BAB II : LANDASAN TEORI
5. Jenis Pembiayaan Murabahah
Menurut Osmad Muthaher, murabahah dibedakan menjadi dua macam yaitu : murabahah berdasarkan pesanan dan murabahah tanpa pesanan.
33Wiroso,Jual Beli Murabahah,(Yogyakarta: UII Press,2005),hlm.16.
34 Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah,(Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada,2015),hlm.67.
39 Dalam murabahah berdasarkan pesanan, bank melakukan pembelian barang setelah ada pesanan dari nasabah. Dalam murabahah bank syariah bertindak sebagai penjual dan pembeli. Sebagai penjual apabila bank syariah menjual barang kepada nasabah, sedangkan sebagai pembeli apabila bank syariah membeli barang kepada supplier untuk dijual kepada nasabah.35
Murabahah berdasarkan pesanan bersifat mengikat atau tanpa mengikat nasabah untuk membeli barang yang dipesannya. Dalam murabahah, pesanan mengikat, pembeli tidak dapat membatalkan pesanannya. Apabila aset murabahah yang telah dibeli bank (sebagai penjual) dalam murabahah pesanan mengikat mengalami penurunan nilai sebelum diserahkan kepada pembeli maka penurunan nilai tersebut menjadi beban penjul (bank) dan penjual (bank) akan mengurangi nilai akad.
Pembayaran murabahah dapat dilakukan secara cicilan atau tunai.
Selain itu, dalam murabahah juga diperkenankan adanya perbedaan dalam harga untuk cara pembayaran yang berbeda.
Harga yang disepakati dalam murabahah adalah harga jual, sedangkan harga beli harus diberi tahukan. Jika bank mendapat potongan dari pemasok maka potongan itu merupakan hak nasabah. Apabila
35 Osmad Muthaher,Akuntansi Perbankan Syariah,(Yogyakarta: Graha Ilmu,2012),hlm.58.
40 potongan tersebut terjadi setelah akad, pembagian potongan tersebut dilakukan berdasarkan perjanjian yang dimuat dalam akad maka:
1) Bank dapat meminta nasabah menyediakan agunan atas piutang murabahah, antara lain dalam bentuk barang yang telah dibeli dari bank.
2) Bank dapat meminta kepada nasabah urbun sebagai uang muka pembelian pada saat akad apabila kedua belah pihak bersepakat.36 6. Manfaat Murabahah untuk Nasabah dan Bank
Sebagaimana kita ketahui, dalam skim murabahah fungsi skim sebagai penjual barang untuk kepentingan nasabah, dengan cara membeli barang yang diperlukan nasabah dan kemudian menjualnya kembali kepada nasabah dengan harga jual yang setara dengan harga beli tambah keuntungan bank harus memberitahukan secara jujur harga pokok barang berikut biaya yang diperlukan dan menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian barang kepada nasabah. Namun demikian sebagai penyedia barang dalam prakteknya bank syariah kerap kali tidak mau dipusingkan dengan langkah-langkah pembelian barang. Karenanya bank syariah menggunakan media “akad wakalah” dengan memberikan kuasa kepada nasabah untuk membeli barang tersebut. Dalam pembiayaan murabahah terdapat manfaat yang tidak semata diperoleh oleh bank tetapi juga dapat dirasakan oleh nasabah seperti yang disebutkanberikut ini :
36Osmad Muthaher,Akuntansi Perbankan Syariah,(Yogyakarta: Graha Ilmu,2012),hlm.58.
41 a. Bagi Bank
Adanya keuntungan yang muncul dari selisih harga beli, dari penjual dengan harga jual kepada nasabah. Sumber pendanaan bagi bank baik dalam bentuk rupiah atau valuta asing.
b. Bagi Nasabah
Membiayai kebutuhan nasabah dalam hal pengadaan barang konsumsi seperti rumah, kendaraan atau barang produktif seperti mesin produksi, pabrik dll. Nasabah dapat mengangsur pembayarannya dengan jumlah angsuran yang tidak akan berubah selama masa perjanjian. Dapat di terapkan pada produk pembiayaan untuk pembelian barang-barang investasi baik domestic maupun luar negeri.
