• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.6 Arus Pada Elektroda

2.7.1 Jenis Pengadukan

Jenis pengadukan dalam pengolahan air dapat dikelompokkan berdasarkan kecepatan pengadukan dan metode pengadukan. Berdasarkan metodenya, pengadukan dibedakan menjadi pengadukan mekanis, pengadukan hidrolisis, dan pengadukan pneumatic.

24

a. Pengadukan Mekanis

Pengadukan mekanis adalah metode pengadukan dengan menggunakan alat pengaduk berupa impeller yang digerakkan dengan motor bertenaga listrik. Umumnya pengadukan mekanis terdiri dari motor, poros pengaduk, dan gayung pengaduk (impeller).

b. Pengadukan Hidrolisis

Pengadukan hidrolisis adalah pengadukan yang memanfaatkan gerakan air sebagai tenaga pengadukan. Sistem pengadukan ini menggunakan energi hidrolik yang dihasilkan dari suatu aliran hidrolik. Energi hidrolik dapat berupa energy gesek, energy potensial (jatuhan) atau adanya lompatan hidrolik dalam suatu aliran.

c. Pengadukan Pneumatis

Pengadukan pneumatic adalah pengadukan yang menggunakan udara (gas) berbentuk gelembung yang dimasukkan kedalam air sehingga menimbulkan gerakan pengadukan. Injeksi udara bertekanan ke dalam suatu badan air akan menimbulkan turbulensi, akibat lepasnya gelembung udara ke permukaan air. Makin besar tekanan udara, kecepatan gelembung udara yang dihasilkan makin besar dan diperoleh turbulensi yang makin besar pula.

Jenis pengadukan dalam pengolahan air dapat dikelompokkan berdasarkan kecepatan pengadukan dan metode pengadukan. Berdasarkan kecepatan pengadukan dibedakan menjadi pengadukan cepat dan pengadukan lambat.

a. Pengadukan Cepat

Tujuan pengadukan cepat dalam pengolahan air adalah untuk menghasilkan turbulensi air sehingga mendispersikan bahan kimia yang akan dilarutkan dalam

air. Secara umum, pengadukan cepat adalah pengadukan yang dilakukan pada gradient kecepatan berkisar antara 100 hingga 1000 per menit. Pengadukan cepat ini haruslah dilakukan pada aliran air yang menghasilkan energi hidrolik yang besar. Maka dalam hal ini dapat dilihat dari besarnya kehilangan energi atau perbedaan muka air

b. Pengadukan Lambat

Tujuan pengadukan lambat dalam pengolahan air adalah untuk menghasilkan gerakan air secara perlahan sehingga terjadi kontak antar partikel untuk membentuk gabungan partikel yang berukuran besar. Pengadukan lambat digunakan pada proses flokulasi, hal ini bertujuan untuk pembesaran inti penggumpalan. Gradien kecepatan diturunkan secara perlahan agar gumpalan yang telah terbentuk tidak pecah lagi dan berkesempatan untuk bergabung dengan yang lain membentuk gumpalan yang lebih besar. Penggabungan inti gumpalan sangat tergantung pada karakteristik flok dan nilai gradient kecepatan.

Dalam hal mekanis, pengadukan dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa konfigurasi. Diantaranya adalah konfigurasi dasar, daun, gerbang, jari maupun helix. Namun yang lebih sering digunakan adalah pengadukan dengan konfigurasi dasar, hal ini disebabkan karena konfigurasi ini dapat melakukan pengadukan cepat maupun pengadukan lambat.

2.8 pH

pH ( Power of Hydrogen), adalah derajat keasamanyang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan (alkalis), yang dimiliki oleh suatu larutan. Derajat keasaman ini didefinisikan sebagai kologaritma aktivitas ion hidrogen yang terlarut. Koefisien aktivitas ion hidrogen tidak dapat diukur secara eksperimental, sehingga nilainya didasarkan pada perhitungan teoritis. Skala pH bukanlah skala absolut. Ia

26

bersifat relatif terhadap sekumpulan larutan standar yang pH-nya ditentukan berdasarkan persetujuan internasional.

