• Tidak ada hasil yang ditemukan

3. Tandan Buah Segar (TBS)

2.5. Jenis Lemak dan Minyak

a. Minyak Goreng

Minyak goreng berfungsi sebagai penghantar panas, penambah rasa gurih, dan

penambah nilai kalori bahan pangan. Mutu minyak goreng ditentukan oleh titik

asapnya, yaitu suhu pemanasan minyak sampai terbentuk akrolein yang tidak

diinginkan dan dapat menimbulkan rasa gatal pada tenggorokan. Makin tinggi

titik asap, makin baik mutu minyak goreng tersebut. Titik asap suatu minyak

goreng tergantung tergantung dari kadar gliserol bebas. Lemak yang telah

digunakan untuk mengoreng titik asapnya akan turun, karena telah terjadi

hidrolisis molekul lemak. Karena itu untuk menekan terjadinya hidrolisis,

pemanasan lemak atau minyak sebaiknya dilakukan pada suhu yang tidak terlalu

b. Mentega

Mentega merupakan emulsi air dalam minyak dengan kira-kira 18% air terdispersi

didalam 80% minyak dengan sejumlah kecil protein yang bertindak sebagai zat

pengemulsi. Mentega dapat dibuat dari lemak susu yang manis atau yang asam.

c. Margarin

Margarin merupakan pengganti mentega dengan rupa, bau, konsistensi, rasa dan

nilai gizi yang hamper sama. Margarine juga merupakan emulsi air dalam minyak

dengan persyaratan mengandung tidak kurang 80% lemak. Lemak yang

digunakan dapat berasal dari lemak hewani atau lemak nebati. Lemak hewani

yang digunakan biasanya lemak sapi (Oleo Oil) dan lemak babi (Lard), sedangkan

lemak nabati yang digunakan adalah minyak kelapa, minyak kelapa sawit, minyak

kedelai dan minyak biji kapas ( Winarno, 1997).

2.6. Ekstraksi

Ekstraksi merupakan proses pemisahan bahan dari campurannya dengan

menggunakan pelarut. Dengan melalui ekstraksi, zat-zat aktif yang ada dalam

simplisia akan terlepas. Dalam proses ekstraksi ada beberapa hal yang perlu

diperhatikan antara lain:

a.Jumlah simplisia yang akan diekstrak

b.Derajat kehalusan simplisia dimana semakin halus, luas permukaan akan

c. Jenis pelarut yang digunakan,dimana jenis pelarut berkaitan dengan polaritas

dari pelarut tersebut. Hal yang perlu diperhatikan dalam proses ekstraksi adalah

senyawa yang memiliki kepolaran yang sama akan lebih mudah tertarik/ terlarut

dengan pelarut yang memiliki tingkat kepolaran yang sama. Berkaitan dengan

polaritas dari pelarut, terdapat tiga golongan pelarut yaitu:

1. Pelarut polar, dimana memiliki tingkat kepolaran yang tinggi, cocok untuk

mengekstrak senyawa-senyawa yang polar dari tanaman. Pelarut polar

cenderung universal digunakan karena biasanya walaupun polar, tetap dapat

menyari senyawa-senyawa dengan tingkat kepolaran lebih rendah. Salah satu

contah pelarut polar adalah air, methanol, etanol, asam asetat.

2. Pelarut semipolar, dimana pelarut semipolar memiliki tingkat kepolaran yang

lebih rendah dibandingkan dengan pelarut polar. Pelarut ini baik untuk

mendapatkan senyawa-senyawa semipolar dari tumbuhan. Contoh pelarut ini

adalah aseton, etil asetat, kloroform.

3. Pelarut nonpolar, dimana pelarut nonpolar hamper sama sekali tidak polar.

Pelarut ini baik untuk mengekstrak senyawa-senyawa yang sama sekali tidak

larut dalam pelarut polar. Senyawa ini baik untuk mengekstrak berbagai jenis

minyak. Contah heksana dan eter.

Beberapa syarat-syarat pelarut yang ideal untuk mengekstaksi:

a. Tidak toksik dan ramah lingkungan

b. Mampu mengekstak semua senyawa dalam sampel

c. Mudah untuk dihilangkan dari ekstrak

d. Tidak bereaksi dengan senyawa-senyawa dalam simplisia yang diekstrak

4. Lama waktu ekstraksi, dimana lama ekstraksi akan menentukan banyaknya senyawa-senyawa yang terambil. Ada waktu saat pelarut/ ekstraktan jenuh.