B. Kredit Kepemilikan Rumah (KPR)
1. Defenisi Kredit Kepemilikan Rumah (KPR)
Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) adalah suatu fasilitas kredit yang diberikan oleh perbankan kepada para nasabah perorangan yang akan membeli atau memperbaiki rumah.37 KPR syariah adalah pembiayaan kepemilikan rumah secara syariah, akad yang digunakan dalam KPR syariah yakni jual beli tegaskan untung (murabahah), jual beli dengan termin dan kontruksi (istihsna‟). Sewa berakhir lanjut milik (Ijarah
37 Ahmad Ifham,Ini Lho KPR Syariah!,(Jakarta:Gramedia Pustaka Utama,2017),hlm.33.
42 Muntahiya Bit Tamlik), kongsi berkurang bersama sewa (Musyarakah Muntanaqishah).38
Menurut Menteri pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, pembiayaan kepemilikan rumah sejahtera syariah tapak adalah pembiayaan berdasarkan prinsip syariah dengan dukungan FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan) yang diterbitkan oleh bank pelaksana yang beroperasi secara syariah kepada masyarakat berpenghasilan rendah dalam rangka kepemilikan rumah sejahtera tapak yang dibeli oleh perorangan atau badan hukum.39
2. KPR dalam Perspektif Hukum Islam
Konsep KPR merupakan produk barat dalam transaksi pembelian rumah dengan perjanjian hutang piutang. Caranya, pihak yang hendak membeli rumah mengajukan proposal kepada salah satu bank untuk menjaminnya sejumlah uang seharga rumah tersebut. Pihak bank membayarkan biaya rumah tersebut bagi si pembeli, dan bank menarik pembayarannya secara kredit bulanan dan si pembeli dengan bunganya, yang jumlahnya pada akhirnya nanti bisa mencapai tiga kali lipat atau sesuai dengan lamanya pembayaran.
Para Ulama ahli fatwa telah sepakat bahwa pembelian rumah melalui pendanaan bank (perjanjian hutang) itu hukumnya haram, karena dalam perjanjian tersebut dianggap sebagai pinjaman berbunga yang jelas
38 Ahmad Ifham, Ini Lho KPR Syariah!,(Jakarta:Gramedia Pustaka Utama,2017),hlm.33.
39 Peratuan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Tahun 2014.
43 sekali mengandung riba.40 Transaksi ini jelas merugikan pihak pembeli karena dalam pembayaran angsuran setiap bulan bergantung pada fluktuasi suku bunganya. Konsep kredit rumah ini masih banyak diterapkan di bank-bank konvensional di Indonesia.
Perbankan Islam kemudian mengadopsi konsep kredit rumah ini kedalam jenis produk pendanaan dengan akad murabahah. Pihak bank membeli rumah yang diperlukan nasabah dan kemudian menjualnya kepada nasabah sebesar harga beli ditambah dengan margin keuntungan yang disepakati oleh bank dan nasabah. Produk pembiayaan ini dikenal sebgai kredit rumah.
Kredit Kepemilikan Rumah haruslah terhindar dari praktek maisir (perjudian), gharar (ketidakjelasan), riba (tambahan), dan batil (ketidakadilan). Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank sendiri, dan pembelian ini harus sah dan bebas riba. Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan) dengan harga jual senilai harga beli plus keuntungannya. Dalam kaitan ini bank harus memberitahu secara jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan. Nasabah kemudian membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada jangka waktu tertentu yang telah disepakati.
Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad tersebut, pihak bank tersebut mengadakan perjanjian khusus dengan nasabah.
