• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jenis Pelayanan dan Indikator SPM Kesehatan

Dalam dokumen be104881 4c8e 426c 8c8d 10311db2b144 (Halaman 41-44)

Jenis Pelayanan Indikator SPM

Pelayanan kesehatan dasar 1. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K4

2. Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani

3. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan

4. Cakupan pelayanan nifas

5. Cakupan neonatus dengan komplikasi yang ditangani 6. Cakupan kunjungan bayi

7. Cakupan Desa/Kelurahan UCI 8. Cakupan pelayanan anak balita

9. Cakupan pemberian makanan pendamping ASI pada anak usia 6 -24 bulan gakin

40

Tata Kelola Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM) www.kinerja.or.id Bidang Kesehatan untuk Kabupaten/Kota

Jenis Pelayanan Indikator SPM

11. Cakupan penjaringan kesehatan siswa Sekolah Dasar (SD) & setingkat

12. Cakupan peserta Keluarga Berencana (KB) aktif

13. Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit*) 14. Cakupan pelayanan kesehatan dasar masyarakat miskin Pelayahan Kesehatan

rujukan

1. Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin 2. Cakupan pelayanan gawat darurat level 1 yang harus diberikan

sarana kesehatan (Rumah Sakit) di Kabupaten/Kota Penyelidikan epidemiologi

dan penanggulangan kejadian luar biasa

Cakupan Desa/Kelurahan mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) yang dilakukan penyelidikan epidemiologi < 24 jam

Promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat

Cakupan Desa Siaga Aktif

Keterangan:

Khusus untuk indikator Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit, diperinci lagi menjadi 5 indikator, yaitu: a. Cakupan penemuan penderita Acute Flacid Paralysis (AFP) rate per 100.000 penduduk < 15 tahun

b. Cakupan Penemuan Penderita Pneumonia Balita c. Cakupan Penemuan pasien baru TB BTA Positif d. Cakupan Penderita DBD yang ditangani e. Cakupan Penemuan penderita diare

Sebagai penjabaran dari Permenkes 741/MENKES/PER/VII2008 ini kementerian Kesehatan telah menerbitkan pula petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan Di Kabupaten/Kota yang tertuang dalam keputusan Menteri Kesehatan No. 828/MENKES/SK/IX/2008. Di dalam KMK No. 828 tahun 2008 tersebut

dijelaskan tentang pengertian, deinisi operasional, cara perhitungan atau rumus, sumber data, rujukan, target,

langkah kegiatan, serta SDM yang dibutuhkan demi terselenggaranya SPM kesehatan.

Meskipun telah ditetapkan Permenkes 741/MENKES/PER/VII2008 dan KMK. No. 828/MENKES/SK/IX/2008, tetapi pemerintah sendiri menyadari bahwa Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan ini bersifat dinamis, artinya jenis pelayanan beserta indikator kinerjanya perlu terus dikembangkan melalui konsensus nasional. Disamping itu, pemerintah pusat juga masih memberi keleluasaan kepada pemerintah daerah untuk menyelenggarakan jenis pelayanan sesuai kebutuhan, karakteristik, dan potensi daerah, diluar pelayanan wajib minimal tersebut.

Dalam penyelenggaraannya, Bupati/Walikota adalah pihak yang bertanggungjawab terhadap kelangsungan pelayanan kesehatan minimal ini, dengan Dinas Kesehatan sebagai koordinator operasional. Setiap tahun

Bupati/Walikota menyampai kan laporan teknis tahunan kinerja penerapan pencapaian SPM kesehatan kepada Menteri Kesehatan. Berdasarkan laporan teknis tersebut, Menteri Kesehatan, Gubernur dan Bupati/Walikota melakukan pembinaan dan pengawasan teknis penerapan SPM kesehatan di wilayahnya masing-masing.

