan Nakhoda atau kapten penerbang yang secara melawan hukum tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 atau Pasal 28. (Pasal 139)

32. Perbuatan Penyidik pegawai negeri sipil yang secara melawan hukum tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 88 dan Pasal 89. (Pasal 140 Ayat (1))

33. Perbuatan Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia dan penyidik BNN yang tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87, Pasal 89, Pasal 90, Pasal 91 Ayat (2) dan Ayat (3), dan Pasal 92 Ayat (1), Ayat (2), Ayat (3), dan ayat (4). (Pasal 140 Ayat (2))

34. Perbuatan Kepala Kejaksaan Negeri yang secara melawan hukum tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 91 Ayat (1).

(Pasal 141)

35. Perbuatan Petugas laboratorium yang memalsukan hasil pengujian atau secara melawan hukum tidak melaksanakan kewajiban melaporkan hasil pengujiannya kepada penyidik atau penuntut umum. (Pasal 142).

36. Perbuatan Saksi yang memberi keterangan tidak benar dalam pemeriksaan perkara tindak pidana Narkotika dan Prekursor Narkotika di muka sidang pengadilan. (Pasal 143)

37. Perbuatan yang dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun melakukan pengulangan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 111, Pasal 112, Pasal 113, Pasal 114, Pasal 115, Pasal 116, Pasal 117, Pasal 118, Pasal 119, Pasal 120, Pasal 121, Pasal 122, Pasal 123, Pasal 124, Pasal 125, Pasal 126, Pasal 127 Ayat (1), Pasal 128 Ayat (1), dan Pasal 129.

(Pasal 144 Ayat (1))

38. Perbuatan yang melakukan tindak pidana Narkotika dan/atau tindak pidana Prekursor Narkotika sebagaimana dimaksud dalam Pasal 111, Pasal 112, Pasal 113, Pasal 114, Pasal 115, Pasal 116, Pasal 117, Pasal 118, Pasal 119, Pasal 120, Pasal 121, Pasal 122, Pasal 123, Pasal 124, Pasal 125, Pasal 126, Pasal 127 Ayat (1), Pasal 128 Ayat (1), dan Pasal 129 di luar wilayah Negara Republik Indonesia diberlakukan juga ketentuan undang-Undang ini. (Pasal 145).

39. Perbuatan Bagi:

a. Pimpinan rumah sakit, pusat kesehatan masyarakat, balai pengobatan, sarana penyimpanan sediaan farmasi milik pemerintah, dan apotek yang mengedarkan Narkotika Golongan II dan III bukan untuk kepentingan pelayanan kesehatan;

b. Pimpinan lembaga ilmu pengetahuan yang menanam, membeli, menyimpan, atau menguasai tanaman Narkotika bukan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan;

c. Pimpinan Industri Farmasi tertentu yang memproduksi Narkotika Golongan I bukan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan; atau

d. Pimpinan pedagang besar farmasi yang mengedarkan Narkotika Golongan I yang bukan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan atau mengedarkan Narkotika Golongan II dan III bukan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau bukan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan. (Pasal 147)

BAB IV

PERBANDINGAN SANKSI PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA

(Studi Kasus Putusan No. 25/Pid.Sus/2020/PN Srl dan Putusan No.

26/Pid.Sus/2020/PN Srl)

A. Pemidanaan Dalam Putusan Nomor 25/Pid.Sus/2020/PN Srl Dan Putusan Nomor 26/Pid.Sus/2020/PN Srl Terhadap Pelaku Penyalahguna Narkotika Sehingga Terjadi Penjatuhan Pidana Yang Berbeda-Beda Terhadap Masing-Masing Terdakwa

Putusan Nomor: 25 /Pid.Sus/2020/PN.Srl, terdakwa didakwa dengan dakwaan alternatif, dakwaan pertama perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 114 Ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dakwaan kedua perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 112 Ayat (1) Jo Pasal 132 Ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Dakwaan ketiga perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 127 ayat (1) huruf a Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Mengenai Tuntutan Jaksa Penuntut Umum, bahwa menyatakan Terdakwa Abdul Karim Als Onga Bin Zainudin (Alm) terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “Narkotika” sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 127 Ayat (1) huruf a UU RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika sehingga untuk itu kepada Terdakwa Abdul Karim Als Onga Bin Zainudin (Alm) dengan dituntut untuk dijatuhkan pidana penjara selama 2 (Dua) Tahun dengan ketentuan selama Terdakwa dalam masa penangkapan dan penahanan dikurangkan seluruhnya dari pidana yang

dijatuhkan kepadanya dengan perintah Terdakwa tetap dalam tahanan. Majelis hakim menjatuhkan pidana terhadap diri terdakwa tersebut oleh karena itu dengan pidana penjara selama 1 (satu) tahun dan 6 (enam) bulan.