40 Warde Ibrahim,Islamic Finance:Keungan Islam dalam Perekonomian Global,(Yogyakarta:Pustaka Pelajar,2009),hlm.50.
44 Dalam bank konvensional, riba ditemui ketika nasabah meminjam uang untuk membeli rumah. Sedangkan pada bank syariah tidak meminjamkan uang tetapi menjual rumah tersebut kepada nasabah.41 Akad yang dipakai adalah jual dan beli.
Ulama-ulama yang berkeberatan dengan praktek jual beli dengan kredit (murabahah) adalah ulama-ulama yang bermazhab Hanafi dan Syafi‟i, mereka berpendapat bahwa pembelian dengan kredit adalah sebagai riba naziyah, yaitu yang berwujud tambahan yang dibebankan kepada pihak kreditur (orang yang berhutang), dan tentunya hal ini sangat memberatkan bagi pihak yang berhutang. Sedangkan ulama yang menyatakan bahwa pembelian dengan kredit dibolehkan antara lain seperti Imam Thawus, Al Hakam, Hammad, serta Yusuf Qhardawi dan kebanyakan ulama, asalkan perbedaan harga tunai dengan harga kredit tersebut tidak terpaut jauh sehingga memberatkan kreditur. Jual beli kredit dapat meningkatkan kesejahteraan hidup seseorang, dan dapat memperlancar usahanya.
Hukum Islam memandang fenomena pembiayaan KPR syariah sudah sesuai dengan syariat Islam, namun perlu diperhatikan adalah mengenai margin flat, yang dapat mendatangkan manfaat, tetapi juga mendatangkan mudharat pada pihak nasabah. Margin Flat akan memberikan keuntungan kepada nasabah yang akan memberikan keuntungan kepada nasabah pada saat suku bungan BI stabil sehingga
41 Warde Ibrahim,Islamic Finance:Keuangan Islam Dalam Perekonomian Global,(Yogyakarta:Pustaka Pelajar,2009),hlm.50.
45 kesepakatan pembiayaan tidak mengalami perubahan sampai akhir pembiayaan, jika terjadi keadaan sebaliknya akan berpengaruh terhadap nasabah.
3. Akad Murabahah dalam KPR Syariah
Secara umum, akad yang sering digunakan dalam pembiayaan rumah ini antara lain adalah murabahah jual beli dengan margin profit, terutama untuk rumah yang telah dibangun, dan akad istishna, yaitu pemesanan barang (rumah dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati, serta pembayaran dengan nilai tertentu yang disepakati pula.
KPR Syariah dengan akad murabahah adalah perjanjian jual beli antara bank dan nasabah, dimana bank membeli rumah yanng diperlukan nasabah dan kemudian menjualnya kepada nasabah sebesar harga beli ditambah dengan margin keuntungan yanng disepakati oleh bank dan nasabah
4. Proses KPR
a. Mekanisme dan Prosedur
Sebelum KPR disetujui bank, nasabah akan melalui beberapa tahapan mekanisme dan prosedur yang telah ditetapkan oleh pihak bank.
Beberapa mekanisme dan prosedur pengajuan KPR bank, antara lain : 1) Bank akan memberikan penjelasan mengenai beberapa persyaratan
yang harus dipenuhi. Kemudian, pihak bank akan memberi formulir yang diisi (sebagai pemohon).
46 2) Tahapan wawancara dengan pihak bank perihal niatan memilih KPR.
Pihak bank akan menilai kepribadian dan kapasitas nasabahnya dalam melunasi utang KPR sesuai jangka waktu yang ditentukan.
3) Jika dinilai layak, maka nasabah akan mendatangi pihak notaris guna penandatanganan akta kredit dan mengurusi sertifikat
4) Setelah tahapan-tahapan diatas dilalui, selanjutnya adalah proses penyerahan kunci dari pihak bank dan pemohon kredit. Kemudian, penyerahan sertifikat kepada bank yang suatu saat dikembalikan apabila cicilan KPR telah lunas.
b. Karakteristik Nasabah Menurut Bank
Ada lima hal yang akan dinilai untuk mengetahui kelayakan mendapat bantuan kredit dari bank terhadap calon nasabahnya, lima hal tersebut yaitu :
1) Karakter (character)
Dalam hal ini, penilaian karakter berkaitan dengan komitmen nasabah sebagai pemohon KPR. Pihak bank akan mencari informasi mengenai kepribadian, kejujuran, kebiasan, gaya hidup, track record, sampai tentang konsisten nasabah dalam pembayaran setiap transaksi.