3. Pentingnya SPM dan Perencanaan Pemenuhan SPM

Standar pelayanan minimal merupakan janji dari satuan kerja dalam menyediakan pelayanan wajib kepada masyarakat yang dilayani. SPM memberikan informasi indikator kinerja dan nilai yang terukur secara kualitas dan kuantitas Pentingnya SPM diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Sebagai tolok ukur kinerja pelayanan dasar kepada masyarakat yang secara minimal harus disediakan oleh daerah dalam penyelenggaraan urusan wajib.

2. Ketentuan tentang jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh setiap warga secara minimal

3. Faktor penentu serta karakteristik dari jenis pelayanan dasar, indikator dan nilai, batas waktu pencapaian, dan pengorganisasian penyelenggaraan pelayanan dasar dimaksud

4. Prestasi kuantitatif dan kualitatif menggambarkan besaran sasaran yang hendak dipenuhi, berupa masukan, proses, keluaran, hasil dan/atau manfaat pelayanan

Adapun manfaat langsung dari adanya SPM ini adalah:

1. Hak masyarakat untuk menerima suatu pelayanan dasar dari Pemerintah Daerah menjadi lebih terjamin dengan mutu tertentu

2. Sebagai landasan untuk menentukan perimbangan keuangan yang lebih merata dan transparan 3. Menentukan total anggaran yang diperlukan untuk menyelenggarakan pelayanan dasar.

4. Mempermudah terselenggaranya sistem manajemen penganggaran berbasis kinerja

Hal tersebut sejalan dengan konsep yang diusung oleh undang-undang pelayanan publik No. 25 tahun 2009. Di dalam UU No. 25 tahun 2009 disebutkan bahwa ‘Pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik’.

Undang-undang ini dilahirkan dengan makssud untuk meningkatkan kualitas dan menjamin penyediaan pelayanan publik sesuai dengan azas-azas umum pemerintahan dan korporasi yang baik serta untuk memberi perlindungan bagi setiap warga negara dan penduduk dari penyalahgunaan wewenang di dalam

42

Tata Kelola Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM) www.kinerja.or.id Bidang Kesehatan untuk Kabupaten/Kota

penyelenggaraan pelayanan publik. Untuk itulah setiap penyelenggara pelayanan publik wajib menyusun dan menetapkan standar pelayanan.

Untuk pelayanan bidang kesehatan, karena merupakan salah satu kewenangan wajib, jenis dan target standar pelayanan minimal diatur secara tersentral oleh pemerintah pusat, yaitu melalui Permenkes 741/ MENKES/PER/VII2008 dan KMK. No. 828/MENKES/SK/IX/2008. SPM bidang kesehatan disusun sebagai alat Pemerintah dan Pemerintahan Daerah untuk menjamin akses dan mutu pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat secara merata. Pencapaian SPM bidang kesehatan akan menjadi unsur penilaian kinerja atau LPJ Kepala Daerah sehingga lebih akurat, terukur, transparan dan akuntabel.

Penyusunan rencana pemenuhan SPM bidang kesehatan merupakan proses penting untuk menjamin terselenggaranya pelayanan wajib bidang kesehatan yang merupakan hak dasar masyarakat. Rencana pemenuhan SPM ini menjadi salah satu acuan pemerintah daerah dalam menyusun perencanaan dan penganggaran penyelenggaraan pemerintah daerah. Hal ini sebagaimana tertuang dalam permendagri 54/2010 pasal 11 ayat 1 huruf c yang menyebutkan bahwa program kegiatan alokasi dana, sumber pendanaan dirumuskan dalam RPJMD, RKPD, Renstra SKPD dan Renja SKPD disusun berdasarkan urusan wajib yang mengacu pada SPM sesuai dengan kondisi daerah dan masyarakat atau urusan yang menjadi tanggung jawab SKPD. Ayat 6 juga menegaskan kembali bahwa perumusan capaian kinerja setiap program dan kegiatan harus berpedoman pada rencana pencapaian SPM berdasarkan ketentuan perundang-undangan disesuaikan dengan kemampuan daerah.

Dalam dokumen be104881 4c8e 426c 8c8d 10311db2b144 (Halaman 41-44)

Dokumen terkait