Putusan Nomor: 26 /Pid.Sus/2020/PN.Srl, terdakwa didakwa dengan dakwaan alternatif, dakwaan pertama, perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 112 Ayat (1) Jo Pasal 132 Ayat (1) Undang- Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika sedangkan dakwaan kedua, perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 127 Ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Dakwaan yang terbukti yaitu Putusan Nomor: 26 /Pid.Sus/2020/PN.Srl, terdakwa dijerat Pasal 127 Ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP, Terdakwa Muhammad Irsan Bin Zainuddin telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “turut serta menyalahgunakan narkotika golongan I bagi diri sendiri” ;

Adapun mengenai Tuntutan Jaksa Penuntut Umum bahwa menyatakan Terdakwa Muhammad Irsan Bin Zainuddin dan Terdakwa M. Faisal Bin Arsyad Kadir terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “Menyalahgunakan Narkotika” sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 127 Ayat (1) huruf a UU RI No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP sehingga untuk itu kepada Terdakwa Muhammad Irsan Bin Zainuddin dan Terdakwa M. Faisal Bin Arsyad Kadir dijatuhkan hukuman dengan Rehabilitasi selama 6 (Enam) bulan di Panti

Rehabilitasi Ketergantungan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif (Napza) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Chatib Quzwain Kabupaten Sarolangun.

Atas dasar dakwaan dan tuntutan Jaksa Penuntut Umum maka Majelis hakim menjatuhkan pidana terhadap diri terdakwa tersebut oleh karena itu dengan pidana penjara selama 6 (enam) bulan dan memerintahkan agar pelaksanaan pidana penjara tersebut dijalankan di Panti Rehabilitasi Ketergantungan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif (NAPZA) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Chatib Quzwain Kabupaten Sarolangun atau instansi milik pemerintah untuk perawatan melalui rehabilitasi.

Pemidanaan dalam Putusan Nomor 25/Pid.Sus/2020/PN Srl dan Putusan Nomor 26/Pid.Sus/2020/PN Srl terhadap pelaku penyalahguna narkotika sehingga terjadi penjatuhan pidana yang berbeda-beda terhadap masing- masing terdakwa, tidak terlepas dari konsep pemidanaan.

Pemidanaan atau penjatuhan hukuman menurut Sudarto bahwa:

Penghukuman itu berasal dari kata dasar hukum, sehingga dapat diartikan sebagai menetapkan hukum atau memutuskan tentang hukumannya (Berecheten). Menetapkan hukuman untuk suatu peristiwa itu tidak hanya menyangkut bidang hukum pidana saja, akan tetapi juga hukum perdata. Maka oleh karena itu menyangkut masalah pidana di sini, maka istilah penghukuman disempitkan artinya, yaitu penghukuman dalam pidana yang kerap sekali Sinonim dengan Pemidanaan atau pemberian atau penjatuhan pidana oleh hakim.

Penghukuman dalam hal ini mempunyai makna sama dengan sentence atau Veroordeling.46

Berdasarkan rumusan di atas, maka dapat dikemukakan bahwa pemidanaan adalah penjatuhan pidana oleh hakim terhadap pelaku tindak

46PAF.Lamintang, Hukum Penitensier Indonesia, Armico, Bandung, 2000, hlm. 11.

pidana atau kejahatan sesuai dengan berat ringannya tindak pidana yang dilakukannya. Yang dimaksud dengan pidana adalah perasaan tidak enak (penderitaan sengsara). Mengenai pola pemidanaan dapat dikemukakan menurut Barda Nawawi Arief, bahwa: “pola pemidanaan merupakan pedoman pembuatan atau penyusunan pidana bagi pembentuk undang-undang, yang dibedakan dengan pedoman pemidanaan yang merupakan pedoman bagi hakim dalam menjatuhkan pidana”.47

Pola pemidanaan (termasuk pola pemberatan pidana) pada dasarnya merupakan suatu gejala yang tersirat dari ancaman pidana yang terdapat dalam rumusan tindak pidana dalam perundang-undangan,48 yang dengannya dapat diketahui kehendak pembentuk undang-undang berkenaan dengan jumlah dan jenis pidana yang seyogianya dijatuhkan terhadap seorang pembuat tindak pidana.