2) Kondisi (Condition)
47 Penilain terhadap kondisi mencakup izin usaha, kondisi industry sejenis (apakah memiliki resiko keci, sedang atau tinggi), kemudian prospek usaha, kondisi persaingan (apakah menjadi leader, follower, niche market atau single finger).
3) Modal (Capital)
Penilaian terhadap modal berkaitan dengan seberapa besar dan apriadi yang nasabah miliki. Hal ini dikarenakan pihak bank tidak akan memberikan modal sebesar 100%. Oleh sebab itu nasabah perlu menetapkan stuktur modal (modal awal yang dibayarkan dan laba yang terkumpul menjadi modal).
4) Kapasitas ( Capacity)
Penilain terhadap kapasitas meliputi trend hasil penjualan, struktur biaya, perbandingan biaya, dan penghasilan, utang dan piutang. Selain itu, penilaian juga termasuk aspek proyeksi arus kas, sumber daya manusia/pekerja, dan kapasitas produksi.
5) Jaminan ( Collateral )
Penilaian terhadap jaminan berkaiatan dengan aset berharga yang bisa dijadikan jaminan jika nasabah sebagai peminjam tidak dapat melaksanakan kewajibannya untuk melunasi utang kredit.
Bank akan menilai dan mencari tahu mengenai jaminan uang layak, baik yang berupa aset intangible.
48 c. Persyaratan Pengajuan KPR
Syarat pengajuan KPR pada seluruh bank relatif sama, baik dari sisi administrasi maupun dari sisi penentuan kreditnya. Untuk mengajukan KPR, berikut syarat-syaratnya :
1) Syarat Umum
a) Tidak masuk daftar kredit macet/ daftar hitam (black list) Bank Indonesia
b) Usia minimum 21 tahun atau sudah menikah ( mengacu pada ketentuan KUHP).
c) Maksimum usia pemohon 55 tahun pada saat KPR jatuh tempo untuk calon debitur berpenghasilan tetap/ pegawai.
d) Maksimum berusia 60 tahun pada saat KPR jatuh tempo untuk guru/ guru besar/ professor/hakim/jaksa.
e) Menyerahkan surat permohonan yang dilampiri fotocopy KTP suami/istri, fotocopy KK, Fotocopy NPWP, pinjaman minimum Rp 100 juta), fotocopy rekening koran/tabungan/giro tiga bulan terakhir, pas foto suami dan istri sebanyak dua lembar (ukuran 4x6 cm).
f) Dilengkapi surat-surat penawaran sesuai jenis KPR yang dibeli melalui pihak-pihak berikut yaitu pengembang berupa surat penawaran mengenai spesifikasi/harga rumah, pemborong
49 berupa surat rencana pembangunan, dan penjual yang bukan pengembang berupa surat penawaran mengenai harga jual rumah.
2) Syarat Khusus a) Pegawai
(1) Pengajuan perorangan
(a) Fotocopy SK (Surat Keputusan) pegawai tetap dan dilegalisasi oleh perusahaan.
(b) Surat keterangan gaji/ slip gaji perbulan. Surat keterangan atau rekomendasi dari perusahaan.
(c) Tempat tinggal atau lokasi bekerja di situ kota dengan pemohonan
(d) Membuka rekening tabungan di bank, karena lebih mudah disetujui jika gaji dibayarkan melalui rekening di bank yang bersangkutan.
b) Pengusaha/ Wiraswasta/Perpenghasilan tidak tetap
Jika pengusaha/wiraswasta/berpenghasilan tidak tetap maka harusmelampirkan, sebagai berikut izin usaha (SIUP,TDP dan NPWP), akta pendirian perusahaan, menyerahkan laporan keuangan dua tahun terakhir, mutasi rekening di bank minimum tiga bulan.