Sehingga tidak pasti, semakin lama ekstraksi semakin bertambah banyak ekstrak

yang didapatka

Adapun cara ekstraksi ini bermacam-macam yaitu rendering (dry rendering dan

wet rendering), mechanical expression dan solvent extraction

2.6.3. Rendering

Rendering merupakan suatu cara ekstraksi minyak atau lemak dari bahan yang

diduga mengandung minyak atau lemak dengan kadar air yang tinggi. Pada

semua cara rendering, penggunaan panas adalah suatu hal yang spesifik yang

bertujuan untuk menggumpalkan protein pada dinding sel bahan dan untuk

memecahkan dinding sel tersebut sehingga mudah ditembus oleh minyak atau

lemak yang terkandung didalamnya.

Menurut pengerjaannya rendering dibagi dalam dua cara yaitu: wet

rendering dan dry rendering.

a. Wet Rendering

Wet rendering adalah proses rendering dengan penambahan sejumlah air selama

berlangsungnya proses. Cara ini dikerjakan pada ketel terbuka atau tertutup

dengan menggunakan temperature yang tinggi serta tekanan 40 sampai 60 pound

tekanan uap (40-60 psi). penggunaan temperature rendah dalam proses wet

rendering dilakukan jika diinginkan flavor netral dari minyak atau lemak. Bahan

yang akan diekstraksi ditempatkan pada ketel yang dilengkapi dengan alat

perlahan-lahan sampai suhu 500C sambil diaduk. Minyak yang terekstraksi akan

naik ke atas dan kemudian dipisahkan.

b. Dry Rendering

Dry rendering adalah cara rendering tanpa penambahan air selama proses

berlangsung. Dry rendering dilakukan dalam ketel yang terbuka dan dilengkapi

dengan steam jacket serta alat pengaduk. Bahan yang diperkirakan mengandung

minyak atau lemak dimasukkan ke dalam ketel tanpa penambahan air. Bahan tadi

dipanaskan sambil diaduk. Pemanasan dilakukan pada suhu 2200F sampai 2300F (

1050C-1100C). Ampas bahan yang telah diambil minyaknya akan diendapkan

pada dasar ketel. Minyak atau lemak yang dihasilkan dipisahkan dari ampas yang

telah mengendap dan pengambilan minyak dilakukan dari bagian atas ketel.

2.6.4. Pengepresan Mekanis ( Mechanical Expression )

Pengepresan mekanis merupakan suatu cara ekstraksi minyak atau lemak,

terutama untuk bahan yang berasal dari biji-bijian. Cara ini dulakukan untuk

memisahkan minyak dari bahan yang berkadar minyak tinggi (30-70%). Pada

pengepresan mekanis ini diperlukan perlakuan pendahuluan sebelum minyak atau

lemak dipisahkan dari bijinya. Perlakuan pendahuluan tersebut mencengkup

pembuatan serpih, peranjangan dan penggilingan serta tempering atau pemasakan.

Dua cara yang umum dalam pengepresan mekanis, yaitu pengepresan

a. Pengepresan hidraulik (hydraulic pressing)

Pada cara hidraulik pressing, bahan dipress dengan tekanan sekitar 2000

pound/inch2 (140,6 kg/cm =136 atm). Banyaknya minyak atau lemak yang

diekstraksi tergantung dari lamanya pengepresan, tekanan yang dipergunakan,

serta kandungan minyak dari bahan asal. Sedangkan banyaknya minyak yang

tersisa pada bungkil bervariasi sekitar 4 sampai 6 persen, tergantung dari

lamanya bungkil ditekan dibawah tekanan hidraulik.

b. Pengepresan Berulir

Cara pengepresan berulir memerlukan perlakuan pendahuluan yang terdiri dari

proses pemasakan atau tempering. Proses pemasakan berlansung pada temperatur

2400F (115,50C) dengan tekanan sekitar 15-20 pond/inch2. Kadar air minyak atau

lemak yang dihasilkan berkisar sekitar 2,5-3,5 persen, sedangkan bungkil yang

dihasilkan masih mengandung minyak sekitar 4-5 persen.

2.6.5. Ekstraksi dengan Pelarut (Solvent Extraction)

Prinsip dari proses ini adalah ekstraksi dengan melarutkan minyak dalam pelarut

minyak dan lemak. Pada cara ini dihasilkan bungkil dengan kadar minyak yang

rendah yaitu sekitar 1 persen atau lebih rendah, dan mutu minyak kasar yang

dihasilkan cenderung menyerupai hasil dengan cara expeller pressing, karena

sebagian fraksi bukan minyak akan ikut terekstraksi. Pelarut minyak atau lemak

yang biasa dipergunakan dalam proses ekstraksi dengan pelarut menguap adalah

petroleum eter, gasoline karbon disulfide, karbon tetraklorida, benzene dan

Dokumen terkait