Pedoman maupun standar pemidanaan dalam hukum pidana yang berlaku saat ini belum ada. Hal ini mengisyaratkan kepada hakim untuk lebih berhati-hati dalam memilih dan menetapkan sanksi (pidana penjara) sebagai suatu masalah sentral dalam politik kriminal, karena pihak lain harus diperhatikan pula sifat keterbatasan dari kemampuan setiap sanksi hukum pidana, terutama pidana penjara.

Sanksi pidana suatu ketika merupakan penjamin yang utama, sebaliknya suatu ketika merupakan pengancaman yang utama dari kebebasan manusia.

47Barda N. Arief, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, Citra Adtya Bhakti, Bandung, 1996, hlm. 167.

48Ibid.

Sanksi pidana merupakan penjamin yang utama bila digunakan secara cermat dan manusiawi, sebaliknya pengguna sanksi pidana secara sembarangan atau tidak pandang bulu atau menyamaratakan dan digunakan secara paksa akan menyebabkan sarana pidana itu menjadi suatu “pengancaman yang utama”.

Dalam kerangka sistem pemidanaan, apalagi pengertian sistem pemidanaan diartikan secara luas, maka dapat dikatakan bahwa sistem pemidanaan mencakup keseluruhan ketentuan perundang-undangan yang mengatur bagaimana hukum pidana itu ditegakkan atau dioperasikan secara konkrit, sehingga seseorang dijatuhi sanksi. Ini berarti semua peraturan perundang-undangan mengenai hukum pidana yang terdiri dari dari hukum pidana substantif, hukum pidana formil dan hukum pelaksanaan pidana dapat dilihat sebagai salah satu kesatuan sistem pemidanaan.

Putusan Nomor: 25 /Pid.Sus/2020/PN.Srl, atas nama terdakwa Abdul Karim Als Onga Bin Zainudin (Alm) telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “turut serta menyalahgunakan narkotika golongan I bagi diri sendiri”., Hakim menjatuhkan pidana terhadap diri terdakwa tersebut oleh karena itu dengan pidana penjara selama 1 (satu) tahun dan 6 (enam) bulan.

Putusan Nomor: 26 /Pid.Sus/2020/PN.Srl, Terdakwa Muhammad Irsan Bin Zainuddin telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “turut serta menyalahgunakan narkotika golongan I bagi diri sendiri”. Hakim menjatuhkan pidana terhadap diri terdakwa tersebut oleh karena itu dengan Hakim menjatuhkan pidana terhadap diri terdakwa tersebut

oleh karena itu dengan pidana penjara selama 6 (enam) bulan dan memerintahkan agar pelaksanaan pidana penjara tersebut dijalankan di Panti Rehabilitasi Ketergantungan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif (NAPZA) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Chatib Quzwain Kabupaten Sarolangun atau instansi milik pemerintah untuk perawatan melalui rehabilitasi.

Dalam Putusan Nomor: 26 /Pid.Sus/2020/PN.Srl dan Putusan Nomor:

25 /Pid.Sus/2020/PN.Srl, termuat permasalahan berupa konflik hukum terkait penjatuhan pidana yang menimbulkan disparitas pidana. Bahwa, terdakwa Muhammad Irsan Bin Zainuddin dijatuhkan pidana yang lebih rendah daripada Terdakwa Abdul Karim Als Onga Bin Zainudin (Alm).

Terjadinya disparitas pidana terhadap Putusan Nomor: 26 /Pid.Sus/2020/PN.Srl dan Putusan Nomor: 25 /Pid.Sus/2020/PN.Srl.