50 c) Profesional
Selain pegawai dan pengusaha, kalangan profesional seperti dokter, apoteker, bidan, pengacara, notaris, juga dapat mengajukan KPR dengan disertai kelengkapan lampiran sebagai berikut, fotocopy legalitas praktik/surat izin praktik yang masih berlaku, menyerahkan perincian pendapatan praktik perbulannya, mutasi rekening di bank, memilki reputasi baik.42
C. EKONOMI ISLAM
1. Pengertian Ekonomi Islam
Menurut beberapa ahli istilah ekonomi islam ada beberapa defenisi diantaranya, Halide berpendapat bahwa ekonomi islam adalah kumpulan dasar umum ekonomi yang disimpulkan dari Al-Qur‟an dan As-Sunnah yang ada hubungannya dengan urusan ekonomi.43 Pengertian ini terlalu umum sehingga tidak memberikan pengertian secara spesifik. Kemudian menurut M. Akram Khanyang dikutip Dawam Rahardjo,44 mendefenisikan ekonomi islam sebagai ekonomi yang bertujuan untuk menyelidiki keberhasilan manusia yang dicapai dengan mengorganisasikan sember-sumber di bumi atas kerja sama dan partisipasi. Sedangkan menurut Prof.
M. Abdul Mannan memberikan defenisi (ilmu) ekonomi islam masih didasarkan pada induknya, yaitu ilmu sosial. Sehingga, dalam mengartikan
42 Supriadi Amir, Punya Rumah Mewah Tanpa Modal,( Jakarta:Laskar Aksara, 2014),hlm.41-59.
43M.Daud Ali,Sistem Ekonomi Islam Zakat danWakaf,(Jakarta:UIP,1988),hlm.15.
44 M. Dawam Rahardjo, Etika Ekonomi dan Manajemen,(Yogyakarta:Tiara Wacana Yogya,1990),hlm.114.
51 ekonomi islam pun didasarkan atas ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi rakyat yang yang diilhami oleh nilai-nilai islam.45
Dari pengertian para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian ekonomi islam sebagai berikut:
1) Ekonomi Islam adalah pengetahuan bagaimana menggali dan mengimplementasikan sumber daya material untuk memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan manusia, di mana penggalian dan penggunaan itu harus sesuai dengan syari‟at Islam.
2) Ekonomi Islam merupakan bagian dari bentuk usaha duniawi yang bernilai ibadah, juga merupakan suatu amanah, yaitu amanah dalam melaksanakan kewajiban kepada Allah (Hablumminallah) dan kewajiban kepada sesama manusisa (Hablumminannas).
3) Ekonomi Islam adalah tata aturan yang berkaitan dengan cara berproduksi, distribusi dan konsumsi serta kegiatan lain dalam kerangka mencari ma‟isyah (penghidupan individu maupun kelompok/negara) sesuai dengan ajaran Islam (Qur‟an dan Al-Hadits).46
2. Prinsip Ekonomi Islam
45MA. Mannan,Ekonomi Islam:Teori dan Praktek,(Jakarta:Intermasa,1992),hlm.18.
46Abdul Aziz,Ekonomi Islam:Analisis Mikro dan Makro,(Yogyakarta:Graha Ilmu,2008),hlm.3.
