Rencana Anggaran Biaya yang dibuat oleh pemilik ini dipakai sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kontraktor yang melaksanakan proyek, sedangkan Rencana Anggaran Biaya yang dibuat oleh kontraktor digunakan untuk menentukan harga penawaran pada saat pelelangan. Rencana Anggaran Biaya dibeakan kapan dibuat didasarkan atas nilai waktu uang, perbedaan harga bahan upah dari waktu ke waktu.
2.4.1 Jenis Anggaran Biaya (RAB)
Berdasarkan pada proses perkembangan proyek dari mulai gagasan / ide sampai proyek diserahkan dari kontraktor ke pemilik.
Rencana Anggaran Biaya dibagi dalam 4 jenis yaitu :
1. Rencana Anggaran biaya Kasar (Taksiran) untuk pemilik
Rencana Anggaran Biaya dibutuhkan oleh pemilik untuk
memutuskan akan melaksanakan ide / gagasan untuk
membangun proyek atau tidak (biasanya masih dibantu dengan
Studi Kelayakan Proyek). Rencana Anggaran Biaya Kasar ini juga
II - 23
dipakai sebagai pedoman terhadap anngaran biaya yang dihitung secara teliti. Rencana ini dibuat masih kasar/global sekali dan biasanya dihitung berdasarkan harga satuan tiap meter persegi luas lantai atau dengan cara yang lain, misalnya:
No. PROYEK SATUAN
1 Rumah Tempat Tinggal Rp./m
2
2 Bangunan Industri Rp./unit produksi atau Rp./m
2
3 Sekolah Rp./bangku
4 Rumah Sakit Rp./tempat tidur
5 Pembangkit Tenaga listrik Rp./kVA
Tabel 2.1 Perhitungan berdasarkan harga satuan.
2. Rencana Anggaran Biaya Pendahuluan oleh Konsultan
Perhitungan anggaran biaya ini dilakukan setelah gambar rencana (desain) selesai dibuat oleh konsultan perencana.
Perhitungan anggaran biaya ini lebih teliti dan cermat sesuai ketentuan dan syarat-syarat penyusunan anggaran biaya.
Penyusunan anggaran biaya ini didasarkan pada : a) Gambar bestek
Gunanya untuk menentukan/ menghitung besarnya volume
masing-masing pekerjaan.
II - 24
b) Bestek atau Rencana Kerja dan Syarat-syarat(RKS)
Gunanya untuk menentukan spesifikasi bahan dan syarat-syarat teknis.
c) Harga Satuan Pekerjaan
Dihitung dari harga satuan bahan dan harga satuan upah berdasarkan perhitungan analisa SNI
3. Rencana Anggaran Biaya Detail oleh Kontraktor
Anggaran biaya ini dibuat oleh kontraktor setelah melihat desain konsultan perencana(gambar bestek dan RKS), pembuatannya lebih terperinci dan teliti karena sudah memperhitungkan segala kemungkinan(melihat medan, mempertimbangkan metode-metode pelaksanaan). Rencana Anggaran Biaya ini kemudian dijabarkan dalam bentuk penawaran oleh kontraktor pada waktu pelelangan dan menjadi harga yang pasti(fixed price) bagi pemilik setelah salah satu rekanan ditunjuk sebagai pemenang dan Surat Perjanjian Kerja (SPK) telah ditanda tangani.
4. Anggaran Biaya sesungguhnya (Real Cost) setelah proyek selesai
Bagi pemilik fixed price yang tercantum dalam kontrak
adalah terakhir, kecuali dalam pelaksanaan terjadi tambah
II - 25
dan kurang (meer & minder werk). Bagi kontraktor nilai tersebut adalah penerimaan fixed, sedangkan pengeluaran sesungguhnya (Real Cost) yaitu segala yang kontraktor keluarkan untuk menyelesaikan proyek tersebut . besarnya real cost adalah laba diperoleh oleh kontraktor.
2.5 Anggaran Biaya Langsung (Direct Cost)
Biaya langsung adalah elemen biaya yang memiliki kaitan langsung komponen permanen hasil akhir proyek. Komponen biaya lansung terdiri dari biaya upah pekerja, operasi peralatan, material.