Berdasarkan dari uraian di atas, didapatkan keadaan bahwa dari segi penjatuhan pidana penjara, Putusan Nomor: 26 /Pid.Sus/2020/PN.Srl dengan Terdakwa Muhammad Irsan Bin Zainuddin, pidana penjara selama 6 (enam) bulan dan memerintahkan agar pelaksanaan pidana penjara tersebut dijalankan di Panti Rehabilitasi Ketergantungan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif (NAPZA) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Chatib Quzwain Kabupaten Sarolangun atau instansi milik pemerintah untuk perawatan melalui rehabilitasi dipandang lebih ringan daripada Putusan Nomor: 25 /Pid.Sus/2020/PN.Srl Terdakwa Abdul Karim Als Onga Bin Zainudin (Alm) berupa pidana penjara selama 1 (satu) tahun dan 6 (enam) bulan.

Berdasarkan fakta persidangan, ditemukan keadaan bahwa penjatuhan pidana berbeda terhadap masing-masing terdakwa karena terdakwa Abdul Karim yang membeli shabu tersebut selain itu juga menambahkan uang Rp.

150.000,- lebih banyak daripada uang yang diberikan oleh terdakwa Muhammad Irsan Bin Zainuddin. Terdakwa Muhammad Irsan Bin Zainuddin hanya menunggu di pondok saat Abdul Karim membeli shabu tersebut.

Perbuatan terdakwa Abdul Karim

1. Abdul Karim yang membeli shabu tersebut, selain membeli shabu juga menambahkan uang Rp. 150.000,-

2. Saat ditangkap Abdul Karim belum memakai shabu tersebut hanya duduk- duduk di depan pondok menunggu giliran mengkonsumsi shabu

3. Abdul Karim bahwa terdakwa sudah sering menggunakan shabu terakhir kali terdakwa menggunakan shabu pada hari Senin tanggal 12 Januari 2020 di kebun Sawit Desa Pasar Pelawan Kec. Pelawan Kab. Sarolangun. Tujuan terdakwa mengkonsumsi shabu saat itu adalah untuk menambah tenaga dan doping untuk bekerja dan setelah menggunakan shabu tersebut terdakwa merasakan tenang, mata menjadi melek dan bersemangat

Perbuatan Terdakwa Muhammad Irsan bin Zainudi dan Terdakwa II M. Faisal bin Arsad

1. Terdakwa I Muhammad Irsan bin Zainudi memberikan uang kepada Terdakwa II M. Faisal bin Arsad Kadir untuk membeli narkotika jenis shabu sebesar Rp. 50.000,- (lima puluh ribu rupiah) sedangkan Terdakwa II M.

Faisal bin Arsad Kadir mengeluarkan uang sebesar Rp 100.000,- (seratus

ribu rupiah) selanjutnya uang sebesar Rp 150.000,- (seratus lima puluh ribu rupiah).

2. Saat ditangkap Terdakwa I Muhammad Irsan bin Zainudi sudah menggunakan shabu sebanyak 2 (dua) kali hisapan sedangkan Terdakwa II M. Faisal bin Arsad Kadir sebanyak 3 (tiga) kali hisapan sementara Abdul Kadir als Onga masih menunggu di depan pondok

3. Terdakwa I Muhammad Irsan bin Zainudi sudah sering menggunakan shabu untuk doping dalam bekerja dimana setelah menggunakan shabu tersebut Terdakwa I Muhammad Irsan bin Zainudi merasakan tenang, mata menjadi melek dan bersemangat Terdakwa II M. Faisal bin Arsad Kadir sudah sering menggunakan shabu tersebut sejak 2 (dua) tahun yang lalu, namun Terdakwa II M. Faisal bin Arsad Kadir mengkonsumsi shabu tersebut apabila ingin untuk mengkonsumsinya saja dengan tujuan untuk menambah tenaga dan doping untuk bekerja. Setelah menggunakan shabu tersebut Terdakwa II M. Faisal bin Arsad Kadir merasakan tenang, mata menjadi melek dan bersemangat

Penjatuhan pidana oleh hakim, secara normatif berbeda tidak menjadi masalah sesuai dengan keyakinan hakim, yang tidak dibolehkan apabila hakim menjatuhkan pidana di bawah pidana minimum. Menurut penulis walaupun penjatuhan pidana oleh hakim berbeda tetapi penjatuhan pidananya tidak terlalu jauh berbeda, kalau terlalu jauh berbeda tidak mencerminkan suatu rasa keadilan. Hendaknya hakim itu di samping diberikan kebebasan dalam menjatuhkan pidana tetap harus mencerminkan suatu rasa keadilan.