52 Prinsip-prinsip dasar ekonomi Islam menurut Umer Chapra adalah sebagai berikut:47
a. Prinsip Tauhid. Tauhid adalah keimanan Islam. Ini berarti bermakna bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini telah Allah SWT dan cipta dengan sengaja, bukan hanya kebetulan semata, dan tentu semua ini pati memiliki tujuan. Maka dari itu tujuan inilah yang memberikan signifikan dan makna dari pada eksitensi semesta, termasuk manusia yang menjadi salah satu dari penghuni yang ada di dalamnya.
b. Prinsip Khilfah. Manusia merupakan Khilafah Allah SWT di muka bumi ini. Setiap manusia dibekali dengan perangkat baik dari segi jasmaniah maupun rohaniah untuk bisa berperan secara efektif sebagai khalifahnya. Implikasi dari prinsip ini adalah : sumber daya adalah amanah, persaudaraan universal, gaya hidup sederhana, dan kebebasan manusia.
c. Prinsip Keadilan. Keadilan merupakan salah satu misi utama bagi ajaran Islam. Implikasi dari prinsip ini adalah : sumber-sumber pendapatan yang halal dan tayyib, pemenuhan kebutuhan pokok manusia, pertumbuhan dan stabilitas, distribusi pendapatan, serta kekayaan yang merata.
Tujuan ekonomi Islam mempunyai perbedaan dengan tujuan ekonomi konvensional, pakar ekonomi Islam memiliki tujuan untuk bisa
47 Umer Chapra, Reformasi Ekonomi: Sebuah Solusi Perspktif Ekonomi Islam,(Jakarta:Amzah,2001),hlm.70.
53 mencapai al-falah di dunia dan akhirat, berbeda dengan pakar ekonomi konvensional yang mempunyai tujuan untuk mencoba menyelesaikan segala sesuatu masalah yang timbul tanpa adanya pertimbangan yang berhubungan dengan keutuhan dan keahiratan melainkan lebih mengutamakan untuk kemudan manusia di dunia saja.
3. Prinsip Pembiayaan Menurut Islam
Dalam Pembiayaan ada beberapa prinsip yang digunakan dalam Ekonomi Islam, yaitu :
1) Kepercayaan ( Trust)
Kepercayaan yang dimaksud adalah, jadi pembiayaan dalam Islam harus dapat membangun dan menciptakan kepercayaan yang harus dimiliki oleh setiap perusahaan atas suatu barang dan jasa yang dipasarkan. Jika terpercayanya suatu bank oleh para konsumennya, artinya nasabah yakin dan percaya terhadap bank tersebut atas produk pembiayaan dan jasa bank tersebut berikan terhadap nasabah, oleh karena itu kepercayaan ini harus dijaga dengan baik.
2) Kualitas Servis ( Quality Service )
Memberikan suatu pelayanan terhadap nasabah sesuai dengan apa yang diharapkan oleh nasabah. Nasabah akan merasa lebih senang dengan pelayanan yang baik yang diharapkan oleh bank. Pelayanan kualitas yang diberikan oleh staf yang ada pada bank tersebut akan
54 menunjukkan dedikasi tinggi dari keseluruhan staf yang ada pada bank tersebut.
3) Amanah ( Responsibility )
Setiap yang berkaitan dengan kegitaan pembiayaan tersebut semua berawal dan berujung dari niat awal filosofi bahwa dilaksanakannya kegiatan bisnis karena amanah dan tanggung jawab kepada seluruh stake holder. Tujuan dari keseluruhan kegiatan bank berujung untuk mendapatkan kepuasan dan kesejahteraan bagi nasabah.
Loyalitas dan terjalinnya suatu hubungan atau komunikasi yang baik dengan nasabah merupakan kunci suksesnya suatu bank.48
4. KPR dalam Perspektif Ekomomi Islam
Dalam pandangan ekonomi Islam KPR biasa disebut dengan Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) yang dapat berupa pembiayaan jangka pendek, menengah, atau panjang guna membiayai pembelian rumah tinggal, baik baru ataupun bekas dengan prinsip/akad (murabahah) atau dengan akad lainnya.49
KPR syariah dengan akad murabahah, atau akad jual beli adalah sistem pembiayaan dimana pihak bank akan membeli dari pengembang rumah yang diminati oleh nasabah. Kemudian, bank akan menjual kembali
48Muslich,Akuntasi Pemerintah,(Jakarta: Akademia,2007),hlm.22.