Termasuk kategori biaya lansung adalah semua biaya yang berada dalam kendali subkontraktor. Berikut ini beberapa contoh yang termasuk biaya langsung (Direct Cost) :
1. Biaya untuk bahan / material
Untuk menghitung biaya langsung mengenai bahan bangunan perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a) Bahan sisa / yang terbuang (waste).
b) Harga loco / franco.
c) Cari harga terbaik yang masih memenuhi syarat bestek.
d) Cara pembayaran kepada penjual (supplier).
2. Biaya untuk upah buruh / labor / man power
Untuk menghitung biaya langsung mengenai upah buruh
bangunan perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
II - 26
a) Untuk menghitung upah buruh dibedakan dalam upah harian, borongn permenit volume atau borong keseluruhan (borong dol) untuk daerah-daerah tertentu.
b) Selain tarif upah perlu juga diperhatikan factor-factor kemampuan dan kapasitas kerjanya.
c) Perlu diketahui apakah buruh atau mandor dapat diperoleh dari daerah sekitar lokasi proyek atau tidak.
Bila tidak, berarti harus didatangkan buruh dari daerah lain. Ini menyangkut masalah: penginapan, ongkos transport dari daerah asal ke lokasi proyek, gaji ekstra dan lain sebagainya.
d) Undang-undang perburuhan yang berlaku perlu diperhatikan.
3. Biaya untuk penggunanan peralatan / equipments
Untuk menghitung biaya langsung mengenai biaya peralatan untuk pelaksanaan pekerjaan konstruksi / bangunan perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a) Untuk peralatan yang disewa perlu diperhatikan ongkos keluar buruh untuk menjalankan peralatan, bahan baku dan biaya operasi kecil.
b) Untuk peralatan yang tidak disewa perlu diperhatikan
bungan investasi, depresiasi, reparasi besar,
pemeliharan dan ongkos mobilisasi.
II - 27
2.6 Anggaran Biaya Tidak Langsung (Indirect Cost)
Biaya tidak langsung merupakan elemen biaya yang tidak terkait langsung dengan besaran volume komponen fisik hasil akhir proyek, tetapi mempunyai kontribusi terhadap penyelesaian kegiatan atau proyek.
Elemen biaya ini umumnya tidak tertera dalam daftar item pembayaran dalam kontrak atau tidak dirinci. Yang termasuk dalam kategori biaya tidak langsung antara lain :
1. Pajak (Texas)
Pajak yang termasuk dalam komponen biaya tidak langsung bermacam-macam, yaitu material, pajak peralatan, pajak pekerja, dan sebagainya. Nilai pajak bervariasi secar signifikan tergantung dari lokasi dan status pajak owner.
Pada umumnya mereka mempunyai katalog secara terpisah untuk memfasilitasi kegiatan keuangan.
2. Kondisi Umum (General Condition)
Persyaratan umum kontrak menetapkan dan
mendefinisikan hak dan kewajiban dari tiap pihak yang
terlibat dalam kontrak dan membuat peraturan-peraturan
proyek yang bersifat umum dan tergantung dari karakteristik
proyek. Hal yang termasuk ke dalam kondisi umum adalah
pekerjaan yang tidak terdapat dalam dokumen kontrak yang
harus dilaksanakan oleh kontraktor guna menunjang
II - 28
kegiatan konstruksi yang akan dilakukan sesuai dengan dokumen kontrak. Sebagai contoh adalah pekerjaan pembangunan jalan akses menuju lokasi proyek. Jika tidak terdapat di dalam spesifikasi pekerjaan dalam dokumen kontrak, maka pekerjaan jalan akses tersebut masuk ke dalam kondisi umum. Selain itu yang termasuk dalam kondisi umum salah satunya adalah eskalasi. Eskalasi adalah kenaikan biaya dari suatu barang dan jasa yang diakibatkan karena faktor inflasi. Eskalasi berpengaruh pada biaya proyek dan pada umumnya dihitung dengan rumus tertentu sesuai dengan dengan peraturan yang ada dan telah disepakati sebelumnya oleh kontraktor dan owner.