LANDASAN TEORI A KESEHATAN MENTAL
B. PERILAKU RELIGIUS 1 Definisi Perilaku Religius
2. Jenis-Jenis Perilaku Religius
Menurut Loewenthal (2009), ada 4 jenis perilaku religius yang merupakan cerminan dari religiusitas individu yaitu:
a. Berdoa (Prayer)
Berdoa adalah esensi (inti) atau pusat dari perilaku religius, merupakan pusat dari kehidupan beragama dan merupakan bukti kuat yang mengindikasikan keyakinan terhadap Tuhan. Berdoa juga merupakan bukti kualitas hidup beragama yang memasuki alam jiwa manusia yang paling dalam sehingga merupakan dasar dari kehidupan beragama yang dapat mempengaruhi kerangkan pikiran dan psikologis manusia. Tanpa adanya kegiatan berdoa, maka eksistensi agama tidak akan pernah ada (Lowenthal, 2009). Heiler (dalam Lowenthal, 2009) mengatakan bahwa berdoa aspek yang paling penting dalam perilaku religius dan paling berpengaruh terhadap psikologis manusia.
Lowenthal (2009) mendefinisikan berdoa adalah permohonan hikmat dan ucapan syukur kepada Tuhan atau objek yang disembah. Doa juga merupakan karakteristik dasar kehidupan yang religius yang merupakan pusat dari kehidupan beragama dibanding dengan perilaku religius lainnya.
Beberapa ajaran agama mengharuskan bahwa berdoa harus dilakukan secara teratur dan terus menerus. Jansen, de Hart, dan den Draak (dalam Paloutzian & Park, 2009) mengatakan bahwa doa adalah pelaksanaan kewajiban agama yang dilakukan secara perorangan. Setiap orang memiliki cara tersendiri dalam berdoa tergantung pada situasi dan tujuan dari berdoa tersebut. Magee (dalam dalam Paloutzian & Park, 2009) mengatakan bahwa dalam berdoa terdiri dari penyembahan yang didalamnya juga termasuk pujian kepada Tuhan. Selanjutnya diikuti dengan pengakuan atas dosa dan kekurangan yang membutuhkan pertolongan dari Tuhan.
Menurut Stouffer (dalam Loewenthal, 2009) bahwa doa memberikan keuntungan secara psikologis terhadap seseorang tersebut dan merupakan metode koping stress. Sementara Cinnirella dan Loewenthal (1999) berpendapat bahwa berdoa sangat membantu seseorang mengatasi masalah hidup dan badai hidupnya. Menurut Loewenthal (2009) ada empat fitur dalam berdoa yaitu:
1. Bevioral Features
Berdoa terlihat dari perilaku seperti menghadap ke arah tertentu, berdiri, duduk, berlutut, atau bentuk lain dari gerakan yang digunakan dalam berdoa seperti menari.
2. Linguistic Features
Seseorang yang bedoa dengan menggunakan bahasa, berkata-kata (verbal
prayer). Bahasa yang digunakan bisa saja diungkapkan denga suara yang keras,
diam, atau berdoa di dalam hati (contemplative prayer).
3. Cognitive Features
Berdoa dilakukan dengan penuh dengan tujuan dan pemaknaan terhadap doa yang diungkapkan oleh seseorang tersebut.
4. Emotional Features
Berdoa pada dasarnya diiringi oleh perasaan kedekatan dengan Tuhan, dan disertai dengan perasaan nyaman dan tenteram.
a.1. Tipe-tipe doa
Menurut Loewenthal (2009) ada lima tipe berdoa, yakni sebagai berikut: Petitionary prayer: adalah tipe dari berdoa dimana seseorang dengan
menangis memohon pertolongan dari Tuhan.
Intercessory prayer: adalah tipe dari berdoa dimana seseorang memohon
pertolongan dari Tuhan untuk orang lain.
Thanksgiving: adalah tipe dari berdoa dimana seseorang mengucap syukur
dan berterima kasih atas berkat dan pemberian Tuhan
Adoration: adalah tipe dari berdoa dimana seseorang mengekspresikan
rasa hormat kepada Tuhan, kekaguman kepada Tuhan, dan puji-pujian kepada Tuhan.
Confession, dedication, communion: adalah tipe dari berdoa dimana
seseorang berdoa supaya Tuhan membenarkan dirinya, mengaku dosa dan menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan.