49 Ahamd Ifham, Ini Lho KPR Syariah!, (Jakarta:Gramedia Pustaka Utama,2017),hlm.54.
55 kepada nasabah dengan harga jual yang telah ditambahkan oleh persentase margin.50
Memiliki rumah tanpa riba tak hanya bisa didapatkan melalui pembayaran perubahan di bank syariah. Ada juga perumahan syariah yang memberikan fasilitas cicilan tanpa riba.
Membeli rumah ini bisa dilakukan dengan dua skema yakni cash dan mencicil. Kedua pembayaran ini dilakukan langsung, harga untuk cash dan kredit jelas berbeda. Kemudian untuk rumah ini tidak menerapkan sistem denda. Berbeda dengan bank konvensional yang akan memberikan denda jika terjadi pembayaran yang macet atau terlambat pembayaran cicilan.
Selain itu bank konvensional juga menerapkan biaya penalti atau denda jika pembeli ingin melunasi cicilan di awal. Berbeda dengan KPR syariah dalam pandangan ekonomi Islam tidak ada denda pada setiap konsumen. Menurut Shariagreenland, denda bukan solusi syariah, karena itu digunakan solusi lain secara syar‟i.
Dalam perspektif ekonomi Islam KPR syariah ini juga bebas dari ancaman sita. Karena pembeli akan mendapatkan sertifikat setelah rumah selesai dibangun. Hal ini diterapakan karena bagi pengembang syariah, bagian dari rumah adalah sertifikat. Menurut mereka, sertifikat adalah hak pembeli sama seperti rumah yang menjadi haknya.
50 Wiroso, Jual Beli Murabahah, (Yogyakarta:UII Press,2005),hlm.22.
56 BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk penelitian lapangan (field research) dengan metode kualitatif, dimana peneliti mengamati dan berpartisipasi langsung dengan apa yang dikaji. Jenis penelitian ini adalah menggunakan pendekatan kualitatif dan teknik analisa dengan menggunakan metode deskriptif dengan melakukan analisa terhadap data-data yang diperoleh.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi yang menjadi tempat penelitian yaitu Bank Sumut KCP Syariah panyabungan yang beralamat di Jln. Willem Iskandar No.40 Panyabungan, Kab. Mandailing Natal, Sumatera Utara. Waktu penelitian dari bulan Juni 2019. Penulis memilih lokasi penelitian tersebut karena Bank Sumut KCP Syariah Panyabungan salah satu bank daerah yang menyediakan produk Kredit Kepemilikan Rumah (KPR), lokasinya merupakan tempat penulis magang ketika program pelaksanaan magang dari kampus IAIN Bukittinggi, dan jarak lokasinya yang dekat dari rumah sehingga lebih memudahkan penulis dalam melakukan penelitian,sehingga skripsi ini dapat selesai tepat waktu.
C. Data dan Sumber Data
Sumber data merupakan sesuatu yang sangat penting untuk digunakan dalam penelitian guna menjelaskan valid dan tidak validnya
57 penelitian ini. Sumber data ada dua macam yaitu data primer dan data skunder yang langsung memberikan data kepada pengumpul data dan data sekunder merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data.51
1. Data Primer
Data Primer yaitu data-data yang diperoleh secara langsung dalam bentuk wawancara, dan observasi yang didapat dari Bank Sumut KCP Syariah Panyabungan.
2. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari liberatur dan studi pustaka yang mendukung data utama tentang analisis akad murabahah pada Kredit Kepemilikan Rumah ( KPR ) di Bank Sumut KCP Syariah Panyabungan.
D. Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi
Observasi sebagai teknik pengumpulan data dan mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik lainnya. Teknik pengumpulan data dengan observasi digunakan bila, penelitian dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar.52
51 Sugiyono,Metode Penelitian Kuantitatif,Kualitatif dan R&D,(Bandung:CV
51 Sugiyono,Metode Penelitian Kuantitatif,Kualitatif dan R&D,(Bandung:CV