B. Dasar Pertimbangan Hakim Dalam Pemidanaan Putusan Nomor 25/Pid.Sus/2020/PN Srl Dan Putusan Nomor 26/Pid.Sus/2020/PN Srl Terhadap Pelaku Penyalahguna Narkotika Sehingga Terjadi Penjatuhan Pidana Yang Berbeda-Beda Terhadap Masing-Masing Terdakwa

Pertimbangan hakim merupakan salah satu aspek terpenting dalam menentukan terwujudnya nilai dari suatu putusan hakim yang mengandung keadilan (ex aequo et bono) dan mengandung kepastian hukum, di samping itu juga mengandung manfaat bagi para pihak yang bersangkutan sehingga pertimbangan hakim ini harus disikapi dengan teliti, baik, dan cermat. Apabila pertimbangan hakim tidak teliti, baik, dan cermat, maka putusan hakim yang berasal dari pertimbangan hakim tersebut akan dibatalkan oleh Pengadilan Tinggi/Mahkamah Agung.49

Hakim dalam pemeriksaan suatu perkara juga memerlukan adanya pembuktian, di mana hasil dari pembuktian itu kan digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam memutus perkara. Pembuktian merupakan tahap yang paling penting dalam pemeriksaan di persidangan. Pembuktian bertujuan untuk memperoleh kepastian bahwa suatu peristiwa/fakta yang diajukan itu benar- benar terjadi, guna mendapatkan putusan hakim yang benar dan adil. Hakim tidak dapat menjatuhkan suatu putusan sebelum nyata baginya bahwa peristiwa/fakta tersebut benar-benar terjadi, yakni dibuktikan kebenaranya, sehingga nampak adanya hubungan hukum antara para pihak.50

Selain itu, pada hakikatnya pertimbangan hakim hendaknya juga memuat tentang hal-hal sebagai berikut:

49Mukti Arto, Praktek Perkara Perdata pada Pengadilan Agama, cet V (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2004, hlm.140.

50Ibid, hlm.141.

a. Pokok persoalan dan hal-hal yang diakui atau dalil-dalil yang tidak disangkal.

b. Adanya analisis secara yuridis terhadap putusan segala aspek menyangkut semua fakta/hal-hal yang terbukti dalam persidangan.

c. Adanya semua bagian dari petitum Penggugat harus dipertimbangkan/diadili secara satu demi satu sehingga hakim dapat menarik kesimpulan tentang terbukti/tidaknya dan dapat dikabulkan/tidaknya tuntutan tersebut dalam amar putusan.51

Dasar hakim dalam menjatuhkan putusan pengadilan perlu didasarkan kepada teori dan hasil penelitian yang saling berkaitan sehingga didapatkan hasil penelitian yang maksimal dan seimbang dalam tataran teori dan praktek.

Salah satu usaha untuk mencapai kepastian hukum kehakiman, di mana hakim merupakan aparat penegak hukum melalui putusannya dapat menjadi tolak ukur tercapainya suatu kepastian hukum.

Pokok kekuasaan kehakiman diatur dalam Undang-undang Dasar 1945 Bab IX Pasal 24 dan Pasal 25 serta di dalam Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009. Undang-Undang Dasar 1945 menjamin adanya sesuatu kekuasaan kehakiman yang bebas. Hal ini tegas dicantumkan dalam Pasal 24 terutama dalam penjelasan Pasal 24 ayat (1) dan penjelasan Pasal 1 ayat (1) Undang- Undang Nomor 48 Tahun 2009, yaitu kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan pancasila dan Undang-Undang Negara Republik Indonesia tahun 1945 demi terselenggaranya Negara Hukum Republik Indonesia.52

51Ibid, hlm.142.

52Ibid, hlm.142.

Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka dalam ketentuan ini mengandung pengertian bahwa kekuasaan kehakiman bebas dari segala campur tangan pihak kekuasaan ekstra yudisial, kecuali hal-hal sebagaimana disebut dalam Undang-Undang Dasar 1945. Kebebasan dalam melaksanakan wewenang yudisial bersifat tidak mutlak karena tugas hakim alah menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila, sehingga putusannya mencerminkan rasa keadilan rakyat Indonesia. Kemudian Pasal 24 ayat (2) menegaskan bahwa: kekuasan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah mahkamah konstitusi.53

Kebebasan hakim perlu pula dipaparkan posisi hakim yang tidak memihak (impartial jugde) Pasal 5 ayat (1) UU No. 48 Tahun 2009. Istilah tidak memihak di sini haruslah tidak harfiah, karena dalam menjatuhkan putusannya hakim harus memihak yang benar. Dalam hal ini tidak diartikan tidak berat sebelah dalam pertimbangan dan penilaiannya. Lebih tapatnya perumusan Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Pasal 5 ayat (1):

“Pengadilan mengadili menurut hukum dengan tidak membeda-bedakan orang”.54

53Andi Hamzah, KUHP dan KUHAP, Rineka Cipta, Jakarta, 1996, hlm. 94.

54Ibid., hlm. 195.

Seorang hakim diwajibkan untuk menegakkan hukum dan keadilan dengan tidak memihak. Hakim dalam memberi suatu keadilan harus menelaah terlebih dahulu tentang kebenaran peristiwa yang diajukan kepadanya kemudian memberi penilaian terhadap peristiwa tersebut dan menghubungkannya dengan hukum yang berlaku. Setelah itu hakim baru dapat menjatuhkan putusan terhadap peristiwa tersebut. Seorang hakim dianggap tahu akan hukumnya sehingga tidak boleh menolak memeriksa dan mengadili suatu peristiwa yang diajukan kepadanya. Hal ini diatur dalam Pasal 16 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 yaitu: pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa dan mengadili suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya. Seorang hakim dalam menemukan hukumnya diperbolehkan unruk bercermin pada yurisprudensil dan pendapat para ahli hukum terkenal (doktrin). Hakim dalam memberikan putusan tidak hanya berdasarkan pada nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat, hal ini dijelaskan dalam Pasal 28 Ayat (1) Undang- Undang Nomor 40 Tahun 2009 yaitu: “Hakim wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat”.

Hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap terdakwa harus memperhatikan beberapa variabel berikut ini, yaitu:

1) variabel individu meliputi faktor-faktor kejiwaan, biologi, sosiografis dan psikologis

2) variabel delik

3) variabel sanksi 4) variabel kebudayaan.

Pasal 51 Rancangan Kitab Undang Undang Hukum Pidana Tahun 2000 memberikan 10 pedoman bagi hakim menerapkan pidana yaitu sebagai berikut:

1. Kesalahan pembuat tindak pidana

2. Motif dan tujuan dilakukannya tindak pidana 3. Cara melakukan tindak pidana

4. Sikap batin pembuat tindak pidana

5. Riwayat hidup dan keadaan sosial ekonomi pembuat tindak pidana 6. Sikap dan tindakan pembuat sesudah melakukan tindak pidana 7. Pengaruh pidana terhadap masa depan pembuat pidana

8. Pandangan masyarakat terhadap masa depan pembuat pidana 9. Pengaruh tindak pidana terhadap korban atau keluarga korban 10.Apakah tindak pidana dilakukan dengan berencana.

Dalam menjatuhkan hukuman hakim terlebih dahulu mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan meringankan terpidana.

Adapun hal yang memberatkan pemidanaan adalah:

1. Keadaan jabatan

Hal ini tercantum dalam Pasal 52 KUHP dirumuskan sebagai berikut:

Jikalau pegawai negeri melanggar kewajibannya yang istimewa dalam jabatannya karena melakukan perbuatan yang dapat dipidana, atau pada waktu melakukan perbuatan yang dapat dipidana memakai kekuasaan, kesempatan atau daya upaya yang diperoleh karena jabatannya maka pidananya boleh ditambah dengan sepertiganya.

2. Pengulangan perbuatan

Pengulangan perbuatan tertentu terjadi bilamana orang yang sama mewujudkan lagi suatu delik, yang diantarai oleh putusan pengadilan negeri yang telah memidana pembuat delik. Pengulangan tindak pidana adalah merupakan alasan pemberat pidana, akan tetapi tidak untuk semua tindak

Dokumen terkait