Air murni bersifat netral, dengan pH-nya pada suhu 25 °C ditetapkan sebagai 7,0. Jika suatu larutan memiliki nilai pH yang kurang daripada tujuh maka larutan tersebut bersifat asam yang biasanya terdapat pada larutan – larutan ataupun air di daerah sekitar rawa maupun lahan gambut yang tidak layak untuk minum dan larutan dengan pH lebih daripada tujuh dikatakan bersifat basa atau alkali. Pengukuran pH sangatlah penting dalam bidang yang terkait dengan kehidupan atau industri pengolahan kimia seperti kimia, biologi, kedokteran, pertanian, ilmu pangan, rekayasa (keteknikan), dan oseanografi.

2.9Warna

Warna timbul akibat suatu bahan terlarut atau tersuspensi dalam air, di samping adanya bahan pewarna tertentu yang kemungkinan mengandung logam berat. Warna perairan biasanya dikelompokkan menjadi dua, yaitu warna sesungguhnya (true color) dan warna yang tampak (apparent color). Warna sesungguhnya adalah warna yang hanya disebabkan oleh bahan – bahan kimia terlarut. Pada penentuan warna sesungguhnya, bahan – bahan tersuspensi yang dapat menyebabkan kekeruhan dipisahkan terlebih dahulu. Warna tampak adalah warna yang tidak hanya disebabkan oleh bahan terlarut, tetapi juga oleh bahan tersuspensi.

Warna dapat diamati secara visual (langsung) ataupun diukur berdasarkan platinum kobalt (Pt Co) dengan membandingkan warna air sampel dan warna standar. Intensitas warna cenderung meningkat dengan meningkatnya nilai pH. Warna perairan pada umumnya disebabkan oleh partikel koloid bermuatan negative sehingga penghilangan warna diperairan dapat dilakukan dengan penambahan koagulan yang bernilai positif misalnya aluminium dan besi. Warna dapat menghambat penetrasi cahaya kedalam air dan mengakibatkan terganggunya proses fotosintesi.

2.10 Kekeruhan

Kekeruhan air tergantung pada warna. Kekeruhan merupakan ukuran transpari perairan yang ditentukan secara visual . Kekeruhan menggambarkan sifat optic air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan – bahan yang terdapat dalam air. Kekeruhan disebabkan oleh adanya bahan organic dan anorganik yang tersuspensi dan terlarut (misalnya lumpur dan pasir halus) maupun bahan organic dan anorganik yang berupa plankton dan mikroorganisme lain. Kekeruhan dinyatakan dalam satuan unit turbiditas yang setara dengan 1mg/L Si�2. Kekeruhan sering diukur dengan metode Nephelometric. Pada metode ini sumber cahaya dilewatkan pada sampel dan intensitas cahaya yang dipantulkan oleh bahan – bahan penyebab kekeruhan yang diukur dengan menggunakan suspense polimer formazin sebagai larutan standar.

Satuan kekeruhan yang diukur dengan metode nephelometric adalah nephelometric turbidity unit. Padatan tersuspensi berkorelasi positif dengan kekeruhan. Semakin tinggi nilai padatan tarsuspensi, nilai kekeruhan jga akan menjadi semakin tinggi. Kekeruhan pada perairan yang tergenang misalnya pada danau, lebih banyak disebabkan oleh bahan tersuspensi berupa koloid dan partikel – partikel halus. Sedangkan kekeruhan pada saungai pada saat banjir lebih banyak disebabkan oleh bahan – bahan tersuspensi yang berukuran lebih besar, yang berupa lapisan permukaan tanah yang terbawa oleh aliran air pada saat hujan

2.11 Suhu

Suhu suatu badan air dipengaruhi oleh musim, lintang (latitude), ketinggian dari permukaan laut (altitude), waktu dalam hari, sirkulasi udara, penutupan awan, dan aliran serta kedalaman badan air. Perubahan suhu berpengaruh terhadap proses fisika, kimia, dan biologi badan air.

28

Peningkatan suhu juga mengakibatkan penurunan kelarutan gas dalam air. Selain itu peningkatan suhu juga menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme dan selanjutnya mengakibatkan peningkatan konsumsi oksigen. Cahaya matahari yang masuk ke perairan akan mengalami penyerapan dan perubahan menjadi energy panas. Proses penyerapan cahaya ini berlangsung secara lebih intensif pada lapisan atas sehingga lapisan atas perairan memiliki suhu yang lebih tinggi dan densitas yang lebih kecil dibandingkan dengan lapisan bawah.

Dokumen terkait