Objective prayer: adalah tipe dari berdoa yang fokus pada penyembahan,
mengagungkan, dan memuliakan Tuhan.
Subjective prayer: adalah tipe dari berdoa yang fokus pada penyerahan diri
dan memasrahkan diri pada kuasa Tuhan, berdoa yang fokus pada pergumulan atau permasalahan hidup, rintangan hidup dan permohonan supaya Tuhan memimpin hidupnya.
Less mature form of prayer: adalah tipe dari berdoa dimana seseorang
mengharapkan bahwa Tuhan akan menjawab doa mereka (petitionary
prayer)
More mature form of prayer: adalah tipe dari berdoa dimana seseorang
berdoa untuk mendekatkan diri pada Tuhan dan menjalin hubungan yang lebih erat dengan Tuhan.
b. Ritual
Paloutzian dan Park (2009), mengatakan bahwa pelaksanan ritual agama adalah salah satu hal yang mendasar dalam kehidupan beragama seseorang. Pelaksanaan ritual agama adalah merupakan cerminan dari keyakinan seseorang akan ajaran agama. Ritual adalah secara fundamental merupakan pola perilaku, dimana perilaku terstruktur yang dilakukan baik secara perorangan maupun secara bersama-sama dengan orang lain, yang dilakukan secara berulang dan bertujuan. Menurut Paloutzian dan Park (2009), pelaksanaan ritual agama berbeda antara
agama yang satu dengan yang lainnya. Perilaku religius yang tercakup dalam ritual agama adalah pelaksanaan seremonial agama.
c. Praktik Religius
Menurut James (dalam Paloutzian & Park, 2009) praktik religius mencakup membaca kitab suci, ibadah dan berpuasa. Berikut ini akan dijelaskan ketiga jenis praktik religius tersebut:
c.1 ibadah (sembayang)
Ibadah atau sembayang adalah praktik religius yang dilakukan oleh seseorang baik secara individu atau dalam suatu kelompok atau grup tertentu (melibatkan banyak orang) sehingga membentuk suatu komunitas ibadah tertentu. Dalam pelaksanaan ibadah atau sembayang ini dapat dilakukan di gereja, di tempat-tempat ibadah tertentu, di rumah-rumah atau dengan menonton ritual keagamaan melalui media elektronik seperti televisi dan radio.
c.2. Membaca Kitab Suci
Membaca kitab suci adalah pelaksanaan praktik keagamaan dimana individu komitmen untuk membaca untuk memahami ajaran agama yang dianutnya sebagimana tercantum dalam kitab suci mereka.
c.3. Puasa
Puasa adalah salah satu jenis praktik religius, dimana individu yang menganut agamanya memberhentikan diri dari aktivitas kesehariannya seperti makan, minum, melakukan hubungan intim, dan dari perilaku duniawi lainnya yang dilakukan dalam waktu temporal. Ketentuan dalam pelaksanaan puasa ini
Bergar (dalam Paloutzian & Park, 2009) berpendapat bahwa dalam melakukan praktik religius seseorang mendapatkan penguat (reinforcement) sebab dalam melakukan praktik religius ini seseorang akan mendapatkan dampak psikologis secara positif yaitu mereka dapat mengurangi stress dan kecemasan mereka selain itu menurut Bergar seseorang yang melakukan praktik religius dapat melihat makna dalam hidup mereka sehingga mereka dapat menilai kehidupan mereka secara lebih positif.
d. Social Behavior, Group and Norms
Perilaku religius seseorang tercermin dari bagaimana dia berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Perilaku religius haruslah diwujudkan dalam suatu perkumpulan yang dinamakan kelompok religius. Sehingga kelompok religius ini adalah identitas sosial dari seseorang dalam mendefinisikan dirinya sebagai umat beragama (Loewenthal, 2009). Dalam konteks perilaku sosial yang religius haruslah sesuai dengan norma-norma yang berlaku bagi budaya setempat. Menurut Loewenthal (2009) yang termasuk dalam perilaku sosial sehubungan dengan perilaku religius adalah:
1. Mengikuti aktivitas keagamaan dalam mengambil bagian dalam pelayanan kegiatan kerohanian, seperti pelayanan di tempat ibadah atau organisasi sosial kerohanian.
2. Berperan serta dalam misi pelayanan kerohanian dalam pemberitaan dan penyiaran ajaran agama.