2.3 Pencurian Koleksi
2.3.1 Jenis Pencurian di Perpustakaan
Perbedaan kebutuhan pengguna akan informasi dapat membedakan tujuan pengguna datang ke perpustakaan. Hal ini juga berpengaruh terhadap pencurian koleksi. Karena dorongan kebutuhan, desakan ekonomi, dan alasan lainya pencuri melakukan aksinya. Ada beberapa jenis pencurian di perpustakaan.
Menurut Bean yang dikutip oleh Listiyani (2010 : 14) Pencurian koleksi di perpustakaan dapat dikelompokan menjadi 2 jenis, yakni :
Pencuri sistematis dan pencuri tidak sistematis. Pencuri sistematis adalah jenis pencuri secara langsung, pencurian yang di rencanakan, dimana seseorang datang ke perpustakaan dengan niat mencuri. Sedangkan pencurian tidak sistematis adalah pencurian yang tidak di rencanakan, yaitu dengan meminjam koleksi sesuai dengan prosedur yang sah namun dalam jangka waktu yang telah di tentukan koleksi yang di pinjam tidak pernah di kembalikan lagi.
Sehubungan dengan hal di atas Lincoln yang di kutip oleh Listiyani (2010 : 14) menyatakan bahwa ada 4 jenis pencurian berdasarkan jenis barang yang dicurinya, yakni :
1. Theft of book
2. Theft of reference materials 3. Theft of equipment
4. A category which they called other theft, including theft of magazines, or personal property of other readers or member of staff.
Pendapat di atas menjelaskan bahwa pencurian di perpustakaan dapat di bagi menjadi 4(empat) jenis bila di dasarkan pada jenis barang yang dicuri, yaitu:
1. Pencurian buku,
2. Pencurian koleksi referensi, 3. Pencurian peralatan perpustakaan,
4. Dan sekelompok pencuri lain-lain, mencakup pencurian majalah, atau pencurian barang-barang milik pribadi pengguna atau milik anggota staf perpustakaan.
Sedangkan Shuman (1992 : 30) menyatakan jenis pencurian berdasarkan motifnya, atau tujuan melakukan pencurian digolongkan menjadi 6 jenis, yaitu :
1. Bibliokleptomaniacs who cannot keep themselves from stealing books. They take books out of a compulsion to do so , and are in need of psychiatric assistance. such people will usually take good care of the books, and a few will even surreptitiously bring them back at a later time. the reason for their misdeeds is usually the theft it self rather that possession of the book.
2. Thieves who steal for their own personal use , either for the secret pride of possession or to have the materials conveniently handy for consultation. they may feel they have the “ right” to have the books because they pay taxes, tuition and so on. most of the time they will take good care of the book because they think of it as “ theirs”. Many such people are actually ardent lovers of books. Some thieves in this category steal because they are concerned about the way books are being treated by other library users, and feel that only they are capable of treating books with the veneration the books deserve. 3. Thieves who steal in anger or for revenge, harboring a real or
imagined grievance against the library or someone in a management position, possibly for having been fired. These thieves do what they do because they are looking for payback. Unfortunately, thieves in this class may destroy or deface the materials they have stolen in order to punish the library.
4. Casual thieves, who may steal a book because it is just too time consuming and bothersome to go through checkout or because they do not have borrowing privileges at the library and are unwilling or unable to arrange for them. In an academic library setting, casual thieves may be students driven by academic pressure or competition to borrow books they need. In all types of libraries, embarrassment may lead a person to purloin materials about such delicate subjects as impotence, AIDS, abortion, or sexually transmitted diseases. In many cases, these books turn up again, someday, once the felon is finished with them.
5. Freelance cencors, who remove books to keep them out of the hands of other, whether because of disapproval of their contents or fear of the consequences of their being accessed by susceptible readers. Such people may be motivated by the desire to protect innocent persons and the fear that, while they personally can handle strange ideas on sex, politics, religion, or lifestyles without being either depraved or corrupted, others cannot. therefore, they tend to think of themselves as altruistic watchdogs and benevolent protectors, and of what they are doing as a public service.
6. Thieves who steal for profit may be staff members or outsiders who will subsequently attempt to sell the book, and thus can be caught if booksellers are ethical and alert. But the more careful book thieves are meticulous, clever , and unlikely to make mistakes.
Pendapat di atas menjelaskan bahwa pencurian koleksi dapat dibagi atas 6 jenis, yaitu :
1. Bibliokleptomaniack merupakan suatu pencurian buku di karenakan tidak dapat menahan hasrat untuk mencuri, hal ini di sebabkan oleh adanya gangguan pada kejiwaan mereka.
2. Pencuri yang mencuri untuk mereka gunakan sendiri. Biasanya para pencuri beranggapan mereka juga punya hak untuk memiliki buku tersebut, karna mereka membayar biaya kuliah dan sebagainya. Tidak hanya itu pencuri ini juga merasa khawatir kalau buku yang ada di perpustakaan itu tidak dapat di rawat dengan baik oleh perpustakaan dan beranggapan merekalah yang paling mampu untuk menjaga buku tersebut.
3. Pencuri yang mencuri karena merasa marah dan dendam, puncuri ini dapat menghancurkan koleksi yang telah mereka curi, karena mereka beranggapan itu sebagai hukuman terhadap perpustakaan.
4. Casual thieves, yaitu pencuri yang mencuri buku karena terlalu memakan waktu dan mengganggu untuk pergi ke meja sirkulasi atau karena mereka tidak memiliki hak pinjam di perpustakaan. Dalam pengaturan perpustakaan akademi, casual thieves mungkin siswa didorong oleh tekanan akademis atau kompetisi untuk meminjam buku-buku yang mereka butuhkan. Dalam semua jenis perpustakaan, malu dapat menyebabkan seseorang untuk mencuri materi tentang pelajaran halus seperti impotensi, AIDS, aborsi, atau penyakit menular
seksual. Dalam banyak kasus, buku-buku ini muncul lagi, suatu hari nanti, setelah penjahat selesai dengan mereka.
5. Freelance cencors, yaitu menghilangkan buku untuk menjaga mereka dari tangan lain, apakah karena ketidaksetujuan dari isinya atau takut konsekuensi dari mereka sedang diakses oleh pembaca rentan. Orang tersebut dapat termotivasi oleh keinginan untuk melindungi orang-orang yang tidak bersalah dan ketakutan bahwa, sementara mereka secara pribadi dapat menangani ide-ide aneh pada seks, politik, agama, atau gaya hidup tanpa baik bejat atau rusak, yang lain tidak bisa. Oleh karena itu, mereka cenderung menganggap diri mereka sebagai pengawas altruistik dan pelindung hati, dan apa yang mereka lakukan sebagai pelayanan publik.
6. Pencuri yang mencuri untuk mencari keuntungan, setelah mencuri koleksi mereka nantinya akan menjual hasil curian tersebut dan mendapatkan imbalan. Pencuri ini kadang juga berasal dari dalam atau staf dari perpustakaan tapi ada juga orang luar.